ellegirl3

She’s My (Ex)Wife – Part 22

She’s My (Ex)Wife

Part 22

 

Author: Zika

Main Cast : Kim Kibum (Key), Kim Hyeo So & Choi Minho

Support Cast: SHINee, Jun & Shina

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Romance, Friendship

A.N : Eh iya.. aku mau kasih tahu lagi.. FF ku ini emang banyak partnya yang terinspirasi dari adegan-adegan di Full House atau Princess Hours. Jadi harap maklumi aja kalau kalian emang sering ngerasa ada kemiripan😀 .. aku suka drama itu soalnya.. kekeke~

 

©2010 SF3SI, Zika

 

“Hyeo So-ah!!! Ya ampun akhirnya kamu keluar dari rumah sakit juga! Maaf yah aku tidak bisa ikut jemput.” Gadis tersebut memeluk Hyeo So. “Ne… gwenchana…??”

“Shina. Aku Shina.”

“Kalian berdua dari mana?” tanya Jonghyun mengalihkan topic. “Oh.. tadi kami habis dari sekolah ada rapat untuk theater. Habis itu jalan-jalan sebentar dan mau minum sambil ngobrol di sini. Kalian berdua? Ngapain di sini?”

“Cuma ngobrol, ya kan Hyeo So?” tanya Jonghyun sambil melingkarkan lengannya di pundak Hyeo So. “Engh ne..” Hyeo So berusaha menghindari kontak mata Key, entah kenapa melihat mata Key membuatnya merasa tidak enak. “Ya sudah kalian berdua ngobrol aja di sini, kita berdua udah selesai. Dah! Sampai ketemu di rumah!” Joghyun tersenyum lalu berjalan keluar di susul Hyeo So.

“Aku ada kelas satu jam lagi. Maaf yah Hyeo, padahal kita belum selesai ngobrol. Tapi tenang aja aku udah minta seseorang nganterin kamu kok. Sebentar lagi jug- ah itu dia!” Jonghyun melambaikan tangannya tinggi-tinggi, Hyeo So yang penasaran menoleh dan mencari sosok yang di maksud Jonghyun.

“Heeeyyy.. mata kamu kemana? Orangnya bukan di sana, tapi itu dia.” Jonghyun mengarahkan kepala Hyeo So ke arah seorang laki-laki yang mengenakan kemeja putih, celana hitam dan dasi merah. Di belakangnya ia menggendong ransel kulit warna coklat. “Minho!!” seru Jonghyun riang dan begitu mendengar nama tersebut entah kenapa jantung Hyeo So berdebar lebih cepat, bulu kuduk di lengannya berdiri.

“Oh? Hyeo? Hyung, aku pikir..-“

“Aku ada kelas, aku buru-buru. Jagain Hyeo So, oke?? Dadah! Hyeo So annyeong!” Jonghyun langsung berlari meninggalkan keduanya yang kini canggung. “Mmm… annyeong haseoyo Minho-ssi.” Sapa Hyeo So ragu bercampur malu.

“Engh ne, annyeong. Eeuumm… tadi.. kata Onew hyung di rumah tidak ada makanan.. engh.. kita makan di luar saja yah.” Hyeo So mengangguk malu. Minho berbalik hendak berjalan lebih dulu tapi ia mengurungkan niatnya, ia kembali berbalik menghadap Hyeo So lalu mengulurkan tangannya.

“Di sini padat, pegang tanganku supaya tidak hilang.” Dengan ragu dan perlahan Hyeo So menerima uluran tangannya Minho. “Berikan tasmu.” Hyeo So menurut, Minho menyimpangkan tas pundak Hyeo So di pundaknya. “Hati-hati, lebih baik kau tetap dekat denganku.” Hyeo So menurut, ia maju beberapa langkah hingga berdiri di sebelah tubuh Minho yang tinggi menjulang lalu keduanya mulai berjalan. Dan kejadian ini membuatnya ingat sesuatu… bukan tentang Minho, tapi tentang Key. Sementara itu dari dalam café Key memandangi keduanya dengan berang.

