[FF PARTY] Burn Inside the Fires of A Thousand Suns – Part 1

Tittle                 : Burn Inside the Fires of A Thousand Suns (Part 1 of 4)

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast        : Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Kim Hyun Ri (Yuriska Paramita),

Lee Hyo Ra (Cahya Chandranita)

Support Cast    : Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin, Shin Rae Hwa

Genre               : Angst, Family, Friendship, Life, Mystery, Romance, Sad

Length              : Sequel

Rating               : G/PG-13

Credit Song      : The Catalyst (Linkin Park)

Ket.                 : Mendaftar sebagai author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

God bless us everyone, we’re a broken people living under loaded gun. And it can’t be out fought, it can’t be out done. It can’t be outmatched, it can’t be outrun, no.

Jinki menyandarkan punggungnya di lorong sekolah. Ia mengepalkan tangan kanannya dan menelungkupkannya tepat di dadanya yang bidang. Jinki memejamkan matanya. Sakit, hanya itu yang bisa dia rasakan. Tak ada yang bisa dilakukannya selain mengenang seorang yeoja yang selalu memenuhi pikirannya, Shin Rae Hwa. Yeoja itu, yeoja terkejam yang pernah dikenal Jinki. Kau tega memutuskan cinta kita hanya karena kau menyukai orang lain, Rae Hwa, batin Jinki.

Jinki membuka matanya. Gelap, lorong sekolah begitu gelap. Tak memberi sedikitpun harapan pada Jinki untuk mengobati luka hatinya.

Oppa,” seseorang memanggil Jinki.

Jinki menoleh ke ujung lorong. Sekilas sinar mentari di ujung lorong itu menyilaukan matanya. Jinki tersenyum memandang sosok yeoja yang baru saja menyapanya.

“Kemarilah, oppa, ayo kita pulang!” teriak yeoja itu.

Jinki menghembuskan nafas sejenak lalu mendekati yeoja itu. “Ne, Hyo Ra-ya, kajja, ppali,

Jinki menarik lengan Hyo Ra. Kalau bukan karena kau, aku mungkin tak akan bisa bertahan, Jinki membatin.

Oppa,” bisik Hyo Ra.

Ne?” jawab Jinki polos.

Hyo Ra menghembuskan nafas berat. “Tadi aku melihat oppa melamun di lorong, apa ini karena Rae Hwa eonnie?”

Jinki tersentak. Nafasnya seakan tercekat mendengar saat Hyo Ra menyebut nama Rae Hwa. Jinki tersenyum kecut. “Sudahlah, lupakan, aku tak ingin membahas itu sekarang,”

Alis Hyo Ra berkerut samar. “Waeyo, oppa?”

Jinki mendecakkan lidah. “Anni, sudahlah, ayo masuk ke dalam mobil,”

Hyo Ra tak bertanya lagi. Ia tahu mood kakak sepupunya itu sedang buruk dan ia tak ingin membuatnya menjadi lebih buruk lagi.

Jinki melamun lagi sepanjang perjalanan. Sekeras apapun ia melawan, Rae Hwa sama sekali tak mau pergi dari pikirannya. Jinki mendengus. “Anni, aku tak boleh seperti ini. Dia hanya masa lalu. Aku harus melupakannya. Aku pasti bisa, hwaiting, Jinki!” bisiknya.

Jinki memaksakan seulas senyum. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa Tuhan akan menolongnya dari keterpurukan ini. Meskipun ia tak bisa keluar, meskipun ia tak bisa lari ataupun menghindar dari semua ini.

 

***

 

And when I close my eyes to night. To symphonies of blinding light. God bless us everyone, we’re a broken people living under loaded gun. Like memories in cold decay. Transmissions echoing away. Far from the world of you and I. Where oceans bleed into the sky.

Jinki menghempaskan badannya di tempat tidur. Bosan, ia benar-benar bosan. Bahkan setumpuk buku pelajaran yang menjadi kegemarannya tak bisa menarik perhatiannya saat ini. Jinki menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya. Matanya berkeliling mengamati setiap sudut ruangan. Sangat jelas terlihat namja berambut gelap itu sedang bingung.

Oppa, boleh aku bergabung?” Hyo Ra tiba-tiba muncul dari balik pintu.

