That’s Why I Hate SHINee – Part 2

THAT’S WAHY I HATE SHINEE

(Part 2)

~ ~ ~ ~ ~

Author : Agneskey

Main casts : Kim Kirra, Kim Junsu, Kim Jonghyun, Lee Jinki, Lee Taemin

Support casts : Dongho, Jiyeon

~ ~ ~ ~ ~

Ruang makan sekolah ramai seperti biasa. Aku, Dongho dan Jiyeon duduk di meja dekat jendela. Ini tempat favorit kami

“boleh aku duduk disini?” Tanya seseorang

“GYAAAAAAAAA” teriakan seseorang membuatku menoleh. Aigo! Kenapa dia disini? Belom sempat aku menjawab pertanyaannya, ia sudah duduk disampingku.

“untuk apa kau sekolah disini? Sekolah ini bullying nya lebih parah! Lebih baik kau kembali kesekolah lamamu” aku bangkit dari duduk ku dan menjauh

“tunggu, Kirra!!!” Taemin berusaha mengejarku. Ku percepat langkahku dalam berlari. Dari pada aku membuang buang waktu dengan namja itu, lebih baik aku bersembunyi di toilet perempuan. Dengan begitu, dia takan berani masuk. 10 menit aku menunggu di toilet perempuan. Akupun kembali ke kelas. Disana sudah ada Dongho.

“tolong jangan tanya apapun tentang masalah tadi. Aku malas menjawab” sergahku duluan sebelum Dongho membuka mulutnya. Ia hanya mengangkat bahu.

~Pulang sekolah~

“kalian pulang lah duluan. Aku mulai bekerja hari ini” kataku sambil membereskan buku bukuku

“baiklah. Hati hati ya Kirra, ayo Dongho” Jiyeon dan Dongho meninggalkanku dikelas sendirian. Selesai membereskan semau bukuku, aku melenggang pergi.

“Kirra!” panggil seseorang. Suara itu lagi. Aku berlari cepat menuruni anak tangga. Di gerbang sekolah ternyata sudah menunggu oppaku. Dia tak bilang ingin menjemputku. Aku langsung loncat naik ke motornya

“oppa cepat jalaaaann!” perintahku. Aku melihat Taemin dikerubungin yeoja yeoja. Untung saja. Junsu oppa langsung menyalakan motornya dan melaju kencang “tinggal lurus saja oppa, tak perlu belokbelok” 5 menit kemudian kami sampai. Ramai sekali 0,0

“oh ini tempat kerjamu. Rame banget!!!” kurasa oppaku juga ikut terperanjat “baiklah, nanti kau kujemput”

“jam 8 oke, jangan sampe telat dan membuatku menunggu lama, arraseo?”

“ne ne. annyeong, selamat bekerja ya J” aku berusaha masuk kedalam.

“annye~”

“sudah sana cepat ganti bajumu dan bekerja. Sudah pasti akan begini” ahjuma terlihat sibuk sekali dengan masakannya. Aku jadi bersemangat! Dengan sepenuh hati kujalani semua ini. Aku mandiri!

Sekarang aku sibuk mencuci piring didapur. Resto sudah tutup. Hari yang melelahkan tapi asik ><

“Kirra kalau sudah selesai cuci piring, tolong bersihkan meja sebelah kasir ya. Berantakan sekali. Ahjuma mau keluar sebentar”

“ne” aku keluar dapur menuju meja yang ditunjuk ahjuma. Tapi… kenapa bisa ada dia?

“kau? Kau Kirra kan?” Tanya nya. Suasana berubah canggung seketika. Kenapa dia bisa ada disini? Apa resto ini miliknya? Oh tidak! Disekolah ada Taemin, dan sekarang ditempat kerjaku ada Onew oppa! TIDAAAAK! Aku tak tau apa yang harus kulakukan sekarang “ternyata kau ya pekerja baru di resto ku?” sudah kuduga. Aku langsung membersihkan meja itu. Hening. Selesai membersihkan meja, aku langsung bergeas keluar dan memakai sepatuku.

“Kirra bisakah kau menunggu sebentar lagi disini?” tanyanya

“untuk apa?”

