Love Without A Name – Part 4

Author : flaming tazkia (tazkia amalia)

Main Cast : Lee Jinki, Kim Nara, Choi Minho, Kim Kibum, Lee taemin, Kim Jonghyun

Support cast :Cho HyeRa,
Park Yeon,  Kang Minri, Shin Jojung, Lee Hyun Byul,

length :sequel

genre : mistery, life, family, romance, friendship.

rating: pg-15

Nara POV~

“anneyong, Nara? Bisa kita bertemu malam ini?” tanya Jinki di telepon.

“memangnya ada apa Jinki-ssi? Ne, ku rasa aku bisa” jawabku.

“ada yang harus kita bicarakan, secepatnya. Aku akan menjempumu malam ini” Jinki menekankan pada kata secepatnya.

“baiklah, aku tunggu.” Plip.. Aku mematikan handphonenya. Ada apa sebenarnya dia menelponku? Apa yang harus kami bicarakan? Pertunangan itu? berbagai macam pertanyaan berkecamuk dpikiranku. Ah masa bodoh tentang hal itu. Dia akan menjemputku malam ini, dan ini masih pukul 4 sore lebih baik aku tidur dulu.

***

“Nara, will u marry me?” apa? Apa yang dikatakan Jonghyun padaku? Apa dia sedang bercanda lagi?

“Nara! Kau dengar aku? Maukah kau menikah denganku?” Jonghyun mengulang pertanyaannya lagi.

“Ka..kau serius Jjong?” aku masih tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.

“aku tidak bercanda Nara, aku sungguh-sungguh mencintaimu. Apa kau masih belum mengerti?”

“ani, bukan aku tidak mengerti. Tapi bukankah kita masih kecil? Dan kau tau? Bunga yang sedang kau pegang itu adalah bunga yang palingku benci.”

“bunga ini? Bunga mawar? Kenapa kau membencinya? Bukankah bunga ini indah? Ayolaaah.. kau menikah saja denganku?” Jonghyun merengek-rengek didepanku. Kami sedang berada ditaman bermain dekat rumah.  Aku sedang dudk di ayunan, dan Jonghyun berlutu dihadapanku.

“hah, kau lucu sekali. Sudahlah lupakan, aku tak mau menikah denganmu. Kita masih kecil, aku tak mau menikah lalu hidup sengsara.” Jawabku ketus.

“baiklah..aku menyerah. Kalau begitu, kita buat janji saja. Setuju?” Jonghyun berdiri dihadapanku.

“janji? Janji apa?” tanyaku penasaran.

“janji padaku, kalau sudah besar nanti, kau mau menikah denganku.” Aku berpikir sejenak setelah mendengar ucapan Jonghyun. Rupanya dia niat sekali ingin menikah denganku.

“emh.. baiklah. Aku ber……”

“andwae!” tiba-tiba ada suara seorang laki-laki dibelakangku. “dia akan menjadi milikku, dank au tak boleh memilikinya.” Sambungnya

Aku tak tau suara itu. Aku lalu menoleh ke belakang, dan……

Loverholic..robotronic..loverholic..robotronic..

“aaa..mianhae Taemin. aku tertidur. Ne, aku akan segera kesana.” Suara handphoneku membangunkanku. Rupanya Taemin  yang membangunkanku. Aku benar-benar lupa kalau sore ini kami ada latihan untuk acara pentas seni sebelum liburan.

Aku segera bangun dan mandi. Aku teringat mimpiku tadi. Aneh sekali. Aku sangat penasaran dengan suara laki-laki yang ada dibelakangku tadi. Siapa dia? Sepertinya aku mngenal suaranya.

Ah, lebih baik kupakan saja mimpi itu. Jonghyun juga aneh sekali, untuk apa dia melamarku saat kami masih SMP? Arghh.. lupakan..lupakan mimpi itu tidak penting. Sekarang aku harus cepat-cepat pergi kesekolah.

Aku segera bangun dan mandi, lalu segera pergi menuju sekolah.

“kau kemana saja?” tanya Taemin ketika aku baru saja datang.

“mianhae, aku tertidur Taemin. Apa semuanya sudah berkumpul?”

“lain kali jangan begitu lagi.” Taemin tersenyum padaku. “semua sudah hadir.cepat ambil biolamu.”

