[FF PARTY] In Namwon on My Birthday

Title                 : in Namwon on My Birthday

Author             : Widi aka @Flameunrii

Main Cast        : Choi Minho

Suport Cast     : Kang Eun Ri,

Other Cast       : SHINee

Genre              : (maybe) Romance

Type/Length    : OneShoot

Rating                          : PG-13

Summary         : “Aku, bukan tidak datang… Tapi, hanya sangat terlambat”

Ket                  : Sekedar berpartisipasi

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

“Aku pulang,” Minho masuk kedalam dorm dengan tampang kusut. Dia baru saja pulang syuting drama barunya dimana dia harus memerankan seorang pianist. Minho kesal, jika mengingat sutradara tadi yg mengatainya payah. Memang, pada dasarnya minho tidak pandai bermain piano. Tapi dia sudah belajar mati-matian pada hyungnya, onew. Dan seenaknya saja sutradara itu mengatai nya payah didepan semua kru’ begitu pikir minho.

Minho berjalan sambil beberapa kali mengumpat menuju dapur. Dia membuka kulkas mencari sekaleng soda untuk melepas dahaganya. Tapi sepertinya persediaan minuman mereka habis. Tidak ada soda,bir atau susu pisang milik taemin sekali pun di kulkas. Minho berdecak sebal dan menutup pintu kulkas dengan agak kasar.

“Haish,” Gerutunya. Ia melirik ke arah tumpukan gelas, lalu diambilnya salah satu dari mereka dan membuka kulkas lagi mencari air dingin. Tapi lagi-lagi nihil.

“Arr, Key hyung!! Onew Hyung!! Jonghyun hyung!! Taemin Hyung!!” Teriak minho dari arah dapur mengabsen member shinee satu persatu-satu. Sedetik kemudian dia tersadar. ‘Eh, sejak kapan taemin jadi hyung ku O.o’ gumam minho.

“Hyuuuuuung~” Teriak minho lagi. Tapi masih tidak ada jawaban. Minho semakin kesal. Dia meletakkan gelas itu dimeja dan berjalan kekamar teman-temannya.

Braak! Minho membuka pintu kamar dengan kasar. Siing….
Suasana benar-benar hening. Tidak ada keramaian seperti biasa.

‘Kemana perginya mereka sih,’ Pikir minho. Ia semakin kesal. Dicarinya mereka disetiap sudut ruangan. Tapi tetap saja, nihil. Sepertinya tidak ada siapa-siapa di dorm selain dia.

Minho menghela nafas panjang. Ia berpikir untuk menenangkan diri dengan berjalan-jalan keluar. Tapi tanpa penyamaran, itu menyerahkan diri namanya.

Maka minho menyambar jaket tebal, syal, topi kupluk dan tidak lupa kacamata hitam miliknya yang biasa digunakan untuk penyamaran.

Setelah selesai dengan semua penyamarannya. Minho bergegas meninggalkan dorm.

Ia berjalan ditrotoar sambil memperhatikan sekeliling. Takut-takut kalau ada flames atau shawol yang mengenalinya. Namun, ada seorang wanita yang terus memperhatikan gerak-gerik minho. Minho sadar, dia lalu menarik topi kupluknya, membenarkan letak kacamata hitamnya memperbaiki penyamarannya. Minho berjalan cepat menghindari wanita itu. Dilihatnya sebuah bus yang sedang berhenti, tanpa pikir panjang minho naik ke bus itu. Tanpa disadari minho, wanita tadi juga ikut naik kebus.

Minho duduk di sebelah jendela. Ia menghela nafas panjang mengira sudah terbebas. Namun,ternyata wanita yang mengikutinya tadi telah duduk disebelahnya.

Wanita itu memperhatikan wajah orang disebelahnya dengan teliti. Minho sadar dia merasa diperhatikan. Ia pun menoleh kekiri dan kaget bukan main melihat wanita tadi sudah duduk disana.

“Kau, choi minhpp…” Minho segera membekap mulut wanita itu. “Diamlah,” kata minho berbisik, tapi dia masih belum melepaskan bekapannya pada mulut wanita itu. Wanita itu mengangguk, “Kau janji?” Tanya minho sekali lagi. Wanita itu kembali mengangguk. Minho pun perlahan melepaskan tangannya.

“Haah…haah Aku hampir kehabisan nafas.” kata wanita itu terengah-engah. Dia melirik minho, “Apa yang anda lakukan disini?” Tanya nya pada minho. Minho meliriknya sinis dan menjawab dengan ‘sedikit’ sadis  “Bukan urusanmu,”

“Grr, sombong sekali. Mentang-mentang artis.” Gerutunya dengan suara pelan namun masih terdengar oleh minho. “Heh, apa kau bilang ha?”

“…”

“Err, kau sendiri. Dari tadi kau mengikutikukan?” Tanya minho. “Bukan urusanmu,” Jawab wanita itu tanpa melirik minho. Minho semakin kesal, dia membuang muka dan tidak mau bicara lagi. Ia terus diam dan tanpa sadar… dia malah tertidur.

Seseorang mengoyang pundaknya, minho segera menepis tangan orang itu. “Ah, key hyung, jangan bangunkan aku.” minho mengigau.

“Tuan, tuan, ayo bangun. Sudah sampai.” Orang itu kembali mengoyang pundak minho untuk membangunkannya.

“5 menit lagi key hyung, 5 menit lagi saja kok,” Racau minho. Orang itu mengoyang bahunya lagi dengan tidak sabaran. “Tuan! Kita sudah sampai di namwon. Ayo bangun.” Teriak orang itu dengan nyaring tepat ditelinga minho. Minho kaget mendengar kata ‘namwon’ dia langsung terbangun dari tidurnya.

“D-dimana ini?” Tanya minho.  Minho melirik keluar jendela. Dan ternyata hari sudah gelap.
“Anda tertidur, busnya sudah sampai.” kata laki-laki yang ternyata kondektur bus tersebut.

“A-apa? T-tapi, bagaimana…kenapa…Namwon? Seoul? Ini? hais.” Kata minho putus-putus.

Minho pasrah. Dia terpaksa turun dari bus itu. Ia pun berjalan ke terminal dan melihat jadwal bus untuk balik ke Seoul. Bus terakhir jam 07.35 Minho melirik arloji ditangan kirinya. 08.15 “Sial,” umpat minho kesal.

