Bitter Sugar – Part 1

Tittle               : Bitter Sugar Part 1

Cast                            : Choi Minho, Hwang Min Rin, Onew

Another Cast             : Kibum, Taemin, Chansung.

Author            : Lia aka Liaegyo

Genre              : Romance, Family, Friendship.

Length            : Twoshot

Rating             : PG – 15

©2010 SF3SI, Freelance Author.

“When the light disappears, And when this world’s insincere
You’ll be safe here
When nobody hears you scream, I’ll scream with you
You’ll be safe here”

(You”ll be safe here – Rivermaya)

Author POV

seorang yeoja duduk ditaman dengan mata sembab terlihat seperti habis menangis. Ia memainkan kaleng minuman yang telah habis sambil mengingat apa yang telah terjadi barusan dirumahnya. Airmata nya kembali mengalir.

“kenapa ini harus terjadi??” yeoja itu menyandarkan kepala nya ke bangku taman tersebut sehingga ia bisa melihat langit yang sebenarnya tidak ada bintang.

“untuk apa aku menagisi hal seperti ini?? Bodoh sekali!”.

Min Rin POV

“mianhe, jongmal mianhe anakku, kami tidak dapat bersama lagi. Semoga kalian mengerti” ucap Chansung appa.

Rasanya dunia ku terbalik. orang tuaku yang telah 17 tahun bersama-sama tiba-tiba memberitahuku mereka akan bercerai. Apa yang salah dengan hubungan mereka?? Apakah semudah itu mereka mengucapkan kata cerai?? Bagaimana nasibku dan Taemin?? Mereka membuatku kecewa karena merekalah panutanku selama ini! Dimataku merekalah pasangan yang paling romantis yang pernah kulihat. Aku berharap aku akan seperti itu juga bersama minho kelak.

“mianhe anakku kami mengecewakan kalian” kata orang tuaku dihadapan aku dan taemin.

“kami tahu kalian sangat terpukul dengan kenyataan ini, tapi percayalah kalau ini yang terbaik untuk kami” kata appa ku.

“apaaa?? Terbaik untuk kalian?? Lalu untuk kami??” kataku dengan marah.

“mianhe” kata ammaku sambil menangis.

“kalian bisa memilih ingin tinggal dengan siapa?” lanjut appa.

“Shiroo!! Aku tidak ingin tinggal dengan orang yang telah mengecewakanku seperti kalian!” teriakku kepada mereka. Tangisku tidak dapat dibendung lagi.

“taeminnie kalau kau ingin tinggal dengan salah satu diantara mereka silakan! Noona tidak! Lebih baik noona tinggal sendiri!” kataku kepada dongsaeng kesayanganku itu.

“tapi, noona..??” Aku melihat daritadi dongsaeng ku hanya menangis.

“aku ingin tinggal dengan Umma” jawab taemin singkat.

“kau yakin akan tinggal sendiri tanpa kami Min Rin-ah?” Tanya appa penuh harap.

“sudah kubilang tidak!!!” bentakku.

“Min Rin-ah” appa terdengar mencoba memanggilku.

Aku langsung berlari ke kamar dengan perasaan yang tidak dapat kulukiskan. Kuraih HP yang tergeletak diatas tempat tidur mencoba menghubungi seseorang.

“yeobseo.. mianhe oppa kita putus saja” kataku singkat kepada orang diseberang sana. Aku menangis kencang. Tidak ada alasan untuk aku tersenyum lagi.

Minho POV

“You’re my angel, my sun up in in the sky

We’ve been through hell and back together, why you leave me now?

Only you can ease the pain I feel and wipe my tears away,

Would you fly back home and make it all again?” Dru hill – Angel

“yeobseo.. mianhe oppa kita putus saja” katanya ditelepon.

“yeobseo.. yeobseo.. ya yeobseo jagi?? Tuuuutt..” telepon terputus. Aissh ada apa ini?? Min Rin yang sudah kupacari 2 tahun tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa ada permasalahan sebelumnya. Aku berpikir sebentar sebelum kuraih HP ku yang kubirkan diatas meja belajarku, kutekan speed dial nomor 4 angka keberuntunganku.

calling.. Sunshine” muncul di layar HP ku.

the number you are calling its not active…” ternyata HP nya tidak aktif.