“SHINee sebentar lagi akan kesini. Kau bisa ikut makan malam bersama kami”

“aniyo, gamshahamnida. Aku pulang dulu” kataku datar sembari berjalan kearah pintu keluar. GREK! Pintu terbuka dan sekarang dia tepat berdiri didepanku

“Ki.. Kirra??” sahutnya. Aku terlambat. SHINee sudah datang dan tandanya ini nightmare “kau bekerja disini sekarang?” Tanyanya

“permisi, aku ingin pulang. Tolong jangan halangi jalanku” kutundukan kepalaku. Kalo aku melihat matanya pasti aku akan menangis

“sampai kapan kau mau membuatku merasa bersalah terus???!! Aku benar benar minta maaf Kim Kirra. Aku mohon tolong maafkan aku” ia memohon

“tolong, aku ingin pulang sekarang” aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis

“Kirra” panggil seseoarng. Junsu oppa. Thanks God! Aku menerobos tangan Jonghyun oppa yang menghalangi pintu. Aku segera naik ke motor Junsu oppa. Kupeluk tubuhnya erat dan membuang muka.

“permisi” kata Junsu oppa dan langsung berlalu pergi. Udara malam dingin. Sesampainya dirumah, Junsu oppa tidak berkata apa apa. Aku langsung masuk ke kamar dan membenamkan kepalaku di bantal. “Kirra? Are you ok?”

“ne oppa. Aku hanya capek”

“mm bagaimana kalau besok kita lari pagi?” tawarnya “udah lama kita gak lari bareng aku pengen liat sekarang sejago apa kau berlari” kata kata oppa terdengar seperti menantangku

“baiklah, jam setengah 6 kutungggu kau” kataku akhirnya

~ ~ ~ ~ ~

Pagi ini, aku dan Junsu oppa sudah siap dengan kostum olahraga. Aku baru sadar kalau ternyata Junsu oppa punya badan yang bagus. Otot ototnya sudah terbentuk, postur badannya tegap, benar benar oppaku. Ia memakai kaus lengan buntung, celana pendek diatas lutut yang memperlihatkan betisnya yang berbentuk, dan sepatu lari kesayangannya yang udah pernah hampir dimakan si Poli ß anjing tetangga sebelah

“are you ready?” Tanya nya

“tentu saja” aku dan oppa memutuskan untuk berlari di taman dekat rumah. Disitu ada track jogging dan biasanya hari libur seperti ini ada banyak orang berjualan (bisa sekalian sarapan gitu maksudnya)

Sesampainya disana, kami melakukan pemanasan dulu. Banyak yeoja yang melirikan matanya ke Junsu oppa. Tapi dia tak peduli. Tak akan pernah. Oppaku tipikal orang yang tak terlalu pada urusan percintaan. Dia terlalu cuek.

“jogging dulu yuk sekali puteran abis itu baru kita mulai lombanya” aku mengiyakan. Udara segar masuk ke paru paruku. 10 menit kami jogging, kami langsung berdiri di belakang gari start.

“finishnya di pohon itu ya” pandanganku fokus kedepan “hana, dul, set!” WUSH!!! Karna ini lari jarak pendek, aku langsung mengambil start sprint. Begitu juga dengan oppaku. Aku dan dia balap balapan sampai akhirnya dia mendahuluiku

“oppaaaaaa, aku tak bisa berhenti!!!!!!!!!” aku terus berlari sampai akhirnya aku terjatuh karna menginjak tali sepatuku yang copot. GABRUK!! Aku tersungkur ke rumput dan berguling guling.

“hahahaha” Junsu oppa menghampiriku dengan tawanya “ayo bangun!” ia membantuku berdiri “ada yang sakitkah?”

