[FF PARTY] Stand By Me – (Jinki) Part 2

Title(*): Stand By Me (Jinki)

Author(*): Achiiey_Linda

Main Cast(*) : Haruka Rei as Rei-chan, Lee Jinki as Onew as Jinki, Choi Minho as Minho

Suport Cast(*) : nggak ada kayaknya. Cuma malaikat, ahjuma, bocah laki-laki, gadis kecil.

Other Cast : –

Genre(*) : Friendship, Romance, Sad, Humor(?)

Type/Length(*) : sequel #4

Rating (*): general

Summary : Aku tidak ingin pergi, tetapi aku tidak bisa. Aku, ditakdirkan bukan untukmu.

Credit Song : –

Ket(*) : Sekedar berpartisipasi. Tapi kalo memenuhi syarat jadi author tetap, boleh deh *kkk

Stand By Me (Jinki) Part 2

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

 

 

Tiba-tiba langit berubah gelap. Beberapa detik kemudian hujan turun membasahi bumi. Minho pernah menceritakan kepadaku bahwa Rei-chan-ku takut petir saat hujan. Karena itu saat aku melihat sebuah box telepon, aku langsung menariknya masuk. “Rei, kita berteduh di sini saja! Tidak mengapa?”

Dia mengangguk. Hujan turun deras sekali. Sesekali terdengar suara petir menyambar. Aku merasakan tubuh Rei-chan-ku merapatkan ke arahku. Dia pasti ketakutan! Aku pernah menyarankan kepada Minho untuk meneleponnya dan menyanyikan lagu Juliette milik SHINee ketika dia ketakutan. Jadi kucoba untuk menyanyikannya.

“Kau takut petir?” tanyaku setelah menyanyikan lagu tersebut.

“Sangat.”

“Mengapa?”

“Mollayo, dari kecil aku takut petir.”

“Apakah Minho tahu?”

“Tidak ada yang tidak diketahui Minho, Jinki.” Dia diam sejenak. “Ketika ada petir, Minho akan meneleponku untuk menenangkanku.”

Minho pasti menuruti saranku. “Kurae?”

“Ne, dia selalu meneleponku, dan menyanyikan lagu yang kau nyanyikan tadi. Suatu hari dia tidak meneleponku. Karena aku sangat ketakutan, keesokan harinya aku sakit. Karena Minho merasa bersalah, dia merekam suaranya agar ketika dia tidak bisa meneleponku, aku tetap bisa mendengarkannya menyanyi.”

Rei-chan-ku mengeluarkan ponselnya. Terdengar suara seseorang yang aku rindukan selama ini, orang yang telah kubunuh.

‘Rei-chan, kau menangis? Uljima, Rei-chan. Kau khan sudah besar… Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu. Tapi janji, setelah aku menyanyi kau tidak akan menangis, arasseo?’

Aku melihatnya menangis, Rei-chan-ku menangis. Tuhan, aku tidak sanggup melihatnya bersedih seperti ini! Ini semua karenaku! “Uljima, Rei-chan.” kataku. Tanganku tanpa ada yang mengomando langsung mengusap lembut kepalanya.

“Ah, mianhaeyo, Jinki. Aku terlalu merindukan Minho.”

“Gwaenchana. Arasseo. Setelah Minho meninggal, apa kau juga sering mendengarkan suaranya?”

“Tidak. Aku membiasakan diriku tanpanya, sekarang. Tapi terkadang, jika aku merindukannya, aku akan mendengarkannya terus. Saat kau menyanyikan lagu itu, aku mengingatnya lagi. Kau tahu, Jinki. Hanya denganmulah aku bisa menceritakan ini semua. Bahkan dengan orangtuaku, aku tidak pernah menceritakan ini. Orangtuaku hanya mengetahui aku pulang ke Jepang karena kekasihku meninggal, dan aku kembali ke Korea lagi untuk meneruskan sekolah. Ketika bersamamu, seperti bersama Minho. Aku tidak tahu mengapa. Padahal kau dan dia berbeda sekali. Mungkin, karena kau mengingatkanku tentang semua kenangan bersamanya. Kenangan satu tahun yang lalu.”

Aku tersenyum. “Aku hanya mencoba menghiburmu, Rei. Saat di kereta aku melihatmu bersedih.”

“Berat sekali rasanya kembali ke Korea lagi, Jinki. Korea telah mengangkatku tinggi, kemudian menjatuhkanku tanpa ampun.”

“Lantas mengapa kau masih kembali ke Korea?”

Dia diam sejenak, memandang keluar. “Seperti yang kau ketahui, Jinki. Aku ingin balas dendam.”

Maafkan aku, Rei-chan-ku. Maafkan aku.

Aku merasakkannya merapat ke tubuhku lagi. Tuhan, saat dia mengetahui orang yang berada di sampingnya ini adalah orang yang membunuh kekasihnya, apa dia bisa memaafkannya?

 

***

 

Hujan telah usai. Aku memutuskan untuk kembali ke stasiun tempat pertama kali kami bertemu. Hari sudah sore dan aku merasa semuanya sudah cukup.

“Terimakasih, Rei. Kuharap kau menyukai kencan ini.” kataku.

“Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu. Aku seperti melihat Minho hidup kembali, kau tahu.”

Aku tersenyum. “Arasseo. Aku pulang sekarang. Selamat tinggal, Rei.”

“Tunggu, Jinki! Mengapa kita tidak berteman? Kita bisa pergi bersama kali lain?”