 

~ ~ ~

 

“Ini… tempat makan apa?” tanya Hyeo So sambil mengedarkan pandangan. “Engh… temanku bilang ini restoran.. pha.. phadhang? Ah aku tidak tahu bacaannya coba baca.” Minho menyodorkan ponselnya. “Rest-restoran Pan-pandang? Eh.. Pad-Padang.. restoran Padang, makanan khas Indonesia?” Indonesia? Restoran khas Indonesia? Batin Hyeo So. Tiba-tiba saja bayangan Key muncul di otaknya, Ah Hyeo So! Kenapa Key lagi Key lagi?! Kau sedang bersama Minho sekarang! Bukan Key!

“Temanku bilang makanannya enak, jadi dia menyarankan untuk makan di sini. Ini pertama kalinya aku makan di sini, kata temanku lebih baik pesan randang jika suka pedas atau ayam bakar. Tapi kalau kurang suka lebih baik pesan ayam bob? Ah entahlah itu apa.” Hyeo So masih serius membaca pesan dari teman Minho.

“Katanya kalau mau pesan panggil unda… Unda!” panggil Hyeo So dengan suara lantang. Salah satu dari pelayan berseragam biru itu menghampiri Hyeo So. “Ada yang bisa saya bantu? Oh iya, panggilannya uda bukan unda agassi.” tanya pelayan itu ramah. “Ah ne, mian. Ini, temanku bilang makanannya akan tersaji langsung tanpa memesan? Tapi belum ada.”

“Oh, itu jika yang berkunjung warga Indonesia. Kalau warga Korea, maka bisa memesan.. karena biasanya warga Korea ke sini atas rekomendasi. Jadi apa yang teman anda rekomendasikan?”

“Randang dan ayam bob.” Jawab Minho. “Ah tuan, mungkin maksud anda rendang dan ayam pop?” Minho hanya mengangkat bahunya. “Tunggu sebentar kami akan membawakan makanannya.” Tidak lama ponsel Minho berdering, Hyeo So buru-buru memberikan ponsel tersebut pada Minho.

“Hyung? Ne? Oh aku sedang makan… iya.. ada ada… dekat kok. Ne?.. iya.. iya iya! Dari sana belok ke kiri… bukan-bukan lebih ke sana. Iya… bukan! Di serong kanan.. ya! Iya iya! Itu.. ne? Ya sudah.. semuanya?.. Oh ne, ne.. ne… annyeong.”

“Ini, kami sajikan semua. Saya sarankan anda mencoba ayam-ayamannya saja jika kurang familiar dengan makanan yang lain. Selamat makan!”

“Onew hyung dan Taemin akan segera ke sini, kita tunggu mereka saja ya?” Hyeo So mengangguk, dan untuk kesekian kalianya keduanya terjebak dalam suasana canggung. Rasanya seperti kembali ke hari di mana untuk pertama kalinya mereka berdua jalan bersama.

“Engh… kalung ini… apa dari mu?” tanya Hyeo So tiba-tiba sambil menunjukkan sebuah kalung. “Ne.” kembali hening… Minho lah yang selalu mematikan topic pembicaraan. “Oh ya… engh… sehabis makan di sini apa kau mau menemaniku sebentar?” Hyeo So mengangguk ragu. “Hanya ke toko buku, lalu ke toko crepe. Aku masih punya hutang padamu dulu, jadi aku mau bayar hutangnya sekarang. Janji adalah hutang.”

“Tentu saja! Sudah lama tidak makan crepe, Minho yang traktir kan?” cengir Hyeo So. “Tidak lah! Bayar sendiri!”

“Minhoooooo… kan biasanya laki-laki mentraktir wanita. Ayolaaaahhh, aku sedang tidak bawa uang. Oh iya! Kan itu hutang Minho juga! Yah? Traktir ya?? Ya ya ya???” rengek Hyeo So. “Hahaha.. tentu saja!  Pertanyaan mu itu aneh! Mana pernah kita jalan berdua lalu bayar masing-masing? Bukan laki-laki namanya kalau tidak mentraktir sang wanita.”