Aku pun segera mengambil biolaku. Kami berlatih di aula sekolah. Ada 25 orang dalam kelompok musikku. Semuanya memang anggota ekstrakulikuler music.  Ada 7 orang yang memegang gitar, 9 orang yang memengang biola, termasuk aku sebagai pemain biola utamanya. 4 orang yang memegang cello, 4 orang memengang harpa dan hanya satu orang yang memegang piano, yaitu Taemin, yang sekaligus menjabat sebagai ketua ekskul.

Kami semua berlatih dengan serius, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.

“Taemin, aku lapar sekali. Lebih baik kita makan malam saja.” Kata seorang pemain cello.

“iya, aku juga lapar sekali..” “aku juga…” “aku juga…” yang lainnya juga mulai memohon untuk menghentikan latihan.

“baiklah, mungkin latihan hari ini cukup sampai disini, besok kita lanjutkan lagi.” Taemin berdiri dari duduknya didepan piano. “letakkan semua alatnya ke ruang music, aku akan segera datang membawa makanan.” Sambungnya sambil tersenyum.

“Nara, kau ikut denganku.” Tiba-tiba Taemin memanggilku dan mengajakku ikut bersamanya membeli makanan.

“ne, ayo!” kataku bersemangat.

***

“kenapa bisa sampai tertidur?” tanya Taemin padaku saat kami berjalan ke luar sekolah mencari makanan.

“hanya kecapean.” Jawabku.

“kasian sekali, kenapa sampai kecapean?” Taemin mengusap kepalaku lembut. Aaah, kenapa tiba-tiba dia berbuat begini?>< “jalannya lambat sekali, ayo cepat. Natnti teman-teman marah pada kita.” Taemin menarik tanganku lembut, lalu mulai berlari.

Kami tiba disebuah kedai mie, lalu membeli makanan disana. Ketika pulang, Taemin menggandeng tanganku lagi.

“makanan dataaaaaang!” kata Taemin kepada teman-teman yang lain yang sudah berada di taman sekolah dekat aula. Sepertinya sudah lama menunggu.

“ah, akhirnya datang juga. Oh ya, minumannya ada di dalam aula.”

“biar aku yang ambil.” Kataku sambil berlari menuju aula. Aku mengambil 10 botol besar minuman dan gelas plastic yang ada disana. “banyak sekali, siapa yang membelinya?” pikirku. Aku segera keluar lagi menuju taman. Tapi langkahku terhenti begitu mataku tertuju pada sebuah kertas yang ada dilantai.

“Pin Gi dan Hyun Wang berseteru” itu adalah berita yang ada dikertas tersebut. Hyun Wang? Bukankah itu perusahaan tempat ayah bekerja milik tuan Lee? Lalu apa itu Pin Gi? Kertas itu kelihatannya sudah tua sekali, sudah berwarna kuning dan tulisannya agak sedikit buram. Sepertinya itu bagian Koran yang sudah digunting. Aku mulai membaca berita yang ada didalamnya dengan teliti. “bekas kekasih lama yang kembali berseteru dalam bisnisnya. Rupanya Pin Gi belum merelakan Lee Hyun Byul, pemilik Hyun Wang Company bersama wanita lain. Menurut kabar yang beredar, perusahan baru yang didirikan dimaksudkan untuk menyaingi perusahaan Hyun Byul dan isterinya.” Hanya bagian itu yang dapat ku baca, selebihnya, tak bisa terbaca sama sekali. Dipojok kirinya terdapat foto seorang laki-laki dan seorang wanita. Aku tak mengenali siapa wanita itu, tapi laki-laki itu sepertinya memang tuan Lee.

Dari mana datangnya kertas ini? Orang-orang yang menonton latihan kami tadi? Tapi bukankah yang meihat latihan kami tadi juga murid-murid sekolah ini juga. Siapa yang membawa Koran yang mungkin, sudah sangat lama ini.

Aku mengambil kertas itu dan menyimpannya dikantong celanaku, lalu kembali ke taman, mungkin teman-teman sudah lama menunggu.

~End Nara POV

***

Author POV~

“ayo! Cepat buka makanannya!”

“pelan-pelan. Ah, kalian seperti anak kucing yang sangat kelaparan saja.” Kata Taemin pada teman-temannya.

“apa kau yang namanya Taemin?” tiba-tiba Jinki sudah berada disamping Taemin.

“aaa, saya memang Taemin. Anda siapa? Mengagetkan saja.” Taemin sedikit kaget karena ada orang tak dikenal tiba-tiba sudah berada disampingnya.

“aku Lee Jinki, guru baru di sekolah ini.” Jawab Jinki sambil tersenyum.

