[FF PARTY] Burn Inside the Fires of A Thousand Suns – Part 3

Tittle                 : Burn Inside the Fires of A Thousand Suns (Part 3 of 4)

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast        : Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Kim Hyun Ri (Yuriska Paramita),

Lee Hyo Ra (Cahya Chandranita)

Support Cast    : Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin, Shin Rae Hwa,

Genre               : Action, Angst, Family, Friendship, Life, Mystery, Romance, Sad

Length              : Sequel

Rating               : G/PG-13

Ket.                 : Mendaftar sebagai author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Hening. Tak ada satupun yang bicara baik Jinki, Hyun Ri ataupun Rae Hwa.  Semuanya diam, tenggelam dalam perasaan mereka masing-masing. Jinki mempererat genggaman tangannya pada Hyun Ri. Pandangan matanya beradu dengan Rae Hwa. Jinki mengernyitkan alisnya. Rae Hwa, yeoja itu terlihat aneh. Pandangan matanya tak angkuh seperti saat dia memutuskan hubungan mereka. Entah kenapa Jinki merasakan aura kesedihan dari tatapan mata yeoja itu.

Tatapan mata Rae Hwa meluluhkan sedikit kebencian Jinki. “Ehm, Onew-ah, bisa kita bicara sebentar?” tanya Rae Hwa pelan.

Jinki membuka bibirnya. “Anni, tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku tak ingin mendengar apapun darimu. Pergilah! Jangan usik kehidupanku lagi! karena aku bukan milikmu lagi, tapi miliknya,” Jinki merengkuh tubuh Hyun Ri ke dalam pelukannya.

Rae Hwa menunduk. “Mianhae, Onew-ah, jeongmal,”

Jinki mendengus. “Menghilanglah dari hadapanku, selamanya!” lirih Jinki kemudian membimbing Hyun Ri menjauh dari Rae Hwa.

Rae Hwa menatap kepergian Jinki dan Hyun Ri. Mata yeoja itu basah. Tangannya menggenggam selembar kertas. “Aku tahu, Onew, kau pasti tak mau mendengarkanku. Karena itu aku akan menyampaikannya dengan cara ini saja, sebelum aku benar-benar pergi dari kehidupanmu,” Rae Hwa melirik kertas di tangan kanannya yang teremas dengan kuat.

 

***

Jinki membuka pintu rumahnya. Ia menghembuskan nafas ringan. Perasaannya sudah lebih baik setelah pergi dari hadapan Shin Rae Hwa. Jinki menatap ke arah meja makan. “Aigo!” serunya. “Banyak sekali makanan yang dimasak Hyo Ra dan Kibum,”

Hyun Ri ikut terpesona. Ia lupa dengan perasaannya yang tak karuan setelah Jinki menyebutkan dirinya adalah milik Hyun Ri. “Hebat sekali dongsaeng-mu, Onew-ah,”

Hyo Ra dan Kibum kembali dari dari dapur. “Oppa, eonnie, kalian sudah kembali rupanya,” Hyo Ra tersenyum manis pada Jinki dan Hyun Ri.

Ya! Jonghyun hyung, Minho-ya, Taemin-ah, Soon Hee-ya, Yong Sang-ah, Eun Hwa-ya, ayo kita makan, sekaligus kita menyambut kedatangan pasangan baru kita Onew hyung dan Hyun Ri noona,” teriak Kibum bersemangat.

Serentak yang dipanggil langsung datang ke meja makan dan duduk di samping pasangan mereka. Delapan pasang mata menatap penasaran pada yang disebut pasangan baru. Jinki dan Hyun Ri menunduk. Wajah mereka merah padam.

“Ehm,” Jonghyun memecah keheningan. “Kalian jangan menjadi patung semua,” ujarnya. “Ayo kita nikmati makanan yang sudah dimasak oleh dua orang sahabat kita tercinta, Kibum dan Hyo Ra!” teriak Jonghyun bersemangat.

Kajja,” jawab semuanya serempak.

