[FF PARTY] Life – Part 1

Title(*):  LIFE (PART 1)

Author(*): Akuro Aizawa

Main Cast(*) : Onew (SHINee)

Suport Cast(*) : Park Ah ra,

Other Cast : Choi Minho, Kim Kibum (SHInee)

Genre(*) : Romance

Type/Length(*) : Sequel

Rating (*): General

Summary : Aku adalah angin yang bisa kau sentuh disaat pagi hari dan aku adalah bintang yang bisa kau lihat dengan jelas disaat malam hari. Dan itu mungkin itu akan  lebih baik untukmu daripada aku ada disampingmu.

Credit Song : LIFE

Ket(*) : Sekedar berpartisipasi

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Continue reading [FF PARTY] Life – Part 1

Advertisements

[FF PARTY] You’re The Prettiest

Title: You’re the prettiest

Author: icusnabati

Cast: Choi Minho, Jisun (as you)

Other Cast: Yeonhee (Cuma numpang nama), Shinee member

Genre: Teen Romance

Length: 1shoot

Rating: G-Pg 16 (sesuai umur authornya)

Summary: “aku lebih suka melihat yeoja chinguku gendut dari pada harus sakit karena diet.”

Ket: ikut berpartisipasi

*Credit(s) Song: I Like You The Most –Beast

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY} Continue reading [FF PARTY] You’re The Prettiest

[FF PARTY] My Mission – Part 2

MY MISSION: PART 2

Author : Rizka Fitria

Main Cast: Lee Jinki, Jung So Hae

Support Cast: Choi Minho, Park Shin Gyu, Kim Jaejoong, Choi Yoorin, Jessica Jung, Kim Hyun Joong

Length : Sequel

Genre : Romance, Action

Rating : PG-15

Credit Song: SNSD-Hoot

Ket: sekedar berpartisipasi

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY} Continue reading [FF PARTY] My Mission – Part 2

[FF PARTY] Burn Inside the Fires of A Thousand Suns – Part 1

Tittle                 : Burn Inside the Fires of A Thousand Suns (Part 1 of 4)

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast        : Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Kim Hyun Ri (Yuriska Paramita),

Lee Hyo Ra (Cahya Chandranita)

Support Cast    : Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin, Shin Rae Hwa

Genre               : Angst, Family, Friendship, Life, Mystery, Romance, Sad

Length              : Sequel

Rating               : G/PG-13

Credit Song      : The Catalyst (Linkin Park)

Ket.                 : Mendaftar sebagai author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY} Continue reading [FF PARTY] Burn Inside the Fires of A Thousand Suns – Part 1

We Got Married ?? – Part 1

Title                 : We Got Married ?? (Part 1)

Author             : Ima Tripleshawol

Main Cast        : Kim Kibum (Key), Choi So Young

Support Cast    : Kim Hyun Ae, Lee Taemin, Nicole (KARA)

Length             : Series/Sequel

Genre              : a bit comedy, Romance

Rating              : PG-15

Summary            : “Haha, tentu saja. Kau dan aku kan sudah menikah, jadi aku bebas melakukan apa saja padamu” Key mendekatkan badannya ke badanku. Aku duduk di sisi satu tempat tidur, Key mengikutiku dan memasang tampang nakalnya. Key mendorongku hingga aku berada pada posisi tidur. Aish ! Apa maunya anak ini.

A.N                              : FF pertama di shining story . . tapi bukan yang pertama banget, aku udah pernah ngepost di wp laen J thanks . .

©2010 SF3SI, Freelance Author.

 

We Got Married ?? (Part 1)

 

“Tapi eomma, aku tidak mau di jodohkan dengan dia” ujarku kesal sambil membanting tubuhku ke atas tempat tidur.

“Ini perintah nenekmu Soo Young, dia sedang sakit parah. Pesan terakhirnya adalah bisa melihatmu menikah dengan cucu angkatnya” jawab eomma sambil mengusap kepalaku.

“Sirho eomma. Dia itu menyebalkan, eomma tidak tahu kan” sambungku. Nenekku selalu saja begitu, dulu juga nenekku sempat sakit parah dan memintaku untuk bertemu dengan cucu angkatnya. Semua permintaan nenekku kuturuti, tapi ternyata itu semua hanya akal-akalan nenekku dan kedua orangtuaku. Aku tak yakin dengan permintaan nenek yang sekarang ini.

“Kau kan baru bertemu sekali dengannya. Pikirkanlah lagi, nenekmu benar-benar sakit sekarang ini”

“Aku harus bertemu dengan Key dulu. Aku perlu mendiskusikan hal ini dengan Key” aku masih terbaring di tempat tidurku.

“Ne, eomma tunggu kelanjutannya” eomma keluar dari kamarku dan menutup pintunya.

Setelah eomma keluar, dengan segera aku mencari nomor hp Key. Kalau tidak salah, aku pernah menyimpan nomor hpnya. Aku mencari-cari di dalam abjad k. Gotcha ! kutemukan nama Key di dalam phonebook ku. Aku pun meneleponnya.

“Yoboseyeo” jawab Key.

“Yoboseyeo Key. Kita bisa bertemu hari ini ?” tanyaku padanya.

“Ne, aku akan membicarakan sesuatu padamu”

“Bagus, aku tunggu di Cheondeok café jam 7 malam”

“Tunggu ! café itu kan dekat rumahmu, sedangkan jauh dari rumahku”

“Ah kau ini. Kau kan laki-laki, kau bisa pakai mobil kan ?”

“Kau juga Soori, kau bisa pakai mobil kan ?” Key malah bertanya balik.

“Aku masih 15 tahun, aku belum punya sim”

“Huuuh, baiklah. Dengan terpaksa” jawab Key lalu menutup teleponnya.

