[FF PARTY] Miracle

Title: Miracle

Author: Putri Destyanti Choerunnisa a.k.a SockoJinki

Main Cast : Onew (Lee Jinki) SHINee dan Kim Yunhee (khayalan author)

Suport Cast : fangirl Jinki.

Genre: Romance/fluff

Type/Length  : Oneshot

Rating : PG 13

Ket : Sekedar berpartisipasi

 

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

 

Kalian mengerti apa itu miracle? Ya, miracle adalah keajaiban. Kalian mengerti apa itu keajaiban? Keajaiban itu adalah seperti apa yang sedang aku alami. Keajaiban itu adalah dimana seorang gadis kutu buku  dan sama sekali tidak terlihat gaul sepertiku berpacaran dengan seorang namja tampan bernama Lee Jinki yang sungguh populer di sekolah. Bagaimana bisa terjadi? Terdengar seperti sesuatu yang tidak masuk akal ya? Biar kujelaskan kalau begitu.

Aku Yunhee, Kim Yunhee. Aku hanyalah seorang gadis SMU yang hobi membaca. Seorang gadis kutu buku berkacamata (walaupun kaca mataku tidak tebal seperti Betty Lafea, tentu saja. Aku juga berfikir dua kali untuk memakai kacamata yang berat seperti itu.), dan tidak populer di antara teman-teman. Aku hanya seorang gadis kesayangan para guru karena nilaiku yang selalu baik, yang kali ini aku cukup populer untuk dimanfaatkan oleh teman-teman sekelasku dalam mengerjakan PR ataupun dimintai jawaban saat ujian berlangsung. Sebenarnya aku sudah lelah dengan semua ini, hingga aku mengenalnya.

Ya, dia adalah Jinki, laki-laki tampan yang kelasnya terpisah dua kelas dengan kelasku. Waktu itu, kufikir semua cowok populer sama saja. Sama-sama belagu saking populernya, suka tebar pesona, dan kerjanya hanya menghabiskan uang dari  kekayaan orangnya. Begitu yang kutahu. Namun cara Jinki berbeda… sikapnyalah yang berbeda. Dia tidak pernah terlihat tebar pesona seperti cowok populer lainnya. Bahkan ketika aku perhatikan, ternyata sikapnya sangat dingin pada para yeoja di sekolahku. Kufikir mungkin karena sikapnya yang dingin itu yang membuatnya sulit ditebak. Namun saat itu lagi-lagi aku berfikir jika sikapnya itu hanya caranya saja supaya dia menjadi populer di sekolah, kufikir dia sama seperti cowok lainnya. Namun opiniku tentangnya berubah di hari itu. Hari dimana hujan besar terus mengguyur kota Seoul, kota dimana aku dan dia tinggal…

 

Flashback.

Hujan mengguyur kota Seoul begitu derasnya. Sudah dari satu jam yang lalu hujan mengguyur kota ini, dan belum berhenti juga, membuatku terlambat untuk pulang karena lupa membawa payung. Hujan diluar begitu deras disertai angin besar dan kilat serta petir yang bersahut-sahutan, membuatku takut untuk keluar, ujung-ujungnya aku tinggal di kelas saja sendirian, sementara teman sekelasku yang lain sudah pulang karena para orangtua mereka yang menjemput mereka dengan mobil. Lain halnya dengan aku yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, yang harus pulang pergi ke sekolah dengan menaiki bus, kendaraan umum.

“Aissshhh… eottokke, sudah jam 4 lewat 15…” aku melihat jam tanganku.

“Apa aku nekat saja hujan-hujanan? Umma pasti mengomel..” gumamku pada diri sendiri.

Setelah dipertimbangkan lagi, akhirnya aku nekat saja dan memutuskan untuk pulang, hujan-hujanan. Aku nekat karena sekolahku juga sudah tampak sepi. Sepertinya semua murid sudah pulang, begitu juga dengan guru-guru. Mungkin yang tersisa hanya aku, penjaga sekolah, dan segelintir guru yang akan kerja lembur malam ini. Namun kebanyakan guru yang lembur itu adalah guru laki-laki, dan aku takut terjadi apa-apa padaku (lebih baik negative thinking dong daripada positif hamil?! XDD). Maka itulah kuputuskan untuk pulang.

