[FF PARTY] Burn Inside The Fires of A Thousand Suns – Part 4 (END)

Tittle                 : Burn Inside the Fires of A Thousand Suns (Part 4 of 4) End

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast        : Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Kim Hyun Ri (Yuriska Paramita),

Lee Hyo Ra   (Cahya Chandranita)

Support Cast    : Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin, Shin Rae Hwa

Genre               : Angst, Family, Friendship, Life, Mystery, Romance, Sad

Length              : Sequel

Rating               : G/PG 13

Credit Song      : Gone Forever (Three Days Grace)

Ket                  : Mendaftar sebagai author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Don’t know what’s going on, don’t know what went wrong. Feels like a hundred years I still can’t believe you’re gone. So I’ll stay up all night, with these bloodshot eyes. While these walls surround me with the story of our life.

Jonghyun, Kibum dan Taemin menyadarkan punggung mereka di dinding rumah sakit. Harap-harap cemas menghantui pikiran mereka menunggu hasil cek lab Jinki. Taemin mengangkat kepalanya. Telinganya menangkap suara hentakan kaki yang mendekat ke arah mereka. Kedua bola mata Taemin melebar, Hyo Ra, Minho, Soon Hee, Yong Sang dan Eun Hwa sudah tiba.

“Di mana Onew oppa?!” tanya Hyo Ra panik sambil mengguncang-guncang bahu Taemin.

Taemin menunduk. Bibirnya tak mempu memberikan jawaban pada pertanyaan yang diajukan Hyo Ra. Jonghyun mendekati Hyo Ra. Ia menepuk pundak Hyo Ra. “Mianhae, Hyo Ra-ya, akulah yang bersalah atas semua ini,” ucapnya lemah.

Hyo Ra menatap Jonghyun nanar. “Apa maksudmu, oppa?”

Jonghyun menyerahkan koran yang dibawanya pada Hyo Ra. “Ini, aku telah menyuruh Onew membaca berita ini, aku tak menyangka semuanya jadi seperti ini setelah dia membacanya,”

Hyo Ra meraih Koran itu dengan perasaan tak menentu. Ia membaca kata-perkata dari berita yang ditunjuk Jonghyun. “Aigo,” desisnya. Hyo Ra membekap mulutnya. Air matanya menetes. Koran yang dipegangnya terjatuh ke lantai.

Mianhae, Hyo Ra-ya, mianhae, jebal!” Jonghyun berlutut di hadapan Hyo Ra. Namja itu mengepalkan tangannya berusaha menahan air matanya yang mengalir deras.

Hyo Ra menyentuh pundak Jonghyun. “Bangunlah, oppa, ini bukan salahmu,”

Pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu. “Apa ada di antara kalian kerabat Lee Jinki?” tanya dokter itu.

“Saya, ahjussi, saya dongsaengnya,” Hyo Ra mendekati dokter itu.

Dokter itu menunduk. “Mianhae, kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” tuturnya lemah. “Hasil pemeriksaan mengatakan, Lee Jinki mengalami pendarahan yang cukup fatal. Pembuluh darah di kepalanya pecah sehingga mengalami penyumbatan. Beberapa tulang rusuknya retak dan menghambat kerja paru-parunya.. Beberapa organ pencernaannya juga mengalami kerusakan. Dan terakhir dia kehilangan banyak darah,”

Hyo Ra mengepalkan tangannya berusaha melawan ketakutannya. “Lanjutkan, ahjussi, aku siap menerima keterangan apapun darimu,”

Dokter itu menghela nafas berat. “Kemungkinan tertolongnya sangat tipis. Hanya ada dua kenungkinan. Dia akan pergi kalau dalam waktu lima hari belum juga menunjukkan reaksi. Atau dia akan selamat, namun koma seumur hidup,”

Deg, jantung Hyo Ra terasa berhenti. Bohong, tolong katakan kalau semua ini bohong! Batinnya. Hyo Ra meringis, beribu jarum menghantam jiwanya. “Andwae, andwae, andwae, oppa!!” yeoja itu meberontak dengan brutal.

Minho menahan Hyo Ra. Ia mencengkram kedua lengan Hyo Ra. “Chagiya, tenanglah! “ lirihnya.

