Like A Guardian, Always Near You – (2.2)

Tittle                : Like A Guardian, Always Near You (Part 2 of 2)

Author             : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Cast                 : Choi Minho, Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin,

Lee Hyo Ra, Park Young Jin, Kang Hye Sun

Length             : Sequel

Genre              : Friendship, action, mystery, romance

Rating             : PG 15

Huahh.. akhirnya end juga FF aneh ini. Yah, biarpun cuma dua part. Mian, ceritanya rada saraph.. *sama kayak author-nya* #plakk.. abaikan.

Yukz kita baca… and,, jangan lupa comment yakh,, gomawo, chingu..

Author POV

Minho mendobrak pintu gudang belakang sekolah. Nafasnya memburu. Sekilas debu mengaburkan pandangannya. Namun Minho segera berkonsentrasi dengan apa yang sedang di carinya. Minho tersentak. Matanya terbelalak menatap yeoja yang ada di hadapannya. “Lee Hyo Ra!” pekiknya.

Hyo Ra terlihat seperti orang kesetanan. Tangannya bergetar dan menggenggam sebilah pisau. Pakaiannya dipenuhi cipratanan darah. Beberapa namja bertubuh besar berdiri di depannya dan terlihat melindungi Kang Hye Sun. Namjanamja itu terluka. Apakah mungkin Hyo Ra yang melukai mereka? Pikir Minho tak percaya.

Minho melihat seseorang di belakang Hyo Ra. Sosok itu seperti menyelubungi Hyo Ra. Menyelubungi atau lebih tepatnya melindungi Hyo Ra dari yang sedang di hadapinya. Alis Minho berkerut samar. Sosok itu lagi, batinnya.

“Hyo Ra-ya!” Minho mengepalkan tangannya. Secepat kilat  ia menerjang namja yang yang menghadang Hyo Ra. Bukk.. Minho melancarkan pukulan pada namja yang berdiri paling dekat dengan Hyo Ra.

“Arrgghh!” Hyo Ra mengerang. Rahangnya mengeras, badannya bergetar, terlebih lagi ekspesi wajahnya dipenuhi kebencian. “Mati kau, Kang Hye Sun!” teriaknya.

Minho terkesiap. Baru pertama kali dia melihat Hyo Ra seperti itu. Kuat sekali dia, padahal di tangannya terdapat beberapa luka goresan, pikir Minho. Hyo Ra menerobos kerumunan bodyguard yang melindungi Hye Sun.

“Hyo Ra-ya!!” terdengar suara teriakan. Minho menoleh. Kibum telah tiba bersama Jinki dan Young Jin. “Minho-ya, di mana Hyo Ra?” teriak Jinki.

“Dia ada di sini. Bantu aku, hyung! Dan kau, Kibum, kau harus menghentikan Hyo Ra!” Minho menjawab dengan susah payah sambil tetap melawan bodyguard Hye Sun yang menghadangnya.

Jinki dan Kibum menyusul Minho. Jinki membantu Minho menghajar bodyguard Hye Sun. “Jangan harap kalian bisa menyakiti dongsaengku!” gertak Jinki sambil melancarkan beberapa serangan.

Kibum sibuk mencari Hyo Ra sambil sesekali melancarkan pukulan pada bodyguard Hye Sun yang mendadak menghadangnya. “Hyo Ra, di mana kau?”

“Kang Hye Sun!” Hyo Ra melompat keluar dari kerumunan bodyguard Hye Sun. tubuhnya yang terlihat lelah menerjang Hye Sun dan membuat yeoja itu tersungkur. Kaki Hyo Ra menahan gerakan tubuh Hye Sun. Tangan kirinya mencekik leher Hye Sun sementara tangan kanannya menghunuskan pisau tepat di kening Hye Sun.

Semua aktivitas berhenti. Tak ada satupun makhluk di ruangan itu yang berani bergerak setelah melihat apa yang dilakukan Hyo Ra. Waktu seolah-olah berhenti menyaksikan nyawa Hye Sun yang kini berada di ambang pintu.

Hye Sun menatap Hyo Ra nanar. Mulutnya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.  Kedua tangannya bertumpu di lantai. Beberapa bagian tubuhnya terasa nyeri. Aku salah menilainya, batin Hye Sun. Apakah aku akan mati sekarang?

Andwae, Hyo Ra!!” Young Jin yang dari tadi diam berlari ke arah Hyo Ra.