Jinki menoleh. Seulas senyum merekah di bibirnya. “Ne, kemarilah,”

Hyo Ra masuk dan berbaring di samping Jinki. Ia melungkupkan badannya yang terasa sangat lelah.

“Kenapa kau kemari, Hyo Ra-ya?” tanya Jinki lembut.

Hyo Ra menatap Jinki. “Molla, oppa, aku merasa bosan di kamar. Tak ada yang bisa kuajak bermain,”

Jinki tertawa kecil. Ia mengangkat sebelah tangannya dan mengacak-ngacak rambut Hyo Ra. “Kau ini sudah kelas 2 SMU, kenapa tak belajar?”

Hyo Ra mengernyitkan alisnya. “Ya! Oppa saja yang sudah kelas 3 masih santai, kenapa aku harus sibuk?”

Jinki mendesah pelan. “Aku sedang malas,” jawabnya singkat.

Hyo Ra mengangkat badannya. Kerutan di sela-sela alisnya mulai menghilang. Ekspresi wajahnya kini datar, namun ekspresi itu memancarkan kekhawatiran yang lebih dalam. “Aku tahu apa yang sedang oppa pikirkan, ceritakanlah padaku, pada dongsaeng-mu ini,”

Jinki menatap mata bulat Hyo Ra, polos dan lugu. Jinki menghela nafas. Tak ada gunanya lagi ia memendam rasa sakit ini. Dia bisa berbagi selama Hyo Ra tetap ada di sampingnya. “Kau yakin ingin mendengarkan ceritaku?”

Ne,” jawab Hyo Ra mantap.

Jinki kembali menerawang langit-langit kamar. “Shin Rae Hwa,” bibirnya mulai mengucapkan kata-kata. “Yeoja itu, tega sekali dia padaku, Hyo Ra, aku tak pernah menyangka selama ini dia menyukai orang lain. Dia berhubungan dengan orang itu diam-diam tanpa sepengetahuanku. Minggu lalu, dengan kasar dan tanpa perasaan dia menghinaku di hadapan namja chingu-nya yang baru. Dia mengatakan bahwa ia tak pernah menjalin hubungan apapun denganku. Bahkan dia berani mengatakan bahwa ia tak pernah mengenalku,”

“Ssstt!” Hyo Ra menekan lembut bibir Jinki dengan ujung telunjuknya. “Berceritalah dengan tenang, jangan sampai para pelayan mendengarkan rahasia oppa ini,”

Mian,” bisik Jinki.

Hyo Ra tersenyum. “Gwenchanayo, oppa, lanjutkanlah ceritamu,”

Jinki meremas rambutnya. “Aku tak terima dia melakukan itu. Aku memutuskan hubungan kami,” Jinki mendengus. “Aku bingung, Hyo Ra-ya, aku tak tahu, apa yang salah denganku? Dengan semua ini?” Jinki bangkit dari tempat tidurnya. Ia duduk di tepi tempat tidur. Kedua tangannya meremas rambutnya dengan sangat kuat.

Oppa,” lirih Hyo Ra.

Jinki mendesis. “Aku merasa diriku begitu hampa. Aku merasa diriku berjalan dalam jalan yang gelap, tanpa arah. Semua terasa terlupakan, aku tak tahu kenapa, yang aku tahu, aku mencintainya,” Jinki meremas rambutnya semakin kuat. “Aku mencintainya, Hyo Ra-ya.”

Tangis Jinki pecah dan menggema di dalam ruangan. Hyo Ra menggigit bibirnya. Dengan pelan kakinya melangkah turun dari tempat tidur. Hyo Ra berdiri di depan Jinki. Tangan mungilnya meraih tangan Jinki dan menggenggamnya erat. “Jangan menangis, oppa, tak ada yang salah dengan ini, dan tak ada yang perlu oppa sesalkan,”

Jinki mengangkat kepalanya. Matanya berpandangan dengan Hyo Ra. Hangat, Jinki merasakan kehangatan terpancar dari mata yeoja itu. Tangan Hyo Ra yang satu lagi mengusap lembut pipi Jinki dan menghapus air mata yang membasahi pipi namja itu. “Jangan menangis, oppa tak pantas menangis untuknya. Dia bukanlah orang yang pantas untuk mengisi hidup oppa,”

“Apa yang harus aku lakukan, Hyo Ra-ya?” Jinki terlihat putus asa.

