It’s All About A Love [2.2]

It’s All About A Love [ Part 2 of 2]

By: Litha_Nisa/Lita_cs/ Lim Jin Ji

Cast     : Lee Taemin , Lee Jinki, Lim Jinji

Genre  : romance (?) *sorry, I dunno*

©2010 SF3SI, Freelance Author.

“beritahu aku siapa itu Lee Donghae? Dan apa hubungannya dengan kejadian tadi,,, dan taemin?”

“ah,itu,,,” sejenak Lee halmoni tampak ragu. Lalu melanjutkan, “kalian saja. Aku mau tidur saja!” ucapnya  lalu berlalu meninggalkan kami. Aku masih menatap tajam kedua orang didepanku.

“begini,jinji-ah, ini kejadian sebelum jinki lahir. Donghae itu anak pertama kami, hyung dari taemin dan jinki. Saat itu kami sedang berlibur ke Jeju. Liburan kami sangat menyenangkan,sampai badai itu datang.” Uhjumma menjelaskan dengan senyum yang menurutku tidak hanya terdapat kebahagiaan didalamnya. Terselip juga rasa kepedihan yang mendalam.

“badai?” tanyaku bingung.

“nee, badai besar tiba-tiba saja terjadi disana. Semua warga dan pendatang, um,semua orang dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Namun,setelah sampai disana. Kami baru menyadari bahwa, taemin, hilang. Taemin tidak ada di pengungsian. Tanpa kami sadari, donghae yang tadi bersama kami sudah pergi. Entah kemana,kami ingin pergi juga dari tempat itu,siapa tahu menemukan salah satu dari mereka berdua. Namun,para polisi setempat melarang kami. Kami tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa pasrah kepada tuhan.” Lalu ahjumma menghela nafas berat. Dia menatap suami yang sedang memandangnya dengan pandangan yang menurutku bertanya apakah dia masih sanggup meneruskan ceritanya, namun ahjumma tersenyum menenangkan segurat kekhawatiran yang tadi terpancar dari wajah suaminya itu.

“dugaan kami saat itu donghae kembali ke hotel tempat kami menginap. Setelah beberapa saat menunggu, kami melihat sosok seorang anak yang kebingungan menoleh ke kanan-kiri dengan cepat, dan kami tidak salah, itu taemin. Kami langsung menghampirinya dan memeluknya. Dan kami bertanya apakah ia bertemu donghae, dan jawabannya adalah,”

“tidak,” jawabku.

“benar, tidak. Badai besar benar-benar terjadi. Kami berdoa untuk keselamatan donghae, karna sampai saat badai telah berhenti, kami sama sekali tidak bertemu dengan donghae. Kami mencari ke hotel itu. Semuanya berantakan. Seluruh daerah itu benar-benar berantakan, namun tidak benar-benar hancur. Kami berharap menemukan donghae di salah satu gedung-gedung yang masih utuh. Namun nihil, dan kami mendapat kabar, ada,”

“yeobo, biar aku yang melanjutkan. Kau sudah berusaha,” kata ahjussi lalu merangkul ahjumma dalam pelukannya. Wajah mereka benar-benar pucat.

“lalu?” tanyaku. Sebenarnya aku tidak tega, namun aku benar-benar penasaran.

“ada seorang saksi mata yang melihat sosok laki-laki yang cirri-cirinya persis seperti donghae kami berlari dari hotel kami kea rah laut. Lalu menghilang. Kami sangat takut bahwa badai besar itu membawa donghae. Kau tahu kemana badai itu pergi dan menghilang?” Tanya ahjussi padaku.

“umm,,, apa,,,” jawabku ragu, “laut?”

“ya,laut. Kami semua bersedih. Taemin menangis tiada henti. Hubungan songhae dan taemin sangat dekat. Jadi,kami yakin pasti sangat berat kalau salah satunya tidak ada. Kami tetap berusaha mencari, menurut kami harapan itu masih ada. Namun hasilnya tetap nihil,seberapapun kerasnya usaha kami. Taemin semakin sedih dan menyalahkan dirinya atas hilangnya donghae.” Kata ahjussi sedih.

“tiga hari kemudian, donghae,” lanjut ahjumma, ahjussi terlihat terkejut “ditemukan,,, di pinggir pantai,,, dalam keadaan sudah,,,” lalu ahjumma menangis dan memeluk ahjussi.

“tidak bernyawa lagi,” lanjut ahjussi sambil menghapus air mata di wajah istrinya.

“yeobo,”

“ya, dia terbawa gelombang tinggi yang juga terjadi bersama badai itu. Taemin sangat terpukul. Sangat. Dia menyalahkan dirinya,,, juga karna hal itu dia membenci apapun yang berhubungan dengan laut, karna dia merasa karna laut itulah seseorang yang sangat berarti baginya pergi meninggalkannya,” lanjut ahjussi.

“begitulah jinji-ah,” jawab ahjumma, yang sekarang sudah duduk kembali dan terlihat lebih tenang.

“pantas sajaa, jangankan menginjakkan kakinya, melihat lautpun tidak,” jawabku sambil mencoba-coba mengingat.

“ya, begitulah,”

“kamsha hamnida ahjumma, ahjussi. Mianhae,  karena telah membuat kalian mengingat hal-hal yang tidak ingin kalian ingat, bahkan menceritakannya padaku.’ Ucapku sambil membungkuk hormat pada mereka.

