Unexpected Love – Part 1

UNEXPECTED LOVE

Title : Unexpected Love part 1

Author : Park Jae Ra

Genre : Romance, Friendship, Comedy

Rating : General

Main Cast : Kim Jonghyun, Park Jae Ra

Support Cast : Lee Jinki, Kim Ki Bum, Choi Minho, Lee Taemin

Author’s POV

“Appa sekali aku bilang aku tidak mau bersekolah di Kimberly Art School, aku tetap tidak mau!!!” bentak Jonghyun.

“Apa-apaan kamu tidak mau bersekolah di sekolah keluarga kita?!!” tuan Kim berteriak kepada Jonghyun tidak kalah kerasnya. “Coba berikan Appa alasan yang logis.” Lanjutnya dengan nada lebih lembut.

“Tentu saja aku ingin memperdalam ilmu bernyanyiku Appa!!”

“Ah jurusan seni disekolah kita pun tak kalah bagus dari sekolah itu!” bela tuan Kim.

“Tetap saja sekolah itu sekolah yang mempunyai jurusan seni terbaik di Korea!” Jonghyun tak mau kalah. “Aku tak mau sekolah selain di Seoul International Art School!” lanjut Jonghyun dengan memberi penekanan di setiap katanya, dan langsung berlari ke kamarnya.

“Terserahmu lah!! Appa sudah lelah! Yang penting kau sekolah!!” tuan Kim akhirnya mengalah dan langsung meninggalkan ruang keluarga mewah itu.

One Year Later, Seoul International Art School

Jonghyun’s POV

Akhirnya sudah 1 tahun aku bersekolah disini. Ini tahun ajaran baru dan sekarang aku kelas 2,  entah keajaiban apa yang membuat Appa bisa mengalah padaku. Aku berjanji pada Appa aku tidak akan mengecewakannya. Maka dari itu aku selalu memperhatikan semua pelajaran yang diberikan oleh setiap guru disini. Begitu pun dengan pelajaran Jung  songsaenim sekarang.

BRAK!!!

Tiba-tiba pintu kelasku dibuka dengan kasar oleh seorang yeoja berpenampilan acak-acakan. Rambutnya yang panjang diikat dengan asal-asalan, kemeja putihnya keluar dari roknya, dan dia tidak memakai blazer sekolah kami yang malah ada di tangannya. Ah yeoja macam apa itu? Tidak bisa menjaga nama baik sekolah kami.

“Mian songsaenim aku terlambat.” Yeoja yang bernama Park Jae Ra itu langsung berlalu menuju kursinya yang ada dibelakangku. Mimpi apa aku bisa duduk di depannya? Ini semua karena dia yang selalu mengobrol jika duduk dibelakang. Sedangkan Jung songsaenim hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Jae Ra.

Beberapa saat kemudian aku meminta izin kepada Jung songsaenim untuk pergi ke toilet. Aku berjalan menyusuri koridor yang sepi. Jarak toilet dari kelasku lumayan jauh dan harus memutar lewat lapangan belakang. Saat aku melewati tembok belakang sekolah untuk kembali ke kelas, betapa terkejutnya aku melihat seorang yeoja sedang berusaha melarikan diri dari sekolah dengan memanjat tembok belakang.

“Jae Ra?” aku memicingkan mataku dan menghampirinya. “Yaaa! Apa yang kau lakukan disini? ” tanyaku.

“Tentu saja aku mau kabur, dasar pabo namja!” bentaknya dan melanjutkan aksinya.

Aku tak bisa tinggal diam melihatnya tetap berusaha kabur. Dengan cepat aku menarik kakinya. “Jonghyun-ssi apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!!”  tanyanya.

“Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu kabur, dasar pabo yeoja!” ungkapku puas  karena bisa membalikan kata-katanya. Sampai sekarang aku masih bingung mengapa dia bisa kabur dari pelajaran Jung songsaenim.

“HEY!” teriak seseorang ketika aku sedang berusaha mencegah Jae Ra. Ternyata itu adalah Daesang adjusshi, orang yang sudah bekerja disekolah ini dalam jangka waktu yang tidak sebentar. “Kalian mau kabur ya?!!” tanyanya. “Liat saja akan aku laporkan kepada kepala sekolah!”

“Aniyo, yeoja ini yang akan kabur! Aku hany–” ucapanku terpotong saat Jae Ra mengucapkan sesuatu yang berhasil membuat amarahku naik.

“Iya kami mau kabur!”