Hyo Ra tersenyum lembut. “Kembalilah pada kehidupanmu yang dulu. Semua akan terjawab seiring berjalannya waktu. Dan aku yakin semuanya akan baik-baik saja,”

Jinki menunduk. Hyo Ra merengkuh tubuh kakak sepupunya itu ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut rambut Jinki. Air mata yang sedari tadi ditahannya mulai luruh di pipinya.

Jinki memejamkan matanya dalam pelukan Hyo Ra. Ia bisa mendengar irama detak jantung Hyo Ra. Seperti simphoni di dalam cahaya kegelapan. Menghidupkan kembali hati Jinki yang hampir mati. Ia tak peduli lagi meski jarak antara dia dan Rae Hwa semakin menjauh. Karena semuanya akan segera menjadi kenangan yang hilang.

***

God save us everyone, when we burn inside the fires of a thousand suns. For the sins of our hand, the sins of our tongue, the sins of our father, the sins of our young, no.

Jinki berjalan dengan gontai di sepanjang lorong sekolah. Hyo Ra yang mendampinginya sama sekali tak mengeluarkan suara. Jinki sibuk berkutat dengan otaknya yang masih kalang-kabut. Perasaannya sudah sedikit membaik. Semuanya berkat Hyo Ra.

Mungkin Tuhan masih berbelas kasihan padaku ketika aku masuk ke dalam api dari ribuan mentari seperti sekarang ini. Meski beribu dosa telah kulakukan dengan tangan ini, dengan lidah ini ataupun dosa leluhur atau penerusku harus ikut kutanggung. Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menjalani hari dengan normal seperti ini, Jinki tak henti-hentinya membatin.

Jinki tiba-tiba mengehentikan langkahnya. “Chandra-ya,” Jinki menatap Hyo Ra.

Aish!” Hyo Ra terkejut. Ia tak terbiasa mendengar Jinki memanggil nama Indonesianya. “Waeyo, oppa?”

“Kau tak akan meninggalkanku, bukan?” nada bicara Jinki terdengar aneh.

Sebelah alis Hyo Ra terangkat heran. “Mwo?”

“Kau tak akan pulang ke Bali dan meninggalkanku di sini, bukan?” Jinki memperjelas pertanyaannya.

Deg, jantung Hyo Ra seakan berhenti. Kenapa Jinki tiba-tiba menanyakan itu padanya? Hyo Ra membuka bibirnya. “Anni, aku tak akan melakukan itu,”

Jincca?” jinki meminta kejelasan.

Ne, arraseo, aku kan sudah berjanji menemani oppa di sini pada ahjussi dan ahjumma,” jawab Hyo Ra seadanya. “Waeyo, oppa?”

Jinki tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari Hyo Ra. “Anni, aku hanya takut kehilanganmu saja,” jawab Jinki lalu berlalu meninggalkan Hyo Ra yang masih kebingungan di lorong sekolah.

Hyo Ra menatap punggung Jinki yang berjalan semakin jauh meninggalkannya. “Tenanglah, oppa, kau bisa mempercayaiku,”

Chagiya,” seseorang menepuk pundak Hyo Ra.

Hyo Ra tersenyum manis melihat namja chingu-nya yang baru saja menyapanya dengan lembut. “Ne?”

Minho membalas senyuman Hyo Ra. “Ayo ke kelas,” ajaknya.

Hyo Ra menarik tangan Minho. “Kajja,”

 

***

Lift me up, let me go. Lift me up, let me go. And it can’t be out fought, it can’t be out done. It can’t be outmatched, it can’t be outrun, no.

Jinki menatap keluar jendela. Pandangannya kosong. Tak ada apapun dalam pikirannya. Ya, tentu saja, karena dia memang sedang tak ingin memikirkan apapun.

“Onew-ah,” seseorang memanggil Jinki dengan nama populernya.

Jinki menoleh teman duduknya. “Ne, wae, Jonghyun-ah?”

Jonghyun menoleh ke depan. Ia mengangkat dagunya lalu berkata, “Itu, seonsaengnim datang bersama seorang yeoja, sepertinya murid baru,”

Jinki menatap yeoja yang dimaksud Jonghyun. Jinki menopang dagunya. Pandangan matanya terlihat malas seakan tak ada yang istimewa dari yeoja itu.

