[FF PARTY] Burn Inside the Fires of A Thousand Suns – Part 2

Tittle                 : Burn Inside the Fires of A Thousand Suns (Part 2 of 4)

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast        : Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Kim Hyun Ri (Yuriska Paramita),

Lee Hyo Ra (Cahya Chandranita)

Support Cast    : Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin, Shin Rae Hwa,

Genre               : Angst, Family, Friendship, Life, Mystery, Romance, Sad

Length              : Sequel

Rating               : G/PG-13

Ket.                 : Mendaftar sebagai author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Hyo Ra duduk dengan malas di ruang perpustakaan. Kedua tangannya terlipat rapi di atas meja. Kepalanya terbenam di sela-sela kedua tangannya. yeoja itu terlelap dalam mimpinya. “Chagiya,” sebuah suara lembut terdengar samar-samar di telinga Hyo Ra.

Hyo Ra mengangkat kepalanya. Wajah yeoja itu terlihat kusut dilengkapi dengan rambut acak-acakannya. Hyo Ra tersenyum manis menanggapi namja yang baru saja menyapanya. “Ne?”

Alis Minho berkerut. Tangannya bergerak merapikan helai-helai rambut panjang Hyo Ra. “Kenapa kau terlihat lelah, chagiya?”

Hyo Ra menguap. Ia mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat. “Tadi malam aku menjaga Onew oppa,”

Raut wajah Minho menegang. “Onew hyung? Kenapa dia?”

Hyo Ra tertawa kecil. “Molla, dia terlihat lelah sekali tadi malam,” Senyum di wajah Hyo Ra semakin terlihat cerah. “Oppa juga mengatakan kalau dia mendapatkan seorang teman baru namanya Kim Hyun Ri. Tahu tidak?”

Minho memiringkan kepalanya. “Mwo?”

Hyo Ra memicingkan sebelah matanya. “Dia berasal dari pulau yang sama denganku,”

Jincca?” Minho tersenyum penuh rasa penasaran.

Ne,” Hyo Ra mengacungkan jempolnya dengan semangat.

Minho tertawa. Ia berniat membalas kata-kata Hyo Ra, namun belum sempat ia melakukannya seorang yeoja berperawakan langsing, dan terlihat anggun lewat di depannya. “Shin Rae Hwa,” bisiknya dengan suara yang sengaja ditekan.

Hyo Ra bergidik. Ia menatap yeoja itu. Tangannya terkepal, sekuat mungkin ia berusaha agar tak bangkit dan tak bangkit dan menghilangkan nyawa yeoja yang telah begitu tega menyakiti hati kakak sepupunya.

Hyo Ra mengatur nafasnya agar tetap tenang. Kepalan tangannya semakin kuat saat Shin Rae Hwa mendekat ke arahnya. “Annyeong, Hyo Ra-ya, Minho-ya,” sapa Rae Hwa sambil tersenyum lembut.

Hyo Ra tak menggubris perkataan Rae Hwa. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan memilih tetap diam. “Ada apa, noona?” Minho mengambil alih pembicaraan melihat reaksi Hyo Ra yang keras kepala.

“Bagaimana kabar Onew?” tanya Rae Hwa pelan.

Spontan Hyo Ra menatap nanar ke arah Rae Hwa, namun nafasnya masih tenang. “Mwo? Kenapa eonnie menanyakan kabar oppa-ku?”

Rae Hwa menatap Hyo Ra penuh harapan. “Sudah lama aku tak bicara dengannya, aku hanya ingin tahu, bagaimana kabarnya sekarang?”

Hyo Ra bangkit dari tempat duduknya. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Semudah itukah ia menanyakan Onew oppa padaku? Apakah dia tak punya hati? Apakah dia tak ingin minta maaf pada Onew oppa? Kenapa dia malah mencariku? Dasar pengecut! Batin Hyo Ra. Hyo Ra menyeringai. “Mianhaeyo, eonnie, sekarang sudah jam pulang sekolah. Aku harus segera masuk ke club bahasa, aku hampir terlambat. Tanyakan saja pada Onew oppa, eonnie akan mendapatkan jawaban yang lebih pasti,”

Hyo Ra meninggalkan perustakaan. Sontak Minho ikut bangkit dari tempat duduknya. “Mianhaeyo, noona, aku juga harus pergi,” ucapnya lalu berlari mengejar Hyo Ra.