Aku mencoba mengirim pesan padanya.

To        : Sunshine

jagi, ada apa denganmu? Bilang padaku, apa salahku? Biar kita membicarakannya baik-baik. Saranghae jagi, jeongmal saranghae

aku menunggu beberapa saat tapi tidak ada balasan. Lalu kucoba menelepon salah satu sahabat Min Rin, Dongho.

“yeobseo Dongho ah” kataku.

“yeobseo hyung.. wae?? Tumben kau menelepon? Apa yang bisa aku Bantu??” kata Dongho. “begini..” aku mulai menceritakan apa yang terjadi antara aku dan eunjin barusan.

“mworago?? Itu tidak mungkin terjadi hyung? Yang aku tau dia sangat menyayangimu? Dan aku tau, tidak ada pria lain selain hyung, appa nya dan taemin yang ia sayangi? Baiklah, aku akan mencoba bertanya kepadanya besok disekolah. Kau yang sabar ya hyung?” kata Dongho yang agak sedikit kaget.

“ne, gomawo Dongho-ah” aku mematikan telepon. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur memikirkannya. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Tidak biasanya ia bertingkah seperti itu? Baiklah aku akan mencoba bertanya dengannya disekolah.

Author POV

Keesokan harinya..

Minho datang pagi – pagi dan langsung menuju kelas terlihat Dongho berdiri didepan kelasnya. “mian hyung, Min Rin tidak masuk hari ini. Aku juga tidak bisa menghubunginya semalaman” Dongho berkata dengan penuh penyesalan. “gwencana Dongho-ah, kabari aku kalu kau sudah bisa menghubunginya ya? Gomawo..” Minho dengan langkah gontai menuju kembali ke kelasnya. Sepanjang pelajaran Minho hanya memandang keluar jendela melihat ke lapangan, pikirannya kembali pada saat pertama kali bertemu dengan Min Rin 2 tahun yang lalu saat penerimaan siswa baru.

*flashback*

“Minho, apakah kau yakin akan mengambil objek foto disini?” kata Kibum teman satu klub fotografi Minho.

“kenapa tidak? Apa saja bisa menjadi objek yang bagus, termasuk murid baru yang berkumpul hari ini” Minho berkata sambil sibuk membidik objek yang menurutnya indah. Tiba-tiba kamera nya tertuju pada salah satu siswa baru perempuan yang sedang bersama kedua orang tuanya. Tanpa sadar Minho terus mengambil gambar calon adik kelasnya itu.

“senyum yang manis” pikir Minho sambil melihat hasil jepretannya tadi.

“Ya Choi Minho!! apa kau suka dengan tetanggaku?” Tiba – tiba kibum sudah berada dibelakang Minho yang senyum – senyum sendiri melihat kamera.

“Mwo?? Tetanggamu?? Jinca??” Minho Terbalak tidak percaya bahwa yeoja itu adalah tetangga kibum, sahabatnya itu.

“apa perlu aku panggilkan??”

“aniyoo!!”

Gadis yang menjadi perbincangan keduanya tiba-tiba berlari kearah mereka.

“Kibum oppa. Akhirnya kita bertemu..” ucap gadis itu.

“ne, Min Rin-ah bagaimana dengan hari pertama sekolahmu? Menyenangkan?”

“Ne, oppa. Suasana sekolahnya sangat menyenangkan!”

“Min Rin-ah sepertinya ada yang tertarik denganmu” Kibum berkata sambil menyikut Minho iseng.

“oh iya, oppa belum memperkanalkan teman oppa. Minho ini Min Rin tetanggaku. Min Rin ini Minho teman oppa dari klub fotografi!” Kibum tersenyum licik pada minho.

“anyonghaseyo, Minho sunbae??” Min Rin mengulurkan tangan kepada minho dan disambut minho.