“Ehehehe… Minho Minho… ini, kemarin aku menemukan kertas ini di meja. Punya Minho kan? Aku lihat waktu Minho sedang menulis.” Ucap Hyeo So sambil mengulurkan secarik kertas yang di lipat dua. Minho mengerutkan alisnya lalu mengambil kertas tersebut, dan air mukanya mendadak berubah saat ia melihat apa yang tertulis di kertas tersebut. “Aku tidak menyangka Minho bisa membuat puisi.. ekeke.”

“Ssshh… jangan bicarakan ini oke? Ini bukan aku yang tulis kok.” Elak Minho menahan malu. “Jangan bohong, raut wajah Minho berubah… ehehehe. Bagus kok puisi nya, romantis.”

“Ssshh!!! Ah Hyeo So ayolah berhenti bicarakan puisi ini.” Keduanya mulai larut dalam perbincangan, tiba-tiba ponsel Minho kembali berdering. “Ya hyung?.. iya iya, itu! Sudah masuk saja.. di depan. Tidak.. Ne? Oh.. Ah ya! Aku melihat kalian.” Minho bangkit dari kursinya lalu melambai-lambai. “Hyung!!” seru Taemin lalu setengah berlari mendekat kemeja keduanya.

“Hyeo So noona!!!” Dengan cepat Taemin memeluk Hyeo So lalu kembali melepaskannya dan langsung tersenyum riang. “Maaf yah kalian berdua jadi kelamaan makannya karena kami.”

“Tidak apa-apa hyung, kita langsung makan saja sekarang.”

 

~ ~ ~

 

“Enak kan?” Hyeo So mengangguk semangat. “Harusnya tadi aku beli satu lagi untuk di rumah.” Sesal Hyeo So sambil berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Minho. “Sudahlah, kapan-kapan kita bisa ke sana lagi berdua atau dengan member yang lain juga. Ah itu busnya! Ayo cepat!!” Minho menarik siku Hyeo So dan membawanya berlari.

“Aah penuhnya.” Umpat Hyeo So, sedangkan Minho perlahan membuka celah sembari mendorong Hyeo So masuk ke tengah. “Kalau tidak naik bus yang ini, kita harus menunggu satu jam lagi. Jadi terima saja, maaf yah Hyeo So.” Bisik Minho, Hyeo So hanya mengangguk. Bus kembali berhenti di halte berikutnya, sekitar 5 orang masuk ke dalam bus dan saling mendorong. Sekuat tenaga Minho menahan dorongan orang-orang tersebut agar Hyeo So tidak terjepit.

“Hyeo So tidak apa-apa kan?” tanya Minho khawatir karena tangan Hyeo So semakin kuat meremas kemejanya. “Ne, mianhae Minho-ah.”

“Gwenchana, sebentar lagi kita turun. Siap-siap yah.” Minho melingkarkan lengannya kirinya di belakang Hyeo So sedangkan lengan kanannya menekan bel. Begitu bus berhenti tangan kanan Minho dengan lincah membuka jalan sedangkan lengan kirinya menarik tubuh Hyeo So agar keluar bersamanya.

“Aaah!” pekik Hyeo So saat kakinya tersandung dan nyaris saja ia jatuh. “Ayo cepat.” Minho membantu Hyeo So berdiri dan kembali menariknya, hingga keduanya berhasil keluar dari bus tersebut.

“Aaww..” rintih Hyeo So. “Wae?” tanya Minho khawatir lalu menarik lembut lengan Hyeo So. “Kamu kena apa tadi?? Kenapa bisa berdarah begini.” Hyeo So hanya menggeleng. “Tunggu di sini sebentar yah, aku mau cari obat di supermarket dulu.” Minho berlari meninggalkan Hyeo So yang meniup-niup punggung tangannya yang memiliki goresan cukup besak dan lebih terlihat seperti sayatan jarum.