Yeoja itu berdiri tegak di depan kelas. Sesaat wajahnya agak ragu, namun ia terlihat yakin dengan senyumnya yang mengembang perlahan. “Annyeong haseyo, Kim Hyun Ri imnida. Aku pindahan dari Indonesia, dari Bali tepatnya. Kalian boleh memanggil nama Koreaku, Hyun Ri atau nama Indonesiaku, Yuriska,”

Jinki tersenyum. Ia tertarik saat yeoja itu menyebutkan nama Bali. “Bali? Pulau surga itu, jadi dia berasal dari pulau yang sama dengan Hyo Ra?” bisik Jinki.

Hyun Ri berjalan menuju ke bangku yang ditunjuk seonsaengnim, bangku kosong tepat di sebelah Jinki. Sekilas pandangan Jinki dan Hyun Ri beradu. Hyun Ri tersenyum ramah, namun Jinki tak menyambut senyuman itu. Masih belum ada yang terlihat menarik dari yeoja itu di mata Jinki.

Annyeong,” sapa Hyun Ri.

Jinki mencoba mengembangkan senyumnya. “Annyeong, Yuriska-ssi, Jinki imnida, kau boleh memanggilku Jinki atau nama populerku, Onew,”

Hyun Ri tersenyum sambil menatap Jinki. “Ne, Onew-ssi, kau tak kesulitan mengucapkan nama Indonesiaku?”

Jinki tertawa kecil. “Anni, aku punya dongsaeng yang berasal dari pulau yang sama denganmu,”

Mata Hyun Ri melebar. “Jincca? Siapa namanya?”

“Hyo Ra, ehm, maksudku Cahya Chandranita,” jawab Jinki. “Kau ingin mengenalnya?”

Hyun Ri tertawa kecil. “Ne, kapan-kapan kau boleh mengenalkannya padaku,”

“Ehm,” Jonghyun berdeham. “Wah, sepertinya di kelas ini akan ada pasangan baru,”

Jinki menoleh tak percaya. “Mwo? Kau bilang apa, Jonghyun-ah?”

Jonghyun menutup mulutnya rapat-rapat ingin sekali rasanya dia menampar mulutnya yang sudah sembarangan bicara. “Anni, bukan apa-apa,”

Jinki menggerutu. “Sebaiknya kau urus saja yeoja chingumu, si Lee Soon Hee itu,”

Jonghyun melipat kedua tangannya dan membenamkan wajahnya di atas bangku. “Ne, ara, aku kan sudah berjanji pada Taemin,”

Jinki menimbang-nimbang sejenak. Ada sesuatu yang melintas di pikirannya. “Jonghyun-ah,” Jinki mengguncang bahu Jonghyun. “Bukankah Soon Hee juga berasal dari Bali? Siapa nama Indonesianya?”

“Tulasi Krisna Maharani,” jawab Jonghyun cuek. “Wae?”

“Dia sekelas dengan Hyo Ra, Minho, Kibum, dan Taemin, bukan?” nada bicara Jinki semakin semangat.

Ne,” Jonghyun mengangkat kepalanya dan menatap Jinki heran.

Jinki mengangkat kedua alisnya. “Apakah ada lagi yeoja di kelas Hyo Ra yang berasal dari Bali juga?”

Jonghyun mengernyitkan alisnya. “Ne, Choi Eun Hwa dan Kim Yong Sang, mereka yeoja chingu Taemin dan Kibum,”

Aigo!” seru Jinki. “Siapa nama Indonesia mereka?”

Jonghyun memutar-mutar otaknya. Ujung teunjuknya menepuk-nepuk ujung bibirnya. “Choi Eun Hwa kalau tak salah nama Indonesianya Dyah Adnya Pranitha. Lalu Kim Yong Sang kalu tak salah namanya Yuni Darjiani.” Jonghyun menatap Jinki serius. “Wae?”