 

***

 

Minho memakai jaketnya. Matanya berkeliling menatap ruang makan Jinki. Tak ada makhluk lain di sana selain dirinya. Hyo Ra menemani Jinki yang mendadak flu di kamar. Sementara teman-temannya yang lain telah raib, pulang ke rumah mereka masing-masing.

Minho menutup pintu setelah berpamitan pada Jinki dan Hyo Ra. Baru beberapa langkah kakinya menjauh dari pintu mendadak ia berhenti. Seorang yeoja menghadangnya. Minho menatap yeoja itu tanpa ekspresi. “Ada perlu apa, Shin Rae Hwa noona?” tanyanya dengan nada dingin.

Rae Hwa tersenyum menanggapi sapaan dingin Minho. “Annyeong, Minho-ya,” yeoja itu membungkuk. “Boleh aku minta tolong padamu?”

Minho mengernyitkan alisnya. Muncul rasa curiga dalam benaknya melihat sikap Rae Hwa yang aneh. “Mwo?” tanyanya dengan nada datar.

Rae Hwa menggerogoh sakunya. Ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah teremas. “Ini,” Rae Hwa menyerahkan kertas itu pada Minho. “Tolong berikan surat ini pada Onew, itu salam terakhirku untuknya,” ujar Rae Hwa lalu berlari meninggalkan Minho.

Noona?!” Minho berteriak, namun Rae Hwa telah menghilang dari hadapannya. “Aish,” Minho mendengus. Kedua bola matanya terpusat pada surat yang baru saja diberikan Rae Hwa. Untuk sesaat keinginan untuk membuka surat itu muncul di hatinya. Namun ia segera mengurungkan niatnya. “Surat ini bukan untukku, aku tak berhak membacanya,” gumam Minho. “Sebaiknya segera kuberikan pada Onew hyung,”

Minho masuk kembali kedalam rumah Jinki. Dengan perlahan ia menaiki anak tangga menuju ke kamar Jinki. Tok, tok, tok, Minho mengetuk pintu. “Onew hyung,” ucapnya.

Pintu terbuka. Terlihat sosok mungil Hyo Ra menyambut kedatangan Minho dengan alis berkerut heran. “Kenapa kembali lagi? ada barang yang ketinggalan?”

“Ehm,” Minho bingung ingin mengatakan apa. Tangannya segera menyodorkan surat yang diberikan Rae Hwa pada Hyo Ra. “Tolong berikan ini pada Onew hyung,”

Hyo Ra menerima surat itu. Kerutan di alisnya semakin terlihat. “Dari siapa?”
Minho menghela nafas. “Shin Rae Hwa noona,”

Hyo Ra mendatarkan ekspresi wajahnya. Ia masuk kekamar Jinki tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Minho. Hyo Ra berhenti di samping Jinki yang terlihat nyaman di dalam selimut tebalnya. “Oppa, ini ada surat untukmu,” Hyo Ra menyodorkan surat itu.

Jinki menatap Hyo Ra heran. “Dari siapa?”

“Shin Rae Hwa eonnie,” ucap Hyo Ra pelan.

Jinki meraih surat itu. Pikirannya menegang setelah mendengar nama yang disebutkan Hyo Ra. Jinki bangkit dari tempat tidurnya. Dia melepaskan selimutnya lalu duduk di tepi tempat tidurnya. “Keluarlah, Hyo Ra-ya, aku ingin membaca surat ini sendiri,”

Ne, oppa,” Hyo Ra melangkahkan kakinya keluar. Ia menutup pintu perlahan lalu bergabung bersama namja chingu-nya yang masih setia menunggu di depan pintu.

 

***

 

Jinki menghela nafas. Untuk sesaat jemarinya bergetar. Ia menelan ludah. Apakah aku siap menerima apa yang tertulis dalam surat ini? Batin Jinki. Ia mengusap keringat yang menetes di wajahnya. Segelintir kekhawatirannya mulai muncul dan menerka-nerka apa yang akan dia temukan dalam surat yang kini ada dalam genggamannya. Jinki menghembuskan nafas berat. Tangannya bergerak perlahan membuka surat dari Rae Hwa. Ia memejamkan mata sejenak untuk menyiapkan mentalnya lalu mulai membaca tulisan Rae Hwa yang tertata rapi di surat itu.