“aniyo, kau hebat oppa, kau adalah musuh terberatku dalam berlari”

“kau juga hebat. Aku kita makan hahaha” Junsu oppa masih melanjutkan tawanya

“Kirra” sahut seseorang. Aku membalikan tubuh “kau benar benar pelari hebat” aku menatapnya sinis. Ia menghampiriku dan oppa

“ayo oppa, ppali! Aku lapar!” aku menggandeng tangan oppaku menjauhi orang itu. Kim Jonghyun

“YA! Kirra! PERNAHKAH KAU MEMIKIRKAN PERASAANKU? APA KAU TAU KALAU SELAMA INI AKU JUGA MENANGIS? APA KAU TAU KALAU AKU, KIM JONGHYUN, MERASA SANGAT BERSALAH PADAMU DAN KELUARGAMU? DAN APA KAU TAU, AKU JUGA MERASAKAN HAL YANG SAMA DENGANMU!!!” akhirnya dia berteriak

“kau terlihat seperti orang bodoh”

“aku… adalah…”

TBC~

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

Finnally, Yeah Na Do Saranghae

finnally , yeah na do saranghae
Author : thy
Cast : choi minho , lee jinki, sulli f(x)
Type: oneshoot
Rate : PG-15
Genre : romance
Sebelum dibaca…Mian kalo jlek, ini ff pertamaku. Gara-gara temenku yg nularin suka baca FF , jadinya ak ketagihan, lama-lama malah tertarik bikin. Makasih juga buat temenku *yang kepengen disebutin namanya tapi tidak ku izinkan. :p hwahahahha* dia bantuin jadi pembaca pertama ffku ini
Selamat membaca ^^ Continue reading Finnally, Yeah Na Do Saranghae

Sometime – Part 1

Sometime [Part 1]

Title : Sometime [Part 1]

Author : Mira a.k.a. Mira~Hyuga

Main Cast : Lee Jinki, Lee Taemin, Lee Sanghyun (IC)

Other Cast : other member SHINee

Genre : Romance (?), family

Length : Sequel

Rating : G

N.A. : Sebelumnya, makasih, ya buat eonni-eonni admin yang udah mau publish ff gak jelasku ini. Keke~ GOMAPSEUMNIDA!! ^_^ *bow*

Mian kalo nie ff ancurnya minta ampun atau banyak kata-kata yang salah *apalagi Englisnya*, ngebosenin atau kekurangan-kekurangan yang lainnya.. maklum masih tahap belajar. Jadi, komen/kritik/saran sangat dibutuhkan *deep bow*. Happy reading…! ^.^

Jinki mengerjapkan mata dan menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya. Ini sudah waktunya untuk bangun dari ‘tidur panjang’.

~GEOBU hal su eobtneun neoeui maryeokeun lucifer, geobu hal su eobtneun neoeui mabeobeun lucifer, daga seomyeon neoneun machi cheonsa gadeun eotgullo…~

Dengan enggan Jinki meraih benda mungil di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Didekatkannya benda itu ke telinga, tentu saja setelah menekan tombol berwarna hijau.

“JINKI!!” sebuah suara—yang langsung diyakini Jinki sebagai suara adiknya—terdengar begitu dekat. Tidak heran Jinki langsung menjauhkan speaker ponsel itu dari telinganya secara spontan. “Where are you? Kenapa tidak datang menjemputku? Apa begini caramu menyambut adikmu sendiri?!” suara di seberang melanjutkan, masih dengan nada tinggi. “Hyung, pick me now!! You’ve made me wait a long time! Apa yang sedang kau lakukan sampai tidak sempat membalas pesan dan menjawab telponku yang entah berapa puluh kali!? Apalagi aku harus berjalan mengelilingi airport sebesar ini hanya untuk mencarimu!! Kau tidak berperasaan!”

Jinki memijat pelipisnya dan duduk bersila di atas tempat tidur. “Where are you, now?

“Ck~tentu saja aku masih di airport, menunggumu!!”

“Pasti di sana banyak orang ‘kan? Di kanan, kiri, depan dan belakangmu?”

Yeah! Mereka banyak di sekelilingku. Apa hubungannya?”

“Mereka pasti akan menatap heran padamu. Apa kau tidak sadar selama berteriak-teriak seperti itu?”

Hening sejenak.

“A-aa~I… they they could not possibly … have time to just watching!”

“Oh~ok, sorry. Tapi kau tidak bisa sendiri saja?”

“Hey, Jinki! This is my first time…”

Jinki segera menyela kalimat adiknya, “O-oh~alright, I see. Wait a sec! Aku akan segera pergi.” Ujarnya, kemudian langsung memutuskan sambungan. Ia segera bangkit dan berjalan lunglai ke arah kamar mandi. Ia harus segera membersihkan diri dan menghilangkan bau alkohol menyengat yang menempel di tubuhnya, setelah semalaman bersenang-senang bersama temannya untuk merayakan keberhasilan boyband mereka dalam meraih beberapa penghargaan di sebuah ajang bergengsi.

