Sometime – Part 2

Sometime [Part 2]

Title : Sometime [Part 2]

Author : Mira a.k.a. Mira~Hyuga

Main Cast : Lee Jinki, Lee Taemin, Lee Sanghyun (IC)

Other Cast : other member SHINee

Genre : Romance (?), family

Length : Sequel

Rating : G

DON’T BE SILENT READER, PLEASE… XP

>>><<<

“SANGHYUN pergi?” seorang wanita menyembulkan kepalanya keluar dari ruangan dapur yang terletak di belakang counter.

Minho mengangguk tanda mengiyakan, tapi tidak berbalik menatap wanita itu. “Keadaannya sedang tidak baik. Jadi kusuruh dia pulang.”

Wanita itu tersenyum tipis, “Ya, lagipula masih banyak pelayan yang ramah di cafe ini.” Gumamnya pelan, tapi Minho masih bisa mendengarnya.

“Sanghyun juga tidak kalah ramah. Tidak pernah aku melihatnya merengut atau kesal karena permintaan-permintaan pengunjung yang terkadang sedikit menyusahkan dan aneh-aneh.” Ujar Minho sembari tersenyum. “Silakan datang lagi…!” katanya kepada seorang pengunjung yang hendak keluar setelah membayar pesanan. Kebetulan, orang itu merupakan pengunjung yang terakhir di ‘Shining Cafe’ ini.

“Hah~dia tidak mungkin melakukannya ‘kan?” balas wanita yang bekerja sebagai koki di cafe itu. “Makanya aku senang membuatkan sarapan untuknya setiap hari. Dia tidak bisa protes ataupun mengadu walaupun makananku membuatnya muntah-muntah hebat seperti tadi.” Lanjutnya santai, kemudian kembali ke dapur setelah melepas celemek yang dipakainya.

Dengan segera Minho menoleh ke arah pintu dapur karena ucapan wanita itu. “Apa maksudmu?” tanyanya bingung. Terdengar ponselnya berdering keras tanda panggilan masuk. Tidak ada nama penelepon, artinya itu nomor tidak dikenal. Dengan setengah hati Minho menerima panggilan itu, “Yeoboseyo?”

Ah~ye. Choi Minho-ssi?” sahut sang penelepon.

“Ne, jo-yo. Nuguseyo?”

Eng~bisakah Anda ke rumah sakit dulu? Kita bisa berbicara lebih jelas di sini.”

“Kenapa harus rumah sakit?”

“Seorang wanita yang mungkin saja kerabat Anda sedang di Rumah Sakit Seoul, UGD.”

Tuuut~tuut~tuuut~

Minho menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Orang macam apa ini? Tiba-tiba menelpon dan mengatakan tentang seorang wanita di rumah sakit. Pikirnya heran. Tapi mau tidak mau Minho juga memikirkan siapa wanita yang sedang di rumah sakit itu. Sejurus kemudian dia terbelalak karena mengingat sesuatu. “Apa mungkin Sanghyun?” terkanya. Dengan begitu, dia juga kembali teringat dengan perkataan koki wanita—yang juga adalah kekasihnya sejak setahun yang lalu—tadi. Matanya langsung berkilat tajam dan ia melangkah lebar memasuki dapur. “YA!! PARK JIHWA!!” teriaknya.

“Apa yang kau lakukan?!” seru Minho lagi seraya merengkuh kerah baju wanita itu.

“Aku? Tentu saja sedang melakukan tugasku seperti biasa, TUAN!” balas Jihwa. Ia menekankan kata ‘tuan’ dengan jelas dan berani, seolah menantang Minho. Sementara Minho sendiri menatap Jihwa dengan pandangan yang mungkin bisa menggertakan hati singa. Tapi Jihwa jelaslah bukan singa, jadi keberaniannya tidak goyah sedikitpun. Dibalasnya tatapan Minho yang seolah mengatakan, “Katakan-dengan-jujur-apa-yang-kau-lakukan!”

“Aku hanya memasukkan sedikit bahan makanan beracun ke dalam makanannya. Itu saja.”