“nan gwencana, semoga cerita kami ini bermanfaat nantinya,”

“ya,ahjussi”

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“hmm,itu dia.” Kulihat taemin duduk sendiri di teras rumah yang hanya menyuguhkan pemandangan jalan raya yang begitu sepi dan tanah lapang nan luas di seberang sana. “bukankah pemandangan laut lebih indah?” ucapku di telinganya. Dia terkejut menatapku sambil memegang dadanya, aku hanya dapat tersenyum melihatnya.

“kau mengagetkanku saja! Laut ya??? Aku,,, benci pada laut,” jawabnya sambil menerawang. Kulihat tatapan mata yang kosong itu, benar-benar menyedihkan,fikirku.

“dari semua orang yang pernah kutemui di hidupku, hanya kamu yang membenci laut sampai sebegitunya.” Aku menggelengkan kepala, berharap dia menganggap aku benar-benar heran.

“biar saja,” jawabnya ringan.

“padahal,nama-NYA juga laut kan?”  balasku sambil menekankan kata laut.

“hah?” dia menatapku ragu, dahinya mengkerut.

“donghae,” jawabku tanpa membalas tatapan bingung dari wajahnya.

“noe?”

“bagaimana kalau aku sudah tahu? Bagaimana jika ahjumma dan ahjussi memberitahukannya padaku? Semuanya. Apa kau marah?” aku melihatnya berfikir keras. Dahinya sudah tidak mengkerut lagi sekarang, dan dia menghembuskan nafas panjang, tersenyum lirih, lalu menjawab.

“aniyo. Bukankah bagus kalau kau sudah tahu? Aku tak perlu repot-repot memberitahumu lagi bukan?” jawabnya. Namun aku punya pertanyaan andalan yang dapat membuatnya ‘down’.

“bagaimana,,, jika dongsaengmu juga tahu akan hal ini?”

Tanpa berfikir dia langsung berkata, “ANDWE!”

“ waeyo? Bukankah dia berhak tahu Lee Tae Min?” tanyaku tak mau kalah. Dia terlihat gelagapan.

“aku, tidak ingin dia tahu. Titik!” jawabnya dingin sambil menatap kea rah lain.

“egois,” jawabku tak kalah dingin.

“biar,” jawabnya lagi.

“huh!” aku kesal dan beranjak dari tempat itu. Namun baru beberapa langkah aku mendengar sesuatu.

“jongmal! Pabo yeoja,”

“LEE TAEMIN!!!”

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“YAK! TAEMIN!!!”

“apasih jii~ya? Gak bisa lihat orang santai sedikit apa?” jawab taemin.

“jinki mana?” tanyaku tergesa-gesa sambil menengok kanan-kiri.

“MWO? Ohok,ohok,ohok!”

“yak! Taemin,sudah kubilang berkali-kali jangan berbicara sambil makan. Bodoh sekali!” ucap Lee Halmoni melihat cucunya yang tersedak kue pie. Aku hanya bisa tertawa saja melihat taemin cemberut.

“nee,halmoni,” jawabnya setengah hati. Walau nakal dia sopan juga ya?

“memang jinki mana jinji?” Tanya ahjumma.

“um, molla jumma. Jinji tadi ke kamar jinki gak ada. Juga nyari di luar gak ketemu. Ohya, ahjussi mana?” tanyaku balik.

“mungkin jinki sedang jalan-jalan dengan appanya.” Kata ahjumma, aku mengangguk saja.

“dee,benar itu,” timpal Lee Halmoni.

“yak! Taemin, jinki bersama appanya. Tenang saja.” Ucapku pada taemin.

“sudah tahu!” jawabnya.

“ihh,,,” jawabku kesal.

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“yeobo aku pulang,” kudengar suara ahjussi dari arah pintu masuk.

“ah,yeobo selamat datang!” jawab ahjumma.

“lelah sekali. Ini aku belikan makanan.” Ucap ahjussi.

“oh,kamsha hamnida. Yeobo,mana jinki?” Tanya ahjumma. Benar juga, aku tidak mendengar suara jinki cerewet itu.

“mwo? Molla.” Jawab ahjussi. Apa? Kenapa? Apa tidak bersama ahjussi? Lalu aku berhenti sejenak dari kegiatanku mencuci piring.

“MWO? Jinki tidak bersamamu? Lalu kemana dia?” Tanya bibi dengan suara yang khawatir. Aku yang sedang mencuci piring membawa piring yang kucuci dan sponsnya kea rah ruang depan agar dapat mendengar lebih jelas percakapan ahjumma dan ahjussi.

“memang tidak ada dirumah?” pertanyaan ahjussi membuatku panic. Apa benar jinki tidak bersama ahjumma? Lalu kemana? Aku datang ke ruang tengah dan menemukan ahjussi yang berwajah khawatir dan ahjumma yang menggelengkan kepala membuat ahjussi makin terkejut dan berkata.

“sejak tadi,” dan membuat piring setengah bersih di tanganku melayang dengan mulus ke lantai dan pecah berkeping-keping.

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“MWO? Jadi jinki tidak bersama appa?” taemin histeris mendengar adiknya benar-benar tidak ada bersama ahjussi.

“yee,” jawab ahjussi sambil menundukkan kepalanya.

“ohhh,,, lalu jinki dimana? Shit!” taemin mulai kesal. Terlihat jelas wajahnya yang mulai memerah.