Memilih tempat bertemu saja dia tidak mau mengalah.Apalagi aku harus menikah dengannya. Bisa gila aku tinggal satu rumah dengannya.

*****

Jam sudah menunjukkan jam 7 malam. Aku segera bergegas menuju Cheondeok café yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahku. Saat aku sampai, tidak kulihat ada Key di sana. Pasti telat batinku. Hampir setengah jam aku menunggu di café Cheondeok, Key belum datang juga. Chocolate hangat yang aku pesan pun sudah menjadi dingin.

“Soo Young-ah” sapa seseorang dari belakangku.

“Ya ! kau lama sekali !” sahutku sambil berdiri dan berbalik ke belakang. Taemin ? Omo ! Bagaimana ini ? Jantungku berdetak sangat cepat melihat Taemin ada di sana. Aku menyukai Taemin sejak aku pertama melihatnya.Dia orang yang baik dan ramah, sangat berbeda dengan si Key itu.

“Kau sedang menunggu seseorang ?” tanyanya.

“N-ne Taemin-a. Kau sedang apa di sini ?” aku sedikit gugup berhadapan dengan Taemin.

“Aku habis makan malam dengan keluargaku” jawab Taemin dengan sebuah senyuman di bibirnya.

“Taemin ayo pulang !” teriak seseorang dari sebuah meja yang sepertinya adalah salah satu anggota keluarga Taemin.

“Soo Young, aku pulang dulu” Taemin berjalan ke arah meja, tapi dia berbalik dan mengatakan “besok aku jemput ke rumahmu” lalu melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya.

Sebelum aku berbalik, seseorang menutup mataku dengan kedua telapak tangannya. Aku panik dan menginjak kaki orang yang menutup mataku itu.

“Aish ! Sakiiit !” teriak orang itu. Aku berbalik dan melihat orang yang tadi ku injak kakinya, Key ??

“Key ! Ah, mianhae. Aku tak tahu itu kau” ujarku. Aku bisa melihat Key kesakitan, dia memegangi kakinya terus menerus.

“Apa yang mau di bicarakan ?” tanya Key masih sambil memegangi kakinya.

“Nenek menjodohkan kau dan aku” jawabku sambil menyerahkan secangkir chocolate hangat ke hadapannya.

“Ne, araseo. Aku sudah menolak tawaran itu. Aku tidak mau menikah muda, apalagi denganmu” Key menyeruput chocolate hangatnya sampai setengah cangkir.

“Aku juga menolaknya, tapi. . .” aku memikirkan kata-kata eomma tadi siang.

“Tapi apa  ?”Key menatapku.

“Ah, aku bingung. Nenek sedang sakit parah, aku tidak mau mengecewakannya. Tapi aku juga tidak mau mengorbankan masa mudaku untuk menjadi istrimu”

“Aku juga. Bagaimana kalau kita jenguk nenek besok ? Sehabis kau pulang sekolah, aku akan menjemputmu” Key mencoba memberi solusi. Key menjemputku ?

“Oke. Jemput aku di sekolah, ya” pintaku.

“Iya. . Mmm, kau pulang naik apa ?” pertanyaan Key membuatku hampir tersedak chocolate hangat yang sedang ku minum. Key aneh sekali, dia kan bisaanya tidak peduli dengan siapapun.

“Aku jalan kaki. Rumahku hanya 500 meter dari sini. Kau tak perlu khawatir” aku tersenyum pada Key lalu kembali meminum chocolate hangatnya.

“Khawatir ? Aku hanya tidak ingin disalahkan kau kenapa-kenapa di jalan nanti. Kau kan sedang bersamaku sekarang” jawabnya dingin.

“Ya sudah. Aku pulang dulu” aku berdiri dari kursi kemudian pergi meninggalkan Key sendirian.

“Tunggu !” teriak Key. Aku menoleh padanya yang masih duduk di kursi café.

“Mwo ?”

“Ini semua aku yang bayar ?” tanya Key sambil menunjuk ke dirinya sendiri.

“Ne” jawabku singkat kemudian berlari keluar café.

*****

Esok paginya, Taemin sudah memarkirkan motornya di depan rumahku. Taemin nekat bawa motor ke sekolah karena rumahnya jauh dari sekolah.

Tin tin . . terdengar klakson motor Taemin.

“Sabar-sabar” aku menggerutu sambil menuruni tangga, “eomma, appa aku berangkat dulu” sahutku sambil mencium kedua pipi eomma dan appaku kemudian keluar dari pintu rumah.

“Kau sudah lama ?” tanyaku pada Taemin sambil naik ke motornya.

“Anni, pegangan Soo Young-ah” aku memegang bahu Taemin. Tapi, motor Taemin melaju sangat cepat dan membuat aku memegang pinggangnya. Bahkan Taemin menambah kecepatan motornya, aku pun memeluk Taemin dengan sangat erat. Aku bisa merasakan tubuh Taemin yang hangat. Aku terus memeluk Taemin sampai kami tiba di sekolah. Mukaku memerah sejak turun dari motornya Taemin. Taemin merangkulku dan mengantarkan aku ke kelas.

“Hyun Ae !” aku berteriak sambil berlari ke arahnya yang sedang duduk di dalam kelas.

“Soo Young, kelihatannya kau senang sekali ?” tanya Hyun Ae sambil memperhatikan aku yang masih berdiri di pinggir meja. Aku kemudian duduk di sebelahnya.

“Kau tahu ? Aku bersama Taemin ke sekolah. Omo ! mimpi apa aku semalam” jawabku sambil sedikit tertawa.

“Ooouh” ucap Hyun Ae singkat. Raut mukanya menjadi berubah ketika aku mengatakan aku bersama Taemin.

“Wae ?” tanyaku heran.

“Anni. Kau mau liburan weekend ke mana ?” Hyun Ae mengalihkan pembicaraan.