Di Ruang Kepala Sekolah

Jaera’s POV

Saat melihat Daesang adjusshi yang memergoki kami –yang sebenarnya memergokiku- yang akan kabur, aku melihat kesempatan untuk membalaskan dendamku pada namja bernama Jonghyun itu yang membuat rencana kaburku untuk menghindari pelajaran seni. Sudah sekitar 30 menit aku disini dan aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang kepala sekolah katakan, tidak seperti Jonghyun yang berusaha untuk menjelaskan kejadian sebenarnya. Lagi pula sepertinya kepala sekolah tidak memperhatikan keberadaanku, dia terheran-heran dengan sikap Jonghyun yang seperti ini, padahal sebelumnya dia tercatat sebagai anak berprestasi dalam bidang seni dan taat pada peraturan.

“Ingat, saya belum selesai dengan kalian. Saya masih harus menasehati kalian, tapi saya harus segera pergi. Saya serahkan pemilihan hukuman kepada wakil kepala sekolah, sekarang silahkan kalian menemui wakil kepala sekolah di ruangannya.”

Kami berdua meninggalkan ruangan kepala sekolah. Sesampainya didepan pintu, dengan kasar Jonghyun mendorong bahu ku dan berkata “Apa maumu hah?!”

Aku hanya menyunggikan senyum meremehkan. Samar-samar dia mengumpat “Aishhhhhhh” sambil mengacak-acakan rambutnya coklatnya itu. Tanpa mempedulikannya aku langsung meninggalkannya menuju ruang kepala sekolah

Jonghyun’sPOV

Wakil kepala sekolah meminta kami untuk membersihkan sebuah ruang music yang jarang dipakai di lantai 4 sekolah kami. Aku pun belum pernah melihat ruang music itu. “Kemana Jae Ra?” gumamku kecil. Aku tidak melihat dia setelah bel pulang berbunyi, awas saja kalau dia kabur.

Dengan gontai aku melangkahkan kakiku menuju ruang music terpencil itu. Aish, aku merasa risih diperhatikan oleh para yeoja-yeoja. Yaa walaupun mereka memandangku dengan tatapan kagum, tetap saja aku merasa risih.

Sesampainya di lantai 4, lantai dimana hanya terdapat ruang music kecil, gudang dan ruang arsip. Aku mendengar suara dentingan piano, dentingan piano yang indah ini membuat aku penasaran siapa yang memainkannya sehingga aku menyusuri suara ini. Langkahku terhenti saat melihat yeoja yang baru saja aku kenal sedang memainkan piano itu, “Jae Ra?”

Jae Ra’s POV

“Jae Ra?” suara itu sukses membuatku kaget dan mengehntikan permainan pianoku.

“Ah kau rupanya Jonghyun-ssi! Kemana saja kau?! Aku menunggumu dari tadi tahu!” kataku sambil menghampirinya, meninju bahunya pelan dan tertawa garing. Jonghyun terlihat bingung melihat perubahan sikapku, tapi ia langsung mengangguk pelan dan mengikutiku untuk membersihkan ruangan ini.

Aku menyelesaikan tugas terakhirku dengan mengelap grand piano hitam itu. Tak terasa sudah tiga jam aku mengabiskan waktu bersamanya dalam diam. Tak seorangpun dari kami yang memulai pembicaraan, biarlah, mungkin dia masih kesal padaku.

“Jae Ra, sudah selesaikan?” aku mengangguk. “Kalau begitu cepat lapor ke wakil kepala sekolah diruangannya.” katanya dingin. Lalu aku pergi menuruti perkataannya.

Aku berlari kecil ke ruang wakil kepala sekolah, tapi aku tak menemukan seorangpun disana. Aku memutuskan untuk menunggu sambil melihat-lihat koleksi piala-piala sekolah kami di sebuah lemari besar. Aku tertarik dengan sebuah piala yang bertuliskan “First Place at Seoul National High School Singing Competition, Kim Jong Hyun” tiba-tiba sesuatu menyentuh kakiku, ini adalah sebuah dokumen yang tersimpan disebuah map berwarna coklat. Aku membukannya, “Hah? Apa maksudnya ini?”

Author’s POV

Halaman Sekolah

Jonghyun berjalan pelan-pelan sambil sesekali melempar-lempar kunci motornya. Dia mengambil motor sport putihnya dan menunggu Jae Ra. Beberapa saat kemudian, Jae Ra menghampiri Jonghyun dengan wajah cemas dengan peluh yang mengalir di wajahnya.

“Haaaah… Jonghyun-ssi!” katanya sambil mengatur nafas.

“Ayo naik.” Ucap Jonghyun dingin.

“Mwo?”

“Kau dengar tidak? Aku bilang ayo naik dan jangan membantah.” katanya tegas dengan raut wajah kesal yang terlihat dibalik helm putihnya.

