Incomplete – Part 2

Incomplete – Part 2

Author: Choi Minra a.k.a tikwaang

Main Casts: SHINee, Choi Minra, Choi Minhyo, Choi Siwon

Support Casts: Lee Junho, Jung Min Gi, Jung Krystal, Jung Jessica, Kim Heechul

Length: Sequel

Genre: Family, Romance, Friendship

Rating: PG-15?

“Tidak buruk…”

“Ya, tidak buruk… Jika kita tidak tinggal bersama.”

“Ya! Jangan mencari masalah denganku Minra, aku tidak segan-segan untuk memberimu hukuman jika berlaku tidak sopan lagi denganku.” Minra mendengus kesal mendengar ancaman Oppanya dan langsung menarik koper hitamnya menuju kamar. Minho hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya yang tidak pernah berubah sejak mereka masih kecil. Penyakit sister complex yang menyerangnya lah yang membuat adik kesayangannya itu membenci Minho. Ia selalu berdoa pada Tuhan agar penyakit ini bisa cepat hilang dan ia bisa hidup bahagia bersama Minra, tapi sayangnya Tuhan belum mengabulkan itu. Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa dan berusaha menahan emosinya jika Minra sedang dekat dengan laki-laki lain.

“I can’t believe it!” teriak Minra dari dalam kamar. Minho yang mendengarnya langsung berlari menuju kamar tidur di dekat teras itu dan membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.

“Minho-ya! Kenapa tidak bilang?”

“Tidak bilang apa?”

“Kenapa tidak bilang kalau di sini kita tidak di berikan kendaraan pribadi??” Minho mengangkat salah satu alisnya pertanda bingung. Ia sendiri tidak tahu kalau ibu mereka tidak memberikan kendaraan pribadi di sini dan sekarang adiknya marah-marah karena Minho tidak memberitahunya.

“Aku tidak tahu apa-apa Minra, Eomma tidak mengatakan apa-apa padaku… Kau tahu darimana kita tidak memiliki kendaraan pribadi?” tanya Minho yang di sambut dengan sebuah kertas di tangan Minra. Ia mengambil kertas tersebut lalu membacanya dengan seksama. Ternyata ibunya sudah meletakkan kertas ini saat ke Korea beberapa bulan yang lalu untuk membereskan apartment ini. Setelah selesai membaca, Minho meletakkan kertas itu di meja rias milik adiknya lalu pergi keluar kamar tanpa berkomentar apa-apa tentang surat itu. Minra yang tidak terima langsung mengejar Minho ke ruang depan.

“Ya! Katakanlah sesuatu! Kalau tidak memiliki kendaraan pribadi, kita pergi ke kampus naik apa? Seoul University itu jaraknya cukup jauh dari sini!”

“Kau ini jangan bodoh, tentu saja kita bisa ke kampus meskipun tidak memiliki kendaraan pribadi.” Ucap Minho tanpa ekspresi. Minra agak kesal di katakan bodoh oleh Minho, tapi rasa penasarannya lebih besar daripada kekesalannya itu. Minho menoleh ke arah adiknya dan berkata, “Biasakan dirimu untuk bangun pagi ya Minra, bis tidak mau menunggu penumpangnya yang suka lama berdandan.”

Minra’s PoV

Ku pandangi pantulan diriku di cermin, sudah 10 menit aku berdiri di sini untuk mengecek penampilanku tapi entah mengapa aku masih merasa tidak percaya diri. Ku lirik jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tanganku, aigo! 5 menit lagi bis yang membawaku menuju sekolah baruku akan berangkat! Tanpa berdandan terlebih dahulu, aku langsung berlari keluar rumah menuju halte terdekat. Sial sekali Minho sudah berangkat duluan tadi tanpa menungguku, tapi sudahlah. Aku lebih suka seperti ini. Berangkat sendiri tanpa Minho sangatlah menyenangkan karena itu berarti tidak ada yang membuatku kesal sepanjang perjalanan. Sesampainya di halte, aku langsung memasuki bis yang hampir berjalan tadi kalau aku tidak meneriaki supirnya. Karena terlambat, aku tidak mendapatkan kursi sehingga aku harus berdiri dan bersesak-sesakan dengan penumpang lainnya. Aku sangat tidak suka menaiki bis… Jujur saja, ini pertama kalinya aku menaiki bis sepanjang hidupku. Eomma tidak pernah membiarkanku naik kendaraan umum atau pun bis sekolah saat di Amerika. Ia bilang aku ini anak perempuan, tidak baik berpergian sendirian di kota besar tanpa ada teman untuk menemani. Tak jauh di depanku, aku melihat seorang pria bertubuh kurus hendak melakukan tindak kejahatan di bis pada seorang yeoja. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menarik tangan pria itu dan memelintirnya yang membuat penumpang yang lain kaget.

“Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan! Aku bisa berbuat yang lebih jika kau terus melakukan ini tuan!” pria kurus itu mengangguk cepat dan langsung berlari ke arah pintu keluar yang di sambut dengan tepuk tangan para penumpang. Mereka memuji keberanianku barusan, aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.

“Chingu-ya, kamsahamnida! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Anda tidak menolongku tadi.”

“Cheonmaneyo, tidak usah berlebihan. Aku hanya ingin membantu hehehe.”

“Baiklah… Kenalkan, Jung Min Gi imnida!” ucap gadis itu sambil membungkukan badannya. Aku tidak mengerti kenapa ia melakukan itu, tapi lebih baik aku mengikutinya.

“Choi Minra imnida..”

“Sepertinya kau baru pindah ke sini ya? Dari caramu memperkenalkan diri, rasanya berbeda haha.”

“Ne.. I just moved here yesterday eh? Mianhae aku menggunakan bahasa inggris…” Min Gi terkekeh pelan mendengar ucapanku. Kenapa ia tertawa? Memang ada yang lucu dalam perkataanku barusan?

“Min Gi-ssi, kenapa tertawa? Memangnya ada yang lucu dari perkataanku?”

“Haha ani, kau mengingatkanku pada kedua kakak perempuanku yang tinggal di Amerika. Jika mereka kembali ke sini, pasti mereka selalu mencampur bahasa Korea dengan bahasa Inggris… Ah~ bogoshipta.” Ucapnya yang membuatku teringat akan saudara-saudaraku selain Minho. Ada dimana mereka? Apakah mereka baik-baik saja? Apa mereka masih tinggal bersama Appa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di otakku. Aku sangat rindu dengan mereka, tapi aku tidak tahu harus menghubungi mereka kemana. Eomma tidak pernah berkata apa-apa soal keluarga di sini. Ia hanya bilang bahwa Appa dan yang lainnya baik-baik saja di Seoul. Ku sentuh kalung berbentuk huruf C yang tidak pernah ku lepas semenjak kepergianku ke Amerika 13 tahun yang lalu. Aku masih ingat akan janji Oppaku dulu sebelum aku, Minho dan Eomma pergi. Ia berjanji akan menemuiku di rumah lama kami di tanggal yang sama dengan keberangkatan kami. 27 September adalah tanggal dimana Oppaku berjanji padaku dulu dan itu masih dua bulan lagi. Apakah ia akan menepati janjinya? Entahlah, aku hanya bisa berharap ia akan menepati janjinya padaku. Tak terasa bis yang aku tumpangi sudah berhenti di depan sekolah baruku, yaitu Seoul University. Aku dan Min Gi yang ternyata merupakan teman satu jurusan di kampus bergegas turun dari bis dan berlari menuju gedung pertemuan. Ketika kami memasuki gedung pertemuan, ternyata upacara pembukaan sudah di mulai dan kini sudah perkenalan anggota senat. Aku memandangi anggota senat satu-persatu dan mendapati tiga namja yang menarik perhatianku. Namja pertama memiliki mata yang sangat sipit dan dia mengingatkanku pada penyanyi terkenal, Rain. Dia tidak terlalu tinggi tapi ada satu hal yang aku suka darinya. Ia memiliki eye smile yang bisa membuat orang-orang ikut tersenyum saat melihatnya. Namja kedua memiliki tubuh yang berisi dan sedikit lebih tinggi dari namja yang sebelumnya. Rambutnya di cat kemerahan dan ia memilik mata yang sangat sipit juga. Kini ia sedang tertawa dan itu membuat matanya yang sudah sipit menjadi semakin sipit. Aku tertawa pelan melihat tawanya yang agak berlebihan itu. Dan namja ketiga adalah namja yang sangat berbeda dari kedua namja sebelumnya. Ia sama sekali tidak tersenyum dan wajahnya terlihat angkuh di saat anggota senat yang lain tertawa atau pun tersenyum. Entah mengapa aku merasa sangat familiar dengan namja angkuh itu, apa kita pernah bertemu ya?

