[FF PARTY] Dating A Trouble Maker

DATING A TROUBLEMAKER

Title : DATING A TROUBLEMAKER

Author : Eci a.k.a PeppermintLight

Main cast : Choi Min Ho SHINee, Jane

Supporting casts : Jang Hyun Seung BEAST

Other casts : Han Ga Myeong

Genre : Romance

Type : One shot

Rating : General

Picture credit : http://www.paradiseofcrystal.blogspot.com

Summary : Bisakah posisiku di hatimu tidak sekedar jadi objek riset?

Keterangan : Mendaftar sebagai author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

 

Jane membenahi semua buku dan alat tulisnya ketika seseorang berdiri di hadapannya. Gadis itu menoleh.

“Eh, Hyun Seung. Pas bel bunyi kamu langsung loncat dari bangku ya? Cepet amat kesininya,” sapa Jane. Namja bernama Hyun Seung itu tertawa mendengarnya.

“Iya nih, pelajaran Matematika terakhir bikin bangkuku panas. Makanya pas bel aku langsung ngacir deh keluar,” ujar Hyun Seung.

“Tadi kalian belajar apa? Kok rame bener?” tanya Hyun Seung di perjalanan pulang.

“Oh, rame ya?” tanggap Jane.

“Ya iyalah, suara kelas kalian kedengeran sampe ke kelasku. Pelajaran Kesenian ya? Biasanya kan kita rusuh banget kalo udah masuk Kesenian. Santai dan asyik pelajarannya.”

“Iya, tadi Kesenian. Kami dibentuk jadi beberapa kelompok buat mentasin drama. Nah kelompokku kedapetan judul Corner. Itu ceritanya tentang remaja-remaja broken yang kemudian jadi berandalan. Nah aku di sana berperan jadi orang yang paling ditakuti, istilahnya jadi ketua gengnyalah…, makanya aku bingung,” terang Jane. Hyun Seung menahan tawanya.

“Kamu? Jadi ketua geng berandalan? Wohouw! Pasti Jung songsenim nunjuk kamu pake sistem acak. Hahaha. Iya, sori, soriii…hm…nggak susah kali kalo jadi berandalan. Cukup berlagak sok-sok jagoan aja. Beres kan?” ujar Hyun Seung sembari menatap langit-langit sekolah.

“Nggak semudah itu. Kami ditugasin buat mengeksplorasi peran masing-masing. Sejenis survey gitulah. Terjun langsung lebih bagus lagi. Kayak si Hye Ram,…dia kan dapet peran sebagai pelayan kerajaan. Itu aja dia mesti browsing soal pelayan kerajaan, tata krama kerajaan, acara-acara kerajaan,…aduh banyak deh. Dia aja sampe pusing. Belum mau ‘praktek’ juga,”

“Praktek? Beneran jadi pembantu gitu? Ya ampun, emang sefantastis apa sih nilai kalian nanti? Kok kerja keras amat? Kelasku juga bakalan gitu dong berarti,” Hyun Seung langsung membayangkan Jung songsenim memberi tugas serupa pada kelasnya.

“Nilai ini yang nantinya akan punya poin terbesar di pelajaran Kesenian,…sampe delapan puluh persen. Bayangin coba,” ujar Jane. Hyun Seung melotot nggak percaya. Wah, kalo presentase nilainya segede gitu sih dia juga mesti kerja keras.

Tiba-tiba Jane menarik tangan Hyun Seung ke pinggir. Nyaris saja. Sebuah batu seukuran setengah telapak tangan melayang ke arah mereka dan siap membocorkan kepala Hyun Seung kalo aja Jane nggak cepat menariknya.

“BRENGSEK!!” seru sebuah suara yang kemudian disusul dengan lemparan-lemparan berikutnya. Dua kelompok namja berseragam sekolah – dan kelompok satunya itu ternyata dari sekolah mereka sendiri – melancarkan aksi lempar batu dan bahkan ada yang maju langsung dengan pemukul baseball di tangannya. Mengerikan sekali. Beberapa dari mereka kepalanya sudah mengeluarkan darah segar.

Hyun Seung menggenggam tangan Jane erat hingga bisa dirasakannya nadi sahabatnya itu berdenyut cepat. Mereka sudah jauh dari lingkungan sekolah.

Setelah menunggu lama di balik tembok rumah penduduk, akhirnya mereka bisa keluar dari perkelahian antar sekolah itu. Anak-anak itu satu persatu bubar dengan motor.

“Ya Tuhan…, aku kaget. Bisa-bisanya mereka berantem pake seragam sekolah. Yang kelompok satunya itu dari sekolah kita lagi!” ujar Jane. Ia jadi ingat soal perannya di Corner. Mesti survey ke komunitas inikah dia? Otaknya berpikir cepat.

“Kamu kayak nggak tahu Choi Min Ho aja. Mana peduli dia soal menjaga nama baik sekolah. Yang ada di kepalanya itu cuman berantem sama kebut-kebutan…”

“Choi Min Ho siapa?” Jane memotong kalimat Hyun Seung.

“Ketua gengnya. Kenapa? Eh? Ja…jangan bilang kalo kamu…” Hyun Seung mencium firasat buruk.