>>><<<

Shining Cafe

GADIS itu tersenyum lebar, membungkuk hormat dan sedikit melambai ke arah salah seorang pengunjung yang hendak keluar. Rambutnya yang panjang jatuh tergerai—menutupi pipi bersih dan cekungnya—saat membungkuk. Ia selalu berusaha bersikap ramah terhadap setiap pengunjung, walaupun kantung mata yang sudah mulai menghitam dan tubuh kurus itu menyiratkan kelelahan dengan amat jelas.

Ia masih berdiri di tempatnya, memandang pengunjung cafe tadi yang sudah berjalan menjauh dan berbelok masuk ke sebuah gang di luar sana. Kemudian ia menghela napas dalam, tepat saat pengunjung lain berseru meminta pelayanan.

Dengan langkah ringan dan pasti gadis itu menghampiri meja yang ditempati beberapa orang wanita yang dapat diperkirakan sebaya dengannya. Salah satu dari mereka memesan beberapa porsi dari beberapa jenis makanan dari buku menu yang sudah disediakan. Sanghyun, begitulah gadis-pelayan-kurus itu akrab disapa. Ia segera mencatat pesanan yang disebutkan di note kecilnya, lalu membungkuk dan tersenyum sebelum beranjak untuk segera mengambilkan pesanan itu.

“Sanghyun-ssi…” seru Minho yang berdiri di belakang counter. Sanghyun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Minho yang sekarang sedang berjalan menghampirinya. “Kau sakit? Pulang saja?”

Sanghyun menggeleng dan tersenyum simpul.

“Kalau begitu, kau sudah sarapan?”

Sanghyun menggeleng lagi.”

“Sarapan dulu, kau terlihat tidak baik. Biar aku yang mengurus pesanan.” Ujar Minho lagi. Sanghyun tersenyum lebih lebar dan membungkuk berterimakasih pada sang pemilik cafe.

>>><<<

– Airport –

JINKI melepas sunglasses yang ia pakai dan mendapati adiknya sedang menatapnya kesal. Tapi tatapan itu tidak begitu berpengaruh bagi Jinki yang hanya melangkah santai mendekati sang adik. “Wow~kau memanjangkan rambutmu? Kukira kau wanita.” Katanya dengan sedikit terkekeh.

“Tiru saja kalau kau mau!” sebuah ransel yang menggembung karena cukup terisi melayang tepat ke pelukan Jinki, sementara pemiliknya melangkah keluar menuju lapangan parkir.

Jinki masih terdiam di tempatnya dan bergumam sendiri, “Dia benar-benar marah?” Dan sesaat kemudian, dia pun melangkah cepat, bahkan hampir berlari untuk mengikuti adiknya. “Taemin-ah…”

Yang dipanggil merasa tidak perlu berhenti dan malah mempercepat langkahnya. Ia bisa saja berpura-pura tidak mendengar sang kakak saking merasa kesal. Shit!! Jinki sudah membuatnya tour di seluruh airport dan menunggu berjam-jam. Padahal Taemin sendiri ingin cepat merasakan nyamannya tempat tidur setelah menghabiskan waktu seharian di pesawat. Ternyata hidup mandiri itu lumayan merepotkan!

“Hey! What’s wrong?” Jinki merangkul bahu Taemin agar Taemin tidak bisa lagi mendahului langkahnya.

“Heh~apa maksudmu?” Taemin tersenyum kecut tanpa menoleh.

Jinki malah tertawa dan mengeratkan rangkulannya sembari terus melangkah. Ia merasa lucu melihat wajah kesal Taemin yang tetap tidak terkesan galak meskipun sedang marah. “Oke! Let’s go home!!” serunya.

“Itu yang kuinginkan sejak beberapa jam yang lalu.”

Lagi-lagi Jinki tertawa dan mengacak rambut Taemin.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di tempat mobil Jinki terparkir, dan segera meluncur menuju apartemen tempat tinggal Jinki. “Hey! Kenapa diam saja?” ujar Jinki sambil menatap Taemin—yang duduk di kursi belakang—melalui kaca spion di depannya.