‘Sepertinya aku harus menginap semalam dikota ini. Haish, kenapa hari ini aku sial sekali.’ batin minho

Minho duduk disalah satu bangku dan berusaha berpikir apa yang baiknya ia lakukan sekarang. “kruyuuuk..” perutnya berbunyi. Dia baru ingat kalau dia belum makan sedikitpun sejak pulang syuting tadi. Minho merasa dia tidak bisa berpikir selama perutnya lapar. Dia merogoh kantung celananya mencari-cari dompet. Tidak ada! Dirogohnya kantung yang lain. Masih tidak ada! Minho mulai cemas. Dia berpikir untuk menelepon hyungnya. Tapi ponselnya juga tidak ada!! Aigoo~

Minho berusaha mengingat-ngingat dimana dia meletakkan semua itu. Akhirnya dia ingat telah meninggalkan ponselnya dan dompetnya di sofa ruang tv ketika sedang mempersiapkan penyamaran.

“Argh~” Gerutu minho. Kali ini dia merogoh kantung dijaketnya. Dan mengambil sesuatu dari sana. “Hanya 2000 won? 2000 won?” gumam minho tak percaya dengan apa yang ada ditangannya. “Bagaimana aku bisa tinggal disini hanya dengan 2000 won,” kata minho sambil memegangi kepalanya seperti orang frustasi.

Tiba-tiba minho menegakkan kepalanya seperti baru mendapat sebuah ide. Ia segera berdiri dan dengan semangat berjalan ke mesin telepon umum terdekat. Minho mengambil recehan 100 won dan memasukkan recehan itu. Dipencet nya nomor telepon dorm shinee yang sudah sangat dia hapal. Minho menunggu jawaban dengan sedikit tegang. “tenanglah minho, kau tidak perlu cemas. Mereka pasti sadar kau telah hilang dan sekarang sedang mencari-cari dirimu.” Pikir minho,

Lama minho menunggu, sampai akhirnya tidak ada jawaban sama sekali. Minho mengulang sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Minho tidak putus asa, dia memasukkan recehan ketiga. Dan masih tidak ada jawaban. Minho benar-benar kesal, di letaknya telepon itu lagi dengan kasar. Ia berusaha mengontrol emosinya. “Kemana sih mereka? Masa dari tadi siang belum pulang juga. Sadar tidak sih kalau aku ini sedang hilang.” Umpat minho kesal. Setelah merasa agak tenang. Minho mengulang sekali lagi. Dan masih tidak ada jawaban. Dia masih tidak menyerah. Di masukkannya recehan ke5 , tapi minho tidak memencet nomor telepon dorm shinee lagi. Dia memencet nomor manager hyung. Dan minho baru sadar kalau dia tidak hapal nomornya. “Astaga, jangankan nomor manager hyung atau member shinee yang lain. Nomor ponselku saja aku tidak ingat.”Pikir minho semakin frustasi. Dia menyerah dengan mesin telepon umum itu dan berjalan di pinggir jalanan kota namwon. Minho melirik mesin penjual kopi. Lalu merogoh uang dari kantungnya. “1500 won, ah naas sekali aku ini.” Gumam minho, dia tidak jadi membeli dan melanjutkan perjalanannya.

‘Sekarang aku harus kemana? Aku tidak punya kenalan di namwon. Tidak punya uang, tidak ada ponsel. Perut ku lapar sekali, aku juga haus. Belum lagi cuaca dingin ini sangat menyiksa.’ pikir minho. Dia merapatkan jaketnya agar tidak kedinginan. Minho melewati sebuah swalayan. Dan melirik orang yang sedang makan ramyeon di dalam sana. “Kruyuuuk….”Perutnya kembali berbunyi. Ia memegangi perutnya yang lapar. ‘Sekarang rasanya aku mengerti perasaan gadis penjual korek api,’ batin minho.

Minho melirik kedalam swalayan lagi. Alisnya mengkerut. Dia mempertajam penglihatannya. Minho kaget, matanya yang bulat semakin bulat. Dia mendekati kaca swalayan itu memastikan orang yang sedang dilihatnya.

“Srrupp… haaah…” Suara wanita yang sedang makan ramyeon itu. Dia melirik keluar jendela. Dan mengenali orang yang sedang meliriknya juga dari luar sana.

Minho masuk kedalam swalayan dan menghampiri wanita itu. Tanpa basa-basi dia segera duduk disebelahnya. Wanita itu keheranan, minho membuka kacamata hitamnya dan mereganggkan syal yang menutupi mulutnya. Ditariknya ramyeon yang ada didepannya. Pluk! Dengan sigap wanita itu menarik ramyeonnya lagi.

“Ini milikku, Enak saja main ambil.” Kata wanita itu,

“Kau kan sudah punya satu. Kenapa tidak berikan yang ini untukku.”Pinta minho, Wanita itu menggeleng cepat.

“Ini milikku, kalau mau makan ramyeon. sana beli sendiri.” kata wanita itu lagi.

“Aku tidak punya uang. Sudahlah, aku sudah sangat lapar. Masa kau tega membiarkanku kelaparan sementara kau kekenyangan dengan 2 ramyeon di hadapanmu.” kata minho, tidak sabaran. Wanita itu menautkan alisnya. “Kau? Kelaparan? Seorang Choi minhpp..” minho membekap mulut wanita itu lagi untuk yang kedua kalinya hari ini. “Kau ini memang…”kata minho tertahan, wanita itu mengatupkan tangannya pada minho meminta maaf atas kecerobohan mulutnya.

“Maaf, maaf. Tapi bagaimana bisa…” Tanya wanita itu lagi. Minho tidak menggubris nya malah memakan ramyeon itu dengan lahap. Wanita itu mengerucutkan bibirnya sedikit kesal. Lalu kembali melanjutkan makannya. “Kau kenapa tidak membangunkanku saat dibus tadi?” Tanya minho, “Nanti kalau aku bangunkan kau bilang ‘Bukan urusanmu’ lagi” jawab wanita itu sekenanya.

“sruup..haaah… Sepertinya kau sakit hati sekali soal yang tadi ya?” Tanya minho dengan tampang datar. Wanita itu menatapnya dengan tatapan heran. “Tidak, tidak. Aku justru senang sekali kau berkata begitu.” Ucapnya menyindir. “Mianhae, tadi itu aku sedang kesal.”

Setelah meminta maaf minho kembali melanjutkan makannya. Wanita itu memperhatikan minho dari sudut matanya. Agak sedikit tidak percaya, orang yang selama ini dia kagumi sedang makan bersamanya. Lebih lagi, orang itu baru saja meminta maaf padanya. “Hem..” Minho berdehem, membuat wanita itu sadar dari lamunannya. “Pedas…” gumam minho, lalu diliriknya reaksi wanita disebelahnya. Wanita itu berdiri dari bangku. Minho tersenyum, dia mengira wanita itu akan pergi membelikannya minuman. Wanita itu menghadap minho. Lalu membungkukan badan sembari berkata “Sampai jumpa” Dan dia pergi meninggalkan minho begitu saja. Minho kaget, awalnya dia masih memasang tampang heran memandangi punggung wanita itu yang semakin menjauh dan hilang dari balik pintu tapi akhirnya dia tersadar. ‘Orang yang mengucapkan sampai jumpa tidak mungkin balik lagi dengan membawa minumankan?’