Andwae, Lee Jinki, Pabo kau!” Hyo Ra semakin memberontak. Ia menggeliat melawan cengkraman tangan Minho. “Lepaskan aku!” jerit Hyo Ra.

“Hyo Ra!” Minho mengerang. Hyo Ra cukup kuat untuk dilawan.

“Biarkan aku melihat Onew oppa,” Hyo Ra merintih. “Lepaskan aku, jebal!”

Minho meringis. Jonghyun, Kibum dan Taemin membantu Minho menahan Hyo Ra. Akan tetapi yeoja itu tetap melawan. Sungguh keras kepala. Ia bahkan tak peduli pada dirinya yang sedang dicengakram empat orang namja. “Chandra-ya, tenanglah!” kesabaran Minho sudah habis. Kali ini dia berteriak memanggil Hyo Ra dengan nama Indonesianya.

Andwae! Lepaskan aku, jebal!” Hyo Ra tetap tak mendengarkan perkataan Minho.

Kibum melirik ke arah beberapa suster yang kebetulan ada di dekat mereka. “Ambilkan dia obat penenang, ppali!”

Beberapa orang suster mendekati Hyo Ra. Mereka mencengkram tangan kanan Hyo Ra lalu menusukkan sebuah jarum yang telah berisi obat penenang. Mendadak perlawanan Hyo Ra melunak. Semakin lama yeoja itu semakin lemah sampai akhirnya tumbang dan kehilanngan kesadaran. Jonghyun, Kibum dan Temin melepaskan cengkramannya. Hanya tinggal Minho yang setia menopang yeoja chingu-nya itu. Minho melingkarkan lengannya di leher dan lutut Hyo Ra. Ia mengangkat tubuh yeoja yang sudah tak berdaya itu. “Tenanglah, chagiya, pasti masih ada jalan lain,”

 

***

 

I feel so much better, now that you’re gone forever. I tell myself that I don’t miss you at all. I’m not lying, denying that I feel so much better now, that you’re gone forever.

Hyo Ra membuka matanya. Kepalanya terasa agak pusing. Hyo Ra duduk di tepi tempat tidur. Ia tahu saat ini dia masih berada di dalam rumah sakit. Ia memakasakan kakinya untuk berjalan. Perlahan-lahan pengelihatannya membaik. Dengan susah payah ia menyeret badannya ke ruang tempat Jinki di rawat.

Hyo Ra menatap tubuh Jinki yang terbaring mengenaskan di atas tempat tidur. Kepalanya terbebat perban. Dilehernya terpasang alat penyangga. Selang oksigen terpasang rapi dihidungnya. Sebuah alat pendeteksi jantung juga terlihat bekerja dengan aktif. Hyo Ra tak ingin membahas keadaan tubuh Jinki yang lain. Bagaimana tidak? Sisa tubuh Jinki yang lain terbebat gips dan perban yang berwarna merah akibat darah Jinki yang sesekali masih keluar.

Hyo Ra melirik sekeliling ruang perawatan Jinki. Hanya terlihat seorang namja yang masih terlihat setia menjaga Jinki, mungkin yang lain sudah pulang ke rumah mereka, namja itu tak lain adalah Choi Minho. Minho membuka matanya. Ia menatap Hyo Ra dan tersenyum tipis. “Sudah lebih baik?”

“Sama sekali tidak,” jawab Hyo Ra datar sambil menyandarkan kepalanya di pundak Minho. Ia sama sekali tak menangis. Air matanya seperti terkuras habis. Hyo Ra meraih ponselnya. Ia menekan beberapa nomor lalu menempelkannya di telinganya. “Annyeong, Hyun Ri eonnie,”

Ne? wae, Hyo Ra-ya?” jawab Hyun Ri di ujung sana.

Hyo Ra mengerjapkan matanya yang terasa perih. “Bisa kau datang sekarang?”

“Ke mana?” nada bicara Hyun Ri terdengar heran.

“Ke Rumah sakit XXX bagian unit gawat darurat,” jawab Hyo Ra dingin.

“Untuk apa?” Hyo Ra bisa merasakan nada bicara Hyun Ri semakin menegang.

Hyo Ra menghela nafas berat. “Onew oppa sedang di rawat di sini,”

Mwo?!” Hyun Ri terdengar sangat kaget. “Ne, sekarang aku ke sana,”

“Jangan putuskan hubungan, eonnie, ada yang harus kuberitahukan padamu,” lirih Hyo Ra.