“Apa yang membuatmu berani melakukan itu?!!” bentak Minho sekali lagi.

Jihwa terdiam sejenak dengan mata tetap berkilat berani, namun terlihat sedikit berair. “Sebagai namjachinguku, kau… belum juga menyadarinya?” katanya dengan suara bergetar.

“Ikut denganku sekarang!” kali ini Minho mencengkeram lengan Jihwa dan menariknya dengan kasar.

Jihwa meronta, berusaha melepaskan cengkraman Minho. “Choi Minho! Aku bisa berjalan sendiri, tidak perlu kau seret seperti ini! YA! Ini sakit!!” Tapi tidak ada respon apapun. Jihwa hanya bisa meringis menahan sakit, sampai akhirnya Minho mendorongnya masuk ke jok depan mobilnya. Demikian pula dengan Minho, ia mengambil tempat di kursi pengemudi dan menutup pintu mobil dengan kasar, kemudian mengendarainya dengan cepat.

“Kau tahu apa yang kau lakukan?!” bentaknya, yang membuat Jihwa tersentak untuk ke sekian kalinya.

“Tentu saja aku tahu, dan aku punya alasan untuk itu!!” balas Jihwa tidak kalah keras.

“Alasan? Apa?”

“Kau benar-benar tidak peka.”

“Apa maksudmu?” Minho sedikit menurunkan nada bicaranya. Jika dipikirkan kembali, terus-terusan berteriak bisa membuat tenggorokannya bermasalah, apalagi sekarang dirinya sedang mengemudi—yang tentu saja membutuhkan konsentrasi.

“Apa kau belum juga menyadarinya? Kau tidak mengerti apa yang kurasakan?”

“Bisakah kau berbicara langsung ke pokoknya saja? Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Memang sudah kuduga kau tidak akan mengerti, dan tidak akan pernah mengerti.” Isak Jihwa.

“AISSSHH~” Minho memukul kemudi sekuat-kuatnya, dan membuat Jihwa lagi-lagi tersentak kaget. “Terserah apa yang ingin kau katakan. Yang terpenting, sekarang juga… kau… harus meminta maaf pada Sanghyun atas apa yang sudah kau lakukan padanya!”

Jihwa tersenyum sinis sembari menyeka air matanya. “Kau pikir aku akan dengan mudah melakukan itu? Tidak adil…”

Minho menghela napas dalam sembari menggertakkan rahangnya gemas.

“Berhenti di sini!” Jihwa kembali bersuara.

“Mwo?”

“Hentikan mobilnya! Aku ingin turun di sini.”

>>><<<

“AAH~hyung, aku sedang di rumah sakit sekarang.” Jinki menggaruk tengkuknya, merasa tidak enak. Seseorang yang berbicara dengannya diseberang sana terdengar agak heran.

Siapa yang sakit?”

Belum sempat Jinki menjawab, seorang perawat menepuk pundaknya dari belakang. “Maaf, tuan. Dilarang menggunakan ponsel di UGD.” Tegur perawat itu. Ini sudah kedua kalinya Jinki ditegur dengan alasan yang sama, dan oleh perawat yang sama pula. Pertama, saat ia menelpon Choi Minho, dan inilah yang kedua. Kali ini ia hanya memberi isyarat dengan menangkupkan kedua tangannya di depan. Dari gerakan mulut, bisa dipastikan dia mengatakan, ‘Maaf, hanya sebentar…’

Perawat itu langsung menyerah dan belalu sembari sedikit menggeleng-gelengkan kepala. Jinki pun kembali ke pembicaraannya di telepon.

“Jinki-ya, siapa yang sakit?” lawan bicaranya kembali mengajukan pertanyaan.

“Itu… dia temanku… teman adikku.”

“Ooh~arasso. Tapi kau harus cepat datang. Kami sudah akan berangkat. Ok?!”

“Ne, hyung.”

Jinki mengantungi kembali ponselnya, kemudian berbalik kembali memasuki ruang UGD.

