[FF PARTY] Silent Angel

Title                    : Silent Angel

Author                : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main cast            : Choi Minho, Lee Hyo Ra (it’s me *Plakk*), Lee Jinki (Onew)

Support cast       : Shin Rae Hwa (my imagination)

Length                : Oneshot

Genre                 : action, angst, friendship, horror, mystery, romance

Rating                : PG-15

Summary         : Ini adalah cerita yang menguak salah satu misteri Bali (maklum authornya juga orang Bali (-,-)..), khususnya untuk anak-anak indigo di Bali. Jadi latar, setting waktu dan tempat kejadiannya juga di Bali. Jadi anggap aja castnya juga orang Bali ya.. *bow*

Ket.                    : Mendaftar sebagai author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Jika diumpamakan..

Kau seperti tanda yang berkedip..

Lalu aku, hanyalah seorang pejalan kaki di kegelapan..

Tanda lampu merah berkedip, saat itulah,

Kau menyaksikan kematian…

Dan bersamaan dengan itu

Tanda lampu hijau,

Hijau yang sedih dan sendu berkedip

Namun..

Tanda itu tak terlihat oleh si pejalan kaki

Sementara dia tetap berkedip,

Walaupun si pejalan kaki tak ada

Seperti tanda…

Yang selalu sendiri…

Teph.. Hyo Ra menutup komik From the Other World karya Madoka Kawaguchi yang baru saja dibacanya. Sebaris puisi di buku komik itu membawa Hyo Ra pergi jauh ke angan masa lalunya. Pandangannya tertuju pada selembar foto di atas meja belajarnya. Hyo Ra meraih foto itu dan memandanginya lekat-lekat. Kedua bola matanya yang tajam mengendur dan mengeluarkan bulir-bulir bening.

Pabo, kenapa aku masih menyimpan fotomu, Minho?” lirih Hyo Ra. “Aku tak menyangka kau akan pergi secepat ini,” Hyo Ra menghapus air matanya dan melempar foto itu kembali ke tempat asalnya. Foto itu, foto seorang namja. Namja dengan seulas senyum manis merekah dibibirnya.

Hyo Ra merebahkan badannya di kasurnya yang empuk. Dia tak mempedulikan apapun lagi. Suara hujan yang deras juga tak dipedulikannya. Rasa lelah membuat pikirannya damai dan segera menerobos ke alam mimpi. Hyo Ra tak sadar di sudut kamarnya sesosok bayangan seseorang sedang memandangi wajahnya yang tengah tertidur pulas.

 

***

Hyo Ra berjalan menuju ke podium. Jam mendekati pukul tiga sore. Sebentar lagi ekstra patroli keamanan sekolah (PKS) akan dimulai. Hyo Ra tak sabar melihat perkembangan junior yang dia latih selama ini.

Ya, Hyo Ra-ya, sudah siap melatih adik kelas kita?” sapa Jinki yang akrab dipanggil Onew, temannya yang berkecimpung di ekstra kurikuler yang sama.

Hyo Ra tersenyum tipis pada namja yang baru menyapanya itu. “Ne, ara,” jawab Hyo Ra seadanya.

“Ehm, tapi kenapa kau lemas begitu?” tanya Jinki heran.

Mwo? Anni, aku hanya agak lelah saja,” Hyo Ra berbohong. Bagaimana tidak? Tiga hari lagi tepat satu tahun setelah kematian Minho. Teman baik yang sempat menarik perhatiannya sekaligus orang yang paling menyakitinya. Namja yang pernah meminta bantuan tanpa pernah mengucapkan terima kasih. Namja yang pernah meminta bantuan Hyo Ra agar bisa menjadi namja chingu Shin Rae Hwa. Rae Hwa, yeoja berperawakan kecil dan agak gendut. Rambut panjang dan wajahnya pucat seperti mayat hidup. Dan yang terparah Rae Hwa adalah teman Hyo Ra, yeoja dari ekstra pramuka yang sifatnya diam-diam mematikan.

Memang orang yang sombong tak akan pernah tertawa terakhir. Tahun lalu Minho dan Rae Hwa tewas tertabrak. Keadilan itu diberikan Tuhan setelah sekian kali mereka menyakiti dan menghina Hyo Ra.

Ekstra Patroli Keamanan Sekolah berakhir pukul lima sore. Hyo Ra berdiri di depan tiang bendera dan menatap jauh ke langit biru. Dia terlalu malas untuk pulang. Tak ada hal penting yang bisa dia lakukan hari ini.

Hyo Ra mengalihkan pandangannya ke lapangan. Ada suatu keganjilan di pikirannya. Matanya menangkap sesosok bayangan di lapangan itu. Seorang namja memakai celana abu-abu dan pakaian PMR lengkap dengan semua atributnya. Wajahnya tak terlihat. Tertutup oleh rambutnya. Hyo Ra merasa tak asing melihat namja itu. Aigo! Itu Minho, batinnya.