Ne, katakanlah,” tukas Hyun Ri sambil bergegas mengambil kunci mobilnya.

Hyo Ra mengepalkan tangannya. “Aku rasa sekarang saatnya aku menceritakan semuanya pada eonnie. Eonnie masih ingat gambar Onew oppa yang kubuat saat di klub bahasa, bukan? Gambar itu sebenarnya gambar yang mewakili seluruh perasaan oppa pada Shin Rae Hwa eonnie, kurasa eonnie mengenal siapa Rae Hwa, dia adalah yeoja yang menyakiti Onew oppa, mengkhianati dan membuat keadaan oppa menjadi seperti sekarang ini,”

Hyun Ri terperanjat. Keringat mulai mengalir membasahi tengkuknya. “Lanjutkan Hyo Ra-ya,”

“Hanya kau yang bisa menyelamatkan oppa. Eonnie tahu apa alasannya? Karena eonnie adalah orang pertama yang membuatnya kembali tertawa setelah ia kehilangan Rae Hwa. Cepatlah datang, atau tidak oppa akan benar-benar pergi meninggalkan kita semua,” Hyo Ra mematikan ponselnya. Ia menghapus air matanya yang mulai menetes lagi.

Brakk.. seseorang membanting pintu. Terlihat sosok Hyun Ri yang terengah-engah berdiri di sana. Hyun Ri mengangkat kepalanya. Ia memandang sosok namja yang terkulai di depannya. “Onew,” bisiknya. “Andwae!” Hyun Ri tersimpuh.

Minho mendekati Hyun Ri. Tangannya meraih lengan Hyun Ri yang bergetar. “Bangunlah, noona,” ucapnya.

Hyun Ri berusaha bangkit. Ia duduk di sebelah Hyo Ra yang dari tadi diam seperti patung. “Bacalah ini, kau akan mengerti mengapa Onew hyung bisa mengalami kecelakaan seperti ini,” Minho menyerahkan surat Rae Hwa dan Koran yang dititipkan Jonghyun pada Hyun Ri.

Hyun Ri memberanikan diri membaca surat dan koran yang diberikan Minho. Hyun Ri membaca surat Rae Hwa terlebih dulu. Emosinya melunjak membaca tulisan Rae Hwa yang terkena noda darah Jinki. “Kurang ajar kau, Rae Hwa!” sungutnya. Hyun Ri meremas surat itu. Ia beralih membaca berita tentang kecelakaan pesawat penerbangan dari bandara Incheon ke Amerika Serikat yang tertera di dalam koran yang diberikan Minho.

Mata Hyun Ri terbelalak. Sepertinya ia sedang bermimpi membaca apa yang ada di depan matanya. Nama Shin Rae Hwa tercatat pada urutan ke sebelas di dalam korban meninggal pada kecelakaan pesawat itu. Jantung Hyun Ri berdetak semakin kencang. “Aigo,” Hyun Ri meremas rambutnya. “Andwae,” bisik Hyun Ri lemas. Koran yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Ia bangkit da duduk di sebelah Jinki. Hyun Ri meraih jemari Jinki. Ia mengaitkan jemarinya di sela-sela jemari Jinki. Bibir mungilnya mengecup lembut jemari Jinki. “Kumohon, bangunlah, Oew-ah,” bisiknya, namun Jinki sama sekali sat menyambut bisikan Hyun Ri.

 

***

Now things are coming clear, and I don’t need you here, and in this world around me, I’m glad you disappeared. So I’ll stay all night, get drunk and fuckin fight. Until the morning comes, I’ll forget about our life.

4 days later

Masih belum ada sedikitpun perkembangan dari Jinki. Jangankan kemajuan bahkan perubahan sedikitpun tak ada. Malam ini penentuan terakhir untuknya. Penentuan apakah dia akn hidup, mati atau koma seumur hidup.

Minho mebuka matanya. Ia melirik jam tangannya. Tepat pukul 24.00. Minho melirik sekeliling ruangan. Hyo Ra tertidur pulas di sampingnya, sementara Hyun Ri tertidur pulas di samping Jinki. Minho mengernyitkan alisnya. Matanya menangkap sesosok bayangan di samping Jinki. Bayangan itu semakin lama semakin jelas. Perlahan-lahan menjadi wujud manusia. Minho melirik wajah sosok itu. “Onew hyung,” Minho terperanjat kaget.