Maka minho pun berlari keluar mengejar wanita tadi. Minho melihat sekeliling, dan menemukan wanita tadi sedang berjalan lurus ke arah kiri. Minho segera mengejarnya dan menahan tangan wanita itu. “Y-ya, ada apa ini?” Tanya wanita itu kaget. “Kau mau kemana?” Tanya minho buru-buru. “Pulang.”

“ke Seoul?” tanya minho lagi. “Anhi,” wanita itu menggeleng. “Rumahku memang dinamwon.” sambungnya. Minho menghela nafas pajang. “Bawa aku bersamamu.” ujar minho. “HA?”

Minho menceritakan semuanya pada gadis itu. Mulai dari ketika dia pulang syuting, pergi keluar dengan meninggalkan dompet dan ponselnya. Sembarangan naik bus untuk menghindari wanita itu dan malah tersasar dinamwon tanpa apapun dengan perut keroncongan. “Aku sudah mencoba menguhubungi teman-teman dan managerku tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat. Aku juga tidak punya kenalan sama sekali disini. Makanya, untuk malam ini saja. Kau harus menampungku dirumahmu.” Ujar minho panjang lebar. “Lalu kenapa harus aku?” Tanya wanita itu tidak terima.

“Heh, aku begini juga gara-gara kau tau.”

“gara-gara aku bagaimana”

“Aku naik bus kan untuk menghindari mu”

“AH ish!!” gerutu wanita itu kesal. Dia memandang minho dengan tatapan sebal sebelum akhirnya dia mengumpat, “Bisa-bisanya artis terkenal seperti mu tersasar dan meminta tumpangan pada wanita seperti aku,”

“Heh, aku mendengarnya tau.” Ujar minho. Minho berjalan mengikuti wanita itu. Mereka melintasi mesin penjual kopi. Minho mendekati wanita itu dan menyenggol lengannya. “Wae?” Tanyanya. Minho menunjuk mesin penjual kopi itu dengan dagunya. Wanita itu berdecak sebal begitu tau maksud minho. Dia merogoh tasnya dan mengambil beberapa uang untuk membeli 2 gelas kopi. Minho tersenyum sambil menikmati kopi hangat.

Mereka terus berjalan hingga tiba disebuah gang kecil. Minho memperhatikan gang yang kecil dan gelap itu dengan perasaan sedikit cemas. Dia melirik wanita yang sedang berjalan disebelahnya, tapi wanita itu hanya memasang tampang datar sambil menyesap kopi hangatnya. Minho semakin khawatir karna mereka tidak sampai-sampai juga. Dia mulai berpikiran macam-macam pada wanita itu. ‘Jangan-jangan dia mau menculik ku untuk mendapatkan uang tebusan yang banyak. Atau jangan-jangan dia ingin melakukan hal yang aneh-aneh padaku’ Pikiran minho mulai menjurus kemacam-macam hal yang menyimpang.

Tapi minho bisa menghela nafas lega begitu melihat cahaya diujung gang. Mereka mulai memasuki kawasan perumahan yang padat dengan cahaya lampu malam yang terang benderang. Wanita itu terus berjalan sampai memasuki sebuah pekarangan rumah dan menaiki anak tangga untuk sampai keatas.

Minho melirik kesekeliling. Bukannya sombong, tapi dia memang baru pertama kali ketempat seperti ini secara nyata. Tidak didrama maksudnya. “Kau mau disitu sampai kapan? Sampai mati beku?” Tanya wanita itu dari pintu. Minho menatapnya sedikit kesal karna kalimat terakhir. Ia pun masuk kerumah wanita itu dengan tampang sebal. “Ya!! Tanggalkan dulu sepatumu. Tidak sopan” Ujar wanita itu dengan nada marah. Minho kaget dan cepat-cepat melepas sepatunya. Wanita itu masuk kedalam setelah berkata begitu. Minho melirik kesekeliling. Dia menautkan alisnya kebingungan. “Dimana kamarnya?” Tanya minho. “Tidak ada kamar.” “Mwo?” Minho kaget. Bagaimana mungkin ada sebuah rumah tanpa kamar. “Lalu aku tidur dimana?” Tanya minho, terdengar sedikit manja. “Disana.” Wanita itu menunjuk, minho mengikuti arah telunjuknya. “Diatas kompor.” sambung wanita itu lagi. “Haish!” geram minho merasa dirinya dipermainkan.

Wanita itu mengambil 2 buah futon dan 2 buah selimut dari dalam lemari. Dia lalu membentangkan futonnya ditengah ruangan. Minho hanya melihat tanpa berniat membantu. Setelah selesai membentangkan futonnya. Wanita itu langsung merebahkan diri. Minho masih berdiri disudut ruangan. Wanita itu melirik minho dengan pandangan heran, dia lalu menunjukkan futon yang telah terbentang disebelahnya dengan dagu. Minho menurut saja. Dia duduk diatas futon itu sambil diam memandang wanita disebelahnya. “WAE?” Tanya wanita itu risih merasa diperhatikan. “Awas ya kalau kau melakukan hal yang aneh-aneh selagi aku tertidur.” Ujar minho. Wanita itu menganga. Apa aku tidak salah dengar?’ pikir wanita itu. “Heh, jangan asal bicara, mana mungkin wanita mulai duluan.” katanya tidak terima. “Aku ini kan bintang, bukan tidak mungkin kau rela melakukan itu.”

Duak!! Tanpa segan-segan wanita itu menggeplak kepala minho. “Yak, kau berani-beraninya!!” “Wae? Tidak suka? Ayo sana keluar.”kata wanita itu sambil mendorong bahu minho. Minho menepisnya “Tidak kok tidak,” kata minho pasrah. Minho lalu berpura-pura tertidur takut kalau wanita itu mengusirnya lagi.

Setelah mengira minho sudah tertidur, wanita itu bangkit dan berjalan kekamar mandi mengganti pakaiannya. Keluar dari kamar mandi. Dia berjalan kearah kompor dan menyalakan kompor untuk membuat teh hangat. Minho yang sedari tadi mengintip dari ‘pura-pura’ tidurnya segera bangun. Dia mengira kalau wanita itu sengaja menunggunya tertidur agar bisa menikmati teh hangat seorang diri. Wanita itu sejak awal sudah curiga, tapi dia membiarkannya. Minho dan wanita itu duduk menikmati teh mereka. Minho melirik ke bawah meja. Dia menautkan alisnya dan mengambil sesuatu dari sana.