“Tidak tahu. Kau mau liburan ke mana ?” aku mencoba menyambung pembicaraan.

“Aku mau ke Jeju Island. Besok aku berangkat, lusa kan sudah mulai libur” jawabnya senang.

“Wah beruntung sekali. Nenekku sedang sakit, mungkin aku tidak bisa liburan” aku menjadi tidak bersemangat.

“Gwenchana Soo Young-a” Hyun Ae mengusap-usap punggungku.

*****

Akhirnya jam pulang sekolah tiba. Key janji menjemputku jam 12 siang tepat. Aku berdiri di depan gerbang sekolah sambil sesekali melihat ke arah jam tanganku. Jam 12 lewat, Key belum datang juga. Tak berapa lama kulihat sebuah mobil berjalan ke arahku kemudian berhenti. Orang yang di dalam mobil itu membuka kaca mobilnya.

“Ayo naik” ujar orang yang di dalam mobil itu. Aku masih belum mengenali orang itu, dia pakai kacamata bening tipis dengan frame hitam yang tipis juga.

“Key ?” tanyaku setelah memperhatikan wajah itu beberapa detik.

“Kau tunggu apalagi ?” tanyanya. Aku pun naik ke dalam mobil Key. Dia terlihat dewasa sekali dengan kacamata itu ? Dia kan baru 20 tahun. Aku memperhatikan wajah Key selama di dalam mobil.

“Kita sudah sampai” ucapan Key membuatku sadar dari lamunanku. Aku dan Key turun bersamaan dari mobil.

Aku dan Key bersama-sama masuk ke dalam rumah nenek. Kami naik ke lantai 2 dan berjalan menuju kamar nenek. Kami masuk dan kaget melihat nenek sudah memakai alat pendeteksi denyut nadi. Lebih-lebih lagi, nenek sudah pakai alat bantu pernapasan.

“Nenek” aku menghampiri nenek dan duduk di sebelahnya. Sementara Key duduk sisi tempat tidur yang lainnya.

“Soo Young, Key” suara nenek terdengar parau.

“Kami disini, nek” sahut aku dan Key bersamaan.

“Kalian mau kan menuruti permintaan terakhir nenek ?” tanya nenek sambil memegangi dadanya.

“Tapi nek, kami kan masih muda. Key baru memulai karirnya, aku masih sekolah” aku memohon pada nenek, berharap nenek membatalkan perjodohan ini.

“Ini permintaan terakhirku.Jebal,a-a-a-a” nenek belum menyelesaikan omongannya tiba-tiba pendeteksi denyut nadi nenek berhenti.

“Nenek ! Baiklah, aku akan menikahi Soo Young” ujar Key tiba-tiba.

“Aku juga, aku akan menikah dengan Key” aku mengikuti perkataan Key. Aku jadi menangis melihat nenek yang lemah di tempat tidur. Tak lama kemudian alat pendeteksi denyut nadi nenek berdetak lagi. Nenek membuka matanya lagi.

“Kalian janji ?” tanya nenek lalu memegang tanganku dan tangan Key.

“Ne, kami janji” jawabku. Nenek kemudian menyatukan tanganku dan tangan Key.

*****

Hari ini adalah hari pernikahanku dan Key. Setelah pernyataanku kemarin, nenek memintaku untuk menikah dengan Key besoknya, tepatnya hari ini. Aku takut nenek pergi untuk selamanya, jadi aku turuti semua kemauan nenek. Aku tak tahu bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Taemin nantinya. Aku tidak memberitahu Taemin ataupun Hyun Ae tentang pernikahanku. Ini akan menjadi rahasiaku sendiri. Nenek terduduk di kursi roda sambil memandangiku yang berjalan memasuki ruangan tempat acara pernikahan berlangsung. Key sudah ada di dalam ruangan memaki jas hitam dan kacamata tipisnya. Pernikahan pun dilangsungkan, aku dan Key telah berjanji untuk saling menjaga dan saling mencintai selamanya.

*****

Pernikahanku tidak dipestakan karena alasan terlalu mendadak. Yang datang hanyalah orang tuaku dan orang tua Key serta beberapa sanak saudara.

“Kalian cocok sekali” ujar nenek yang duduk di kursi rodanya. Nenek terlihat sangat segar, seperti sedang tidak sakit.

“Terima kasih, nek” jawabku sambil memaksakan senyum di depan nenek.

“Nenek, kami pulang duluan, ya. Kami ada urusan” appa dan eomma Key berpamitan lalu pergi keluar dari ruangan itu. Key mengikuti appa dan eommanya keluar.

“Kau mau kemana Key ?” suara nenek terdengar seram dan membuat Key balik lagi ke tempatku dan nenek berada.

“Aku mau pulang nek. Untuk apa aku disini, aku kan sudah menuruti nenek untuk menikah dengan Soo Young” jawab Key.

“Kau dan Soo Young akan tinggal denganku. Di rumahku masih ada satu kamar kosong untuk kalian berdua” ucapan nenek membuat aku dan Key bertatapan.

“Mwo ?!” teriakku dan Key bersamaan. Aku harus tinggal satu kamar dengannya, Omona !

“Tapi, nek..” sahut Key. Nenek menyuruh Key untuk diam.

“Kalian ikut denganku” akhirnya aku dan Key ikut ke rumah nenek.

*****

“Kalian tidur di kamar ini” nenek menunjukkan kamarku dan kamar Key di lantai bawah.

“Mwo ?!” aku dan Key sama-sama kaget dengan ucapan nenek.

“Tenang saja, kalian hanya sementara tinggal disini” ujar nenek lalu menutup pintu kamarku dan Key.

“Kau senang kan ?” tanyaku dengan nada mengejek pada Key.