Dear Lee Jinki

My lovely Onew

Aku tak tahu harus memulai darimana, semuanya terlalu cepat terjadi. Terlalu banyak rangkaian kata yang ingin aku ucapkan padamu, namun tak mungkin kutulis semuanya dalam lembaran ini, kau tahu, bukan? Kali ini hanya beberapa hal saja yang akan kusampaikan padamu. Hal yang mewakili seluruh perasaanku.

Apa kau masih ingat ketika kita masih bersama dulu? Apa kau ingat dulu kita sering mengerjai Minho dan Hyo Ra? Ingatkah kau saat kita melewati hari-hari di taman sederhana di dekat rumahmu? Dan ingatkah kau, kita sering memainkan lagu Moon light, ciptaan Yiruma?

Oh, tidak, semua ini terlalu cepat berlalu. Mianhae, Onew-ah, aku tahu kau begitu membenciku sekarang, kau membenciku karena aku telah mengkhianati kepercayaanmu, bukan? Tapi seandainya kau mau mendengar penjelasan dari mulutku mungkin perasaanmu akan sedikit berubah, setidaknya bibirmu mau memberikan sedikit maaf untukku.

Aku terlalu pengecut untuk melakukan ini, aku terlalu takut untuk mengakui semuanya padamu. Namun disaat bibirku mulai berani mengungkapkan semuanya, kenapa kau malah menghindariku? Minho, Jonghyun, bahkan Hyo Ra pun membenciku. Dan teman-temanmu yang lain, mereka juga mengunci diri dariku. Wae, Onew-ah? Apakah aku sebegitu hinanya di mata kalian hingga terlihat seperti sampah yang tak pantas dipedulikan?

Kumohon, jangan memperlakukan aku seperti itu! Aku kesepian tanpa kalian semua. Baik, dengarlah, Onew-ah, dengarlah penjelasanku sekarang, penjelasan kenapa aku tega mengkhianati namja polos sepertimu.

Kau masih ingat dengan namja chingu-ku, bukan? Sebenarnya dia adalah tunanganku. Orang tua kami menjodohkan kami 2 bulan yang lalu.  Sebagai anak yang baik aku menerima perjodohan itu. Kau pasti menganggapku pabo, bukan? Pabo karena aku tak bisa memperjuangkan cintaku dan malah tunduk pada orang tua yang sudah berlaku seenaknya, iya kan?

Aku terima kau menganggapku seperti itu, tapi satu hal yang perlu kau ketahui, Onew-ah, aku hamil, AKU HAMIL! seminggu setelah perjodohan dilakukan, namja chingu-ku, dia memaksaku melakukan hubungan dengannya dengan ancaman kalau aku menolak, dia akan mengadukanku pada orang tuaku.

Lemah, aku begitu lemah. Bahkan hanya dengan ancaman seperti itupun aku tak mampu berkutik. Mianhae, Onew-ah, mianhae jeongmal, aku tak pantas untukmu, sama sekali tak pantas. Karena itu, sekarang aku akan pergi dari kehidupanmu, selamanya.

Aku akan pergi ke Amerika dan menetap di sana. Pesawatku akan berangkat dari Bandara Incheon pukul 21.00 malam ini. Annyeonghi, Onew-ah. Berbahagialah tanpa aku. Kau akan jauh lebih baik tanpa kehadiranku. Karena aku tahu kau telah menemukan seseorang yang tepat untuk mendapingi hidupku.