“Besok aku mau survey peran sama mereka,”

$$$$$$$$$$

Jane benar-benar mendatangi geng Choi Min Ho keesokan harinya. Dia nggak peduli sama ucapan-ucapan Hyun Seung soal mereka berbahaya dan semacamnya. Yang sekarang ada di kepala Jane hanya nilai Keseniannya yang punya presentase delapan puluh persen itu. Lagipula toh keselamatannya mungkin nggak akan terlalu terancam.

“Kamu nggak usah ikutan, Hyun Seung. Kamu udah dapet peran kan tadi pagi? Jadi apa? Dancer kan? Kamu kan jago ngedancenya. Jadi nyantai aja,”

“Aku nggak mau kamu kenapa-napa, gengnya Choi Min Ho itu…”

“…berbahaya kan? Iya tahu, tapi selama di lingkungan sekolah kan aman-aman aja,” ujar Jane sembari melangkahkan kakinya pas jam pulang sekolah. Hyun Seung mengangkat bahunya. Dia sudah kehabisan amunisi untuk menghalangi Jane pergi ke sana. Toh sepertinya sahabatnya itu benar, selama masih di lingkungan sekolah aman-aman saja. Lagipula jam segini sekolah masih rame.

“Jadi aku pulang duluan nih?” Hyun Seung memastikan. Dia sebenernya khawatir pada sahabatnya itu. Tapi setelah Jane mengangguk mantap, ia melangkah ke luar.

Jane berjalan menyusuri koridor sekolah yang perlahan sepi. Menurut penjaga sekolahnya, gengnya Choi Min Ho itu geng penguasa sekolah paling terkenal di daerah ini. Jumlah mereka banyak, punya motor semua, trus Choi Min Ho anak orang kaya lagi, jadi backingnya kuat. Ayahnya yang pengusaha besar itu nggak akan membiarkan anaknya dan bahkan teman-teman dari Min Ho kalo ada salah satu dari mereka yang dipenjara. Makanya mereka tenang-tenang aja kalo nyari masalah kayak tawuran atau kebut-kebutan.

Perlahan hidung Jane mencium aroma asap rokok yang datangnya dari balik tembok gudang sekolah yang udah nggak kepake lagi. Ia melangkahkan kakinya ke sana. Sekelompok anak berseragam sekolahnya meliriknya dengan pandangan tidak suka.

“Weiizzz…, Jane? Hahaha! Woy liat nih! Ada si anak emas!” teriak seorang namja berambut cepak dengan garis-garis cukuran berbentuk hangul di sebelah kiri kepalanya. Itu Ga Myeong, sempat menjadi teman sekelasnya pas SMP dulu.

Anak-anak lain langsung berkumpul dan memandangi Jane dari atas sampe bawah.

“Ngapain kamu?!” bentak salah satu dari mereka. Jane menahan nafasnya. Jantungnya berdegup kencang.

“Aku…Jane. Di antara kalian yang mana yang namanya Choi Min Ho?” tanyanya.

“Kenapa emangnya?! Udah sana pergi!” usir yang lain. Jane shocked. Baru kali ini dia mendapatkan perlakuan seperti ini.

“Kamu Choi Min Ho?” tanyanya panas hati.

“Ngapain nanya-nanya?! Pergi nggak?! Atau…”

“Kalo nama kamu bukan Choi Min Ho ya nggak usah berisik! Kamu adik kelas aku kan?! Hormat dong sama senior!” bentak Jane kesal. Anak tadi sedikit berubah ekspresinya. Dia tahu Jane kakak kelasnya. Tapi dia nggak nyangka Jane berani ngomong gitu.

“Lagian kenapa emangnya, Jane? Anak emasnya songsenim kok singgah ke sini? Hahaha!” tawa Ga Myeong.

“Aku nyariin yang namanya Choi Min Ho…”

“Ada perlu apa nyariin aku?” tiba-tiba sebuah suara berat membuat Jane menolehkan kepalanya ke belakang. Seorang namja tinggi dan tampan tengah memandangnya dengan matanya yang besar dan tajam. Sejenak Jane kehilangan kata-katanya. Choi Min Ho benar-benar di luar dugaannya. Tinggi, kharismatik, dan…tampan sekali. Rambutnya yang ikal dan tersentuh cat rambut coklat itu membuatnya seperti namja-namja idola di komik.

“Kamu…Choi Min Ho?” tanya Jane. Entah darimana datangnya rasa gugup ini. Namja itu perlahan mendekat hingga jarak wajahnya dan wajah Jane hanya tinggal satu inci lagi.

“Kamu siapa?” tanyanya. Jane menjauh. Nafas Min Ho yang menerpa wajahnya membuat jantungnya berdetak kencang.

“Aku…Jane. Aku mau…bisa menjauh sedikit?” ujarnya. Min Ho membelalakkan matanya kaget dan refleks menjauh beberapa langkah.

“Jung songsenim memberikan peran pada kami untuk drama akhir semester. Dan aku mesti survey untuk menghayati peranku sebagai ketua geng berandalan di Corner. Aku harap kalian mau membantu…”

“Membantumu atau membantu nilaimu? Delapan puluh persen kan presentasenya? Jangan pikir aku nggak tahu,”

“Oh iya, maksudku, membantu nilaiku. Sama aja kan? Dan proses mendalami peran juga akan masuk penilaian. Makanya aku ke sini,”

“Enyahlah dari sini, Jane,” ujar Min Ho sembari melonggarkan dasinya. Jane memandangnya nggak percaya. Gimana bisa Choi Min Ho menolaknya tanpa basa-basi lagi? Jane nggak peduli. Nilai Keseniannya dipertaruhkan.