Setelah mengambil sepatu olahraga yang kugunakan tadi siang, lunch box, dan barang-barang yang lain dari dalam locker, aku pun mendekati pintu keluar. Aku mengeratkan tas gendongku, membenarkan kacamataku yang miring, dan mengambil ancang-ancang untuk menerobos hujan di luar.

Kurasakan air hujan yang menetes membasahi wajah, rambut, dan baju seragamku. Kupayungi diriku dengan jaket yang kubawa, namun percuma, hujannya terlalu besar. Aku terus berlari sambil berharap hujannya segera berhenti, atau paling tidak mengecil, menuju halte bus. Ketika tinggal dua belokan jalan, aku melihat seseorang yang memakai seragam sekolah yang sama sepertiku, seorang pemuda. Seorang pemuda yang berjongkok sambil memegang payung, memayungi kardus di depannya.

Wajah laki-laki itu tidak terlalu terlihat jelas kerena derasnya hujan. Karena penasaran aku membawa tubuhku menuju ke arahnya. Aku memincingkan mata, dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa pemuda tersebut adalah Jinki, si dingin, si cowok populer di sekolahku. Yang membuatku lebih terkejut adalah ternyata kardus yang dipayungi oleh Jinki berisikan anak-anak kucing yang kira-kira berumur dua minggu—masih kecil sekali–, Jinki menaunginya dengan payung, sehingga menyebabkan tubuhnya basah kuyup karena derasnya hujan yang membasahinya.

Miaaww~ Miaww~… Suara anak kucing tersebut bersahut-sahutan, jumlah mereka semua empat ekor. Dari jarak yang tak begitu jauh, aku dapat melihatnya tersenyum penuh kasih sayang terhadap anak-anak kucing itu. Tiba-tiba saja hatiku diselimuti perasaan aneh…perasaan yang membuat jantungku berdetak aneh.

Entah ada keberanian dari mana aku bisa nekat seperti ini karena kini aku semakin melangkahkan kakiku mendekatinya, dan ikut berjongkok disebelahnya, membuka jaket yang tadi menyelubungi kepalaku dan membiarkan kepala serta tubuhku basah kuyup tersiram air hujan sama seperti dirinya.

Dalam benakku aku berfikir, sejak kapan Jinki memayungi anak-anak kucing tersebut? Sejak satu jam yang lalu? Aku melihatnya tampak menggigil kedinginan, namun tampaknya ia tak memedulikan dirinya sendiri, ia tetap tersenyum penuh sayang terhadap anak-anak kucing itu walaupun tubuhnya kini bergetar.

“Kucingnya lucu…” gumamku entah pada siapa.

“Ya…” kudengar ia menjawab, tanpa mengalihkan pandangannya dari kucing-kucing tersebut.

“Kau…Jinki kan?” tanyaku memberanikan diri.

“Ya…” jawabnya lagi.

Setelah percakapan singkat tersebut, kami sama-sama terdiam. Aku juga bingung mau mengatakan apa lagi. Jinki ternyata benar-benar dingin. Namun dari jarak sedekat ini aku dapat melihat sinar matanya yang sungguh hangat melihat anak-anak kucing itu.

Hening yang cukup panjang menjembatani aku dan dia, hanya suara kucing dan derasnya hujan yang terdengar. Tak lama kemudian hujan pun tampak mengecil. Jinki masih memayungi kardus itu hingga hujan pun benar-benar berhenti.

Jinki tampak beranjak dari posisinya, menutup payungnya dan berjalan beberapa langkah menjauh dariku dan anak-anak kucing tersebut.

“Jinki?!” panggilku nekat. Jinki tidak menjawab, ia hanya menengokkan kepalanya ke arahku.

“Emm..bagaimana dengan anak-anak kucing ini?” tanyaku memberanikan diri.

“Aku tidak diizinkan untuk memeliharanya, maaf…” jawabnya seraya memutar kepalanya lagi ke depan.

