Shout Out With Love – Part 6 (END)

Shout Out With Love…

Part 6

Author: Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast: Kim Jong Hyun, Choi Min Ho, Nam Hee Ra

Cast: Han Seung Hee, Choi Ji Ah, Lee Jin Ki, Lee Tae Min, Im Ju Hwan, and many more

Length: Sequel

Genre: Friendship, romance

Rating: General

Disclaimer:

I don’t own SHINee, they are belong to SMEnt and their family, but i do own this story. And I do own some of the cast (Nam Hee Ra, Kazuha Funabashi).

Min Ho POV

Key terdiam sejenak, “Min Ho, aku ingin tanya sesuatu. Boleh?”

Kutatap Key, “Boleh. Tanyakan saja, Key.”

Key menghela nafas panjang, “Kau mencintai Hee Ra?”

Aku tercekat. Kenapa Key bisa tau??

“Jin Ki-hyung kelepasan. Dia bilang ada seorang yeoja yang membuatmu ingin cepat kembali ke Korea. Aku tidak tau ada yeoja lain selain Hee Ra, Ji dan Seung Hee yang dekat denganmu. Tapi entah kenapa aku merasa yeoja itu Hee Ra. Apa benar?” Key menatap mataku.

Aku menghela nafas panjang. Mungkin sudah saatnya memberitahu Key. Ia kan sahabtku. Aku tersenyum pada Key, “Kau paranormal, Key?”

“Hah? Aku benar? Tega sekali tidak memberitahuku. Huuh…” Key mengerucutkan bibirnya, “Sejak kapan kau menyukai Hee Ra?”

Aku tertegun, “Mungkin sejak SMA. Tapi aku tidak berusaha mengatakannya. Karena selalu ada Jong Hyun yang mengganggu Hee Ra.”

“Aigo…kau memendamnya sekian lama? Membiarkan Jong Hyun menyatakan perasaannya pada Hee Ra?” Key mendekatiku.

Aku mengangguk pelan.

“Ya ampun, Min Ho.”

“Aku menyukainya, bukan berarti aku harus memilikinya kan, Key? Aku berusaha melindunginya dan menjaganya tanpa harus mengatakan bahwa aku menyukainya. Aku berusaha membuatnya tertawa tanpa ia harus tau bahwa aku mencintainya.” Ujarku perlahan.

Key terpaku. Sedetik kemudian ia tersenyum, “Min Ho, kau memang benar-benar mencintai Hee Ra. Aku bisa merasakannya dari kata-katamu.”

Jin Ki POV

“Lama sekali sih.” Hee Ra mengomeli Key dan Min Ho yang baru datang.

“Mianhae, Hee Ra.” Key merangkul Hee Ra, “Kkaja, kita pergi makan malam! Min Ho yang traktir.”

“Jinca?? Ah, kkajaaa! Kita makan banyak malam iniii!” Hee Ra segera menarik tangan Key.

“Kkaja!” mereka jalan di depan kami.

“Eh…eh…Key, kenapa ceria sekali sih?” tanyaku, “Min Ho, kau apakan dia?”

“Emm…sebenarnya sih karena Key sudah tau.” Ujar Min Ho pelan.

Kutatap Min Ho, “Tau apa?”

“Aah…Hyung pikirkan sendiri saja ya.” Min Ho tertawa kecil.

Aku berusaha mengingat.

“Aaah!!! Aku tau! Jadi, tadi dia bertanya padamu?”

Min Ho menggeleng, “Sebenarnya dia tidak bertanya, hyung. lebih tepatnya ia menudingku dengan mata tajamnya itu. lagipula, aku tidak bisa menyembunyikannya terus kan, hyung.”

Aku tersenyum, “Benar. Lalu kapan kau katakan pada Hee Ra?”
Min Ho mengangkat bahunya, “Molla. Aku tidak tau kapan aku akan mengatakannya. Tapi aku akan segera mengatakannya, hyung. tenang saja. Memangnya kenapa, hyung?”