“oh, aku tau. Tadi pagi katanya ada guru baru di jurusan Film, rupanya anda. Salam kenal.” Taemin lalu membungkukkan badan sebentar. “kenapa anda bisa ada disini? Menonton latihan kami tadi?” tanyanya lagi.

“ani. Aku baru datang. Sedang mencari seseorang disini.” Matanya kesana-kemari mencari seseorang.

“mianhae, menunggu lama.” Tiba-tiba Nara datang dari aula membawa minuman. Dia langsung kaget begitu melihat Jinki juga berada disana. “ke..kenapa kau ada disini Jinki-ssi?” tanyanya.

“tadi aku kerumahmu. Kau tidak ada, katanya sedang berada di sekolah.” Jawab Jinki datar.

“rumah?” Taemin memandang heran Nara dan Jinki.

“ah, tidak ada apa-apa Taemin. Lebih baik kita makan saja, kau sudah lapar bukan? Kau juga ikut makan saja Jinki-ssi.” Nara menarik Taemin menuju teman-teman lain yang sedang makan. Jinki mengikutinya dari belakang.

“kalian sudah lama kenal?” Taemin bertanya pada Nara disela-sela makannya, membuat Nara tersedak. “kau tidak apa-apa?” tanya Taemin lagi.

“tidak..tidak apa-apa.. uhuk..uhuk..”

“biar ku ambilkan air.” Taemin hampir saja mengambilkan air untuk Nara. Tapi rupanya Jinki lebih cepat dari Taemin.

“ini..” Jinki memberikan sebotol air pada Nara.

“yak.uhuk.. kau gila? Botolnya besar sekali.” Kata Nara sambil memegang lehernya.

“ini! Cepat minum” rupanya Taemin tak mau kalah cepat lagi dari Jinki, iya segera mengambilkan gelas dan menuangkan airnya. Taemin mengusap-usap belakng Nara agar tersedaknya berhenti. Jinki hanya diam saja dan seakan tak peduli dengan hal itu.

***

“kami pulang. Sampai jumpa ..”

“Nara, kau pulang dengan siapa? Ini sudah terlalu malam. Tidak baik untuk gadis sepertimu ada dijalan sendirian.” Taemin menawarkan Nara untuk pulang bersamanya.

“biar aku yang mengantarnya pulang. Aaku mencarinya kesini karena ada urusan.” Jinki bersuara.

“urusan sekolah.” Nara menambahkan. Iya tak mau Taemin ada salah paham terhadap hubungannya dengan Jinki.

“oh, begitu. Kalau begitu aku pulang dulu, Nara, Jinki-ssi, sampai bertemu besok.”  Taemin pun pergi. Kini yang tertinggal hanya Jinki dan Nara.

“cepat masuk ke mobil, nanti malah semakin malam.” Mereka berdua lalu berjalan menuju mobil yang terparkir dihalaman depan sekolah. Keduanya hanya diam saja ketika didalam mobil.

“kemana ini? Sepertinya jalan kerumahku?” tanya Nara kemudian.

“memang jalan kerumahmu.” Jawab Jinki singkat sambil terus focus menatap jalanan didepannya.

“katanya ada sesuatu yang harus dibicarakan?”

“kita bicara di taman dekat rumahmu saja.”

“seperti tak ada tempat lain saja.” Suasana kembali hening sampai ketika mereka sudah sampai di taman.

“jadi apa yang akan kita bicarakan?” tanya Nara langsung.

“soal pertunangan itu.” Wajah Jinki terlihat sangat serius.

“malam tadi aku kembali menguping pembicaraan halabeoji, appa dan umma didalam ruangan kerjanya.”

“apa..apa.. yang kau dengar?” Nara mengunjang-gunjang tubuh Jinki karena tidak sabar ingin mngetahui apa yang dibicarakan 3 orang itu.

“tenang sedikit.” Jinki membentak Nara. Membuat Nara diam seketika. “40 tahun lalu. Karena hal abeoji dan pacarnya.”

“40 tahun lalu? Lama sekali, memangnya ada apa 40 tahun lalu?” Nara semakin penasaran.

