Shout Out With – Love Part 5

Shout Out With Love

Part 5

Author: Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast: Kim Jong Hyun, Choi Min Ho, Nam Hee Ra

Cast: Han Seung Hee, Choi Ji Ah, Lee Jin Ki, Lee Tae Min, Nam Ha Na, and many more

Length: Sequel

Genre: Friendship, romance

Rating: General

Disclaimer:

I don’t own SHINee, they are belong to SMEnt and their family, but i do own this story. And I do own some of the cast (Nam Hee Ra, Choi Ji Ah).

Nam Hee Ra POV

“Kau bicara seperti itu?” tanya Jin Ki-oppa.

Aku mengangguk. Seung Hee menghela nafas panjang.

“Aigoo…kenapa kau terlalu jujur didepannya, Hee Ra?” Seung Hee menghempaskan tubuhnya diatas kursi disebelahku.

Kutatap mereka heran, “Memangnya kenapa kalau aku jujur?”

“Hee Ra… secara tidak langsung kau mengatakan bahwa, Jong Hyun itu pengganggu yang sudah merusak ketenangan hidupmu.” Ujar Jin Ki-oppa pelan.

Aku tercekat. Benarkah? Apa Jong Hyun berfikir seperti itu? Apa kata-kataku terlalu menusuk?

“Hee Ra, aku tau kau tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu di depan Jong Hyun. Tapi, bagi Jong Hyun yang sudah pernah merasa bersalah terhadapmu, pasti perasaan bersalah itu kembali muncul. Dan mungkin itu sebabnya ia tak pernah lagi muncul di hadapanmu.” Jelas Seung Hee.

Aigo…apa yang telah kulakukan?

“Hee Ra, mau tidak mau kau harus segera menemuinya.” Ujar Jin Ki-oppa.

Aku segera keluar dari ruangan kuliahku dan berlari menuju ruangan kuliah Jong Hyun. Gedung kuliah Jong Hyun sudah tampak lengang. Segera kunaiki tangga yang akan menghubungkanku dengan lantai atas.

Perlahan kubuka pintu ruangan kuliah Jong Hyun. Berharap dia masih ada didalam.

“Cklek.”

Pintu terbuka. Tampak seorang yeoja dan namja duduk berhadapan. Namja itu sedang mengelus pipi yeoja didepannya.

“Mianhae!” aku segera menutup pintu.

“YA!” pintu kembali terbuka. Keluar seorang namja. Dibelakangnya berdiri seorang yeoja.

“Mianhae, Jong Hyun!” aku segera berlari meninggalkan mereka.

Aku tidak tau aku berlari kemana. Aku tidak tau bagaimana perasaanku sekarang. Marah, lega, ringan, kesal, senang. Aish!

Marah? Karena aku mengira dia marah dan menghindar karena aku. Lega? Karena ternyata dia baik-baik saja dengan ‘yeojachingu’ barunya. Ringan? Karena perasaan bersalahku sudah ditebus dengan pemandangan tadi. Senang? Karena ternyata dia namja seperti itu. Kesal? Karena aku pernah menyukainya.

Maksud ucapanku tadi, aku tidak menyukainya lagi kah?

***

“Annyio, Hee Ra. Cinta sejati itu, susah mencintai tapi susah melepaskan. Artinya kau akan membutuhkan waktu yang lama untuk benar-benar merasa bahwa kau mencintainya, dan kau juga membutuhkan waktu yang lama untuk melupakannya, untuk menghapusnya dari hatimu. Yaah…setidaknya itu yang appa rasakan.” Appa tersenyum. Matanya tidak lepas dari jalan raya didepannya.

“Oooh…begitu ya. Berarti aku tidak benar-benar menyukainya?” gumamku.

“Mwo? Appa ttidak dengar.”

“Ah, annyio, appa. Tidak ada apa-apa, kok. Tapi appa, kalau hati kita berdebar saat berada disampingnya? Tapi dengan mudah kita merasa kita tidak menyukainya. Apa itu cinta?”