“Annyio. Sebenarnya ada hal yang tidak pernah kuceritakan padamu. Ini soal Jong Hyun.”

“Jinca?”

Aku mengangguk, “Jadi, sebenarnya sebelum kau berangkat ke London, Hee Ra sudah merasa ia mulai menyukai Kim Jong Hyun.”

Min Ho tercekat, “Benarkah, hyung? lalu?”

“Ne, sekitar 2 tahun lebih, Hee Ra merasa ia menyukai Jong Hyun. Tapi, terjadilah sesuatu yang mungkin…yah…takdir…”

“Apa yang terjadi, hyung?”

“Waktu itu, Hee Ra mengatakan bahwa hidupnya terasa menyenangkan saat Jong Hyun tak lagi mengganggunya dan mungkin mendengar kata-kata Hee Ra itu membuat Jong Hyun berfikir bahwa dia adalah pengganggu dalam hidup Hee Ra. Makanya ia menghindari bertemu dengan Hee Ra. Padahal gedung kuliahnya dekat dengan gedung kuliah Hee Ra.” Ujarku, “Awalnya Hee Ra tak menyadari hal itu, ia tidak berfikir bahwa Jong Hyun menghindarinya karena ucapannya itu. tapi pada akhirnya Hee Ra menyadarinya dan memutuskan untuk minta maaf pada Jong Hyun.”

Wajah Min Ho terlihat sedikit tegang mendengar ceritaku, “Lalu mereka berbaikan dan sekarang…”

Sepertinya Min Ho tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Kurangkul bahunya.

“Ya, dengarkan aku sampai selesai dulu, Min Ho…” aku tersenyum, “Ketika Hee Ra datang ke tempat Jong Hyun, ia menemukan Jong Hyun sedang bermesraan dengan seorang yeoja. Yah, sejak saat itu Hee Ra baru menyadari bahwa ia tidak benar-benar menyukai Jong Hyun.”

Min Ho menatapku, “Hyung, apa hyung yakin Hee Ra tidak menyukai Jong Hyun lagi?”

“Haah… tentu saja yakin! Hee Ra tak pernah membicarakan namja itu lagi. Jong Hyun pun berusaha menghindar dari Hee Ra. Kalau menurutku dan Seung Hee, Jong Hyun hanya menjadikan siluman rubah itu sebagai orang yang bisa menghapus bayang-bayang Hee Ra.” Jelasku.

“Mmhh? Siluman rubah?”

Aku tertawa kecil, “Ne. Panggilan dari Hee Ra dan Seung Hee. Yeoja itu memang sok baik hati di depan para namja dan katanya dia memang sudah lama mengincar Jong Hyun.”

“Ooh… jadi, Hee Ra?”

Aku mengangguk, “Ne. Jangan khawatir.”

Min Ho tersenyum, “Baiklah.”

“Choi Min Ho!” terdengar suara seorang yeoja memanggil Min Ho dari arah belakang kami.

Ternyata seorang yeoja yang lumayan cantik. Ia mengenakan mantel dengan warna indigo dan sepatu hak tinggi bewarna putih.

“Funabashi?” ujaar Min Ho.

Yeoja berwajah asia itu menhampiriku dan Min Ho, “Min Ho, congrats for your graduation.”

Min Ho tersenyum, “Yes, thank you. When did you comeback to London?”

“Oh… This morning. I have to meet Mr. Garner. He forgot something.” Yeoja itu tertawa kecil.

“Haha… I see… well, when will you go back to Japan?” tanya Min Ho.

“Maybe next month. I must finish my job at Manchester now. There’s many job there.” Yeoja itu tersenyum, “This is your friend?”

Aku tersenyum. Min Ho mengangguk, “My best friend, Lee Jin Ki.”

Yeoja itu mengulurkan tangannya, “Kazuha Funabashi. Nice to meet you.”

“Lee Jin Ki. Nice to meet you too, Funabashi.”

Yeoja itu tersenyum. Kami sama-sama melepas tangan kami.

“Funabashi, I want to say that, I will leave London this week. I’ll go back to Korea.”