“ne anyongaseyo Min Rin-ssi” minho tersenyum saat berjabat tangan dengan Min Rin.

“yaa formal sekali kalian ini?? Min Rin, panggil dia minho oppa araseo.. anggap saja dia seperti oppa?”

“ne Minho oppa, bangabsemnida..”

“ne, Min Rin ah” minho menggaruk – garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Setelah hari itu Minho dan Min Rin selalu bersama. Hingga pada suatu malam saat minho mengantar Min Rin pulang  “Min Rin ah apa aku boleh memegang tanganmu??”

“mwo?” Min Rin terkejut mendengar permintaan oppa yang sebenarnya ia sukai.

“kalau tidak mau tidak apa – apa”

“bukan begitu oppa.. emm” tiba – tiba Min Rin menggapai tangan minho. Muka minho dan Min Rin merah menahan malu.

“kkaja”

Sepanjang perjalanan minho dan Min Rin saling bergandengan tangan. Minho sengaja memperlambat jalannya untuk bisa lebih lama bersama Min Rin. Sepanjang jalan mereka bercerita tentang apa yang dialami mereka hari ini. ditengah perjalanan minho mempererat genggaman tangannya yang membuat jantung Min Rin berdatak cepat.

“Min Rin ah kau tahu tidak?? Emm..”

“wae oppa?”

“ada empat perempuan di dunia ini yang aku hormati dan aku sayangi dan aku berjanji akan menjaga mereka selamanya dan sebisa mungkin aku tak akan menyakiti mereka. perempuan pertama umma ku, kedua nenekku, ketiga adikku, dan terakhir adalah calon istriku.. and the last it’s you!”

“hah?”

“wait a minute..” Minho berlari menuju taman dan kembali ke tempat Min Rin.

Minho menghentikan langkahnya dan memegang kedua tangan Min Rin sehingga mereka berhadapan satu sama lain dan ia mengeluarkan setangkai bunga mawar yang diambilnya dari taman tadi dan diberikannya kepada Min Rin.

“Min Rin ah would you be my girlfriend?”

Min Rin hanya diam dan terlihat mukanya sangat merah karena malu dan bahagia bercampur jadi satu. Akhirnya namja yang ia suka dua bulan ini mengungkapkan perasaannya. Tidak ada alasan Min Rin untuk menolaknya.

“ne oppa..”

“jinca?? Aaah gomawooo Min Rin ah! Woou finally!!” minho tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

“saranghae jagiya” minho meluapkan kegembiraannya dengan memeluk Min Rin erat.

“hhhmmp, oppa aku tidak bisa bernapas!”

“ooh mian jagi, aku hanya terlalu senang! saranghae”

“nado saranghae oppa”

Keduanya lalu kembali berpelukan. Minho menatap wajah Min Rin dan mencium lembut kening Min Rin “saranghae” ucap minho lagi. Tangan minho kemudian menyentuh dagu Min Rin , seakan tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Min Rin menutup mata dan kemudian sebuah ciuman lembut mendarat di bibir mungil Min Rin . Minho berjanji tidak akan melepaskan cinta pertamanya itu.

*Flashback end*

“Choi Minho coba kau baca halaman 98.. ehm ya Choi Minho!! Apa yang kau lamunkan??” Leeteuk songsaengnim membuyarkan lamunan minho.

“maaf halaman berapa songsaengnim??”

“halaman 98! Makanya kerjaanmu jangan melamun saja. Cepat baca, lalu kau jawab pertanyaan dibuku itu” Leetuk Songsaenim menepuk bahu Minho.

“ne Songsaengim”

Min Rin POV

Sudah dua hari aku melarikan diri kerumah nenekku yang berada di Ulsan. aku masih belum bisa menerima apa yang terjadi terhadap keluargaku. Dan sekarang hanya nenekku yang bisa mengerti dan memberiku semangat. Nenekku hanya tinggal berdua dengan bibi Ahra yang sudah aku anggap seperti ibuku sendiri. Suami bibi Ahra sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena sakit. Dan anak bibi ku Kangin Oppa sedang menempuh wajib militernya selama 2 tahun. Rumah nenekku sangat tenang dan menciptakan suasana nyaman. Cocok sekali untukku yang sedang butuh ketenangan sekarang ini.