I wanna sleep.

“Kau marah?”

Taemin mendesah kesal, “Do you know how tired I am? Perjalanan Kanada-Korea itu tidak sebentar, ditambah lagi aku harus mencarimu dulu di seluruh…”

“Ok, ok! Aku mengerti. Tidur saja! Aku akan memberitahumu saat kita sudah sampai.”

Taemin terdiam, melipat kedua tangan di depan dadanya dan menatap kosong ke arah kendaraan yang memenuhi jalan. Hening beberapa saat.

Jinki mulai merasa bosan dan mulai bergerutu sendiri. “Ya! Kau benar-benar tidur?” ia menolehkan kepalanya ke arah Taemin, tanpa ia sadari ada seorang wanita yang sedang melintas—di depan mobilnya—di luar sana.

“AAA~WATCH OUT!!” Taemin berteriak sambil menunjuk ke arah depan. Refleks Jinki kembali ke posisinya, memejamkan mata sipitnya, lalu membunyikan klakson dan menginjak pedal rem dengan mendadak, sehingga Taemin dan ia sendiri hampir tersungkur ke depan. Sempat terdengar suara jeritan orang-orang—yang mungkin melihat peristiwa ini—di luar sana.

“Hyung! Where’s she?!” Taemin pucat pasi dan dengan tergesa membuka pintu mobil di samping kirinya untuk keluar. Jinki yang baru kembali dapat mengontrol dirinya, mengikuti tindakan Taemin. Sementara sebagian dari orang-orang tadi kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Wanita-yang-hampir-ditabraknya itu kini tergeletak, dengan Taemin yang berjongkok di dekatnya.

***

PRANG!!

Minho terbelalak, sehingga matanya kini seakan terlihat dua kali lebih besar. Di sana, di tengah para pengunjung cafe, Sanghyun terlihat berjongkok memunguti pecahan-pecahan piring dan gelas di hadapannya. Minho mendesah, lalu berlari menghampiri Sanghyun dan ikut berjongkok. “Sudah kubilang kau pulang saja. Kau terlihat tidak baik.”

Sanghyun terdiam. Minho yang mulai kesal menarik tangan gemetarnya.

“Aku akan mengantarmu berobat. Kkaja!

Tapi Sanghyun malah berusaha melepaskan tangan Minho seraya menggeleng kuat.

Wae?!” nada bicara Minho terdengar agak meninggi. Sanghyun berlari ke arah toilet (lagi), membuat Minho mendesah untuk kesekian kalinya. Ia hanya bisa pasrah jika sifat temannya ini kambuh. Ia lalu berjalan ke arah counter’nya.

Namun tidak lama setelah itu, Sanghyun keluar tanpa mengenakan pakaian pelayannya. Ia menghampiri Minho, tersenyum simpul dan membungkuk meminta izin untuk keluar.

Minho balas tersenyum. “Kkaja!” ujarnya mantap. “Biar kuantar.”

Tapi Sanghyun menggeleng lagi.

“Yakin kau bisa sendiri?”

Kali ini pertanyaan Minho dijawab dengan anggukan.

“Baiklah. Tapi hati-hati…!”

Sanghyun mengangguk lagi seraya tersenyum, lalu membungkuk dan berjalan ke arah pintu ke luar. Minho benar. Sanghyun memang merasa sedikit tidak enak badan. Seluruh badannya terasa begitu lemas, dan penglihatannya agak kabur, apalagi setelah menyantap sarapannya tadi. Sudah beberapa kali ia keluar-masuk toilet untuk mengeluarkan isi perutnya yang terasa benar-benar mual. Sebenarnya memang lebih baik ia pulang bersama Minho. Tapi apa yang akan dikatakan ayahnya jika ia pulang bersama seorang pria?

Tubuhnya semakin lemas dan penglihatannya benar-benar kabur saat hendak menyebrangi jalan raya. Tiba-tiba dunia ini hanya berwarna putih, ia benar-benar tidak bisa melihat apapun, kecuali mendengar suara keras yang semakin mendekatinya, sangat dekat. Akhirnya ia jatuh terduduk, bertepatan dengan kegelapan yang tiba-tiba datang menyergapnya.