Kibum merasakan niat buruk Young Jin. “Hyo Ra!!” Kibum menerjang Hyo Ra, merengkuh tubuhnya dan membawanya menjauh dari Hye Sun.

“Pengkhianat!” seru Young Jin sambil memeluk Hye Sun. “Kau sadar apa yang baru saja akan kau lakukan, Hyo Ra?”

Hyo Ra menyeringai dalam pelukan Kibum. “Membunuhnya,” jawab Hyo Ra ringan. “Aku tak akan mengampuni orang yang telah memperalatmu, Young Jin!”

Young Jin bergidik. “Mwo?”

“Dia bohong,” elak Hye Sun sambil memegang erat lengan Young Jin. “Aku mencintaimu, Young Jin, mana mungkin aku mengkhianatimu?”

“Cinta yang hanya berdasarkan atas uang!” sergah Hyo Ra.

Jincca, chagiya?” Young Jin menoleh Hye Sun dengan tatapan curiga. Lima hari lalu Hyo Ra juga sempat mengatakan hal yang sama persis padanya, namun dia masih belum percaya. Dan sekarang, haruskah dia percaya?

Hye Sun mengerang. “Pabo kau, Hyo Ra, kalau kau yakin, buktikanlah ucapanmu sekarang!”

Trangg..  pisau yang di bawa Hyo Ra terjatuh. Perih luka di tangannya membuatnya sulit untuk bergerak. Kali ini Hyo Ra terdesak. Bukti? Aku melupakannya, aku sama sekali tak punya bukti apa-apa tentang masalah ini, batin Hyo Ra menyesal.

“Hentikan!” seseorang berteriak dari arah pintu masuk.

Semua menoleh. Kibum melonggarkan pelukannya pada Hyo Ra. “Taemin-ah,” lirihnya.

Taemin melangkah dengan pelan mendekati orang-orang penuh cipratan darah yang ada di depannya. “Hyo Ra memang tak punya bukti, tapi aku, aku yang akan memberikan bukti itu pada kalian.”

Suasana hening lagi. Taemin mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Taemin memamerkan ponsel itu lalu menekan tombol play.

“Untuk apa kau mengadukan perbuatanku pada Young Jin?”

“Kau rupanya, Hye Sun, untuk apa? Aku hanya ingin membantu sahabatku lepas dari yeoja pabo sepertimu.”

Plakk.. “Kenapa malah kau yang sibuk? Young Jin mangsa yang tepat untukku,”

“Kalau kau berani melakukan sesuatu lebih dari ini, kau tak akan selamat,”

“Memang yeoja lemah sepertimu bisa apa?”

“Semuanya,”

“Hahahaha, lucu sekali, Hyo Ra, sahabatmu itu terlalu payah. Bank uang yang gampang di manfaatkan. Dia memberikan apapun yang aku minta. Dia malaikatku, malaikat terbodoh yang pernah ku kenal,”

“Kau,”

“Kau marah, Hyo Ra? Sebaiknya kau tunggu saja aku membuat sahabatmu hancur. Aku akan mencampakannya seperti dia mencampakanmu. Cintanya padaku telah membuatnya buta. Dia tak akan memerlukan sahabat bodoh sepertimu lagi,”

Pabo, aku rasa kita perlu membuat perhitungan. Kutunggu kau di gudang belakang sekolah pulang sekolah nanti, kita selesaikan semuanya,”

“Ne, kita lihat siapa yang akan tertawa terakhir,”

Taemin menekan tombol off. “Aku rasa semuanya sudah jelas sekarang,”

Young Jin diam membeku. Kedua tangannya terkepal. Jincca? Andwae, batin Young Jin. Ia meremas rambutnya. Matanya berubah merah. Rahangnya mengeras. Nafasnya tertahan. Bibirnya bergetar. Otaknya terasa berat dan berputar-putar.

Plakk.. sebuah tamparan  mendarat di pipi Hye Sun. “Pabo, aku menyesal telah mempercayaimu dan membuatku mengkhianati sahabatku sendiri, pergi! Aku tak ingin melihatmu lagi!”

Hye Sun menatap Young Jin. “Hajiman?”

Young Jin mendorong Hye Sun. “Kita sudah berakhir!” hardiknya dan berlalu meninggalkan gudang.