Dilihatnya baik-baik, “pfft XD Ternyata kau seorang shawol juga ya.” kata minho. Wanita itu sadar dan segera merampas majalah itu dari tangan minho. Minho mengambil yang lain dari bawah meja. Ada majalah, beberapa poster juga foto-foto dia dan member shinee yang lain. “Anhi-ya!” sergah wanita itu. Dia merampas setiap barang-barang berlambang shinee yang dikeluarkan minho dari bawah meja. “Pantas kau bisa mengenali ku,” Ujar minho. Wanita itu terlihat malu untuk mengakuinya.

“Lalu, siapa biasmu di shinee?” tanya minho. “Ah, sepertinya tanpa ditanya pun aku sudah tau.”Ujar minho pede, sembari membetulkan kerah bajunya. “Benarkah kau tau?” Kata wanita itu. “heem…” Jawab minho sombong. “Aku menyukainya, suaranya bagus. Senyumannya manis sekali..” Minho semakin percaya diri. Rasanya rongga hidungnya agak melebar kini O.O

“Selain itu….dia juga pandai bermain piano. Romantis sekali…” Sambung wanita itu. Minho cengok, dia tau betul kalau itu bukan dirinya. “Hem.. onew shinee. Bukankah dia sangat manis” Ujar wanita itu lagi kali ini sambil memandangi gambar shinee pada cover majalah ditangannya. Minho mendengus kencang, kentara sekali kalau dia kembali kesal dengan wanita ini. Wanita itu mulai bercerita panjang lebar tentang onew. Minho terlalu malas untuk mendengarkannya. Dia kembali keatas futonnya. “Heh, dengarkan aku dulu…” Kata wanita itu. “Aku ngantuk, mau tidur” Kata minho kesal.

Wanita itu mengikuti minho berbaring diatas futon. Tidak perlu waktu lama, wanita itu sudah tertidur dengan lelap menghadap punggung minho. Minho berbalik, dan kini mereka tidur saling berhadap-hadapan. Minho tidak tidur, ia malah memandangi wanita disebelahnya yang sedang tertidur dengan wajah polos. “Cantik juga,” Puji minho dalam hati. “Ah, apa yang aku pikirkan,” Batinnya lagi. Minho berbalik menghadap langit-langit ruangan. Sementara wanita disebelahnya sudah mulai mendengkur tanda tidurnya benar-benar nyenyak. “Sepertinya aku tidak akan bisa tidur.” Gumam minho dalam hati.

Keesokan paginya, wanita itu bangun dengan tidak menjumpai minho disebelahnya. “Mungkin dia sudah pulang,” pikir wanita itu. Dia duduk sebentar, membiasakan pandangannya yang masih buram sehabis bangun tidur. Setelah itu dia melipat futon dan selimut lalu menyimpannya kembali kedalam lemari. Kemudian dia menyambar handuk dan bergegas mandi.

Wanita itu keluar dari rumahnya. Alangkah kagetnya dia ketika berpapasan dengan minho di anak tangga. “Mau kemana?” Tanya minho. “Kau? Kupikir kau sudah pulang,” Ujar wanita itu.

Minho dan wanita itu memutuskan berjalan-jalan sebentar melihat-lihat kota namwon sebelum minho kembali ke Seoul. Mereka berjalan berdua di antara kerumunan pejalan kaki lainnya. Beberapa pejalan kaki menatap asing pada mereka. Wanita itu sadar, dia  memandang risih pada minho. “Lepas saja penyamaran mu itu,” Ujar wanita itu. “Kau ingin melihat aku dikerubuti fans-fans ku.” Kata minho tak percaya. “Ck, sombong sekali. Tidak akan sampai seperti itu kok. Tenang saja. Ini di namwon, bukan Seoul.” Ujar wanita itu lagi. Minho menautkan alisnya, dia tidak mau percaya semudah itu pada wanita disampingnya. “Ck, ayo ikut aku!” Wanita itu lalu menarik tangan minho mengikutinya. Dia membawa minho kesebuah jalan yang disana terdapat banyak pedagang kaki lima. Ada yang menjual, pakaian, kacamata, topi, aksesoris, bahkan cendera mata. Mereka berjalan ke tempat salah seorang penjual topi. Wanita itu mengambil sebuah topi dan memakaikannya di kepala minho. Minho diam saja saat wanita itu melepas topi kupluknya. Ia juga tetap diam meski wanita itu berulang kali mencoba kan berbagai macam topi padanya. “Ah, bagus sekali. Neomu meotjyeo” Komentar wanita itu setelah mencobakan topi yang ke-3. Minho masih diam tidak bersuara. Tapi dia sempat tersipu mendengar komentar wanita tadi. Minho berusaha mempercayai wanita itu. Kini dia berani berjalan-jalan tanpa alat-alat penyamarannya -topi kupluk, syal dan kacamata hitam-

Wanita itu membawanya ke tempat wisata di namwon. Yaitu ke taman nasional jirisan, lalu mereka melanjutkannya ke rumah chunhyang, salah satu pahlawan wanita korea yang legendaris. Setelah puas melihat-lihat, mereka beristirahat disalah satu bangku taman sambil meneguk minuman dingin masing-masing yang tentu saja dibelikan oleh wanita itu. “Aku tidak tau kalau namwon punya tempat wisata sebagus ini.” Ujar minho ditengah istirahat mereka. “Memang kau sama sekali belum pernah kemari?” Tanya wanita itu. Minho menggeleng pelan. “Kasian sekali,” Gumam wanita itu. Minho melirik wanita itu dengan tatapan tajam. “Ng, minho-ssi, kau tau sesuatu tentang tempat ini?” Tanya wanita itu lagi. Dan mereka mulai berbincang panjang lebar.

Setelah puas bercerita, dia lalu melirik arloji ditangan kirinya, “Ng, kau berangkat ke Seoul jam berapa?” Tanya wanita itu lagi. “Memang kenapa?” Minho malah balik bertanya. “Luangkan waktumu lebih banyak lagi. Aku akan mengajakmu berkeliling lagi kebanyak tempat di namwon.” Ujarnya, dan untuk pertama kalinya dia berkata sambil mengulas senyum pada namja bernama choi minho itu. Minho sempat terdiam sebentar melihat ekspresi wanita itu, sampai akhirnya dia berkata tapi sambil membuang muka. “Baiklah,” Jawab minho. ‘Haish, kenapa aku jadi berdebar-debar begini.’ batin minho.

Mereka melanjutkan berkeliling ke tempat-tempat menarik lainya. Wanita itu mengajak minho kesetiap tempat wisata di namwon. Mereka berjalan bersama, makan eskrim bersama, tertawa bersama, sampai saling bertukar cerita bersama-sama. Hari ini benar-benar mereka habiskan untuk bersenang-senang. Tanpa terasa, hari sudah mulai senja. Jam menunjukkan pukul 06:15 sore.
Perut mereka mulai mengirim sinyal-sinyal minta diisi.