***

TAEMIN mendongak menatap Jinki. “Hyung, dia pingsan.” Ujarnya dengan ekspresi khawatir.

Mwo?!” pekik Jinki panik.

Taemin mengangguk yakin. “Bantu aku mengangkatnya! Kita harus membawanya ke rumah sakit…”

“Tapi… tapi… kita ‘kan… ini bukan…” Jinki malah sibuk menutupi wajahnya agar tidak terlalu mudah dikenali sebagai Onew SHINee yang terkenal itu.

“Hyung! Hurry!!

Sebelum melakukan apa yang dikatakan Taemin, Jinki terlebih dahulu melihat sekeliling. Banyak orang yang memperhatikan mereka, namun lebih banyak lagi yang hanya berlalu lalang. Sempat muncul di pikirannya untuk meninggalkan wanita ini tergeletak begitu saja, toh ini bukan atas kesengajaannya, lampu berjalan juga masih berwarna merah. Dan lagi ia tidak mau repot-repot mengantar wanita ini ke rumah sakit, seperti yang dikatakan Taemin.

“Hyung!! Tunggu apa lagi?!”

Adiknya inilah yang membuat Jinki terpaksa turun dari mobil untuk melihat keadaan wanita—yang hampir ditabraknya secara tidak sengaja—itu. Secara refleks ia mengikuti Taemin turun dari mobil. Tidak hanya Taemin, orang-orang yang kebetulan menjadi saksi mata kejadian ini juga mempengaruhinya. Andai saja ia benar-benar pergi begitu saja, bisa jadi headline news besok berjudul “Onew SHINee Terlibat Kasus Tabrak Lari”.

“JINKI!!!” teriak Taemin yang benar-benar terlihat kalut, sehingga Jinki terlonjak kaget dan segera membantu Taemin mengangkat wanita itu ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.

>>><<<

“PASIEN sepertinya mengalami gejala keracunan dan sedikit demam. Sebaiknya jangan dulu pulang hari ini untuk perawatan lebih lanjut.” Tutur seorang dokter wanita di hadapan Lee bersaudara yang langsung saling bertatapan.

“Apa dia terluka?” tanya keduanya bersamaan.

“Kepalanya… terbentur cukup keras, dan tubuhnya mengalami luka ringan. Beritahu aku kalau dia sadar!”

Taemin sedikit tercengang, tapi tidak dengan Jinki. “Kamsahamnida…” ujar mereka kemudian, sambil membungkuk bersamaan. Dokter itu tersenyum simpul, kemudian berlalu pergi.

You hear it? Keracunan, Taemin-ah… Kurasa itu bukan karena dia hampir tertabrak. Lagipula aku merasa mobilku tidak mengenainya sedikitpun.” Jinki menatap Taemin serius.

Ya, I know. Tapi kepalanya? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kepalanya?”

“Aku yakin dia akan baik-baik saja. Bisa saja dia pingsan dan kepalanya terbentur tanah sebelum aku me… ah~bukan, maksudku sebelum aku HAMPIR menabraknya!”

“Tapi setidaknya kita harus meminta maaf padanya.”

“Ya! Ini bukan salah kita, kita tidak perlu minta maaf. Dia bukan siapa-siapa kita. Sejak kapan kau jadi sebaik ini?” Jinki tidak mau kalah. “Kita hanya perlu membayar biaya perawatannya, lalu pulang. Beres kan?”

What?! Itu yang kau pikirkan, hyung? Sejak kapan?” Taemin menyibak rambut yang menutupi matanya, sementara Jinki hanya menggerak-gerakan mulutnya seolah mengikuti kata-kata Taemin. “Aaargh~sudahlah. Kau memang tidak bisa diandalkan!” Taemin yang kesal melangkah masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat keadaan wanita yang telah membuatnya berdebat dengan Jinki.

Wanita itu masih terbaring lemah dengan keadaan masih belum sadar serta wajah dan bibir yang pucat. Taemin memperhatikan tubuh dan wajah tirusnya secara detail, ia terkejut begitu menemukan luka-luka memar di pipi dan sudut bibirnya. Sepertinya luka itu sudah cukup lama karena hanya terlihat jika diperhatikan dengan sangat teliti.