“Siapa, hyung?” tanya Taemin. Ia duduk di kursi sembari menyandarkan tubuh ke tembok di belakangnya. Terlihat sekali ia sudah sangat lelah.

“Manager hyung.” Jinki menduduki kursi di samping Taemin, ikut menyandarkan tubuhnya.

“Oh~ada apa?”

Jinki mengedarkan pandangannya ke luar ruangan. “Aku lupa hari ini SHINee ada schedule. Aah~mana Choi Minho-ssi? Lama sekali.”

Just go, hyung! Biar aku sendiri di sini.” Taemin bergumam malas, dan Jinki langsung menoleh ke arahnya.

“Jinjja?”

Taemin bergumam lagi, tanda mengiyakan.

“Kau bisa menjelaskan kejadian wanita ini pada Choi Minho itu, kan?” tanya Jinki sangsi sambil menunjuk tubuh yang terbaring beberapa kaki di depannya.

Sure.”

“Ah~baiklah. Kurasa aku sudah terlambat. Ceritakan yang sebenarnya saja, ya…!” ucap Jinki. Ia berdiri dan melangkah hendak keluar.

“Hati-hati, hyung…!”

Jinki berbalik lagi. “Perlu kujemput?”

I’ll call you later.

“Arasso. Aku pergi.”

“Ne…”

Dengan langkah lebar, Jinki melewati setiap lorong di rumah sakit ini. Langkahnya sempat terhenti saat beberapa wanita remaja menghadang langkahnya dan meminta foto serta tanda tangannya.

“Ah~mianhamnida, aku sedang buru-buru sekarang. Mungkin lain kali saja, ya. Mianhae…!” ia kembali melangkah cepat menuju pintu utama.

Tepat setelah Jinki tiba di persimpangan lorong, lagi-lagi ia harus menghentikan langkahnya karena beberapa orang perawat terlihat berlarian sembari mendorong dua ranjang yang di atasnya masing-masing berbaring seorang pria dan seorang wanita. Keadaan mereka terlihat parah dengan wajah dan tubuh penuh luka yang mengeluarkan darah segar. Mungkin karena mereka mengalami kecelakaan.

Jinki sempat terdiam di tempatnya melihat itu. Namun ketika kembali mengingat managernya, Jinki kembali memacu langkahnya keluar gedung rumah sakit dan mencari letak mobilnya diparkir.

>>><<<

3 hours later…

TAEMIN mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah sadar sepenuhnya, barulah ia ingat bahwa sekarang dirinya masih berada di rumah sakit. Dia menoleh ke tempat wanita tadi berbaring. Wajahnya berubah agak khawatir begitu mendapati wanita itu terlihat masih belum sadarkan diri. Masih di posisinya yang semula.

Taemin melirik jam digital yang melingkar di pergelangan tangannya. 01.22 pm. Ah~pantas saja perutnya sudah lapar karena belum makan siang. Ckck~berapa lama dia tertidur?

I haven’t lunch.” Gumamnya sembali meringis dan menepuk pelan perutnya. Apa dia pergi keluar sebentar untuk makan siang saja? Tapi… memangnya apa tujuannya di sini sendiri, tanpa Jinki?

“Aah~sudahlah. Saat lapar seperti ini aku tidak bisa berpikir keras. Sebaiknya aku makan siang di luar sebentar saja.” Gumamnya lagi, lalu melangkahkan kaki keluar, meninggalkan wanita-yang-masih-belum-siuman itu.

Taemin mendengus kesal karena hampir setiap orang di rumah sakit itu menatapnya aneh. Entah itu orang-orang yang berpapasan dengannya, atau orang-orang yang hanya duduk-duduk atau sekedar berdiri bersandar di dinding. Memangnya kenapa? Apa karena warna atau model rambutnya yang terlihat mencolok? Atau memang sudah nasibnya; selalu ditatap dengan pandangan aneh oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun?

“Jogi… mm~aa~agassi… jogiyo…!”