Gomawo, untuk segala yang pernah kau berikan padaku. Annyeonghi Onew-ah, annyeonghi gyeseyo. Saranghae

Sincelery yours

Shin Rae Hwa

Jinki terperangah, apa maksud semua ini? Jinki meremas rambutnya. Seluruh badannya bergetar. Rahang bawahnya mengeras. Ia meringis. Matanya mulai mengeluarkan bulir-bulir bening. Raut wajahnya menegang. Pembuluh darah pelipisnya terasa memanas dan merubah warna wajahnya menjadi merah padam. “Arrgghh!! Pabo kau, Shin Rae Hwa!” Jinki berteriak. TRANG.. ia melempar gelas yang ada di mejanya hingga hancur berkeping-keping. TRANG.. kali ini cermin yang ada di sudut kamarnya yang menjadi sasaran. Ia menghancurkannya sampai tak berbentuk lagi.

Aish,” Minho dan Hyo Ra terperanjat. Mereka memberanikan diri membuka pintu kamar Jinki. Minho dan Hyo Ra membeku melihat namja yang ada di dalam kamar itu. Namja itu terlihat murka dengan wajah merah padam dan dipenuhi keringat. Kedua tangan namja itu berwarna merah dan meneteskan cairan marah kental.

“Apa yang kau lakukan, Onew oppa?!” Hyo Ra berteriak dengan nada setengah shock.

“Keluar! Jangan dekati aku!” Jinki membentak Hyo Ra.

Hyo Ra terperanjat. “Hajiman, oppa?”

“Keluar!” Jinki membanting pintu tanpa mempedulikan lagi perkataan Hyo Ra.

Mendadak tubuh Hyo Ra menjadi lemas. Aigo, apa yang telah terjadi dengan oppa-nya itu? Minho merengkuh tubuh Hyo Ra dan memeluknya erat. Ia membimbing Hyo Ra ke kamarnya. “Tenanglah, chagiya,” ucapnya sambil mengusap rambut Hyo Ra.

Hyo Ra sibuk mengontrol detak jantungnya. Bahkan dia hampir tak sadar kalau dirinya telah berada di dalam kamarnya sekarang. “Onew oppa, kenapa dia?” tanyanya dengan tatapan kosong.

Minho menatap Hyo Ra lembut. “Tenanglah. Dia hanya sedang emosi,”

Hyo Ra menggigit jarinya. “Bagaimana kalau dia bertindak bodoh? Bagaimana kalau dia menggores nadinya dengan pecahan kaca yang berserakan di kamarnya? Dan bagaimana kalau dia tiba-tiba melompat ke jendela?! Andwae!” Hyo Ra berubah brutal dan menghentakkan kakinya dengan kasar ke arah pintu.

Minho menangkap lengan Hyo Ra. Sekali lagi dia menarik yeoja itu ke dalam pelukannya.”Tenanglah, chagiya, jebal! Onew hyung tak mungkin melakukan hal tak berguna seperti itu. Ingatlah dia orang yang berpendidikan,” Minho berusaha meyakinkan Hyo Ra.

Hyo Ra meringis. “Hajiman,”

Minho melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pundak Hyo Ra. Matanya menatap mata Hyo Ra yang mulai basah. “Ssst!” Minho menekan bibir Hyo Ra dengan ujung jarinya. “Tetaplah di sini. Jangan kau dekati Onew hyung, setidaknya untuk sekarang, emosinya belum stabil. Kalau kau nekat, itu tak akan menutup kemungkinan bagi Onew hyung untuk melukaimu,” tangan Minho bergerak menghapus air mata Hyo Ra.

Hyo Ra masih terisak, namun bibirnya tak lagi melakukan perlawanan terhadap apa yang dikatakan Minho. Otaknya mulai mencerna semua nasehat Minho, Jinki sedang membutuhkan waktu sendiri, itu yang terbaik untuknya. “Tolong beritahu masalah ini pada Kibum dan yang lain. Jangan lupa beritahu Jonghyun oppa, dia orang terpenting yang harus tahu masalah ini,”

Ne,” Minho membaringkan Hyo Ra di tempat tidur. Bibirnya mengecup lembut kening Hyo Ra. “Tidurlah, kau lelah dan butuh istirahat. Tunggulah sampai besok. Mungkin keadaan akan sedikit berubah,”

Ne,” ucap Hyo Ra lalu memejamkan matanya.