“Haha, tentu saja. Kau dan aku kan sudah menikah, jadi aku bebas melakukan apa saja padamu” Key mendekatkan badannya ke badanku. Aku duduk di sisi satu tempat tidur, Key mengikutiku dan memasang tampang nakalnya. Key mendorongku hingga aku berada pada posisi tidur. Aish ! Apa maunya anak ini.

Key mendekatiku, tapi dengan refleks aku menendang dadanya. Dia pun jatuh dan tergeletak di lantai. Aku segera bangun dan menghampiri Key yang sedang pingsan di lantai.

“Key . .Key” aku mengguncangkan-guncangkan tubuh Key. Tapi dia tidak bergeming sedikit pun.Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya lagi.

“Boo . .!” Key mengagetkanku. Aku memukul kepalanya. Key tertawa dengan sangat puas. Dia menyebalkan sekali !

Hari ini terasa sangat cepat, sampai-sampai langit sudah gelap lagi. Aku dan Key harus tidur bersama malam ini ? Tidak akan ?! Aku naik ke tempat tidur diikuti oleh Key.

“Kau mau apa ?” tanyaku dengan raut muka seram menatapnya.

“Aku mau tidur. Sudah jangan tanya lagi, aku capek” jawabnya, Key berbaring di tempat tidur. Tapi aku mendorongnya hingga ia jatuh ke lantai.

“Kau tidur di bawah.Tempat tidur hanya untuk aku” balasku sambil berkacak pinggang di atas tempat tidur.

“Anni, aku juga mau tidur di atas” Key kembali ke atas tempat tidur. Aku mengambil stick baseball yang berada di pojok ruangan.

“Cepat turun, atau kau mau kupukul hah ?” ancamku sambil mengangkat stick baseball itu ke arah Key.

“Baiklah, aku mengalah” jawab Key pasrah kemudian membawa bantal dan gulingnya ke bawah.

“Ini selimut untuk alas tidurmu. Aku tidak usah pakai selimut” aku melemparkan selimut pada Key. Dia menangkapnya kemudian menggelar selimut itu menjadi alas tidurnya. Aku pun tidur dengan nyenyak di atas kasur, aku tidak memikirkan Key sama sekali.

*****

Suara burung-burung berkicauan membangunkanku yang sedang tertidur nyenyak. Aku membuka mataku dan… Key ! dia ada di tempat tidur bersamaku, bahkan dia memelukku. Aku melepaskan tangan Key dari tubuhku kemudian segera berdiri di tempat tidur.

“Hoahhmm. .sudah pagi, ya” tanya Key polos sambil menggerakkan tubuhnya. Key bangun dan terduduk di atas tempat tidur.

“Beraninya kau melanggar perjanjian yang tadi malam sudah kita buat” bentakku sambil melipat kedua tanganku di dada.

“Perjanjian apa ? Aku tidak ingat, seingatku kau hanya menyuruhku tidur di bawah kan ?”

“Lalu kenapa kau pindah ke atas ?”

“Tadi malam banyak nyamuk.Jadi aku pindah ke atas agar kau dan aku tidak digigit nyamuk” jawabnya pura-pura polos.

“Lalu kemana stick baseballku ?” tanyaku heran karena stick baseballku tak ada di dalam kamar.

“Kutaruh di luar, berbahaya sekali” Key keluar dari kamar dan kembali lagi dengan membawa stick baseballku. Aku merebutnya dari Key kemudian memukulnya.

“Inilah perjanjianku. Kau akan di pukul kalau tidur di atas” aku memukuli Key dengan stick baseballku. Tapi dia berhasil menghindar dan keluar dari kamar.

Pagi ini nenek mengajak kami untuk sarapan bersama. Suasana di meja makan sangat hening. Tidak ada yang berbicara sama sekali.

“Key, bagaimana malam pertamamu ?” pertanyaan nenek membuat Key tersedak dengan susu yang diminumnya. Aku pun menjadi salah tingkah dengan Key.

“Uhuk .Uhuk. . .” Key terbatuk-batuk, aku memukuli punggung Key dengan cukup keras.

“Kenapa ? Ada yang aneh ?” tanya nenek lagi.

“Anniya, cukup menyenangkan nek” jawab Key sambil tersenyum dan mengusap-usap dadanya. Apa maksud Key ?

“Aku sudah membeli tiket pesawat ke Jeju Island. Kalian akan liburan disana” kali ini aku yang tersedak susu karena pernyataan nenek.

“Mworago ?” tanyaku memastikan.

“Kalian akan menghabiskan weekend di sana” jelas nenek.

“Mmmm, bagus juga. Kapan kami berangkat ?” tanya Key senang.

“Nanti siang.Baju-baju kalian sudah ku minta untuk di antarkan ke sini” nenek menyuapkan setumpuk roti ke dalam mulutnya.

Aku  hanya bisa pasrah dengan perintah nenek. Sebelum jam 10, baju-baju kami sudah sampai di rumah nenek. Nenek memberikan dua lembar tiket pesawat menuju Jeju Island kepadaku. Di tiket itu tertulis pesawat berangkat jam 2 siang.

*****

Kami berangkat ke bandara di antar oleh eomma dan appa Key. Mereka sangat baik kepadaku, sangat berbeda dengan Key. Mereka mengantar kami sampai pintu masuk ruang tunggu keberangkatan.

“Key, ingat dia masih sekolah. Kau jangan apa-apakan dia, ya” pinta eomma Key.

“Kau bisa percaya padaku eomma” Key mengedipkan sebelah matanya kemudian membawaku masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Appa dan eomma Key melambaikan tangan ke arah kami berdua. Kami pun membalas lambaian tangan mereka.

“Maafkan nenekku, ya Key” ucapku tiba-tiba. Entah kenapa aku ingin mengatakan itu pada Key.