“Really? It’s so fast, Min Ho.”

Min Ho tertawa kecil, “I miss Korea so much. That’s why I want to go back quickly, Funabashi.”

“Oooh… I see. I hope we can meet each other again, Min Ho. Well, Korea and Japan is so near, right?” Kazuha Funabashi tertawa kecil.

Min Ho mengangguk, “Yes, I hope we can meet each other again, Funabashi.”

Funabashi langsung bercipika-cipiki dengan Min Ho. Min Ho tampak sedikit kaget namun kulihat ia tak terlalu ambil pusing.

“Ok. I must leave now. Good luck, Min Ho. Good bye, Lee Jin Ki.” Kazuha Funabashi tersenyum lalu berlalu. Ia melambaikan tangannya.

“Huaah… Yeoja itu cantik juga ya.” komentarku begitu Kazuha Funabashi menghilang di belokan gedung kampus.

Min Ho tertawa kecil.

“Ooooi!!!” teriak Key, “Cepaaaat!!”

“Ne!!” teriakku.

Kami segera menghampiri Key dan Hee Ra. Hee Ra tampak sedang menggigit-gigit bibirnya. Biasanya itu dilakukannya disaat ia sedang berfikir dan ketika ia sedang kesal.

“Hee Ra..” panggilku.

“Ne.” jawabnya singkat. Hmm…ia sedang kesal.

“Mianhae, menunggu lama.” Ujar Min Ho.

“Ah… sudahlah. Ayo kita makan!” Key segera menarik tangan Hee Ra. Hee Ra menurut saja.

Hee Ra POV

“Aish! Key, jangan jalan cepat-cepat. Aku tau kau lapar, tapiii…” aku melongokkan kepalaku kebelakang. Looh… Min Ho dan Jin Ki-oppa mana?

“Ya!” kutarik tangan Key. Key berhenti.

“Ada apa, Hee Ra?” Key membalikkan badannya, “Ya! Mana Jin Ki-hyung dan Min Ho?”

“Haah… ini salahmu, Key.” aku tertawa kecil dan menarik tangan Key kembali.

Baru beberapa langkah kami berjalan, tampak mereka sedang berhenti. Sepertinya sedang bicara dengan seseorang. Hhaaa? Seorang yeoja ya?

“Itu mereka.. eh, itu yeoja ya?” Key menunjuk mereka.

Selanjutnya aku tertegun melihat apa yang kulihat dengan mataku. Min Ho dan yeoja itu sedang bercipika-cipiki (aku ga tau apa nama kerennya cipika-cipiki!! Ada yang tauu? Aku sendiri gak suka dengernya. Bantuin author, plissss!!)

“Aigoo… apa yang dilakukan yeoja itu?” gumam Key pelan.

Tampak yeoja itu berlalu dari hadapan mereka.

“Ooooi!!!” teriak Key, “Cepaaaat!!”

“Ne!!” teriak Jin Ki-oppa.

Aku terus tenggelam dengan apa yang kulihat tadi. Yeoja tadi itu siapa ya?

“Hee Ra…” terdengar suara lembut Jin Ki-oppa.

“Ne.” jawabku singkat. Aku terus menggigit-gigit bibirku. Lidahku terasa kelu untuk berbicara. Hatiku terasa bergemuruh.

“Minahae menunggu lama.” Ujar Min Ho.

“Ah… sudahlah. Ayo kita makan!” Key segera menarik tanganku. Aku tak menolak. Kuikuti langkah Key.

***

Min Ho POV

“Hee Ra, kenapa kau diam terus?” tanya Jin Ki-hyung, “Kau sakit?”

Hee Ra menggeleng.

“Ya, kalau begitu ayo makan, Hee Ra.” Ujar Key.

Hee Ra kenapa ya? Ia terus diam dari tadi.

“Aku ingin pulang.” Ujar Hee Ra akhirnya.

“Mwo? Kenapa kau ingin pulang? Makananmu belum habis, Hee Ra. Duduk dulu, kita makan sama-sama. Sudah lama sekali kita tidak makan seperti ini kan.” Key menarik tangan Hee Ra untuk kembali duduk.

