Greece In Peace – Part 2 (END)

Tittle    : Greece in Peace – Part 2 (end)

Author : Lee Chira  aka  catz

Length : Twoshots

Genre  :  Fantasy, Romance, Fluff, Mythology

Rated   : General

Cast     :

SHINee – Lee Taemin  as  Icarus

SHINee – Choi Minho  as  Mars

Venus / Aphrodite  (OCs)

Justice  (OCs)

Other Greek’s Mythology characters

Review :

Tapi apa yang dilakukannya kemudian membuatku heran. Ia bangkit dan mendorong tubuhku yang mencoba meraihnya. “Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kembalilah, Mars.” Ia hendak berbalik saat sebuah suara mengagetkan kami berdua.

“Tidak boleh apa, Justitia, Mars?”

Sebuah suara pelan tapi menusuk dan dingin. Seseorang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada, menatapku dan Justice bergantian dengan tatapan yang menohok jantungku. Kemudian ia menelengkan kepalanya. Kemurkaan terpancar dengan jelas saat matanya menyipit menatap kami lebih tajam seolah ia akan segera mencincang kami saat itu juga.

***

(Justitia POV)

Aku bersalah. Aku tahu itu. Aku harus menanggung kesalahanku. Aku akan bertanggung jawab. Aku menatap nanar ke arah Venus. Meski ada raut kecewa dan kesedihan yang mendalam, tetapi ia tetap terlihat cantik dan anggun. Matanya yang sembab, keadaannya yang agak berantakan, tubuhnya mengurus. Aku benar-benar prihatin dengan dewi yang satu itu. Adik satu-satunya yang amat ia sayangi harus cacat dan diasingkan sementara, itu kejadian hampir dua minggu lalu. Dan sekarang ia harus mengetahui bahwa ternyata selama ia pergi untuk menenangkan diri dan berharap saat kembali ia akan menjadi lebih baik dan tenang, yang ada malah ia harus menerima kenyataan bahwa tunangannya berselingkuh dengan dayang yang sangat dipercayainya, aku, Justitia.

Aku terus menatap Venus, meminta maaf. Aku merasa sangat bersalah padanya. Saat tatapan kami bertemu, kutemukan ia malah tersenyum hangat padaku, meski tak sehangat biasanya.

Aku tak bisa lagi berkonsentrasi mendengarkan penjelasan tentang hukumanku yang dijatuhkan oleh para petinggi dewan pengadilan Olympus, yang, bahkan aku sendiri seharusnya suatu saat nanti akan berada di antara mereka mengingat aku adalah salah satu calon dewan pengadilan. Yang kutahu bahwa aku akan diasingkan ke suatu tempat, diusir dari istana, dari Olympus. Aku menerima saja, terserah aku akan di tempatkan di mana. Kalau perlu mereka tak usah repot-repot mencarikanku tempat, aku dengan senang hati akan pergi ke tempat yang jauh dari pusat Olympus. Bukan apa-apa, saat berkeliling bersama Venus sewaktu aku membantunya menyelesaikan salah satu perkara rumah tangga di daerah terpencil, aku melihat sebuah daerah di sekitar pedalaman yang tampak sangat asri. Pengawal istana tak perlu lagi, karena aku sendiri sudah memiliki tempat yang ingin ku datangi.

Aku tak tahu apa yang terjadi pada Mars. Mungkin ia akan tetap berada di posisinya sebagai komandan perang, mengingat prestasi dan kemampuannya. Tapi aku yakin keluarga raja keturunan titan tak akan percaya sepenuhnya lagi padanya.

…………

Sidang telah selesai. Aku berniat untuk meminta maaf secara langsung kepada Venus. Aku mencari-carinya. Nah, itu dia. Ia berjalan keluar ruang sidang. Aku mengejarnya tapi tak terkejar. Kerumunan orang-orang menghalangiku ditambah adanya dayang-dayang dan pekerja lain yang menghampiriku dan memberiku ucapan turut prihatin dan semangat.

Aku hanya bisa menatap punggung Venus yang mulai menghilang.

………..

Hari-hari terakhirku di Olympus. Tapi sampai detik ini aku bahkan belum bertemu dengan Venus dan menyampaikan permintaan maafku. Entah apakah dia yang  terlalu sibuk dengan urusannya ataukah ia malah menghindariku, aku juga tak tahu. Tapi bagiku, ia tetap Venus si dewi cantik yang selalu menjadi majikan dan sahabatku.

Dan Mars. Sama halnya dengan Venus. Aku juga belum bertemu dengannya padahal aku merasa sedikit rindu padanya.

(End of POV)

(Icarus POV)

Sejak saat Apparatus memberiku pengertian, aku mulai berusaha untuk yakin pada harapanku, meski hanya setitik. Aku masih takut, amat sangat takut, bahwa nantinya ketika harapan itu membesar dan membuatku terbang ke langit, aku malah akan terhempas dan membuatku sakit.

Setelah berhari-hari mengurung diri di kamarku, aku memutuskan untuk keluar, mencari udara segar. Dayang dan pengawal itu terus mengikutiku, lama-lama aku jadi bosan. Begitu pun seharusnya dengan mereka. Harusnya mereka bosan dan lelah mendengar bentakan-bentakan dan kata-kata dingin nan sinis dari mulutku.

Aku terbangun pagi-pagi sekali. Aku menyembulkan kepalaku dari balik pintu kamarku, berusaha mengintip keadaan sekitar. Bagus, mereka masih terlelap. Aku berusaha keras mengatur langkahku yang masih terseok-seok, mengendap-endap keluar dari kediaman yang aku dan pengikutku tinggali saat ini, sambil tangan kiriku memegang lengan kananku yang masih digips. Tak ada jalan yang mulus-mulus terus. Aku berhenti di depan pintu di mana dua orang pengawal bersiaga di sana. Oh sial! Aku baru menyadari betapa banyak dan ketatnya pengawalan untukku. Aku berpikir. Aha! Jangan sebut aku sebagai putra mahkota Kerajaan Olympus kalau untuk mengibuli pengawalku saja aku tak bisa. Sepintar-pintarnya mereka mengawalku, aku masih lebih pintar dari mereka.

Aku melihat sekeliling. Tak ada apa-apa yang bisa kugunakan sebagai umpan untuk mengelabui mereka. Tapi sedetik kemudian, suara kicau burung memupus kekecewaanku. Aku bersiul pelan, memanggil burung gereja itu, hingga seekor mendarat di lengan kananku yang keras karena gips. Aku menatap burung itu sekilas dan berguman, “Maaf,” sebelum akhirnya aku mengucapkan beberapa mantra ketika jemari tangan kiriku yang bebas mengelus pundak sang burung. Kuterbangkan burung itu melewati ventilasi, terbang tinggi.

Aku memastikan burung itu telah terbang menuju pintu belakang dalam hitungan tujuh detik saat terdengar letusan di udara. Maafkan aku burung, tapi aku butuh angin segar dan … privasiku.

Setelah memastikan bahwa dua pengawal tadi berlari menuju pintu belakang, aku keluar dari pintu dan berjalan menuju hutan yang berada di sebelah barat kediamanku.

Ada yang tahu apa yang terjadi pada sang burung? Aku memantrainya agar ia berubah dan meledak menjadi kembang api setelah waktu yang telah kutentukan. Ya, tujuh detik. Tak lupa aku memantrainya agar menuju pintu belakang. Cukup mudah bagiku melakukannya mengingat hal itulah yang sering kulakukan semasa pelatihan dan saat perang. Ah, perang membuatku lemas. Aku duduk di salah satu batang pohon yang jatuh di dalam hutan. Karena kecerobohanku, panah yang kutembakkan dan kumantrai agar menjadi api di udara, dipantulkan oleh lawan saat aku lengah, saat di mana kupikir aku bisa pulang dengan kebanggaan sebagai salah satu komandan perang yang memenangkan perang dengan skor telak. Kemenangan sudah di depan mata, aku berbalik meninggalkan musuh-musuhku yang sudah terkapar tanpa memerhatikan bahwa panah apiku terpantulkan dan sukses mengenai punggung kananku.

Aku tak mau mengingatnya. Meskipun sekarang aku lumpuh, tak berarti bahwa kemampuan memantraiku hilang begitu saja. Hanya fisikku yang lumpuh, tapi berbeda halnya dengan tenaga dalam yang kumiliki.

Aku ingin mengetes sejauh mana perkembanganku selama menjalani pengobatan dengan Apparatus. Aku menolak untuk berharap, tapi hatiku menentang. Pasti ada jalan aku bisa sembuh. Dan kupikir, sekaranglah saatnya. Aku mengedarkan pandanganku. Hutan ini sepi, hanya aku di sini. Yang terdengar hanyalah kicauan sekelompok burung yang berdendang. Tak ada yang akan melihatku, atau memandangku rendah karena aku kehilangan kekuatan luarku.

Dan tak sampai beberapa lama berselang, aku sudah membakar banyak pohon. Aku tersenyum puas melihat hasil karyaku.

“Keren!” seruku.

“Seru katamu? HEY, APA YANG KAU LAKUKAN???”

Aku berbalik ke arah sumber suara. Sekitar lima belas meter dari tempatku, berdiri seorang wanita yang memakai dress putih selutut dengan rambut pirang terurai. Ia berjalan cepat ke arahku.

Aku menatapnya bingung. “Siapa kau?”

Ia berhenti di depanku. “Apa kau tidak tahu bahwa ada peraturan dilarang merusak ekosistem hutan, hah?”

Aku terheran sejenak kemudian menggeleng.

“Memangnya aku merusak hutan?”

Wanita itu memutar bola matanya. “Tentu saja. Kau membakar pohon-pohon penyangga. Hutan ini bisa gundul akibat perbuatanmu itu, bodoh!”

Aku memberinya tatapan tau-ah-terserah-padamu. Kemudian ia berlalu sambil berdecak kesal.

………….

Setiap hari aku mendatangi hutan itu untuk berlatih dan pulang sebelum pengawalku mencariku. Kekuatanku sudah mulai pulih, bahkan sekarang sudah hampir 85%.  Gipsku sudah lama dilepaskan. Aku senang berlatih setiap hari di sana.

Dan setiap kali itu pula wanita itu mendatangiku. Ia menghampiriku, mengomeliku, dan berlalu sambil menahan kesal.

Tak terasa hampir semusim sejak kejadian pertama itu, dan aku selalu tertawa saat wanita itu meninggalkanku dengan kesal, terus menggerutu tak jelas. Entah mengapa aku senang menjahilinya.

Terkecuali hari ini di mana aku tak melakukan apa-apa. Tak ada latihan hari ini. Aku hanya membuat suara-suara ledakan kecil.

“Kali ini kau tak punya alasan untuk mengomeliku karena aku tak melakukan apa-apa pada hutanmu!” kataku sambil mengecilkan ledakan-ledakanku lalu membalikkan badanku dan memandang batang pohon besar. “Keluar!”

Dan ia keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan mendekatiku. Sebenarnya aku tahu bahwa ia selalu, setiap hari, bersembunyi di balik pohon pinus besar itu. Memerhatikanku berlatih dan pada akhirnya ia akan muncul dan mengomeliku saat aku mulai membakar isi hutannya.

Aku menghentikan aktifitasku dan duduk di atas sebatang pohon yang telah rumbang.

“Aku tahu kau menguntitku,” kataku sebelum ia bertanya. Entah mengapa aku seperti mengetahuinya, pikirannya.

Ia duduk di sampingku.

“Apa yang ingin kauketahui tentangku?” tanyaku lagi-lagi menjawab pikirannya.

Oke, aku sebelumnya tidak pernah punya kekuatan untuk membaca pikiran orang. Kekuatanku hanya pada masalah perapian. Pengendali api? Mungkin bisa disebut begitu. Tapi akhir-akhir ini aku seperti bisa membaca pikiran wanita ini. Dari melihat matanya saja aku sudah bisa mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyanya akhirnya.

“Dulu aku pernah cedera hingga aku kehilangan kekuatanku. Dan sekarang aku hanya berlatih. Tidak boleh?” Aku menatapnya.

“Asal kau tidak merusak hutan ini saja,” jawabnya cuek.

“Aku tidak bisa kalau tidak membakar. Aku pengendali api.”

“Memangnya sejak kapan kau cedera? Seberapa parah?”

“Sekitar semusim yang lalu. Sangat parah menurutku. Sebagian tubuhku lumpuh.”

Ia terdiam.

“Hey, ada apa?” Aku menyadarkannya.

“Eh, apa? Tidak ada apa-apa. Aku hanya mengingat seseorang yang bernasib sama sepertimu.” Ia melemparkan sebuah senyuman yang baru kali ini kulihat.

“Oh.” Aku hanya manggut-manggut.

Hening.

“Bagaimana denganmu?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Aku?” Ia menunjuk dirinya.

“Siapa lagi?”

Ia memperbaiki posisinya, mencari posisi nyaman untuk bercerita.

“Aku biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa kecuali sebelumnya bahwa aku adalah salah satu calon dewan pengadilan. Tapi itu semua berantakan,”

“Kenapa?”

“Aku membuat suatu kesalahan. Satu kesalahan yang berakibat fatal terhadap diriku sendiri dan..”

Ia menggantungkan kalimatnya. Aku mendekat, penasaran.

“Dan hubunganku dengan sahabatku. Aku juga seperti perusak hubungannya dengan tunangannya,” Matanya memancarkan sebuah kesedihan.

Pandangannya menerawang. Lama kelamaan matanya berkaca-kaca. Ia menunduk tepat saat sebutir air matanya jatuh. Ia menutup wajahnya. Aku merasa tidak enak. Aku memintanya bercerita tetapi itu malah membuatnya sedih. Entah mengapa aku menjadi ikut bersedih melihatnya menangis. Ragu-ragu, kutepuk pelan bahunya.

Dan serasa hal itu tak cukup, aku meminjamkan dadaku untuknya menangis.

…………

“Siapa dia?” tanyaku saat kami berdua berjalan-jalan ke dalam hutan.

Akhir-akhir ini ia sering mengajakku berkeliling hutan ini, berkenalan dengan semua makhluk yang kami temui. Dan ternyata, di dalam sini ada banyak sekali makhluk ramah yang meski pun aku telah merusak hutan ini, tetapi tetap mau berteman denganku.

“Dia Echo. Seorang peri hutan,”

Kami berhenti sejenak. Aku memandang sesosok peri yang sedang terdiam sambil memandangi permukaan air sungai yang ditumbuhi oleh bunga narsis. Wajahnya terlihat murung dan sedih. Seperti tak ada kehidupan di sana.

“Kenapa dia?”

“Patah hati. Ia jatuh cinta pada pria tampan yang menolak dan mengusirnya. Ia terlalu mencintai pria itu hingga pada akhirnya pria itu mati perlahan karena kutukan Eros atas perintah Venus dan.. Echo hanya bisa memandangi bayangan pria itu di atas sungai dan bunga itu.”

“Venus..?” gumamku pelan. Kemudian memandang Echo. “Apakah pria yang kaumaksud itu adalah Narchisus?”

“Ya. Kisah yang miris.”

…….

Musim semi telah datang. Semuanya indah, termasuk pemandangan di hadapanku sekarang. Air sungai yang mengalir bersih, air terjun yang menimbulkan bunyi ribut yang menenggelamkan bunyi di sekitarnya, dan kicau burung.

Aku menatap langit biru. Suasana yang menentramkan. Suara-suara cempreng mengalihkan perhatianku.

Aku menoleh dan mendapati wanita yang – astaga namanya saja tak kuketahui – bersama seekor.. kelinci? Entahlah. Aku tak tahu apa namanya, yang pasti bahwa ia adalah seekor binatang yang terlihat seperti kelinci tapi juga tidak terlihat sebagai kelinci. Hidungnya bukan hidung kelinci, melainkan seperti hidung babi. Ia loncat-loncat ke sana kemari, mengelilingi wanita itu.

“Hentikan, Scoonus. Aku tidak bisa!”

Mereka berdua semakin mendekat hingga akhirnya jarak kami dua meter. Binatang itu terus meloncati undukan batu gunung, mengelilingi wanita itu. Sepertinya ia berusaha merayu.

“Tidak, Scoonus!”

Binatang itu terlihat kecewa. Namun sekali lagi ia berusaha merayu.

“Ayolah, Justice. Kumohon!”

Oh, jadi namanya Justice. Hm, sepertinya nama itu familiar di telingaku. Ada apa ya?

Justice berkacak pinggang sebelum akhirnya berbalik menghadap Scoonus dan berujar, “Baiklah!”

Scoonus meloncat-loncat kegirangan. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan. Setelah itu ia pergi meninggalkan Justice yang duduk di undukan batu di sebelah barat lautku.

“Bagaimana pemandangannya? Indah bukan?” tanyanya sambil ikut memandang langit.

Aku mengangguk. Ia terlihat begitu menikmati pemandangan yang tersedia. Aku memerhatikannya. Ia baik dan sangat ramah. Meski pun wajahnya tak secantik kakakku, tapi aku suka saat ia bahagia seperti ini.

(End of POV)

…….

(Justice POV)

Hhh, si Scoonus merepotkan saja. Ia mengejarku sampai di air terjun. Setelah urusanku dengan Scoonus selesai, aku memilih untuk memandang pemandangan indah yang tersedia. Aku melihat ke arah langit, begitu tenang.

Kemudian kurasakan ia memandangiku. Ia mengingatkanku pada Venus. Entah apa alasannya, tapi menurutku mereka memiliki kemiripan. Rambut merah, bola mata hijau bening, struktur wajah yang sama dengan pipi chubby. Dan ia yang memiliki kekuatan sebagai pengendali api, pasti ia berasal dari kalangan dewa. Tak ada makhluk biasa yang memiliki kekuatan seperti itu.

Cedera. Bukan kecelakaan? Icarus, adik Venus, mengalami kecelakaan di waktu yang hampir bersamaan dengannya. Hanya saja jujur, aku belum pernah melihat Icarus secara langsung. Saat aku pertama kali menjadi dayang Venus, Icarus sudah masuk akademi. Dan setiap kali ia pulang ke Istana Olympus, aku tak pernah melihatnya karena ia selalu menghabiskan waktunya untuk Jupiter (Zeus) dan keluarganya yang lain, selain tentu saja ia selalu dikelilingi oleh pengawal-pengawalnya.

Icarus. Ya, ia mengingatkan pada Icarus.

Aku menghela nafas. Bagaimana kabar adik kesayangan Venus yang satu itu? Bagaimana keadaan Venus sekarang? Bagaimana hubungannya dengan Mars sekarang? Aku harap mereka bisa akur seperti sedia kala – meski dari cerita Mars mengatakan bahwa mereka tak pernah akur. Jujur saja, aku menyesal melakukan kesalahan itu. Sungguh aku tak ada maksud pada Venus.

Kesadaranku akan keadaan sekarang kembali saat kurasakan ada yang memandangku. Aku menjadi gugup. Suasana terasa canggung. Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah mulai memerah.

(End of POV)

……

(Author POV)

“Kita perlu bicara!” Mars menahan lengan Venus yang sedang berjalan menuju kamarnya.

Venus mendelik. “Jadi kau masih punya muka untuk berbicara padaku?” tanyanya sinis.

Dan tanpa menunggu apa-apa lagi, Mars menarik Venus menuju tempat yang lebih sepi. Mereka sampai di depan sebuah gudang tempat penyimpanan senjata Olympus. Venus menatap Mars garang.

“Setelah mencelakai adikku, sekarang kau berniat sama padaku juga? Tidak sekalian membunuhku?” Venus menantang.

Mars mencengkram lengan Venus dan menatapnya lurus-lurus.

“Dengarkan aku! A..”

“Aku tak perlu mendengar apapun dari mulutmu yang nista itu, Mars!”

“Aku tahu kau masih marah padaku..”

“Benci,” ralat Venus.

“Oh oke, benci. Tapi kumohon, dengarkan dulu penjelasanku. Semua tuduhan itu tidak seperti yang kau bayangkan,”

“Jadi maksudmu, ibuku – Juno –  berdusta? Akuilah, Mars. Ia mendapatimu berdua saat itu! Kau menuduhnya berdusta?”

Mars terdiam. “Aku minta maaf untuk hal itu,” Perlahan ia melonggarkan cengkramannya. DaIam beberapa saat hingga Mars bertanya, “Tak bisakah semua membaik?”

Venus memutar bola matanya. “Bukankah kita sudah seperti ini sejak awal? Kita memang tak pernah akur, Mars. Aku tak menyukai perang, dan kau terobsesi akan hal itu. Aku benci kekerasan, sedangkan kau berdiri di atasnya. Kita berbeda, Mars. Sangat berbeda. Tak akan pernah bisa bersatu!” Venus balas menatap Mars.

Mars melepaskan lengan Venus. Ia menghela nafas. “Aku tahu kesalahanku fatal. Aku mencelakai Icarus, aku minta maaf akan hal itu. Aku ‘bermain api’, itu juga salahku. Aku tak bisa melakukan hal lain selain minta maaf, sungguh. Kali ini aku benar-benar menyesal. Tapi aku tak akan memaksamu untuk memaafkanku.. apalagi melupakan kesalahanku. Itu sulit pasti.”

Venus terdiam akan kata-kata Mars. Di dalam benaknya banyak pertanyaan muncul. Ada apa dengan Mars? Apa dia salah minum obat sampai bisa berkata seperti itu? Atau sesuatu terjadi padanya? Tidak mungkin ia bisa berbicara seperti itu. Bukan tipikalnya.

Venus mengira bahwa Mars hanya berbohong, tapi ia tak melihat sirat kebohongan di mata Mars. Ia ingin percaya, tapi ia tahu bahwa Mars bukanlah orang yang dapat langsung dipercaya.

“Entahlah, Mars.” Venus merasa tak yakin. Ia pergi meninggalkan Mars yang menatap punggungnya hingga menghilang.

(End of POV)

………..

(Venus POV)

Aku tak ada kerjaan. Aku bosan. Sedang ada perang lagi, di sekitar Pafos, beberapa mil dari hutan Cyprus. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalaku. Aku sudah lama tak bertemu dengan Icarus. Bagaimana kalau aku menjenguknya saja?

….

“Ke mana ya dia?”

Aku menyapu sekelilingku. Aku sudah sampai di kediaman Apparatus tapi malah tak menemukan Icarus, padahal aku benar-benar merindukannya. Kutanyakan pada Apparatus, katanya Icarus sedang berjalan-jalan. Heh?

Tak terasa aku berjalan hingga masuk ke dalam sebuah hutan. Saat tersadar, aku memerhatikan hutan ini. Sepertinya aku pernah ke sini. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku mengingat bahwa aku pernah melewati hutan ini bersama Justice dan Shavin (dayangku) dulu. Justice. Bagaimana keadaannya sekarang? Aku juga merindukannya. Artinya ini Hutan Cyprus.

Suara-suara tawa menarik perhatianku. Aku mendekat ke arah sumber suara dan mendapati ada dua orang di sana. Aku menajamkan penglihatanku.

Icarus! Sedang apa dia? Ia terlihat tertawa lepas, bahagia. Tak ada kesedihan di wajahnya. Tapi tunggu, ia sedang bersama seseorang. Aku tak bisa melihatnya karena orang itu membelakangiku. Siapa orang itu?

Aku memperlihatkan keberadaanku dan memanggil Icarus. Icarus yang melihatku langsung berlari ke arahku dan memelukku erat sekali. Aku tahu bahwa ia juga merindukanku. Wajahnya sumringah.

“Aku merindukanmu!”

“Aku tahu,” balasku pada Icarus.

Kemudian kami bercerita satu sama lain. Ia menceritakan bagaimana ia berlatih tiap hari di hutan ini hingga ia yakin kekuatannya sudah pulih 93%, berteman dengan penghuninya, dan sebagainya.

“Kau lebih hidup sekarang,” komentarku akan penampakannya saat ini.

Ia tersenyum lebar. “Makasih!”

Lalu aku teringat pada orang yang menemani Icarus tadi. “Siapa tadi?”

Icarus masih tersenyum lalu memanggil sebuah nama yang amat familiar.

“Justice! Kemarilah!”

Aku menatap Icarus. Ia masih saja tersenyum sambil melihat ke arah lain. Aku mengikuti arah tatapannya dan mendapati sahabatku berdiri mematung menatapku.

……..

Aku tak percaya apa yang baru saja terjadi. Aku menemui Icarus, ia sudah membaik. Kemudian akhirnya aku mengetahui bahwa ia bersama Justice, yang kutahu pada akhirnya bahwa Justice diusir ke hutan Cyprus ini. Justice, sahabatku yang berselingkuh dengan Mars.

Icarus menceritakan tentangnya dengan menggebu-gebu. Bagaimana mereka bertemu, berteman.

Jadi sekarang.. Icarus bersamanya..

(End of POV)

…………

(Author POV)

Terdengar adanya letusan-letusan yang membuat seisi kediaman Apparatus dan hutan Cyprus gempar. Semuanya bisa merasakan dataran yang bergoyang. Gempa? Bukan.

Ini semua adalah akibat dari perang. Entah apa yang terjadi, sepertinya wilayah perang mulai bergeser ke wilayah Olympus. Keyakinan bahwa Olympus akan menang dalam peperangan kali ini mulai mengendur.

“Tak adakah seorang pun di sini yang tahu apa yang telah terjadi?” tanya Icarus dengan gelisah. Ia berjalan mondar-mondir, membingungkan orang-orang di dekatnya.

Ia berhenti tiba-tiba. “Aku harus ke sana. Aku harus melihat apa yang terjadi. Siapa tahu mereka membutuhkan bantuan. Bagaimana kalau mereka kalah?”

Hasrat berperangnya muncul. Venus berdiri dan menatap Icarus galak.

“No war!”

Icarus memberikan tatapan memelas pada kakaknya. “Ayolah. Sekali ini saja. Aku takut kalau mereka kenapa-napa. Tidak biasanya kita mundur seperti ini. Mereka mungkin saja kesulitan menghadapi musuh – kalau tidak mau dikatakan hampir kalah.”

“Justru kenapa-napanya itulah masalahnya, Icarus. Apa kau lupa apa yang telah terjadi padamu dulu, hah? Kau mau celaka lagi?”

“Aku akan baik-baik saja. Kekuatanku sudah pulih. Aku hanya ingin mmbantu, itu saja!” Icarus bersiap untuk pergi tapi Venus menahannya.

“Tidak, Icarus! Kau bisa kembali ke dunia peperangan nanti, bukan sekarang!”

“Maafkan aku, Kak. Aku tidak bisa..”

Dan Icarus pun pergi meninggalkan Venus yang menahan emosi yang bergejolak di dadanya.

……

Lama.. Icarus belum juga kembali. Andrenalin peperangan semakin terasa. Venus terus was-was. Ia ingin membantu, tapi ia benci perang. Bagaimana dengan Icarus, apa yang akan terjadi padanya? Ia hanya bisa menunggu kabar dari beberapa pengawal yang mengikuti Icarus, tapi sampai detik ini mereka tak kunjung datang.

Tiba-tiba salah satu pengawal datang dan melaporkan bahwa kubu Olympus sudah diambang kekalahan. Beberapa pasukan dan punggawa perang telah gugur.

Icarus.. Mars.. Icarus..

Mendengar hal itu Venus langsung membuang egonya dan menuju lokasi perang.

(End of POV)

…………..

(Venus POV)

Bodoh! Apa yang mereka pikirkan. Kenapa tidak menyerah saja?

Lihat, korban berjatuhan di mana-mana. Lagi-lagi orang tak berdosa menjadi korbannya. Wilayah ini sudah hancur berkeping-keping, mulai rata dengan tanah. Darah bercampur dengan lumpur. Pasukan-pasukan itu terbengkalai. Sebagian luka parah, sebagian lagi sudah.. tewas. Kubu lawan terus menyerang.

Aku mulai tidak tahan. Aku hampir saja berbalik untuk meninggalkan tempat ini kalau saja aku tak melihat sebuah panah yang di arahkan ke Icarus. Oh tidak!

Aku berlari menghampiri Icarus, tapi usahaku mungkin akan sia-sia karena jarakku dengan Icarus sangat jauh. Aku tak rela Icarus harus celaka untuk kedua kalinya. Kumohon, jangan Icarus lagi!

Tiba-tiba langkahku terhenti, aku mematung di tempat.

Panah itu sudah sampai di depan Icarus yang sibuk melepaskan elang api. Dan dalam dua meter Icarus akan terkena panahan itu. Tapi ternyata tidak. Panahan itu terhenti dua meter di depan Icarus yang tak sadar akan panahan itu.

Lutuku melemas. Hatiku mencelos. Tenagaku hilang seketika.

Mars berdiri dua meter di depan Icarus dan panahan itu mengenainya. Kemudian yang bisa kulihat adalah ia tumbang. Icarus memegangi dada Mars yang mengeluarkan darah dari balik jubah perangnya.

(End of POV)

…………..

(Author POV)

First..

“Kenapa kau tidak bilang bahwa kau diusir dari istana?”

“Aku malu. Menjadi seorang dayang adalah suatu kehormatan. Tapi apa kata yang lain kalau mengetahui bahwa dayang yang selama ini dibanggakan oleh Dewi Cinta dan Kecantikan Olympus malah diusir karena tuduhan berselingkuh dengan tunangan sang majikan?”

“Hanya tuduhan kan? Apa itu benar?”

“Tidak sepenuhnya benar. Juno benar melihatku bersama calon kakak iparmu, tapi sesungguhnya itu semua tidak seperti yang terlihat. Kami hanya berteman biasa. Mars hanya butuh pelarian dari masalahnya. Tidak ada hubungan apa-apa,”

“Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau memiliki perasaan pada Mars?”

“Entahlah. Mungkin ada, tapi sedikiiit sekali. Aku masih berpikir ratusan kali untuk mengkhianati Venus yang sudah berbaik hati padaku dan menganggapku sebagai sahabatnya, bukan dayang.”

Diam.

“Lalu, kau sendiri kenapa tidak jujur bahwa kau adalah putra mahkota Olympus?”

“Kau tidak pernah bertanya.”

Diam lagi. Beberapa saat kemudian mereka saling tertawa satu sama lain.

Tiba-tiba saja Icarus berlutut di hadapan Justice dan memegang tangannya.

“Jadi, apakah kau bersedia ikut bersamaku kembali ke Olympus?”

Justice tak langsung menjawab. Ia berpikir. Memikirkan apa yang harus ia katakan. Jujur saja, ia masih takut terhadap reaksi keluarga besar Jupiter itu, terutama Juno. Membayangkan sosok Juno yang berwibawa memandanginya dengan tatapan membunuh dan segala kemurkaannya, Justice tak sanggup. Mau ditaruh di mana martabatnya.

“Tenang saja. Kau kembali bersamaku. Tak ada yang bisa menentang,” kata Icarus menjawab keraguan Justice.

Dan sebuah senyuman dari Justice menjawab pertanyaan tadi. Icarus tersenyum dan mengecup punggung tangan Justice.

Second..

Venus berlutut di hadapan tubuh Mars yang masih terbaring, tertidur. Memandangi wajah tampan Mars yang sedikit pucat.

Dua tahun sejak kejadian perang itu. Olympus menang karena Icarus. Icarus dengan emosi dan kemurkaan yang mendidih karena melihat Mars, langsung menyerbu musuh dengan membabi-buta.

Menang memang. Tetapi lagi-lagi suatu harga mahal yang harus dibayar oleh Olympus. Bila sebelumnya Icarus yang menjadi tumbal, kali itu Mars-lah tumbalnya. Mars terluka parah hingga akhirnya harus mendapat pengobatan intensif dari para tabib. Dan lukanya sedikit lebih parah dari yang dialami oleh Icarus.

“Aku tahu kalau aku tampan.”

Venus terkesiap karena Mars tiba-tiba bersuara. Ya, di sinilah ia sekarang. Menemani Mars yang merasakan hal yang sama seperti Icarus dulu. Proses pengobatan dan pemulihan.

Mars membuka matanya.

“Aku harus menyiapkan ramuan untukmu dulu,” Venus bersiap pergi tetapi Mars dengan kuat menarik tangan Venus hingga Venus terjatuh di atas Mars.

“Hey..”

“Nanti saja kau persiapkan. Atau kau bisa menyuruh pengawal untuk menyiapkannya. Sekarang, temani aku dulu.” Mars tersenyum nakal. Venus mendecak tapi mengabulkan permintaan Mars.

……………

“Kau terlalu percaya diri, Mars.”

“Mungkin. Tapi untuk satu hal aku tidak.”

“Apa?”

“Aku tidak berani mengatakan bahwa kau menyukaiku. Tapi aku yakin bahwa kau tidak akan meninggalkanku.”

“Kau yakin sekali..?” Venus mencibir.

“Tentu saja. Kita tak pernah akur tetapi kita tidak pernah berpisah. Bahkan mungkin hal itu tak pernah terpikirkan, ya kan? Seberapa bencinya pun kau padaku..”

“…”

Mars menggenggam tangan Venus.

“Jadi kuharap kita bisa terus seperti ini,”

Venus tersenyum. Mars mengecup kening Venus lembut dan memeluk Venus erat.

***

FIN

Selesai. Sgala bentuk komentar saya terima. A little of bashing..? err, okelah. Berhubung sy jg msi bru d dunia berFFan, jd msi sgt membutuhkan kritik n saran. Jd, senang2lah berbagi makanan(?) pada author GJ seperti sy ini. hhoho

Mian klo endingnya g sesuai keinginan kalian. Semua berdasarkan mimpi sy, jd klo ada yg mo protes silakan protes sm alam mimpi sy. Terakhir.. Komen..huhuhu.. J

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

20 thoughts on “Greece In Peace – Part 2 (END)”

  1. Udah baca dr part 1nya.. Keren nih kisahnya.. Tp knp gods’a jd pke nama lain mereka ya..?? Knp ga pake nama asli dr para god itu sendiri..?? Ex : aphrodite, zeus, hera, dll. ?? Tp dr plot n lain2 bgus bgt thor.. 🙂

    1. semua muncul berdasarkan mimpi saya chingu, jadi saya hanya nyesuain aja. kalo nama2 mrk yg kyk juna, venus, dll. itu adalah nm latin mrk, misalkan aphrodite = venus. juno = hera, jupiter = zeus, dll.
      jadi, aku tetep make nama asli mereka, hanya saja bkn nama asli yunani tapi yg udah di-latin-kan, gitu ^^

  2. author ceritanya bagus.
    itu nama namanya imajinasi sendiri apa emang beneran ada ?
    tapi yang jelas saya suka sama ceritanya !
    DAEBAK ! ❤ 😀

  3. aku udh baca part 1 nyaaa, gabung di sini komennya boleh kaaan? heheh *melas*
    baguuuuuus ceritanya! aku jadi suka mitologi abis baca ini wakakkak
    imajinasinya bagus, keren. jarang2 nemu ff mitologi begini
    bagusbagusbagus~ :*

  4. annyeong haseyoo!!
    qw cuma mw nanya.. judul sebenernya ntu ‘Greece In Present’ atw ‘Greece In Peace’??
    sebenernya sii kaga penting,, tapi gtw knapa qw pengen tw!!
    truuussss ceritanya kerenn!!
    waaaaaaaaa~
    susah diungkapin..
    trus bikin FF ya authorr!!
    HWAITING~!!
    gommawoo
    😀

    1. annyeong juga ^^. baru nyadar nih FF udah publish, hhe
      aku jg baru merhatiin, ternyata adminnya slh nulis judul. judul aslinya Greece in Present kok, bkn in Peace(?)
      hhe, gomawo ^^

  5. ah gila!!ini beneran mimpi?keren buangettt!!!!parah!
    author daebak!!ff yg amat sangat bagus.lanjut ff yg lain ya 😀
    bahkan saat mimpipun otakny ttp jln.makanya bs menghslkan ff sekeren ini

  6. SBLMNYA..MAAV PKE CAPSLOCK..
    AAAAAAA…..BNERAN DEH…AKU TEREAK2 GEJE PAS LIAT NI JDUL ADA DI LIST!!!!

    AKU NNGU BGED NI FF…DR PART 1NYA AJA AKU DH SKA BGED………IIIIYYYYY SENENG…AKU PIKIR AUTHORNYA GAK AKAN NGELANJUTIN LGI……

    SKA DEH MA MARS-VENUS….ICARUS-JUSTICE……
    LNJUTIN DONG/PLAK!!!

    CRITANYA MRKA DH PNYA ANK GTU…TRS ICARUS MA JUSTICE NIKAH…KEKEKE
    HEBAT NI,, DR MIMPI BSA LNGSUNG JD CRITA….IMAJINASI AKU LNGSUNG TERBANG!!!KEKEKE

  7. Ih ampun deh bneran ga boonk ni ff yaa..aah apalah itu..yg jlaz ni crita ny kerend bgt!unik..pa lgi brdasarkan mimpi.gilaa q mau bgt mimpi gt,,pa lgi klo d mimpinya icarus itu bneran taemin!hahaha..asli asix bgt klo d lanjutin truz author.ah iy q tlat emank baca ny.pi untunk ttep bisa bca ni ff.cz blum pernah jg bca ff dgn latar jman” yunani gt?wohoo..mantab lah author

  8. keren banget !!!
    aku suka ceritanya yunani kuno, jadi beda dari cerita lain
    bahasanya juga bagus banget.
    jadi gak percaya nih kalo authornya baru dalam dunia ff, ini terlalu keren

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s