“Tidak sebelum kamu bilang iya, Choi Min Ho,” ujarnya. Min Ho sekali lagi membelalakkan matanya. Keberanian Jane membuatnya takjub.

“Kubilang enyah atau…”

“Atau apa?” tantang gadis itu. Min Ho ketawa setelah berhasil menguasai keadaan. Ia sejenak memandang teman-temannya dan kembali menatap Jane dalam-dalam.

“Aku mengajukan beberapa syarat,” ujarnya penuh arti. Ekspresi Jane mengisyaratkan agar Min Ho memberitahunya.

“Pertama, yang ada di sini hanya kami dan kamu seorang. Nggak boleh ada orang lain masuk ke kelompok kami. Jadi kamu nggak boleh bawa teman,”

“Nggak masalah. Toh ini tugas individu, bukan kelompok,” jawab Jane cepat.

“Kedua, kami merokok, kamu juga merokok,”

“A…apa? Me…merokok?”

“Kenapa?”

“Ng…nggak. Trus apa lagi?”

“Ketiga, kamu mesti jadi pacarku,”

“Kamu gila. Emang gampang macarin aku? Aku cuma nyanggupin dua syarat pertama. Yang ketiga enggak. Deal!” Jane menukas. Min Ho menganga. Nih cewek terlalu berani atau gila? Kok jadi dia yang mutusin semuanya?

“Sampai besok, Choi Min Ho,”

$$$$$$$$$$

“Hye Ram cantik ya,” ujar Hyun Seung pas dia ngelirik teman sekelas Jane tersebut. Jane ketawa. Dikiranya selama ini persahabatan mereka bakal mengganggu Hyun Seung buat nyari pacar. Ternyata enggak.

“Kamu bukannya nggak suka cewek ya?”

“Ih enak aja. Pasti kamu maunya aku naksir kamu yaaa…ahahaha. Eh gimana soal Choi Min Ho kemaren?” tanya Hyun Seung. Jane kemudian menceritakan pengalamannya kemarin secara detil. Hyun Seung membelalakkan matanya.

“Ya Tuhan…, trus kamu terima? Tuh orang apaan ya, pake syarat-syarat segala? Nggak masuk akal. Ya udahlah, Jane. Yang tabah ya. Udah ah, aku mau nemuin Hye Ram dulu. Dah, Jane!” Hyun Seung segera pergi menyusul Hye Ram.

Pulang sekolah Jane segera pergi ke tempat gengnya Min Ho di gudang sekolah yang udah nggak kepake lagi. Ia menarik nafas berat. Ternyata mereka lagi merokok. Berarti sesuai dengan aturan kedua, Jane juga mesti merokok. Ia nggak tahu bisa nurutin syarat kedua atau enggak. Menyentuh rokok aja dia males. Dia benci bau tembakau. Dan lidahnya jelas tidak bisa mentolelir tembakau. Apalagi menghisapnya.

“Rokok nih!” Min Ho melemparkan kotak rokok beserta koreknya pada Jane. Gadis itu mengambilnya dan menimangnya sebentar. Gimana nih?

“Kenapa? Nggak bisa merokok? Ga Myeong! Ajarin!” perintah Min Ho. Dengan malas Ga Myeong bangkit dan membuka kotak rokok di tangan Jane.

“Info aja ya, anak ini nggak bisa nyium bau tembakau,” ujar Ga Myeong. Jane memasukkan batang rokok ke mulutnya dan mengeluarkannya lagi. Bau tembakau itu benar-benar menyiksa. Seharusnya ia katakan hal ini pada Min Ho kemarin. Tapi Min Ho nggak akan mau menerimanya di sini.

“Haa…alergi tembakau rupanya? Lalu kenapa kamu di sini? Kamu jelas sudah membohongi kami,” ujarnya.

“Aku tidak bilang aku bisa merokok kan? Lagipula buat apa aku merokok sementara kamu enggak? Kamu bahkan nggak bisa merokok…”. Min Ho naik darah. Ia memojokkan Jane ke dinding.

“Kamu itu siapa memangnya?! Tukang protes! Makanya kalo kubilang enyah ya enyah saja!” bentaknya.

“Aku tidak protes, aku cuma…”

“Tutup mulutmu! Aku nggak mau mukul cewek. Jadi jangan paksa aku melakukannya. Ini semua tentang kamu dan nilai Kesenianmu kan? Dasar anak emas! Kami nggak pernah menginginkanmu di sini. Sampah!” Min Ho menghentikan umpatannya ketika dilihatnya mata gadis itu berkaca-kaca. Jane mendorong tubuhnya kuat-kuat dan mengambil tasnya untuk pergi dari situ.

$$$$$$$$$$

Min Ho melepas earphonenya ketika Jane mendatanginya di kelas dan menyerahkan selembar kartu berwarna hijau tepat di mejanya.

“Apaan nih?” tanyanya nggak minat.

“Kartu asistensiku. Kamu mesti menandatangani ini setiap kali aku survey, maksudku…berada di antara kalian. Itu bukti kalo aku benar-benar survey dan bisa menjadi bahan pertimbangan untuk nilai Kesenian,” jelas Jane. Min Ho menahan tawa. Baru kali ini dia disuruh menandatangani kartu asistensi.