“aku mendengar hal abeoji kembali menceritakan hal ini kepada appa dan umma. Jadi, 40 tahun lalu, waktu hal abeoji masih berumur 31 tahun. Saat itu Hyun Wang mengalami kemajuan pesat dibanding perusahaan lain. Ada sebuah perusahaan baru yang bernama Pin Gi Ladies, bermaksud menyaingi Hyun Wang. Rupanya pemilik perusahaan itu adalah mantan kekasih hal abeoji, namanya Na Pin Gi. Dia rupanya juga sudah banyak dikenal oleh public karena dia sering memberi santunan dalam jumlah besar kepada panti asuhan-panti asuhan, orang yang sangat dermawan singkatnya.”

“apa kau sudah tau, kalau sebenarnya halbeojiku dan halmeonimu dulu juga adalah mantan pacar?” tanya Jinki. Nara hanya geleng-geleng kepala. Ia masih berusaha mencerna apa yang diceritakan Jinki padanya tadi. “halmeoni adalah pacar hal abeoji setelah Pin Gi. Tapi pada akhirnya..”

“tapi halmeoni tidak menikah dengan tuan Lee?” Nara memotong omongan Jinki.

“tunggu dulu. Jangan ada memotong ucapanku. Mereka memang dulu sepasang kekasih. Tapi halmeonimu harus ikut ayahnya yang pindah tugas kedaerah lain yang jauh dari Seoul, halmeonimu tak bisa lagi bersama dengan hal abeojiku. Lalu halmeonimu meminta hal abeojiku menikah saja dengan sahabatnya. Hal abeoji setuju saja karena itu permintaan hal meonimu, orang yang sangat dicintainya. Tapi apakah kau juga tau? Hal abeoji memutuskan hubungan dengan Pin Gi tidak secara baik-baik. Pin Gi merasa halmeonimu lah penyebab berakhirnya hubungan cinta mereka, dan dia, menaruh dendam yang amat besar kepada halmeonimu. Tentunya terhadap hal abeojiku juga. Itulah sebabnya ia ingin membuat apa saja untuk membuat keluarga kita berdua menderita. Contohnya dengan menyaingi perusahaan itu. Tapi ternyata usahanya selalu gagal.” Jelas Jinki panjang lebar.

“lalu bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Nara.

“dia sudah meninggal.”

“apa? Sudah meninggal?” Nara sedikit tidak percaya.

“ne, meninggal. Dan dari cerita hal abeoji yang ku dengar, Pin Gi tak mempunyai keluarga besar. Anak dan menantunya merupakan anak tunggal. Begitu pula dengan cucunya, hanya ada satu. Dan tak ada yang tau, siapa cucunya itu. Dan sulitnya, cucunya itulah yang harus diwaspadai.”

“waeyo? Cucunya juga ingin membalaskan dendam halmeoninya?”

“tepat sekali. Dan beberapa waktu yang lalu, ada sebuah berita yang beredar dalam sebuah jaringan internet pribadi, berita itu mengarah kepada keluarga kita berdua.” Jelas Jinki lagi.

“berita apa?” tanya Nara semakin penasaran.

“didalam berita itu, dia menyebutkan bahwa “keturunan terakhir Pin Gi Ladies sudah kembali. Aku harap orang yang membuat garis hitam dikeluarga kami berhati-hati” utusan hal abeoji mencoba melacak jaringan internet itu. Tapi tak ada yang bisa mengetahui dari sumber berita itu.”

“memangnya dia mau apa?”

“tentu saja membalaskan dendam halmeoninya! Kau itu bagaimana? Tidak mengerti?” Nara hanya terdiam. “mungkin saja dia sekarang sedang berada disekeliling kita. Dan kau juga harus memahami, sudah tidak mungkin dia akan membalaskan dendam keluarga itu dengan cara-cara yang baik. Mungkin membunuh, melenyapkan satu persatu.” Sambung JInki, ia juga bergidik ngeri mendengar ucapannya sendiri.

“terlalu kotorkah hatinya?” ucap Nara asal.

“maksudmu?” Jinki tidak mengerti.

“hanya karena masalah cinta? Ia tega ingin melampiaskan dendamnya kepada keluarga kita? Dia pikir cinta itu apa? Segalanya?”

“mungkin saja, cinta adalah segalanya. Aku rasa itu alasan orang tua kita dan hal abeoji menjodohkan kita berdua. Mungkin saja untuk menjaga dan membuat keluarga kita menjadi satu, atau untuk menyusun rencana jika suatu saat sang cucu itu benar-benar muncul.” Jinki menghela nafas panjang.

“sepertinya ini memang takdir. Mungkin judul hidup kita sekarang adalah “melawan keturunan serigala jahat.”