Taemin melirik sejenak ke belakangnya, masih dengan tampang masam dan bosan. What’s she want? So noisy. Batinnya begitu mendapati seorang anak perempuan yang baru saja dilewatinya. Anak itu memakai kursi roda dan mantel yang tebal, padahal cuaca sedang panas.

Karena yakin yang dipanggil bukan dirinya, Taemin tidak mempedulikan anak itu dan terus melangkah mencari jalan keluar. Tapi ia kembali berhenti begitu mendengar anak itu kembali bersuara.

“Ah~jogiyo… jamsiman-yo…!”

“Jangan katakan dia sedang memanggilku!” dengus Taemin sembari berbalik.

“Iya, kau, Agassi…” anak itu terlihat kepayahan ketika berseru sembari menunjuk ke arah Taemin.

Me?” gumam Taemin sembari menunjuk dirinya sendiri. Kalau tidak salah mengartikan, agassi berarti nona. Lalu kenapa anak itu menunjuknya?

Dan benar saja. Anak perempuan itu mengangguk yakin, dan menunjukkan sesuatu di tangannya. Secarik kertas. “Kau menjatuhkan ini, Agassi.” Katanya lagi.

Taemin yang masih bingung tetap berdiri di tempatnya, mengerjap-ngerjapkan mata dengan polos. Agassi? Why?! Jelas-jelas dia ini seorang laki-laki. Kenapa agassi?!

“Apa kau memerlukannya?” seru anak itu lagi, kemudian terbatuk-batuk sembari memegangi bagian perutnya. Karena prihatin, Taemin mulai melangkah mendekatinya sekalian untuk memastikan benda yang jatuh itu, dan mengoreksi sedikit kesalahan anak ini—memanggilnya ‘Agassi’.

Gadis kecil itu mengangkat kepalanya begitu menyadari Taemin sudah berdiri di depannya. Dia lalu menyunggingkan senyum lebar dan manis. Ia tekagum-kagum begitu menyadari orang yang berdiri di depannya ini terlihat lebih ‘cantik’ dari jarak dekat.

Taemin sendiri baru menyadari bahwa anak perempuan ini memakai kacamata dengan lensa yang cukup tebal. Wajahnya juga pucat, melebihi wajah pucat orang sakit pada umumnya. Begitu gadis itu tersenyum manis, Taemin membalasnya dengan senyum simpul.

“Ini… kupikir ini milikmu, karena dia tergeletak di bawah sesaat setelah kau lewat di depanku.” Anak itu menyerahkan kertas tadi pada Taemin dengan tetap tersenyum.

Taemin menatap kertas itu dengan dahi berkerut, kemudian terkesiap. Dia merasa sudah tidak asing dengan kertas itu, bentuknya, juga isinya, nomor ponsel seseorang. Dia baru saja mengingat sesuatu! Choi Minho! Tujuannya tetap di sini tanpa Jinki adalah menunggu Choi Minho! Aah~kenapa Taemin melupakan hal sesepele itu hanya karena tidur berjam-jam?

Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda datangnya Choi Minho sejak ia belum benar-benar tidur sampai kembali bangun tadi. Apa Choi Minho memang tidak akan datang?

Anak perempuan tadi memandang Taemin heran, tapi juga merasa tertarik melihat perubahan wajah Taemin dan memperhatikan gerak wajahnya, seperti saat Taemin memicingkan mata, mengangkat alis, mengerutkan dahi, kemudian membelalakkan kembali matanya, seperti orang yang terkejut.

Krueeek~ kruuuuk~

“Oh?” anak itu agak terkejut. Ia mengangkat alis dan menatap Taemin. “Agassi, itu suara dari mana?” tanyanya polos.

“Eng?” Taemin menoleh kaget. “Oh~I don’t know.” Jawabnya pendek dengan wajah yang tidak kalah polos.

“Omo… kenapa suaramu…”

“Ah~iya. Aku hampir lupa. Truthfully, I’m not an ‘agassi’, dear…”

Anak perempuan itu mengerjap-ngerjapkan matanya, dan dengan wajah yang semakin terlihat polos, ia berkata, “Agassi, aku tidak mengerti.”