Puk.. seseorang menepuk pundak Hyo Ra. “Kau lihat ya?”

Hyo Ra menoleh. “Eh, Onew-ah, i.. itu,” Hyo Ra menoleh kembali ke arah lapangan, namun sosok tadi lenyap sama sekali.

Jinki tersenyum agak tegang. “Tenang, kau tak salah lihat, yang tadi itu..”

“Itu Minho,” Hyo Ra memotong pembicaraan Jinki.

Hyo Ra dan Jinki membisu, tenggelam dalam perasaan mereka masing-masing. Meski masih agak ragu dengan apa yang dilihatnya, tapi Hyo Ra yakin yang dia lihat itu adalah Minho. Minho dan Rae Hwa meninggal tertabrak mobil tahun lalu sepulang dari kemah bersama PKS, PMR, gapenta, dan pramuka.

Saat itu Minho melihat Hyo Ra dan Rae Hwa memperebutkan sesuatu. Minho merasa kesal melihat kelakuan Hyo Ra. Minho mendorong Hyo Ra ke tengah jalan. Entah keajaiban apa yang terjadi, Hyo Ra tetap berada di posisinya, sementara Minho dan Rae Hwa yang terlempar ke tengah jalan. Dari arah yang berlawanan sebuah mobil melaju kencang. Hyo Ra hanya diam dan menyaksikan. Menyaksikan mobil itu membuat kembang api manusia. Kembang api yang memuntahkan cairan merah kental ke pakaian Hyo Ra.

Hyo Ra mematung di tempatnya. Mematung memandangi tangan dan buku diarynya yang tadi ingin direbut Rae Hwa penuh cairan merah berbau amis. Hyo Ra tak bergerak sedikitpun hingga Jinki datang untuk membantunya sadar.

“Hyo Ra-ya, ayo kita pulang,” Jinki membuyarkan lamunan Hyo Ra.

Hyo Ra pasrah dan membiarkan Jinki menarik tangannya. Setidaknya itu bisa membuat pikirannya lebih tenang.

 

***

Kamis, pukul 06.15 am Hyo Ra sampai di sekolah. Dia berjalan menuju kelas barunya, kelas XII IPA 3. Tiga hari lagi PKS, PMR, gapenta dan pramuka akan mengadakan kemah. Kemah yang bertepatan dengan hari kematian Minho dan Rae Hwa.

Suasana kelas sangat sepi. Entah darimana Hyo Ra mendapat ide gila untuk datang ke sekolah sepagi ini. Hyo Ra duduk dibangkunya. Bangku yang posisinya tidak enak, bangku paling belakang dan ada di pojok kelas. Hyo Ra menggeledah isi tasnya untuk memastikan semua perlengkapan sudah ia bawa.

Hyo Ra bergidik. Ada bau darah dan hawa dingin yang menusuk dari sebelah kirinya. Hyo Ra menoleh. Sesosok namja duduk rapi di sana. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Namja itu menoleh ke arah Hyo Ra.

Hyo Ra tercekat. “Min.. Minho,”

Hyo Ra bisa melihat dengan jelas sosok Minho. Wajahnya terlihat begitu pucat. Ditambah lagi darah kental menetes di kening, hidung, bibir, dan matanya. Baju PMR yang dipakainya juga ternodai oleh darah. Hyo Ra ingin berteriak, tapi tak bisa. Seluruh badannya kaku dan terasa berat.

Tangan kanan Minho bergerak. Bergerak menuju leher Hyo Ra. Bola mata Hyo Ra memperhatikan lekat-lekat gerakan tangan Minho. Tangan itu akan segera mencekiknya. “Dasar pembunuh!” terdengar suara dari mulut Minho.

Teph.. tangan Minho mencengkram leher Hyo Ra. Hyo Ra mengerjapkan mata menahan cekikan Minho yang kuat, apalagi bau darah di tangan Minho begitu menyengat. Hyo Ra memberontak, namun sama sekali sia-sia. Cekikan itu terlalu kuat.

Andwae!” terdengar suara dari pintu masuk.

Hyo Ra menoleh. “On.. Onew-ah,”

Minho dan Jinki berpandangan. Minho melepaskan cekikannya dari leher Hyo Ra dan menghilang. Brukk.. Hyo Ra jatuh pingsan.

“Hyo Ra-ya, andwae!!” Jinki mengampiri Hyo Ra. Dia melingkarkan lengannya di leher dan kaki Hyo Ra. Secepat kilat Jinki mengangkat dan membawa Hyo Ra ke luar kelas. Hyo Ra bukanlah beban yang berat untuk namja sekuat Jinki.

 

***

 

“Di.. di mana aku?” tanya Hyo Ra ketika sadar dari pingsannya.

“Kau di UKS, Hyo Ra-ya,” Jinki tersenyum lembut pada Hyo Ra.