“Ah tunggu! Aku, aku bisa membawanya…” pernyataan itu meluncur begitu saja dari bibirku.

Jinki terdiam sesaat dan tidak menjawab, namun kemudian ia menolehkan kepalanya lagi ke arahku dan tersenyum  manis sebelum melanjutkan perjalanannya kembali.

Detik itu juga aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta padanya.

Sejak kejadian itu, aku pun memelihara anak-anak kucing tersebut di rumahku. Untunglah keluargaku adalah pencinta kucing, jadi aku tidak ada masalah sama sekali untuk memelihara mereka. Sejak aku memelihara mereka, Jinki pun menjadi sering berkunjung ke rumahku, dan aku sama sekali tidak mau menjadi GR karena tujuan Jinki datang ke rumahku hanya untuk menengok anak-anak kucing tersebut. Empat ekor anak kucing—aku dan Jinki memberi nama untuk mereka—, Bum, Ong, Min, dan Ho, hadir di tengah-tengah keluargaku, dan memberiku dan keluargaku semangat. Jinki begitu menyayangi mereka. Keempatnya disayang olehnya sama rata, tanpa terkecuali.

Lama kelamaan, aku dan Jinki menjadi semakin dekat gara-gara kehadiran Bum, Ong, Min, dan Ho diantara kami. Aku dan Jinki jadi sering mngerjakan PR bersama—jangan salah paham, ternyata Jinki tidak seperti dugaanku, ia selalu mengerjakan soal-soal yang ada dengan serius dan sungguh-sungguh—ajaibnya, pipiku otomatis memerah setiap kali melihat wajahnya yang tampak serius itu. Jinki jago dalam bidang seni, ia memiliki suara yang khas yang terdengar bagus ketika menyanyi. Jinki bahkan menunjukkan beberapa lagu buatannya kepadaku, dan meminta pendapatku mengenai liriknya.

Suatu hari, seperti biasa Jinki datang lagi kerumahku untuk menengok Bum, Ong, Min, dan Ho. Setelah itu lagi-lagi ia menunjukkan lagu buatannya padaku. Ia meminta pendapatku apakah ada lirik yang masih kurang pas atau bagaimana. Lirik buatannya yang ia tunjukkan kali ini adalah mengenai seorang namja yang jatuh cinta pada seorang yeoja yang apa adanya, dan dia bermaksud untuk menyatakan perasaannya tersebut. Aku bilang liriknya sudah cukup bagus, Jinki pun tersenyum mendengarnya. Namun kali ini senyumannya berbeda, bukan senyuman biasa antara dua orang teman yang dihubungkan oleh empat ekor anak kucing. Senyumannya penuh arti. Hal yang membuatku menangis terharu selanjutnya adalah Jinki menyanyikan lagu ciptaannya diiringi dengan gitar yang ia bawa (Jinki juga sangat pintar bermain gitar). Mengapa aku bisa sampai terharu? Semua itu karena ternyata lirik yang ia tulis dan ia nyanyikan ternyata ditujukkan untukku. Dengan kata lain, saat itu juga Jinki memintaku untuk menjadi kekasihnya. Jinki bilang ada sesuatu dari dalam diriku yang spesial, yang bahkan orang lain tidak menyadarinya. Jinki bilang sesuatu itu adalah kepedulian terhadap sesama makhluk tuhan. Aku membalasnya dengan berkata bahwa tidakkah dia yang mempunyai sesuatu itu? Jinki yang rela berhujan-hujan hanya untuk memayungi anak kucing yang bahkan ia tak tahu darimana asal-usulnya. Namun Jinki menjawab lagi dengan berkata bahwa aku juga rela menemani dia berhujan-hujan dan bersedia menampung kucing-kucing tersebut.

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Mataku saat itu sudah berkaca-kaca saking terharunya. Jinki hanya tersenyum dan bertanya padaku apakah aku mau menjadi kekasihnya.Saat itu juga kurasakan otakku tak dapat berfikir jernih. Aku hanya diam. Jinki menanyakannya sekali lagi, ternyata ia khawatir pengakuannya itu membuat pertemanan diantara kami menjadi retak, karena kini wajah Jinki tampak terlihat khawatir, membuat mata kucingnya berkilat gelisah.

