Half Married – Part 3

Half Married

( Part 3 )

Asyik… Asyik… kita udah lanjut ke part 3. Ada yang penasaran? Ada yang penasaran??

Langsung aja yuk dibaca. Kajja!! ^^

Author: I-el

Main Cast: Choi Minho, Ji Hye Rin (para flames, anggaplah itu diri kalian)

Support Cast: Other SHINee’s member, Sulli f(x), eomma Minho

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-15 ??

Summary : .”Jadi, kalian mau aku bagaimana?”

Jaga dia. Jangan sia-siakan dia lagi.”

©2010 SF3SI, Freelance Author.

Kibum mengacak-acak kotak P3K. Aku tertarik melihat obat macam apa sih yang harus istriku konsumsi. Aku lihat Kibum seperti mencari-cari obat yang ada dipikirannya. Dia mulai frustasi karena mungkin tidak menemukan obat yang dia cari.

”Hiks.. hhh.. uhukk..uhukk.. aaargh.. sakit.” Hyerin terus menggeliat tak karuan. Aku tak mengerti tentang obat, sementara Kibum sudah terbiasa dengan hal itu karena Ibunya adalah seorang suster. Jadi, aku percayakan pada Kibum.

”Hiks… sakiiit.” Hyerin menjambak rambutnya. Aku duduk disampingnya dan menggenggam tangannya agar tidak terus-terusan menyakiti dirinya sendiri. Taemin mendekatkan wajahnya ke Hyerin, dia memperhatikan reaksi Hyerin. Hyerin terus menangis. Aku tidak tahan melihat perempuan menangis, apalagi ini semua karena aku. Aku memeluknya, memeluknya seperti yang aku lakukan 2 bulan yang lalu. Perempuan butuh itu kan untuk mengurangi beban yang ditanggung?

”Kibum, APA KAU BELUM MENEMUKAN OBATNYA?!” Kibum tersentak kaget, yang lain juga. Aku panik, sangat panik makanya aku berteriak

”Aigoo!! Hyerin-ah, kau kena vertigo, ya?” kata Taemin tiba-tiba. Aku menatapnya dengan penuh tanya. Hyerin tidak menjawab, badannya terlalu lemah untuk merespon.

”Aku sudah ketemu, tapi bingung yang mana.” keluh Kibum sambil menunjukan 4 macam obat ke arahku. Aku baca satu per satu. Meklizin, Dimenhidrinat, Perfenazin dan Skopolamin. Astaga!! Aku juga tidak tahu.

”Coba lihat!” kata Onew hyung sambil mengambil keempat obat itu dari tangan Kibum. ”Skopolamin ini plester pencegah motion sickness, kan?” tanya Onew hyung lagi. Kibum mengangguk, sementara aku terus memeluk Hyerin sambil memperhatikan.

Srekk…

Onew hyung menyobek bungkus Skopolamin dan menempelkan plester itu di punggung tangan Hyerin.

10 detik.. 20 detik.. Hyerin terlihat lebih tenang.

”Sekarang minum ini, Hyerin.” Onew hyung mengambil 1 tablet Perfenazin.

“Eum…” Hyerin mengeluarkan suara ke arah Kibum yang membantunya minum dengan gelas, pertanda ‘sudah. cukup’.

Segera Kibum menarik bibir gelas dari bibir Hyerin. Aku meletakkan tubuh Hyerin perlahan ke posisi tidur. Aku memandang wajah Hyerin cukup lama, tapi Jonghyun hyung menarik tanganku.

Kami duduk di sofa. Wajah Kibum dan Onew menjadi serius. Apa mereka akan menyalahkanku? Aku duduk dengan malas sambil menghela nafas panjang.

” Minho, kau tahu penyakit jenis apa yang menghantuinya?” tanya Onew hyung memecah lamunanku. Aku menggeleng.