“Key, aku ingin pulang. Aku bisa pulang sendiri.” Hee Ra kembali berdiri.

“Baiklah, kurasa Hee Ra sudah lelah.” Ujar Jin Ki-hyung.

“Ayo, kuantar pulang.” ujarku.

“Tidak usah. Aku pulang sendiri saja.” Tolaknya.

“Jangan ngebut, Min Ho.” Ujar Key tanpa mempedulikan ucapan Hee Ra yang terakhir.

“Baiklah. Kkaja, Hee Ra.” Kuraih tangan Hee Ra.

“Aku bilang, aku bisa pulang sendiri!” suara Hee Ra meninggi.

“Hee Ra, kau bisa tersesat. Lagipula, apartemen Ha Na-ajumma jauh sekali dari sini.” Ujarku pelan.

Sepertinya Hee Ra sedang marah dan kesal. Tapi, kenapa? Apa yang membuatnya marah?

“Sudahlah, Hee Ra. Min Ho akan mengantarmu pulang. Jadi, jangan menolaknya. Lagipula ini sudah malam.” Jin Ki-hyung tersenyum.

Key mengangguk. Hee Ra terdiam.

“Baiklah, hyung, Key. Aku antar Hee Ra dulu ya.”

“Ne, hati-hati, Min Ho.” Ucap Key.

Kugenggam tangan Hee Ra. Kugandeng tangannya menuju mobilku.

“Kau marah padaku, Hee Ra?” tanyaku saat kami sudah melaju bebas di jalanan kota London yang tak pernah sepi.

Hee Ra tidak menjawab.

“Baiklah, aku tidak tau apa yang telah membuatmu marah. Aku minta maaf atas apa yang telah kulakukan padamu, Hee Ra.” Ujarku pelan.

Hee Ra masih tidak bergeming. Tangannya mencengkram erat seatbelt-nya. Aku tau ia sedang marah padaku.

“Hee Ra… kumohon, jangan diam seperti ini.”

Aku mulai merasa sangat bersalah. Apa sih yang membuatnya begini?

***

Hee Ra POV

“Hee Ra, Jin Ki datang.” Umma mengetuk pintuku.

“Ne, umma.” suaraku terdengar sedikit serak.

Segera kuambil jaketku dan kacamataku. Mataku bengkak gara-gara nangis semalaman. Hatiku terasa berat sekali makanya aku menangis sepuasnya dan sejadi-jadinya. Begitu aku bangun tadi, kudapati mataku membengkak.

“Tadi malam Hee Ra menangis ya?” tanya Umma begitu aku keluar kamar.

“Hah?” aku sedikit terkejut.

Umma tersenyum. Dibelainya rambutku, “Naluri seorang umma mana mungkin salah. Kau bisa cerita nanti. Umma siap mendengarkanmu, kok.”

Aku terdiam.

“Ya, Jin Ki sudah menunggu, Hee Ra…” umma memecah keheningan.

Aku tersenyum kecil. Kucium pipi umma, “Gomawo, umma.”

Sgera aku berlari kecil menuju ke ruang tamu.

“Annyong, Hee Ra…”

Aku tersenyum kecil, “Annyong, oppa. Kita jadi pergi ke Hyde Park? Key tidak ikut?”

“Key belum bangun. Lagipula aku memang ingin jalan berdua denganmu.” Ujar Jin Ki-oppa.

“Oh, baiklah.” Aku berjalan kearah dapur, “Umma, aku pergi dulu ya. Mrs. Lee, aku pergi ya.”

“Ne, hati-hati.” Jawab Mrs Lee.

“Becareful, young girl.” Umma tersenyum.

***

“Tidak mungkin, oppa. Yang lebih cantik itu kan angsa. Bukan bebek.” Ujarku tak mau kalah.

“Aaah… tidak! Bebek lebih cantik. Angsa itu kalau dilumpur juga jadi jelek.”

“Memangnya bebek tidak??”