“sudah,,, kita cari dulu di sekitar sini dengan teliti,” halmoni menenangkan taemin dengan menepuk pundaknya.

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

Aku berlari ke rumah Lee Halmoni. Kulihat taemin sudah disana.

“jinji~ah otte?” tanyanya cemas padaku.

“ah,, anny~ hh,,, aku tidak ,,, menemukannya dimanapun op-pa,,, hahhh, hahh,” jawabku dengan terbata-bata karena nafasku yang sesak berlari kesana-kemari tanpa henti samkbil berteriak teriak mamanggil nama jinki dan sekarang, aku berdiri menyandarkan tubuhku di tembok untuk menopang berat tubuhku agar tidak jetuh.

“oh, istirahatlah,,,” jawabnya sambil menatapku dengan tatapan mengasihani. Dan aku hanya mengangguk. “MWO?!” teriaknya.

“ada apa?” tanyaku padanya sambil menengok kanan dan kiriku. Lalu menatapnya yang melihatku dengan wajah tabjub. “apa sih?” tanyaku heran

“apa aku tak salah dengar? Tadi kau memanggilku op-pa jinji~ah,” jawabnya.

“mwo?” aku bingung dan mengingat sebentar. Ah,iya, aku memang,,, babo! “ah,,,anny~ itu,,,” aku ingin mengelak namun dia memotongku berbicara.

“jadi,,, apa benar kau memanggilku oppa?” tanyanya sekali lagi dengan kerlingan mata yang terlihat menggodaku sekaligus mempermainkanku. OMO!

“jinji-ah, taemin-ah bagaimana?” Lee Halmoni tiba-tiba muncul dan mengalihkan fikiran kami, untunglah.

“tidak ada halmoni~” jawab taemin dengan suara yang lemah. Lalu tak lama ahjussi dan ahjumma datang dengan tangan kosong sambil menggelangkan kepala mereka.

“lebih baik kita tenang dulu, sekarang duduklah semua, nanti kita lanjutkan pencariannya, jika kita mencari tanpa arah begini, sama saja hasilnya,” ucap Lee Halmoni bijak.

“NO! aniyo halmoni! Aku akan tetap mencarinya,” taemin bersikukuh dengan keinginannya.

“taemin jangan!” kata ahjumma sedikit merajuk.

“sudahlah ahjumma,biarkan saja” kataku. Mataku bertemu dengan mata taemin aku menganggukkan kepalaku dan dia berlari ke-arah-pantai, yaa,,, pantai.

“tapi,,, jinji-ah” ahjumma kembali merajuk,namun kali ini padaku.

“sudahlah yeobo, duduk dan minumlah dulu,” ahjussi menenangkan ahjumma,istrinya. Aku menatap mata Lee halmoni dan dia hanya mendesah panjang, seakan-akan mengatakan kau-yang-bertanggung-jawab-kalau-terjadi-sesuatu.

~ ~ ~lll ~ ~ ~

‘lintas berita, Badan Meteorologi,Klimatilogi dan Geofisika baru saja mengemukakan bahwa ada badai besar yang sedang terjadi dan akan melintas di sekitar daerah Korea Selatan pada sore hari. Bisa kita lihat (pada gambar yang tertera di layar televisi) perkiraan BMKG bahwa badai ini akan melintasi wilayah laut Mokpo. Bagi para penduduk dan wisatawan diharapkan segera mengungsikan diri dan berada jauh dari tepi pantai. Karena kemungkinan akan terjadi gelombang besar akibat badai tersebut. Demikian lintas berita hari ini, selamat siang’

“ya Tuhan! Bagaimana ini yeobo,,, ottoke?” ahjumma histeris setelah melihat lintas berita barusan.

“ahjumma,biar aku saja, jinji akan pergi mencari mereka,” ucapku mantap.

“jinji-ah,,,” ahjussi menatapku terkejut. Aku tersenyum

“gwencanayo ahjussi,” saat aku berada di ambang pintu Lee halmoni menahanku. Aku menggenggam tangannya erat, menatap matanya agar dia yakin padaku, dan diapun mengangguk pasrah. Aku tersenyum dan berlari.

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“nan oddiya?” entahlah,sudah berapa jauh aku berlari namun tak kutemukan satupun dari mereka berdua “ARGTH! Lee Tae Min!!! Kamu Dimana?” aku terduduk lemas menatap laut lepas yang begitu indah bagiku dan begitu menyeramkan baginya,Lee Taemin. Kudongakkan wajahku menatap langit luas. Kukatupkan kedua tanganku.

Ya,Tuhan,,, tolong hambamu yang tak berdaya ini. Tolong aku agar dapat menemukan dan menyelamatkan mereka berdua. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Aku menyayangi mereka, jongmal… amin.

Setelah itu kuregangkan seluruh tubuhku, aku berdiri dan mengumpulkan tenagaku lagi “sekali lagi,” ucapku mantap. Baru saja aku membelokkan tubuhku menghadap kekiri dan berjalan satu langkah, “apa aku tidak salah lihat?” LEE TAEMIN.