Appa tersenyum, “Mungkin orang itu bukan benar-benar orang yang kita cintai, Hee Ra. Mungkin kau menganggap kau menyukainya dan kau merasa jantungmu berdegup lebih kencang dari biasanya. Bisa saja itu hanya sugestimu kan.”

“Benar juga ya.”

“Yah… itu hal biasa. Itu lah yang dinamakan proses. Proses yang pada akhirnya akan membawamu ke cintamu yang sesungguhnya.”

“Sekarang aku mengerti. Gomawo, appa!” aku tersenyum.

“Ne… appa yakin kau sudah mengalaminya.”

Aku tertawa kecil, “Appa tau.”

“Tentu saja.” Appa ikut tertawa, “Ah ya, bagaimana rencanamu berangkat ke London?”

“Tetap jadi. Mana mungkin tidak jadi. Aku pergi bersama Jin Ki-oppa, Seung Hee tidak ikut karena harus pergi ke Daegu. Key juga pergi, appa. Appa yakin tidak ikut?” tanyaku.

“Appa ingin ikut denganmu. Tapi, appa sudah ada agenda. Rekan bisnis appa yang di Indonesia akan datang kemari.”

Aku tersenyum, “Gwenchana, appa.”

“Baiklah. Jadi kau pergi bersama Jin Ki dan Key? Ji Ah dan Tae Min tidak pergi?”

Aku tertawa, “Mereka dilarang pergi oleh Key. Mereka ada ujian di tanggal segitu.”

Appa tertawa, “Key hebat.”

“Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin mereka berdua mau menurut pada Key, appa.”

***

Lee Jin Ki POV

“Kau tidak jadi menemui Jong Hyun kemarin, Hee Ra?” tanya Seung Hee.

Hee Ra menggeleng, “Untuk apa?”

Aku terkejut mendengar jawaban Hee Ra, “Apa maksudmu?”

“Kenapa semuanya jadi bertanya siih?” Seung Hee menyeruput moccachino nya. Ditatapnya aku dan Hee Ra bergantian, “Ah, aku jadi bingung. Silahkan lanjutkan.”

Aku tertawa kecil, “Hee Ra, jadi kemarin kau tidak jadi menemui Jong Hyun?”

“Umm…sebenarnya sih, jadi.” Hee Ra tersenyum kecil.

“Lalu?” tanyaku.

“Yaah…aku tidak jadi minta maaf. Karena rasa bersalahku sudah ditebus dengan apa yang dilakukannya kemarin.” Ujar Hee Ra.

“Apa maksudmu, Hee Ra?” tanya Seung Hee.

“Haaah…sudahlah, jangan bicarakan Jong Hyun lagi. Aku ilfil mendengar namanya.”

Kutatap Hee Ra heran.

“Ara…ara… baiklah, akan kuceritakan. Jadi, kemarin aku melihatnya bermesraan dengan yeojachingu nya di kelas. Dan setelah aku melihat pemandangan itu, aku langsung merasa aku tidak bersalah dan sangat lega. Terlebih lagi ketika aku menyadari bahwa aku tidak benar-benar menyukainya.” Terangku.

Jin Ki-oppa membulatkan matanya, “Jinca?”

Seung Hee menggigit bibirnya, “Tidak mungkin. Ia kan sangat mencintaimu, Hee Ra.”

“Yah, mana kutau. Dunia kan terus berputar, Seung Hee.” Jawab Hee Ra santai.

Apa benar Jong Hyun melakukannya? Haaah…aku tau betapa ia sangat mencintai Hee Ra. Tapi kenapa jadi begini?

“Ah, tiba-tiba aku jadi teringat Key dengan moccha latte-nya. Aku mau pesan moccha latte dulu.” Hee Ra bangkit dari duduknya, “Mmm… oppa dan Seung Hee mau pesan lagi?”

Aku menggeleng, “Punyaku belum habis, kok.”