Jinki tersenyum. “Hebat! Hyo Ra pasti senang punya teman dari pulau yang sama dengannya,”

Jonghyun memonyongkan bibirnya. Ia berbisik sambil berkata, “Dasar kakak sepupu parah, masa baru sadar dengan keadaan dongsaeng-nya setelah beberapa bulan? Pabo,

Jonghyun menatap Jinki. Jinki kembali menatap ke jendela. Tidak, dia tak benar-benar sedang menatap ke jendela, tapi sesekali pandangannya tertuju pada Hyun Ri. Jonghyun tersenyum lalu berbisik, “Kim Hyun Ri, kuharap dia orangnya, kuharap dia yang akan memulihkan sakit hatimu, Onew. Kau orang yang baik, kau pasti akan bisa bangkit dan lepas dari penderitaanmu yang sekarang,”

 

***

 

God bless us everyone, we’re a broken people living under loaded gun. And it can’t be out fought, it can’t be out done. It can’t be outmatched, it can’t be outrun, no.

Jinki menggendong tasnya. Tak ada satu sumber suarapun yang terdengar di telinganya. Semua teman-temannya sudah raib, pulang ke rumah mereka masing-masing. Jinki merapikan buku-bukunya. Tak sengaja ia melihat ke arah jendela. Mendadak ia menghentikan kegiatannya ketika pandangannya menangkap seorang yeoja yang tertidur pulas di dekat jendela.

Jinki mendekati yeoja itu. “Yuriska-ssi,” bisiknya.

Hyun Ri sama sekali tak merespon. Ia tetap diam. Kedua tangannya terlipat rapi di atas meja dan wajahnya terbenam di sela-sela kedua tangannya.

Jinki mengernyitkan alisnya. “Ya! Yuriska-ssi,” Jinki menepuk pundak Hyun Ri.

Hyun Ri mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat sangat enggan untuk bangun. “Kenapa kau membangunkanku?” tanyanya dengan nada malas.

Jinki terperanjat. “Aigo, kau kenapa, Yuriska-ssi? Wajahmu pucat sekali,” Jinki meraba kening Hyun Ri. “Kau tidak demam, kau anemia?”

Hyun Ri meraba perutnya. “Ne,” jawabnya polos. “Aku sedang datang bulan,”

Jinki mendecakkan lidah. Ia menarik tanga Hyun Ri. “Ikut denganku,”

Hyun Ri terlihat bingung. “Ke mana?”

Sebelah alis Jinki terangkat heran. “Ke mana lagi kalau bukan ke unit kesehatan sekolah? Kajja, ppali!”

Hyun Ri menumpukan tangannya di atas bangku. Ia meringis. Yeoja itu terlihat sangat kesulitan. Memang wajar ada rasa sakit pada rahim saat datang bulan bagi para yeoja, tapi yang dirasakan Hyun Ri berbeda. Rasa sakit ini melebihi batas kewajaran. Rasa sakit yang diwariskan turun temurun dari mendiang leluhurnya. Memang tidak berbahaya, hanya saja ini benar-benar sangat menyiksa. “Astaga, kenapa ada penyakit aneh seperti ini?” keluh Hyun Ri.

Jinki menatap Hyun Ri dengan heran. “Wae, Yuriska-ssi?”

Hyun Ri mengerjapkan mata. “Molla,”

Jinki memperhatikan Hyun Ri. Kaki yeoja itu bergetar. Jinki memang tak tahu bagaimana rasanya datang bulan, tapi melihat reaksi Hyun Ri sepertinya sangat sakit. Jinki merasa simpati. Ia merampas tas Hyun Ri dan menggendongnya di punggungnya yang lebar. Jinki mendekati yeoja yang berdiri dengan susah payah itu. Ia menghebuskan nafas sejenak. Jinki melingkarkan lengannya di leher dan lutut Hyun Ri. Dengan mudah Jinki mengangkat tubuh mungil yeoja berambut panjang itu.

Hyun Ri terkejut. “Ya! Onew-ssi, apa yang kau lakukan?”

Jinki menatap Hyun Ri. “Diamlah, aku tahu kau sulit berjalan. Kaitkan saja kedua tanganmu di leherku, jangan membantah!”

Hyun Ri tak menjawab. Nekat sekali namja ini, pikir Hyun Ri. Ia tak sanggup menatap Jinki. Hyun Ri mengaitkan kedua tangannya di leher Jinki. Ia hanya menunduk. Ia tak ingin Jinki melihat wajahnya yang mulai memerah.

Jinki berjalan perlahan. Ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Lorong sekolah dilewatinya dengan tenang. Hyun Ri juga tak mengatakan apapun. Ia tak tahu apa yang dikatakannya. Nafas Jinki dengan lembut menyapu rambutnya. Entah kenapa dia mulai merasa nyaman berada dalam dekapan namja itu.