“Gwenchana, nenekmu nenekku juga” jawabnya sambil mengacak-acak rambutku. Deg, deg, jantungku terasa lebih cepat sekarang. Sama seperti ketika aku berhadapan dengan Taemin.Aku jatuh cinta lagi ? dengan Key ? Anni anni, jangan Soo Young.

*****

Akhirnya kami sampai di Jeju Island. Selama di perjalanan Key tidak banyak bicara seperti bisaanya. Nenek menyewakan hotel yang berada di pinggir laut. Pemandangan yang sangat indah dari kamarku.

“Pemandangannya indah sekali” teriak Key dari balkon kamar kami.

“Ne. . .sangat indah” teriakku juga. Aku merentangakan tanganku sambil menghirup udara laut yang sangat menusuk hidung. Tiba-tiba Key merangkulku dengan sebelah tangannya. Aku menjadi salah tingkah dan malah memandangi wajah Key yang sepertinya sangat menikmati udara laut.

Key masuk ke dalam kamar dan membuka bajunya. Dia hanya memakai celana pendek selutut saja. Aku menutup kedua mataku dengan tanganku.

“Ya ! Kau mau apa” tanyaku tanpa menyingkirkan tangan dari mataku.

“Aku mau ke pantai. Kau mau ikut tidak ? Aku tunggu di bawah” Key keluar dari kamar dan bisa kurasakan langkah kaki Key menjauh dari kamar. Aku pun segera berganti baju dengan pakaian pantai yang kubawa dan menyusul Key di lobby hotel.

“Kajja !” aku berlari sambil menarik tangan Key.

Di pantai ini tidak terlalu ramai pengunjung. Hanya ada aku dan Key, mungkin dengan beberapa orang lainnya.

“Soo Young, senyum” teriak Key dari jarak beberapa meter dariku. Aku bisa melihat Key membawa sebuah kamera Polaroid berukuran kecil. Aku pun tersenyum ke kamera dan segera menghampiri Key.

“Mana aku lihat” aku merebut hasil fotonya dari tangan Key.

“Jangan di ambil. Itu untuk kutaruh di dompet” Key merebutnya lagi dan menyimpannya di saku celana. Key berlari dan tertawa lepas ke arah laut.

*****

Langit sudah berubah menjadi jingga, pertanda matahari akan segera terbenam. Aku dan Key duduk di pinggir pantai sambil memandang ke laut. Aku mengambil sebatang kayu kecil yang ada di sebelahku kemudian mengukir namaku dan nama Key di pasir.  Anniyo. Aku menghapus nama Key dan menggantinya dengan nama Taemin. Itu baru benar. Aku kembali memandang laut yang sudah menenggelamkan separuh dari matahari.

“Aku berharap hari ini tidak pernah berakhir” ucap Key pelan tapi terdengar olehku.

“Mwo ?” tanyaku memastikan.

“Anniyo” Key bangun kemudian menarik tanganku kembali ke hotel.

Kami kembali ke hotel dan membersihkan badan kami. Aku dan Key bersiap-siap untuk makan malam. Kami memutuskan untuk makan makanan hotel saja karena capek. Aku dan Key duduk di restoran di hotel itu. Nenek sengaja memesan special dinner untukku dan Key.

“Mana cincinmu ?” tanya Key tiba-tiba.

“Aku taruh di meja dekat tempat tidur. Mianhae” aku tersenyum padanya.

“Kau tunggu disini. Aku mau ambil sesuatu” Key berlari ke arah lobby hotel dan naik lift ke lantai atas. Beberapa menit kemudian Key kembali sambil membawa kamera polaroidnya dan cincinku ??

“Mana tanganmu ?” tanya Key. Aku mengangkat tangan sebelah kananku ke hadapan Key. Kemudian Key memasangkan cincinku di jari manisku. Aku menatap mata Key, sepertinya dia tulus memakaikan cincin ini di jariku.

“Gomawo Key” aku menarik kembali tanganku dan memebetulkan cincin yang di pasangi Key.

“Kita kan sedang liburan. Jadi kau harus memakai cincin itu terus” pinta Key.

“Ne Key oppa” aku tertawa memanggilnya oppa. Aku tidak bisa memanggilnya oppa.

CKLIIK . Key mengambil gambarku ketika aku sedang tertawa.

“Aaaaah, Key” aku merebut hasil fotonya dari Key. Tapi tak berhasil.

“Ueek” Key mengeluarkan lidahnya mengejekku.

“Pasti mukaku jelek sekali Key !” aku memukul tangannya agar Key menyerahkan foto itu padaku.

“Aku mau menyimpan fotomu kalau lagi tertawa” Key menjauhkan tangannya kemudian memasukkan fotonya ke saku celananya. Aku menekuk wajahku selama kami makan.

Setelah selesai makan aku dan Key kembali ke kamar untuk tidur. Ketika sampai di kamar, Key mengambil bantal dan guling kemudian siap-siap tidur di sofa. Aku jadi heran melihat tingkah Key yang aneh itu. Aku menghampiri Key kemudian memegang dahinya. Tidak panas, tapi kenapa dia aneh seperti ini ?

“Ya ! Apa yang kau lakukan ?” Key mendorong tanganku dari dahinya.

“Kau kenapa Key ? sakit ?” tanyaku heran.

“Sirho, aku hanya tidakmau di pukul pakai stick baseballmu” jawabnya.

“Baguslah kalau kau sadar. Aku tidur ya” aku beranjak ke tempat tidur, menarik selimut, kemudian menutup mataku perlahan. Tapi sudah setengah jam aku menutup mataku, aku belum juga bisa tertidur. Akhirnya aku bangun dan tidur-tiduran di kursi malas teras kamarku. Aku menatap ke arah langit yang sangat indah malam ini.

“Sedang apa kau disini ?” tanya seseorang membuatku kaget.

“Key ? aku tidak bisa tidur, jadi aku keluar saja” jawabku masih memandang ke langit.