“ahahahha.. judul dongeng darimana itu?” Jinki tertawa terbahak-bahak.

“yak, kenapa kau tertawa? Tak ada yang lucu.” Nara memukul Jinki pelan.

“siapa bilang tidak lucu? Ahhaa..” Jinki masih saja tertawa.

“ah, tunggu, ada yang kelupaan.”

“apa?” tanya Jinki menghentikan tawanya.

“saat aku mengambil minuman di aula sekolah, aku menemukan kertas ini.” Nara mengeluarkan kertas Koran yang ditemukannya tadi dengan hati-hati.

“apa ini? Sepertinya Koran yang sudah sangat lama?” Jinki mencoba membaca tulisan-tulisan yang ada dikertas itu.

“sepertinya iya. Sulit sekali untuk membaca tulisan yang ada disana.”

“ini berita hal abeoji dan Pin Gi?” tanya Jinki.

“ada foto tuan Lee disitu.” Nara menunjuk foto yang ada dibagian kiri atas.

“sepertinya ini Koran 40 tahun lalu. Siapa yang membawanya?”

“molla. Aku menemukannya di lantai. Mungkin dari penonton yang melihat latihan kami tadi. Tapi siapa? Aku rasa yang datang tadi Cuma murid-murid sekolah. Tak ada orang luar.”

“tidak mungkin cucunya seorang murid. Yang aku dengar, cucunya berumur 2 tahun diatasku.” Kata Jinki.

“entahlah…..”

“ah, sudahlah. Biar aku simpan Koran ini.” Jinki lalu memasukkan kertas Koran itu kedalam mobil. “lebih baik kita pulang saja, ini sudah terlalu malam.”

“aku juga sudah mengantuk.” Nara menghampiri Jinki lalu masuk kedalam mobil.

Tanpa mereka sadari, ternyata ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka sejak tadi.

***

“Anneyong. Masih bersemangat hari ini?” miss Hyera memasuki kelas.

“Yes…!” jawab semuanya.

“karena kita sudah selesai ulangan akhir, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“tidur, miss” teriak Jojung diiringi teriakan ‘wuuuuuu….’ Dari teman-teman yang lain.

“bagaimana kalo menceritakan tentang kehidupan pribadi saja.”

“pribadi apanya? Karena pribadi tidak boleh diceritakan tau..”

“kita sudah sekelas selama hampir 2 tahun, bukankah sudah menjadi saudara dekat? Paling tidak harus tau beberapa hal pribadinya lah..”

“iya, lagipula, miss Hyera juga sudah mengajar sejak kita kelas 1.”

“sudah..sudah.. baiklah, karena maunya begitu. Saya akan menuliskan dalam 4 kertas, isinya, keluarga, musuh, persahabatan, dan cinta. Jadi ini akan di undi ketika kalian maju, dan kalian harus menceritakan tentang pengalaman pribadi apa yang kalian alami sesuai dengan tulisan yang ada di kertas itu. Misalnya, keluarga. Apa pengalaman pribadi kalian yang paling berkesan ketika bersama keluarga. Bagaimana?” tanya Miss Hyera.

“setujuuuu…”

“nah yang pertama, Minri saja.” Miss Hyera menunjuk Minri.

“eh, aku?”

“ya, Minri. Ayo maju.” Minri lalu maju kedepan kelas, lalu mengambil salah satu kertas.

“nah, Minri buka kertasnya dan ceritakan pengalamanmu.”

“ne. persahabatan.” Minri tersenyum. “tak terasa kini aku sudah menjadi gadis remaja. Sekarang aku berada disini, berdiri didepan teman-teman semua. Kalian semua adalah sahabatku saat ini. Apakah kalian tau? Dulu aku hampir tak punya teman. Tak banyak orang menyukaiku. Mereka bilang aku terlalu manja, terlalu cengeng, tidak enak diajak ngobrol, tidak nyambung, menyebalkan dan sebagainya. Aku akui, aku memang manja, mungkin karena aku seorang anak tunggal sama seperti Nara. Tapi bedanya, dia tidak manja sepertiku.” Minri tersenyum pada Nara. “tapi disini berbeda, kalian tidak pernah menganggapku menyebalkan. Kalian mau menjadi temanku. Semuanya terasa berbeda, aku mulai mengerti arti hidup karena kalian, karena kalian teman-temanku. Kalian yang mengajariku berbagai hal yang belum pernah aku ketahui. Tak banyak yang bisa ku katakana, hanya kata terima kasih kepada kalian semua yang sudah mau menjadi temanku.” Minri sedkit terisak. “Gomawo. Nggak jelas ya ceritanya?” dia tersenyum kecut. Teman-teman yang lain bertepuk tangan, Nara dan Yeon berdiri dan memeluk Minri. Tak terasa, akhirnya air mata Minri jatuh juga.