Rae Hwa terdiam. Tangannya terkepal. Wajahnya terasa panas. Tanpa sadar air matanya mulai meleleh. “Pabo kau, Rae Hwa,” lirihnya sambil terisak.

 

***

Hyun Ri melangkahkan kakinya dengan hati-hati sepanjang lorong sekolah. Bola matanya berkelana mencari tulisan Club Bahasa. Beberapa kali Hyun Ri mendengus. Lorong sekolah cukup panjang dan ada banyak ruangan di sekelilingnya. Rasanya menyebalkan harus mengecek setiap ruangan. Hyun Ri menyipitkan bola matanya. Telinganya menangkap sesuatu yang terdengar lembut. Suara alunan sebuah musik, denting piano tepatnya.

Hyun Ri menoleh. Klub Musik, itu tulisan yang tertera di pintu yang ada di sebelah kanannya. Pintu itu dalam keadaan terbuka. Hyun Ri mengernyitkan alisnya, dengan perlahan kakinya bergerak menuju ke pintu itu. Hyun Ri menatap lekat-lekat ruangan yang kini ada di depan matanya. Ruangan luas dengan berbagai alat musik. Ruangan yang hebat, pikir Hyun Ri.

Hyun Ri memusatkan pandangannya pada sumber denting piano yang barusan di dengarnya. Hyun Ri menatap ke pojok ruangan. Sebuah piano besar terpajang dengan rapi di sana. Sumber suara yang didengar Hyun Ri berasal dari piano itu. Terlihat seorang namja dengan luwes menggerakkan jari-jarinya merangkai nada menjadi sebuah lagu yang indah. Hyun Ri sedikit terkejut ketika melihat siapa namja itu. “Dia,”

Tak ada orang lain dalam ruangan itu selain namja yang tengah memainkan piano di ujung ruangan. Hyun Ri memberanikan diri masuk ke dalam ruangan. Kakinya melangkah mendekati namja yang masih sibuk mengalunkan pianonya tanpa terusik. Hyun Ri berhenti tepat di depan namja itu. Mendadak namja itu menghentikan permainannya. Ia mengangkat kepalanya. “Yuriska-ssi,” lirihnya.

Hyun Ri tersenyum. “Kenapa kau menghentikan permainanmu, Onew-ssi?”

Jinki terkekeh. “Habis kau mengagetkanku. Kenapa kau bisa ada di sini?”

Hyun Ri menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal. “Aku bingung mencari di mana Klub Bahasa,”

“Hahaha,” Jinki tertawa semakin keras. “Di sebelah ruangan ini,”

Jincca? Mian, aku kan baru di sini, jadi masih bingung,” Hyun Ri membela diri. “Ngomong-ngomong, apa judul lagu yang baru saja kau mainkan?”

Dream,” jawab Jinki pendek. “Kau suka?”

Hyun Ri terlihat menimbang-nimbang sejenak. “Dream, apakah lagu itu ciptaan Yiruma, musisi terkenal itu?” kata-kata Hyun Ri terdengar bersemangat. “Ne, aku suka, kau belajar darimana?”

“Dia yang mengajariku,” Jinki menunjuk ke arah pintu. Hyun Ri menoleh. Terlihat seorang namja sedang menyandarkan tubuh kurusnya di pinggiran pintu.

Nomu yeppo,” lirih Hyun Ri tanpa sengaja. Hyun Ri tersentak, cepat-cepat ia membekap mulutnya yang sudah asal bicara.

Namja itu tertawa malu-malu mendengar perkataan Hyun Ri barusan. “Annyeong, Taemin-ah,” Jinki menyapa namja itu ramah.

Annyeong, Onew hyung,” Taemin masuk ke dalam ruangan. “Annyeong, noona,” Taemin menyapa Hyun Ri.

Annyeong,” balas Hyun Ri. “Kim Hyun Ri imnida, kau boleh memangilku Hyun Ri, Taemin-ssi,”

Taemin tersenyum. “Ne, Hyun Ri noona, panggil aku Taemin-ah saja, jangan pakai embel-embel ssi, terlalu formal,”

Hyun Ri tertawa kecil. “Ne, Taemin-ah,” Hyun Ri melirik Jinki. “Onew-ah, boleh kan aku memanggilmu begitu?”