Wanita itu mengajak minho ke salah satu kedai minuman yang juga menjual bulgogi. Mereka memesan satu paket bulgogi ukuran couple. Lalu sebotol soju untuk masing-masing.

Minho mengambil beberapa daging dan mulai meletakkannya di atas panggangan. Seorang pria paruh baya menghampiri mereka dengan membawa 2 botol soju pada nampan ditangannya. “Ah, nona, sudah lama kau tak kemari.” Kata pria itu, wanita itu hanya menjawab dengan senyuman. Pria paruh baya itu berbalik melirik minho. “Eh, kau…” Penjual soju itu berusaha mengingat-ngingat, “Ng, sepertinya aku pernah melihatmu.” Ujarnya lagi. Minho kaget, dia melirik wanita didepannya dengan tatapan gawat-sepertinya-paman-ini-mengenal-wajahku. “Apa kita pernah bertemu?” Tanya paman itu. Minho semakin khawatir. “Atau aku pernah melihatmu disuatu tempat?” Paman itu terlihat benar-benar berpikir, ” Eh, bukan! Kau choi minho shinee ya?” Tanya paman penjual soju itu. Minho kaget bukan main, dia mulai berkeringat dingin. “Ah, anhiya! Haha Ajusshi, salah orang. dia ini lee bong guk pacarku yang baru datang dari gangnam. Bisa-bisanya ajusshi mengira diaini choi minho shinee . Haha,” Tukas wanita itu cepat , tapi malah terasa canggung O.o Paman penjual soju itu masih berpikir sebelum kemudian ia mengangguk-ngangguk.

Minho menghela nafas panjang begitu paman itu berjalan meninggalkan tempat mereka berdua.

“Lee Bong Guk?” Tanya minho pada wanita didepannya. “Kenapa namaku jadi aneh begitu.” Sambungnya lagi. Wanita itu mengangkat kepalanya, menatap wajah minho. “Cuma nama itu yang terlintas dikepalaku.”

“Lalu kenapa aku jadi pacar mu?” Tanya minho lagi. Wanita itu berdecak sebal, “Masih untung aku mau berbohong untuk melindungimu!” Katanya mulai sedikit emosi. “Tapi kan kau bisa mencari yang lain, misalnya dia ini hpp..” Omongan minho terhenti saat wanita itu menjejalkan bulgogi dimulutnya.

“Yak! Kau!” Teriak minho sembari mengunyah makanannya. Wanita itu tidak menggubris, dia menenggak soju didalam gelasnya. “Ng, baiklah… Karna aku ini lee bong guk pacarmu, berarti aku harus memanggil mu…chagiya~” Goda minho dan Byuuurrr, Wanita itu kaget, dia menyemburkan soju didalam mulutnya ke muka minho

“He O.O! M-mianhae,” Katanya cemas melihat wajah minho sudah basah oleh soju.

“Heh, kau! Taukah kau? Kau adalah orang pertama yang memuntahkan soju ke wajahku, choi min ho shinee.” Ujar minho geram tapi dengan nada berbisik.

“Mianhae, jeongmal mianhae.” Ujar wanita itu sambil membersihkan wajah minho dengan sapu tangannya. Deg! Jantung wanita itu berdebar kencang. Begitu juga sebaliknya, minho memejamkan matanya begitu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mereka diam terpaku saat mata mereka saling beradu pandang. Saat ini jarak wajah mereka tak kurang dari 2 jengkal. Deg! Jantung keduanya kembali berdetak cepat.

Drtt!!!

“Kyaaa~~” Pekik wanita itu tiba-tiba , sangat kencang melengking didepan wajah minho. Minho ikut-ikutan kaget, hampir saja dia menjatuhkan botol sojunya. “Yak! Kau ini kenapa?” Tanya minho sambil mengelus dada tapi dengan wajah tersipu. “Bergetar, bergetar”

“Ha? Apa yang bergetar? Apa maksudnya berdebar? Jangan-jangan tadi kau juga…”

“Hape ku bergetar” kata wanita itu memotong perkataan minho. Wanita itu mengambil hapenya dari dalam saku. Minho tertunduk malu, hampir saja dia keceplosan bicara dan mengira wanita mau bilang hal yang ia juga rasakan.

Minho menunggu wanita itu diluar kedai. Dia melirik arlojinya dan kembali berdecak sebal. Tidak berapa lama kemudian…

“Yak, kau kenapa meninggalkanku.” Kata wanita itu menghampiri minho. Minho memandang tajam ke arahnya. “Aku meninggalkanmu? Lalu kau pikir untuk apa aku berdiri disini?” ujar minho. “Ah, benar juga. Haha” balasnya sambil cengengesan.

“Heh..” Panggil minho ketika mereka sedang berjalan. “Wae?” “Kelihatannya malam ini aku harus menumpang dengan mu lagi.” Ujar minho. Wanita itu melirik jam nya. 08:30 PM. “Benar juga,” Katanya. “Tidak mempermasalahkannya lagi?” Tanya minho, menyindir. “Tidak,”

“Kenapa?”tanya minho lagi. “kau tidak takut bangkrut jika terus-terusan menampung ku?” minho terus saja bicara. “Tidak,”

“Benarkah?”

“hem..” wanita itu mengangguk. “Tapi nanti kalau aku ke seoul aku akan menagih semuanya dan meminta kau mentraktirku semua yang mahal-mahal. HAHA” Sambung wanita itu diiringi dengan tawa jumawa. “Dasar!

Sebelum pulang, mereka singgah dulu di jembatan ojak, yang begitu indah karna dihiasi oleh lampu malam. “Minho-ssi, aku pergi membeli sesuatu dulu ya. Hanya di swalayan dekat sana kok. Kau tunggu disini saja.” Kata wanita itu. Minho menggeleng, lalu berkata ” Tidak, aku ikut kau saja.”

“Jangan!! Aku cuma sebentar kok. Kau tunggu disini saja oke!” Kata nya lagi tapi kali ini dia langsung berlari tanpa mendengarkan pendapat minho. “Hey!! aih !” gerutu minho.

Minho menunggu seorang diri disana. Agak ngeri-ngeri sedap juga mengingat tempat ini sepi dan hanya ada dia sendiri disana. Cukup lama minho menunggu. ‘Jangan-jangan dia sengaja melakukan ini untuk membuangku. Mungkin saja dia merasa aku ini hanya beban yang terus menguras duitnya selama seharian ini. Hah!! Pasti begitu. Tidak!!! Ini gawat!!’ Pikiran minho mulai meracau. Dia mulai merasakan firasat tidak enak. “Minho-sii!!” Terdengar suara seseorang memanggilnya, tak lain tak bukan wanita yang selama seharian ini bersamanya.