“So~?” Hyeo So reflek menoleh begitu seseorang memanggil namanya. “Kamu ngapain sendirian di sini? Minho mana?” Hyeo So terdiam. “Hello?? So.. eh? Tangan kamu!” orang tersebut buru-buru meraih tangan kiri Hyeo So. “Ya ampun! Di bersihin dulu dong! Kalau gini nanti virusnya masuk ke dalem, kan pasti banyak kumannya. Kalau nanti infeksi gimana?” Orang tersebut merogoh tasnya mencari sesuatu lalu mengeluarkan botol air mineral. “Sini, aku siram kamu yang lap pakai sapu tanganku.

Hyeo So hanya menurut, perlahan ia membersihkan lukanya. “Kamu main apaan sih sampe luka gini? So! Kamu kenapa sih? Jangan bilang kamu gak kenal aku? Ya ampuuunn!!! Kan tadi pagi baru ketemu. Key.. K-e-y.. Key!”

“Aku tahu.” Jawab Hyeo So singkat. “Terus? Kenapa ngeliatinnya gitu banget sih?” Hyeo So hanya mengangkat bahunya. “Aduh aku lagi gak bawa obat, perlu aku cariin obat gak?” Hyeo So menggeleng lemah. “Tidak usah terima kasih, tadi Min…-“

“Kibum?”

 

&&&

 

“Tuan muda, ini.. saya berhasil mendapatkan factor utama keduanya menikah.” Jun mengambil amplop yang di berikan Pak Han. “Tapi kamu yakin mereka berdua menikah tanpa rasa cinta?” tanya Yan. “Tentu saja! Hyeo So sendiri yang cerita padaku, dan seperti yang hyung tahu. Kelemahan Hyeo So itu ada pada dirinya sendiri, saat sedang rapuh ia akan menceritakan segala yang membuatnya terbebani kepada orang yang sedang bersamanya dan mengerti perasaannya. Hyeo So memang pintar tapi kurang pintar untuk melindungi dirinya sendiri.”

 

Perjanjian: Kim Nam Group & Yandong Group

  1. 1. Kedua perusahan akan bergabung menjadi satu perusahaan. Kibum sebagai komisaris, dan Hyeo So sebagai kepala Direktur.
  2. 2. Jika keduanya bercerai maka 2/4 bagian akan jatuh ke pihak wanita dan pihak pria mendapatkan 3/2 bagian.
  3. 3. Jika pihak pria meninggal dunia maka seluruh perusahaan jatuh ke tangan pihak wanita dan berlaku kebalikannya.

Perjanjian ini akan mulai berlaku setelah Kim Hyeo So pewaris KN Group menikah dengan Kim Kibum pewaris tunggal YGroup. Dan perjanjian ini hanya bisa di batalkan oleh pihak bersangkutan dan melalui meja hijau.

 

“Konyol. Untuk apa membuat perjanjian bodoh seperti ini? Kalau Key pintar dan tidak ada rasa kepada Hyeo So, pasti dia memilih untuk cerai. Terlebih lagi kalau keduanya bercerai Key akan mendapatkan 3/2 bagian!” Ucap Yan. “Itu berarti Key menyukai Hyeo So kan hyung? Maka rencana A sudah gagal sebelum di jalankan, meskipun mudah saja bagiku membuat Hyeo So berpaling padaku dan bercerai dari Key tapi percuma, Hyeo So tidak akan berguna karena yang akan paling banyak mendapatkan bagian Key bukan Hyeo So. Sedangkan aku membutuhkan kedua perusahaan itu untuk memajukan Sang Yuk Group milik kita.” Sambung Jun.

“Jadi satu-satunya jalan hanya rencana B.” timbrung Yan lagi. “Bunuh Key!”

 

&&&

 

“Hari ini festival sekolahmu di gelar kan Hyeo?” tanya Onew lalu menyeruput tehnya. “Ne.” perjuangan Hyeo So selama 2 minggu membuatnya hari ini benar-benar lelah. Inilah salah satu resiko jadi anggota keorganisasian sekolah apalagi menjadi ketua. 2 minggu ini Hyeo So hanya makan sehari sekali, tidur juga hanya 3-4 jam sangat tidak imbang dengan kegiatannya setiap hari.