“Aaaah! Sudahlaah, yang lebih cantik itu Key. hehehe…” Jin Ki-oppa terkekeh.

Aku tertawa, “Huahaha… Apalagi ketika SMP ia pernah dipakaikan wig palsu oleh Tae Min. Wah…cantik sekali.”

“Dan sebagai balasannya, Key memakaikan Tae Min wig. Tae Min pun tak kalah cantik dari Key.” Jin Ki-oppa tertawa.

Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa. Kejadian itu benar-benar lucu. Apalagi Key dengan nekat memotret Tae Min. Tapi, mereka sudah sama-sama sepakat untuk membakarnya. Jadilah, foto itu dibakar tak berbekas (author kambuh lebay-nya.)

“Hee Ra, kau habis menangis?” tanya Jin Ki-oppa tiba-tiba, “Terlihat jelas matamu bengkak begitu.”

Aku terdiam. Jin Ki-oppa menarik tanganku menuju bangku taman. Kami duduk.

“Semalaman aku memikirkan sebab kau marah. Min Ho juga sampai tidak tidur semalaman karena memikirkannya. Tapi, akhirnya aku menyadari apa yang membuatmu marah.”

Aku terus mendengar ucapan Jin Ki-oppa.

“Kau menyukai Min Ho kan Hee Ra?? Tolong kali ini jujur padaku.” Jin Ki-oppa tampak serius.

Aku tercekat mendengar pertanyaan Jin Ki-oppa. Aku belum bisa mengatakannya. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Aku marah saat melihat apa yang kulihat kemarin. Antara yeoja itu dan Min Ho. Ada perasaan yang sangat menyiksa yang kurasa. Ketika kulihat Jong Hyun dan siluman rubah bermesraan, kurasa aku tidak marah sama sekali. Apa aku menyukai Min Ho?? Apa aku menyukai sahabatku sendiri?

Aku tidak bisa mengatakan tidak.

Aku merasa sangat bahagia menerima teleponnya. Aku merasa jantungku bedegup kencang saat ia memelukku. Aku bahkan merasa lidahku tak sanggup mengatakan apa-apa saat di bandara kemarin.

Aku menyukainya. Ne. aku menyayanginya lebih dari seorang sahabat. Aku mencintainya sebagai seorang namja. Aku menyukainya, menyayanginya dan aku mencintainya. Apa perasaan ini sudah lama timbul di hatiku..? Kenapa aku merasa aku baru menyadari perasaan ini…?

“Aku… merasa aku… menyukai Min Ho… aku menyayanginya lebih dari perasaan seorang sahabat terhadap sahabatnya, oppa…” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.

Jin Ki-oppa terdiam. Ia lalu tersenyum manis kearahku.

“Hee Ra… kau benar menyukainya?” tanya Jin Ki-oppa.

Aku terdiam.

“Aku tidak tau sejak kapan aku menyukainya.” Jawabku jujur.

“Baiklah… sekarang semua sudah jelas. Kau cemburu melihat apa yang dilakukan Min Ho dengan yeoja yang kemarin itu kan.”

Cemburu ya namanya? Aku tidak tau kenapa rasanya aku tidak rela melihat Min Ho kemarin. Dari dulu, Min Ho tidak pernah disentuh oleh yeoja lain selain Seung Hee, Ji-ya dan aku. Dan rasanya sangat menyakitkan.

“Yeoja itu bukan siapa-siapa, Hee Ra. Yeoja itu hanya teman Min Ho dari jepang. Ia juga kuliah disana. Namanya Kazuha Funabashi.” Ujar Jin Ki-oppa, “Dia bukan siapa-siapa.”

Jin Ki-oppa sengaja memberi penekanan terhadap ucapannya, ‘Dia bukan siapa-siapa’. Ia berusaha memberiku keyakinan akan hal itu.

Aku menarik nafas panjang. Rasanya Jin Ki-oppa berhasil membuat hatiku merasa ringan.

Yeoja itu bukan siapa-siapa, Nam Hee Ra. Yeoja itu bukan siapa-siapa. Kalimat itu terus berputar di otakku.