Hyo Ra mendapati dirinya terbaring di UKS. Jinki duduk di sampingnya dan setia menjaganya. “Jam berapa sekarang, Onew-ah?”

Jinki melirik jam tangannya. “Jam tujuh lebih lima menit.”

Hyo Ra mennghebuskan nafas lega. Syukurlah aku tak pingsan lebih lama, pikirnya. Hyo Ra menerawang setiap sudut ruang UKS, “Di mana Minho?”

“Dia sudah pergi,” jawab Jinki datar.

Hyo Ra bangkit dan memilih untuk duduk. “Onew-ah, aku mau tanya,”

Jinki menolen heran. “Mwo?”

Hyo Ra menatap Jinki penasaran. “Menurutmu kenapa Minho mencariku, mungkinkah dia ingin balas dendam?”

Jinki diam. Matanya dan Hyo Ra saling berpandangan. Jinki memejamkan matanya. Ia menggerakkan kedua telunjuknya. Ia memijat-mijat daerah di perbatasan kedua matanya. Lalu kedua telunjuknya itu bergerak naik dan menjauh di kedua alisnya diikuti kedua jari tengahnya yang melakukan hal yang sama. Jinki membuka mata perlahan. Hyo Ra sedikit tersentak melihat mata Jinki. Seperti ada aura yang mengalir keluar.

Molla, aku juga tak tahu persis. Mungkin karena kau sama sepertiku,” ujar Jinki.

Hyo Ra memiringkan kepalanya.”Gerakanmu yang barusan itu?”

Jinki tersenyum lagi dan berbisik, “Sstt! Kalau kau tahu, diamlah!”

Hyo Ra tak heran. Dia tahu barusan Jinki membuka pikirannya agar bisa melihat hal-hal gaib. Dia sudah lama tahu Jinki memang bukan anak biasa. “Tadi kau mengatakan aku sama sepertimu? Maksudnya bagaimana?”

Pandangan Jinki berubah serius. “Kau itu anak indigo atau istilah Balinya, melik,

Hyo Ra terkesiap. “Melik? i.. itu,”

Jinki menyibakkan poni Hyo Ra dan menyentuh perbatasan kedua alis Hyo Ra dengan tangan kanannya. “Di sini, melikmu ada di sini, berbentuk cakra,”

Hyo Ra memandang mata Jinki lekat-lekat. “Lalu kau?”

Jinki menyentuh perbatasan alisnya dengan tangan kirinya. “Sama, melikku juga ada di sini. Coba lihat bentuknya dengan sixth sense-mu!”

Pikiran Hyo Ra terasa kosong. Kening Jinki bersinar. Hyo Ra dapat melihat itu. “Sinar itu, sinar itu, berbentuk suastika.”

Jinki melepas tangannya dari keningnya dan kening Hyo Ra. “Hyo Ra-ya, kau tahu, di dalam alam gaib atau niskala, kita sesama orang melik saling mengenal?”

“Saling mengenal?” Hyo Ra masih heran.

Pandangan Jinki menerawang. “Ne, dan di alam niskala tubuh kita berbau harum,”

Hyo Ra mengerjapkan mata. “Lalu apa karena itu Minho mencariku?”

Molla, Minho, dia juga melik sama seperti kita, Hyo Ra-ya. Melik-nya berbentuk Omkara dan terletak di lidahnya. Meliknya lebih keras dari kita. Mungkin karena itu hidupnya lebih pendek dari kita,” ucap Jinki sambil menghela nafas berat.

“Oh, aku hanya tahu sedikit tentang melik, mereka yang terpilih sebagai orang melik umurnya tak akan panjang, kecuali kalau ditebus. Aku rasa Minho ingin aku mati,” Hyo Ra menunduk.

“Mungkin, namja pabo dan picik itu, mungkin Minho tak akan berhenti sampai di sini,” ujar Jinki. “Lalu kau juga perlu tahu elemenmu,”

Hyo Ra menoleh. “Elemenku apa?”

“Elemenmu kayu dan api. Itu yang membuatmu kuat dan bersemangat, namun karena elemenmu itu, wajah niskalamu kadang terlihat menyeramkan. Wajah niskala orang yang berelemen api atau tanah itu cenderung disukai makhluk yang dunianya di bawah kita.” Jinki bercerita panjang lebar.

Sebelah alis Hyo Ra terangkat heran. “Lalu elemenmu dan Minho apa?”

“Elemen Minho kayu dan air, kalau aku udara. Itu membuat Minho menjadi pendiam dan terlihat tenang. Lalu aku, elemen ini yang membuatku jarang terlihat sedih. Secara niskala wajahku dan Minho cerah. Wajah niskala seperti itu yang umumnya disukai oleh yang berada di atas kita.” sekali lagi Jinki bercerita panjang lebar.

“Lalu bagaimana dengan Rae Hwa?” Hyo Ra semakin penasaran dengan penjelasan Jinki.