Minho menoleh kebelakang, mengikuti arah panggilan. Dan…

“Saengil chukkae hamnida^^ Saengil chukkae hamnida^^ Saranghaneun Choi Minho~ Saengil chukkae hamnida.”

Wanita itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun sembari menghampiri minho dengan mini birthday cake ditangannya.

Minho diam terpaku menyaksikan pemandangan didepannya. Wanita itu berdiri dihadapan minho masih sambil mengulas senyum. “Ya! Minho-ssi. Saengil chukkae, Ayo tiup lilinnya.” Ujarnya sembari menyodorkan mini cake ditangannya kepada minho. Minho menatapnya sebentar, tersenyum, memejamkan mata, lalu meniup lilin batang di cake tersebut.

“Gumawo.” Kata minho, wanita itu tidak menjawab. Mereka hanya berpadangan sambil saling melempar senyum.

Minho dan wanita itu duduk disebuah bangku sambil menikmati cakenya. “Hampir saja aku berpikir kau mau membuangku,” Ujar minho. Wanita itu menatapnya, “Kenapa kau bisa berpikir begitu?”

“Karna kau tak kunjung kembali.”

“Aku kembali, malah sambil membawa kue ini.” Ujar wanita itu, tidak mau kalah. Minho tidak menjawab, dia tidak mau memancing pertengkaran. Suasana begini jarang terjadi diantara mereka.

“Aku baru sadar kalau hari ini ulang tahunku.” Kata minho. “Maaf, aku tidak buatkan sup rumput laut.” ujar wanita itu dengan nada menyesal. Minho meliriknya, “Kenapa harus minta maaf? Seharian menemaniku sudah lebih dari cukup.” Kata minho lagi. “Aku sudah cukup merepotkanmu.” sambung minho. Dia memandang nanar pada wanita disebelahnya. “Kalau itu sih, aku tau.” Balas wanita itu. Hati minho mencelos, kata-kata wanita tadi dirasa merusak suasana.

“Teman-teman mu tidak mengucapkan selamat ulang tahun padamu?”
“Aku tidak tau, ponselku kan tertinggal. Semenjak kemarin aku tidak berhubungan lagi dengan mereka.” Kata minho sekenanya. Wanita itu mengangguk-ngangguk.

Mereka menghabiskan waktu banyak malam itu untuk bercerita. Minho mengakui dia mulai merasakan sesuatu pada wanita itu. Begitu juga sebaliknya.

Setelah agak malam, mereka baru pulang kerumah. Seperti kemarin, mereka tidur di atas futon ditengah ruangan. Wanita itu langsung tertidur begitu merebahkan dirinya. Sepertinya dia benar-benar lelah seharian ini. Minho juga, dia tidur menghadap wanita itu. Rasanya ingin terus-terusan seperti ini.

Hari sudah pagi, wanita itu terbangun. Ia sedikit kaget ketika menjumpai posisi tidurnya sangat dekat dengan minho. Dengan lengan minho sebagai alas kepala. Ia sadar, dan buru-buru masuk kekamar mandi sebelum minho terbangun. Padahal minho sudah bangun lebih dulu daripada dia. Minho membuka matanya perlahan setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup. Dia meringis sedikit ketika bangkit dengan lengan yang keram. Minho tersenyum melihat wanita itu yang telah masuk kekamar mandi. Minho melipat futonnya, lalu beranjak kekompor membuat teh hangat untuk mereka berdua.

Setelah menikmati tehnya, minho bersiap-siap berangkat ke terminal untuk naik bus ke Seoul. Wanita itu mengantarnya.

Sesampainya diterminal, minho segera menuju loket untuk membeli tiket sementara wanita itu duduk dibangku ruang tunggu. Bus minho akan berangkat 5 menit lagi. Mereka berpisah disana.

“Terima kasih, terima kasih sudah menampungku.” Kata minho pada wanita itu. Wanita itu tersenyum, “Cheonmaneyo. Aku kirim salam pada teman-teman shinee mu yang lain. Terutama, onew.” Katanya, minho hanya tertawa ringan.
“Minho-ssi,” Panggil wanita itu. “Ne?” jawab minho. “Aku tidak akan melupakan semua hal yang pernah kita lakukan. Aku tidak akan bisa melupakannya.” Kata wanita itu. Minho diam, dia mengunci mulutnya, “Aku, juga tidak akan pernah melupakanmu dan kota ini.” Kata minho akhirnya.

“Datanglah ke Seoul. Aku akan melunasi hutangku.” ujar minho lagi. “:)”

“Oh ya, ng..bolehkah, aku bertanya satu hal?” Tanya minho, wanita itu mengangguk. “Kalau suatu saat aku ke Namwon lagi. Maukah kau mengulang yang kemarin bersama ku?” tanya minho, segurat senyuman menghiasi wajah wanita itu. Dia mengangguk sambil mengedipkan matanya .

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.” kata minho. Minho mengulurkan tangannya. Wanita itu menjabat tangan minho ‘awalnya’, tapi kemudian tiba-tiba saja minho menarik tangan wanita itu, membuatnya masuk dalam pelukan minho.

“Aku akan datang lagi. Meski kau tidak mau memberikan aku tumpangan. Aku akan datang lagi, pasti.” Bisik minho tepat ditelinga wanita itu. Sedetik kemudian minho melepas pelukannya. “Sampai jumpa,” Ujar minho , dia segera naik kebus dan busnya pun berangkat.

Minho duduk disebelah jendela, ia masih memandang wanita itu dari sana. Wanita itu tersenyum , sambil melambai pada minho. Minho tersadar akan sesuatu, dia kelabakan membuka kaca jendela. Tapi tidak bisa. Sementara busnya sudah jauh melaju. Minho semakin tidak sabaran, dia memaksa supirnya untuk berhenti sebentar. Ckiiiit, berkat desakan minho, supir bus itu mengerem mendadak membuat busnya hampir saja tergelincir.

Minho turun hingga kepintu masuk bus, lalu berteriak dari sana. “HEYY!! KAUUUU!!!” teriak minho benar-benar kuat. Wanita itu sadar, padahal dia sudah akan pergi, tapi dia berbalik lagi.

“Siapa namamu??” Teriak minho. Bodoh, sudah 2 hari mereka bersama tapi minho bahkan belum tahu namanya.

“Kang-Eun-Ri.” Teriak wanita itu mengeja namanya. Minho tersenyum dia menunjukkan jempolnya tanda mengerti. Minho kembali masuk kedalam bus, sementara wanita itu tetap berdiri di sana. Busnya melaju meninggalkan namwon membawa minho kembali ke Seoul. Meski tidak membawa apa-apa dari kota itu, tapi minho mendapat kenangan yang ‘mungkin’ jauh lebih berharga dan akan tersimpam dalam hatinya, selamanya.