Minho tersenyum. Ia mematikan lampu lalu keluar dari kamar Hyo Ra. “Selamat malam, chagiya, aku pulang dulu,”

 

***

 

Jinki membuka pintu kamarnya. Ia melirik jam tangannya. “Masih pukul setengah enam pagi,” gumamnya. Jinki melangkah pergi, ia telah memakai seragam sekolah dengan rapi.

Jinki membuka pintu kamar Hyo Ra. Namja itu duduk di sebelah Hyo Ra yang masih tertidur pulas. “Chandra-ya,” bisiknya getir. “Mianhae, mianhae, jeongmal,” lirihnya dengan suara parau. Jinki mengulurkan tangannya yang penuh sayatan. Ia mengusap lembut rambut Hyo Ra. Tangannya yang tak terbebat perban benar-benar terasa perih, namun hatinya jauh terasa lebih perih jika mengingat bagaimana mulutnya yang telah dengan kasar mengusir Hyo Ra.

Jinki mendekatkan bibirnya ke kening Hyo Ra. Sebuah kecupan kecil mendarat di kening yeoja yang masih berkelana di alam mimpi itu. “Mianhae, Chandra-ya, aku berangkat lebih dulu. Aku masih ingin menenangkan diriku. Mian aku tak sempat menjelaskan semuanya padamu, jadi kutitipkan ini padamu. Kurasa kau bisa menyikapinya dengan lebih bijak dibandingkan aku,” Jinki meletakkan surat Rae Hwa yang ternodai darah di samping Hyo Ra.

Jinki melangkah ke arah pintu. “Annyeonghi, Chandra-ya,” bisiknya lalu menutup pintu dan meninggalkan Hyo Ra.

 

***

 

Hyo Ra membuka matanya. Ia duduk dengan rasa agak malas. Hidungnya tanpa sengaja mencium bau darah. Ia melihat bagian tempat tidur di sebelah kanannya. Yeoja itu terkejut mendapati selembar kertas ternodai darah terlipat rapi di sana. Hyo Ra meraih kertas itu. “Onew-oppa,” lirihnya getir.

Hyo Ra membaca surat itu. Dengan lancar bibirnya mengintonasikan kata-kata yang tertulis di surat itu. Hyo Ra menghela nafas berat. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya yang terasa panas. “Aish,” Hyo Ra meremas surat itu begitu selesai membacanya. Ingin sekali dia melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Jinki semalam.

Hyo Ra berjalan ke kamar Jinki. Hyo Ra membuka pintu kamar Jinki dengan pelan. Keadaan kamar itu sudah lebih baik. Tak ada lagi bekas pecahan kaca atau gelas berserakan di lantai. Tak ada lagi ceceran darah Jinki yang membasahi kamar itu, namun, di kamar itu juga tak ada tanda-tanda kehadiran Jinki. Hanya ada seorang pelayan yang masih terlihat sibuk merapikan tempat tidur Jinki. Hyo Ra mendekati pelayan itu. “Di mana Onew oppa?” tanyanya heran.

Pelayan itu mengangguk hormat. “Tuan muda sudah berangkat sejak tadi, apa nona muda tidak diberi tahu?”

Hyo Ra terperanjat. “Anniyo,” jawab Hyo Ra lemah. “Aish, oppa,” lirihnya dengan nada kesal.

 

***

Kibum mendobrak pintu ruang kelas Jinki. Ia berhenti tepat di bangku paling depan. Nafasnya terengah-engah setelah berlari dari kelasnya. “Onew hyung!” teriaknya.

Tak ada sambutan. Kibum mengangkat kepalanya. Kelas itu hampir bisa dibilang tak berpenghuni sama sekali kecuali sesosok makhluk yang masih setia duduk di pojok kelas sambil membaca Koran. “Wae, Kibum-ah?” tanya namja yang sedang sibuk membaca koran itu.

“Jonghyun hyung,” gumam Kibum sambil berusaha menenangkan dirinya. Ia berjalan mendekati Jonghyun. “Apa hyung sudah tahu berita tentang Onew hyung semalam?”