“Maksudku, aku bukan perempuan. Aku laki-laki. Benar-benar laki-laki. A boy..”

Mata gadis kecil itu terbelalak. “Oh? Juiseonghamnida… Aku… aku benar-benar tidak tahu. Aku.. aku pikir kau wanita. Seluruh kulitmu mirip wanita, wajahmu juga cantik, dan rambutmu itu… kukira kau benar-benar wanita. Juiseonghaeyo… Maaf sudah berulang kali memanggilmu agassi. Aku tidak tahu.” Ia segera mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, karena keadaannya yang kurang memungkinkan untuk membungkuk. Terlihat sekali ia begitu kaget dan menyesal, sekaligus malu.

Taemin mengulurkan tangan kanannya dan mengusap kepala anak itu. “It’s ok.” katanya sembari tersenyum simpul. Gadis kecil itu balas tersenyum.

Krueeek~kruuuk~

“Ah~suara itu lagi! Sebenarnya darimana asalnya?” Gadis kecil itu menggerutu pelan, membuat Taemin tertawa sambil menepuk perutnya dengan sebelah tangan.

“Haha~sepertinya suara perutku.”

“Oh~kau belum makan siang?”

“Ya, aku baru akan pergi makan di luar sekarang. Oh~ya. Apa kau tahu tempat semacam cafe yang terdekat dari sini?”

>>><<<

BERJALAN santai di koridor rumah sakit merupakan kesenangan tersendiri untuk Taemin. Dia bisa berjalan sendiri tanpa dibuntuti beberapa orang pria-dewasa-asing dengan pakaian serba hitam. Ya, walaupun tatapan orang-orang di sekitarnya masih sama. Tapi dia tidak mau peduli, dan terus melangkah menuju tempatnya semula untuk menunggu Choi Minho. Ia mengikat rambut pirang-panjangnya yang terkadang mengganggu. Ketika sampai di persimpangan, langkahnya terhenti oleh teriakan histeris seorang wanita dari ruang ICU yang akan dilewatinya.

“Andwae!! Andwae, Minho-ya!! Ireona… ppalli…!”

“Tabahkan hatimu, Nyonya..!”

“Andwae! Minho tidak mungkin… ANDWAE!!”

Taemin meringis mendengar teriakan menyedihkan itu. Seketika ia tersadar, bahwa semua makhluk di muka bumi ini akan menemui ajalnya. Ini hanya masalah waktu, dan tepat saat ini adalah waktunya bagi Minho untuk pergi selamanya.

“Minho?” Taemin mengerutkan dahinya. “Oh~wait, wait..! Minho… apa mungkin Choi Minho? Or..  another Minho?”

Taemin tetap berdiri di tempatnya, berpikir beberapa saat. Akhirnya dia memutuskan untuk membuktikan sendiri, didukung rasa penasarannya yang memang mudah muncul dan harus dilaksanakan. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati ruang ICU yang tertutup itu. Tangisan tadi masih terdengar, walaupun lebih pelan.

Kebetulan sekali, seorang perawat menyembulkan badannya keluar dari ruangan itu sebelum Taemin berbuat ‘nekat’. Tanpa menunda lagi Taemin segera menghampirinya. “Ehm~silyejiman…”

Perawat itu berhenti, menoleh dan tersenyum simpul menatap Taemin.

“Jogi, Choi Minho… emm~di dalam sana?” tanya Taemin sembari menunjuk pintu ICU tadi.

“Ya, benar. Choi Minho-ssi. Nuguseyo?”

“Aku… aku…” Taemin kebingungan harus menjawab apa. “..temannya?” lanjutnya akhirnya dengan nada tidak yakin.

Perawat itu mengangguk, “Masih ada orang tuanya di dalam.”

“Oh~ada apa dengan Minho-ssi?”

“Kecelakaan, sekitar 3 jam yang lalu. Keadaannya sangat parah. Sesaat setelah tiba di sini, ia sudah… tidak bisa diselamatkan.” Ungkap perawat itu hati-hati.