Seung Hee tersenyum lalu menggeleng, “Gomawo. Punyaku masih banyak.”

“Baiklaah. Aku pesan dulu ya.” Hee Ra berlalu dari hadapan kami.

“Seung Hee, menurutmu Jong Hyun kenapa?” tanyaku.

Seung Hee mengaduk-aduk minumannya, “Hmmm…kurasa ia sedang berusaha menghilangkan Hee Ra dari hatinya, oppa. Mungkin saja kan. Mungkin yeojachingu nya itu hanya pelampiasan atau alat yang akan membuatnya melupakan Hee Ra. Aku kasihan dengan Jong Hyun. aku tau betapa ia ssangat menyukai Hee Ra.”

Ne. sepertinya kata-kata Seung Hee benar juga. Mungkin saja begitu. Jong Hyun sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang Hee Ra (apasih nih). Tapi, Min Ho jauh lebih lama menyukai Hee Ra.

“Yah, ada baiknya juga Jong Hyun punya yeojachingu baru. Setidaknya itu membantunya melepaskan dirinya dari rasa bersalahnya terhadap Hee Ra.” Tambah Seung Hee.

“Ne. benar, Seung Hee.” Aku mengangguk.

“Ah ya, oppa. Hee Ra bilang ia menyadari bahwa ia tidak benar-benar menyukai Jong Hyun kan?” Seung Hee menatapku.

Aku mengangguk, “Ah, yeoja itu.”

“Cepat sekali. Padahal aku yakin dia mulai menyukai Jong Hyun sejak akhir SMA. Tapi cepat sekali mengatakan bahwa dia tidak benar-benar menyukai Jong Hyun.”

Aku tertawa kecil, “Mungkin dia suka dengan namja cool. Makanya cepat suka dengan Jong Hyun yang cool.”

Seung Hee tertawa kecil, “Itu kesimpulanmu, oppa?”

Aku tertawa, “Ah ya, siapa sih yeojachingu Jong Hyun?”

“Molla.” Seung Hee mengangkat bahunya.

Hee Ra datang membawa segelas moccha latte. Ia langsung duduk di sebelahku, “Waah…aku ingat Key sering minum moccha latte di cafetaria SMA.”

Seung Hee mengangguk, “Kalau Tae Min dan Ji, banana milkshake. Hmmm… kalau Jin Ki-oppa suka minum kopi pahit campur telur.”

Hee Ra langsung tertawa. Seung Hee dan aku juga tertawa.

“Apa-apaan itu! Kopi pahit dicampur telur. Aaah…seung Hee, kau mau merusak imej ku ya?” protesku begitu tawaku mereda.

“Habiis, oppa kan suka apa ajaa.” Ujar Seung Hee disela-sela tawanya.

“Hmm…Kupastikan semua jenis minuman di cafetaria sekolah dulu pernah kau minum. Iya kan, oppa?” tawa Hee Ra mereda.

Aku tertawa kecil, “Daripada minum cappuchino terus.”

“Apa maksudmu, oppaaa…?” Seung Hee menatapku.

“Aaah…sudahlah.” Hee Ra mengaduk moccha lattenya, “Kalau Min Ho paling suka orange juice.”

“Ne…semua jenis orange juice.” Seung Hee mengangguk.

Aku tertawa.

“Aku jadi merindukan mereka semua.” Hee Ra tersenyum.

Aku dan Seung Hee mengangguk, “Benar…”

Kami terdiam. Tenggelam dalam fikiran masing-masing.

“Ah ya! Hee Ra, yeojachingu Jong Hyun siapa sih?” tanya Seung Hee tiba-tiba.

Aku mengangguk, “Ne. siapa, Hee Ra?”

Hee Ra tersenyum kecil, tangannya menunjuk kearah pojok cafetaria, “Siluman rubah.”

Kuikuti arah telunjuk Hee Ra. Seorang yeoja yang duduk bersama teman-temannya, “Hah? Jae Ra-sunbae??”

Seung Hee tertawa, “Oooh… Siluman rubah??”