Segera kulangkahkan kakiku dengan ringan, berlari lurus ke arahnya. Ke arah soerang namja yang sedang duduk sambil memeluk lututnya dan menatap laut dengan tatapan kosong. Kuhentikan langkahku tepat disampingnya. Dia sadar akan kedatanganku wajahnya mendongak menatapku yang masih tersengal-sengal kelelahan. Dia memiringkan sedikit kepalanya dan aku tahu dia sedang menatapku lekat-lekat. Aku duduk disampingnya menyilakan kakiku di pasir pantai yang putih ini. “jinki mana?” tanyaku padanya tanpa menatapnya. Lalu kutolehkan kepalaku agar tahu apa jawabannya. Dia menggeleng lemah. Lalu tersenyum dan bulir-bulir air mata mulai mengalir perlahan di wajah mulusnya.

“kenapa kau datang?” tanyanya sambil tetap menangis. “kau tahu badai akan datang?” ucapnya lagi.

“darimana kau tahu?” tanyaku terkejut.

Dia mengubah posisi duduknya,menghadapku. “mana mungkin aku tidak tau! Kau lihat itu! Perhatikan!” dia membentakku, memerintahku agar mengikuti acungan tangannya yang mengarah ke laut. “kau lihat? Awan yang berkumpul menjadi seperti asap tebal di langit? Air laut yang mulai tidak tenang? Angin yang bertiup tidak normal? Sama seperti saat aku memandang laut bersama donghae-hyung. Sama seperti hari itu, saat itu, saat dimana dia mengambil donghae-hyung dariku, saat dia merenggut kebahagiaanku kau tau?!”  dia berteriak histeris tepat didepan wajahku. Aku membeku, aku ingin marah dan menangis. Bukan karena perlakuannya padaku, namun karena perasaan yang dirasakannya sekarang. Aku dapat merasakan kepedihannya. “kau tidak tahu kan?” lanjutnya dengan nada yang lebih rendah. Aku merengkuh kepalanya dan membenamkannya dibahuku. Aku memeluknya erat. Seakan tidak ingin melepaskannya selamanya.

Dia membalas pelukanku. Dia menangis tersedu-sedu. Kutahu, bajuku sudah basah oleh air matanya sekarang. Kulepas pelukanku,namun tangannya masih setia dipinggangku. Kusentuh wajahnya perlahan, dia masih terisak. Kuraih wajahnya agar mendekat ke wajahku. Kutatap wajahnya dan matanya. Kupejamkan mataku perlahan. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang sangat tidak beraturan karena menangis. Kubiarkan dia merasakan hembusan nafasku juga. Perlahan kubuka mataku. Dia menutup matanya. Perlahan matanya terbuka. Kami saling berpandangan. Semakin lama kubuang jarak antara aku dan dia. Aku memiringkan wajahku sedikit. Lalu kikecup bibirnya dengan lembut. Kami sama-sama memejamkan mata. Dia membalas ciumanku.

Aku merasa pelukannya semakin erat di tubuhku. “lee taemin ,” ucapku sambil berusaha melepaskan ciuman yang berawal dari diriku sendiri. Dia melepaskannya dan menatapku, “tidak sebelum kau memanggilku oppa,” katanya lalu menciumku lagi. “lee,,,ta,e,,,min,,,oppa!” ucapku disela-sela ciumannya. Aku langsung mendorong tubuhnya dan dia terjatuh lalu aku berdiri cepat-cepat. Dia menyeringai puas, “begitu dong dari tadi<” ucapnya

“noe!” kataku sambil menunjuknya.

“mwo?” balasnya sambil berdiri tepat dihadapanku. Wajahku memanas. Pasti mukaku memerah.

“le,,lebih baik kita lanjut mencari jinki. Kita masih punya waktu sampai badai itu datang,” kataku sambil menghilangkan rasa gugup yang menyerangku tiba-tiba. Dia menundukkan wajahnya, lalu menatap laut. “kita juga harus mencari tempat berlindung oppa,” kataku dengan menambahkan kata ‘OPPA’. Karena menurutku akan membuat dia sedikit lebih,,, ceria? Entahlah.

“aku ingin sekali tersenyum mendengarmu mengatakan itu. Tapi kalau waktunya habis. Mungkin jinki tidak akan selamat ya? Juga jika kita tak dapat menemukan tempat berlindung, kita juga akan mati yakan?” katanya sambil menatapku lesu.

“anny~” aku menggeleng cepat. Aku mengamit kedua tangannya. “kita juga jinki pasti selamat. Percayalah padaku!” dia melepaskan tangannya dari genggamanku. Lalu berbalik dan menatap langit.

“pabo~! Aku sudah putus asa barusan. Dan gila, kata-katamu ,,, entah mengapa membuatku percaya lagi,” ucapnya. Aku senang mendengarnya, sangat senang. Lalu dia berbalik dan mengamit tangan kananku dan berlari, “kajja! Ppali~ waktu kita tidak banyak”

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

Kami sedang memandang langit di laut yang menjadi lebih gelap. Kami sudah berkeliling dan mencari jinki sekuat tenaga. Namun hasilnya nihil. “ottoke~?” tanyaku dengan nada kelelahan.

“jangan menyerah! Kau yang membuatku kuat, masa baru segini sudah menyerah sih?” katanya sambil mengacak-acak rambutku.

“anny~, kita harus mencari dimana lagi? Ini sudah sangat jauh tau,,, aku saja tidak yakin bisa menemukan jalan pulang,” kataku padanya.

“hmm,,,baiklah,” katanya sambil menghela nafas panjang, “ayo istirahat dulu, kau lihat dibelakang sana ada goa? Ayo lihat, siapa tahu jinki ada disana?” ucapnya.