Minho menahan nafas. Astaga, sixth sense-ku bangit lagi, batinnya. Yang dilihatnya bukanlah Jinki, tapi arwahnya. Minho mengawasi apa yang dilakukan arwah Jinki. Tidak, dia tak melakukan apapun hanya memandang kosong ke arah tubuhnya yang masih terbaring tak berdaya. Arwah Jinki menjauh, ia menuju ke arah pintu. Minho bangkit dari posisinya. “Kau mau ke mana, hyung? Andwae!”

Sekilas arwah Jinki menoleh ke arah Minho. Ekspresi wajahnnya benar-benar tanpa kehidupan. Ia pergi tanpa mempedulikan panggilan Minho.

Minho berlari mengejar arwah Jinki yang pergi dengan cepat. “Andwae, hyung, jangan pergi, jebal!”

***

Hyun Ri membuka mata. Dia merasa ada yang aneh dengan dirinya tepatnya tempat di mana dia berada sekarang. “Hamparan hijau,” bisik Hyun Ri. Hyun Ri melihat ke sebelah kirinya. Hyo Ra, yeoja itu ada di sebelahnya, berdiri, diam, tak bergerak dan tak bersuara, seperti manekin yang bodoh.

Hyun Ri ingat betul tempat ini, tempat ini adalah taman di dekat rumah Jinki, hanya saja sekarang di taman ini hanya terlihat padang rumput hijau sejauh mata memandang. Hyun Ri bergidik, matanya menangkap sosok seorang namja dan seorang yeoja tengah berjalan di depannya. Nafas Hyun Ri memburu, ia tahu siapa kedua orang itu. “Onew, Rae Hwa!!” teriaknya.

Sesaat mereka berhenti. Rae Hwa melirik ke arah Hyun Ri, namun tidak untuk Jinki. Ia tetap diam dan membelakangi Hyun Ri. Hyun Ri ingin mengejar mereka, namun kakinya terasa berat, sama sekali tak bisa diangkat. Lalu Hyo Ra? Aish, jangan tanyakan yeoja itu. Dia masih belum melakukan respon apapun dari tadi.

Hyun Ri menahan emosinya yang mulai melunjak. “Kau mau membawa Onew ke mana, Rae Hwa?!”

Rae Hwa tak menjawab. Hanya terukir senyum tipis di bibirnya. Senyum itu terlihat mengerikan de mata Hyun Ri. Senyum licik yang ditunjukkan menjelang kemenangan. “Kembalikan Onew, Rae Hwa, dia bukan milikmu lagi!”

Tak ada sambutan. Rae Hwa membalikkan badannya dan kembali menggiring tubuh Onew menjauhi Hyun Ri dan Hyo Ra. Hyun Ri mengepalkan tangannya. Ingin sekali rasanya dia memukul kakinya yang sama sekali tak bisa terangkat. Rahang Hyun Ri mengeras. Matanya terasa panas. “Kau sudah gila, Onew? Pekik Hyun Ri. “Apa kau lupa dengan semua yang telah kita lewati? Apa kau lupa dengan siapa saja yang akan kau tinggalkan?!”

Jinki tetap diam. Seakan kedua telinganya tuli atau memang perkataan Hyun Ri sama sekali tak perlu dia dengarkan. Hyo Ra tiba-tiba bergerak, tangan yeoja itu terkepal kuat. Matanya memerah dan wajahnya berubah bringas. “Oppa!!” jeritnya. “Lepaskan dirimu dari yeoja tak berguna itu! Andwae, oppa, jangan pergi! Jangan buat aku gagal menepati janjiku paha ahjussi dan ahjumma, jangan pabo, oppa! Kau tak pantas mati dengan cara seperti ini, jangan pernah lupa dengan teman-temanmu, kami selalu ada untukmu, tidak seperti dia!” Hyo Ra menunjuk sengit ke arah Rae Hwa.