Jonghyun mengernyitkann alisnya. “Ne, Minho sudah memberitahuku,”

Kibum mengontrol nafasnya yang masih tak karuan. Tangannya mengambil sesuatu yang tersimpan di sakunya. “Kalau hyung sudah tahu, sekarang bacalah ini,” Kibum menyerahkan surat Rae Hwa yang tadi pagi diberikan Hyo Ra padanya.

Jonghyun menerima surat itu. “Kau juga sebaiknya bacalah berita di koran ini, aku rasa segalanya telah menjadi semakin rumit,” Jonghyun menunjuk sebuah berita yang ia ingin Kibum membacanya.

Hening. Jonghyun dan Kibum sibuk dengan urusan mereka. 1 menit, 3 menit, 5 menit, Brakk.. mereka membanting meja bersamaan. “Kibum, kita harus ke ruang musik sekarang,”

Ne,” jawab Kibum mantap.

 

***

 

Jonghyun dan Kibum membuka pintu klub musik dengan pelan. Ruangan itu sudah sepi. Hanya terlihat dua orang namja yang masih setia berlatih di sana. Mereka tidak lain adalah Jinki dan Taemin. “Onew-ah,” bisik Jonghyun.

Jinki berhenti memainkan pianonya. “Wae, Jonghyun-ah?”

Jonghyun mendekati Jinki. “Bacalah ini,” Jonghyun menunjuk berita yang sama yang tadi tunjukkan pada Kibum. “Aku rasa kau perlu mengetahuinya,”

Jinki mengernyitkan alisnya. Dia menerima koran itu. Jonghyun menarik Kibum dan Taemin ke belakang untuk memberikan ketenangan saat Jinki membaca berita yang ia anggap sangat penting.

Jinki meremas koran itu begitu selesai membacanya. Ia mencampakannya ke lantai begitu saja. Tak ada ekspresi  apapun di wajahnya seakan berita yang baru saja dibacanya adalah sesuatu yang sudah biasa mengisi kehidupannya. Jinki menghembuskan nafas berat. Jemarinya yang bengkak dan penuh sayatan bergerak mendekati tuts piano. Suara piano terdengar pelan. Jinki menggerakkan jemarinya dengan lincah. Sedikitpun ia tak peduli dengan rasa sakit yang diakibatkan sayatan ditangannya. Ia tetap memainkan tuts piano merangkai lagu yang dulu sering dimainkannya bersama Rae Hwa, lagu Moonlight ciptaan Yiruma.

Jonghyun, Kibum dan Taemin terdiam. Jinki memang terlihat tenang. Namun aura yang keluar dari tubuhnya mengatakan hal yang sebaliknya. Malam semakin larut. Perlahan-lahan sinar bulan menembus jendela. Sinar itu tepat menerangi Jinki dan piano yang sedang dimainkannya. Jinki terus melanjutkan permainannya. Tanpa ia sadari jari-jarinya perlahan-lahan menjadi kaku. Nafasnya tak bisa lagi dipaksa untuk tenang. Dan yang terburuk, matanya sudah basah oleh air asin yang keluar denagn seenaknya.

Jinki menghentikan permainannya. Ia berdiri dan membanting kursinya. “Shin Rae Hwa, pabo kau, pabo!!” teriakan Jinki bergema memenuhi klub musik. “Aku membecimu, Rae Hwa, hajiman, nado saranghae!!” sekali lagi teriakan Jinki menggema memenuhi klub musik.

“Aaarrgghh!!” Jinki berlari meninggalkan klub musik. Emosinya sudah tak terkontrol lagi.

“Onew hyung,” Taemin berlari mengejar Jinki.

Kibum menyusul Taemin, sementara Jonghyun mengambil koran yang tadi dibuang Jinki lalu berlari menyusul Taemin dan Kibum.

Jinki berhenti tepat di depan sekolah. Kakinya terasa lemas. Ia tak kuat lagi berlari. Kakinya berjalan dengan gontai menyebrangi jalan. “Aish, Rae Hwa, pabo kau,” sungutnya.