“Aku juga” ujar Key. Ia kemudian duduk di kursi malasku dan ikut tidur-tiduran, “langitnya bagus” sambung Key. Aku menoleh pada muka Key yang hanya berjarak beberapa senti dari mukaku. Deg, deg, jantungku terasa lebih cepat dari sebelumnya. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke langit lagi. Aku bisa mencium wangi tubuh Key. Ternyata Key orang yang cukup hangat, aku bisa merasakan kehangatannya malam ini.

*****

Aduh badanku sakit semua,keluhku ketika bangun. Saat aku bangun aku sadar bahwa aku dan Key tidur di luar. Key masih ada di sebelahku dan memelukku. Key mencoba menutupiku dengan tangan dan badannya. Dia memelukku sangat erat, bahkan aku bisa mendengar detak jantung Key.

“Key” aku mencoba melepaskan pelukan Key.

“Mworago” jawab Key tapi ia masih menutup kedua matanya.

“Lepaskan aku” balasku. Ia melepaskan pelukannya kemudian melanjutkan tidurnya. Aku bangun dan segera masuk ke kamar mandi. Pipiku hangat, berarti dari tadi malam dia memelukku ? Omona, aku takut.

Saat aku selesai mandi, Key masih tertidur di luar. Aku membangunkannya dan menyuruhnya untuk segera mandi. Setelah Key masuk kamar mandi, aku menyalakan TV kemudian duduk di sofa. Pandanganku kosong menatap TV itu. Aku masih memikirkan apa yang dilakukan Key.

“Kau mau sarapan ?” tanya Key mengagetkanku.

“Ne, tentu saja. Aku lapar sekali” jawabku sambil mengusap-usap perutku.

“Ayo, sekarang sudah jam 8” Key menarik tanganku keluar dari kamar.

“Key !” teriak seorang wanita ke arah kami. Dia menghampiri kami.

“Ah Nicole, sedang apa kau disini ?” tanya Key pada wanita yang bernama Nicole itu. Aku memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah. Perfect ! pikirku.

“Aku sedang liburan disini. Kau dengan siapa ke sini ?” tanyanya balik.

“Aku bersama.. .bersama . .” Key menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ayo katakan aku istrimu, katakan.

“Dia adikmu, ya. Lucu sekali” sambung Nicole. Nicole mengacak-acak rambutku, sementara Key hanya diam saja. Ah Key ! Kau itu bagaimana, aku itu istrimu bukan adikmu.

“Kami mau sarapan. Kau mau ikut ?” tanya Key.

“Ne, aku mau sarapan” Nicole menggandeng tangan Key dan mendorongku sampai hampir terjatuh. Omo, dia keterlaluan sekali. Aku mengikuti mereka dari belakang, Key terlihat seru mengobrol dengan Nicole. Bahkan di lift pun, Key berdampingan dengan Nicole. Nicole juga memilih duduk di sebelah Key saat sarapan. Aku hanya diam melihat mereka berdua. Ah, menyebalkan !

-to be continued-

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

PUZZLE – PART 2

PUZZLE CHAPTER 2

Author: Shayleeshr

Main Cast: SHINee and Imaginary character

Support Cast: SM Ent members, Imaginary Character

Length : Sequel

Genre : Romance, Family, Friendship

Rating : General

©2010 SF3SI, Freelance Author.

“TAEMIN! This is not mine!!”

Teriakan Jiyoung membuat Taemin langsung berbalik dan menghampirinya, “Bukan milikmu bagaimana? Itukan benar buku agendamu, Noona. Lihat tuh bentuknya sama, warnanya sama persis seperti punyamu.”

“Tapi isinya beda!”

“Hey! Are you okay?!” Jinki dan Jonghyun membuka pintu kamar, mengecek keadaan. Mereka kira terjadi sesuatu yang gawat karena Jiyoung berteriak tadi.

“I lost my agenda…” jawab Jiyoung lemas. Cerita-ceritanya… Kenangan-kenangannya… dan yang paling penting: foto terakhirnya bersama Ayah-nya.

Bukunya hilang?” Tanya Jinki lagi memastikan.

Jiyoung mengangguk, “Lalu itu ditanganmu apa Ji-ya?”

“Ya. Agenda ini memang persis seperti punyaku, tapi ini bukan milikku, Oppa”

Jinki berajalan mendekat memeluk adiknya, begitu juga Taemin ikut memeluk Noona-nya. Mereka tahu seberapa berharga agenda itu bagi Jiyoung. Jonghyun menjadi tidak enak, ia akhirnya keluar dari kamar tersebut, kembali ke kamarnya.

“If this is not yours, then whose?”

Jiyoung menggeleng, “Aku tidak tahu”

Uljima. I’ll do my best to help you find that agenda”

Aku juga Noona”

“Thank you…”

~*~

Perusahaan Keluarga Kim

Kim Heechul memandang berkas yang berisi daftar harga saham yang baru saja dibawakan oleh sekertarisnya kedalam ruangan. Secercah senyuman terlukis diwajah mulusnya, harga saham-sahamnya perlahan mulai naik satu persatu. Dan tentu saja mendatangkan keuntungan yang lumayan banyak untuknya.

Ia meletakkan berkas itu, dan memandang keatas meja, senyumnya menghilang. Sebuah pigura foto berdiri diatasnya. Kim Heechul, Kim Haneul, Kim Jonghyun, dan Kim Kibum, sedang tersenyum bersama didalam studio foto dengan baju yang sama juga. Foto ini diambil sebelum krisis ekonomi yang melanda keluarganya beberapa tahun lalu. Ia ingat senyum itu, senyum Jonghyun yang dulu.

“Yeobo…” panggil Haneul.

“Ne?” Heechul menampakkan senyumnya.