“Nggak mau. Toh kemarin kamu kabur,”

“Aku nggak akan kabur kalo kamu nggak…nggak menghinaku,” ujar Jane. Rahangnya mengeras tiap kali ingat perkataan Min Ho kemarin.

“Menghinamu? Bagian mana aku menghinamu? ‘sampah’? Itu kan salahmu sendiri,”

“Aku toh tidak bohong. Kamu yang menuduhku. Sekarang kamu mesti tandatangan,” ujar Jane. Min Ho menarik sudut bibir kanannya ke atas.

“Kalo aku nggak mau?”

“Berarti kamu pengecut dan nggak bertanggung jawab. Dan nggak gentleman. Dan…”

“Pinter ngomong. Mana sini!!” Min Ho berdecak sebal sembari ngeluarin pulpennya serta menggoreskannya membentuk sebuah tandatangan.

Sejurus kemudian ia terpana. Jane tersenyum maniiiisss….sekali. Ia membungkuk dan mengucapkan terima kasih dengan sopan. Min Ho merasa dihargai. Selama ini orang-orang hormat padanya karena kedudukan ayahnya.

“Berhubung latihan drama dimulai sebentar lagi, aku mesti mempercepat risetku. Mulai besok, kamu hanya denganku. Tiga hari kemudian aku kembalikan pada teman-temanmu,”

“Apa katamu? Kamu pikir aku objek risetmu?” protes Min Ho. Jane memandangnya dengan tatapan lelah.

“Ayolah, memangnya bukan?”

$$$$$$$$$$

“Kita mau kemana?” tanya Min Ho pada Jane yang mengambil alih stir mobilnya siang itu. Dia akhirnya nggak menemukan alasan yang tidak kekanak-kanakan seperti “mobil ini punyaku jadi terserah aku” untuk menolak Jane. Gadis itu secara tidak langsung punya pengaruh besar padanya.

“Perpustakaan,”

“Apa?”

“Jangan protes, aku mau mengamatimu,”. Ia memutar stir mobilnya menuju ke perpustakaan umum di daerah mereka. Min Ho memang belum pernah ke perpustakaan sebelumnya. Dan pergi ke perpustakaan umum ini adalah kali pertama dalam hidupnya. Ia cuma bisa mengamati Jane yang mendekatkan kartu anggotanya di sensor anggota dan masuk lewat entrance, kemudian mengambil tempat duduk di dekat jendela-jendela yang menghadap ke sungai.

“Tahu nggak, nih perpustakaan pas banget antara pintu masuk sama view keluar yang ngadep sungai. Jadi pas kita buka pintu, pemandangan sungai dari jendela luar langsung kelihatan. Makanya dinding ini penuh sama jendela kan?” jelas Jane. Min Ho hanya a memandangnya. Ia suka tiap kali Jane tersenyum dan mengatur-aturnya. Belum pernah ada gadis yang berani menentangnya selama ini. Ia suka tiap kali Jane bertanya mereka mau apa dan mencatatnya. Belum pernah ada gadis yang tidak merasa takut padanya. Ia suka ketika Jane memintanya untuk pergi berdua saja. Ia suka semua yang Jane lakukan. Ia suka Jane.

“Oke, sudah kucatat. KE PERPUSTAKAAN DENGAN KETUA GENG. Aku mencatat kegiatanku sekaligus bagaimana sikapmu di perpustakaan. Ayo keluar,” ujar Jane.

“Mau kemana lagi kita?” tanya Min Ho sembari bangkit dan merapikan buku-buku kemudian memasukkannya lagi ke lemari ketika Jane mencegahnya.

“Biarkan saja di meja. Petugas yang akan memasukkannya sesuai klasifikasi,” Jane tersenyum. Dia benar-benar tidak menyangka Choi Min Ho menyusun buku-buku dan merapikannya lagi ke rak.

“Kamu selalu melakukannya usai baca buku?” tanya Jane.

“Kubunuh kalo berani mencatat hal barusan. Kenapa sih emangnya kalo abis baca buku dirapiin lagi? Salah?” Min Ho ngomel. Wajahnya memerah. Jane tertawa.

“Aku juga gitu kok. Sekarang kita ke kafe,” ujar Jane. Mereka pergi ke kafe terdekat di sana dan memesan cake dengan secangkir kopi. Min Ho salah tingkah. Suasana kafe yang hangat dan dentingan piano membuat mereka lebih seperti kencan daripada riset. Jane mencatat KE KAFE DENGAN KETUA GENG di kartu asistensinya dan Min Ho menandatanganinya.

“Kenapa aku harus ke tempat-tempat sesuai keinginanmu? Mestinya kamu dong yang ikut kami. Tawuran, kebut-kebutan, dan lain-lain,”

“Aku sudah sering ngeliat yang begituan di film-film. Sama ajalah, paling kalian lempar-lemparan batu, mukul, bacok. Biasa itu. Aku mengajakmu ke tempat yang nggak biasa kayak gini supaya referensiku lebih luas. Kamu keberatan?” tanya Jane. Min Ho menggeleng. Pramusaji kafe menyerahkan bill pada Jane dan gadis itu membuka dompetnya ketika Min Ho menyerahkan selembar uang bernilai besar dan mengisyaratkan agar pramusaji itu mengambil kembaliannya.