Hee Ra ikut tertawa, “Ne…”

Aku tertawa  melihat Hee Ra dan Seung Hee, “Bisa-bisanya Jong Hyun punya yeojachingu seperti dia.”

Jong Hyun POV

Naega saranghaetdeon geu ireum

Bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

Geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

Nae ane sumgo sipeojyeo

Neol saranghal subakke eobseotdeon

Geu nareul ijen arajwoyo

Irul su eomneun sarangdo saranginikka

Irul su eomneun sarangdo saranginikka

(The Named I Loved-Onew)

Ne… seperti lirik ini. Aku akan tetap menyimpan Hee Ra dihatiku untuk selamanya. Karena, bagaimanapun, perasaan itu masih ada untuknya. Ia cinta pertama yang takkan pernah kulupakan. Aku tau aku jahat terhadap Jae Ra-sunbae. Tapi, aku benar-benar ingin berusaha mencintai Jae Ra. Aku akan mencobanya.

Hee Ra masih ada dan masih hidup dalam hatiku. Masih ada…

***

Key POV

“Hee Raaaaa! Jin Ki-hyuuuuung!!” teriakku begitu melihat mereka berdua turun dari taxi. Sudah 15 menit aku menuggu mereka disini. Ini adalah hari keberangkatan kami ke London. 2 hari lagi Min Ho akan diwisuda. 2 bocah ingusan itu… mereka sudah kusuruh belajar yang benar. Kalau mereka bisa menyelesaikan ujian dalam 2 hari, mereka kuizinkan menyusul. Hehe… memangnya bisa? ;P

“Keeey!!” Hee Ra segera menarik kopernya kearahku. Jin Ki-hyung mengikuti di belakang.

Aku segera menghampiri mereka. Kurangkul Hee Ra.

“Aaah…aku rindu kalian…!”

Jin Ki-hyung tertawa, “Yeobo…kau merindukanku yaa??”

Aku tertawa, “Ne. tentu saja, yeobo.”

“Hentikan panggilan itu sekarang jugaaa, Key, Jin Ki-oppa.” Ujar Hee Ra sambil tertawa.

Aku tersenyum, “Ah, bagaiman kabar seoul tanpa aku? Pasti seperti kota mati kan?”

Hee Ra langsung memukul pelan lenganku, “Enak sajaa. Malah lebih ramai dari biasanya, tau.”

Jin Ki-hyung mengangguk, “Pede sekali. Ah ya, bagaimana kabar 2 bocah-bocah itu?”

Aku tertawa kecil, “Yaaah…mereka sempat marah karena tidak kuizinkan ikut ke London. Habiis, mereka sedang ujian. Aku siih, sudah selesai ujian dari minggu lalu. tapi, akhirnya mereka mengalah juga. Hehe…”

Hee Ra tersenyum, “Lalu kesepakatan apa yang kalian buat?”

“Ahaha…benar juga. Ji kan suka bikin kesepakatan.” Ujar Jin Ki-hyung.

“Aku bilang kalau mereka bisa menyelesaikan ujian mereka dalam 2 hari, mereka bisa menyusulku. Padahal, aku sudah tau, ujian mereka diundur besok. Jadi mereka akan selesai ujian 4 hari lagi.” aku tertawa.

Hee Ra geleng-geleng kepala, “Aiish… dasar Key.”

Jin Ki-hyung tertawa, “Ah..sudahlah. Ayo urus tiket dulu.”

“Baiklah… kkajaaaa…” kutarik koperku.

Hee Ra menarik kopernya. Jin Ki-hyung melakukan hal yang sama.

“Ah, rasanya sudah lama sekali aku tidak jalan dengan kalian berdua.” Ujarku.

Hee Ra tersenyum. Digenggamnya tangan kiriku, “Ne. Lama sekaliii.”

“Terakhir kali kau ke Seoul kan 5 bulan yang lalu, Key. Ya, itu lama sekali.”