“Kau kurus sekali.” Komentar Taemin khawatir. Tapi dia tidak mendapat jawaban, tentu saja. Taemin menarik sebuah kursi ke samping ranjang wanita itu, lalu duduk di sana. Ia menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia sedikit terlonjak begitu mengingat sesuatu. “Hey! Your family!” gumamnya

>>><<<

“TAEMIN sudah sampai, Mom.” Jinki berbicara dengan seseorang yang sengaja dihubunginya, yang tidak lain adalah ibu kandungnya dan Taemin. Ya… siapa tahu Taemin lupa memberitahu ibu mereka di sana bahwa ia sudah sampai dengan selamat.

Sorry, bisa kau ulang?” sahut sang ibu di seberang sana, terdengar bingung dari suaranya.

“Taemin. Dia sudah sampai di Seoul.”

“Ah~wait, wait! With whom I speak now?

Your son, of course.” Jinki jadi ikut merasa bingung.

“Jinki? Lalu Taemin… apa maksudnya dia sudah sampai di Seoul?”

Mendengar itu, Jinki mengerutkan dahinya heran. “Bukankah dia akan tinggal bersamaku mulai hari ini?”

W-what?! You kidding me, Jinki. Taemin tidak pernah berani pergi tanpa seizinku.”

Jinki menutup sambungan telfonnya dan segera memasuki ruang UGD untuk menemui Taemin. “Ya!!” serunya begitu melangkahkan kaki memasuki ruangan yang berbau obat itu.

Taemin—yang semula sedang berdiri berkacak pinggang menatap gadis kurus itu—menoleh cepat karena kaget. “Mau apa lagi? Aku akan menunggu sampai dia sadar dulu, setelah itu minta maaf.” Katanya tak acuh.

“Sekarang bukan tentang itu!” tukas Jinki.

“Kalau begitu apa?”

“Jawab pertanyaanku dengan jujur! Apa Mom dan Dad tahu kau ke sini?”

Air muka Taemin berubah seketika. Dia terlihat terkejut, tapi tidak sampai setengah menit, ekspresinya berubah lagi. Kali ini ia menampakan senyum getir.

For what? Apa mereka tahu apa saja yang kulakukan selama ini? Tidak, lebih tepatnya, apa mereka tahu apa yang terjadi padaku selama ini? Aku yakin jawaban mereka sudah pasti ‘not at all’. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan, sementara aku harus selalu ditemani bodyguards asing, kemanapun aku pergi. Aku memang tinggal dengan Mom dan Dad di satu negara bahkan di rumah yang sama, tapi rasanya sama saja seperti tinggal sebatang kara karena mereka jarang ada bersamaku, bahkan aku merasa tidak mengenal mereka.” Tuturnya setelah diam beberapa saat.

Jinki menatap punggung Taemin dalam diam, tidak menyangka sama sekali dengan apa yang keluar dari mulut adiknya itu.

“Setiap hari aku harus menyelinap jika berangkat sekolah ataupun sekedar berjalan-jalan, agar bodyguards itu tidak mengikutiku. You know? Setiap murid-murid di sekolah menatapku seolah aku ini orang yang sudah langka atau unik atau berbeda dari yang lain, karena bodyguards itu. Mereka juga terlihat segan bermain atau bahkan sekedar menyapaku sebelum aku menyapa mereka. Aku rasa, aku tidak punya seorang pun teman. Karena itu, aku menunggu sampai sekolahku selesai, dan saat waktunya sudah tepat, diam-diam aku memesan tiket penerbangan tujuan Seoul dan memberanikan diri menumpang pesawat sendirian setelah memberitahumu secara diam-diam juga. Hehe~” sekarang Taemin berbalik dan menatap Jinki sambil terkekeh.

“Begitu?” Jinki mengangguk-angguk. Dia tahu Taemin tidak berbohong, karena Jinki sendiri juga pernah mengalami hal yang hampir sama ketika ia masih duduk di bangku Junior High School. Saat itu Jinki dan ayahnya tinggal di Seoul, sedangkan Taemin dan ibunya di Kanada. Saking sibuk dengan pekerjaan, sang ayah jarang berada di rumah, sehingga Jinki setiap hari ditemani oleh seorang pelayan di rumah mereka dulu, Kim Yoonhwa. Di rumah ia sangat pendiam, bertolak belakang dengan perilakunya di luar yang selalu melakukan hal apapun semaunya. Tapi ia mempunyai dua orang sahabat yang setia bersamanya sampai saat ini. Bagian ini tentu berbeda dengan yang dialami Taemin. Itu berarti masalah Taemin lebih berat dari masalah Jinki dulu. Intinya, orangtua mereka belum menyadari kekeliruan mereka hingga sekarang. Ya, Jinki tahu itu.