“Bolehkan kita dateng juga ke acaranya? Untuk lihat-lihat aja.” Hyeo mengiyakan ucapan Jonghyun dengan anggukan. “Aku mau ikut yah hyung!” tambah Taemin. “Kamu kan sekolah.” Larang Minho. “Ayolaaahh Minho hyung sama Key hyung juga sekolah kan? Tapi aku yakin kalian berdua pasti dateng. Gak adil!!”

“Ya udah dateng aja, tapi sekali aja ya. Nanti kalau mau dateng lagi yang hari sabtu sama penutupan hari minggunya. Oke?”

“Yeeeyy!!! Gomawo noona. Pasti pembukaannya keren, ada berapa sekolah yang di undang?”

“Sekitar 20 sekolah yang dapat undangan pertandingan, termasuk sekolah Key dan Minho.” Taemin mangut-mangut tanda mengerti. “Ayo-ayo kita berangkat, sudah hampir kesiangan ini. Acaranya di mulai jam 10 kan? Nanti sms aku aja yah Hyeo kalau acaranya udah mau mulai.” Hyeo So mengangguk. Semuanya langsung bersiap berangkat, pagi ini Hyeo So di antar Minho ke sekolah, sekalian Minho langsung ke lokasi.

Rencananya sih beberapa jam sebelum acara di mulai Hyeo So mau mengisi tenaga dulu di UKS. Tapi rupanya ada beberapa kesalahan yang akan membuat acara berantakan dan terpaksa membuat Hyeo So mengurungkan niatnya untuk tidur sebentar.

 

&&&

 

“Jadi ini yang bikin mereka berdua nikah?! Kalau cuma begini aku gak akan nyerahin Key gitu aja lah!” Shina meremas secarik kertas di tangannya. “Hari ini kan sekolah Hyeo ngadain acara, sekolah kalian di undang juga kan?” tanya Jun. “Oh iya! Bagus! Kalau gitu aku harus kasih ultimatum ke Hyeo So hari ini. Mumpung dia masih dalam keadaan amnesia, jadi lebih gampang bikin dia ngejauh dari Key.”

“Tapi jangan ngomong macem-macem atau kamu juga gak akan aku biarin lepas! Pokoknya dia harus nikah sama aku, dengan cara apapun aku harus dapetin Hyeo So dan perusahaannya.”

“Ya udah, kita berdua harus bikin mereka berdua cerai!” seru Shina semangat. “Ya.” Jun menyeringai, memang dia mengiyakan usul Shina tapi di balik itu Jun sudah merencanakan rencana lain yang sudah pasti tidak akan di setujui oleh Shina. Karena rencana b ini akan membuat Shina kehilangan Key untuk selama-lamanya, maka Jun baru akan menjalankan rencana b saat rencana a sudah sukses atas bantuan Shina. Tanpa pernah Shina sadari sejak perkenalan pertamanya dengan Jun di masa SMP dulu, ia telah di jadikan kambing hitam oleh Jun. Jadi ini bukan yang pertama bagi Jun dan tidak akan sulit menjatuhkan semua perkara pada Shina.

 

&&&

 

“Ayo Hyeo, siap-siap.” Hyeo So mengambil kertas pidato pendeknya. “Yong Hwa, kamu udah ambil script nya belum? Kamu mau ngomong apaan kalau gak pegang script nya?” Yong Hwa menepuk keningnya lalu buru-buru mengambil kertas di atas meja di pojok ruangan.

“Ayo-ayo semuanya siap! Yang bertugas jemput sekolah-sekolahnya dari gerbang udah kan?” tanya Hyeo So sambil membaca susunan acara. “Udah.” Jawab Kira sambil setengah berlari mengejar langkah Hyeo So. “Yong Hwa naik! Pembukaan!” seru Hyeo So. Dan begitu ia keluar dari gedung matanya langsung melebar melihat begitu banyak tamu yang datang. Dia tidak menyangka kalau acara kali ini bisa menarik banyak pengunjung, tidak perduli jika alasannya ingin bertemu SHINee yang penting mereka datang.