Tiiinnn… sebuah sirine mengagetkan Jinki. Ia menoleh ke arah sirine itu. Kedua bola matanya melebar melihat truk yang sudah berada tak lebih dari 3 meter dari tempatnya berdiri sekarang. Dubbrraakk…..

Andwae, Onew hyung!!” teriak Taemin yang baru saja sampai di depan sekolah. Taemin berlari menghampiri Jinki. Kibum dan Jonghyun secepat kilat mengikuti gerakan Taemin. Dalam hitungan detik orang-orang sudah mengerumuni tempat perkara itu.

Taemin tersimpuh. Ia benar-benar shock melihat cairan merah kental yang menganak sungai di hadapannya. Kibum meraih ponselnya. Hanya ada satu jalan tercepat yaitu menelepon ambulans. Sementara Jonghyun sibuk dengan sport jantungnya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi yeojachingu-nya yang sekarang sedang berada di rumah Jinki.

 

***

 

Deg, mendadak perasaan Hyo Ra menjadi aneh. Apa yang baru saja terjadi? Mendadak ia gelisah. Keringat mulai membasahi dahinya. “Hyo Ra-ya!” seseorang berteriak memanggil Hyo Ra sambil berlari.

Hyo Ra menoleh. Firasat buruknya semakin menjadi-jadi. “Wae, Soon Hee-ya?”

Soon Hee mengulurkan ponselnya. “Jonghyun oppa, dia ingin bicara dengamu,”

Hyo Ra menerima ponsel Soon Hee. Ia mengernyitkan alisnya. “Annyeong, Jonghyun oppa,

“Hyo Ra-ya,” terdengar suara Jonghyun di ujung sana diliputi keramaian dan kepanikan. “Onew,” bisiknya.

Hyo Ra menelan ludah. Tangannya bergetar. “Ada apa dengan dengan Onew oppa?”

Jonghyun memelankan nada suaranya lalu berkata, “Oppa-mu kecelakaan,”

Hyo Ra menyerahkan ponsel Soon Hee pada Minho. Ia tak sanggup lagi mendengar penjelasan Jonghyun. Soon Hee merengkuh pundak Hyo Ra berusaha menenangkannya. Minho menarik nafas. “Jonghyun hyung, ini aku, Minho, di mana kau sekarang?”

“Aku, Kibum, Taemin sedang dalam perjalanan ke rumah sakit mengantar Onew,” jawab Jonghyun sambil memperjelas volume suaranya.

Minho mengepalkan tangannya. “Jangan putuskan kontak, kami akan menyusul kalian ke sana sekarang,“ ucapnya sambil bergegas memakai jaketnya. “Soon Hee-ah, panggil Yong Sang dan Eun Hwa, kita tunda tugas kelompok ini, sekarang kita harus menyusul Onew hyung ke rumah sakit,”

Soon Hee mengangguk. “Ne,”

Minho merengkuh tubuh Hyo Ra yang masih belum bisa mengucapkan sesuatu. Dia membimbing yeoja itu ke mobilnya disusul Soon Hee, Yong Sang dan Eun Hwa. Minho menempelkan kembali ponsel Soon Hee di telinganya. “Eottokhe, Jonghyun hyung?”

“Aku dan yang lain sudah sampai di rumah sakit XXX, sekarang kami berada di UGD. Ppali, Minho-ya!” seru Jonghyun dengan panik.

Ne, hyung,” jawab Minho yakin lalu menancap gas dengan kecepatan 100 km/jam.

Hyo Ra mengepalkan tangannya. “Andwae, andwae, andwae, Onew oppa, jangan pergi, jebal!”

 

P. S: Annyeong, reader, gomawo udah baca. *kayak ada yang mau baca aja, PD amat gue,* mian banget kalau part 3-nya jelek. Maklum bikinnya kebut-kebutan. Hehehe.. *digaplok*. Leave a comment yakh..