“Temui Min Ho, Hee Ra. Minta maaf padanya. Semalaman ia tidak tidur karena memikirkanmu.” Ujar Jin Ki-oppa lembut.

Aku belum bisa menemui Min Ho. Aku merasa sangat bersalah sudah marah terhadapnya.

“Sebenarnya ada satu hal yang perlu kau ketahui tentang Min Ho. Ini sudah lama disembunyikannya. Mungkin sejak kelas 1 SMA.”

“Mwo? Apa itu, oppa?”

Jin Ki-oppa menghela nafas panjang, “Ia menyukaimu, Hee Ra. Ia mencintaimu. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai seorang namja yang menyukai seorang yeoja.”

Aku terkejut mendengar kata-kata Jin Ki-oppa, “Tidak mungkin, oppa… Min Ho…”

“Aku tau… ia selalu bersikap netral di depanmu. Ia selalu berusaha menyembunyikannya. Coba kau hitung sendiri berapa lama ia menyembunyikannya. Tidak ada yang tau selain aku.”

6 tahun? benarkah? Selama itu ia menyembunyikannya dariku??

“Dia selalu berusaha membuatmu bahagia. Dia berusaha melindungimu, menjagamu. Dia tidak ingin kau terluka. Kau tau, sebenarnya ia sangat tidak suka melihatmu berkelahi terus dengan Jong Hyun. Tapi, ia berusaha netral.”

Benarkah itu, Min Ho?

“Aku masih ingat saat Jong Hyun menginjak disk-mu. Saat itu aku membawa Jong Hyun ke belakang sekolah.”

Flasback

Jin Ki POV

JONG HYUN, HEE RA ITU YEOJA!!! JANGAN PERNAH BERBUAT KASAR PADA YEOJA!!!” teriakku begitu kami sampai di belakang sekolah. Aku benar-benar emosi menghadapi namja ini. selalu saja mengganggu Hee Ra.

“YA!! AKU TIDAK BERBUAT KASAR TERHADAPNYA!! DIA YANG BERBUAT KASAR TERHADAPKU! DIA YANG MENDORONGKU!!!” balas Jong Hyun.

“Lalu, kenapa dia sampai menangis?” tanyaku  Min Ho tajam. Tampaknya ia masih bisa mengndalikan emosinya.

Jong Hyun menghempaskan tubuhnya ke dinding sekolah.

“Jawab aku, Jong Hyun!” suara Min Ho meninggi.

“Aku menginjak disk miliknya! PUAS?!” Jong Hyun menatap Min Ho  tajam.

“BERANI-BERANI NYA KAU MENGINJAK DISK ITU, KIM JONG HYUN!!” teriakku begitu menyadari disk apa yang dimaksud Jong Hyun..

“AKU TIDAK SENGAJA!!!” balas Jong Hyun.

Raut muka Min Ho berubah. Wajahnya terlihat marah. Sepertinya emosinya sudah tersulut. Dikepalnya tangannya kuat-kuat. Ditariknya kerah seragam Jong Hyun.

“Jangan pernah mengganggu Hee Ra lagi! Apalagi sampai membuatnya menangis! Kalau kau tidak turuti kata-kataku, kau akan berhadapan denganku, Kim Jong Hyun!!!” ujar Min Ho tajam dan dingin. Min Ho terlihat serius.

End of Flashback

“Benarkah dia berkata seperti itu, oppa?” tanyaku perlahan.

Jin Ki-oppa mengangguk, “Dia benar-benar tidak bisa melihatmu diganggu oleh namja itu dan itu pertama kalinya aku lihat Min Ho marah sampai seperti itu.”

Aku tertegun cukup lama. Ini bukan mimpi kan? Aku tidak pernah berfikir Min Ho menyukaiku. Sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa Min Ho menyukaiku. Benar kata Jin Ki-oppa, ia selalu bersikap netral didepanku.

“Mmmm… kenapa aku mendadak merasa lapar ya? Aku beli roti dan juice dulu ya. Jangan kemana-mana, Hee Ra.” Jin Ki-oppa bangkit dari duduknya dan segera beranjak dari taman.