“Tapi aku lebih lama tidak bertemu dengan Min Ho.” Ucap Hee Ra.

Jin Ki-hyung tersenyum. Aku mengangguk.

“Namja itu lebih suka menghabiskan waktu liburnya untuk belajar dan tetap mengambil kelas di waktu libur. Makanya kuliahnya lebih cepat selesai. Hanya 3 tahun.” ujar Jin Ki-hyung.

“Ne. Aku, Ji dan Tae Min sering menelponnya. Ji sering marah-marah karena Min Ho tidak liburan ke Korea.” Ucapku.

Hee Ra tersenyum, “Dia benar-benar berjuang.”

Aku mengangguk.

“Tentu saja. Dia tidak ingin membuang waktunya lagi. Dia ingin mengejar sesuatu.” Gumam Jin Ki-hyung.

“Mwo? Oppa bicaranya yang jelas, dong. Aku tidak dengar…” sahut Hee Ra.

Jin Ki-hyung menggeleng, “Annyio. Aku tidak bilang apa-apa.”

Aku mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Jin Ki-hyung barusan. Ada yang ingin Min Ho kejar? Hmmm…apa ya?

“Sssst…Hyung… maksudmu tadi apa?” tanya pelan disaat Hee Ra sibuk dengan hpnya.

Jin Ki-hyung menatapku, “Kau mendengar ucapanku?”

Aku mengangguk, “Tentu saja. Memangnya apa yang Min Ho ingin kejar?”

Jin Ki-hyung tertawa kecil, “Coba tanya Min Ho.”

“Ya! kelamaan, hyung.” ujarku.

Namja disebelahku hanya tersenyum.

“Hyung, ayo beritahu aku. Ppali.”

Jin Ki-hyung menggeleng, “Yah, kira-kira apa?”

Aku tertegun. Memangnya apa ya? Yeoja?

“Yeoja ya, hyung? Nugu?”

“Ne. Yeoja. Sudahlah, Key. kau tanyakan saja sendiri pada Min Ho. Aku tidak punya hak untuk memberitahumu.”

“Jinca?? Seorang yeoja?? Apa aku mengenalnyaaa??” tanyaku heboh.

Jin Ki-hyung tertawa, “Tanyakan pada Min Ho. Aku urus tiket dulu ya. Jaga Hee Ra dan koperku.”

“Ne. baiklaah.”

Jin Ki-hyung meninggalkanku dan Hee Ra.

“Key, mana Jin Ki-oppa?” tanya Hee Ra sambil memasukkan hpnya dalam saku.

“Lagi mengurus tiket, Hee Ra.” Aku tersenyum.

“Oooh… kita cari tempat duduk yuk, Key.” ajak Hee Ra.

***

Hee Ra POV

“Brrrr…dingin sekaliii…” ujar Jin Ki-oppa.

35menit yang lalu kami sudah mendarat di Heathrow airport. Sekarang jam 4 pagi dan terasa sangat dingin. Kami sedang menunggu Min Ho yang sudah janji akan menjemput kami.

Aku tertawa kecil, “Tentu saja. Pagi begini. Musim dingin pula. Haaah…”

Key menarik kopernya dan berhenti didepanku dan Jin Ki-oppa, “Pegal juga ya duduk di pesawat lama-lama.”

Jin Ki-oppa tertawa, “Makanya, jangan tidur terus, Key.”

“Haah? Yang tidur terus siapa, hyung? Aku atau hyung?” goda Key tak mau kalah.

“Ne. Padahal Jin Ki-oppa yang tidur terus. Pasti oppa tidak sadar, tadi kita sempat landing di Paris. Iya kaaan??” kutunjuk hidungnya.

Key mengangguk, “Ayo, mengaku.”

Jin Ki-oppa menggeleng, “Enak saja. Aku sadar kok. Tadi kita berhenti di Paris.”

Tiba-tiba aku dan Key tertawa mendengar ucapan Jin Ki-oppa.