 

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

Advertisements

67 thoughts on “[FF PARTY] Burn Inside the Fires of A Thousand Suns – Part 3”

  1. ya, eonie..
    pas aku baca diawal aku coba nebak-nebak endingnya, eh pas baca yang belakang-belakang kayaknya tebakkan ku meleset jauh. bener-bener ngga di duga. huh
    Jinki doaku menyertaimu.

    chan eon DAEBAK !
    ngga diduga-duga.. *gelenggeleng..

    1. wuyyy dongsaeng q satu ini dateng lagi… mian, aku baru sempet ol..
      gomawo udah baca, lin,
      wahhhh meleset yakh?????
      ayo tebak terusss *plakkk

      daebak??? masa???
      gomawo… 😀

  2. Rae hwa hamil??
    Ckckckck,, kasian juga ya…

    ONew oppa., kecelakaan??
    Andwae!!

    Jangan mpe oNew knp2..
    *nodong author. . .

    Keren, chingu. .
    Ceritanya bener2 ga ketebAk. . .
    Aku tungGu part terakhirnya. . . . . .

  3. Onew oppa, segitu cinta.a dia sm Rae Hwa, smpe nyakitin diri gitu..
    Terus.. apa lagi ini??! Supir truk yg nbrak Onew hrus tnggung jwab!! Gk mau tau, pokok.a harus bin kudu!! *apadeh*

    Next part trakhir?
    aku tungguuu!! ^0^/

  4. tuh kan rae hwa pu’y alesan ndiri, firast ku bner *bangga* …..
    Brita d koran itu apa’n sih?? >< *pnsaran* …
    pswat raehwa kcelakaa'n or apa?? O,o
    Onew-ah… Andwae..!! Smoga kau baik2 aja.. *amin*
    Tambh seru crita'y… Lanjut ya… XD

  5. kirain rae hwanya punya Penyakit apaa gitu. .
    eh g taunya hamil. .

    onewnya jgn smpe mati dong author. . ya ya. .
    next part d tunggu lho!

  6. annyeong, aku reader baru…
    riska 21yo

    mian aku baru comen di part 3… maklum jarang ol… hehehe

    wah itu onew kenapa??
    ngga tega aku kalau onew mpe pergi…
    keren, author, aku tunggu part selanjutnya…

  7. Hueeee…. itu onew kecelakaan…..
    jangan ampe dia kenapa2,
    emang isi koran itu apaan sih??

    makin keren aja ceritanya, aku tunggu part selanjutnya ya…

  8. makin keren aja ceritanya..
    gimana nasib onew?
    parahkah kecelakannya?? hikz..

    aku tunggu part selanjutnya ya…

  9. ya ampun,,, rae hwa hamil???
    onew ngebentah hyo ra? nyakitin diri sendiri terus kecelakaan??
    aigooo~

    makin daebak aja ceritanya… ditunggu part selanjutnya….

  10. onew????
    aish… tragis banget….
    huhuhuh T.T

    awalnya aku kira rae hwa jahat, tapi ternyata dia juga punya alasan jahatin onew….
    aku tunggu part terakhirnya ya, author..

  11. sadisss…..
    kenapa onew mesti ketabrakk???

    terus apa isi koran itu??

    gimana nasib onew selanjutnya???
    hikz…

    keren author, ditunggu part terakhirnya…

  12. ugh.. author,,, onew kayak punya 2 kepribadian di sini…
    keren , kere, sumpah keren banget,,,, alurnya bener-bener ngga ketebak…
    aku tunggu part selanjutnya ya…

  13. Chandra onn, ukh… makin bikin penasaran aku sama ceritanya…
    itu… siapa sih yang bawa truk??? tega banget nabrak onew…

    aku tunggu part terakhir ya…..

  14. author…
    makin daebak aja ini FF
    feelnya dapet,,, permainan kata-katanya juga keren n bagus bangettt……

    penasaran aku sama lanjutannya… pasti aku tunggu..

  15. akhirnya part 3nya dipublish juga…

    makin memanas aja niy konfliknya…

    and onew… hikzhikzhikz…..
    ngga tega aku kalau ngebayangin dia pas kecelakaan…

    daebak, author… aku tunggu part terakhirnya ya….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s