“Minra-ssi, lihat! Namja yang beridiri di tengah-tengah itu sungguh tampan ya? Tak heran ia menjadi idola di sini.”

“Ne? Bagaimana kau tahu ia idola di sini?”

“Hehehe, tentu saja aku tahu. Ia merupakan sepupu dari pemilik universitas ini dan ia merupakan DJ terkenal di Seoul. Ia sering sekali menjadi DJ di sebuah club terkenal dan mewah di kawasan Gangnam.” Aku menganggukan kepalaku tanda mengerti tapi sayangnya bukan itu yang aku ingin dengar saat ini. Tadinya aku berharap ia menyebutkan nama namja itu, tapi karena ia tidak menyebutkannya jadi aku tidak mau bertanya lagi. Nanti Min Gi malah menyangka aku suka dengan namja itu lagi. Setelah acara perkenalan yang cukup lama, akhirnya aku tahu sekarang nama dua dari tiga namja yang menarik perhatianku tadi. Namja yang mirip sekali dengan Rain itu bernama Lee Junho, ia menjabat sebagai bendahara di organisasi tersebut lalu namja yang membuatku tertawa saat mendengar tawanya itu namanya Lee Jinki. Ia menjabat sebagai ketua senat dan kini saatnya namja bertampang angkuh itulah yang akan memperkenalkan diri. Sebelum berbicara di mic nya, ia berdeham yang di sambut dengan sorakan para yeoja. Sebegitu terkenalnya kah dia sampai gadis-gadis bertingkah gila seperti itu? Semakin di lihat wajahnya, aku semakin merasa familiar dengannya dan hal itu terbukti dengan ucapannya yang membuatku kaget setengah mati.

“Hi, my name is Kim Kibum. You can call me Key and I’m the vice president.”

Minho’s PoV

Angin musim panas menerpa wajahku yang menyebabkan poniku berantakan. Hari pertama di Korea tidaklah seburuk yang aku bayangkan, teman-temannya ramah sehingga membuatku cepat beradaptasi dengan mereka. Sejauh ini aku sudah bertemu dengan dua orang yang cocok denganku yaitu Kim Jonghyun dan Lee Taemin. Mereka merupakan dua orang pertama yang mengajakku bicara hari ini (aku tidak menghitung gadis-gadis yang meneriakiku tadi di kelas) dan ternyata mereka telah bersahabat semenjak SMA. Jonghyun merupakan mahasiswa seni begitu juga dengan Taemin sedangkan aku memasuki jurusan hukum.  Saat ini kami sedang bersantai di kantin karena upacara pembukaan untuk mahasiswa baru masih berlangsung. Aku jadi teringat dengan Minra… Kira-kira ia sampai di sana tepat waktu atau tidak ya?

“Minho-ya! Apa benar kau belum mempunyai pacar? Masa laki-laki setampan dirimu tidak laku sih?” tanya Jonghyun blak-blakan yang di sambut tawa oleh Taemin.

“Bukannya tidak laku, tapi aku saja yang belum menemukan pasangan yang cocok. I’m still looking.” Jawabku berbohong. Sebetulnya aku sudah memiliki satu gadis spesial dan kami berdua sama-sama tahu kalau perasaan kami terbalas, hanya saja aku belum siap untuk menjalani hubungan dengannya. Lebih tepatnya aku belum siap memiliki orang lain dan melepas Minra begitu saja. Minra itu milikku dan aku tidak rela jika ada laki-laki lain yang menjaganya.

“Wow… Bagaimana kalau aku kenalkan dengan adik angkatku? Ia sangat cantik dan sebentar lagi ia akan kembali dari luar negeri, aku yakin kau akan suka dengannya!”

“Mwo? Shireo! Mianhae Jonghyun-ah, tapi aku ingin mencari sendiri saja.”