“apa kau yakin?” jawabku sangsi.

“yah,,, paling tidak kita bisa istirahat dan berlindung kalau-kalau badai itu datang kan?” Katanya sambil tersenyum penuh keterpaksaan. Bodoh, aku salah bicara.

“aha! That’s right, kajja!” kataku semangat, lalu kami memasuki goa itu

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“agak gelap ya?” tanyaku. Jujur,bukan takut gelap, tapi ngeri kalau-kalau ada ular dan makhluk-makhluk lain yang tidak diundang datang tanpa sepengetahuanku bagaimana? Ihh,,,kan ngeri.

“takut gelap?” tanyanya. Yah,sudah kuduga akan bertanya seperti itu.

“bukan,hanya saja,”

“yah,takut hantu dan sebagainya yang menurutmu cukup berbahaya?!” katanya cepat memotong jawaban yang akan kuberikan. Dan akupun hanya bisa mengangguk saja. “dasar bocah!” katanya lagi.

“yaa!!! Aku bukan bocah! Aku hanya khawatir kalau misalnya ada ular yang menyelinap dan tiba-tiba,”

“stt! Sudahlah, diam dulu. Kita cari yang benar,” katanya dan lagi-lagi(?) memotong bicaraku. Huh! Sebal.

Yah,,, akhirnya aku hanya mengikutinya dari belakang saja sambil memegang bajunya. Mataku mendelik kesana-kemari melihat-lihat siapa tahu ada yang menyerang kami tiba-tiba.

“jangan berlebihan,,, gak akan ada hantu yang dateng, mereka tuh pada takut sama kamu. Kamu tahu?” katanya tiba-tiba berhenti membuatku yang tidak was-was melihat ke depan jadi menabrak tubuhnya.

“yaa! Jangan berenti tiba-tiba dong! Kan nabrak! Lagian, enak aja bilang aku lebih serem dari pada hantu, kamu tuh, Lucifer!” omelku panjang-lebar.

“hahaha,,, aku kan emang Lucifer (yang nyanyiin neh), baru tahu ya? Makanya jangan macem-macem, nanti kucemplungin ke neraka loh!” katanya sambil tertawa lalu menunjukkan wajah yang,,, arght sangat menyeramkan, menyebalkan dan ihh,,, evil smile! “tapi ganteng khan?kekeke~”

“sudah,jangan bicara yang tidak jelas lagi, lanjutkan saja, tuh goanya masih panjang,” kataku sambil mendorongnya maju ke depan agar tidak bias melihat wajahku yang terasa panas ini.

“aro,,aro,,, tapi gak usah dorong-dorong gitu,,,nanti aku jatuh,” ucapnya

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“hmm,apa badai akan datang ya?” tanyaku. Kami sedang duduk di sudut goa yang agak datar dan kering, karena di goa ini jarang ada bagian yang datar dan kering. Semua lembab dan ada sungai kecil mengalir di tengah gua. Benar-benar indah kalau keadaan tidak seperti sekarang, stalaktid dan stalakmid yang indah.

“molla, mungkin iya, lihat ruang goa ini menjadi lebih gelap, mungkin di luar sudah mendung dan badai akan datang sebentar lagi,” jawabnya. Wajahnya selalu memandang kedepan dengan tatapan kosong. Aku mengamati wajahnya, benar-benar bersih,putih dan mulus. Itu membuatku agak,

“hei, kenapa kau melihatku seperti itu? Seperti melihat hantu banci saja!” tanynya menyadarkan lamunanku.

“mwo? Ah, anny~ ahahaha~ hantu banci? Memang mirip,” kataku sambil menganggukkan kepaluku bak inspektur yang sedang menganalisis kasus.

“huh!” dia memukul kepalaku pelan, merangkulku dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya. Aku sedikit terkejut, namun kubiarkan dia melakukan itu. Perlahan dia menyandarkan kepalanya juga ke kepalaku. Aku merasakan angin laut mulai masuk dan menusuk tulangku. Namun aku tetap merasa nyaman, karna ada taemin disampingku. Tentu.

“ kau mendengar ada sesuatu?” tanyaku. Keheningan yang kami buat membuatku dapat mendengar apapun, suara sekecil apapun. Detak jantungnya, jantungku, nafasnya, nafasku, air mengalir, hembusan angin dan suara ‘itu’.

“suara apa angin? Air? Atau detak jantungmu?” tanyanya dengan wajah yang jail dan berhasil mebuat wajahku merah padam.

“bukan~!” kataku sambil menggerak-gerakkan tanganku cepat. “ suara,seperti suara manusia. Coba kau diam dulu dan dengarkan!” kataku, dan dia mengikuti instruksiku dengan baik.

“entahlah, tapi aku tidak mendengar apapun selain yang kukatakan tadi” katanya sambil memiringkan kepala menatapku. “kau tidak mendengar suara-suara aneh seperti yang kau takutkan tadi kan?” pertanyannya yang satu ini membuatku merinding sendiri.

“Kajja!” kataku sambil berdiri dan menarik tangannya agar dia juga berdiri dan mengikutiku.

“oddiya?” tanyanya.

“aku mau mendengar dari mana suara itu berasal, ayo!” kataku. Dan dia hanya pasrah mengikutiku menyusuri goa ini sekali lagi.