”Vertigo, rasa pusing yang amat sangat dan membuat penderitanya merasa dirinya berputar atau merasa benda sekelilingnya yang beputar.” Kibum menjelaskan

”Dia tersiksa saat batuk, dan flu membuat dia makin kekurangan asupan oksigen ke otak. Jadi kupikir dia menderita Vertigo Laryngea, rasa pusing yang amat sangat karena serangan batuk.” Taemin dan Jonghyun hyung mengangguk-angguk mendengar penjelasan Onew hyung.

”So?” tanyaku seolah tidak peduli, padahal sejujurnya aku ketakutan mendengar kenyataan bahwa penyakit itu membayangi Hyerin.

”Ini serius, MINHO!!.” kata Kibum dengan nada yang meninggi. ”Betapa bahayanya jika kau terus menerus membuat batinnya tersiksa.” kata-kata Kibum itu menusuk jantungku dalam.

”Jadi, kalian mau aku bagaimana?” tanyaku meminta pendapat.

”Jaga dia. Jangan sia-siakan dia lagi.” kata Onew hyung

”Lagipula, apa alasanmu setiap hari marah kepadanya? Apa?” tanya Jonghyun hyung dengan tegas, membuat aku berpikir.

”Sikap cemburunya.” jawabku jujur. Semua memekik, hanya Jonghyun hyung yang sepertinya mau ketawa.

”Hei, itu wajar, kan?”

”Anio, bagiku. Dia tidak punya alasan apapun untuk menyindirku setiap hari aku pulang syuting. Kami menikah bukan karena perasaan, tapi karena tuntutan kondisi. Kalian lupa? Bahkan seminggu sebelum pernikahan kami saja, kami belum saling mengenal sama sekali.”

”Hyung yakin?” pertanyaan Taemin seakan menggodaku.

”Ne.” kataku sambil menyalakan TV

”Sepertinya tidak begitu, Minho.” Kibum mendorongku sampai badanku hampir terlempar ke depan.

”Aku bisa jatuh tersungkur, tau.”

”Minho, kubilang, ya. Tapi ingat! Hyerin-ah, pada awalnya juga pasti sama denganmu. Canggung, tidak bisa menerima takdir ini. Kau sendiri yang bilang kalau dia belum pernah punya pacar sama sekali sepertimu, kan?” kata Jonghyun hyung. ”Sekarang kau pikir sendiri, menurutmu apa pikiran itu masih ada di otaknya?” aku berpikir. ”Dia belajar menerima semuanya. Sekalipun dia fansmu, dia punya kehidupan impiannya sendiri dan lelaki impiannya sendiri. Dia paksa dirinya melakukan apa yang harus dia lakukan selayaknya seorang istri, sekalipun dia tahu kau tidak menganggapnya ada. Kau sendiri yang bilang, kalau dia sudah tahu motifmu menikahinya 2 bulan yang lalu, tapi apa pernah dia marah dan berkata kasar? Apa pernah dia berbuat sesuatu yang bisa memberitahumu kalau dia membenci pernikahan ini?”

”Dia pernah meminta cerai. Padahal aku yakin dia tahu, perceraian akan membuat imageku makin buruk.” kataku menanggapi nasehat panjang Jonghyun hyung.

”Itu gak salah. Wajar kali. Dia minta cerai bukan tanpa alasan, kan? Dia begitu karena dia ingin kau tahu, bahwa dia kini menyayangimu, Minho.” sahut Kibum. Aku tertegun. Kata-kata itu membuat aku berpikir

”Sekalipun kau masih mencintai Sulli, setidaknya jaga perasaannya sedikit sebagai seorang perempuan kalau kau tidak bisa menghargainya sebagai istrimu. Dia bukan perempuan yang kuat, Minho. Dia lemah, tapi pura-pura kuat.” kata Onew hyung sambil menarik tangan Taemin dan Kibum menuju kamar tamu. Mereka meninggalkanku yang sedang berpikir.