“Ya! Kenapa kalian malah tertawa??!!” omel Jin Ki-oppa.

“Hahaha…tentu saja! Memangnya tadi pesawat berhenti di Paris???” Key merapatkan jaketnya.

“Apa maksud kalian, hah??” Jin Ki-oppa menatap kami sadis.

Tawaku mereda, “Tadi kita kan berhenti di Jerman, oppa. Bukan paris. Tuuuh, ketauan!”

Jin Ki-oppa langsung manyun, “Ne…ne…kerjaku tidur terus dari kemarin. Puaaaaaas??”

“NE!!” sahutku dan Key kompak. Kami tertawa.

“Bahagia sekali.” Gerutu Jin Ki-oppa.

Menit berikutnya kami tenggelam dalam cerita garingnya Jin Ki-oppa. Ia semangat sekali bercerita. Yaaah…tentu saja. Selama di pesawat ia tidur terus sih. Dasar, Jin Ki-oppa.

“Hee Ra, Jin Ki-hyung, Key!!” terdengar seseorang memanggil kami.

Ia berlari kearah kami. Seorang namja berambut semi gondrong bewarna coklat  menggunakan jaket hitam menghampiri kami.

“Min Hoooo!!” teriak Key.

Kami langsung berdiri dari duduk kami.

“Annyong, Key! Hyung, Hee Ra!” Min Ho merangkul Key.

“Aigooo, Min Ho…! Aku sangat merindukanmuuu!!” ujar Jin Ki-oppa.

Min Ho tersenyum, “Aku juga sangat sangat merindukan kalian semua, hyung.”

Key mengangguk. Aku tersenyum. Kuatatap wajah Min Ho. Ia banyak berubah dalam waktu 3 tahun. Wajahnya semakin dewasa. Juga bertambah tinggi sepertinya. Baru benar-benar kusadari, aku sangat amat merindukannya.

“Hee Ra…” Min Ho menghampiriku.

Aku tersenyum. Langsung kupeluk Min Ho.

“Aku merindukanmu.” Ucapku pelan.

Min Ho membalas pelukanku erat, “Aku juga, Hee Ra.”

Rasanya aku tak mau melepas pelukan ini. Aku merindukannya. Apa ini perasaan wajar seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya?

Degg…degg…degg…

Apa itu bunyi detak jantungku? Kenapa cepat sekali?

Min Ho POV

“Hee Ra…” kuhampiri Hee Ra yang sedang menatapku.

Aigoo… yeoja ini banyak berubah. Kurasa ia bertambah tinggi, rambutnya yang pendek sebahu kini sudah panjang, wajahnya terlihat semakin cantik. Ne, yeoja ini semakin terlihat cantik.

Hee Ra tersenyum. Tiba-tiba ia memelukku.

“Aku merindukanmu.” Ucapnya pelan.

“Aku juga, Hee Ra.” Kupeluk erat tubuh Hee Ra.

Aku lebih merindukanmu dibanding kau merindukanku, Hee Ra. Aku sangat merindukanmu. Sejak aku pindah ke London, otakku terus dipenuhi bayang-bayangmu. Hanya belajar yang bisa membuatku sejenak melupakanmu dari otakku ini.

Perlahan Hee Ra melepas pelukannya. Aku juga melakukan hal yang sama. Kutatap wajahnya.

“Kau semakin tinggi, Min Ho.” Ujar Hee Ra.

Aku tersenyum, “Ne, 3 tahun bukan waktu yang singkat kan?”

Hee Ra tertawa kecil.

“Ne. Apalagi kalau tinggal bersama bocah-bocah yang hobi merusuh kalau sudah bersatu. Rasanya singkaaaaaat sekali. Saking singkatnya, kurasa kulit wajahku mengeriput.” Ucap Key.

Kami tertawa.

“Sabar ya, Key. Kau kan umma yang baik.” Jin Ki-hyung mengelus punggung Key.

“Umma?! Enak sajaaa!”