“Aku yakin kau akan menarik kata-katamu setelah melihatnya nanti! Ya kan Taem?” Taemin mengangguk setuju dengan perkataan Jonghyun dan kini mereka berdua malah membicarakan soal yeoja yang cocok untukku. Aish, kenapa mereka jadi seperti biro jodoh sih? Karena kesal, akhirnya aku memutuskan untuk melihat Minra dan murid baru yang lain sedang di arahkan oleh anggota senat. Aku berjalan menuju lapangan utama tanpa memperhatikan sekitar sampai akhirnya aku menabrak seorang gadis yang tengah membawa beberapa buku di tangannya.

“Mian… Jeongmal mianhae agasshi.”

“Ne.. Tidak apa-apa Sunbae.” Wajahnya yang tadi tertutupi oleh rambutnya, kini terlihat sangat jelas. Ia merupakan gadis yang cantik, rambutnya hitam panjang dan berkilau seperti matanya. Maksudku matanya hitam dan berkilau (-_-). Wajahnya mengingatkanku pada gadis spesial yang aku ceritakan tadi. Ia mirip sekali dengan Krystal Jung, tetangga sekaligus gadis yang aku sukai. Aku sedikit terkejut saat mata kami bertemu pandang barusan. Wajah gadis itu bersemu merah dan tiba-tiba ia berdiri dan langsung pergi begitu saja meninggalkan buku catatannya yang masih tergeletak di tanah. Ku pungut buku berwarna merah marun itu dan membaca nama yang tertera di sampul buku itu.

“Jung Min Gi…. Nama yang bagus….”

“Aku pulang!” teriakku sambil meletakkan sepatu kesayanganku di rak dekat pintu. Seperti biasa, tidak ada jawaban dari adik perempuanku itu. Ku lirik rak sepatu tadi dan tidak mendapati sepatu merahnya di sana. ‘Ternyata ia belum pulang’ pikirku. Ku rebahkan tubuhku di sofa empuk sambil menyalakan tv dan menarik seplastik kripik di meja ke dekatku. Hari yang cukup melelahkan apalagi mengingat aku pulang-pergi harus menaiki kendaraan umum, tapi aku merasa senang dengan kehidupanku yang sekarang. Aku menemukan teman-teman yang baik dan berteman secara tulus denganku. Aku juga bisa tinggal berdua saja dengan Minra yang aku harap aku bisa lebih dekat dengannya karena selalu berinteraksi seperti ini. Saat di Amerika dulu, aku hanya bisa melihatnya jika sedang hari libur saja karena aku selalu di sibukkan dengan tugas-tugas kuliah dan kegiatanku di klub basket, tapi sekarang aku bisa selalu melihatnya meskipun kini aku juga mendaftar klub basket lagi di kampus. Kami satu rumah dan kini kami juga satu universitas, jadi frekuensi pertemuan kami semakin bertambah. Drrrt drrrt. Ponselku bergetar yang menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Sebuah nama yang sangat aku rindukan tertera di layar ponselku. Aaah~ I miss her, a lot.

From: Krystal~

Hi Choi! How are u? I miss you so much!  Hmm… I just wanna say…. Sleep tight!

Hhh gadis yang aneh tapi entah mengapa aku sangat suka dengan keanehannya. Ia tidak seperti gadis biasa yang sibuk dengan soal percintaan, ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan bermain piano sambil bernyanyi di kamarnya. Suara dentingan piano milik Krystal sering kali terdengar sampai kamarku yang terletak di paling pojok. Aku sangat suka mendengar suara merdunya, hatiku selalu merasa tentram jika mendengarkan suara merdunya.

To: Krystal~

Yeah, have a nice day sweetheart! I miss you too~

Ku tekan tombol SEND lalu melempar ponselku ke samping. Aku sangat rindu padanya, tapi mengapa ia hanya mengirim satu pesan? Ah babo! Tentu saja itu karena biaya komunikasinya mahal mengingat kami berdua tinggal di benua yang berbeda sekarang.

“I’m home.” Ucap seorang yeoja yang aku yakini sebagai adik kesayanganku. Ia memasuki ruang tengah dengan wajah letih dan pucat yang membuatku agak khawatir melihatnya.