“Mungkin pertemanan kita akan retak saat ini Jinki..tapi itu semua akan digantikan oleh status kita yang baru…” jawabku akhirnya, tersenyum gugup.

“Jadi kau mau? Kau mau?” tanya Jinki meyakinkanku sekali lagi.

“Ya…aku mau. Aku mau jadi pacarmu Jinki..” jawabku segera, yang langsung disambut oleh pelukan hangat dari Jinki, dan suara Bum, ong, Min, dan Ho yang berteriak-teriak meminta makan.

 

 

End of Flahback

Jadilah aku dan Jinki kini resmi berpacaran. Saat itu aku merasa menjadi yeoja yang paling bahagia. Namun masalah pun datang. Ternyata berita aku dan Jinki jadian telah menyebar ke semua penjuru sekolah, bahkan ibu kantin sekolahku pun mengetahuinya. Sesungguhnya berita tersebut bukan berita baik, karena aku tidak ikut menjadi populer atau paling tidak teman-temanku berhenti untuk memanfaatkanku. Sebaliknya berita aku jadian dengan Jinki, membuat fangirl Jinki menggila hingga nekat membuli aku. Mereka mengata-ngataiku bahwa aku ini sangat jelek dan sama sekali tidak pantas bersanding di sebelah Jinki yang seperti pangeran. Awalnya aku tidak memperdulikan omongan-omongan itu, namun lama kelamaan aku tidak tahan juga karena kini fangirl Jinki semakin nekat membuli aku dengan cara fisik. Aku pernah di keroyok oleh mereka hingga pakaian seragamku kotor dan agak sedikit sobek—akibat tangan-tangan mereka yang sungguh barbar dan tidak bependidikan—membuat tubuhku penuh luka dan memar. Namun Aku bukan gadis cengeng yang langsung mengadu pada namja chingu atau orangtuaku, maka aku tak pernah bilang pada mereka mengenai aku yang di buli di sekolah.

Namun akhirnya Jinki mengetahuinya juga. Pernah juga suatu ketika fangirlnya menyembunyikan sepatuku sehingga aku pulang dengan tidak memakai sepatu. Sebenarnya saat itu aku sudah mau menangis, aku sudah tidak tahan lagi, dan Jinki menyadari bahwa aku sedang dikerjai karena ketika aku melewati lapangan sekolah dengan bertelanjang kaki, banyak sekali gadis-gadis yang menertawakanku dengan puas, dan Jinki sadar bahwa para gadis itu adalah gadis yang biasa selalu menguntitnya.

Jinki sangat marah pada saat itu. Jinki memintaku untuk jujur atas semua yang terjadi, maka akhirnya pun aku mengatakannya semuanya, mengenai bagaimana aku dibuli. Jinki  meminta izinku untuk membalaskan dendamku pada fangirlnya, namun aku tolak, aku bilang aku saja yang akan berubah. Jinki bingung dengan pernyataanku.

“Maksudmu, berubah bagaimana?…” tanya Jinki heran.

“Lihat saja nanti…” aku hanya tersenyum simpul.

Akupun menyulap diriku menjadi yeoja yang cantik dan terlihat merawat diri. Kacamata kuganti dengan contact lens, rambutku yang hitam dan panjang kubiarkan tergerai—aku menjadi intens pergi ke salon—jatuh mengilap di atas punggungku, pakaian seragam juga aku kecilkan(walau tidak sekecil dan seketat para yeoja lainnya, aku juga masih mematuhi standar peraturan di sekolah), dan aku memakai make up di atas wajahku. Intinya, aku sendiri yang merubah diriku menjadi cantik. Aku ingin membuktikan bahwa aku pantas untuk Jinki.