Jinki tersenyum tipis. “Dia bukan apa-apa, hanya yeoja biasa tanpa keistimewaan,”

Hyo Ra menunduk, matanya basah. Jinki terkejut melihat itu. “Hyo Ra-ya, mianhae kalau kata-kataku menyinggung perasaanmu,” tangan Jinki bergerak menghapus air mata Hyo Ra.

Hyo Ra menoleh ke arah Jinki dan tersenyum. “Anni, kau tenang aja. Aku hanya kecewa saja kalau ingat dengan Minho. Ya sudah ayo kita gabung sama teman-teman di luar, kajja!”

Jinki tersenyum dan membimbing Hyo Ra keluar dari UKS.

 

***

Kali ini Hyo Ra berangkat lebih siang. Dia masih agak trauma dengan kejadian kemarin dan kata-kata yang diucapkan Jinki padanya. Hyo Ra berdiri di pintu kelasnya. Dalam hatinya dia bersyukur, suasana kelas tak sepi seperti kemarin.

Zrash.. angin dingin melintas di tengkuk Hyo Ra. Sosok Minho terlihat lagi. Berdiri tegak di antara kerumunan teman-teman sekelasnya. Matanya berpandangan dengan Hyo Ra. Hyo Ra memandang Minho dengan perasaan tak menentu. Wajah Minho pucat dan darah membasahi wajahnya. Wajah yang menyedihkan dan pantas ditertawakan.

Hyo Ra menahan air matanya yang ingin melonjak keluar. Sosok Minho yang ada dihadapannya benar-benar terlihat memuakkan. Bahkan Hyo Ra menangkap sinyal yang benar-benar buruk dari aura Minho. Apa sebenarnya yang terjadi?

Hyo Ra mengerjapkan mata. Aigo! Sosok Minho hilang, batin Hyo Ra. Zrash.. sekali lagi angin dingin melintas di tengkuk Hyo Ra. Bau darah yang menyengat tercium oleh Hyo Ra.

Seseorang melingkarkan lengannya di leher Hyo Ra. Lengan itu kuat dan gagah, sayangnya berlumuran darah yang hampir mengering. Hyo Ra menoleh ke belakang. “Minho-ya,” bisiknya.

Minho tersenyum sinis. “Tunggulah, Hyo Ra-ya, delapan jam lagi,”

Sosok Minho hilang, namun bau darahnya masih melekat di leher dan kerah baju Hyo Ra. “Delapan jam? Apa maksudnya?”

Hyo Ra pergi meninggalkan ruang kelas. Satu jam, dua jam, tiga jam, berjam-jam waktu yang dihabiskannya untuk memikirkan Minho. Besok, tepat satu tahun setelah kematian Rae Hwa dan Minho. Hyo Ra benar-benar yakin Minho berniat membunuhnya.

 

***

 

Pukul tiga sore. Tepat delapan jam setelah Minho berbicara dengan Hyo Ra. Hyo Ra berjalan keluar kelas berniat melihat aktivitas teman-temannya yang tengah menyiapkan perlengkapan kemah. Krep.. seseorang mencengkram kaki Hyo Ra. Hyo Ra membeku di posisinya. Jantungnya seolah-olah berhenti. Dengan sisa-sisa kekuatannya dia menoleh ke belakang. “Minho-ya?”

Sosok Minho menghilang. Zrash.. secepat kilat sosok Minho berpindah di belakang Hyo Ra. Lengannya melingkar di leher Hyo Ra. Hyo Ra hanya diam. Matanya mengamati gerakan tangan Minho yang satu lagi. Tangan Minho yang satu lagi memegang sebilah pisau dan menghunuskannya ke leher Hyo Ra. “Kau siap, Hyo Ra-ya?”

Nafas Hyo Ra memburu. Ketakutan mulai muncul di hatinya. Hyo Ra memandang kedua tangan Minho. Tangan Minho terlihat bersemangat dan yakin sekali. Hyo Ra memberontak dan melepas paksa cengkraman Minho. “Andwae, Minho-ya, andwae!” seru Hyo Ra dan pergi meninggalkan ruang kelas.

Hyo Ra berlari, berlari hingga kakinya tercekat di pintu masuk pura sekolahnya. Hyo Ra duduk memeluk lutut di pintu masuk pura sekolahnya atau yang akrab disebut Padmasana. Hyo Ra menggigil, namun bukan karena kedinginan. Seluruh badannya bergetar seperti kehilangan kendali, keringat dingin mulai membasahi wajah dan tubuhnya. Bau darah di kerah bajunya benar-benar menyengat. Wajah Minho, suaranya, sikapnya, semua terbayang-bayang jelas di benak Hyo Ra. “Andwae, andwae, dia tak akan menemukanku di sini,” lirih Hyo Ra dengan pandangan menyelidik.

“Hyo Ra-ya, kau kenapa?” Jinki menghampiri Hyo Ra.