Benar-benar aneh sepertinya suara itu dari sekitar sini. Hiks,. Ah, suara ini, ya, suara seseorang menangis. Benar, ada yang menangis. Dari arah sini.

“eh,kenapa?”

“coba dengar baik-baik, ada orang menangis” ucapku setengah berbisik.

Hiks,hiks,h~yung,hiks,

“ah,ada, hiks,hiks, gitu ya? Kayaknya dari situ deh!” taemin menunjuk sudut yng memang daritadi kucurigai. Tapi sebentar, apa tadiaku salah dengar? H~yung?

“ah,” mataku membelalak, menatap taemin tajam, lalu berusaha menelan ludah yang telah bercampur air laut ini dengan susah payah. “kalau dugaanku benar, itu, suara~ jin~ki,” ucapku. Taemin langsung menatapku tak percaya, tangannya yang kugenggam bergetar. Kutarik dia ke arah sudut itu. Ada celah, ada tanjakan, dan ada ruang. Dan kami naik ke tempat yang agak tinggi itu. Dan apa yang kami temukan?

“ah,” aku tak dapat berkata-kata, aku melihat seorang anak lelaki beramut pendek sedang menangis meringkuk memeluk lututnya dengan merderai air mata. Refleks aku langsung berhambur ke arahnya dan memeluknya erat. “tuhan~ terima kasih~” ucapku. Entah sejak kapan air mataku sudah mengalir.

noona,,, h~yung,,,

Taemin langsung mendekat setelah berhasil menghilangkan syoknya. Diaberlutut dihadapan kami “kau tau? Kau sudah membuat hyungmu ini hampir mati. Kakiku lemas sekali, apalagi setelah melihat kau menangis di ujung goa dengan keadaan berantakan seperti ini. Hei, bagaimana kaedaanmu?” taemin berkata tanpa celah, namun air mata mengalir deras dipipinya. Aku langsung melepaskan dekapanku pada taemin dan membiarkan kakan-beradik itu melepas rindu dan ketakutan yang duyakini dirasakan oleh keduanya beberapa menit yang lalu, oh, detik.

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“jinki, kau pintar, kita bisa berlindung disini.” Ucap taemin. Kini kami bertiga sudah bersih (?) dari yang namanya air mata. Hha, kalau mengingat hal tadi, aku ingin tertawa juga.

“lho, hyung memang kenapa?” tanya jinki. Ah, iya, dia masih belum tau.

“akan ada badai jinki~ah.” Jawab taemin sambil tersenyum ke arah jinki. Perlahan jinki mendekati hyungnya.

“hyung, mianhae~ donghae hyung,”

“sudah taemin gwencana.” Jawabnya sambil menggendong adiknya itu.

“taemin, kok aku merasa suasana berubah, anginnya jadi semakin tidak enak dan keras.” Ucapku pada taemin. Tubuhku merasa tidak enak, terutama perasaanku. Sejak tadi. Bagaimana ini?

“benar, sebentarlagi badai datang,” ucapnya sambil memicingkan mata. “bersiaplah.” Ucapnya lalu memdekatiku bersama jinki. Kami bertiga duduk berdekatan. Dengan kecemasan yang sama kami berdoa pada tuhan, agar yang kami takutkan tidak terjadi.

“h~hyung, air laut!” taemin menunjuk arah goa dibawah.

“ah, jinki. Sudah diam saja.tenanglah” ucap taemin sambil memeluk jinki. Dia menatapku, lalu tersenyum. Aku menggelengkan kepalaku. Dia mengusap rambutku lembut, lalu menghapus air mataku. Air mata? Sejak kapan aku menangis? “don’t worry, I here to you, always beside you, oke? Calm jii~ah,” lalu merangkulku kedalam pelukannya bersama jinki.

“I fear, really fear, don’t leave me please,” ucapku sambil menagis di pelukannya. Aku benar-benar takut. Apa yang akan terjadi pada kami? Akankah kami selamat? Apakah sampai disini saja waktu kami untuk tinggal di dunia ini? Tuhan~

“never, trust me” jawabnya. Lalu lama-kelamaan mataku terasa berat. Dan aku tidak merasakan apapun lagi. Selain, nyaman.

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“oh,tuhan, bagaimana mereka? Yeobo? Ottoke?”

“tenang saja, aku percaya mereka akan selamat,”

“walaupun sudah mencari di pengungsian ini, aku tetap tidak dapat menemukan mereka. Tapi aku yakin mereka selamat.”

“nthe umma,”

“kau juga jangan terlalu bersedih. Lebih baik kamu berdoa. Itu akan lebih bermanfaat.”

“nthe ommanim.”

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“uuh,” aku membuka mataku perlahan. Cahaya. Aku mengangkat tanganku dan menutupi mataku dari cahaya itu. Apa aku sudah mati?

“hyung,noona sudah bangun!” hah? Suara siapa? Perlahan kubuka mataku dengan pasti. Anak kecil. Siapa? Aku mencoba mengumpulkan kembali keping-keping ingatan yang berpencar di otakku dan membuatku pusing.

“jii~ah, bagaimana perasaanmu? Apa masih mengantukkah? Haha~ badainya sudah berhenti.” Ha? Badai? Ah! Iya, aku ingat! Aku, taemin dan jinki berada di tengah badai. Tidak-tidak. Di dalam goa.

“ha~ah.apa kalian berdua tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.

“nan gwencana,” jawab taemin sambil mengusap kepalaku lembut.