Kibum merasakan kondisi Hyo Ra melemah. Badan mungil yeoja itu bergetar. Bau darah Hyo Ra semakin lama semakin menyengat. Kibum melepaskan pelukannya. Dia ingin memastikan apakah yeoja itu baik-baik saja. “Aigo!” seru Kibum tiba-tiba. Keadaan Hyo Ra di luar dugaannya. Kedua lengan yeoja itu telah berubah warna menjadi merah dengan sempurna.

Kibum menopang tubuh Hyo Ra. “Kau baik-baik saja, Hyo Ra-ya?”

Hyo Ra memegang kepalanya yang mulai terasa pening. Pandangannya berkunang-kunang. Suara Kibum tak mampu ditangkap oleh pendengarannya yang semakin melemah. “Molla,” Hyo Ra mendesis. Kakinya semakin goyah dan tak bisa lagi menopang berat badannya. Brukk..

Andwae, Hyo Ra-ya!!” Kibum berteriak.

Wae, Kibum-ah?” Jinki dan Minho menghampiri Kibum.

Minho terperanjat. Dia mengerang, “Aish! Hyo Ra,” Minho merampas tubuh Hyo Ra dari Kibum. Dia mengguncang-guncang tubuh yeoja yang sudah tak berdaya itu.

“Tenanglah! Dia tak akan sadar kalau kau memperlakukannya seperti itu,” Jinki menepuk pundak Minho.

“Kenapa hyung bisa setenang itu?!” Minho membentak Jinki.

Aish!” Jinki mendesah kesal. “Apakah dengan panik seperti itu akan membuatnya sadar?”

“Sudah!!” Kibum membentak Jinki dan Minho dengan suara tiga oktaf lebih tinggi. Serempak Jinki dan Minho terdiam. “Minho-ya, bawa Hyo Ra keluar. Biarkan dia istirahat dulu. Dia perlu waktu untuk memulihkan tenaganya. Dan dia juga perlu tempat yang lebih baik daripada di sini!” Kibum berdiri. “Ikuti aku, jangan berdebat lagi!” kibum berjalan keluar gudang.

Minho mengusap kepala Hyo Ra sejenak. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher dan lutut Hyo Ra. Ia mengangkat yeoja itu dengan hati-hati. Yeoja mungil itu dengan mudah diangkat oleh Minho. Mungkin berat badannya berkurang setelah kehilangan banyak darah.

Jinki dan Minho melangkah ke luar. Mereka menuruti perintah Kibum tanpa perlawanan. Mereka tak berani mengeluarkan sepatah katapun kalau emosi Kibum sudah melunjak. Karena mereka hafal betul jika Kibum sudah marah. Dia akan terus mengoceh tanpa akan ada habis-habisnya.

Tinggal Taemin yang masih setia berada di dalam gudang. Ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati dan mendekati Hye Sun. Yeoja itu masih diam membeku. Ia duduk sambil memeluk lututnya. Taemin menatap yeoja itu. “Pakai ini,” Taemin melempar sebungkus tisu ke arah Hye Sun. “Kalau kau tidak mau, buang saja!” Taemin membalikkan badannya. Ia membelakangi Hye Sun. “Jangan pernah mengusik Hyo Ra lagi. Atau kau akan benar-benar dihabisinya,” ucap Taemin sambil menyeringai lalu pergi maninggalkan Hye Sun.

***

3 days later

Hyo Ra berjalan menuju ke kelasnya. Kejadian tiga hari yang lalu membuatnya mendapat beberapa luka serius di kedua tangannya. Memang sakit, namun rasa sakit itu seakan tak terasa dengan tumbangnya Kang Hye Sun.

“Hyo Ra-ya,” seseorang menyapa Hyo Ra di depan ruang kelas.

Hyo Ra menatap namja yang menyapanya. Sosok dan suara yang sudah sekian lama dirindukannya. “Wae, Young Jin-ah?” tanya Hyo Ra polos.

Young Jin menelan ludah. Bibirnya bergetar. Matanya terasa panas dan mulai mengeluarkan bulir-bulir bening. “Mianhae, Hyo Ra, untuk segalanya.”

Hyo Ra tersenyum manis. “Gwenchana, kita bersahabat lagi, kan?”