“Jangan pernah mengeluarkan uangmu kalo jalan denganku. Itu sama saja dengan menghinaku,” ujar Min Ho. Jane tersenyum dan mencatat. Mereka bangkit dan membuka pintu kafe.

“Hoaaammm…aku bosan sekali. Benar-benar lebih enak berkelahi daripada ke perpustakaan atau ke kafe,” Min Ho meregangkan telapak tangannya. Jane memutar setirnya ke Youth Zone, arena remaja di mall terbesar di kota.

Mereka pergi menghampiri mesin pengukur kekuatan. Min Ho tertawa saat Jane bahkan tidak bisa membuat jarum skala kekuatan itu tidak bergerak. Ia memukulnya sekeras mungkin dan jarum bergerak mendekati maksimal. Namja itu membungkuk memberi hormat dan mereka tertawa-tawa.

Sepulang dari Youth Zone, Jane memutar mobil ke bioskop. Mereka akan menonton salah satu film 3D. Min Ho benar-benar menikmati hari ini. Mereka bersenang-senang sampai malam dan Min Ho mengantar Jane pulang.

Min Ho membatin. Ia ingin menyampaikan betapa menyenangkannya hari ini. Ia berharap lebih sering menikmati situasi seperti ini bersama gadis itu.

“Hei, Jane,” ucapnya.

“Hm?”

“Bisakah kita…”

“Oh…iya ya, sampe lupa bilang terima kasih. Selesai sudah riset dan surveyku. Terima kasih banyak sudah membantu,” Jane membungkuk berterima kasih. Min Ho tersentak kaget. Matanya memandang gadis itu nanar penuh kekecewaan.

“Jadi selama ini yang kamu lakukan hanya…” tanyanya tak percaya.

“Lho? Aku kira sudah sepakat kan? Kamu objek risetku,”. Rahang Min Ho terkatup rapat. Ia benar-benar kecewa. Jane bahkan tidak menunggunya menyelesaikan kalimatnya tadi. Dan hatinya tidak bisa tidak sakit mendengar soal “objek riset” tadi meskipun tidak hanya sekali Jane mengatakan itu.

“Memang. Tapi aku…aku mulai menyukaimu! Bisakah posisiku di hatimu tidak sekedar jadi objek riset? Kamu pikir buat apa semua yang kita lakukan hari ini? Cuma untuk membuatku berharap lebih padamu?! Ah sudahlah! Kamu memang payah!” Min Ho menghentakkan langkahnya menuju ke mobilnya, meninggalkan Jane yang terdiam dan terpaku di tempatnya, berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Choi Min Ho. Seketika ia tersadar.

$$$$$$$$$$

Istirahat pertama ini Jane gunakan untuk menjelajahi sekolah mencari Min Ho. Ia bertanya pada Ga Myeong dan teman-temannya. Mereka tidak tahu keberadaan Min Ho. Jane mencari ke kelasnya.

“Kamu lihat Choi Min Ho di sini?”  tanyanya pada Hyun Seung yang baru saja keluar dari kelasnya Min Ho usai mengembalikan kamus elektronik.

“Kebetulan sekali kamu ada di sini, Jane. Aku tidak melihat Choi Min Ho di sini kecuali namja berkacamata setebal pantat botol yang lagi duduk rapi di pojokan sana,” Hyun Seung menunjuk namja yang dimaksud dengan dagunya. Jane membelakakkan matanya. Ya Tuhan…, itu dia Choi Min Ho. Tapi kenapa dia pake kacamata?

“Kamu apain sih si Min Ho sampe kayak orang planet gitu? Kata temenku, kerjanya daritadi merhatiin songsenim ngajar, nyatet, ngerjain soal, bahkan dia mengangkat tangan pas ada pertanyaan. Trus pas bel istirahat dia langsung ngeluarin National Geographic. Mau dibawa ke UKS nggak mau…eh, mau kemana, Jane?” Jane tidak lagi mendengar kata-kata Hyun Seung dan langsung masuk ke kelas menemui Min Ho.

“Choi Min Ho,” panggilnya. “Kamu apa-apaan?”

Min Ho memandangnya sebentar dan kembali menekuni National Geographicnya.

“Dengarkan aku…”

“Buat apa ngedengerin kamu? Toh kamu juga nggak mendengarkan aku,” sahutnya cuek. Jane terdiam. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan semua ucapan-ucapan Min Ho.

“Aku minta maaf soal perkataanku kemarin. Aku sengaja,”

“Apa kataku,” dengus Min Ho.

“Iya, aku sengaja. Aku sengaja tidak membawa perasaanku selama denganmu. Karena kukira kamu tidak menyukaiku. Kan kamu yang bilang, aku pinter ngomong, sampah, dan lainnya,”. Min Ho berhenti membaca dan memandangnya. Jane melanjutkan.

“Aku tidak ingin berharap, Min Ho. Aku bukan orang yang suka mencari kesempatan padahal aku tahu orang itu tidak menyukaiku. Aku tidak ingin dipermainkan suasana. Kamu tahu? Aku senang sekali bisa bersamamu seharian kemarin. Tapi aku mengalihkan semuanya dengan mengerjakan tugasku. Seandainya kamu tahu kalo jawabanku untuk pernyataanmu yang kemarin…” Jane menggantungkan kalimatnya.