Aku tertawa. Tanpa sadar dan entah sejak kapan, tanganku dan Hee Ra bertautan. Rasanya nyaman sekali. Haah…perasaanku terhadap Hee Ra memang belum berubah.

***

Hee Ra POV

Kemarin pagi sepulang dari Heathrow, Min Ho langsung mengantarku ke apartemen Umma. Aku sangat merindukan umma, jadinya seharian kemarin kami menghabiskan waktu berdua dengan berjalan-jalan di kota London menggunakan double deck-bus dan tram ke Buckingham Palace, London Bridge, River Thames, berbelanja di Oxford Street dan makan masakan china di Chinatown. Sebuah kesempatan langka yang jarang didapat. Seandainya appa ikut, pasti akan lebih menyenangkan…

“Hee Ra, sudah bangun?” terdengar pintu kamar diketuk, “Umma masuk ya?”

“Ne, masuk saja umma, aku sudah bangun, kok.” Sahutku.

Umma membuka pintu kamar.

“Pagi ini umma mau menjemput Chae Eun-ajumma di Heathrow, Hee Ra. Hari ini Hee Ra ke wisuda Min Ho kan?” umma duduk diatas tempat tidurku.

“Ne. Chae Eun-ajumma sudah kembali dari paris?” tanyaku. Aku duduk disamping umma. Chae Eun-ajumma adalah manager umma.

Umma mengangguk, “Pagi ini jam 8 sudah landing.”

Aku tersenyum, “Baiklah, umma. Wisuda Min Ho jam 10.”

Umma tersenyum, “Min Ho pintar sekali ya. sudah selesai kuliah dalam waktu 3 tahun. Bagaimana dengan gadis kecil umma?”

“Aaah…umma… aku bukan gadis kecil lagi.” aku memeluk umma.

Umma tertawa kecil. Dibelainya rambutku, “Selamanya, Hee Ra adalah gadis kecil umma dan appa.”

Aku tersenyum, “Baiklaah. Aku mengalah, umma.”

“Hhaha… ya sudah. Sekarang kita sarapan, yuk. Mrs. Lee sudah menyiapkan sarapan spesial untuk pagi ini. Spesial karena umma juga ikut memasaknya.” Ujar Umma.

“Jinca?” aku melepas pelukanku, “Baiklaaah. Ayo, umma… kita makaaaaan!”

***

Min Ho POV

Wisudaku berjalan lancar. Banyak sekali yang memberiku selamat. Hah…rasanya bahagia sekali. Terlebih lagi ada Jin Ki-hyung, Key, dan Hee Ra.

“Min Ho, umma dan appa-mu sudah pulang duluan. Tadi mendadak dapat telepon, ada tamu yang datang kerumahmu.” Ujar Key sambil menutup keran.

“Ne. Gwenchana.” Aku mengenakan jas hitamku kembali, “Kkaja, Key. Hee Ra dan Jin Ki-hyung pasti sudah menunggu.”

Key terdiam sejenak, “Min Ho, aku ingin tanya sesuatu. Boleh?”

Kutatap Key, “Boleh. Tanyakan saja, Key.”

Key menghela nafas panjang, “Kau mencintai Hee Ra?”

To be continued…

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

Advertisements

8 thoughts on “Shout Out With – Love Part 5”

  1. ah! Jonghyun Pabo! Sabar dikit kek, coba sabar dikit, pasti Hee Ra berubah pikiran tuh!
    Perasaanku kayak gado-gado. Pas aku udah suka karakternya Jonghyun, malah datang si Minho….
    Daebak Author! Lanjuuut…!^o^

  2. wah…. sepertinya author pernah tinggal di london ya ???

    wisss minho pinter … prok..prok..prok…. ahahaahah key suka sma siapa ya ???

    ffnya bgus … 🙂 4 jempol deh ahahahah

  3. waahh jadi bngung nebak nih hee ra suka ma jjong ato minho wkwkwkwkwk
    tambah seru aja nih ff d tnggu part slanjutnya yaa. . .

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s