Ne, ara, Yuriska-ya,” jawab Jinki setelah berpikir sejenak.

“Baiklah kalau begitu aku pergi ke klub bahasa dulu, lanjutkanlah latihan kalian, bye,” Hyun Ri melambaikan tangan dan melangkah ke luar ruangan.

Taemin menatap Jinki heran. “Yuriska?”

“Itu nama Indonesianya,” ujar Jinki sambil memulai menekan tuts pianonya.

“Oh,” gumam Taemin lalu berjalan menuju setumpuk buku yang tertata rapi di dalam rak.

***

“Klub Bahasa,” bisik Hyun Ri ketika kakinya telah bertumpu di depan pintu ruang klub bahasa. Ruangan itu terlihat sepi. Ya, tentu saja, klub dimulai setengah jam lagi, wajar kalau belum ada yang datang. Tunggu dulu, ada sesosok makhluk di ruangan itu. Seorang yeoja, yeoja itu terlihat sibuk menggoreskan tinta bolpoinnya pada secarik kertas. Hyun Ri mendekati yeoja itu. Semakin didekati yeoja itu terlihat semakin menarik. “Annyeong haseyo,” Hyun Ri menyapa yeoja itu.

Yeoja itu mengangkat kepalanya. Mata bulatnya yang indah menatap Hyun Ri dengan heran. Alis yeoja itu berkerut samar. Tangannya bergerak ke atas. Ia merapikan rambutnya yang sempat menutupi seperempat bagian wajahnya. Perlahan merekah senyum manis di bibir sensual yeoja itu.  “Nuguseyo?” tanyanya sopan.

Untuk sesaat Hyun Ri terpesona melihat yeoja itu. Nomu yeppo, pikir Hyun Ri. “Kim Hyun Ri imnida,” Hyun Ri memperkenalkan dirinya.

Senyuman di wajah yeoja itu semakin mengembang. “Apakah eonnie murid bari di kelas Onew oppa?”

Hyun Ri mengernyitkan alisnya. “Onew? Kenapa kau tahu?”

“Lee Hyo Ra imnida,” Hyo Ra memperkenalkan dirinya.

Hyun Ri terkejut. “Jincca? Kau dongsaeng-nya Onew?”

Ne, eonnie,” jawab Hyo Ra sembari memicingkan sebelah matanya.

Sunyi sesaat. Hyun Ri memperhatikan wajah Hyo Ra lebih dekat. Yeoja itu memang mirip dengan Jinki. Alisnya, senyumnya, bulu matanya yang lentik, rambut lurusnya yang panjang. Nomu yeppo, sekali lagi kata itu melintas di pikiran Hyun Ri. Kecantikan fisik Hyo Ra hampir sempurna kalau saja tak ada bekas torehan pisau di lengannya. Hyun Ri memperhatikan secarik kertas yang barusan digunakan Hyo Ra untuk mengekspresikan apa yang ada di otaknya. “Aigo!” seru Hyun Ri saat otaknya benar-benar tanggap melihat apa yang baru saja di gambar Hyo Ra.

Waeyo, eonnie?” tanya Hyo Ra heran.

Hyun Ri membekap mulutnya. “Gambarmu hebat,” puji Hyun Ri, “yang kau gambar itu?”

“Onew oppa,” jawab Hyo Ra singkat. Hyo Ra mengangkat gambarnya. Ia membiarkan Hyun Ri melihat gambarnya dengan lebih jelas. Dalam gambar itu terlihat Jinki memakai pakaian serba putih. Ia tengah menyandarkan punggungnya di bawah sebuah pohon besar. Sinar bulan meneranginya dengan sempurnya. Jinki menengadahkan kepalanya ke atas. Hyo Ra memberikan sedikit efek angin pada rambut Jinki. Tak ada ada aura kehidupan yang terpancar. Raut wajah Jinki tanpa ekspresi. Sinar matanya terlihat redup dan menatap kosong ke arah langit yang kelam.