Perubahan fisik yang ada pada diriku membuat teman-teman serta para guru yang mengenalku terkejut.  Aku berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa cantik. Namun jangan salah, walaupun kini aku sudah sempurna dalam hal fisik, aku tetap menjadi murid kesayangan para guru, karena aku tetap mempertahankan prestasi ku di sekolah. Yang berubah dari sikap para namja di sekolahku adalah kini banyak dari mereka yang ingin berkenalan denganku, intinya aku sekarang menjadi populer, dan kali ini juga aku berani berontak pada perlakuan fangirl Jinki yang biasanya membuliku. Jinki yang melihat perubahan pada diriku sangatlah terkejut hingga mengatakan kalau aku ini  bukan diriku, dan sedikit tidak menyukai diriku yang seperti ini, karena aku yang seperti ini membuat banyak namja yang mengantri untuk menjadi kekasihku, dan Jinki tentu saja cemburu.

“Yang benar saja Yunhee-ssi…kau sudah bilang kan bahwa kita ini pacaran?” ucapnya. Aku hanya terkikik geli, aku senang melihat Jinki yang cemburu untukku.

Aku mengatakan bahwa aku sengaja merubah dirku untuknya, dan juga sebagai pembalasan dendamku pada para fangirlnya yang telah membuliku. Jinki akhirnyapun mau mengerti dan bilang bahwa aku cantik dengan dandananku yang sekarang, dan berkata bahwa dia semakin menyukaiku, membuatku tersenyum senang.

Suatu hari di hari sabtu malam, Jinki mengajakku pergi ke luar, entah kemana. Jinki menyuruhku memakai pakaian bersih dan cantik, maka itu kuputuskan untuk memakai dress berwarna putih favoritku, dengan aksen dan payet berbentuk kupu-kupu berwarna biru keunguan di kerah dan di ujung roknya. Syukurlah aku tidak salah kostum, karena Jinki juga ternyata mengenakan kemeja berwarna pink dan celana putih formal dan sneakers putih.

Aku dibawanya dengan menaiki mobil putihnya ke suatu tempat, Jinki tidak mau bilang padaku akan membawaku kemana, jadi aku menurut saja dan duduk manis di jok mobil di sebelah ia menyetir.

“Jinki-ssi…serius, kau sungguh membuatku penasaran… ayo dong… berikan aku clue-nya… apa saja..” bujukku padanya.

“Tidak, aku tidak mau kekeke. Namanya bukan surprise lagi..” jawabnya keras kepala. Aku pun tak dapat berkata apa-apa lagi, dan hanya diam.

Tak lama kemudian kami pun sampai di tempat yang Jinki maksud. Ternyata tempat tersebut adalah sebuah taman di tengah kota. Yang aku heran adalah tidak biasanya taman tersebut sepi, biasanya taman ini selalu penuh sesak dengan orang yang berpacaran ataupun hanya sekedar berfoto-foto bersama teman atau keluarganya. Namun kali ini taman sangat sepi, hanya suara jangkrik malam saja yang terdengar syahdu di keheningan malam.

“Ayo turun..” ucap Jinki padaku. Spontan aku turun dari mobil Jinki. Setelah itu Jinki berjalan ke arahku dan langsung saja mengamit tanganku,dan mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya. Betapa terkejutnya aku ketika melihat meja makan beserta kursinya yang putih lengakap dengan peralatan makan di atasnya dan vas bunga berisikan seikat mawar putih dan empat lilin di setiap sudut yang mengelilinginya.

“Happy anniversary..” bisik Jinki di teligaku. Spontan aku menoleh ke arahnya dan langsung di sambut dengan kecupan manis darinya. Oppss… my first kiss… langsung saja wajahku memerah.

Jujur, aku tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari jadian kami. Ajaib, Jinki mengingatnya dan memberikan kejutan ini untukku. Tak terasa mataku berkaca-kaca saking terharunya.

“Jinki…  kau merencanakan ini semua?..” ucapku tak percaya, senang.

“Hmm…ayo duduk dulu…” ucapnya tak menjawab pertanyaanku.

Aku pun duduk di kursi putih nan cantik tersebut. Aku duduk di hadapannya.

“Lucu ya.. kita dinner disini.. tapi kok sepi?” tanyaku lagi.

“Ya, memang sepi.. aku sengaja menyewa tempat ini… hehe.. tidak apa-apa kan?” katanya balik bertanya.