Sudah tiga hari aku hanya diam dikamar dan aku mulai merasa bosan. Akhirnya aku keluar rumah hanya untuk mencari udara segar. aku berjalan melawati jembatan yang menghubungkan desa nenekku dan desa tetangga. Aku menengok kebawah dan melihat aliran sungainya yang lumayan deras. Namun pemandangan dari sini sungguh indah dan menggodaku untuk duduk di pinggir jembatan dengan berpegang pada tiangnya. Sungguh menyenangkan. Tidak cukup hanya duduk disana, aku mencoba untuk berdiri. Tapi belum sempat aku berdiri seseorang meneriakiku.

“STOP!! Hey tenang dulu! Jangan gegabah nona.. ini bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalahmu!” kata namja itu. Apa yang ia katakan?

“calm down nona, ayo turun bicara padaku apa masalahmu! mungkin aku bisa membantu! Jangan bunuh diri jebal! Kau masih muda nona araseo? Apa kau tidak sayang pada orang tuamu jika kau bunuh diri?? Oke? Ayo turun!”  mwoo??? Dia menyangka aku akan bunuh diri? Aku tidak sebodoh itu! Cih menyebalkan sekali.

Onew POV

“Telur, selada, ayam, bawang, susu.. aahh cukup!” aku mengecek barang belanjaan yang disuruh ‘Umma’ ku. Saat aku melewati jembatan, aku melihat seorang yeoja yang ingin berdiri dipinggir jembatan. ASTAGA! Jangan – jangan dia ingin bunuh diri! Aku tidak bisa membiarkannya. Aku belari menuju gadis itu dan menjatuhkan belanjaanku.

“STOP!! Hey tenang dulu! Jangan gegabah nona.. ini bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalahmu!” aku mencoba menenangkan yeoja ini, tapi dia hanya diam.

“calm down nona, ayo turun bicara padaku apa masalahmu! mungkin aku bisa membantu! Jangan bunuh diri jebal! Kau masih muda nona araseo? Apa kau tidak sayang pada orang tuamu jika kau bunuh diri?? Oke? Ayo turun!” namun gadis ini hanya bengong menatapku. Aku mengulurkan tanganku kepadanya. Tapi ia langung turun tanpa menerima ulurang tanganku.

“terimakasih atas perhatianmu, tapi maaf tuan aku tidak dan tak akan berniat untuk bunuh diri” kata yeoja ini sambil membersihkan bagian belakang celananya.

“Tapi..”

“Aku hanya ingin menghirup udara segara disini. Tidak lebih! Permisi” gadis itu pergi saja melewatiku.

“dasar yeoja yang aneh?? Oh ASTAGA BELANJAANKU!!!” aku berlari menuju belanjaan yang aku jatuhkan tadi. Oh tidak! Telur dan susunya pecah, dan yang lain kotor terkena pecahan telur dan susu! Pasti Amma akan marah! Aku hanya bisa memandangi nasib belanjaanku dan melihat yeoja itu semakin lama semakin menjauh!

“ah sial!”

***

Aku mengayuh sepedaku menuju rumah Ahra Ahjumma, teman ‘umma’ ku untuk mengantarkan undangan pernikahan Eunjung Noona. Saat aku melintasi taman, aku melihat seorang yeoja yang sedang menagis sesegukan dibawah pohon.

“minho oppa bogoshipo!” tangis yeoja itu.

Aku mendekati yeoja itu. Wajahnya dibenamkan dilututnya. Sepertinya supaya orang lain tidak mendengar suaranya. Tapi sayang nya suara tangisannya lumayan terdengar olehku.

“Gwenchana? Kau menangis..” aku duduk disebelahnya dan mencoba bertanya keadaanya.

“sayangnya ini bukan urusan.. cih kau lagi!” ternyata yeoja ini adalah yeoja yang aku sangka akan bunuh diri dengan loncat dari jembatan minggu lalu. Ia kembali membenamkan wajahnya.