“ya, sudah. Sekarang Minri silahkan duduk, tapi sebelumnya silahkan tunjuk temanmu yang akan maju berikutnya.” Kata miss Hyera.

“aa, Nara saja.” Minri menunjuk Nara.

“mwo? Kenapa aku?” akhirnya dengan sedikit terpaksa, nara mengambil salah satu kertas yang ada di meja dan membukanya.

“cinta.” Nara memulai ceritanya. “apakah itu cinta? Apa kalian tau apa itu cinta? Sungguh aku tak tau apa itu cinta. Cinta kepada Tuhan itu yang bagaimana, cinta kepada orang tua itu yang bagaimana, cinta kepada teman itu yang bagaimana, cinta kepada lawan jenis itu yang bagaimana. Banyak orang mengatakan bahwa kita harus mencinta orang tua dan teman-teman kita. Tapi bagaimana dengan lawan jenis? Dengan pacar? Sepertinya kebanyakan orang lebih mencintai pacarnya dibanding orang tua dan temannya. Padahal yang sebenarnya itu apa? Pacar bukan berarti lebih baik. Jangan menyalah tafsirkan cinta, hanya ketika kita bersama pasangan/pacar saja. Pernahkah kalian mendengar, ada seorang menyimpan dendam yang amat sangat sepanjang hidupnya hanya karena terlalu cinta dengan mantan kekasihnya. Bukankah itu konyol? Dia tega mengotori hatinya hanya karena hal sepele. Dia tidak bisa menyadari bagaimana indahnya hidupnya jika dia tidak menyimpan dendam itu. ..” Nara masih saja mengoceh. Seluruh kelas hening, memperhatikan apa yang dikatakan Nara.

~end author POV

***

No One POV~

“Brengsek. Dia pikir apa yang dikatakannya selalu benar? Apa dia pikir dia hebat?” aku tak terima, si Nara itu menceritakan tentang nenekku kepada yang lain. Berhak apa dia? Tidak ada yang salah dengan nenek, tidak ada yang salah dengan keluargaku. Menyimpan dendam juga bukan hal yang buruk. Dia pikir hatinya itu bersih? Cih, lihat saja, gerak geriknya tak mungkin bisa lepas dari mataku. Juga laki-laki bernama Jinki itu. Kehidupan kalian akan hancur ditanganku.

~end No One POV

***

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


16 thoughts on “Love Without A Name – Part 4”

  1. Waaah keren kereeen, bkin penasaran nih ceritanya, ditunggu part selanjutnya^^

    Oh iya ini part 3 nya udah keluar apa belum?? kok aku cari2 gak ada?? 😦

  2. mianhe aku cuma comment di ff yang ini soalnya ngebut baca dr yang part 1… dan aku ngalamin sama kaya yang diatas *tunjuk2* aku nggak nemu yang part 3nya…kalo udh dipost boleh minta linknya? gomawo..

    oh iya aku reader baru kekeke~… ditunggu part selanjutnya ^^

  3. anneyong ^^
    gomawo udah smpetin baca ..
    nyari part 3 nya ya?
    kekeke..
    krena ada ksalahn tknis, part 3 nya udh ak kirim kok..
    udh lma jg sh..

  4. waaahhh kerenn kak penasaran siapa yg nyimpen dendam ntu. . .
    kereeeennnn dah authornya. . . . makasih. . . .

  5. Huwaaa~ d sni konflikny mkin pns aja thor. Tpi keren.. Sbnerny sapa sih no one pov itu? Apkh itu key? Abis key blom kluar2 dri cangkangny. Lnjut thor! Jgn lma2.. Ak pnsaran bgd nih~ nice ff thor! b^^d

  6. iya nih bikin tegang aja… aku kira pertamanya minho tapi minho kan nggak sekelas sama nara
    taemin juga nggak sekelas tapidia bawa kertas koran itu kayanya

  7. ok udh fix tnyta bukan jinki si “no one pov” itu…
    dan “no one pov” itu ada disekolah nara…
    tapi masalh na dia itu siapaaaaaaaaaaaaaaa…
    pensaraaaaaaaaaaaaan

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s