”Gunakan pikiranmu sebagai seorang laki-laki, jangan berpikir dengan otak seorang artis yang kebanyakan berpikir egois, bukan realistis.” kata Kibum tiba-tiba sambil menutup pintu

Tatapanku memang ke arah TV tapi pikiranku melayang kemana-mana…

”Hhh… Minho, sebenarnya orang seperti apa kau ini??!” kataku pada diriku sendiri sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. (*** I-el)

*          I-el       *

”Hei, kau sudah bangun, Hyerin-ah?” tanya Kibum dengan spatula yang masih dia genggam. Hyerin berjalan sempoyongan ke arah dapur.

”Mianhaeyo, kami membangunkanmu ya, Hyerin-ah?” kata Taemin sambil tersenyum kepada Hyerin yang masih mengucek matanya.

”Mari-mari duduk disini.” kata Onew sambil menarik kursi meja makan, mempersilahkan Hyerin duduk. Hyerin melemparkan senyumnya yang lemah kepada Onew.

”Sebentar lagi umma kami akan selesai memasak sarapan.” kata Jonghyun memberikan pengumuman.

”Eumh.. Minho-ssi kemana?” suara Hyerin benar-benar pelan, seakan sulit sekali untuk mengeluarkan suara. ”O ya, semalam kalian makan makanan yang aku simpan di microwave?”

”Hyung sedang pergi ke mini market sebentar, daritadi Key hyung cerewet karena isi kulkasnya gak sebanyak di dorm.” jelas Taemin. ”Ne. Tapi Onew hyung sendirian yang memakannya. Lagian menunya ayam, sih” Taemin mencibir ke arah Onew yang menyeringai.

”Kau sudah merasa baikan, Hyeri-ah?” tanya Onew sambil mengambil tempat di samping Hyerin. Hyerin hanya tersenyum.

Ding..dong..ding..

Taaemin berlari-lari ke arah pintu depan setelah mendengar suara bel berbunyi, tapi belum sempat Taemin meraih knop pintu, Minho sudah masuk kemudian menutup pintu. Hyerin melongok untuk melihat siapa yang baru datang.

Krik..krik..

Suasana di rumah Hyerin dan Minho yang sudah mulai menghangat karena member SHINee, terpaksa harus kembali dingin saat Minho muncul. Dengan wajah bingung, Minho meletakan seluruh belanjaan ke atas meja dapur. Key sibuk menata sarapan di atas meja makan. Mereka makan dalam kondisi saling diam.

*          I-el       *

Tidak satupun dari mereka berenam yang berusaha meruntuhkan tembok es yang padat di rumah tersebut. Seakan bisa saling membaca pikiran, mereka tetap makan tanpa ada suara. Yang terdengar hanya suara kursi Minho yang sejak tadi terus bergeser, menunjukan kalau dia sedang tidak tenang. Hyerin hanya terus menunduk, sedangkan member SHINee yang lain hanya saling liat-liatan, berusaha mencari arti dari kediaman itu.

Akhirnya, setelah 30 menit tidak ada suara apapun di ruang makan selain suara sendok, sumpit yang membentur sisi-sisi mangkuk dan suara gigi yang bergemeletuk karena mengunyah, Onew hyung berhasil mengeluarkan suara meski ragu-ragu.

”Hyerin, kau sudah kuat kalau kami tinggal?” terpasang wajah penuh tanda tanya dari Jonghyun, Key, Minho, Taemin dan Hyerin.

”Maksudmu apa, hyung?” tanya Jonghyun yang sedang bersusah payah menelan sarapannya.

”Maksudku, hari ini kita ada jadwal syuting, kan? Nah, kalau dia masih gak kuat, mending kita titipin dirumah sakit aja.”

”Dititipin? Emang hyung pikir Hyerin itu bayi?” kata Key sambil memukul punggung Onew hingga membuatnya tersedak.

”Ohokk.. pelan-pelan kenapa?! Sakit tau. Kau menginginkan aku mati agar kau yang menggantikanku jadi Leader, hahh?!”

”Berlebihan.”

”Tapi saran Onew hyung bagus juga.” kata Taemin sambil menunjukan senyum sumringah.