“kau.. kenapa kau menangis??” aku bertanya padanya.

“sudah kubilang itu bukan urusanmu! Paham?”

“ini..” aku memberikan sapu tangan ku untuk menghapus air matanya.

“tidak perlu”

“ambil.. bajumu akan kotor”

“shiro!”

Aku memegang tangannya dan menyerahkan sapu tanganku secara paksa.

“tenang saja sapu tangan ku itu bersih dan wangi! Cium saja kalau tidak percaya?” yeoja itu mencium saputanganku. Aku hanya tersenyum melihat ekspresinya yang seperti anak kecil. Lalu ia perlahan menghapus air matanya yang masih saja mengalir.

“kalau kau ingin bercerita kepadaku, aku akan mendengarkannya. Aku berjanji tidak akan menceritakannya dengan siapa – siapa” aku membentuk jariku menjadi V sebagai tanda bahwa aku bersungguh – sungguh.

“maaf aku tidak bisa menceritakan padamu sekarang, yang jelas saat ini perasaan ku sangat kacau”

“ooh begituu. Eemm kau pasti orang baru disini? Aku akan mengajakmu berkeliling naik sepeda ku! Mau?? Tenang saja aku tidak akan menculikmu kok? hehehe” aku tersenyum kepadanya seraya menati jawabannya.

“hahaha baiklah kalau begitu..” yeoja ini tersenyum untuk pertama kalinya padaku. dan ternyata senyumnya manis. Lebih baik ia begini daripada mengeluarkan air matanya.

“Siiippp.. Kkaja!”

Min Rin POV

“kalau kau ingin bercerita kepadaku, aku akan mendengarkannya. Aku berjanji tidak akan menceritakannya dengan siapa – siapa” kata namja ini sambil membentuk V jarinya.

“maaf aku bisa menceritakan padamu sekarang, yang jelas saat ini perasaan ku sangat kacau” kataku pada namja ini. Bagaimana aku bisa menceritakan masalahku pada orang yang baru aku kenal? Dan belum tentu juga ia bisa mengerti masalahku sekarang?

“ooh begituu. Eemm kau pasti orang baru disini? Aku akan mengajakmu berkeliling naik sepeda ku! Mau?? Tenang saja aku tidak akan menculikmu kok? hehehe” namja ini tersenyum lucu sekali, matanya hilang kalau ia tersenyum dan pipinya itu membuatku lapar karena mengingatkanku pada roti isi daging favoritku.

“hahaha baiklah kalau begitu..”

“Siiippp.. Kkaja!” Kami menuju tempat sepedanya yang ia letakkan tidak jauh dari pohon ini.

“hey kenapa kau diam saja? Ayo naik!” akhirnya aku duduk dibelakangnya.

“are you ready??” katanya sedikit berteriak. Dari tadi senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya.

“NE!!” kataku tak kalah bersemangat.

“LET’S GO!!!” ia mulai memacu sepeda nya perlahan hingga angin yang sejuk menerpa wajahku dan membuat rambutku berkibar. Semakin lama ia memacu sepedanya semakin kencang.

“hey aku belum tau siapa namamu nona?”

“HAH APA?” aku tidak mendengar suaranya karena angin yang kencang.

“SIAPA NAMAMU??” ia mengencangkan suaranya.

“MIN RIN. HWANG MIN RIN!”

“OOH.. aku LEE JINKI! TAPI PANGGIL SAJA AKU ONEW”

“BAIKLAH ONEW SSI!”

“HOWAAAAA!!” teriak kami bersamaan karena jalannya yang menurun dan membuat kecepatan sepeda kami meningkat.

akhirnya sepedanya berhenti di sebuah danau kecil tapi sangat sejuk dengan pemandangan indah disekitarnya. Kami duduk diatas dermaga kecil dan membiarkan kaki kami terkena air danau yang sejuk.

“HAHAHAHA sudah lama aku tidak bersepeda seperti tadi! Sungguh menyenangkan Onew-ssi!”