“ayo pulang hyung!” ucap jinki pada taemin.

“nee, kaja!” jawab taemin. Dia mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri. “ayo hyung gendong!” ucapnya pada jinki. Jinki mengangguk lalu naik ke punggung taemin.

“kenapa jinki digendong?” tanyaku.

“tadi dia terpleset saat kau masih tidur. Kau tidur lama sekali sih! Bukan seperti orang tidur. Seperti orang mati saja!” jawab taemin. Aku memukul bahunya pelan sambil menatapnya kesal. Taemin dan jinki malah menertawaiku. Dasar! Kakak-beradik!

Kami turun dari tempat kami berlindung. Goa ini jadi tambah lembab, basah dan licin. Mungkin karena air laut sempat naik sampai kesini, mungkin. “hati-hati taemin~ah!”

“hmm,” jawabnya sambil tersenyum. Kami akhirnya keluar dari goa tersebut. Laut terlihat sangat tenang dan langitpun cerah. Tidak terlihat bekas adanya badai sedikitpun. Namun saat melihat kebelakang, pohon-pohon banyak yang tumbang. Badai benar-benar terjadi. “kira-kira, sekarang jam 5an ya?” tanya taemin tiba-tiba.

“ya, mungkin. Kau hafal jalan pulang?” tanyaku.

“entahlah, yang kutahu, kita berlari di pinggir pantai. Jadi menurutku lebih baik menyusuri pinggir pantai ini lagi. Ya kan?” jawabnya dan kujawab dengan anggukan.

Entah berapa lama sudah kami berjalan. Langit sudah mulai gelap. Matahari terlihat akan tenggelam di ujung laut ini. Menciptakan siluet fantastis yang indah. “apa tidak capek?” tanyaku melihat taemin yang masih menggendong jinki di punggungnya. Jinki sudah tertidur. Entah sejak kapan.

“tidak apa-apa. Aku kan laki-laki. Pasti kuat. Kau sendiri bagaimana? Apa tidak letih berjalan sejauh ini?” tanyanya balik.

“enak saja. Walaupun perempuan, aku ini kuat tau!” jawabku.

“Yaa,! Tapi tidak usah marah begitu kan? Hei! Jangan mendahuluiku! Aku tidak bisa berjalan cepat jinji~ah!” ucapnya. Masa bodoh! Aku tetap berjalan di depannya.

“katanya kuat! Laki-laki macam apa! Huh!” jawabku asal.

“Lim Jin Ji!” ups apa aku sudah keterlaluan?  Aku membalikkan badanku dan menghadap padanya. Dia berhenti berjalan pas dihadapanku. Wajahnya terlihat marah. Matanya menjadi tajam dan memandangku seperti singa melihat mangsanya saja.

“ah,jangan memandangku seperti itu.” Ucapku sambil tersenyum ketakutan.

“jinji!” ucapnya. Kini aku merasa jantungku berdegup dengan kencang melihat tatapannya berubah melunak. Entah mengapa mataku tidak dapat melepas matanya yang menatapku seperti itu.  Perlahan aku merasa wajahnya semakin dekat denganku. Matanya berubah lagi menjadi sayu dan perlahan menutup. Dan entah mengapa mataku juga mengikuti apa yang dilakukannya. Menutup. Dan perlahan aku merasakan bibirnya telah menyentuh bibirku. Jantungku yang tadi berdetak sangat cepat kini terasa berhenti berdetak. Merasakan bibirnya yang lembut mengusap bibirku perlahan. Kami berciuman di bawah matahari senja di pinggir pantai. Lama, sangat lama.

“ah, hyung!” aku mendengar suara jinki. Langsung kubuka mataku dan kulepaskan ciuman dari taemin. “ yaa! Apa yang baru saja kalian lakukan? Arght! Kalian berciuman!” jinki histeris di punggung taemin.

“hae jangan bergerak-gerak1 nanti jatuh pabo!” ucap taemin.

“ahh! Hyung telah menciun jinji noona! Huwa,,,, andwe!” ucap taemin sambil memukul-mukul pundak taemin.

“yaa! Biar saja! Memang kenapa? Toh dia memang milikku! Hei! Jangan pukul aku terus!” taemin proter akan perlakuan jinki.

“aniyo~! Noona hanya milikku! Andwe~~~! Hyung pabo!” jinki masih histeris di punggung taemin. Aku hanya bisa tertawa melihat perkelahian mereka.

“sudah-sudah! Kalau kalian bertengkar terus nanti kita gak sampe-sampe nih!”  ucapku melerai perkelahian mereka.

“noona, kenapa kau mau dicium sama dia? Ha~ah!” jawab jinki.

“sudah jangan banyak protes! Nanti kau kutinggalkan disini loh!” ucap taemin. Aku hanya tersenyum dan jinki memajukan bibirnya sambil mengoceh tidak jelas.

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

“annyounghaseyo~!” ucapku saat kami memasuki rumah Lee Halmoni. Sepi. Sepertinya tidak ada orang. Keadaan rumah di dalam tidak seperah di luar. Hanya barang-barang yang terbilang ringan saja yang berpindah dari tempatnya.

“sepertinya badai tadi tidak berdampak besar ya?” ucap taemin sambil tersenyum.

“hmm,” jawabku.

“dan sepertinya orangtuaku dan halmoni sedang mengungsi,” lanjutnya.

“hmm,” jawabku lagi.