Untuk acara kali ini sekolah mengadakan turnamen basket, dance dan band. Jadi maklum saja jika sekolah yang di undang tahun ini banyak, belum lagi ada pagelaran seni dan membuat pengunjung yang datang semakin banyak.

“Hyeo! Humas kita gak ada yang nyebar acara ini sampe ke reporter kan? TV, majalah atau koran?” tanya Jo Shi. “Enggak kok, emangnya kenapa?”

“Banyak reporter sama wartawan yang dateng tadi kata Kaka.” Hyeo So langsung mengerutkan alis. “Baiklah! Mari kita dengar beberapa patah kata dari ketua organisasi sekolah sekaligus ketua panitia di gelarnya cara sekolah kami kali ini. Kim Hyeo So silahkan naik ke atas panggung.” Para pengunjung langsung bertepuk tangan. “Perlu di singkirin gak?” tanya Jo Shi lagi, Hyeo So hanya mengangkat bahu dengan bingung sambil berjalan mendekati panggung.

“Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Terima kasih banyak kepada sekolah-sekolah yang sudah mau memenuhi undangan kami, dan terima kasih juga kepada pengunjung yang telah datang. Kami sangat menghargai kedatangan kalian. Saya tidak akan benyak bicara, saya hanya berharap acara kali ini dapat berjalan dengan lancar. Dan bukan berarti dengan adanya saya di sini bisa terjadi pers conference dadakan sekaligus pembagian tanda tangan ya, dan di mohon bagi para Shawol untuk tidak membuat keributan. Saya akan tetap mengizinkan kalian meminta tanda tangan dari idola kalian tapi tidak dengan paksaan oke? Lihat-lihat sikon. Janji?”

“Ne!” koor seluruh pengunjung dan membuat Hyeo So mengembangkan senyum. “Semoga anda sekalian bisa menikmati acara yang kami gelar ini, sekian dan terima kasih.” Hyeo So sengaja mempercepat pidatonya karena beberapa reporter mulai mengambil fotonya.

Acarapun di mulai, dan tarian khas Korea di persembahkan sebagai pembuka acara. Hyeo So mulai sibuk dengan segala hal, memastikan semua lancar, tidak ada kesalahan dan keamanan terjaga. Terlebih lagi sebentar lagi para member SHINee yang sudah berada di dalam gedung akan keluar untuk melihat-lihat acara. Di jamin para shawol ataupun bukan akan mulai heboh.

“Yeoboseoyo?”

“Hyeo, kamu di mana? Kita udah bisa keluar sekarang kan?”

“Gak apa-apa yah kalau masing-masing dari kalian dapet penjaga, aku gak bisa mastiin keadaan aman setelah kalian keluar soalnya. Jadi minimal aku kasih kalian 5 ajudan, gak apa-apa kan?”

“Ya udah terserah kamu aja, yang penting acaranya lancar.” Jonghyun memutuskan panggilan, Hyeo So mulai kembali sibuk. Benar saja, begitu Onew keluar dari gedung beberapa shawol mulai heboh menyerukan nama Onew. Tapi teguran panitia melalui tatapan mata sinis berhasil meredakan seruan. Sehingga saat Taemin, Minho, Key dan Jonghyun muncul shawol tidak lagi berseru heboh melainkan berusaha bersikap biasa.

Hari semakin terik, tetapi pekerjaan Hyeo So tetap tidak berkurang. Ia justru harus semakin berkonsenterasi menyiapkan jeda waktu di jam 12 nanti. Hyeo So berlarian ke sana kemari untuk mencari perlengkapan yang kurang dan memanggil panitia-panitia tambahan atau berbagai masalah lain.

“So~…” panggil Key lalu menangkan lengan Hyeo So, menahannya untuk tidak berlari lagi. “Udah jam 12, makan yah? Muka kamu udah pucet, aku gak mau kamu kenapa-napa.” Pinta Key dengan tatapan lembut, Hyeo So menghela nafas. “Entar deh…” Hyeo So langsung meringis begitu jemari Key menguat. Beberapa murid sekolah lain maupun sekolah Hyeo So sendiri mengambil kesempatan untuk memotret keduanya.