“Waeguraeyo? Kau terlihat tidak senang. Gwenchana?” Haneul menghampiri suaminya.

“Gwenchana.” Heechul mengembangkan senyumnya lagi.

“Kau pikir aku akan segampang itu percaya? Aku sudah mengenalmu selama seperempat abad Kim Heechul.” Ia mengusap bahu suaminya, “Aku tahu kau merindukannya. Maka itu, bersikaplah lebih baik padanya. Ia juga sama rindunya dengan dirimu”

“Aku.. Ingin kita kembali seperti dulu Yeobo..”

“Ne.. Aku mengerti”

~*~

New York, USA

Minho membuka pintu sebuah rumah mewah di kawasan tengah kota New York. Siwon sudah mempunyai urusan terlebih dahulu sehingga ia akan menyusul belakangan. Diletakkannya koper didalam sebuah kamar besar. Ia ingat, dulu ia pernah tinggal disini selama tiga tahun, sebelum akhirnya keluarganya pindah ke Korea karena pekerjaan Ayahnya.

Di tangan kanannya, ia masih terus menggenggam agenda biru milik seseorang yang ia ketahui bernama Jiyoung. Ia masih sangat tertarik dengan identitas pemilik buku itu, ia tidak bisa berhenti membaca buku harian milik Jiyoung.

“28 Agustus 2010

Happy Birthday Aaron!

Aku tahu mungkin kau bahkan tidak akan peduli padaku jika aku mengatakan ini padamu. Aku tahu, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Angela. Dia lebih cantik, lebih langsing, lebih.. sempurna dimatamu.

Kau tidak pernah menganggapku. Semua orang tahu itu, tapi semua orang juga tahu, aku menyayangimu. Kau hanya dekat padaku disaat aku membutuhkanmu bukan? Aku tidak keberatan, berada didekatmu sudah membuatmu nyaman.

Bukankah memang itu resiko menyukai seseorang secara sembunyi-sembunyi? Kau tidak akan bisa melakukan apapun saat orang itu berpacaran dengan orang lain, atau berdekatan dengan orang lain walaupun itu membuatmu sangat terluka. Ya kan?

Aku sudah sering merasakan ini. Menyukai seseorang secara diam-diam dan pada akhirnya mengutuk diri sendiri karena telah menyukainya lalu mencoba sekeras yang kubisa untuk melupakannya.

Kuharap, suatu saat nanti ada yang bisa menyukaiku tanpa memandang sesuatu yang aku mliki atau aku tidak miliki.”

Kali ini Minho membaca halaman dari agenda tersebut dengan serius, ia bisa merasakan kesedihan dan ketangguhan dari penulisnya di dalam kata-kata yang tertulis di halaman itu. Dan hal ini membuat Minho semakin penasaran dengan ‘Lee Jiyoung’.

Ia kembali teringat akan masa kecilnya. Ibunya selalu meminta Ayah Minho untuk bergantian mengajarkan Minho bermain sepeda. Ayahnya dengan bercanda menolak dan mengatakan Minho pasti bisa belajar sendiri. Itu membuat Minho sedikit sedih, tapi ia menjadi lebih tertantang untuk belajar bermain sepeda lebih keras lagi. Ketika akhirnya ia berhasil mengendarai sepeda atas kerja kerasnya sendiri, Ayahnya membelikan Minho dua scoop besar ice cream rasa chocolate chip favorit Minho.

Ia juga teringat saat terakhir kali Minho dan Siwon berlatih untuk kejuaraan lari sebelum mereka berangkat ke New York. Satu kalimat yang membuat perasaan Minho seakan seperti kertas yang dirobek, “…Aku juga heran kenapa dia tidak bisa menjadi sepertiku atau sepertimu. Dia berbeda” Betapa jauh perbedaan antara Ayahnya yang dulu dengan yang sekarang.

“Ya. Kuharap, suatu saat nanti ada yang bisa menyukaiku tanpa memandang sesuatu yang aku mliki atau aku tidak miliki.” Ulang Minho dalam hatinya.

~*~

Rumah Keluarga Kim

Jonghyun memandang foto keluarga mereka yang terpajang diatas meja belajarnya. Foto yang sama dengan yang terpajang di diding kamar Key juga foto yang sama dengan yang terpajang di atas meja kantor Heechul.

Saat ia sedang melamun, terdengar suara gerbang rumah dibuka, dan suara mobil memasuki pekarangan rumah. Dari suara yang terdengar, Jonghyun sudah bisa tahu kalau itu suara mobil yang biasa digunakan Ayah dan Ibunya.

Seperti biasa, rasanya ia hanya ingin mengurung diri dikamar, dan menghindari mereka berdua.

Pintu kamar Jonghyun diketuk, “Excuse me, Jonghyun-ssi? Em.. Apa kau tidak makan? Kami semua akan mulai makan malam dibawah” Jiyoung melongokan kepalanya dari balik pintu.

Jonghyun terkejut sekaligus lega melihat Jiyoung yang masuk kedalam kamarnya, karena kalau Key yang masuk, bisa-bisa mereka beradu argumen dan akhirnya tidak ada yang memulai makan malam.

“Jwesonghamnida, aku sudah makan duluan tadi. Sampaikan maafku ke yang lain Jiyoung-ssi. Selamat makan” jawabnya.

“Ne. Algesimnida. Akan kusampaikan” Jiyoung menutup pintu kamar pelan, dan menghampiri Jinki yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Where’s Jonghyun?”

Jiyoung mengangkat bahunya, “Dia bilang dia sudah makan jadi tidak ikut makan”

Jinki menggeleng-geleng, ia seperti bisa menebak apa yang terjadi pada Jonghyun sekarang, dan memanggil Jonghyun lagi untuk makan malam dibawah bersama-sama.