“Tentu saja tidak apa-apa..aku malah senang..” ucapku jujur. “Tapi yang aku heran, piringnya kok ada tapi makanannya tidak ada…” ucapku tersenyum jenaka.

“Oh ya, hampir saja aku lupa..” jawab Jinki menggaruk kepala. Sesaat kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah lonceng kecil berwarna perak. Digoyangkannya lonceng tersebut hingga berbunyi nyaring, mengisi keheningan malam.

Tak lama kemudian, dari balik pohon, datanglah dua orang wanita memakai pakaian pelayan, membawa makanan di atas tangannya, dan segera menyajikannya di meja kami. Yang membuatku lebih terkejut tiba-tiba saja entah dari mana datangnya, lampu taman menyala menyoroti meja kami, menyoroti kami berdua dengan sinar peraknya yang membuat suasana malam semakin romantis.

“Jinki-ssi…” ucapku gugup, saking bahagianya.

“Ssshh..kita makan ya…” selanya cepat. Kami pun segera makan, soup ayam dan hot lemon tea yang menjadi saksi bisu di malam itu, malam dimana Jinki telah membuat hatiku melambung tinggi karena perlakuannya. Baru saja dua sendok aku menyeruput soup di hadapanku, tiba-tiba datang lagi dua orang, kali ini namja yang berpakaian formal hitam-hitam, membawa biola. Dimainkannya biola tersebut, mengeluarkan nada-nada yang mengalun indah. Hmmm…aku tau lagu ini.. karya Bethoeven Opus.5, Strings version.. gumamku dalam hati.

“Jinki…kau membuatku benar-benar menjadi wanita yang paling bahagia malam ini…” tuturku senang. Jinki tersenyum.

“Segalanya memang sudah kupersiapkan khusus untukmu…” jawabnya.

“Segalanya sangat indah Jinki…seperti keajaiban..”

“Segala yang ajaib memang aku persiapkan untuk gadisku yang merupakan keajaiban untukku.. dan aku mau kau selamanya menjadi keajaibanku itu..” ucap Jinki sambil menggenggam tanganku.

“Kau juga Jinki.. kau adalah keajaibanku itu.. bisa menjadi kekasihmu adalah sebuah keajaiban..”

“Maukah kau berdansa denganku?” tanyanya sambil beranjak dari tempat duduknya, mengulurkan tangannya ke arahku. Aku setuju dan menyambut ajakannya.

Kami pun berdansa di tengah-tengah taman, dengan lampu taman yang menyorot dan permainan biola sebagai musiknya. Aku merasa kami adalah aktris dan aktor yang sedang bermain di panggung untuk drama musikal. Cukup lama kami menari, hingga Key membisikan kata-kata romantiS di teligaku.

Saranghae my miracle..” tuturnya.

“Nado saranghae..” jawabku sambil menelungkupkan wajahku ke dalam dadanya karena malu. Jinki kemudian mengangkat daguku dan menciumku lembut, membuat malam itu menjadi malam yang paling sempurna dalam hidupku.

FIN

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

 

 

 

13 thoughts on “[FF PARTY] Miracle”

  1. Kyaaa…
    Ini so sweet terlalu, bikin aku senyum2 geje bacanya…
    Emang siy konfliknya ga terlalu menojol, tapi overall bagus deh…
    Good good good

  2. brasa jdi yunhee -,-
    eh dubu, kok jdi manis gitu siih? haha, tinggal tnggu kta2 ‘would you marry me’ dan saya tanpa ba bi bu lgsung blang YES! *plak!*
    nice thor, tpi kok nama key ksempil di endingny?

  3. Baca ff ini aku jd inget foto-fotonya jinki waktu sebelum debut. Masih lucu-lucu banget~ di ff ini bisa kebayang deh jinki yang sekarang gimana haha. Nice

  4. haha…
    jongmal mianhe…
    setengah tidur bikinnya.. ><
    iya, kenapa tiba2 ada Key muncul ya???
    salah ketik boo… XDD
    Jinki maksudnya… hihihi
    Overall.. thanks banget buat semua yang udah mau baca.. dan comment di ff aku ini..^^
    jongmal gamsahamnida,,, *deep bow 90 degree..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s