“De.. delapan jam,  Minho.. Minho da.. datang, Onew-ah,” Hyo Ra mencoba bicara sejelas mungkin meski badannya berguncang hebat.

“Delapan jam? Minho?” Jinki tak mengerti. Dia berjongkok dan memeluk Hyo Ra. “Kau tak usah takut, Hyo Ra-ya,” Jinki mengambil secuil tanah Padmasana dan mengoleskannya di kening Hyo Ra. Jinki melepas jaket hitamnya dan memakaikannya di badan Hyo Ra.

Jinki berjongkok di depan Hyo Ra sembari mengulurkan tangan kanannya. Hyo Ra memandang sosok Jinki, Lee Jinki. Hyo Ra memandang semua hal yang bisa ditangkapnya dari Jinki. Rambutnya yang lurus, lengannya yang kuat, matanya yang tajam, dan auranya yang tenang dan lembut. Sulit dipercaya, namja tampan yang terlihat gagah itu kini berada di depannya. Hyo Ra menyambut uluran tangan Jinki. Jinki merangkul pundak Hyo Ra dan membawanya pergi dari sana.

 

***

 

Jinki membawa Hyo Ra ke kelasnya. Hyo Ra masih menggigil, hingga wajahnya yang polos berubah pucat menyerupai mayat. Jinki mengusap-usap kepala Hyo Ra untuk menenangkannya. Bulu kuduk Jinki berdiri, Ia merasakan sesuatu. Setiap bayangan benda yang ada di kelasnya seperti bergerak. Tes.. setetes darah menetes di pundak Jinki. Jinki menengok ke atas, namun tak ada seorang pun di sana.

Tap.. tap.. tap.. terdengar suara langkah kaki. Teph.. sebuah tangan menyentuh bahu Jinki. Jinki menoleh ke belakang, namun tak ada siapapun di sana. Zrash.. sesosok bayangan lewat di depan Jinki. Jinki mengernyitkan alisnya. “Jangan main-main, Minho!”

Tap.. tap.. tap.. Jinki mendengar lagi suara langkah kaki. Di depan pintu ruang kelas berdiri sesosok namja. Jinki menajamkan pengelihatannya. “Mau apa kau, Minho?”

Minho tersenyum sinis. Matanya yang merah oleh darah berpandangan dengan mata Jinki. Minho menghilang dari pandangan Jinki. Seketika itu Hyo Ra memberontak dan bangkit mengejar Minho. “Minho-ya, tunggu!”

Hyo Ra berlari keluar kelas. “Darah?” desisnya. Lantai yang dipijak Hyo Ra penuh tetesan darah. Hyo Ra berlari mengikuti tetesan darah itu. Samar-samar terlihat sosok Minho berlari di depannya.

Jinki mengejar Hyo Ra. Ketakutan mencekam dirinya. Dia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya kalau terjadi apa-apa pada Hyo Ra. “Hyo Ra, di mana kau?!”

 

***

 

Ruangan gelap, besar, dan penuh debu, aula sekolah. Hyo Ra menuruni tangga menuju ke arah Minho. Kini Hyo Ra berdiri lima meter di hadapan Minho. Mereka berpandangan tanpa arti, kosong seperti tak mengharapkan apapun. “Hyo Ra-ya, tempat ini terlalu luas untuk kita berdua, bukan?”

Hyo Ra diam.

Minho tersenyum. “Baik, kalau begitu akan kuundang beberapa tamu lagi,”

Hyo Ra masih belum merespon apapun. Suara Minho terdengar terlalu nyaring dan bergema di telinganya.

Seseorang berdiri di samping Minho. Sosok kakek-kakek memakai pakaian serba putih dan membawa tongkat, itu penunggu ruang perpustakaan. Seseorang datang lagi, sesosok ular naga dan wanita cantik memakai banyak perhiahasan dan nampak seperti seorang Dewi, itu penunggu Beji di Padmasana. Sosok di samping Minho bertambah lagi, sepotong kepala yeoja berambut panjang, itu penunggu tower di belakang sekolah. Seseorang datang lagi, sosok yeoja memakai seragam putih abu-abu, itu penunggu kelas X-3, kelas Hyo Ra yang dulu. Beberapa makhluk datang bergabung lagi, sosok namja dan beberapa yeoja berpakaian putih kumal dengan rambut usang, mereka penunggu aula.

Hyo Ra tahu semua makhluk itu. Selama beberapa hari ini dia telah melihat sosok-sosok mereka. Beberapa sosok menyeramkan yang kini berada di hadapan Hyo Ra membuat perutnya melilit dan mual, kecuali sosok penghuni Beji Padmasana. Zrash.. sekali lagi Minho berpindah ke belakang Hyo Ra dan melingkarkan lengannya di leher Hyo Ra. “Bagaimana, Hyo Ra-ya? Sudah ramai, bukan?” Minho menghunuskan pisaunya ke leher Hyo Ra.