Young Jin mengangguk mantap. “Ne,”

Hyo Ra menepuk pundak Young jin. “Jangan menangis!” ucapnya lembut. “Jangan buat dirimu terlihat bodoh,”

Young Jin menghapus air matanya, “Gomawo, Hyo Ra-ya,”

Hyo Ra tersenyum dan berlalu meninggalkan Young Jin. Young jin menatap kepergian yeoja itu. “Hyo Ra, kau menjadi kuat pasti karena kehadirannya. Aku bisa melihatnya dengan mata ini, dengan sixth sense ini. Dia, dia yang selalu ada di dekatmu, selalu melindungimu, apapun yang terjadi,”

***

Hyo Ra bergabung bersama Jinki, Kibum, Minho, dan Taemin yang sibuk melahap makan siang mereka. “Gomawo untuk yang kemarin, entah apa yang terjadi padaku kalau kalian tak datang,” ucap Hyo Ra tulus. “Taemin-ah, darimana kau mendapatkan rekaman itu?”

Taemin menatap Hyo Ra sembari tersenyum malu-malu. “Aku merekamnya saat kau berbicara dengan Hye Sun,”

Hyo Ra tersenyum nakal. “Dasar penguping,” candanya. “Jinki oppa, kenapa bisa ikut-ikutan datang?”

Jinki melirik Kibum. “Dia yang memberitahuku.”

Hyo Ra menatap Kibum. “Kau? Gomawo, Kibum-ah. Kalau kau tak mencegahku, mungkin aku sudah membunuh Hye Sun,” Hyo Ra tertawa kecil. “Tapi, kenapa kau bisa tahu aku ada di gudang?”

Kibum mencubit pipi Hyo Ra. “Habis kau itu seperti dongsaeng-ku, mana mungkin aku tega membiarkanmu terluka? Kalau masalah bagaimana aku tahu kau ada di mana,” Kibum melirik Minho. “ Dia yang memberitahuku,”

Hyo Ra memiringkan kepalanya. “Kau tahu darimana, Minho-ya?”

Minho bangkit dari tempat duduknya. “Ikut aku,” Minho menarik lengan Hyo Ra.

Hyo Ra yang masih bingung menuruti permintaan Minho tanpa keberatan.

“Lanjutkan PDKT kalian,” goda Taemin.

Bletakk.. Minho melempar botol jus ke kepala Taemin. “Pabo,

***

Minho dan Hyo Ra berhenti di taman sekolah. Minho menatap Hyo Ra tanpa melepaskan genggaman tangannya. Hyo Ra mengernyitkan alisnya. Pandangan Minho membuatnya salah tingkah. “Minho-ya,” ucap Hyo Ra berusaha tenang. “Haruskah kau terus menggenggam tanganku?”

Minho menatap Hyo Ra semakin dalam. Senyuman lembut terukir di bibir tipisnya. “Ne, Hyo Ra-ya,”

Deg..  jantung Hyo Ra seakan berhenti melihat senyuman itu. Hyo Ra menunduk agar Minho tak melihat wajahnya yang hampir semerah tomat.

Minho mengulurkan jarinya dan mengangkan dagu Hyo Ra perlahan. “Jangan memasang wajah seperti itu. Tersenyumlah, kau telah berhasil menyadarkan Young Jin, sahabatmu,”

Hyo Ra tersenyum lembut dan membiarkan sepoi angin menyibakkan rambutnya. “Tak akan berhasil tanpamu dan yang lain,”

Minho tertawa kecil. “Hyo Ra-ya,” Minho kembali menatap dalam kedua bola mata Hyo Ra. Jemarinya mengusap lembut pipi Hyo Ra. “Tetaplah di sampingku. Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka lagi,” Minho menatap getir beberapa sayatan pisau di tangan Hyo Ra. “Kau tak pantas mendapatkan penderitaan macam ini,” Minho merasakan matanya memanas.

Hyo Ra merasakan bibirnya kelu. Tak ada sepatah katapun yang mampu dikatakannya. Hyo Ra mengulurkan tangannya dan mulai menghapus tetes air mata Minho. “Don’t cry for me,” ucapnya perlahan. “You are a miracle, because you can make me smile, everytime,” sekali lagi Hyo Ra tersenyum lembut.

Minho tersenyum. “Of course, princess,” Hyo Ra bisa merasakan kehangatan dalam senyuman itu. Tulus tanpa muslihat sedikitpun.

Suasana hening untuk sesaat. Minho menarik lengan Hyo Ra dan memeluk erat yeoja itu. Minho mendekatkan bibirnya ke telinga Hyo Ra. “Sarangahae,” bisiknya.

Nado Saranghae,” balas Hyo Ra turut berbisik.

Minho melepaskan pelukannya. “Ehm, chagiya,” ucapnya, “kau yakin ingin tahu siapa yang memberitahuku tentang masalah kemarin?”