“Jangan beritahu Mom aku di sini. Pleaseee….!!” Taemin menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pada Jinki dengan dibumbui puppy eyes-nya.

Ya, I see.” Jinki berbalik dan kembali keluar ruangan. Ia berharap orangtua mereka bisa cepat menyadari hal ini dan memberi mereka kasih sayang layaknya orangtua yang mulia. Aaah~Jinki sebenarnya sudah malas memikirkan ini. Ia sudah merasa terbebas dari masalah ini sejak menetap seorang diri di sebuah apartemen di Seoul, dan membayar biaya sewanya dengan penghasilan sendiri (setelah group bandnya debut 2 tahun yang lalu). Ya, ia merasa tidak menghadapi masalah seperti ini sejak saat itu, karena kedua temannya selalu setia menghibur dan membuatnya lupa dengan segalanya. Tapi dengan datangnya Taemin, ia merasa kembali diingatkan. Aah~orangtua mereka sepertinya memang lebih mementingkan pekerjaan. Bisa jadi orangtua wanita-yang-belum-siuman itu tidak ‘seburuk’ orangtua Jinki dan Taemin. Ah~benar juga! Keluarga wanita itu!

“Aissh~jinjja!” gerutu Jinki sembari kembali memasuki ruang UGD.

***

Begitu Jinki keluar, Taemin kembali menghadap wanita-kurus itu, melanjutkan memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk menghubungi keluarga wanita ini.

“Apa kau tidak punya satu identitas pun? Sulit memberitahu orang terdekatmu kalau begini.” Ia menggaruk kepalanya kebingungan. “Atau aku tunggu sampai kau sadar saja? Aaah~this is very complicated! Where’s Jinki hyung?” Taemin melangkah menuju pintu keluar untuk memanggil Jinki. Namun ternyata Jinki sudah lebih dulu masuk.

“Hey! Dia pasti punya keluarga kan?” ujar Jinki setengah berseru.

“Itu juga yang sedang kupikirkan sejak tadi. Bagaimana cara menghubungi keluarganya?” jawab Taemin sembari melipat kedua tangannya di depan dada dan memperhatikan wanita-kurus-yang-masih-belum-siuman itu.

“Sejak tadi? Kenapa baru sekarang mengatakannya padaku?” Jinki melangkah lebar menuju tempat tidur wanita itu, dan tanpa ragu ia mulai menggeledah setiap saku di pakaian yang dikenakan wanita itu.

Sementara Taemin yang masih berdiri di tempatnya menatap Jinki takut-takut. “Hyung, what‘re you doing?!”

“Kalau saja kau mengatakannya sejak tadi, mungkin kita sudah sampai di tempatku sekarang.” Ujar Jinki setengah kesal. Tangannya terus merogoh salah satu saku celana jeans wanita itu.

“Hyung…”

“Ya, aku tahu ini lancang. Tapi demi kebaikannya juga. Waah~apa dia tidak punya ponsel atau dompet dan sejenisnya? Kurasa dia tidak mengantongi apapun.” Kata Jinki, lalu beralih ke saku celana wanita itu—yang lain.

You talk too much!

“Berhentilah memprotes apapun yang kulakukan!”

“Tapi itu ‘kan kenyataan. Kau cerewet!”

Hening sejenak.

“Ahaha~aku menemukannya! Lihat! Ini yang kita cari.”

Selembar kertas yang dilipat sampai berukuran kecil itu sekarang berada di tangan Jinki. Di sana tertulis sederetan nomor yang sebenarnya mudah diingat, dan juga nama pemilik nomor ponsel itu. Jinki dan Taemin lantas mengira bahwa itu adalah nomor salah satu kerabat wanita ini, atau paling tidak orang yang pernah dekat dengannya.

>> TO BE CONTINUE