Wae, Minho-ya? Kenapa kau ingin sekali membunuhku?” Hyo Ra yang dari tadi diam angkat bicara. “Oh, aku tahu, kau belum bisa menerima kematianmu dan Rae Hwa, bukan? Dan kau beranggapan akulah yang menyebabkan kematian kalian berdua, iya kan?”

Minho tersenyum. “Bukan hanya itu,” Minho menjulurkan lidahnya menjilat rambut Hyo Ra. Lalu memamerkan giginya yang bertaring tumpul dan menggigit lembut leher Hyo Ra. “Wajahmu, matamu yang semangat dan penuh kobaran api, rambut dan tubuhmu harum sekali, lalu sinar dikeningmu itu, sinar merah itu, aku suka sekali.”

Hyo Ra mengerjapkan matanya untuk menahan rasa jijik yang luar biasa. Hyo Ra memberontak, berusaha melepaskan diri dari Minho. Pets.. pisau yang dibawa Minho mengenai kening dan tangan kanan Hyo Ra. Darah mulai mengucur  dan membasahi jaket hitam yang dipakainya. Hyo Ra terlempar dan tersungkur di lantai Aula. Minho yang berdiri di hadapannya tak bergerak sedikitpun. “Bahkan bau darahmu pun enak, Hyo Ra-ya,

“Ternyata kau sudah gila, Minho-ya!” teriak Hyo Ra.

Minho berpindah, kini dia berjongkok di hadapan Hyo Ra. Minho mengangkat pisaunya dan bersiap-siap menusuk Hyo Ra.

Hyo Ra menumpukan kedua sikunya di lantai dan menatap Minho dengan emosi yang berkecamuk. “Coba lihat dirimu! Apa ini Minho yang selama ini pernah aku kenal?” Hyo Ra menguatkan kepalan tangannya.

“Diam! Aku kira kau sahabatku, tapi ternyata kau tak lebih dari seorang pengecut. Dasar Pengkhianat! Pembunuh!” Minho berteriak.

Hyo Ra medesah marah. “Pengkhianat? Kaulah yang berkhianat, Minho. Kau lupa denganku setelah kau pacaran dengan Rae Hwa. Bahkan kau selalu memojokkanku dan sengaja ingin membunuhku? Itukah ucapan terima kasihmu setelah semua bantuan yang pernah kuberikan? Kaulah yang pantas disebut pembunuh. Kau bisa saja berencana membunuhku, tapi aku tak akan mati sampai Tuhan mencabut nafasku!”

Minho mengcengkram kerah baju Hyo Ra. “Apa yang membuatmu seyakin itu? Apa yang membuatmu merasa kalau kaulah yang paling benar?!”

Hyo Ra balas mencengkram tangan Minho. “Kau ingat, Minho? Apa kau ingat saat kita masih bersahabat? Bersahabat baik sampai akhirnya kau minta tolong padaku tentang Rae Hwa?” Hyo Ra menghela nafas berat. “Apa kau sadar setelah itu kau banyak berubah? Kau selalu takut pada yeoja chingu-mu yang pencemburu itu. Kau mempercayai semua kata-katanya setiap dia mengadukan sesuatu yang tak benar tentang aku,” pandangan Hyo Ra berubah nanar. “Rasa cintamu itu membuatmu gila. Kau tak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan kau tak bisa melawan orang yang ingin menghancurkan persahabatan kita. Dan sekarang setelah semua terlambat, kau ingin membunuhku? Apa dengan membunuhku akan membuatmu dan Rae Hwa hidup kembali?!”

Minho tercengang, raut wajahnya yang pucat berubah seperti tersadar dari sesuatu.

“Hyo Ra-ya!!” Jinki masuk ke dalam aula. Secepat mungkin dia menuruni tangga dan menarik Hyo Ra menjauhi Minho. Jinki terkejut melihat semua penunggu sekolahnya berkumpul di aula itu. Jinki memandang tajam ke arah Minho. Pandangan yang menantang. Minho menjauh dan bergabung lagi dengan kerumunan penunggu sekolah.

Hyo Ra melepaskan diri dari Jinki dan berjalan mendekati Minho. Jinki tak mencegah itu, seakan tahu apa yang akan Hyo Ra lakukan. Hyo Ra terus berdoa di dalam hatinya. Jarak dirinya dan Minho tinggal satu meter lagi. Sekali lagi mereka berpandangan. “Minho-ya, kau boleh membenciku kalau kau menganggap aku telah mencampuri urusanmu dengan Rae Hwa. Hajiman, jangan melakukan hal yang tak berguna seperti ini. Lihat dirimu! Pakaian PMR yang kau pakai itu, itu pakaian kebesaranmu. Dalam ilmu PMR tak ada satupun yang mengajarkan cara menyakiti seseorang. Kau itu memalukan, kelakuanmu ini hanya akan mencoreng nama baikmu!”

Minho hanya diam.