“Kenapa kau menggambar Onew seperti itu?” Tanya Hyun Ri yang masih tak mengerti maksud Hyo Ra.

Hyo Ra berpikir sejenak. Apakah harus menceritakan masalah oppa pada yeoja ini? Bagaimana kalau dia bukan orang baik-baik? “Ehm,” Hyo Ra berdeham. “Apakah eonnie yakin ingin mengetahui masalah ini?”

Ne, ara,” jawab Hyun Ri ringan.

“Apakah aku bisa mempercayai eonnie?” Hyo Ra menguji Hyun Ri.

Hyun Ri memiringkan kepalanya. Rasa penasaran tergambar di guratan wajahnya. “May be,” jawab Hyun Ri sembari tertawa kecil.

Hyo Ra menunduk. “Aku serius, eonnie, jadilah sahabat Onew oppa, maka kau akan tahu maksud dari gambarku ini,”

Hyun Ri tak mengatakan apapun. Perkataan Hyo Ra membuatnya semakin bingung. Hyo Ra bangkit dari tempat duduknya. “Pikirkanlah kata-kataku tadi,” Hyo ra tersenyum. “Eonnie harus menjadi sahabat Onew oppa kalau ingin tahu maksud gambarku ini,” sekali lagi Hyo Ra mengulang kata-katanya. Hyo Ra melangkah keluar ruangan. “Aku keluar sebentar, eonnie,” ucapnya penuh rahasia.

Hyun Ri mematung di posisinya. “Sahabat?” kedua alisnya terangkat. “Ne, akan ku coba,”

***

2 weeks later

Jinki duduk di teras depan rumahnya. Tangannya terlihat sibuk membolak-balikkan kalender. Tanggal sudah memasuki pertengahan bulan November. Jinki mengernyitkan alisnya. Sudah tiga minggu, batin Jinki. Sudah tiga minggu dia berhasil melewati hari-hari tanpa Shin Rae Hwa. Jinki tersenyum. Ini sebuah prestasi yang gemilang. Dulu selama mereka masih pacaran jangankan tiga minggu, satu hari saja Jinki sudah tak tahan ingin bertemu.

Jinki meletakkan kalender itu dilantai. Tangannya bergerak menyibakkan rambutnya. Ia menyandarkan kepalanya di dinding. Bola matanya menatap sesuatu berwarna putih yang bebas menempati tempat di langit. “Ya! Onew-hyung,” seseorang melemparkan sesuatu ke arah Jinki.

Jinki tersentak. Ia mengambil syal yang jatuh dipangkuannya. “Wae, Minho-ya?”

Minho mendecakkan lidah.”Berhentilah menatap awan. Cuaca  dingin hari ini, hyung bisa masuk angin,”

Angin? Jinki memiringkan kepalanya. Ya, Minho benar, udara memang dingin. “Kenapa kau tak menemani Hyo Ra?”

Minho bergabung dan duduk di sebelah Jinki. “Dia sedang memasak bersama Kibum di dapur,”

“Kau tak ingin bergabung dengan mereka?” tanya Jinki heran.

Minho menggeleng. “Anni, aku sedang malas,” jawabnya sambil mengeluarkan PSPnya dan mulai memainkan game winning eleven.

Jinki tertawa. “Di mana yang lain?”

“Taemin dan Eun Hwa sedang mengerjakan PR, Jonghyun hyung dan Soon Hee sedang bermain gitar di kamarmu, lalu Yong Sang, dia sedang membaca majalah di ruang tamu,” ujar Minho tanpa mengalihkan pandangan dari PSPnya. “Oh ya, hyung sedang apa di sini?”

Jinki memandang jalanan di seberang kebun rumahnya. “Menunggu seseorang,”

Mendadak Minho menghentikan permainannya. “Hyun Ri noona?”

Ne, itu dia,” kata Jinki sambil menunjuk seorang Yeoja yang berlari ke arah mereka.

Minho berdiri. “Sebaiknya aku masuk, bersenang-senanglah, hyung,” Minho tersenyum sambil memicingkan sebelah matanya dan berlalu meninggalkan Jinki yang terbengong-bengong.

Annyeong, Onew-ah,” sapa Hyun Ri yang baru saja sampai. “Ngomong-ngomong kenapa Minho pergi saat aku tiba di sini?”