Minho sampai di Seoul hampir sore hari. Dia berhenti di terminal dan melanjutkan perjalanan dengan taksi. Taksi itu membawa minho sampai ke dorm. Minho bergegas kedalam dorm lebih dulu, mengambil dompetnya untuk membayar ongkos taksi.

Minho masuk ke dorm , dia kaget menjumpai dorm sangat berantakan dan ada yang tidur terpencar pencar. Suasana dorm benar-benar kacau, ada hiasan balon yang menempel didinding, kue ulang tahun yang lilinnya sudah meleleh, kaleng soda berserakan. Taemin tidur di sofa sambil berselimut, onew tidur dilantai dengan kaki terangkat di atas sofa, key tidur di lantai beralaskan karpet, jonghyun tidur disudut ruangan tanpa mengenakan atasan, manager hyung tidur meringkuk didepan tv. Minho melompat-lompat melewati mereka untuk mengambil dompetnya diatas sofa. Dia menelan ludah menyaksikan pemandangan di dormnya. ‘Kenapa dorm kami seperti habis kena pembantaian,’ pikir minho dalam hati.

Setelah membayar ongkos taksinya. Minho kembali ke dorm dan membangun kan teman-temannya satu persatu. Minho baru tau ketika key bercerita bahwa 2 hari yang lalu member shinee mendadak harus mengisi sebuah acara musik di Jepang, tanpa minho karna minho sibuk dengan syuting drama terbarunya.

Mereka tidak memberi tahu karna sekaligus ingin membuat pesta kejutan untuk minho. Tapi justru mereka yang terkejut karna minho tidak juga pulang sementara mereka benar-benar sudah yakin pada persiapan pesta mereka.

Kini minho sudah kembali ke dunianya, dikelilingi orang-orang terkenal dan menjalani hidup sebagai entertainer yang dipuja-puja banyak orang.

Berkat latihan kerasnya, sekarang minho cukup diakui dalam kepandaian bermain piano. Dramanya juga sukses besar, membuat namanya semakin melambung. SHINee juga semakin aktif dan semakin populer. Sekarang selain sebagai anggota boyband shinee dia juga dikenal sebagai aktor muda berbakat. Minho, choi minho. Dalam urusan karir, telah banyak hal yang dia capai.

Tak terasa, sudah 2 tahun berlalu semenjak dia bertemu dengan wanita bernama kang eunri itu. Minho melirik kalender, 8 Oktober 2012 . Dia tersenyum jika mengingat, saat ini, tepat 2 tahun yang lalu dia sedang kelaparan berjalan seorang diri dinamwon dengan perut keroncongan.

9 Desember 2012

Seharusnya saat ini dia sedang merayakan ulang tahunnya bersama para member shinee dan teman-teman nya yang lain. Tapi minho sudah merencakan sesuatu terlebih dahulu.

Minho meletakkan sekeranjang bunga pada jok mobil bagian belakang. Kemudian dia beranjak kebangku kemudi. Ya, hari ini minho akan menyetir mobilnya sendiri sampai ke namwon. Dia, ingin menemui seseorang.

Minho sampai di namwon sekitar pukul 3 sore, meski sudah 2 tahun tidak kesana tapi dia masih ingat betul rumah wanita itu. Minho menyetir mobilnya sampai kesana. Sebelum turun, dia mengecek dandanannya dulu. Baru menurunkan sekeranjang bunga yang memang dia siapkan untuk wanita bernama eunri itu. Yah, minho akan memberi kejutan berupa kedatangannya pada kang eun ri.

Minho berjalan menaiki anak tangga dengan sekeranjang bunga di tangannya. Dia tersenyum melihat tempat itu masih belum berubah sama sekali.

Minho sampai kedepan pintu, dia lagi-lagi tersenyum jika mengingat ditempat ini eunri pernah membentaknya dulu ‘Ya! Lepas dulu sepatu mu!! Tidak sopan’ Minho tersenyum membayangkan ekspresi eunri yang sedang kesal.

Tok tok! Minho mengetuk pintunya sekali. Tidak ada jawaban.
Tok Tok Tok! minho mengetuk pintunya lagi tapi masih tidak ada jawaban. Minho tidak menyerah, dia mengetok pintu untuk yang ketiga kalinya.

“Siapa itu?” Seseorang menghampiri minho, dari suaranya minho tau jelas itu bukan orang yang dia cari. Minho melirik ke asal suara, seorang wanita gendut yang sudah lumayan tua.

“Anda, siapa? Siapa yang anda cari?” Tanyanya. “Wanita yang tinggal disini.” jawab minho. Wanita tua itu menautkan alisnya, kebingungan “Siapa? Tidak ada orang yang tinggal disana.” Tukas wanita tua itu. Berbalik, kini minho yang terlihat bingung.

“Bagaimana mungkin tidak ada. Wanita itu, Ng, namanya… Kang Eun Ri.” ujar minho lagi. Wanita tua itu sontak terkejut. “Kang Eun Ri? Kau mencari Eun ri?” Tanyanya tidak percaya. Minho hanya mengangguk.

Wanita tua itu menundukkan kepalanya sedikit, berusaha kembali bersikap tenang. Tersirat kebingungan di wajahnya. ‘Bagaimana aku harus memberitahu anak muda ini.’ pikir wanita tua itu.

“Wae? Dimana dia halmoni? Dimana eunri?” Tanya minho mulai tidak sabaran. Yang dipanggil halmoni itu mengangkat kepalanya, dia menatap wajah minho agak lama. “Kang eun ri. Nona kang, dia… sudah tiada.” Ujar halmoni itu. Minho kaget bukan main, reflek dia menjatuhkan keranjang bunga ditangan kanannya. “Halmoni, anda becanda kan?” kata minho tidak percaya.

“Kau tau? Kecelakaan bus Namwon-Seoul setahun yang lalu?”

“A-anhi.”

“Eun ri-ssi, dia ada didalam bus itu.”

“…”

“Saat berpamitan padaku, dia bilang begini ‘Aku ingin menemui seseorang di Seoul. Orang yang tidak memenuhi janjinya. Orang yang padahal telah berjanji akan datang untuk menemuiku lagi di namwon. Tapi dia tak kunjung datang. Dia bilang dia tidak akan melupakan aku, tapi sepertinya apa yang ia katakan justru terjadi sebaliknya. Aku tidak akan menyerah, aku tidak mau dia melupakanku dan kota namwon ini begitu saja. Jika dia tidak bisa menemui aku dinamwon, maka aku yang akan menemui dan menagih janjinya di seoul.’ Itu yang eun ri-ssi katakan terakhir kali padaku.”