Begitu Jin Ki-oppa tak tampak lagi, aku langsung tenggelam dalam pikiranku.

“Hee Ra…” panggil seseorang. Suaranya lembut dan terdengar hangat sekali.

Kualihkan pandanganku ke arah sumber suara. Aku langsung berdiri begitu menyadari orang itu adalah Min Ho.

Ia berjalan kearahku dan berhenti tepat di hadapanku. Aku tidak sadar sekarang aku sedang menahan nafas.

“Hee Ra…aku minta maaf padamu. Aku baru menyadari alasanmu marah padaku. Wanita itu bukan siapa-siapa. Dia hanya temanku. Tidak lebih.” Min Ho menatap mataku.

Aku tau sekarang ia tidak berbohong padaku. Matanya mengatakan bahwa, itu benar.

“Aku benar-benar minta maaf, Hee Ra.”

“Min Ho…” ucapku pelan, “Aku sudah memaafkanmu. Seharusnya aku yang minta maaf padamu. Aku terlalu kekanakan.”

“Jinca?” tanya Min Ho.

Aku mengangguk.

Tiba-tiba ia meraih tanganku. Digenggamnya erat, “Hee Ra… aku tau aku bukan namja romantis yang bisa berlutut didepan seorang yeoja aku juga bukan namja romantis yang bisa membuat puisi atau semacamnya. Aku hanya seorang namja biasa yang ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu. Saranghae, Hee Ra…”

Aku berusaha mencerna apa yang Min Ho katakan. ‘saranghae’?

“Aku tidak peduli, kau mau membalas perasaanku ini atau tidak. Aku hanya ingin kau tahu hal ini, Hee Ra. Aku ingin kau tau bahwa satu-satunya yeoja yang memiliki hatiku ini hanya kau. Itu sudah cukup bagiku.”

Kutatap Min Ho yang sedang menatap mataku.

“Min Ho…” ucapku pelan.

“Ne?”

Aku tersenyum, “Aku tidak tau sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi, saat ini aku benar-benar menyadari bahwa, aku juga benar-benar mencintaimu, Min Ho.”

Min Ho menatapku tak percaya, “Apa kau…”

Aku segera memeluknya, “Na do saranghae, Min Ho…”

***

Min Ho POV

“Memangnya aku bilang mau jadi yeojachingu Min Ho?” tanya Hee Ra dengan mulut terisi penuh dengan roti.

“Aigoo… makannya pelan-pelan, Hee Ra. Aish…kau ini.” Jin Ki-hyung menyerahkan selembar tissu kepada Hee Ra.

Aku tertawa kecil.

“Lalu apa maksudmu, ‘na do saranghae’ itu?” tanya Jin Ki-hyung.

Hee Ra tertawa kecil, “Minta minum.”

Kusodorkan air mineral kepada Hee Ra.

“Hah? Artinya minta minum?” Jin Ki-hyung berlagak dodol. (hehehe… XD)

Hee Ra mengangguk. Aku tertawa.

“Aku tidak mau jadi yeojachingu nya Min Ho. Dia sudah punya yeobo.” Hee Ra tertawa.

Jin Ki-hyung langsung terbatuk, “Mworago? Yeobo???!”

“Yeobo?” tanyaku heran.

Hee Ra mengangguk. Ia berdiri. Diraihnya tanganku, “Sudahlaaah…Kkaja, kita jalan-jalan, Min Ho,”

“Ya, kenapa memanggilku Min Ho?” candaku.

Hee Ra tertawa kecil, “Nanti yeobo-mu marah.”

“Siapa sih yeobo-nya Min Ho?” Jin Ki-hyung berjalan disamping Hee Ra, “Ya, Min Ho…siapa yeobo-mu itu?”

Aku mengangkat bahuku, “Molla. Aku tidak punya yeobo, hyung.”

“Aiish! Padahal kau bilang sudah punya yeobo. Teman sekamarmuuu…!”