“Apa jawabanmu?” Min Ho memandang Jane di balik kacamatanya.

“Aku…aku…”. Jane menggigit lidahnya.

“Pergilah,”

“Aku menyukaimu…juga,” akhirnya Jane bisa mengeluarkan semua kata-katanya. Min Ho memandangnya. Sejurus kemudian ia tersenyum.

“Eh menurutmu, kacamataku bagus nggak?” tanya Min Ho. Jane tertawa dan melepas kacamata Min Ho.

“Begini lebih baik,” ujarnya tersenyum.

“Oiya, kamu masih mau ikut kegiatan kami? Nanti kami punya janji dengan sekolah di ujung sana,” ujar Min Ho. Jane tersenyum ingin tahu.

“Apa? Janji apa? Rapat? Pertemuan antar geng? Pertandingan persahabatan? Belajar kelompok?”

“Tawuran tempo hari masih bersambung,”

“Ya ampun, Min Hooooooo…!”. Mereka tertawa bersama menikmati jam istirahat sekolah hari itu.

THE END

-peppermintlight-

PS : saya nggak tahu apakah harus menampilkan credit inspirasi di sini. Karena sebenarnya cerita ini nggak terlalu mirip sama film Beauty and The Briefcase. Kalo di film itu kan ceritanya si Lane Daniels magang di perusahaan dan mengencani pria-pria berdasi di sana sebagai bahan tulisan dia agar diterima kerja di majalah mode. Dan ujungnya berakhir pas bosnya yang kayaknya mulai suka sama dia marah-marah karena ngebaca tulisannya itu dan ngerasa dipermainkan, trus dia ngirim tulisan dengan revisi ke majalah mode itu karena dia sadar perbuatannya itu nggak bener. Yah, tinggal pembaca saja yang menilai apakah cerita ini benar-benar mirip atau malah banyak perbedaannya dengan sinopsis film yang saya jabarkan di atas. ^^

 

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

Advertisements

68 thoughts on “[FF PARTY] Dating A Trouble Maker”

  1. kaga terlalu mirip sih… cuma DAEBAK aje gituu…

    agak mabok baca2 FF eonni yang selalu NICE punya! maksudnya, AKU KEPAYANG BANGEEEETTT AAHHH!!! *apasih* XDDD

    eoonnn, ini daebak! bagus! 😀 😀 😀 bikin lagiii…. *nangis2 kyk anak minta balon*

    1. ahaha. terima kasih udah jadi komentator pertama ya niaaaa ^^. iya nih, Alhamdulillah hari ini ff aku buat ff party dipublish 2. dan ini yang terakhir buat ff party kok ^^. fuuhhh…mudah2ah org2 ga pada bosen baca ff aku. hehe. nggak mirip? Alhamdulillah…, soalnya aku tuh sensitif banget kalo soal mirio-ga mirip kayak gitu *sok orisinil* hehe. tapi Alhamdulillah kalo ga mirip ^^
      gomawo niaaaa ^^

    1. iyaaa…hehe. anneyong,taem2. emang pas aku lagi nulis ini kepikiran dia mirip tomingse atau gu jun pyo. tp bukan F4 lho, soalnya di sana mereka geng berandalan, dan rame2 ^^. hehe. tapi makasih loh udah nyempatin baca dan komen ^^

  2. Aku gak tau cerita itu eon *ketinggalan berita(?)*
    yg jelas aku suka ff ini…
    Keren keren
    jd ngebayangin minho pake kacamata tebel…pasti ganteng banget…
    D.A.E.B.A.K

    1. annyeong jomiketaaa ^^ makasih udah membaca dua ff aku hari ini ^^. suka? Alhamdulillah ^^ aku senang kalo readers suka baca ff aku ^^. nah…ayo piliiihhh…minho bagusan nge-guyunpyo atau nge-smart? hehe. gomawo jomiketa ^^

  3. hmmhh…..
    kalo kata aku nggak mirip eonn….. soalnya kan si Jane nya udah ngomong dari awal kalo dia mau bareng ama Minho buat tugasnya….
    menurut pendapatku sih… hehehehe:D
    Keren2 onn ffnyaaa~~ >.<b DAEBAK!!
    kebayang banget ama aku…. hhehehehe^^V

    1. Alhamdulillah kalo nggak mirip,chiii…, hehe. aku seneng banget kalo ga mirip. soalnya aku tuh rada gimanaaa,,,gitu kalo cerita aku mirip sama cerita lain *curhat*. gomawo uchi udah baca dan komen ^^ *kiss uchi

  4. sama skali gatau filmny kak, hahaha
    minho jdi ktua geng? cocok kok, cocok bgt mlah kekeke
    ngakak bner dah di bagian minho cupu version, imajinasi aneh mrajalela kekeke
    kakak TOP dah XD

    1. hehehe, gpp kok. hiahaha, mari kita bayangkan wajahnya di balik kacamata gede bingkai hitam. hm…hm…*imagining* tetep keren. haha *apaseh eciii…ga penting*
      gomawo, amelee ^^

    1. ahaha. halohalohalo suciiiii! aduh aku senangsenangrianggembira kmu baca dan komen lagi di ff aku ^^. *ikut ngebayangin* iya, iya…ganteng kali yaaa…
      gomawo, suci ^^