”Kau mau tinggal sebentar di Rumah sakit, Hyerin?” tanya Minho sambil melempar pandangannya ke Hyerin. Pandangan itu justru membuat nafas Hyerin seperti tercekat.

”E-eh.. tidak usah. Aku dirumah saja.” kata Hyerin menolak. ”Lagipula sepertinya hal itu akan merepotkan kalian. Tapi, gomawo atas tawarannya.” kata Hyerin lagi sambil tersenyum.

”Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Aku tidak mau mendengar ocehan Manager hyung kalau kita sampai telat lagi.” ajak Onew sambil berjalan keluar pintu.

”Hyerin-ah, piring kotornya biarkan saja di bak cuci. Nanti selesai syuting, kami yang urus.” kata Key agak teriak sambil menutup pintu depan. ”O, ya. Kalau kamu ngelanggar, aku dan member yang lain gak mau lagi nolongin kamu apa-apa.” ancam Key yang kembali membuka pintu depan, membuat Hyerin sedikit melonjak kaget. Kemudian pintunya ditutup lagi. Hal itu membuat Hyerin tersenyum. (*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Hyerin POV

Ahh, pusing. Tidur dari pagi sampai sore itu menghasilkan rasa sakit dikepala yang gak jauh beda dengan efek dari vertigo, ternyata. Ini pertama kalinya aku bisa tidur nyenyak jika serangan vertigo kembali muncul di kepalaku. Biasanya, kalau bukan karena efek obat tidur, aku gak akan bisa tidur. Aku masuk ke kamar mandi, membuka seluruh pakaianku dan membiarkan air hangat mengalir dari shower, jatuh ke puncak kepalaku. Lumayan sedikit membuat rasa sakit kepalanya hilang, dan membuat aku kembali segar dengan semangat dari aroma honey liquid soap yang kupakai. Setelah aku rasa cukup mandinya, aku ambil celana panjang, kaos tebal dan cardigan. Aku pakai semua itu untuk membuatku merasa cukup hangat.

Ding..Dong..Ding..

Suara bel membuat aku buruburu berlari dengan rambut yang masih belum kering betul, tapi aku tetap harus buka pintu. Kasihan SHINee kalau terlalu lama menunggu di depan. Tepat sekali mereka datang saat aku selesai mandi.

Klek…

Aku buka knop pintu

”Kau Hyerin?” tanya seorang wanita dari pintu yang telah terbuka lebar. Wanita itu berdiri dengan mantel bulu coklat yang panjangnya menutupi paha, menggunakan kacamata hitam, dan sepatu boot berwarna senada. Sungguh eksotis. Aku terperangah dengan gaya berbusananya. Sayangnya, wanita yang sekarang berdiri dihadapanku ini adalah seorang yang paling aku hindari. Setidaknya untuk sekarang ini, karena aku belum siap. Belum siap sejak kejadian itu.

*          I-el       *

Aku baru saja akan menutup pintu, aku belum siap. Tuhan, baikkah caraku kalau aku harus menutup pintunya sekarang? Tidak, ini sudah terlalu terlambat.

“Ne. Silahkan masuk, eomma.” kataku pada akhirnya, mempersilahkan eomma Minho-ssi masuk.

“Kemana Minho?” tanyanya sambil sedikit mendorong badanku. Karena memang aku sedang lemas, badanku jadi terdorong ke pintu.

“Minho-ssi sedang syuting, eomma.” jawabku berusaha tenang. Bagaimanapun juga, dia eomma dari suamiku.

“Hehh?! Minho saja tidak mengizinkanmu memanggil namanya tanpa embel-embel. Apalagi aku. Panggil aku ahjumma, aku tidak sudi kau panggil eomma sama sekali. Sakit sekali telingaku mendengarmu memanggilku begitu.” katanya panjang lebar sambil menyeruak isi kulkas. Aku hanya memperhatikan punggungnya saja.

“Ne. Ahjumma, ada perlu apa kemari?” tanyaku agak takut.