Hyo Ra berjalan dan berhenti tepat di depan Minho. Darah yang mengucur di kening dan lengan Hyo Ra mulai menetes di lantai. “Bunuh aku!! Jika itu memang bisa membuatmu puas!” Tak ada tanggapan sama sekali dari Minho. “Ayo, bunuh aku, Choi Minho!” sungut Hyo Ra.

Trang.. Pisau yang dipegang Minho terjatuh ke bawah. Kedua tangannya terkepal. Sunyi menghiasi mereka. Minho seperti merasakan kembali cerita persahabatannya dengan Hyo Ra. Dia teringat kembali ketika mereka tertawa bersama, melakukan banyak hal bersama, melewati suka dan duka bersama, hingga hadirnya sosok Rae Hwa yang kini diketahui Minho sebagai penghancur persahabatannya dengan Hyo Ra. Minho mendekat dan memeluk Hyo Ra, Dia sadar betapa berartinya seorang Hyo Ra baginya. Hyo Ra menyadari air matanya mulai mengalir. Pelukan Minho dingin dan tanpa kehidupan. Namun itu begitu berharga bagi Hyo Ra, pelukan persahabatan yang tak akan mampu dirusak dengan kehadiran orang ketiga. “Mianhae, Hyo Ra-ya, mianhae jeongmal,”

Hyo Ra terisak, “Ne, gwenchana. Jangan mengulanginya lagi, karena pada akhirnya kau akan membenci dirimu sendiri. Aku tahu kau bisa. Harga dirimu tinggi dan kau tak akan terjatuh hanya karena hal seperti ini. Sekarang kita sudah kembali, kembali seperti dulu lagi. Kita tetap menjadi sahabat meski berbeda dunia,”

Hyo Ra melepaskan diri dari pelukan Minho. Sosok-sosok yang ada di sekitar Minho menghilang. Kini Hyo Ra bisa menujukan pandangannya hanya pada Minho. Sosok Minho yang dilihatnya seperti menangis, namun tersenyum lepas tanpa beban. Sosok itu semakin lama semakin tipis lalu hilang entah ke mana.

Hyo Ra tak menyadari kehadiran sesosok makhluk setelah Minho menghilang. Di sudut aula sesosok yeoja memakai pakaian pramuka, berambut panjang, bertubuh pendek dan agak gendut berdiri tegak. “Mianhae, Hyo Ra-ya. Seandainya aku tahu kehadiranku hanya merusak hubunganmu dan Minho, maka aku tak akan pernah masuk dan berada di tengah-tengah kalian.” ujar yeoja itu lalu menghilang bersama hembusan angin.

Jinki mendekati Hyo Ra. Hyo Ra menoleh dengan wajah yang kusut, berlumuran darah dan dipenuhi air mata. Jinki memeluk Hyo Ra dengan erat, erat sekali. “Menangislah Hyo Ra-ya, menangislah sepuasnya!”

***

Hari Sabtu, pukul 06.00 wita. Hyo Ra dan Jinki sudah berada di sekolah agar tak terlambat berangkat ke lokasi perkemahan. Mereka memakai pakaian kebesaran mereka, pakaian PKS. Hyo Ra berdiri didepan podium. Dia menyandarkan punggungnya di tiang bendera dan menengadahkan kepalanya ke langit biru. “Lihatlah, Minho! Sekarang aku juga memakai pakaian kebesaranku, sama sepertimu. Aku tahu sekarang kau telah berada di tengah cakrawala luas yang akan membawamu terbang tinggi terlepas dari segala kemungkinan dan ketidakmungkinan. Biarlah hanya angin atau sekelompok kawanan burung yang akan mendongengkan cerita persahabatan kita. Aku harap kau bahagia dan bisa bersatu dengan pencipta kita. Rest in piece, my first love,”

Jinki menggendong ranselnya dan berjalan ke tempat Arani.”Jinki, kutitipkan Hyo Ra padamu,” telinga Jinki menangkap suara.

Jinki tersenyum. “Ne, ara, Minho-ya,” bisik Jinki.

Jinki menghampiri Hyo Ra. “Ya, Hyo Ra-ya!”

Hyo Ra menoleh. “Ya, Onew-ah!” Hyo Ra tersenyum manis. “Gomawo untuk yang kemarin, aku tak nmeyangka kau mau membantuku sejauh itu,”

Raut muka Jinki memerah. “Apaan sih kau ini? Biasa saja,”

Hyo Ra memandang Jinki, pikirannya seperti terhanyut. Namja yang kini berdiri di depannya mampu membutannya sulit bernapas dan membuat detak jantungnya tak karuan. Hyo Ra menepuk pundak Jinki. “Aku tahu selama Minho tak ada, kau yang selalu menjagaku sadar maupun tak sadar banyak pengorbanan yang sudah kau lakukan untukku. Kau itu ibarat silent angel,

Jinki memiringkan kepalanya. “Mwo?”