“Kalau kamu pingsan siapa yang repot?” omel Key masih dengan tatapan lembut. “Tapi masalahnya kalau aku tinggal makan nanti berantakan acaranya.” Tolak Hyeo So. “Lebih berantakan mana kamu tinggal pingsan sama kamu tinggal makan? Gak mau tahu, biar aku sms Shina sekarang buat cariin kamu makanan.”

“Eh? Enggak ah! Aku gak enak Key, kamu aneh-aneh aja deh. Ya udah nanti aku aja jalan sendiri cari makanan.”

“Janji?”

“Iya. Udah ya? Gak enak diliatin orang, nanti di sangka PDA.”

“Oke, tapi makannya sekarang!”

“Iya Kim Kibuuummm… udah sana liat-liat aja, nanti jam 12 kalian makan di kelas ku yah. Nanti panitia yang nganterin makanan ke sana. Udah yah, dah!” keduanya melambaikan tangan dan Hyeo So kembali kepada kegiatan awal dan tidak mengindahkan janjinya untuk makan.

“Hyeo So.” Reflek Hyeo So menoleh saat namanya di panggil. “Bisa kita bicara sebentar?” Hyeo So berusaha mengingat orang di depannya, Oh Shina! “Oke.” Keduanya sedikit menjauh dari keramaian, mata Hyeo So semakin menyipit karena tempat mereka bicara sangat silau oleh terik matahari

“Ada apa? Aku gak bisa lama-lama.” Ucap Hyeo So sambil menyeka keringatnya, kepalanya mulai terasa berat tapi dia tidak bisa istirahat sebelum acara ini selesai.

“Aku cuma mau ngingetin kalau Key sama aku belum putus.” Belum putus? Loh? Memangnya… hubungan mereka apa? Hyeo So membatin. “Dari awal pernikahan kamu aku berusaha nahan-nahan emosi tapi makin hari kamu makin keterlaluan. Aku ini pacar Key!” kepala Hyeo So mulai berdenyut saat otaknya mulai berusaha keras mengerti dan mengingat apa yang sedang dan tengah terjadi.

“Kamu lupa sama janji kamu waktu itu? Kamu bilang gak akan deket-deket sama Key, dan kamu akan bikin Key benci sama kamu. Mana nyatanya? Kamu sekarang malah bikin Key ngelupain aku! Katanya temen? Kamu tuh cewek macem apa sih? Banyak maunya! Tukang ngerebut pacar orang! Dasar perempuan jalang!” Seolah ada pisau yang menancap, kepala Hyeo So langsung terasa benar-benar ngilu membuat matanya jadi berkaca-kaca. Dan kini perutnya yang kosong seolah berteriak minta makanan dan mengancam ingin mengeluarkan apapun yang ada di dalamnya.

Beberapa mata mulai memperhatikan keduanya. Dan beberapa meter di serong kiri Minho memandangi keduanya dengan nanar, sedangkan Key yang berada tidak jauh di belakang Shina memandangi keduanya dengan tatapan bingung.

“Kalau sampe kamu tetep ngedeketin Key aku gak akan tinggal diem lagi! Aku akan bocorin ke public kalau kamu sebenernya nikah sama Key hanya berdasarkan perjanjian antar perusahaan. Camkan baik-baik! Jauhi Key atau aku akan jatuhin kamu dan keluargamu di depan umum! Karena biar gimanapun public akan tetap membela Key sebagai idola mereka!” ancam Shina dengan suara pelan namun bernada tajam.

BRUK

Mata ketiganya langsung terbelalak begitu tubuh Hyeo So terhuyung jatuh ke tanah begitu saja. “Hyeo So!!” seru teman-teman sekolahnya dengan panic. Shina yang berencana meninggalkan Hyeo So begitu saja langsung terpaku. Dan orang-orang sekitar yang sejak tadi diam-diam menyaksikan langsung mengerumun dan membuat Minho juga Key kesulitan untuk mendekat.