“Tentu saja ingin menengok anak laki-lakiku. Kau pikir aku sudi apa mengetetahui kondisimu?” astaga, benar-benar sakit rasanya. Jebal, jangan buat aku semakin tersiksa begini. Tuhan, begitu banyak tekanan yang menghimpitku, jangan sampai hal ini juga membuatku semakin terbebani. Jangan!!

“Ahjumma, aku salah apa?” kataku sambil tetap berdiri di samping sofa.

“Masih bertanya? Ya, kesalahanmu adalah pernikahan kalian. Apa kau sadar kalau pernikahan kalian bahkan tidak kuketahui?” ajumma memang benar. Hyerin, hal ini makin membuatmu tampak bodoh.

“Apa yang bisa memperbaiki kesalahanku?” tanyaku pasrah. “sshh…” kepalaku kembali sakit. Sangat sakit.

“Ceraikan Minho. Aku ingin menjodohkannya dengan perempuan yang terbaik. Dia punya reputasi keartisan yang bagus dan yang jelas dia sama dengan Minho.” Sambaran kilat yang sama sepertinya menyambar. Tapi kilat ini lebih keras dari yang pernah menghantam jantungku 2 bulan yang lalu. Omo!! Kepalaku.. kepalaku… “Kalau dalam waktu beberapa bulan ini kau tidak segera melakukannya, aku pastikan kau mendapat balasan yang lebih dari ini. Ingat!!” ancaman eomma Minho membuatku mundur beberapa langkah ke belakang dan bersender pada dinding. Aku, aku, kenapa aku begitu lemah sih?

“Kau dengar TIDAK??!!” jangan membentakku. Aku paling tidak bisa dibentak. Aku tidak bisa.

Aku melihat eomma Minho menunjukkan beberapa lembar surat yang harus aku tandatangani. Aku tak tahu itu surat apa, tapi eomma Minho begitu memaksaku membubuhinya dengan tandatanganku. Ia menyudutkanku ke pojok ruangan dan menarik tanganku kasar untuk menggoreskan pulpen yang kupegang dengan tandatanganku. Jelas aku berusaha menolak, karena bahkan aku saja tidak tahu maksud dan tujuan dari surat itu.

Brakk….

“Eomma!!!” ada suara keras dari pintu dan sekarang teriakan ‘eomma’ sangat dekat di telingaku. Aku masih bisa melihat wajah Kibum-ssi walau samar-samar. Aku juga lihat Jonghyun-ssi dan Onew-ssi mengangkat tubuhku yang merosot ke lantai. Onew-ssi membimbing kepalaku bersandar di pundaknya. Tapi, aku tidak bisa lihat siapa yang berteriak, meskipun aku tahu kalau suara itu milik Minho-ssi. Aku ingin lihat dia, tapi jarak pandang mataku tidak bisa membuatku melihatnya meskipun memaksa.

“Apa yang eomma lakukan disini?” aku dengar Minho-ssi bertanya dengan nada setengah berteriak. Setelah itu aku tidak dengar apa-apa lagi, karena Taemin-ssi menutup kedua telingaku, membuat aku tidak bisa mendengar jelas. Yang aku tangkap hanyalah suara teriakan dari Minho-ssi dan eommanya. Kemudian, setelah beberapa saat aku coba membuat mataku bisa fokus, aku melihat dengan jelas Minho-ssi merobek kertas yang eomma Minho sodorkan padaku secara paksa. Eottokhae?? Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau mereka bertengkar karena aku.

*          I-el       *

Entah sejak kapan aku sudah berada di dalam mobil Minho-ssi. Aku duduk di depan bersamanya dan hanya berdua saja. Aku mau dibawa kemana? Apa tadi rumah sudah di kunci. Aishh!! Kenapa disaat begini aku malah mikirin rumah sih? Babo!

“Hyerin, sekali lagi mianhamnida.” kata Minho-ssi membuat aku memalingkan wajah kepadanya.