“Hari itu juga dia berangkat dengan bus menuju Seoul. Tapi karna sebuah kesalahan teknis, bus itu tergelincir. Banyak korban yang selamat, tapi lebih banyak korban yang tidak selamat. Dan eunri adalah salah satu dari yang tidak selamat itu.”

Kata-kata halmoni itu terus terngiang-ngiang dikepala minho. Minho tersenyum nanar, tapi kemudian sebulir air mata jatuh dari pelupuk matanya.

Saat ini minho sedang duduk di salah satu bangku taman di tempat wisata rumah chunghyan di namwon. Tempat dimana 2 tahun lalu dia sedang bercerita menghabiskan waktu bersama wanita itu, kang eun ri.

~~~
“Minho-ssi, kau tau sesuatu tentang legenda chunhyang?”

“Dia gadis yang sangat cantik dan berhati suci. Dia juga punya cinta sejati.”

“Hanya itu?”

“Memang ada yang lain?”

“Kau tidak tau kan cerita sebenarnya bagaimana?”

“Bagaimana?” tanya minho. Dan eunri mulai bercerita.

“Chun hyang mencintai seseorang anak pejabat bernama mong ryong yang punya perbedaan status sosial dengannya. Mong ryong sendiri juga mencintai chun hyang. Mereka memustukan untuk menikah diam-diam. Tapi suatu hari, mong ryong dan keluarganya harus pindah ke ibukota untuk menuntut ilmu. Chun hyang tidak menahannya, dia justru mendukung kekasihnya meski dia tau dia akan kesepian karna tidak akan bertemu dgn mong ryong untuk waktu yang lama. Mong ryong berangkat ke ibukota, tapi saat berpisah dengan chunhyang, dia berjanji akan kembali lagi untuk menemui chun hyang dan membawanya ke ibukota sebagai istrinya. Chun hyang begitu senang, dia sangat percaya dengan janji kekasihnya. Lalu mong ryong pun pergi dan chun hyang menunggu. Meski banyak yang menyukai chun hyang , tapi dia menolak semuanya dan tetap setia pada kekasihnya, mong ryong. Chun hyang terus menunggu, menunggu dan menunggu. Tapi mong ryong tak kunjung kembali. Sampai suatu hari, chun hyang harus dieksekusi karna dia berani menolak seorang pejabat negara yang melamarnya. Disaat pelaksanaan eksekusi, chun hyang sangat ingin melihat mongryong untuk yang terakhir kali. Tapi mongryong, dia tetap tidak datang.” Eunri mengakhiri ceritanya.

“Itu versi yang pernah ibuku ceritakan padaku :)” sambung eunri lagi.

~~~

Minho kembali teringat hal yang pernah eunri ceritakan saat bersamanya ditempat ini. Lagi, Minho hanya dapat terseyum nanar. Dia merasakan sakit pada dadanya. “Ya, kang eun ri. Jadi sekarang, kau sedang menjadi chun hyang, huh?” Gumam minho yang sedang menangis dalam hati.

‘Aku kalah, aku kalah Kang Eunri. Padahal aku datang untuk memberi kejutan padamu. Melihat sejuta ekspresi yang kau miliki. Senyummu, tawamu, dan kekesalanmu. Berharap bisa membuat berjuta kenangan lagi disini bersamamu seperti saat ulang tahunku 2 tahun yang lalu. Lalu membawamu ke Seoul sebagai kekasihku. Tapi, di hari ulang tahun ku kali ini. Justru kau yang memberi kejutan, kejutan yang benar-benar hampir membuat jantungku berhenti berdetak. Ya, Kang eunri. Maafkan aku, tapi percayalah aku tidak pernah melupakanmu. Dan aku bukan tidak datang…tapi, hanya sangat terlambat.”

.:FIN:.

 

생일 축하합니다.

(Saengil chukkae Hamnida)

생일 축하합니다

(Saengil chukkae Hamnida)

사랑하 는 Choi

(Saranghaneun Choi-Minho)

생일 축하합니다.

Saengil chukkae Hamnida ^^

 

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

27 thoughts on “[FF PARTY] In Namwon on My Birthday”

  1. aaaaaa so sweet….. tapi,kenapa eun ri meninggal duluan? mari kita berdoa untuk mengenang jasa jasa eun ri yang telah diberikan kepada choi minho *???* ceritanya bagus banget eonnie! yaampun,aku terharu banget… itu,si Jonghyun oppa kok tidur gak pake atasan? si Onew oppa juga tidurnya parah banget,kakinya naik ke sofa cobak. ahahahahaaaa 😀 aku suka FF nya! suka,suka,suka! c:

    1. nahlo O.O kenapa eunri kesannya kayak pahlawan kemerdekaan XD
      moahahaha itu semua sebenarnya pose tidur author O.O *sesibukaaib
      aaaaa~~ aku suka kamu suka kamu #eh
      gumawo sudah baca ya =*

  2. sipaa author ni ff ?!!!
    siapa ???
    ayo ! tnggung jawab udah bikin saia nangis geje kya gini !!
    kekekekekke
    cerita bgus thor,, trharus saia ,,
    hikzzz,,hikzzz

    1. apa eunri maunya dihidupin lagi aja?
      jadi ceritanya eunri bangkit dari kubur terus ketemu sama minho ternyata sebenernya itu palsu. Dia bukan eunri tapi gorilla yang memakai kostum eunri O.O
      wkwkkwk gumawo ya sudah baca =*

  3. Parah, baru baca…

    Awalnya ngakak, senyum2 gaje…
    Tapi begitu akhirnya miris banget ngebayanginnya.
    Sakit hati aku, harapanku dari awal FF ini hancur begitu aja T.T

    Tapi FF ini bagus, bisa ngebawa reader sama alurnya…

  4. haallloooooo~~~ uwwaaaa minho *lari ke minho* sedih T_T sad ending huwweeeee kenapa eunri harus mati?? hiks hiks coba kalo minho ga telat datengnya ya hiks hiks, good job thor berhasil bikin aku sedih gini, tapi…. daebak!!!

  5. bagus banget ffnyaaaaaaa ~

    mian telat banget bacanya , aku reader baru sih T^T

    kyaaaaaaaaa ~! ada tanggal ulang tahunkuuuu 8 Oktober 😀 *heboh*

    kasian thor minhonyaa T^T minho sih , telat ! semua tuh salah minhooooo ! *digebukin sama flames*
    akhirnya bad ending 😦 knapa gak happy ending *author : terserah gue dong*

    Bagus thor ! Daebak 😀

  6. Kenapa sad ending??huaaaaaaaaaa padahal udh happy2 bacanya eh pas akhir jadi meler ni hidung.btw nice job authoor^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s