Jinki mengangkat bahunya. “Mungkin dia gelisah meninggalkan Hyo Ra berdua saja dengan Kibum di dapur,” jawab Jinki asal.

“Hahaha,” Hyun Ri tertawa. “Gomawo sudah mengundangku ke acara makan-makan kalian,”

Ne, ini hanya acara makan-makan biasa yang kami adakan setiap pertengahan bulan. Syukurlah kau datang, kalau tidak aku bisa sendirian dalam acara kali ini,” jelas Jinki sambil tersenyum nakal.

Alis Hyun Ri terangkat heran. “Wae?”

Jinki mendecakkan lidah. “Kau bayangkan saja Jonghyun, Kibum, Minho dan Taemin, mereka menikmati acara makan-makan bersama yeoja chingu mereka, sedangkan aku?” Jinki memonyongkan bibir bawahnya menunjukkan ekspresi irinya.

Hyun Ri terkejut. “Jangan bilang kau mengundangku sebagai alasan agar kau juga punya pasangan,” pandangan Hyun Ri menyelidik curiga.

“Begitulah,” jawab Jinki datar. “Tak masalah, kau sahabatku, dan kami semua sudah menganggapmu bagian dari kami. Jangan sungkan, nikmati saja. Anggap saja aku namja chingumu,” Jinki mengeluarkan rayuannya sambil mencubit gemas pipi Hyun Ri.

Hyun Ri tersenyum malu-malu. Semburat merah muncul di kedua pipinya. Ia memukul pundak Jinki. “Awas kalau kau berani macam-macam padaku!”

Jinki tersenyum. Dia mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya. “Ne, tak akan,” Jinki bangkit dari tempat duduknya. Ia mendekati Hyun Ri. Jinki melepaskan syal yang diberikan Minho. Ia melilitkan syal itu dengan rapi di leher Hyun Ri. “Pakai ini, nanti kau kedinginan,” Tangan Jinki meraih tangan Hyun Ri. Ia menggenggam erat jemari yeoja itu. “Ikut denganku,”

Ya! Onew-ah, kita mau ke mana? Dan haruskah kau menggenggam tanganku seperti ini? Aku tak akan kabur,” jelas Hyun Ri yang ternyata tak peka dengan kelakukan Jinki.

Jinki tersenyum misterius. “Baik, kalau begitu seharian ini kau menjadi yeoja chingu-ku ya? Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke taman. Have fun, chagiya,” Jinki memicingkan matanya.

Hyun Ri terperangah. Tanpa dia sadari mulutnya menganga sangat lebar. “Mwo?!” teriaknya tak percaya. Ia mendesah. “Ne, tapi hanya untuk hari ini saja,” Hyun Ri pasrah dan membiarkan Jinki menarik tangannya.

 

***

Jinki dan Hyun Ri menginjakkan kaki mereka di sebuah taman. Taman itu hanya taman biasa yang sederhana. Di taman itu hanya ada beberapa pohon besar dan bangku panjang. Pengunjung taman itu cukup ramai. Bahkan ada banyak pedagang kaki lima di taman itu. Jinki mengajak Hyun Ri ke sebuah bangku panjang yang kosong. “Tunggulah di sini, aku akan segera kembali,”

Hyun Ri mengangguk. Ia memandang punggung Jinki yang berlari menjauhinya. “Namja aneh,” gumamnya. Hyun Ri mengalihkan pandangannya. Senja yang tenang, batinnya. Bola mata Hyun Ri berkeliling memandang setiap sudut taman. Banyak anak-anak berkejar-kejaran di taman itu. Ada juga beberapa pasangan remaja yang menikmati kencan mereka.

Chagiya?!” seseorang  berteriak memanggil Hyun Ri.

Hyun Ri terkejut. Dia menoleh, matanya terbelalak. Yang memanggilnya ternyata adalah Jinki. Namja itu berlari dengan penuh semangat ke arah Hyun Ri. Tangannya menggenggam 2 cup es krim.

“Kenapa kau harus berteriak-teriak? Pakai memanggil aku chagiya segala,” tanya Hyun Ri dengan nada kesal sambil berkacak pinggang.