Dengan ragu Jae Ra menaiki motor Jonghyun. “Kau tidak akan membawaku kaburkan?” dengan raut muka polos

“Adanya aku yang takut kau yang akan membiusku.” Jawab Jonghyun samar dan langsung menjalankan motornya.

Jae Ra’s POV

Sepertinya Jonghyun tahu apa yang ada di pikiranku, dia mengajaku ke kedai eskrim.

“Ayo turun, kita bicarakan didalam.”

“Membicarakan apa?” ucapku pura-pura tak tahu.

“Dasar pabo, aku tahu ada yang kau cemaskan.” ucap Jonghyun dan berjalan mendahuluiku.

Aku hanya tertegun dan langsung mengikutinya. Sesampainya di depan pintu kedai, aku disambut sengan senyum manis seorang pelayan dengan name tag bertuliskan Lee Taemin.

“Annyeong hyung! Wah lama sekali kau tak pernah kesini” kata seorang pelayan yang bernama Taemin itu. sepertinya Jonghyun sudah sering sekali kesini.

“Annyeong Taemin-ah, cepat buatkan pesananku seperti biasa.” Taemin menatapku sekilas dan kembali menatap Jonghyun dengan tatapan siapa-yeoja-yang-ada-dibelakangmu. “Ah iya dia Jae Ra temanku”

Jonghyun menarik tanganku meninggalkan Taemin. Aku tersentak kaget dan reflex menarik tanganku dari genggamannya. Jonghyun menatapku dengan tatapan yang susah diartikan dan kembali berjalan ke sebuah meja yang ada disamping kaca besar dengan pemandangan orang-orang yang berlalu lalang dijalan besar kota Seoul ini

“Jadi apa yang membuatmu cemas?” tanya Jonghyun ketus.

“Kau tau kan saat kau memintaku untuk melapor pada wakil kepala sekolah? Aku tak sengaja menjatuhkan sebuah dokumen diamplop cokelat yang sepertinya sengaja disembunyikan diatas lemari piala.” jelasku panjang lebar. Lalu seseorang namja dengan seragam sama seperti Taemin datang membawa pesanan kami, namun dengan name tag bertuliskan Choi Minho.

“Ini pesanannya.” ucap Minho dengan range alto disuaranya.

“Gomawo.” ucapku dan Jonghyun bersamaan.

Setelah Minho berlalu, Jonghyun mengambil eskrimnya dan memberikan es krim satunya untukku. Lalu aku melanjutkan ceritaku sambil mengaduk-ngaduk es krim coklat bertaburan almond dan biscuit. “Karena aku merasa aneh dengan dokumen itu, aku membukannya dan–” ucapanku terhenti saat aku mendongakan kepalaku dan mendapati Jonghyun sedang memakan es krimya dengan lahap dan menurutku dia terlihat cukup tampan. Ah apa yang kau pikirkan Park Jae Ra!

“Waeyo? Kenapa berhenti?” Jonghyun sepertinya sadar kalau aku memperhatikannya.

“Um, tidak aku hanya hmm.. hmmm.”

“Cepat lanjutkan ceritamu!” potong Jonghyun.

“Ah iya” ucapku sambil mengalihkan tatapanku dari wajah Jonghyun ke es krimku ini

Aku melihat wajah Jonghyun yang tidak sabar ingin mendengar ceritaku, “Aku melihat surat pengambil alihan tanah sekolah kita dan disitu tertulis bahwa sekolah kita akan… akan… digusur” ucapku menundukkan kepala.

“Benarkah? Kau sedang tidak bercanda kan? Kita tidak bisa tinggal diam” ucap Jonghyun geram

“Untuk apa aku berbohong padamu!” aku mendengus kesal, “Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyaku

Jonghyun’s POV

“Jae Ra” aku memanggilnya. Namun dia tak menjawab panggilanku. Saat ini aku berada didepan rumah yang cukup besar dengan arsitektur Jepang kuno. Rumah yang unik, batinku.

“Jae Ra” panggilku lagi, sepertinya dia lelah dan tertidur di punggungku. “Jae Ra” panggilku untuk kesekian kalinya, dan sedikit menggoyangkan badannya. Aisssh dia tak bangun-bangun, membuatku kesal saja. Aku ingin mengeluarkan sifat amarah dan ketusku tapi aku tidak tega melihat wajah kelelahannya itu.

“Jae Ra, apakah ini benar ini rumahmu?” tanyaku sedikit lembut. Aneh sekali diriku berkata selembut ini.

“ah iya Jonghyun-ssi, gomawoyo” ucapnya sambil mengucek-ngucek matanya dan masuk kedalam rumah itu.