  5. Eci eonni~
    Iih itu~ fotonya, tempelan dimuka Mino lucu~ ahahahaha~
    wow~ Jane hebat, berani sama Berandalan, kalau aku mah biarpun demi apa aja nggak mau nyari masalah sama berandalan, daripada pulang dengan makeup permanen~ kan bahaya~ ahahaha~
    tapi tapi~ KEREN BANGET eonn ceritanya~ SUMPAH~
    terus yang Mino jadi anak baik (??) terakhirnya itu~ ahahahaha~ pasti lucu banget deh ya~ wakakakak~
    woow~ aku mau berterimakasih dulu eonn~
    Mau refresing otak yg udah gosong dan tak taunya nemu FF ini~ Kembali semangat~ Yaay~ Yaay~ bersiap ngerjain tugas lagi T^T Besok diserahin~ FIGHTING!! *curcol*

    haalah~ apa ini komen?? ya sudah eonn~ mian nyampah ekekeke~~

    1. Lylynnn..
      ini aku, Lia..
      hahahahahaa
      aku yang balesin komennya, yak
      soalnya si uja lagi sibuk gitu
      *lagi sok sibuk lebih tepatnya, wakakakak*

      eh ente, yee
      tompelnya si mino aja diomongin
      wakakakak

      ceritanya keren??
      yya iyalaah..
      Lia gituloh
      *dimasukkin ke gorong2 ama si uja*

      makasih yaa Lyn..
      mau aku cium, gak??
      muahahaha

    1. hei hei
      rhy rhien
      aku yang balesin komennya, yak..
      soalnya si uja lagi sibuk..
      gapapa, kan??
      gapapa, deeeeeeehh
      hahahaha

      baguslah si mino berubah.
      daripada pake kacamata tebel terus kan??
      hahihihihi

      makasih yaa rhy ^^

  6. Minho jd ktua gang? *sambil ngbayangin minho pas rambut kruwel2 di YOU + tampang badboy’nya di Lucifer….huaaaa kereeen!
    Aku ga tw film’nya,,
    tp ff’nya mantaph!
    Good job!
    Moga2 bs jd author ttap! Hwaiting!

    1. aku ngebayangin si mino yang lagi pake kacamata tebel
      muahahahaa

      eh sorry yaa aku yang balesin komennya
      soalnya si authornya lagi semedi dulu gitu
      muakakak

      ntar aku sampein ucapan semangatnya, deeeh
      makasih yaa megamagnae ^^

  7. pas survey dg minho….kya kencan bneran lho jane dg minho…..kekekkekeeke…..
    Minho bad boy dsnie…..suka…suka…….
    cool tpi tetep romantis……

    I like it……

    Nice ff

    1. kayak kencan beneran??
      waaah..
      kalo si mino jalan sama aku, pasti orang2 nyangkanya kami tuh kayak sepasang suami istri
      wakakakakak

      kamu suka??
      aku juga
      ihihihihihi

      makasih yaa vionaaaaa ^^

    1. hai zeckyuuuu
      aku Liaaaaaa
      masih inget, gak??
      aku yang balesin komennya, yaa
      soalnya si uja lagi sibuk gitu
      aku juga sebenernya lagi sibuk, sih
      sibuk menjadi cewek cantik lebih tepatnya
      wakakakakakak
      *dilempar uler*

      makasih yaa zeck :*

  8. Wawww.!!
    Kereen. eci onn. >.<
    aku sukak karakter MINHO disini.. kenapa ya.?
    pertamnya wataknya keras truz akhirnya agak Lembut pas ama Jane.
    pkoknya so sweet gimanaaa gituuh. 🙂

    .ECI ONN.
    aku sukak ff onni (lagii)
    wkwk
    saya tunggu ff slanjutnya. 😛

    1. kamu suka ama aku juga, gak??
      hahahaha

      kamu suka ffnya ??
      begitupula aku ^^

      oya, maaf aku yang balesin komennya
      suka gak kalo aku yang balesin??
      pasti suka, laah
      gak mungkin nggak
      hahahahaa

      makasih yaa nad :*

    1. muka aku juga enak banget buat diliat
      hahahahaha

      rakuuuuuun..
      lucu ih namanya
      wakakakak

      sorry yaa aku yang balesin komennya,
      kamu tau, lah..
      si eci onn tuh lagi sibuk ngurus anak2nya..
      anaknya beliau kan ada 11
      muahahahaa

      makasih yaa buat pujiannya ^^

    1. bagus??
      daebak??
      pasti, doong
      siapa dulu yang bikinnya…?
      mama akuu gituloh
      hahahahaa

      si eci onn bilang makasih ^^

    1. waaaahh??
      aku keren??
      asseeeeeeeeeekkkk
      hahahahaha

      kebayang juga kalo si mino jadi suami aku..
      pasti kamu seneng
      muahahahaha

      maaf yaa aku yang balesin komennya
      soalnya si eci onn lagi berhalangan untuk hadir
      sibuk katanya
      ckckckck

      makasih yaa sungwookie ^^

  9. Ngebyangin minho jadi preman ahh melted~
    Pacaran sm preman ganteng kaya minho sii aku mau mau aja 😀 *gaadayangnanyak