Hyo Ra mengontrol nafasnya yang menggebu-gebu. Adrenalinnya telah terpicu dan dia harus menenangkannya sebelum ia terlepas kendali. “Oppa!!” suara Hyo Ra menggema. “Kau mssih punya kehidupan yang lain, dunia di mana kau bisa menemukan kebahagiaan, kebahagiaan bersama keluargamu, teman-temanmu, dan kebahagianmu bersama Hyun Ri eonnie. Apa oppa ingin membuang itu semua?” Hyo Ra meremas rambutnya. “Baik, jika oppa ingin pergi, pergilah sekarang! tapi jangan pernah anggap aku dongsaengmu! Jangan pernah anggap Hyun Ri eonni tambatan hatimu, dan jangan anggap kami semua sahabat yang pernah mengisi hidupmu!” Hyo Ra tersipuh. Air matanya mengalir deras. Bibirnya terasa kelu setelah mengucapkan kata yang bertubi-tubi pada Jinki.

Jinki menghentikan langkahnya. Ia berbalik dengan tatapan kosong. Di sudut matanya mulai mengalir cairan bening. Air mata, namja itu menangis.

Saranghae, Onew-ah!” teriakan Hyun Ri menggema dan semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap.

***

 

First time you screamed at me, I should have made you leave, I should have known it could be so much better. I hope you’re missing me, I hope I’ve made you see, that I’m gone forever.

Hyun Ri terbangun dari tidurnya, begitu juga Hyo Ra. Pandangan mereka tertuju pada alat pendeteksi jantung yang mengukur tekanan jantung Jinki saat ini. Tit.. tit.. tit.. tiiitt…. Terdengar bunyi panjang. Garis lekuk-lekuk pada alat pendeteksi jantung itu tiba-tiba menunjukkan garis lurus yang panjang.

Hyun Ri membekap mulutnya. “Andwae!!!” jeritnya.

Oppa!!” Hyo Ra berteriak sekeras mungkin. “Dokter, cepat kemari! Bawa alat DC shock, ppali, jebal!!”

Brakk.. pintu terbuka seorang dokter dan beberapa orang suster menerobos masuk. Hyo Ra menarik Hyun Ri ke belakang. Hyo Ra memeluk Hyun Ri. Mereka menyaksikan tindakan para ahli medis tersebut dengan harapan besar. Dokter menggosokkan DC shock sejenak lalu menempelkannya ke dada Jinki. Sebagian tubuh Jinki terangkat, namun jantungnya sama sekali belum merespon. Sekali lagi dokter menempelkan DC shock ke dada Jinki, namun hasilnya NIHIL.

***

Minho berhenti di halaman belakang rumah sakit. Sepi, tak ada satu makhluk pun di sana kecuali dirinya arwah Jinki. “Jangan membalikkan punggungmu, hyung,” ujar Minho pada arwah Jinki yang membelakanginya. “Berbalik dan tataplah mataku!”

Arwah Jinki berbalik dan menatap Minho tanpa ekspresi. Raut wajah Minho berubah dingin. “Kembalilah, hyung,” lirihnya. “Aku rasa dari tadi Hyo Ra dan Hyun Ri noona terus menyebut-nyuebut namamu,”

Minho berlutut. Wajahnya terasa panas. Rahangnya mengeras menahan air matanya yang mulai menetes. “Jangan pergi, hyung, jangan tinggalkan kami semua,” ucapnya sambil tertunduk. “Jebal!”

Minho menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Jinki. “Jangan kecewakan kami yang telah berharap banyak padamu, lakukanlah yang terbaik, hyung,”

Zrash.. arwah Jinki menghilang bersama tiupan angin. Minho bangkit dari posisinya. Mulutnya tertutup rapat. Tak ada lagi kata yang mempu menerobos keluar dari bibirnya.

 

***

 

Tit.. Tit.. Tit.. garis lurus panjang di alat pendeteksi jantung kembali membentuk lekukan setelah lima kali dokter menempelkan alat DC shock di dada Jinki. Hyun Ri dan Hyo Ra mendekati Jinki. Ada sesuatu yang aneh pada namja itu. Jemarinya bergerak.

“Mmhh,” bibir Jinki menggumamkan sesuatu.

Senyum mengembang di wajah Hyun Rid an Hyo Ra. “Thanks, God,” ucap mereka bersamaan.