“Anio, seharusnya aku yang minta maaf, Minho-ssi.” kataku sambil mencoba tersenyum, padahal aku menangis. Menangis tanpa air mata. Aku tidak ingin membuat Minho-ssi semakin merasa bersalah. Tidak boleh. Aku putuskan untuk terus menunduk, tapi tiba-tiba mobilnya berhenti. Apa kita sudah sampai ke tempat Minho-ssi akan membawaku? Aku melihat dari jendela. Sepertinya ini masih di jalan utama Seoul.

“Hyerin, tidak. Kali ini aku yang salah. Aku bersalah. Aku, aku hampir membuatmu sakit lagi. Maafkan aku.” baiklah, aku tidak bisa menahan airmataku. Tidak bisa. Aku menangis. Tapi saat aku hendak mengambil tissue dari dashboard, tangan Minho-ssi menahanku.

“Kau tidak butuh tissue. Menangislah di bahuku.” katanya sambil membimbing kepalaku kedalam pelukannya. Kenapa aku tidak menolak? Tapi, memang tidak bisa dipungkiri, nyaman sekali menangis seperti ini. Aku merasa dia menyalurkan kekuatan untukku. Seakan dia bilang bahwa dia akan melindungiku dari kesedihan, tapi apa iya kalau yang Minho-ssi lakukan sama dengan yang aku pikirkan? Anio. Tidak mungkin.

“hemph… Minho-ssi” kata-kataku membuat dia melepaskan pelukannya. “Mianhamnida, aku malah membuat bajumu kotor.” dia tersenyum. Aigoo!! Belum pernah aku melihatnya tersenyum saat ada di hadapanku. Aku biasa melihatnya tersenyum di layar kaca atau bila sedang menyapa tetangga sebelah rumah kami, tapi tidak pernah dihadapanku. Sepertinya hal ini patut diabadikan. Dia mengacak-acak poniku. Dasar!! Dia ini. Tunggu! Barusan apa yang dia lakukan?

Tuhan, terimakasih. Hal ini memang patut aku kenang dari dirinya sebelum perceraian kami. Setidaknya ada sesuatu yang indah dari pengalaman 4 bulan bersamanya.

Dia kembali melajukan mobilnya, ke tempat yang tidak kuketahui. Dari dulu, appa memang jarang memperbolehkanku keluar karena riwayat kesehatanku yang kurang baik ini. Aku putuskan untuk tidur, aku percaya pada Minho-ssi.

*          I-el       *

Entah sudah berapa lama aku tertidur begini, 1 jam, 2 jam?? Entahlah. Tapi, yang membuat mataku langsung terbelalak begitu bangun adalah bangunan dari sebuah hotel yang cukup fantastis bagiku yang jarang sekali pergi keluar ini. Eum… baiklah, buat apa kita kesini? Jangan-jangan. Ah, tidak.. tidak. Tidak akan ada apapun yang terjadi padaku dan tidak mungkin Minho-ssi lakukan padaku.

Aku menoleh kebelakang saat Minho-ssi hendak memarkir mobilnya. Aku melihat mobil SHINee mengikuti kami dibelakang. Akhirnya aku mengambil kesimpulan kalau SHINee akan syuting disini. Saat aku baru saja akan turun, Minho-ssi menarik lenganku (lagi?!)

”Tunggu!! Biar aku yang bukakan pintu untukmu.” ini, ini kata-kata termanis yang pernah aku dengar dari Minho-ssi. Atas permintaannya, akupun menunggu Minho-ssi yang berjalan ke arah pintuku dan membuka pintunya. Aku turun dengan sambutan semilir angin pantai yang sejuk. Kemudian, kami berjalan ke pintu masuk hotel yang akan menjadi temapt penginipan sementara kami, selama prosesi syuting CF berlangsung.

Saat baru akan masuk ke lobby, aku melihat wajahnya lagi. Seorang perempuan yang paling aku hindari seumur hidupku kalau aku bisa. Bukan eomma Minho-ssi. Dia jauh lebih muda dan lebih memikat. Perempuan yang begitu dalamnya merampas perasaan Minho-ssi. Sulli. Sulli f(X).