“Hahahaha,” Jinki tertawa. “Ingat, satu hari ini kau adalah yeoja chingu-ku,” Jinki menyerahkan 1 cup es krim yang di bawanya pada Hyun Ri. “Ini,”

Hyun Ri tersenyum pasrah. Tangannya meraih 1 cup yang diberikan Jinki. “Gomawo,”

Jinki mengalihkan pandangannya. Manis sekali yeoja ini kalau tersenyum, pikirnya. “Ehm, Yuriska-ya, mau pergi ke sana tidak?” Jinki menunjuk gundukan rumput yang ada di sebelah Timur.

Hyun Ri terlihat menimbang-nimbang. 1 menit, 5 menit, 10 menit, bibir yeoja itu belum juga mengeluarkan keputusan. Jinki mulai bosan menunggu. Sesekali matanya melirik jam memastikan sudah berapa lama Ia menunggu keputusan Hyun Ri. “Ya! Yuriska-ya, ppali!”

Hyun Ri masih belum menanggapi seruan Jinki. Jinki melirik es krimnya yang mulai meleleh. Bibirnya menyunggingkan senyum. Senyuman itu penuh kelicikan. Ciprat.. Jinki melempar sedikit es krimnya ke rambut Hyun Ri.

Hyun Ri terperanjat. “Aish,” Kedua matanya terbelalak menandang rambut indahnya yang berwarna hitam kini berubah menjadi merah akibat noda krim strawberry. Ia mendengus kesal. “Ya! Lee Jinki, awas kau!”

“Hahaha,” Jinki berlari menuju gundukan rumput yang tadi ditunjuknya. “Yuriska Paramita, ayo kejar aku, pabo,”

Jinki berhenti tepat di depan gundukan rumput yang ditunjuknya tadi. Mendadak pandangan matanya berubah. Tempat ini adalah tempat kenangannya bersama Rae Hwa. Ada rasa menyesal di hati Jinki. Kenapa dia harus kemari? Kenapa dia harus mengingat hal yang seharusnya dia lupakan? Dan kenapa pikirannya harus menyeretnya kembali ke tempat menyesakkan ini?

Bukk.. seseorang memukul pundak Jinki. “Ya! Onew-ah,”

Aish,” Jinki meringis. Ia terkejut saat mendapati Hyun Ri menatapnya sambil berkacak pinggang. “Mian, Yuriska-ya, jangan memandangku seperti itu, mengerikan tahu,”

“Kau ini? Menyebalkan sekali,” sungut Hyun Ri kesal sambil menunjuk-nunjuk Jinki dengan telunjuknya. “Lihat rambutku sekarang,” Hyun Ri memamerkan rambut panjangnya yang ternodai krim. Yeoja itu duduk di atas rumput. Ia meluruskan kakinya yang lelah setelah berlari. Tangannya meraih selembar tisu di sakunya lalu mulai membersihkan krim dari rambutnya.

Jinki tertawa kecil. Lucu juga Hyun Ri kalau marah, seperti kepiting rebus, pikirnya. Jinki duduk disebelah Hyun Ri. Dengan perlahan Ia merebahkan badannya hingga kepalanya bertumpu di kaki Hyun Ri.

Hyun Ri memonyongkan bibirnya. “Ya! Onew-ah,” yeoja itu terkejut.

Jinki menatap Hyun Ri. “Biarkanlah begini sebentar, chagiya,” lirihnya dengan nada datar. “Aku lelah, aku ingin istirahat sebentar,” ucapnya lalu memejamkan mata.

Hyun Ri mendengus. Jarang sekali dia melihat Jinki semanja ini padanya. Hyun Ri tersenyum. Tangannya bergerak dan mulai mengusap lembut rambut Jinki. Jinki membuka matanya. Tangannya meraih jemari Hyun Ri dan menggenggamnya erat. “Yuriska-ya,” bisiknya. “Tetaplah di sampingku. Jangan pernah tinggalkan aku seperti yang telah dilakukannya,” Jinki mengecup lembut jemari Hyun Ri.

Deg, jantung Hyun Ri seolah berhenti. Untuk beberapa saat ia baru sadar kalau nafasnya tertahan sejak Jinki mengucapkan kata-katanya barusan. Hyun Ri menatap Jinki. “Ne,” ucapnya pelan. “Dia? Siapa yang kau maksud?”