“Masuk begitu saja? Dasar pabo yeoja” gumamku dan langsung menjalankan motorku

Jonghyun’s House

Aku merapikan buku-buku PR ku dan langsung menjatuhkan tubuhku di tempat tidurku ini. “Park Jae Ra, apa yang kau katakan tadi itu kenyataan?” gumamku. Sepertinya Jae Ra sedang tidak berbohong padaku. Aku melihat sorotan matanya, matanya berkata kalau yang dia katakan itu benar. Lalu apa yang harus kulakukan untuk sekolahku itu? Tepatnya kami, ya apa yang harus kami lakukan?

Seoul International Art School

Bel sekolah baru saja berbunyi, pelajaran Sastra akan segera dimulai. Aku mengambil buku-buku di tasku dan menaruhnya diatas meja. Tiba-tiba saja mataku beralih pada seorang seorang yeoja yang berada ditepi pintu kelasku. Dia terlihat sedang mengatur nafasnya dan tersenyum lega karena Lee songsaenim belum datang.

Dia berjalan ke tempat duduknya yang berada dibelakangku. Entah kenapa mataku tidak lepas darinya. Penampilannya hari ini sangat berbeda, ikatan rambutnya yang panjang terlihat rapi, dan dia memakai blazer sekolah layaknya murid-murid lain padahal setiap harinya tidak seperti itu. Mungkin dia sudak kapok dan mulai bertindak manis.

“Hey Jonghyun-ssi kenapa kau melihatku seperti itu?” kata Jae Ra dengan suara sedikit berteriak. Sepertinya dia tahu kalau aku memperhatikannya. Dengan rasa acuh aku membuang mukaku dan kembali berkelut dengan buku-buku Sastra ku diatas meja.

BRAK !!

Sepertinya Jae Ra menghempaskan tasnya keatas meja dengan kesal. Apakah dia kesal karena tingkahku? Aku kira dia akan berubah menjadi yeoja yang manis, tapi pikiranku salah, dia tetap saja kasar seperti itu. Sudahlah aku tidak peduli, buat apa aku memikirkannya.

Sudah hampir satu jam aku memperhatikan Lee songsaenim. Tapi aku tidak mengerti apa yang dia jelaskan sepenuhnya. Pikiranku tidak fokus dengan pelajaran, aku lebih memikirkan masalah sekolah yang kemarin kubicarakan dengan Jae Ra. Aku harus tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa wakil kepala sekolah menyembunyikan dokumen penggusuran itu? Apakah kabar itu dirahasiakan dari kepala sekolah? Kenapa sekolah ini harus digusur? Sekolah ini cukup berprestasi. Ah.. banyak sekali pertanyaan-pertanyaan diotakku, aku harus mencari tahu jawabannya. Apakah Jae Ra berfikir yang sama denganku?

“Baiklah anak-anak sampai disini pelajaran yang saya jelaskan. Ada yang ingin kalian tanyakan?” ucap Lee Songsaenim yang mengalihkan pikiranku.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tanyakan songsaenim, tapi sudahlah.. semangat belajarku hari ini sedang menurun.

“Oke saya pikir kalian sudah mengerti. Annyeong” salam Lee Songsaenim dan pergi meninggalkan kelas.

Seperti biasa setiap jam ganti pelajaran anak-anak kelasku mulai ramai. Dan ada sebuah suara yang memanggilku

“Jonghyun-ssi” panggil seorang yeoja dari belakangku.

“Ada apa?” kataku sambil menyender kekursiku tanpa membalikkan wajahku.

“Kita perlu membicarakan masalah kemarin” ucap Jae Ra dengan nada sedikit khawatir “Bagaimana kalau kita bolos pelajaran berikutnya untuk membicarakannya?” ucapnya polos dan membuatku kaget.

“Aku tidak mau bolos! Kau sendiri saja sana! Kita kan bisa membicarakannya sepulang sekolah” bentakku padanya. Aku melihat wajahnya yang datar.

“Bagaimana bisa aku membicarakan masalah tanpa ada lawan bicaranya?” gumamnya kecil  “Baiklah aku tunggu kau diruang musik sepulang sekolah” ucapnya mengalah. Dan ketika ku membalikkan tubuhku, aku sudah melihat songsaenim dimeja guru kelasku.

~TO BE CONTINUE~

mohon kritik dan saran dari semuanya J

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

9 thoughts on “Unexpected Love – Part 1”

  1. Keren bngt….
    kya’a bakalan seru bngt,, nanti kira” jae ra ma jjong ya *reader sok tau
    lanjut terus jgn lama” ya *reader bnyk mau’a

  2. aku baru baca ini chingu,ffnya bagus banget,kasih periveous sama next partnya dikit dong di setiap partnya,(cuma saran) chingu. . . .

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s