Hyo Ra tertawa kecil. “Silent angel itu malaikat yang sunyi. Dia selalu menolong dan menjaga kita di manapun dan kapan pun tanpa pernah meminta balasan. Itulah dirimu, Onew-ah,

Jinki meraih jemari Hyo Ra yang berlabuh di pundaknya dan menggenggamnya erat. “Gomawo, Hyo Ra-ya. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan,” Jinki mendekatkan ujung bibirnya ke telinga Hyo Ra. “Saranghae,”

Hyo Ra terkesiap, jantungnya seperti terhenti. Hyo Ra mengembangkan senyum termanisnya. Senyum yang indah dan terlihat malu-malu. “Nado saranghae, my silent angel,” Hyo Ra berlabuh ke pelukan Jinki dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang Ia rindukan.

Tanpa Hyo Ra dan Jinki sadari Minho berdiri di tengah-tengah lapangan dan memandang mereka berdua. “Tertawalah Hyo Ra, Lee Hyo Ra. Nikmatilah garis kehidupan di tengah cakrawala yang indah ini. Aku tak akan membiarkan seseorang merusak hubungan kita lagi. Aku menyayangimu. Setiap saat aku akan menjagamu, setiap saat, sebelum Tuhan kembali mengutusku turun ke dunia. Ketulusan dan perjuanganmu akan membawamu pada kebahagiaan. Karena aku tahu, Tuhan itu adil, Tuhan itu Maha adil.”

Zrasshh, sekilas ada angin yang menyapu rambut Hyo Ra dan Jinki. Mereka tersentak dan menengadah ke atas. Sosok seorang namja terlihat samar di antara kumpulan awan. Terlihat suci dan begitu bersih. Sinar-sinar putih terpancar dari tubuhnya menambah kemilau pakaian PMR yang dipakainya, sinar itu menyamarkan kilau mentari pagi. Itu Minho dengan rupanya yang tenang dan penuh harap. Semangat tergambar jelas di sorot matanya.

Hyo Ra tersenyum. “Kini kutemukan penggantimu. Penggantimu yang kulihat bagai silent angel. Aku tak tahu, apakah dia bisa menggantikan ketiadaanmu? Semoga saja jawabannya, ya. Aku harap kisah kita tak berhenti sampai di sini. Akan kutunggu saat di mana kita bisa bersama lagi. Annyeonghi gyeseyo, Choi Minho.”

 

FIN

 

P.S : Gomawo udah baca, chingu. Kayaknya ini FF bener-bener gaje yakh.. maklumlah beberapa adegannya aku angkat dari pengalamanku sendiri. Jadi mian banget kalau ceritanya jadi jelek.. T.T

Oh ya, hampir aja lupa, saengil chukkae Onew oppa, Minho oppa, Wish you all the best, God bless you always.. saranghae.. ‘^^,

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

Advertisements

106 thoughts on “[FF PARTY] Silent Angel”

  1. gila..
    kenapa aq baru baca FF keren n bikin merinding disko ini sekarang?
    telat banget.. ==’

    sumpah thor..
    aq suka banget sama tema yang kamu angkat..
    ‘anak indigo;’ dng mengangkat unsur daerah..
    huaa.. keren ^^b

    horrornya juga dapet banget .
    ada kisah cinta tapi gak jd INTI cerita.. malah menonjolkan crita persahabatannya.. bikin terharu..
    dan sumpah.. KLIMAKSNYA dapet banget *ngasih jempol lagi*
    aq az mau nangis pas bagian Hyo ra nyampaikan perasaannya ma Minho…
    perasaan cinta yang terpendam.. *mewek*

    ohya.. karena dpt kabar nih author juga kepilih jd Main Author disini…
    aq mau ngucapkan CHUKKAE.. CONGRAT ^^
    bikin karya lebih keren dengan tema yang lebih OKE lagi ya..
    kutunggu ff2mu selanjutnya ^^/
    SEMANGAT

  2. Hwehehe. .
    Gak apa-apa kok bAru bAca. .

    Iseng niH aku ngangkat tema tentang anak indiGo, aBis, keren rasanya..
    *plakKk*

    iyakah?
    Aku juga mewek pas buatnya,
    *pletakK*

    hwehehe, . .
    GoMawo. .
    GoMawo banget. .
    Nanti akan kuusahakan buat karya yang lebiH bAik lagi.. ^^
    *bow*

  3. Mengharukan ketika Minho berpesan pada Jinki untuk menjaga Hyora. Hyora pun sadar bahwa Jinki adalah orang yang diam-diam menjaganya.
    Nice story.

  4. Seerrreeemmm banget… ><
    Tapi sumpah dah…. keren amat!!! Penulisannya itu loohh… DEBAK!! XDDD

    Waahhh… kak chandra orang Bali juga??? Sama denganku!!! 😀
    Aku dari Buleleng, kakak darimana??? *sok kenal banget -,-*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s