“Jeongmal?? Hahaha bagaimana? Apakah kau sudah sedikit melupakan masalahmu itu?”

“yah, lumayan..”

“so, apakah aku bisa mendengarkan ceritamu sekarang?” ia tersenyum kepadaku dan senyumnya itu entah kenapa memnbuatku nyaman. Sambil memainkan air danau dengan kaki, aku mulai bercerita tentang masalahku kepadanya.

“ooh jadi begitu ceritanya” ia daritadi dengan seksama mendengarkan ceritaku sampai selesai.

“lalu.. bagaimana dengan mantan pacarmu itu? Siapa tadi namanya?” pertanyaan itu membuatku kaget.

“Minho” jawabku sekenanya.

“Oh iya Minho! Kenapa kau begitu? Kau masih mencintainya bukan?” jleeb pertanyaannya itu seperti menusuk hatiku.

“Mollayo, mungkin cara seperti ini terlihat childish? Lari dari masalah dan mencari pelampiasan disini hahaha! Tapi jujur aku benar – benar tidak tau apa yang harus aku lakukan saat itu, hatiku benar – benar hancur. Kau bayangkan saja Onew-Ssi, kedua orang tua ku itu menurutku adalah pasangan paling romantis sedunia. Aku berharap aku dan Minho Oppa bisa seperti itu. Tapi kenyataanya?? Huh, itu membuatku tidak percaya pada suatu ikatan seperti itu lagi”

“Mungkin ada satu alasan mereka seperti itu yang tidak kamu mengerti sekarang.. tapi mungkin nanti kau akan mengerti perlahan – lahan”

“Jinca?”

“Tentu saja! Berapa umurmu sekarang?”

“17 tahun” jawabku.

“17 tahun? Seharusnya umur seperti itu sudah agak sedikit mengerti.. yah mungkin kau agak sedikit terlambat tumbuh! HAHAHAHA”

“Mwoo?? Siaalaaaan!!” aku memukulnya dengan sepatuku.

“HAHAHAHA AAW STOP SAKIT.. HAHAHA” ia tertawa lepas.

“Kau ituuu!!”

“HAHAAHA. Kau tau tidak? Kau termasuk beruntung masih mempunyai orang tua yang lengkap. Coba kau perhatikan disekelilingmu, banyak yang orang tua nya tidak lengkap? Ada yang tidak punya ayah, ada yang tidak punya ibu, bahkan ada yang tidak mempunyai keduanya seperti aku! Dan kau harus mensyukuri itu kau masih punya keduanya yang sangat sayang padamu?”

“Maksudmu sepertimu apa Onew-ssi?” tanyaku yang sebenarnya sudah mengerti maksudnya.

“Aku tidak pernah melihat orang tuaku sedari aku kecil”

“Mwoo?”

“Orang tuaku meninggal saat aku masih kecil. Dan sekarang aku tinggal bersama bibi ku yang aku panggil ‘Umma’ juga. Dari kecil aku belum pernah merasakan pelukan dan kasih sayang orang tua kandungku. Tapi aku masih bersyukur masih ada ‘Umma’ yang sangat sayang kepadaku walaupun aku bukan anak kandungnya”

“Mianhe Onew-ssi” aku tidak tahu kalau kedua orang tuanya sudah tidak ada.

“Gwenchana.. tidak ada yang perlu dimaafkan Min Rin ssi! Yah mungkin kau sekarang hanya butuh ketenangan. Aku mengerti itu”

“Gomawoo Onew-ssi” aku tersenyum kepadanya.

“OUUUHH!! AKU LUPAA MENGANTAR UNDANGAN!!!” ia memukulkan tangan ke keningnya.

“Hahahahahaha maafkan aku Onew-ssi gara – gara aku jadi begini? Kalau begitu ayo kita pergi??” ada saja kelakuannya yang membuatku tertawa.

“Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu”

Selama perjalanan kami bercerita tentang masing – masing kami. Mulai dari cerita lucu sampai cerita hantu. Aku sangat nyaman bersamanya. Dan tak terasa aku sudah hampir sampai di tempat nenekku.