”Bersenang-senanglah selama disini. Tidak akan ada yang mengganggumu. Percayalah!” aku benar-benar tidak bisa bernafas dibuatnya. Kenapa keadaan jadi berubah seperti ini sih? Aku melihat kesungguhan dari matanya. Ya! Sejak kapan Hyerin ini berani menatap mata Minho-ssi? Setelah bicara itu, Minho menghampiri teman-temannya dan aku pikir mereka akan mulai syuting.

*          I-el       *

Hari sudah sangat larut. Sekitar jam 10, kurasa. Tapi, kenapa Minho-ssi belum pulang juga? Aku keluar dari kamarku dan melirik ke kamar sebelah, siapa tahu Minho-ssi mengungsi kesana. Tapi, saat aku keluar, tampaknya kamar itu juga masih kosong. Akhirnya, aku putuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarku, eh kamar kami untuk istirahat.

10 menit.. 20 menit..

Ya!! Lama sekali. Aku gelisah, gelisah. Akhirnya aku keluar dari kamar menuju dapur. Aku mencari jus jeruk di kulkas, mungkin itu akan membantuku untuk cepat tidur.

”Ada!!” seruku senang saat menemukan jus kaleng yang kumaksud. Segera kubuka penutup kalengnya dan kuteguk banyak-banyak.

”Ahhh… segar!!” kataku lagi sambil berjalan ke tempat tidur.

20 menit.. 30 menit

Aku mengantuk. Dugaanku tepat, aku akan mengantuk jika sudah minum jus seperti ini. Aya!! Kepalaku berat sekali. Aku akan tidur. Ya, sebentar lagi aku pasti tertidur.(*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Minho POV

Akhirnya dia bangun juga. Aku sempat khawatir dengannya, semoga apa yang terjadi semalam tidak membuatnya merasa sakit. Aku tidak suka melihatnya kesakitan seperti tadi malam.

Aku berusaha tampil se-cool mungkin saat dia bangun. Aku sedang membaca koran yang ada ditanganku saat dia melepas selimutnya yang aku balutkan semalam dan betapa kagetnya dia saat melihat dirinya hanya mengenakan underwarenya. Hahaha… aku tertawa geli. Apalagi mengingat kejadian semalam. Ahh, aku ceritakan padanya tidak ya?! Ah, tidak usah. Lagipula, aku senang melihatnya dengan tatapan bingung seperti ini. Dia melihatku seperti berkata : ’Jelaskan apa yang terjadi!’. Tapi, aku tidak akan cerita sampai dia sendiri yang menanyakannya. Lagipula apa yang terjadi tadi malam tidaklah aneh buatku, hal itu wajar terjadi. Ya, wajar dan patut.

Dia duduk termenung di pinggir tempat tidur. Aku yakin pertanyaan itu masih mengiang, menari-nari di otaknya. Aku segera menyuruhnya mandi karena lama-lama aku kasihan juga melihatnya bingung seperti itu. Setelah selesai mandi, aku seret dia ke restoran yang memang disediakan di hotel ini. Aku memandanginya selama dia sedang memilih-milih makanan dan aku menemukan wajah bertanya-tanya disana. Dasar!! Yeoja ini sungguh pemikir. Tiba-tiba tubuhnya oleng, dengan sigap aku menangkap lengannya. Aku lemparkan senyum kearahnya, senyum yang tidak pernah aku berikan padanya.

”hati-hati, Hyerin.” kataku saat menangkap lengannya. ”apa masih sakit?” tanyaku lagi. Aku menangkap wajah bingung dan kaget dari ekspresinya. Dia tambah manis ^^

TBC ^^

Nah, udh terjawab kan penasarannya?? Masih mau nunggu kelanjutannya??? Terimakasih n__n

Komennya ditunggu loh

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

Advertisements

142 thoughts on “Half Married – Part 3”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s