    Kl authornya kak eci pasti T.O.P deh 😀
    Pasti ngebuat aku bingung mau komen apaan, udah bagus sih
    moga-moga ketrima ya kak jadi author tetap ^_^

    1. oke
      sono kamu pacaran ama si mino
      tapi si key buat aku
      muahahahaha

      kalo authornya aku gimana??
      *ninies: GAK AKAN AKU BACA*

      amien..
      moga aja si uja keterima jadi author tetap.
      dan aku yakin si uja pasti bakalan keterima
      hehehehe

      ntar aku sampein ucapan semangatnya, yaa
      makasih, nies :*

    1. daebak??
      pasti, doong

      eh mau kenalan ama aku juga, gak??
      hahahaha

      mian aku yang balesin komennya,
      soalnya si eci onn nya lagi sibuk dalam dunianya
      muahahaha

      makasih yaa reny :*

  10. YUHUUUUUUUUUUUU
    INI AKU,..
    LIA YANG CANTIK DAN BAIK HATIII :*

    AKU YANG BALESIN KOMENNYA, YAA
    SOALNYA UMMA AKU a.k.a ECI a.k.a PEPPERMINTLIGHTNYA LAGI SIBUK AMA TUGAS TUGASNYAA
    LAGIAN JUGA MODEMNYA SI UMMA LAGI GAK GAHOEL SAAT INI
    MUAHAHAHA
    *buru2 matiin caps*

    sekali lagi maaf, yaa :*

    UJAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    komen dari aku : DAEBAK !!
    walopun disini bahasa uja agak2 laen, tapi tetep DAEBAK doong :*

  11. ff yg sungguh panjaaang dan lebaar …. >reader males

    hohoo, critanya baguuusss. tapi gaya bahasanya kurang formal ya. soalnya aku biasa baca ff atau novel yg pake bahasa baku.
    contohnya, kamu->kau
    enggak->tidak
    dsb , aku lupa . hehehee

  12. haihaihai ^^ aku dateng aku dateng *dilempar keset*
    Alhamdulillah banyak banget yang komen ^^
    pertama-tama buat yang udah dibales : lynda,ririn (boleh aku manggil ririn? ^^ ), mega, viona,riondubu,zeckyu,nadia,ranwiks,rakun,nataem,sungwookie,ninies,popopo,vikos,rhenie, JEONGMAL, JEONGMAL GAMSAHAMNIDAAA…karena udah mau baca dan komen di ff ini. sori banget aku ga bales satu-satu, lagian aku pikir udah dibales sama lia, jadi kalo dua kali ntar kalian bosen (???). hehehe. tapi itu nggak mengurangi ucapan terima kasih aku ke kalian karena udah meluangkan waktu buat membaca ff ini dan komen di sini. ini bener2 motivasi buat aku. sekali lagi makasih ^^
    naahh…buat yang belom dibales maupun belom diwakilin balesannya oleh lia, here they are :
    @joe : udah kubales ya joe? hehehe.
    @dio : hm…masukan yang asyik banget ^^, makasih udah baca, komen, sekaligus ngasih masukan ya dio, salam kenal ^^
    @ilchaninda : hahaha. iya nih dia mah tetep aja. tapi…ikutan yuk! mumpung ketua gengnya si minho. hehehe. ngawur ah aku. makasih ya,ilchaninda ^^
    @elfnote : aaa~~elfnote bisa aja. *tersanjung*. Alhamdulillah kalo bahasa aku bisa dinikmati. makasih elfnote ^^
    @chique : ouwh…iya,iya,hehehe. tapi aku seneng lho kamu masih mau baca dan komen di sini ^^ makasih ya, chique ^^ salam kenal ^^
    @lia : ijjem makasih ya udah dibalesin satu2…*kiss

    1. wahaha…gomawo,gomawo udah baca dan komen di sini yaaa *senangsenangsenang*
      salam kenal juga shiningtaem ^^

  13. Ahhhhh…kerennn..mau ikut tauran brg minho juga (?)
    hhhhhhhh…emang enak loh jd pacarnya ketua geng, di takutin + jd trkenal. Hahahahahahaha…

    Cool cool cool. Daebak lahh…

    1. agagaga. haihaihai,pinka ^^. lama ga liat pinka.
      enak dong jadi pacarnya ketua geng. apalagi kalo ketua gengnya itu si minho. kekeke~
      sepsepsep ^^ gomawo ^^

  14. Kaget juga pas liat cast.x ada Hyunseung! Q b2uty soal.x
    tp sumpah ceritanya KUEREEEEN BANGET
    terakhirnya ga bisa bayangin minho pake kacamata hehe
    good job onnie! XD

  15. bagus. cuma kurang pol aja deskripsi perasaan tokohnya. tapi, after all, keseluruhannya menarik. minho paling cocok deh dapet peran berandal kayak gini.

  16. Selalu suka gaya bahasanya 🙂
    terlena sama FF MATO, sekarang terlena lagi sama ff ini.

    pas minho bilang “Kubunuh kalo berani mencatat hal barusan. Kenapa sih emangnya kalo abis baca buku dirapiin lagi? Salah?” gatau kenapa malah senyum2 haha

  17. ahh aku pernah nonton ini film.. temanya sih mirip.. tp beda setting sama latar.. itu g papakan.. karakter cowoknya jg jauh beda..
    tpi kurang berandal nh minhonya hehehe *di lempar sendal*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s