“Onew-ssi berhenti disini”

“disini? Benar disini?” ia tampak kaget.

“iya ini rumah nenekku”

“jadi kau keponakan Ahra Ahjumma??”

“kau kenal Ahra Ahjumma???”

“tentu saja! Ia sahabat baik ‘Umma’ ku. Dan aku mengantar undangan ini untukknya!” ia mengeluarkan undangan dari dalam tas nya.

“ckckck kebetulan yang menyeramkan! HAHAHA”

“hahaha kau sudah bisa mengerjaiku ya?” ia memukul pelan kepala ku dengan undangan.

***

Semenjak saat itu aku dan Onew Oppa akrab. Ya, aku tidak lagi memanggilnya Onew-ssi karena dia menganggap itu terlalu formal. Dan aku sangat tidak keberatan karena aku juga sudah menganggapnya Oppa ku sendiri. Ia sering mengunjungiku hanya untuk sekedar bercerita atau jalan – jalan ke danau yang pernah kami datangi waktu itu.

Tidak terasa sudah hampir satu bulan aku menenangkan diri dirumah nenek. Selama itu pula aku meninggalkan sekolahku. Sebenarnya aku sangat rindu Minho Oppa, tapi sampai sekarang ia tidak pernah mencoba menghubungiku. Hanya Appa dan Umma yang sering meneleponku menyuruhku pulang kerumah. Tapi, aku sudah mengatakan pada Onew Oppa bahwa aku akan pulang setelah ada putusan dari pengadilan atas hak asuhku dan Taemin.

3 days ago

“Oppa!!” teriakku kepada Onew Oppa yang sedang memboncengku bersepeda.

“Wae Min Rin – ah?” katanya terus menatap kedepan.

“I Miss Minho Oppa”

“Oooh..”

“Cuma itu reaksimu Oppa??”

“Lalu Oppa harus bagaimana??” ia menoleh kebelakang dan membuat sepeda oleng.

“Oke oke baiklah kau fokus bersepeda saja Oppa! Huh kadang kau meyeramkan Oppa! Membuatku takut saja”

End of flashback

Sudah tiga hari ini Oppa tidak pernah datang mengunjungiku. Aku kesepian karena tidak melihat senyum Oppa ku itu. Saat aku sedang duduk di kursi depan rumah nenekku. Seseorang membuka pintu pagar. Dan ternyata orang itu adalah Onew Oppa.

“Oppa! Kau kemana saja tiga hari ini?” aku langsung menghampiri Onew Oppa.

“Ah, Tidak? aku hanya ada urusan sedikit hehe” ia tersenyum seperti biasa. Padahal baru tiga hari aku idak bertemu dengannya tapi aku sudah sangat rindu dengan senyumannya itu.

“Oppa.. Bogoshipo” kataku manja.

“hahaha kau ini Min Rin ah.. oh iya Oppa membawa seseorang untukmu”

“heh? Maksudnya?” aku benar – benar tidak tau apa yang dikatakan Onew Oppa. Dan tiba – tiba Onew Oppa menarik tanganku menuju ke taman.

Dari kejauhan aku melihat Namja tinggi berambut pendek dan ransel dipunggungnya dengan posisi membelakangi kami. Semakin dekat, semakin aku menyadari orang itu.

“Min Rin-ah” ia tersenyum lembut kepadaku.

To be Continued…

Gomawo thankyou yang sudah baca 🙂 FF ini pernah di publish di blog pribadiku http://liaegyo.wordpress.com/ jadi mungkin ada yang udah baca duluan. Rencana juga ini mau dikirim buat FF party tapi gak jadi. Jangan lupa kasih kritik dan sarannya ya??

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

Advertisements

23 thoughts on “Bitter Sugar – Part 1”

  1. Itu minho kannn????
    Wahhhhh
    Jangan putus sama minho dong minrin
    Kan kasian minho nyariin
    Aduuuuhhhh kereeeeen
    Lanjuttt

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s