Terdengar suara langkah kaki. Seorang yeoja datang dari arah yang berlawanan dengan Jinki dan Hyun Ri. Yeoja itu berperawakan tinggi, langsing, dan anggun, paras wajahnya juga tergolong cantik. “Annyeong, Onew-ah,” sapa yeoja itu saat ia berpapasan dengan Jinki dan Hyun Ri.

Shin Rae Hwa, Jinki membatin. Ia berlalu begitu saja. Ia mencampakan sapaan ramah dari yeoja itu. Hyun Ri memberanikan diri menatap Jinki. Ia heran kenapa namja ini cuek sekali. “Onew-ssi, kenapa kau tak menanggapi sapaan yeoja itu?”

Jinki membuka pintu UKS dengan agak kasar. “Diamlah, kau tak perlu tahu! Istirahat saja,” Jinki membaringkan Hyun Ri di atas tempat tidur.

Hyun Ri memonyongkan bibirnya. Ia bingung dengan tingkah Jinki yang tiba-tiba berubah kasar.

Annyeong, Hyo Ra-ya,” Jinki terlihat sibuk menempelkan ponsel di telinganya.

Ne, waeyo, oppa?” jawab Hyo Ra di ujung sana.

Alis jinki berkerut samar. “Mian, aku masih ada urusan. Kau pulang saja duluan, minta Minho mengantarmu,”

Ne, oppa, arraseo,” balas Hyo Ra.

Jinki mematikan ponselnya. Tangannya meraih sebuah tablet yang tersimpan di kotak P3K. “Ini, minumlah!” Jinki menyerahkan tablet itu pada Hyun Ri.

Gomawo,” Hyun Ri tersenyum. “Kenapa kau menyuruh Hyo Ra pulang duluan? Antar saja dia, tak masalah kau meninggalkan aku di sini,”

Jinki menggeleng. “Anni, biarkan saja dia pulang dengan namja chingu-nya.”

Hyun Ri tertawa kecil. “Oppa yang baik,”

 

***

Hyo Ra memutar-mutar ponselnya. Ia menyesap sebotol jus yang diberikan Minho beberapa menit sebelum Jinki meneleponnya. “Chagiya,” Minho membuyarkan lamunan Hyo Ra. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Hyo Ra tersentak. “Anni, barusan Onew oppa meneleponku, apakah kau mau mengantarku pulang?”

Minho mencubit pipi Hyo Ra. “Ne, ara, chagiya,”

“Hyo Ra-ya, Minho-ya,” tiba-tiba Kibum dan Taemin datang menghampiri mereka.

Wae, Taemin-ah, Kibum-ah?” tanya Minho heran ketika melihat raut wajah Kibum dan Taemin mendadak tegang.

“Shin Rae Hwa noona,” bisik Kibum. “Barusan aku dan Taemin mendengarnya membicarakan sesuatu yang menyangkut Onew hyung bersama namja chingu-nya”

Hyo Ra mendengus. Mendadak seluruh sarafnya terasa tegang. “Apa yang dikatakannya?”

Taemin menghela nafas sejenak. “Ada sesuatu yang akan dilakukannya untuk Onew hyung. Molla, aku tak tahu selengkapnya. Aku hanya mendengar tentang rencana kepergiannya, namun entah kapan itu akan dilaksanakannya,”

“Berhati-hatilah, Hyo Ra-ya,” ucap Eun Hwa yang tiba-tiba datang entah darimana bersama Yong Sang dan Soon Hee.

“Kita tak pernah tahu apa yang akan dilakukan yeoja itu,” Yong Sang menambahkan.

Soon Hee menatap Hyo Ra serius. “Kita harus terus mengawasinya sebelum dia bertindak lebih dari ini,”

“Jagalah Onew, hanya kau yang bisa melakukan itu,” saran Jonghyun yang tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka.