Minho masuk ke dalam ruangan. Ia memandang kelopak mata Jinki yang terbuka perlahan. Minho tersenyum. “Aku tahu kau bisa, hyung,”

 

***

I feel so much better, now that you’re gone forever. I tell myself that I don’t miss you at all. I’m not lying, denying that I feel so much better now, that you’re gone forever. And now you’re gone forever. And now your gone forever.

3 weeks later

Hyo Ra memandang rumahnya yang terlihat mewah. Berbagai hiasan menyemarakkan rumah itu. Lilin-lilin menerangi hampir setiap meja. Jonghyun, Kibum, Taemin, Soon Hee, Yong San dan Eun Hwa telah hadir di sana. Mereka terlihat mempesona dengan dandanan dan style mereka. Hari beranjak malam. Suasana rumahnya semakin ramai. Semakin banyak undangan yang datang dan menginjakkan kaki di karpet merah yang membentang di pintu masuk.

Hyo Ra memandang lima tingkat kue ulang tahun yang tertata cantik di depannya. Tanggal 14 desember tahun ini benar-benar berkesan, pikirnya. Hyo Ra melirik ke arah pintu masuk. Orang spesial yang ditunggu-tunggunya telah datang.

Minho berjalan di atas karpet merah dengan gagahnya. Pandangannya hanya tertuju pada seorang yeoja. Ia memandang yeoja itu dengan tersenyum manis. Yeoja itu benar-benar terlihat anggun di matanya. Rambut panjangnya yang tergerai membuatnya terlihat sempurna dengan gaun pink panjangnya. Lipstick pink yang mewarnai bibir sensualnya membuat keanggunannya terlihat sempurna di mata Minho. “Annyeong, chagiya,” sapa Minho sambil mengusap lembut rambut yeoja itu.

Annyeong,” Hyo Ra membalas sapaan Minho. Ia meraih tangan Minho dan menggenggamnya erat. “Mianhae, waktu tanggal sembilan aku tak sempat memberikan hadiah ataupun ucapan selamat padamu,”

“Ssstt!” Minho menekan bibir Hyo Ra dengan ujung jarinya. “Apa yang kau bicarakan, chagiya? Kesembuhan Onew hyung dan kesetiaanmu merawatnya adalah hadiah yang tak ternilai untukku,”

Hyo Ra tertunduk malu. “Gomawo, kau memang namja chingu yang bijaksana,” ucap Hyo Ra sambil mencubit pipi Minho.

Kriet.. pintu kamar Jinki terbuka. Dengan pelan Jinki melangkahkan kakinya menuruni tangga menyambut para undangan yang datang. “Selamat jalan, Rae Hwa, berbahagialah di sana bersama namja chingumu, rest in peace,” bisiknya tanpa terdengar siapapun.

Bersamaan dengan itu seorang yeoja melangkah dari pintu masuk dan berjalan dengan anggun di atas karpet merah. Yeoja itu terlihat menarik dengan gaun biru panjangnya. Rambut lurus panjangnya tergerai menutupi pundaknya. Senyum manis mengembang di wajahnya melihat Jinki yang telah berdiri di hadapannya.

Annyeong,” Jinki menyapa Hyun Ri.

Annyeong,” Hyun Ri membalas sapaan Jinki.

Jinki tersenyum. Tangannya bergerak menyentuh pipi Hyun Ri. “Nomu yeppo,” gumamnya.

Gomawo,” bisik Hyun Ri sambil tertunduk malu.

Jinki mendekatkan bibirnya ke telinga Hyun Ri. “Thank you, princess, for all!” bisiknya lembut. Suasana menjadi hening. Tak ada satu makhluk dalam ruangan itu yang berani mengeluarkan suara. “Ehm,” Jinki berdeham. “Saranghae,” Jinki mengeraskan sedikit volume suaranya.

Nado Saranghae,” balas Hyun Ri.

Plok.. plok.. plok.. seluruh undangan bertepuk tangan. Jinki dan Hyun Ri tertunduk malu. Hyun Ri menyerahkan sebuah bingkisan pada Jinki. “Ini untumu, happy birthday,

Gomawo, chagiya,” ucap Jinki sambil menerima bingkisan yang diberikan Hyun Ri. Jinki mengandeng tangan Hyun Ri berjalan mendekati tempat kue ulang tahun di pajang.