“Permisi! Permisi! Tolong buka jalan!” seorang laki-laki berusaha menerobos lingkaran yang secara ototmatis terbentuk dari kerumunan. Sedangkan para panitia berusaha keras mengembalikan situasi seperti semula.

Key berhasil meraih tangan Hyeo So tapi bersamaan dengan itu di hadapannya Minho sudah menggenggam tangan Hyeo So lebih dulu dan hendak mengangkat tubuh Hyeo So.

 

 

***

TBC

 

P.S: Sumpah maaf maaf maaaaaff bangeeettt! Kemarin tuh aku sumpah bingung banget ngeliat komen kalian yang bilang perjanjiannya bikin bingung, gak ngerti dan lain-lain deh. Aku mikir “Perasaan gue nulis perjanjiannya udah bener ah, yang bego siapa sih?” tapi pas aku baca perjanjiannya. Damn! Ternyata aku salah cop-pas! Itu perjanjian yang ada di doc untuk coret-coretan part 21, jadinya aku buru-buru ngerevisi perjanjiannya deh. Maklum aja, aku buat nulis 1 part FF aja coret-coretannya banyak jadi sering ada kesalahan pas ngopas nya. Maaaff banget~

Dan kalau sekarang kalian bingung kenapa perjanjian di tangan Jun beda, aku gak akan jawab. Nanti kalian bisa nemuin jawabnnya sendiri seiring dengan berjalannya FF ini kok. Sekali lagi maaf sangat! Aku emang author paling gak becus di blog ini. Dan aku juga minta maaf karena gak bisa balesin komen-komen yang ada di part 21, gak nyangka kalian masih mau baca FF ku yang abal ini. Makasih dan maaf *bow*

©2010 SF3SI, Zika

This post/FF has written by Zika, and has claim by Zika signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

77 thoughts on “She’s My (Ex)Wife – Part 22

  1. jun jahat..
    tp.
    q g ngerti knpa srat perjajian’y ada ma jun??
    ud agak lupa jg ma cerita’y,,
    jd smpet bka lg crita sblm’y..
    lanjt!!!
    klo bsa asap ya,,

  2. wahh, author!!! ^^
    Maaf baru bisa baca sekarang ya?!!!
    eum,, Konfliknya ituloh aku dapet banget mulai dr part1 sampai sekarang.
    wuahhh…. pas baca, otak ini melayang kemana-mana ^^
    Aku tunggu part selanjutnya, Zika eonni

  3. Jiah keluar jg akhr na.hahaha. duh mkin seru ja nech. bnykin scene key-hyeo so rmtis dunkz.hehehe. batu tu shina,mw jauhin key,tak tempeleng muter tu kpla na.haha

  4. author lanjutkan ceritanya… Sumpah makin penasaran … Hati memilih minho tapi pikiran memilih key …ckckckckckckk hwaiting d^^b happy ending ya … Jangan minhoku sampai merana

  5. Lanjutin atuh.. sudah saya tunggu berbulan bulan…
    ini FF kesukaan ku!!! Kye!!! Fighting!!!!!
    Udahlah…. huhuuu… kasian Key nya…. huwaaa…

  6. Blaaaahh..
    Kok jd tmbah rumit? =,=a
    Npa pula si Shina mau pake acara boong model bgtu =_=’
    Hadeeeehhhh!

    Tp …
    Acara (?) pingsan ny Hyeo So yg keren..
    Wkwkkaaa.xD

  7. wah ternyata jun kejem euy
    masak ada acara mau bunuh key segala
    gak rela ah kalo key mau dibunuh😥

    yang dibunuh shina aja tuh, makin sebel aja aku sama nih cewek
    pake acara bo’ong sgala lagi

  8. anti-shina mkn menjamur haha
    konfliknya mkn jelas yey, walo rada dong dong jg bacanya -..-;
    bkn deg2an aja nih fic

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s