“Oh my…” Taemin mundur selangkah. Kenapa bisa? Choi Minho bahkan sempat berbicara di telephone dengan Jinki. Itu juga sekitar 3 jam yang lalu. Atau lebih dari itu?

Pintu ICU terbuka. Taemin membungkuk sesaat pada seorang dokter yang keluar dari sana. Dokter itu pun tersenyum, kemudian berlalu bersama perawat tadi, meninggalkan Taemin yang masih belum sepenuhnya percaya.

“Minho-ya…! Ireona, Minho-ya…!! Andwae!! Andwae! Kumohon jangan!!”

Suara tangisan itu terdengar lagi. Taemin menghembuskan napas melalui mulutnya, kemudian mengeluarkan ponselnya. “Jinki hyung harus tahu ini.”

TO BE CONTINUE

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

14 thoughts on “Sometime – Part 2”

  1. wah, itu kenapa minhonya chingu ? perasaan yang tadi minta turun jihwa deh.
    haha asap yaa thor lanjutannya, bikin penasaran !!
    😀

    1. @deliza
      Minho? Yah~dia k’celakaan. Kayak.a meninggal, tuh.__. *KAYAKNYA??! #GAPLOK*

      Hmm~mian kalo bikin bingung.. 😦 tapi ntar diceritain kok kejadian kcelakaan.a gmana. Hehe~

      BTW, gomapta udh mau baca+komen… 😀

  2. Ehhh…ya… berhubung ga boleh jadi silent reader, aku komen deh.
    Hehehe…alasan aja, padahal emang pengen komen.
    Detil adegannya bagus, aku suka…
    lanjut…!

  3. MiraAaAa. . . .
    LanjuTanNya makin keren aja. .

    OMO. .
    Minho?!
    ANDWAE!!
    Hikz. .
    Tadi cewek ma cowo yg papasan ama jinki di RS itU Minho sama JiHwa?
    Jadi tadi minho kecelakaAn sama JiHwa. .??
    Aish, malang bAnget nasibnya. .

    Kasian Taem mesti jaga sangHyun sendirian. .

    WidiHh. . Makin penasaran niH, ditUngGu part selanjuTnya!!

    1. @chandra eonn
      Eonniiii..

      Aduuu~eonni ngerti banget yak, maksud aku kemana!? Daebak, loh, eonn.. Gomawo udh ngrti aku(?) *hug*

      Gomawo jga udh baca+komen (lagi).. 😀

  4. aduh … itu minho kenapa ????
    kok…kok..kok… bisa pergi ….ahkkkkk lgi enak2 baca juga … >.< tbc …ckckckck

    author… aku boleh ngomong gx … boleh ya… menyangkut hidup dan mati nih,… penting bgt!! kalau gx di omongin bisa2 aku tersiksa… boleh ya… plisss….. sangat penting soalnya … aku tuh bener-bener mau ngomong … ini tuh penting…penting..penting… bgt!!! *apaan sih* aku bener2 mau ngomong .. kalau…….

    ff author bagus, dan di tunggu lanjutannya ya …. *plak!! di lempar keyboard sma author*

    1. Hahaha~mian, mian.. *bow*

      Wkwkwk~kirain mau ngomong apaaa gitu..!? Trnyata.. Hehe~neomu gomawo, chingu..! 😀
      Gomawo jga udh baca+komen lagi…! Ditunggu lanjtan.a, ya..!? *sok iye* hehe~

  5. Ige mwoyaaaaaaa!!!!
    Itu minho kenapa
    Wah cewe yang sama minho bahaya nih
    Kayanya nanti cewe yang di ugd sama jinki ya?
    Taemin sabar banget dipanggil agashi hahaha

  6. AAAA~ mwoyaaa…
    Minho-nya meninggal? Aaa~
    Penasaaraaaaaan setengah botaak (?)>.<
    Keren thor ffnyaaa~
    Aku suka cara penyampaian ceritanyaaa..
    Daebak!! Ditunggu lanjutannyaaa~ ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s