Jinki, Hyun Ri, Hyo Ra, Minho dan sahabat mereka yang lain mengelilingi kue ulang tahun. Mereka terlihat tak sabar menunggu Jinki memotong kue ulang tahunnya. “Gomawo, semua,” Jinki memulai kata-katanya. “Gomawo untuk seluruh sahabat-sahabatku yang telah membantuku melewati masa-masa sulit dalam hidupku. Aku tak tahu bagaimana jadinya hidup ku tanpa kalian. Aku tak tahu bagaimana aku harus membalasnya, semoga Tuhan yang kelak akan melakukan itu semua,” Jinki tersenyum menatap seluruh sahabatnya.

Plok.. plok.. plok.. tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Jinki mengambil pisau dan mengarahkannya ke atas kue ulang tahunnya. Zrett.. pisau itu membelah kue dengan rapi di potongan pertama.

Happy birthday, Onew,” ucap seluruh undangan bersamaan.

Jinki melirik Hyo Ra. “Hyo Ra-ya, mana hadiahmu untukku?”

Hyo Ra tersenyum licik. “Itu,” Hyo Ra menunjuk Minho. Bukan, tepatnya seorang balita yang tidak lain adalah dongsaeng Minho. “Besok oppa rawat dia ya? Aku akan kencan dengan Minho,”

Mwo?!” Jinki terperanjat. “Kau tahu kan aku takut anak kecil? Kau ingin membunuhku ya?” teriak Jinki sambil menjewer telinga Hyo Ra.

Anni, oppa,” Hyo Ra meringis. “Mianhaeyo, aku kan hanya ingin bersenang-senang saja besok,”

“Hahaha,” Jinki tertawa. “Ne, akan kulakukan, untuk dongsaeng-ku tersayang, hajiman hanya untuk kali ini saja. Awas kalau kau berani menyuruhku melakukan ini untuk kedua kalinya,”

Ne, oppa,” Hyo Ra memicingkan sebelah matanya.

Jinki menghela nafas. Hatinya benar-benar tenang sekarang. kebahagiannya terasa lengkap dengan kehadiran seluruh sahabat-sahabatnya. “Thanks, God, thanks, my friend, thanks all, thanks for make me smile and make me happy, yesterday, today, tomorrow, dan always,

FIN

P. S: akhirnya end juga FF gaje ini. Gomawo buat yang udah baca sampai akhir. Luph u all.. hehehe (reader: lebay lu, thor). Yukz kita ucapkan sama-sama, ‘Happy Birthday Onew oppa, Minho oppa, saranghae,’

Gomawo, all, leave a comment yakh.. thank you, ‘^^,

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

Advertisements

76 thoughts on “[FF PARTY] Burn Inside The Fires of A Thousand Suns – Part 4 (END)”

  1. Yeyeyeye!! Phy end,, qw baca ikutan emosi,, raehwa Ɣªήğ tenang ϑ’sna jgn ngajak2 onew lgi,,
    Ff πª daebak!! Aplgi pas ϑ’rmah skit,

  2. WUUUHHUUU.. Onew ngga jadi mati.. Onew ngga jadi mati *tepok-tepok ngga jelas..
    YYEEEYY Happy Ending…
    Bagus eonie FFnya…
    aku ngga nyangka endingnya bakal sekeren ini.. whawahawhahwahawh *pingsan..

    Excelent FF eonie. (?)

    1. aku ngga tega buat onew mati, lin… hehehehehe

      jangan pingsan di sini dumpz… aku ngga kuat ngangkat kamu…
      wkwkwkwkwkwk

      gomawo…….

  3. End yg so sweEt bgt..
    >.<
    aku suka banget ma ff ini dari awal. . .

    Part terakhir ini bener2 daebAk. . . . .
    FEelnya dpt, aku mpe ikuT terbAwa suasana. . . . . . . . .

    HuwaA . . .
    DaebAk!!

  4. Aigoo~ chandraa,. . .
    Huwaa. . . . . . .
    End yg perfEct bgt. .
    *mimisan,,*

    bener2 sPechless!
    Awalnya aku kira onew mati,,
    syukur ngga. .
    Huft. . . .

    Aku suka waktU hyo ra ma hyun ri nyelamatin onew. . .
    Aku mpe emosi thu bAcanya. . .
    Pokoknya daebAk aBis endnya. ,

    coNgratz….