“Minra-ya, gwanechana? Wajahmu sangat pucat….”

“Gwaenchana, tidak usah mengkhawatirkan aku Minho.” Ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di sofa kecil dekat tv.

“Tadi kau pulang naik apa Minra? Mengapa lama sekali sih?”

“Aku.. Pulang sendiri… Ya, sendiri.” Dahiku berkerut setelah mendengar jawabannya barusan. Sepertinya ada yang ia sembunyikan dariku… Sepertinya ia tidak pulang sendiri hari ini.

“Gotjimal, aku tahu kau tidak pulang sendiri. Lagipula aku tidak bertanya soal itu, aku bertanya kau pulang naik apa bukan dengan siapa.” Aku lihat ia mulai gelagapan mendengar penjelasanku. Jujur sajalah Minra~

“Err…. Baiklah, aku pulang bersama teman. Puas kau?”

“Belum, temanmu itu laki-laki atau perempuan?”

“Mwo? Itu bukan urusanmu Minho! Aish, aku mau ke kamar saja ah. Aku malas menjawab pertanyaan-pertanyaanmu yang memuakkan itu.” BLAM. Ia masuk ke dalam kemar dengan membanting pintunya. Melihat sikapnya yang seperti itu, aku sangat yakin hari ini ia pulang di antar oleh seorang laki-laki. Tapi yang menjadi permasalahannya adalah… Siapa laki-laki itu dan bagaimana mungkin Minra bertemu dengan seorang laki-laki dan langsung pulang bersama orang itu?

End of Minho’s PoV

Author’s PoV

Incheon Airport, Seoul

Seorang wanita dan dua orang pria berjalan menyusuri lorong airport dengan sebagian wajah tertupi oleh sun glasses super besar yang mereka kenakan. Orang-orang melihat mereka takjub karena mereka bertiga sangatlah tinggi dan memiliki wajah yang tampan dan cantik. Sang wanita merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah ponsel touch screen berwarna hitam. Ia mengetik sejumlah angka lalu mendekatkan ponsel hitam itu ke telinganya. Setelah beberapa saat  menunggu, akhirnya sebuah suara berat dari seorang pria terdengar.

“Hello, Jonghyunnie? Lily’s speaking. Are you busy? “

“…….”

“Ah… I see, I’m sorry for disturbing your night Jjong.”

“……”

“Yes? Kibum has arrived?? Really??? Aaaah, thank you so much Jjong! I love you!” wanita itu pun memutuskan sambungan telponnya tanpa ingin mendengar jawaban laki-laki bernama Jonghyun tadi. Jantungnya berdegup sangat kencang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan laki-laki yang selama ini selalu menolaknya dengan alasan persaudaraan. Pria yang memiliki tubuh paling tinggi di antara yang lain langsung berkomentar soal percakapan Lily dengan Jonghyun barusan.

“I can’t belive this… You still love him…”

“I know you don’t like him Andrew, but please… Don’t try to provoke me! I’ll always love him, no matter what happens.” Andrew memutar bola matanya dan tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan laki-laki yang baru saja ia dan adiknya bicarakan. Kim Kibum berjalan menghampiri mereka dengan memasang wajah angkuhnya. Tanpa peduli dengan sekitar, Lily langsung berlari dan memeluk Kibum dengan sekuat tenaga. Andrew dan pria yang lain hanya bisa terdiam memandangi kelakuan dongsaeng mereka ini.

“She’s just a teenage girl Andrew, don’t be too hard with her.”

“I know Casey, but still….”

“Kibum is not a bad guy. If she loves him, it’s okay. Kibum’s not her real relatives right?” mendengar ucapan saudara angkatnya, Andrew langsung teringat akan kata-kata ibu angkatnya sebelum meninggal beberapa bulan yang lalu….

‘Siwon-ah.. Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri, tapi ini sudah saatnya kau kembali kepada keluarga mu yang sebenarnya. Mianhae… Jeongmal mianhae….’

TBC

P.S: aneh? Gak nyambung? Maafkan saya readers T.T meskipun gaje begini, tapi tetep comment ya? Hehehe gomawo ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

One thought on “Incomplete – Part 2”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s