~*~

Key, Heechul, dan Haneul terkejut saat melihat Jonghyun turun berbarengan dengan Jiyoung dan Jinki untuk makan malam. Heechul tersenyum lebar, tapi Jonghyun tetap diam dan ia menghindari tatapan mata semuanya.

Kayoung yang duduk disebelah Taemin juga ikut tersenyum sambil menikmati makan malam mereka kali ini. “Sudah lama sekali aku tidak melihatmu Neul-ah. Kau juga Chullie”

“Ne. Kau harusnya sering-sering berlibur ke Korea saat tinggal di New Jersey dulu Young-ah, tapi kau terlalu sibuk” jawab Haneul.

Jonghyun mendengus kecil, Lebih sibuk mana Kayoung Ajumeoni dengan Umma dan Appa? Pikirnya.

“Aniya. Anak-anak ini susah sekali diajak berlibur”

“Uh. Aku jadi ingat, Jadi kalian akan sekolah dimana Jinki?” Tanya Heechul.

“Aku, Kiyoung dan Jiyoung masih belum mendapatkan kampus yang cocok Ahjusshi. Kalau Taemin sepertinya akan bersekolah di Chungdam” jawabnya.

Heechul mengangguk, “Kalau begitu dikampus Jonghyun dan Kibum saja” usulnya.

“Ne.” Key mengiyakan, “Memangnya kalian mengambil jurusan apa?”

“Aku mengambil jurusan bisnis manajemen.” Jawab Jinki.

“Lalu Jiyoung-ssi?” Tanya Key lagi.

“A..Aku, Hubungan internasional”

Kiyoung melirik kembarananya, ia pikir sepertinya Key memang sengaja tidak menanyakannya, yaaa karena dari tadi mereka terus bertengkar karena hal yang sepele.

“Kiyoung-ssi, jurusan apa?”

Kiyoung menoleh, Jonghyun yang bertanya. Ia tersenyum lebar. “Psikologi!” jawabnya mantap.

~*~

Seoul National University

Key dan Jonghyun mengantarkan Lee bersaudara untuk registrasi pendaftaran di kampus mereka setelah semalam Heechul mengusulkan mereka. Jinki jadi heran sendiri, selama diperjalanan yang biasanya Jiyoung dan Kiyoung selalu bertengkar, sekarang jadi Kibum dan Kiyoung yang yaaah sedikit sindir menyindir.

Jinki telah menyelesaikan pendaftarannya dan sekarang tinggal menunggu Kiyoung dan Jiyoung.

“Apa saja yang dibutuhkan Kibum-ssi?” Tanya Jiyoung.

“Tidak banyak. Kurasa ya tanda pengenal, em, nilaimu sebelumnya waktu di US” Jiyoung hanya mengangguk-angguk mengiyakan.

Hih! Apasih maunya Kibum itu? Udah rambut kayak pelangi warnanya masih kayak gitu aja! Diam-diam si Kiyoung iri melihat Key yang terus mengajak Jiyoung berbicara tapi terus mengabaikannya.

Seorang wanita paruh baya menyapa mereka dan mempersilahkan Jiyoung dan Kiyoung masuk keruangannya. Mereka diminta menyerahkan daftar nilai terakhir, tanda pengenal juga pas foto.

Pas foto? Tunggu-tunggu.. Jiyoung membuka tasnya dan mencari pas fotonya. Ia membuka agenda biru itu, dan membuka halaman pertama dimana ada tempat untuk menyimpan foto.

Dammit! Aku lupa kalau ini bukan agendaku! Ia tertunduk lesu, matanya masih memerhatikan isi agenda itu. Tunggu, apa ini foto pemilik agenda ini? Sepertinya aku pernah melihatmya. Tapi dimana?

Jiyoung mengambil foto itu dan melihatnya baik-baik, Aku pernah melihatnyaaa! Tapi dimana?? Aduh. Ia membalik foto itu, ada sebuah tulisan dibaliknya, Aku kan tidak mengerti huruf hangul -_____-

“Ji! Jiii!” Kiyoung mendorong bahu Jiyoung.

“What?!!”

“She needs your photo!”

“I don’t have any photos left, boleh aku pakai punyamu?” Tanya Jiyoung.

Kiyoung mengehela napas, tapi ia mengiyakan. Jiyoung tersenyum, Inilah enaknya jadi anak kembar! Kau kan hanya butuh sekali foto dengan gaya yang beda.

Tak lama mereka keluar dan menemui Jonghyun yang menunggu diluar. Ia tersenyum saat melihat mereka berdua berjalan menghampirinya. “Where’s Jinki, Jonghyun-ssi?” Tanya Kiyoung.

“Jinki pergi ke toilet diantar Key” jawabnya. Kiyoung mengangguk dan duduk dikursi tunggu.

Jiyoung diam-diam menghampiri Jonghyun, “Jonghyun-ssi, boleh aku minta tolong?”

Jonghyun terkejut, “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”

Jiyoung merogoh sakunya, dan mengeluarkan foto tadi, “Bisakah kau membacakannya untukku? I don’t understand Hangul. Tulisannya ada dibalik foto ini

Ia menyerahkan foto itu ke tangan Jonghyun.

Jonghyun menatap tulisan itu sebentar, “Choi Minho” ia menyerahkan foto itu kembali ke Jiyoung, “Kau mengenalnya?”

“Aniyeyo. Gamsahamnida”

Jiyoung memposisikan duduknya disebelah Kiyoung yang lagi mendengarkan lagu di iPod-nya. Ia kembali memandangi foto seorang lelaki yang ada ditangannya.

Choi Minho? Itu namanya? Siapa itu Choi Minho? Apa ia pemilik agenda ini? Kalau memang begitu, Aku harus mengembalikan agenda ini kepada Choi Minho itu dan menemukan agendaku kembali. Tapi bagaimana caranya aku menemukan Choi Minho itu?

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF