Love Without A Name – Part 5

Author : flaming tezqia

Main Cast : Lee Jinki, Kim Nara, Choi Minho, Kim Kibum, Lee taemin, Kim Jonghyun

Support cast :Lee Hyun Byul, Lee Jang Eon, Song Eun La, Kim Yong Jin.

length : sequel

genre :mistery, life, family, romance.

rating: pg-15

NB : baca dengan hati-hati ya.. banyak penjelasannya..

©2010 SF3SI, Freelance Author.

Nara POV~

“Nara cepat bangun.” Suara ibu membangunkanku.

“yak, umma. Jam berapa ini? Masih pagi sekali.” Jawabku setengah sadar.

“ayolah cepat bangun, kita harus ke rumah sakit sekarang. Appa sudah mengunggu di mobil” Rumah sakit? Siapa yang sakit?

“siapa yang sakit umma? Aku masih sangat mengantuk. Kalian pergi berdua saja.” Aku masih uring-uringan di tempat tidur.

“sudahlah, ayo cepat bangun. Tuan Lee sekarang di rumah sakit, kita harus ke sana secepatnya.” Perkataan umma mengagetkanku.

“mwo? Tuan Lee? Sakit apa?” aku langsung terduduk mendengar ibu mengatakan tuan Lee yang masuk rumah sakit.

“malam tadi dia terkena serangan jantung. Sekarang kita harus kesana, secepatnya! Ada yang harus dibicarakan.”

“baiklah.” Aku segera berdiri, tanpa membasuh muka dan hanya mengambil jaket. Di mobil ayah sudah menunggu kami lama.

Di dalam mobil tak banyak yang dibicarakan. Wajah ayah dan ibu terlihat pucat sekali, sepertinya mereka sangat khawatir dengan keadaan tuan Lee. Mataku masih sangat berat, hingga akhirnya aku tertidur dalam perjalanan menuju rumah sakit.

***

“Nara, bangun! Kita sudah tiba.” Ibu memebangunkanku lagi. Kami lalu lalu bergegas masuk menuju lobby rumah sakit. Ayah dan ibu berjalan cepat sekali sehingga aku kewalahan mengimbangi langkah mereka. Kami masuk kedalam lift menuju lantai 2.

Kami tiba didepan sebuah ruangan rumah sakit.

“KENAPA KALIAN MEMBEBANKANNYA KEPADAKU? KENAPA TIDAK KEPADA JUNKI HYUNG SAJA?!” ku dengar suara Jinki berteriak. Apa yang sedang mereka bicarakan?

“kau lihat tidak ada Junki disini? Dia terlalu sibuk. Dia juga sibuk mengurus hal yang lain Jinki. Dia sekarang ada di luar negeri dan tidak mungkin kita meyuruhnya kembali ke Seoul dan melangsungkan pernikahan itu besok.”

“KALIAN SAJA YANG TERLALU MEMANJAKANNYA. TERLALU MENYAYANGINYA! KALIAN MEMBEBASKAN DIA UNTUK BERBUAT APAPUN YANG DIA MAU! TAPI AKU TIDAK!  AKU TIDAK MENYUKAINYA, APALAGI MENCINTAINYA. DAN KENAPA MASA LALU KALIAN TERLALU BURUK?”

PLAKK…

Ku mendengar suara tamparan yang keras. Kenapa Jinki selalu berteriak? Apa ini ada hubungannya denganku? Lalu siapa itu Junki?

“TUTUP MULUTMU! YANG HARUS KAU  PIKIRKAN ADALAH MENYELAMATKAN KELUARGA KITA DAN KELUARGA NARA DARI ORANG YANG INGIN MEMBALASKAN DENDAM KELUARGA PIN GI ITU!”

Ayah membuka pintu kamar itu, kemudian masuk lebih dulu bersama ibu. Aku masih berdiam didepan pintu. Tak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Nara ayo masuk.” Ayah meyuruhku masuk. Seketika suasana menjadi sunyi senyap. Aku melangkahkan kakiku masuk. Aku melihat tuan Lee terbaring dibednya dengan infuse dan selang oksigen, dia tersenyum padaku. Ada ayah dan ibu Jinki juga disitu.

Aku menatap Jinki, tapi dia malah memalingkan mukanya dariku.

“sekarang apa? Kenapa tidak melakukan pernikahannya disini saja?”ucap Jinki datar.

“pe..per..pernikahan apa?”tanyaku terbata-bata.

“pernikahan kita. Aku rasa kau sudah mendengar percakapan kami tadi.” Jawab Jinki sinis.

“pernikahan kita?”

“ne, Nara. Pernikahan kau dan Jinki. Appa merasa keadaan tubuhnya semakin buruk. Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih baik kita mempercepat pernikahanmu dan Jinki” kali ini paman Jang, ayahnya Jinki bersuara.

“kenapa aku harus menikah dengannya? Aku tak tau apa-apa selain tentang 40 tahun lalu itu.” Jawabku datar. Aku hampir menangis. Apa mereka tidak mengerti bagaimana persaanku saat ini?

“ya, kamu memang tak tau apa-apa. Setelah bertemu dengan Hyera pun sepertinya aku ingin membatalkan pertunangan itu.” Jinki berkata tanpa menatapku. Hyera?

PLAKK..

Kudengar suara tamparan itu sekali lagi. Paman  Jang menampar Jinki lagi.

“berhenti memikirkan Hyera! Dia bukan orang yang baik” paman Jang berkata.

Aku semakin tak mengerti apa yang terjadi. Ku rasakan air mataku akan segera tumpah. Aku segera berlari keluar kamar dan meyusuri lorong rumah sakit yang kosong. Saat aku berbelok hendak memasuki lift, aku melihat Minho, pacar Eun La berdiri didepan lift.

“mi..Minho-ssi? kenapa kau ada disini?” kenapa dia ada disini? Bukankah ini pagi sekali? Apa ada yang sakit?

“a..ahh Nara. Ke..kenapa kau ada disini?” jawabnya terbata-bata. Dia kaget melihatku ada disini. Bertanya balik padaku kenapa aku ada dirumah sakit ini.

“ada yang sakit, ..”

“kenapa kau menangis?” minho memotong omonganku.

“ahh, tidak apa-apa. Aku hanya…”

Omonganku lagi-lagi terpotong begitu aku mendengar seseorang memanggilku. Rupanya Jinki mengejarku.

“Nara, kita harus bicara..”

“bicara apa?” jawabku ketus.

“maafkan soal ucapanku tadi. Sekarang kita benar-benar harus bicara soal pernikahan itu.”

***

Aku dan Jinki sedang duduk di taman rumah sakit. Aku sudah menghentikan tangisku sejak tadi. Jinki sudah menceritakan semuanya, tentang pernikahan itu, tentang masalah lain yang membuat takdir ini harus terjadi.

Aku baru tau, ternyata bukan hanya karena kenangan masa lalu itu. Nenekku dan kakeknya Jinki, tuan Lee, ternyata sudah membuat sebuah perjanjian. Karena nenek tak bisa bersama lagi dengan tuan Lee, mantan kekasihnya, ia merasa sangat bersalah. Ia ingin membuat keluarga mereka berdua menjadi satu, menjadi sebuah keluarga besar, yaitu dengan menjodohkan anak mereka berdua nantinya.

Tapi apa daya, tuan Lee dan nenekku hanya mempunyai satu anak yang sama-sama laki-laki. Itu artinya, anak tuan Lee yaitu paman Jang, tak mungkin menikah dengan ayahku. Karena hal itu, perjodohan itu diturunkan saat generasiku dan Jinki. Aku harus menikah dengannya! Itu intinya.

Aku tak mengerti, kenapa harus ada perjodohan itu. Apakah nenek terlalu cinta dengan tuan Lee dan sebaliknya? Apakah semua ini sudah dituliskan dalam lembaran takdir?

Otakku berpikir keras untuk bisa mengerti. Semakin lama ku pikirkan, kepalaku semakin sakit. Yang bisa aku simpulkan sekarang hanya: `tuan Lee dan Pin Gi itu dulu pernah menjalin hubungan, lalu berakhir dan akhirnya tuan Lee lebih memilih nenekku untuk menjadi kekasih barunya. Pin Gi yang masih terlalu cinta dengan tuan Lee, mengira tuan Lee mengakhiri hubungan mereka karena telah memiliki perempuan baru yaitu nenekku. Pin Gi tak rela jika tuan Lee bersama dengan nenekku. Dia lalu menyimpan dendam dalam hatinya. Dia berniat ingin memisahkan tuan Lee dan nenek. Tapi ternyata, tanpa dipisahkan olehnya pun, tuan Lee dan nenek juga tak bisa bersama, tak bisa menjadi suami-isteri. Tuan Lee lalu menikah dengan sahabat terbaik nenek, itu juga atas usul nenek. Mereka berdua lalu membuat janji, akan membuat keluarga mereka menjadi satu, menjadi keluarga besar dengan cara menjodohkan anak mereka. Tapi ternyata hal itu belum bisa terjadi, lalu mengubah perjodohan anak itu menjadi menjodohkan cucu mereka. Pin Gi mengetahui hal itu. Pin Gi juga menruh dendam dengan tuan Lee karena merasa tuan Lee telah mengkhianati cintanya. Beberapa tahun kemudian, tuan Lee mulai mencapai kesuksesan dalam karirnya, yaitu membuat sebuah perusahan entertainment yang akan meramaikan berbagai media di Korea Selatan. Pin Gi membuat strategi untuk menghancurkan kehidupan tuan Lee, yaitu dengan menyangi perusahaan tersebut. Berbagai spekulasi muncul, mereka berdua sempat bersaing. Tapi ternyata tuan Lee lebih mujur. Perusahaan Pin Gi akhirnya mulai bangkrut dan ia tak berhasil membalaskan dendamnya kepada tuan Lee. Hal itu membuat rasa dendam Pin Gi semakin menjadi. Sekarang sudah ada cara lain yang lebih baik.

Jinki berkata padaku bahwa, kami benar-benar harus menikah. Itu akan membuat seluruh keadaan menjadi lebih baik.

Aku mencoba berpikir jernih. Apa yang sebaiknya dan harus aku lakukan sekarang. Bukankah aku masih sekolah, dan sekarang harus dituntut menikah?

Aku memang mengenal Jinki, tapi bukan berarti aku saying dan mencintainya. Apa mereka semua tak ingin tau bagaimana perasaanku sekarang? Sedikit saja..

“kita kembali ke dalam?” kata Jinki membuyarkan lamunanku. “mungkin sekarang kau sudah baikan? Mereka juga pasti tak akan terlalu memaksamu. Tapi ini sepertinya memang benar-benar harus terjadi.”

“sepertinya…” aku menatap mata Jinki dalam-dalam. “kita memang harus menikah.”

“mwo? Apa katamu?” dia terlihat sedikit kaget.

“ya, kita menikah saja. Semua masalah akan selesai, yah mungkin satu masalah ini.” Jawabku meyakinkan.

“sudahlah. Kita masuk saja dulu.” Jinki tersenyum sebentar, lalu menarikku kembali ke ruang rawat tuan Lee.

***

Sekarang aku ada disini disebuah rumah khas Korea di pinggiran kota Nan Yuan. Rumah ini luas, namun juga cukup tertutup dari masyarat luar.

Semua keluarga sudah berkumpul. Keluargaku, keluarga Jinki. Juga seorang pendeta. Ya, hari ini memang hari pernikahanku. Setelah kejadian waktu itu dan dibatalkannya pertunangan. Aku sudah menyetujui apapun yang ingin keluarga lakukan.

Aku masih berdiri menatap ke jendela yang menghadap langsung ke sebuah laut yang sangat indah. “takkan ada yang mengetahuinya. Dan inilah yang terbaik.” Ucapku dalam hati meyakinkan diriku sendiri bahwa ini adalah jalan yang benar.

“Nara..!” seseorang memanggil namaku. Ternyata Eun La yang datang.

“Eun La..kau datang.” Ucapku mencoba bersikap biasa- biasa saja.

“tentu saja. Mana mungkin aku melewatkan momen ini. Oh ya, Jonghyun juga ada.”

“halo..” Jonghyun juga masuk menemuiku begitu Eun La menyebut namanya.

“Jo..Jonghyun?” aku kaget melihat kedatangan Jonghyun. Aku sama sekali tak memberitahunya tentang hal ini.

“selamat. Kau cantik sekali hari ini.” Jonghyun tersenyum masam padaku.

“Jonghyun mianhae..aku..” aku hampir menangis lagi.

“sst, sudah. Tak usah dipikirkan. Aku datang kesini untuk melihatmu tersenyum bahagia. Jangan menangis karena sedih. Nanti kau tak cantik lagi.” Ucapnya menenangkan.

“baiklah” aku tersenyum pada Jonghyun.”Eun La, Minho-ssi tidak datang?”

“ne, inikan bukan hari libur. Pekerjaannya di kantor masih banyak sekali jadi dia tak bisa datang. Hanya menitipkan salam padamu.” Kata Eun La.

“Nara..! ayo cepat bersiap-siap. Sebentar lagi acaranya akan mulai.” Umma memanggilku.

“ne, umma. Sebentar lagi aku keluar. Jonghyun, bagaimana dengan sekolahnya?”

“sekolah apa? Ulangan sudah selesai, tidak masuk beberapa hari juga bukan masalah besar.” Jonghyun tertawa kecil.

“aishh, sudah-sudah. Cepat kita keluar, nanti ibumu memanggil lagi.” Eun La menarik tanganku.

“ne, arasso..”

~end Nara POV

***

Jinki POV~

“jangan gugup-jangan gugup” aku berkata pada diriku sendiri. Hari ini adalah hari pernikahanku, seperti yang atur oleh kakek. Tempatnya di sini, di sebuah rumah milik kakek di Nan Yuan. Seluruh keluarga sudah berkumpul. Rumah ini juga diubah sedemikian rupa agar mirip juga dengan gereja. Tentunya tak ada orang yang tau tentang pernihan ini, apalagi media masa.

“pegantin wanita memasuki ruangan.” Teriak pembawa acara yang merupakan pamanku dari pihak ibu.

Nara masuk dengan digandeng oleh appa. Dia cantik sekali, aku terkagum-kagum dibuatnya. Dengan dress pengantin yang dikenakannya, juga penutup kepala yang serasi, dan.. semuanya sempurna dengan rambut pendek sebahunya, dia makin terlihat lebih cantik.

Kini Nara sudah ada disebelahku. Kami bersiap mengucap janji. Mungkin ini hanya sebuah janji palsu? Aku tak benar-benar mencintainya. Oh Tuhan maafkan aku. Aku tak tau apa yang akan terjadi nantinya. Apa pernikahan kami akan bahagia? Banyak orang mengatakan, walaupun saat pernikahan kau tidak mencintainya, tapi lama kelamaan akan tumbuh perasaan cinta itu, dan kau akhirnya tak ingin melepaskanya, tak ingin orang yang kau cintai itu pergi dari hidupmu.

Janji sudah terucap, cincin sudah dipasang dan sekarang sebuah ciuman pernikahan. Tak ada cium bibir, karena aku hanya mengecup keningnya pelan.

***

Seluruh rangkaian pesta pernikahan sudah terlaksana. Ahh, aku sudah sangat lelah. Kami berdua akan menuju hotel yang sudah dipesankan oleh appa dan umma, letaknya cukup jauh dari sini. Kami akan menginap disana untuk satu malam dan nantinya akan langsung kembali ke Seoul. Seluruh keluarga juga akan kembali ke Seoul malam ini.

Kami berdua masuk kedalam mobil dan hanya diam tanpa suara hingga akhirnya tiba didepan hotel. Karena perjalan yang lumayan lama, Nara sempat tertidur.

Petugas hotel membukakan pintu mobil dan menyambut kami juga memberitahu dimana letak kamar kami.

***

“hhhh..” aku menghela nafas panjang. Acara pernikahan tadi menguras banyak tenaga. Nara ada disampingku, masih mengenakan baju pengantinnya. Sekarang sudah menunjukan pukul 7 malam.

“Nara, sebaiknya kamu ganti baju dulu.” Dia memandangku sebentar kemudian mengangguk dan masuk kedalam kamar mandi.

Aku tak tau apa yang akan terjadi malam ini.

“Jinki-ssi!” teriak Nara dari dalam kamar mandi. Aku segera mendekatinya. Dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalanya.

“apa kau membawa baju?” tanyanya padaku.

“tidak, katanya disini sudah disediakan baju. Memangnya kenapa? Kau juga tidak bawa baju?” Jawabku santai.

“omo, mana  mungkin aku membawanya, kau lihat aku tak bawa apa-apa?  apa yang harus kulakukan.”

“memangnya kenapa?”

“tidak adakah baju yang wajar disini?”

“apa maksudmu?”

“liat saja ini” katanya sambil membuka penuh pintu kamar mandi. Aku tercengang melihatnya. Dia mengenakan sebuah dress tidur terang. Aku dapat melihat dengan jelas pakaian dalamnya. Darahku berderis, jantungku berdegup cepat.

“yah, kenapa kau memandangku begitu? Kyaaa.. seharusnya aku tidak memperlihatkannya padamu.” Brakk.. dia menutup pintu kamar mandi. Ah, hilanglah sudah surgaku.

“Jinki-ssi, aku pinjam kemejamu saja, atau piyama ini saja yang ku pakai.”

Piyama? Oh, mungkin baju yang sudah disiapkan disini.

“ne, kau pakai itu saja.”

Aku merebahkan badan ku diatas kasur. Aku terniang-niang dengan pemandangan yang kulihat beberapa menit yang lalu. Ahh, mesum sekali aku ><.

Nara keluar dari kamar mandi dengan piyama yang kebesaran. Wajahnya lucu sekali, apa dia masih malu dengan kejadian tadi?

“apa mereka sudah gila? Menyiapkan baju untukku seperti itu.” Katanya dengan kesal.

“sudahlah tak usah dipikirkan. Ini sudah malam, lebih baik kau tidur.” Aku bangun meletakkan jas dan dasi ku digantungan. Ahh, baju ini membuatku gerah. Lebih baik aku membukanya. Toh aku juga mengenakan kaus dan boxer.

“yah, kenapa kau membuka bajumu?” Nara kaget dengan apa yang ku lakukan.

“ada apa? Tenang saja, aku tak akan berbuat macam-macam padamu.”

“yang mengiramu akan berbuat macam-macam juga siapa?”

Setengah jam kemudian Nara sudah tertidur pulas. Sedangkan aku masih duduk disofa didepan televisi. Mataku sudah sangat mengantuk. Ku matikan tv dan bersiap tidur disofa ini. Tiba-tiba ku dengar handphone Nara berbunyi, sepertinya dia tidak mendengarnya. Ku dekati dia, dan ku ambil handphone yang masih berbunyi itu. ‘Taeminnie’ oh, rupanya Taemin yang menelponnya. Untuk apa Taemin menelponnya malam-malam begini? Apa dia memang biasa menelpon Nara malam-malam?

Aku hampir saja ingin mengangkat panggilan itu, tapi sebelum aku mengangkatnya, handphone itu berhenti berbunyi. Beberepa menit kemudian sudah tidak ada panggilan lagi. Mungkin Taemin juga sudah tidur. Aku meletakkan handphone itu ditempat semula.

Tanpa kusadari, aku duduk ditepi ranjang disebelah Nara. Ku pandangi wajahnya, lamaaa..sekali. Yeoja ini ternyata manis juga. Tanpa sengaja, kuusap pipinya yang lembut dengan punggung tanganku. Ku dekatkan wajahku kewajahnya.

Tunggu! Apa yang sedang ku lakukan? Apa yang terjadi padaku malam ini? Bukankah aku tidak menyukainya? Oh Tuhan, kuatkanlah imanku…

***

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

17 thoughts on “Love Without A Name – Part 5”

  1. Akhirnya menikah~ Wah maaf ya author aku pernah jd silent reader -_____-” gak bisa komen dari hp.
    Baru juga nikah Jinki kayanya udah ada rasa kiw.
    Oiya aku suka cara author ngejelasin masalahnya gak ribet 🙂

  2. Ini ceritanya keren bgt. Ak smpe nyari2 lagi dari part smpe 5 ak baca dan ya. Ceritanya nyambung. Padahal ini termasuk cerita yg ribet. Tp author sukses jelasin rinci nya. Ini ada berapa part? Admin post nya jgn pelit2 donggg.hhu tiap hari nih aku ngecekin . hhu

  3. wah! carita.a makin keren…
    bneran loh, author dapet inspirasi dri mna sih?
    konflik.a keren bgt…
    bner tuh, konfik.a ribet, tpi cara ngejelasin.a ga ribet
    pkok.a DAEBAAKK!!
    ditunggu lanjut.a!

  4. semoga akhirnya ttp ama jinki.aduh penasaran bgt nih yg jd cucu pingi itu siapa??minhokah?ato taemin??
    semoga lanjutannya ga lama di post

  5. haiaah~`
    jinki apa yang akan kau perbuat dengan nara, huh????
    andwaeee~~

    aigo~ chingu part selanjutnya mana nih??

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s