Mendadak tubuh Jinki menegang. Secepat kilat ia bangun dan duduk di samping Hyun Ri. “Bukan siapa-siapa, lupakan saja,” Jinki mengelak. Ia bangkit dari tempat duduknya berusaha menghindar dari desakan Hyun Ri.

Hyun Ri memiringkan kepalanya. Apa masalah yang sedang di pendam namja ini? Batinnya. Hyun Ri bangkit dari tempat duduknya. Dengan agak ragu jemarinya menepuk pundak Jinki. “Tak apa kalau kau tak mau menjelaskannya,”

Jinki meraih jemari Hyun Ri yang menepuk pundaknya. “Mianhae,”

Tap.. Tap.. Tap.. seseorang berhenti di hadapan Jinki dan Hyun Ri. “Annyeong, Onew-ah, Hyun Ri-ssi,”

Jinki dan Hyun Ri menoleh. Jinki terperanjat. Pandangannya berubah nanar melihat orang yang kini ada di hadapannya. Jinki mengepalkan tangannya. mendadak dadanya terasa nyeri dan membuatnya sulit bernafas. “Shin Rae Hwa-ya, mau apa kau?” bisiknya sambil menahan emosi.

 

TBC

 

P. S: Jejeje.. *author berpose gaje* ini dia part 2 FF aneh nan gaje ini. Mian kalau jelek atau lebay *bungkuk*, Gomawo udah baca, jangan lupa comment yakh.. Thank you, chingu.

 

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

65 thoughts on “[FF PARTY] Burn Inside the Fires of A Thousand Suns – Part 2”

  1. ONew so sweEt dEch.. Aku mau jadi hyun rinya

    Wah,, hyo ra gambAr onew?
    Apa maksudnya?
    Penasaran aq,,

    daebak banget ffmu, author..
    Aku suka jalan ceritanya. . .
    Ditunggu part selanjutnya ya. . . ^.*

  2. Annyeong, author. . .
    Aku datang lagi, , hehe

    wah,, permainan kata2mu semakin keren aja . . Tambah penasaran aku itu rae hwa mau ngoMong apa ke onew??

    Ditunggu part selanjutnya ya. . .

  3. Authorr…
    *triak2 gaje. . .
    Ini ff makin keren aja,
    wah onew jail ya nimpuk hyun ri pake es krim..
    Aku ug kagum ma hyora yg setia ngebelain onew. . .
    Keren dEch pokoknya. . .
    DitUnggu part selanjutnya..

  4. Ngebayangin onew oppa sama hyun ri di padang rumput..
    So sweet aBiz…
    Tp kok rae hwa ganggu sich..
    Dasar yeoja aneh..
    *plakk, digampar rae hwa

    makin menarik aja niy ceritanya. .
    Aku tunggu part selanjutnya, author. ,, ^.<

  5. Baru baca part 1 πª,,
    Tuh si raehwa mau apa c??
    uda jgn gnggu onew lgi,,
    Ff πª part 1 keren part ² makin keren n seru,,
    Part 3 πª ϑ’tunggu jgn lama² 㪪ǟ

  6. siapa bilang ini jelek, author??
    ini mah daebak namanya…

    aku jadi makin penasaran sama Rae hawa n Onew…
    apakah yang akan terjadi???

    aku tunggu part selanjutnya…
    hwaiting!!

  7. ONNIEEEEEEEEEE

    AKU BELOM BACA, DOONG
    AKU NGEHUTANG BANYAK FF T.T

    nanti aku baca satusatu dulu, yaaaaaaa
    ff onnie pasti aku bacaaaa !!

    tunggu aja, onn
    wehehehehee

    eh, onn
    kenalan dulu
    aku Lia, 17 y.o ^^

  8. Rae hwa… Pensran bgt ma ni yeoja… Knpa dy nangis wktu d perpus?? baik kh dy? Atau bner2 jhat?? O,oa
    Jinki-ya cerialah,.. Ada hyunri skrang… 🙂
    Lanjut ya… Cerita’y keren…!! ^^d

Leave a Reply to Elhikalockets Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s