“APPA! UMMA!” teriakan jinki membuatku dan taemin menoleh kearahnya. Dan apa yang kami lihat?

“jinki~ah, taemin~ah, kalian selamat nak!” ucap Lee ahjumma. Ya, Lee halmoni, ahjumma dan ahjussi datang dari pintu yang berlainan. Ahjumma dan ahjussi langsung memeluk jinki yang berlari ke arah mereka. Disusul taemin yang dengan santainya berjalan perlahan sambil tersenyum dan memeluk ketiga orang yang dicintainya dengan erat. Di belakang halmoni hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Tiba-tiba ahjussi melepaskan pelukannya, berjalan kearahku dan membungkukkan tubuhnya 900.

“kamsha hamnida Lim Jin Ji – ssi,” ucapnya.

“ah, ahjussi, tidak usah. Berdirilah. Aku tidak melakukan apa-apa,” jawabku gugup.

“gomawoyo jii~ya, kau telah menyelamatkan ke-2 cucu tersayangku,” ucap Lee halmoni.

“dee, benar sekali. Jinji, jongmal kamsha hamnida,” ucap ahjumma sambil berjalan kearahku dan memelukku erat.

“ah, aniyo~ aku,,, tidak melakukan apa-apa, ahjumma, ahjussi, halmoni, bahkan,,, hiks,,, aku,,, sudah mere~potkan kalian semua, mianhae~,” ucapku sambil terisak lalu membungkukkan tubuhku beberapa derajat.

“yaa, sudah. Masa baru segini saja sudah menangis? Cengeng sekali!” ucap taemin yang entah sejak kapan sudak merengkuh tubuhku dalam dekapannya.

“yaa~ taemin pabo!” jawabku sambil memukul dada bidangnya lembut.

“mereka kok seperti~,,,” ucap ahjumma.

“nee, umma, mereka memang sudah pacaran.” Jawab jinki. Aku dan taemin langsung melepaskan pelukan masing-masing. Wajah kami pasti terlihat sangat merah saat ini. “entah setan apa uang merasuki jinji noona sehingga mau menjadi yeojacingunya hyung. Atau mungkin hyung mengguna-guna noona ya umma?” tanya jinki ke ahjumma.

“yak! Jinki! Neo!” taemin yang kesal langsung menunjuk jinki tajam dan mengejarnya.

“sudah-sudah! Tsemin, berhenti. Kau ini. Masa masih seperti bocah saja! Tidak malu di depan yeojamu hah?” kata-kata ahjussi barusak sontak membuatku semakin malu saja. “dan jinki. Berhenti mengolok-olok hyungmu! Tidak mungkin hyungmu melakukan itu. Apa kau tidak percaya dengan ketampanan hyungmu hah? Lihat saja appanya!” ucap ahjussi bangga sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. Jinki yang kesal menatap ayahnya penuh amarah dan yang lainnya hanya tertawa melihatnya. “hei,hei! Jangan tatap aku seperti itu,” lanjut ahjussi memelas pada jinki.

“ya,yeobo! Kau ini!” jawab ahjumma yang heran melihat tingkah anak dan suaminya.

~ ~ ~ lll ~ ~ ~

Tok-tok-tok

Tok-tok-tok

“ya, sebentar, annyoungha~ Ah! Appa? Papah!”

“lita, akhirnya kami menemukanmu nak!”

“iya, mama dan papa mencarimu,”

“yak! Chagy, siapa yang datang? Nuguseyo?”

“oh, oppa, kenalkan ini appa dan eommaku!

“annyonghaseyo~!”

“MWORAGO?”

lll ~ ~ ~ lll

hufft! Selsai juga! Yippy!

Reader : what?

Hehehe, mianhae. Endnya disini. End yang gaje. Sumpah!

Proyek yang gak selse bertaon-taon. Alhamdulillah, selsai juga.

Wakawaka, pasti emosi banget ya? Pengen nendang, nabok sama ngelempar aku ke neraka? Gak papa, gak masalah kok!  Kan lucifernya ganteng-ganteng *dicekek reader*.

Gini, saya sebenernya gak sengaja buat end gaje gini. Yah, tapi apa boleh buat. Hati saya ingin seperti ini.

MAKA DARI ITU! YEORUBUN!!!

SAIYA AKAN BUAT SIDE  STORYNYA. Gimana?

Jadi ending yang kaya di novel teenlit pada umunya disono.

Isinya apa aja ya?

Isinya. Kayaknya lanjutin yang barusan putus dah. Terus kelanjutan hubungan tae-jin *kaga enak beuud ngomongnya dah!!!* seterusnya.

Lalu, kenapa dipilih judul kayak gini. Pertama ada kalo gak salah 2 judul gitu. Tapi gagal. Jadigini deh!

Yaudah, saya tunggu respon dan komennya!

Semuanya!

Kamsha hamnida! Saranghaeyo~!

Ayo! Kenapa aku pake judul ini coba?

Fb: ZELLYTH LITHA NISA

Kalo gak ketemu Y-nya diganti I. kkk~

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

Advertisements

7 thoughts on “It’s All About A Love [2.2]”

  1. Thor,,bnyak yg slah ktik lhow…*mian,,
    msih ngrasa aneh deh pas taemin dipanggil hyung ama jinki,,hehe
    Ada sequelnya??
    Bolehboleh…pkoknya dtunggu klanjutannya..b^^d

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s