Hyo Ra tersentak. “Ya! jangan panggil aku seperti itu, aku malu,”

Minho tertawa kecil. “Sekarang kau kan yeoja chingu-ku, dan aku namja chingu-mu, jadi tak masalah aku memanggilmu chagiya, bukan?”

Hyo Ra tersenyum nakal. “Ne, ara, ayo beritahu aku tentang bagaimana kau bisa mengetahui keberadaanku di gudang belakang sekolah,”

Minho menerawang ke langit. “Aku mendengar suara seorang namja, dia menyuruhku untuk menolongmu.” Minho menatap Hyo Ra lagi. “Suara namja itu, aku rasa milik dari sosok yang selalu ada di dekatmu dan melindungimu,”

Hyo Ra bergidik. “Kau tahu darimana?”

Minho mengeryitkan alisnya. “Sebelum kujawab aku ingin menanyakan satu hal padamu, kenapa kemarin kau bisa sekuat itu menghadapi bodyguard Hye Sun?”

Hyo Ra mengingat kembali kejadian tiga hari lalu. “Molla, saat Hye Sun menorehkan pisau di tanganku aku merasakan kekuatanku bangkit, dan dengan mudah aku bisa membalikkan keadaan,”

Minho tersenyum. “Itu karena namja itu yang membantumu. Namja itu membuatku cemburu,” Minho tertawa kecil.

Hyo Ra semakin tak mengerti. Namja? Nugu? Apakah dia? Otak Hyo Ra terus berputar-putar hingga dia teringat sesuatu. Hyo Ra menggerogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu seperti bulu merpati putih yang ditemukannya kemarin pagi ditangannya. “Apakah ada hubungannya dengan ini?”

Ne,” kata Minho ringan.

Hyo Ra memiringakan kepalanya. “Lalu apa hubungannya?”

Minho menerawang sosok namja yang kini tengah berada di dekat Hyo Ra. Namja itu tersenyum lembut dan memicingkan sebelah matanya pada Minho. Minho tersenyum. “Apa kau percaya dengan kehadiran guardian angel?

***

Hyo Ra POV

Aku terbangun lagi tepat pukul tiga dini hari. Aku melihat Jinki oppa tertidur pulas di atas meja belajarku. Aku bangun dan menyelimuti oppa dengan sebuah selimut tebal. Aku berbalik dan berniat kembali ke tempat tidurku. “Aiisshh!” aku terkejut.

Aku melihat seorang namja berdiri tepat di atas tempat tidurku. “Anneyong, Hyo Ra,” namja itu menyapaku.

“K.. K.. Ka.. Kau..” kataku terbata.

“Ne, ini aku,” namja itu tersenyum lembut.

Mwo? Namja tampan dan manis ini, bukankah dia yang kutemui di taman? Bukankah dia yang menolongku saat di perpustakaan. Dan suaranya, suara yang hadir hampir di setiap mimpiku. “Siapa sebenarnya kau?”

Namja itu melebarkan seuatu  yang melekat di punggungnya. “Sayap,” lirihku tak percaya saat dia memamerkan sayapnya yang putih bersih di hadapanku. “Jangan-jangan kau…”

“Ne, aku guardian angelmu,” selanya cepat.

Aku terpesona. Aku masih tak percaya. Namja tampan ini, namja yang kukenal sebagai namja misterius, adalah guardian angel-ku? Aku tersenyum kecil. “Gamsa hamnida, untuk segalanya,” aku menunduk, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Ne, sudah menjadi kewajibanku melindungimu,” jawabnya lembut.

Hening sejenak. Aku mengangkat kepalaku dan memberanikan diri menatap guardian angel-ku. “Boleh aku tahu siapa namamu?”

Namja itu mendekat ke arahku. Dia mengusap lembut kepalaku dan mebiarkanku merasakan kehangatan dari cahaya yang terpancar dari tubuhnya. “Ne, namaku, Kim Jonghyun.”

END

Gimana? Jelek yah? Yah.. maklum ini FF dibikin kebut-kebutan. Gomawo udah baca sampai akhir, mian kalau endingnya nggak sesuai keinginan kalian. Coz lagi ngga ada inspirasi pas buatnya, hihihihi *dihajar* >.<

Nb: Leave a comment yakh… ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

Advertisements

91 thoughts on “Like A Guardian, Always Near You – (2.2)”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s