  5. Heeewf ….. Krain si unyu bkal meninggal…. >< tpi syukurlah engga… XD
    Oh my..! Mino punya indra k-6?? Uwoogh.. Ga nyangka ak… Keren!!
    Hwaaah… Ak ska crita yg bgini nih… Happy ending…!! XD ….
    D tunggu di krya brikut'y ya… ^^

  6. Chan~. . . . . . ,
    bingung mau ngomong apa,,,

    gila, perfect abizz,,,
    jadi iri sama hyun ri n hyo ra,
    aku jadi pengen dEch liat oNew jaga doNgsaengnya Minho. .
    Pasti gokil habiz. . .
    Hahahahagz. . . .

    DaebAk, chingu. .

  7. author, komennya aku gabung dari part 3 ya…
    mmm, sebenarnya aku gak tau mau komen apa soalnya keren banget…
    satu kata : DAEBAK!!! 🙂

  8. ya ampunnnnn….
    daebak banget endingnya, ….
    awalnya aku kira onew bakal mati,,, syukur ngga…..
    permainan kata-katamu keren, chingu..
    sumpah deh, hampir aja aku krtipu sama songficnya…
    aku kira untuk onew, tapi ternyata untuk Rae hwa… hihihi

    good job!

  9. chandraaaa…..
    huwaaaaa……………
    ending yang perfect abizzz…..

    aku suca cara Hyo Ra sama Hyun Ri waktu nyelamatin onew…
    minho punya sixth sense ya???
    waaahhhhh….. spechlesssss….
    daebak pokoknya….

  10. Chandraaa…..
    keren banget, mataku ampe berkaca-kaca waktu Hyo Ra teriak, “Dokter, cepat kemari! Bawa alat DC shock, ppali, jebal!”
    aish… aku kira Onew ga bakalan selamat,,, tapi syukur bisa diselamatkan….
    *narik nafas panjang……

    daebak!!

  11. bingung mau ngomong apa aku, chan….
    spechless,,,,, ^^
    Daebak 😀
    Keren, 🙂
    Nice…………………………
    good Job!!!

  12. ending yang so sweet…

    syukur onew ngga jadi mati,,,
    kalau jadi, aku beneran nangis, chandra….

    daebak banget ffmu satu ini….
    😀

  13. Chan onn,,, aku datang lagi…
    uwahhh udah end ff ini,,,

    keren banget endingnya…
    ngebayangin rumah onew oppa yg megah, jadi pingin ke sana ney…
    *ngareppppp…….
    xixixixixi

  14. Nice, Chandra… over all,,,

    aku bener2 suka FFmu ini dari awal,,,,

    syukur onew ga dibawa rae hwa n ga jadi mati…
    huuffffttttttttt……

    good job,,,

  15. keren banget endingnya,,,

    huh… sebel banget aku sama rae hawa…
    ngapain juga dia mau bawa2 onew???

    tapi syukur deh onew selamat…. hehehe

  16. aku udah baca cerita ini dari awal sih, tapi karena jarang ol, jadi baru komen di sini hehehe…

    keren banget ceritanya, author…
    permainan kata-katamu mantap…
    suer..

    oh ya… Novi Imnida, 17yo, salam kenal…

  17. AAAAA onew oppa~ *teriak22 gaje* *digamparin author*
    wekekeke ceritanya bagus author….bahasanya juga bagus.
    kalo gasalah km jg authornya silent angel ya?
    huehehehe FFnya daebak banget!!!!^^

  18. Onnie nmpang bca yea ..
    lagi haus ff..

    dristdi jlajah SHININGSTORY
    tpi entah knpa aku trtarik bnget ma ff nya Onnie ..
    stiap liat jdulny and main cast ny lngsung trtarik aj pngen bca ,, n selalu authornya past “shawolindo”

  19. DAEBAK 10 jempol buat autor..
    paling galau pas dokter bilang :“Kemungkinan tertolongnya sangat tipis. Hanya ada dua kenungkinan. Dia akan pergi kalau dalam waktu lima hari belum juga menunjukkan reaksi. Atau dia akan selamat, namun koma seumur hidup,”
    pengen aku cekek tuh si dokternya, eh apa cekek autornya aja ya.. hehehe pizz.. 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s