Hyo Ra mengepalkan tangannya. kepalanya terasa panas. “Ne, chingu, kita harus menjaga Onew oppa. Kita tunggu saja apa yang akan dilakukan Shin Rae Hwa,”

 

TBC

 

P. S: Huwaaaa… FF party, >.< keren and kreatif banget. Inget-inget dua member SHINee tercinta kita ultah bulan ini, aku jadi semangat buat FF gaje ini. Kira-kira Jinki oppa sama Minho oppa ngerayain ultah di mana ya? Semoga aja di pulauku, di Bali, hahahahagz.. *ngarep banget,*

Yuph, kita semua berdoa aja semoga dihari keramat, bersejarah nan bahagia tepatnya tanggal 9 dan 14 Desember ini, kedua oppa tercinta kita mendapatkan sesuatu yang berharga dan berkesan di hati mereka. Wish them all the best and God bless them always.. Amin ‘^^,

Gomawo udah baca part 1 FF-ku ini. Oh ya Chandra sama Yuriska itu sebenernya aku sama temen sekelasku lho.. *PD gilak, tapi jujur lho..* jadi Mian banget kalau jelek and jangan lupa comment yakh, awas kalau nggak, *siap-siap ngelempar bom ke reader yang nggak comment,*

*author ditimpukin sendal jepit..*  >.<

 

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

Advertisements

58 thoughts on “[FF PARTY] Burn Inside the Fires of A Thousand Suns – Part 1”

  1. wah,, songficnya the catalyst ya?
    aku suka banget lagu itu…. jadi semangat bacanya, ditunggu part selanjutnya, author
    hehehehe..

  2. FFnya daebak banget
    ,,,
    aish, enak banget jadi Hyun Ri bisa dipeluk ama Onew.. hehehe
    aku suka Hyun Ri, Tapi kok kayanknya Hyo Ra lebih keren ya???
    wahhh ckckckck,,, ditunggu part selanjutnya, author.. jangan sampai Onew diapa-apain,,
    aku nggak tega.. huhuhu T.T

  3. wah keren ni onew oppa punya saudara dari Bali….

    keren FFmu, chingu,,,
    penasaran aku tentang rencana mantannya onew oppa….
    aku pasti baca part selanjutnya…

  4. annyeong author,,
    aku reader baru.. FF ini yang pertama aku baca,,
    sumpah demi apapun daebak bukan main… aku sampe merinding bacanya

    ditunggu part selanjutnya
    hwaiting!!

  5. keren banget onew oppa punya dongsaeng perhatian kayak Hyo Ra,,

    author,, ko Minho oppa sedikit munculnya di sini???
    di part 2nya banyak ga??
    aku tunggu ya..

  6. chandraaaa…. *sok akrab

    aduh,, bingung mau komen apa, pokoknya ffmu daebak banget, permainan kata-katamu keren banget,
    songficnya juga keren minta ampun,,
    ditunggu part selanjutnya…

  7. Anyeong..
    Candra onnie..
    Mian bru nongol.. Hehe..
    *kmbli k topik utma*
    pdalem mitre qow nux, si onew TT_TT..
    Btw yg cwe’a smua dr bali..nux!
    ehmmm..ehmm klo gtow nma qow bleh gx da dsono,*PLAK* klo gx dpt main cast, dadi Tkang spu leh uga*waduh*..ahihi..
    Ff yg k 2 qow tgungu

    1. HuwaAa.. Dinda,,
      Akhirnya muncul jg doNgsaeng q 1 ini..
      .
      GoMawo udah bAca…
      Wah beneran ney mau jadi tUkang sapu??
      Wkwkwkwk
      .
      Ok tngGu aja part 2nya ea.. Hehe

  8. wahh… aku suka banget ceritanya,, sedih and miris-miris…
    kasian onew oppa.. *suamiku…
    plakkk

    keren ceritanya,,, daebak pokoknya,,,
    karena telat baca aku ke pat 2 dulu ya.. hehehe

  9. kenapa mantannya onew sejahat itu??

    syukur deh kalau onew punya ongsaeng sebijah Hyo Ra.. huft…

    aku sukaa gaya bahasamu, aythor… feelnya dapet…

    good job ^^

    oh ya salam kenal, Nina 15yo

  10. Bgus crita’y… ^^d ,..
    bali , jdi pgn ksna… Blum prnh ksna mslah’y *oot bgt*… ><, pdhal kn dia yg slah… Knpa dy yg jhat ke onew??
    Ayo hyo ra dkk.. Lindungin onew!!
    slam knal ya … ^^ *lmbai2 tgn*

    1. wahhh gomawo udah banya n sempetin komenn….
      yukk main ke bali, n angan lupa mampir ke rumahku.. hohoho

      salam kenal juga, chandra 17 yo,,,

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s