“Mworagoooo??!!” Jin Ki-hyung menatapku kaget.

Aku masih tidak mengerti apa yang dikatakan Hee Ra.

“Itu… Yeobo-mu itu kan kamera DSLR-mu, Choi Min Ho!!!” Hee Ra langsung berlari.

Ooooh! Jadi maksudnya kamera kuu! Aish… Hee Ra masih mengingatnya!

“Ya, Nam Hee Ra!!” aku segera mengejarnya.

“Kamera DSLR? Haah… apa-apaan sih mereka?” gumam Jin Ki-hyung sambil tersenyum, “Kukira Hee Ra serius mengatakan Min Ho punya yeobo. Waah! Spertinya sebentar lagi Nam Hee Ra akan menjadi Choi Hee Ra!”

…THE END…

(Tambahan Cerita)

At Incheon International Airport

Author POV

“Huahahahahaha…memangnya Key pikir hanya dia yang bisa ke London?” Ji tertawa kencang.

Tae Min mengangguk, “Ne…kita kan juga bisa!!! Lagipula, dia pasti terkejut kita muncul di London.”

“Awas saja kalau aku sudah sampai London, aku akan membuat perhitungan dengannya. Seenaknya membohongi kita.” Ujar Ji dengan semangat berapi-api.

“Benar. Takkan kumaafkan.”

Ji mengangguk. Mereka langsung ber-high five ria.

“Aaah… iya, mana tiketnya?” tanya Ji.

Tae Min melambaikan tiketnya, “Ini dia. Tiket menuju London.”

Mereka langsung membuka amplop berisi tiket itu. Mereka kembali membacanya dengan teliti sebelum masuk mengurus semuanya.

Semenit kemudian mereka terdiam. Lama sekali.

“Yaaaaa!!!” tiba-tiba Tae Min berteriak. Disusul dengan teriakan maut Ji.

“Gyaaaaaaaaaaaaa!!! KENAPA JADI TIKET PESAWAT MENUJU KE ARAB????!!!!!”

“HUWAAAAA!!! ANDWAE!!!!” teriak Tae Min.

…END…

a/n: Finally, jadi juga. Ini ff yang kubuat berdasarkan kisah nyata aku. Yah, 50 persenlah… kalo yang aslinya, sampai sekarang Hee Ra tuh masih suka ma Jong Hyun. Yang tokoh Min Ho aslinya emang pergi tapi kgak balik2… surat ‘Jong Hyun’ yang warna kuning, ancaman ‘Min Ho’ ke ‘Jong Hyun’ dan berantemnya ‘Hee Ra’ ma ‘Jong Hyun’ tuh asli. Malah, berantemnya jauh lebih parah daripada itu… heheh… gomawo udah baca… Mian kalau ff nya aneh and berbelit-belit. Please leave your comment, thank you!! ;D

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

13 thoughts on “Shout Out With Love – Part 6 (END)”

  1. keren Author! Pertama aku kira Hee Ra bakal sama jonghyun, eh, akhirnya sama Minho.
    Sabar deh, taemin & ji, hehe! Emang ga ditakdirkan ke London!

  2. Q kra hee ra bkal sma jjong,trnyta sma minho…
    Trus gmn klnjtan critany jjong,author bkin after story ny donk,,hehe…

  3. Ngahahaha cerita tambahannya kocak hahaha kasian taemin! Sabar ya oppa! 🙂 ceritanya baguuus cuma saranku part jjong diperbanyak. Aku penasaran banget perasaan dia gimana sama hee ra. Tapi begini aja udah bagus kok! (Y) good job authooor

  4. Aaaaah daebak bgt ffnya!!! Suka bgtbgt sm ff ini 😀 sumpah minhoooo swweeet bgt sih dia, yg terakhirnya kocak bgt itu si ji sm taemin akakakak ngakak baca akhirnya. Daebak, thor!

  5. Lol,, terakhir lucu ahhh taemin partnya dikit di sini kekek xD

    ku kira nnti bakalan jadian sm jonghyun ternyata bukan.

    Diluar dugaan ku keke

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s