Aku berhenti, kemudian berbalik ke arahnya. “Tidak, tidak mungkin, Rei. Aku tidak bisa. Mianhae.”

“Mengapa?”

“Suatu saat kau akan tahu sendiri, Rei. Kau akan datang kepadaku dengan sendirinya. Dan ketika kau tahu, kuharap kau bisa memaafkanku.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Jinki.”

Sebenarnya aku juga ingin lebih lama denganmu, Rei, tetapi aku tidak bisa. “Aku bicara takdir, Rei. Aku hanya menjalani takdirku. Jika kau benar-benar menemukan apa yang sangat kau inginkan, kau akan menemukanku juga. Selamat tinggal.”

Setelah itu aku meninggalkannya, benar-benar meninggalkannya. Aku pergi sambil menahan tangisku, menuju ke rumah sakit tempatku dirawat. Tubuhku sudah menungguku di sana.

 

***

 

“Omma…”

“Omona, Jinki-ya! Akhirnya kau sadar!”

Aku melihat sekelilingku. “Omma…” kataku pelan.

“Waeyo, Jinki?”

“Omma… Aku sudah bertemu dengannya, dengan Rei…”

“Rei?”

“Ne, Omma… Aku sudah bertemu dengannya. Dia sangat membenciku. Omma…”

“Jinki, jangan banyak bicara! Kau baru sadar!”

“Omma… Aku yakin dia akan datang mencariku… Tolong berikan diaryku dan album foto di kamarku untuknya… Karena dia tidak akan bisa menemukanku…”

“Andwae, Jinki. Kau bicara apa!”

“Omma, telah sabar merawatku, Kamsahamnida. Sudah saatnya aku pergi. Aku akan menyusul Appa. Kuharap Omma akan baik-baik saja.”

“Jinki…”

“Selamat tinggal, Omma…”

“Andwae, Lee Jinki!”

Aku bangun, meninggalkan tubuhku, meninggalkan Omma, dan meninggalkan semua yang ada di dunia ini.

Aku melihat malaikat kemarin datang lagi. “Kau sudah siap, Lee Jinki?”

“Ne, terimakasih telah memberikan kesempatan untukku.”

“Kau akan bertemu dengan Appamu di surga. Dan, temanmu, tentu saja. Choi Minho.”

 

***

 

“Onew hyung!”

“Minho!”

Minho berlari ke arahku. “Ya! hyung! Aku tidak menduga kau serius dengan perkataanmu dulu! Tentang ingin tinggal di surga.”

“Kau pikir aku pembohong?”

“Biasanya seperti itu, kkk~”

“Ya!”

“Mianhae, hyung!”

Aku menepuk pundak Minho. “Minho-ya, apakah di surga ada lapangan basket?”

“Waeyo? Kau ingin bermain basket bersamaku?”

Aku mengangguk. “Tentu saja!”

“Shiro! Sudah pasti kau kalah!”

Aish… Bocah ini… Tetap seperti dulu…

“Lee Jinki, Choi Minho…”

Ah, itu malaikat yang membawaku kesini!

“Kami mendengar seseorang menangis, memanggil nama kalian. Kami memutuskan untuk mengijinkan kalian pergi menemuinya.”

“Siapa dia?”

“Haruka Rei.”

 

***

 

“Bisakah kau datang sebentar padaku, Minho? Aku sangat merindukanmu! Aku… aku… Aku tidak bisa… mencintai namja lain… aku…”

Dia menangis, aku melihatnya menangis. Rei-chan-ku, uljima!

“Hyung, aku ingin mendekatinya. Ikutlah.”

“Aniyo, kau saja.”

“Ayolah, hyung.”

Minho menarikku mendekat. Aku melihatnya menggenggam tangan kanan Rei-chan-ku. Jadi kuberanikan diri untuk menyentuh pundak kirinya. Dia terlihat agak terkejut. Dia menoleh ke arah Minho, kemudian tersenyum. Minho pun tersenyum. Dia menoleh ke arahku. Sepertinya dia sudah memaafkanku.

Tuhan, aku berjanji akan menyayangi Minho sebagai dongsaengku, begitu juga Rei-chan-ku. Tidak, dia bukanlah Rei-chan-ku lagi, tetapi Rei-chan kami. Aku berjanji akan menjaganya bersama Minho. Aku berjanji akan tetap disini, menemani dan mengawasinya bersama Minho. Aku berjanji akan berada di sisi mereka, selamanya. Aku berjanji!

 

–  Stand By Me, END –

N.A / P.S (kalau ada): selesai, fiuh~~~ kkk^^ gomawo udah baca, maaf kalo ada yang nggak suka… untuk yang terakhir kalinya, Ini Cuma fiksi ya… sampai jumpa di lain kesempatan^^

 

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

Advertisements

16 thoughts on “[FF PARTY] Stand By Me – (Jinki) Part 2”

  1. huwaaa kasian Rei T.T
    kereeen thor! ga bosen2 dah baca ni ff! ditunggu sad ff lainya ya thor 😀
    *karna saya penggemar berat ff bergenre sad. haha gapen bgt!

  2. Ahh~
    mian tidak membalas tepat waktu ~.~
    maklum jadwal padat merayap #plaks

    semuanyaaa… Makasi yak uda baca n komen.. Love ya^^

    special vo KIMHAERIM
    sinca?? Aku spesialis sad ending loh #plaks
    tapi tergantung mood juga =p

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s