Half Married – Part 4

Half Married

( Part 4 )

Aigo!!!Kita udah ketemu lagi di part 4 ini. Ada yang kangen sama Hyerin gak? Ahh… palingan juga kangen sama Minhonya aja.(Sama kok kyk aku) Keke…

Langsung aja yuk dibaca. Kajja!! ^^

Author: I-el

Main Cast: Choi Minho, Ji Hye Rin (para flames, anggaplah itu diri kalian)

Support Cast: Other SHINee’s member, Sulli f(x), eomma Minho

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: agak NC-17++ (^^)

Summary : Aku memeluknya dengan maksud tulus, bukan untuk mempermainkan hatinya atau memberikan harapan palsu… Setelah aku yakin dia sudah terlelap, aku kecup keningnya.

I-el*** Hyerin POV

“Heumph….” aku menahan nafas dan menutup mataku. Aku tidak sanggup melihat kejadian ini berlangsung. Minho-ssi. Minho-ssi, dia terlalu dekat.

”Hati-hati, Hyerin.” katanya saat menangkap lenganku. ”apa masih sakit?” tanyanya lagi. Aku mengisyaratkan wajah kebingungan dan kaget. Kenapa dia bertanya seperti itu? Jangan-jangan benar dia melakukan apa yang aku pikirkan semalam. Andwae… andwae… ^^

Aku segera memintanya melepaskan lenganku, kemudian aku berdiri tegak, dan kembali memilih makanan yang akan kusantap sebagai sarapan. Memang sih kepalaku masih sedikit sakit. Tapi, yang tidak kubayangkan adalah ’kenapa aku gak ingat apapun sama sekali?’, seharusnya kalau malam tadi dia benar-benar menyentuhku, seharusnya aku merasakan sakit atau apalah yang menunjukan kalau kami memang melakukannya.

”Apa sebaiknya aku tanyakan langsung pada Minho-ssi saja ya?” kataku dalam hati. ”Andwae.” kataku dengan suara yang bisa terdengar oleh pengunjung hotel sambil menggeleng keras.

Aku menoleh ke arah Minho-ssi yang masih berada disampingku, dia memandangku dengan tatapan yang aneh. Hadehh… Kau pasti terlihat bodoh, Hyerin!!

”Hehehe…” aku menyeringai tipis. Mataku sibuk mencari-cari tempat duduk yang aman. Voila!! Aku melihat Onew oppa dan member SHINee yang lainnya, maka dari itu aku menghampiri meja mereka dan makan dalam damai.

Aku lihat dia makan dengan artis dan beberapa model yang akan mendukung pembuatan CF ini, dan hal ini bukanlah pemandangan yang asing buatku. Mereka berbincang-bincang dengan santai, sesuatu yang belum pernah aku dan Minho-ssi lakukan. Ya sudahlah!!

Tiba-tiba, Minho-ssi menghampiri meja yang kutempati. Aku mulai panik dan gugup. Dengan spontan aku menunduk dan menyembunyikan wajahku dari penglihatannya. Tapi, ketika aku mulai teringat kejadian semalam, wajahku menjadi memanas dan karena tak tahan, aku pergi meninggalkan meja itu. (*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Minho POV

Hyerin-ah menghindariku, mungkin karena semalam. Dia meninggalkanku, dia mengambil tempat bersama member SHINee yang lain. Aku ingat apa yang Onew hyung dan Jonghyun hyung katakan padaku beberapa hari yang lalu, aku harus menghargainya. Jadi, beginilah caraku. Aku mengambil meja bersama artis dan beberapa model lain yang kebetulan sedang sarapan juga.

Dari tempat dudukku, aku terus mengarahkan penglihatanku kearahnya. Mataku, akhir-akhir ini tidak pernah bisa lepas dari dirinya.

”Ada apa dengan Hyerin-ah? Sepertinya dia kelihatan bingung” batinku ketika melihatnya makan dengan kondisi tidak bernafsu, padahal setahuku chicken rollade dan omelet adalah makanan favoritnya, sampai-sampai tiap hari kulkas dirumah kami penuh dengan bahan-bahan untuk membuat kedua makanan itu.

Aku coba untuk menghampirinya setelah makan. Aku berjalan perlahan dengan dalih ingin menghampiri member SHINee. Aku lihat dia menjadi panik, kemudian dia menunduk, dan menyembunyikan wajahnya dari penglihatanku. Tapi, tiba-tiba dia pergi meninggalkan mejanya. Aku lihat dia berjalan kearah pantai.

“Ada apa dengan Hyerin nuna, hyung?”

“Kalian habis bertengkar lagi?” tanya Kibum. “ckckck… aku pusing melihat kalian, gak bisa akur.” katanya lagi saat aku mulai menarik ancang-ancang untuk menjawab. Aku hanya menggeleng.

“Dia kelihatan sedang bingung.” kata Onew hyung. Dia benar, Hyerin masih saja bingung dan linglung, apa sebaiknya aku ceritakan saja padanya ya?! Lama-lama aku tidak tega juga melihatnya seperti ini. (*** I-el)

*          I-el       *

Matahari terlihat bertengger di sebelah barat, hendak kembali ke tahtanya. Sementara Hyerin masih terlihat menendang-nendang pasir kearah laut yang tidak pernah berhenti beriak. Angin yang berhembus juga tiada hentinya menyapu rambut hitam selengan Hyerin yang agak ikal diujungnya itu. Dia menjepit poninya yang mulai panjang kebelakang, agar semilir angin nakal tidak bisa membuat matanya perih karena tertusuk poninya sendiri lagi.

Mata coklatnya meneraawang ke segala arah. Matanya sibuk mencari ketenangan, hatinya sibuk menambal perasaan gugup yang masih saja membekas, dan otaknya disibukkan dengan menutupi kebingungan.

Dia bersikap jujur, dia berbicara dengan tubuhnya, dia memberikan isyarat pada semua orang yang melihatnya bahwa Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya selama Ia menutup mata kemarin. Earphonenya masih memutar lagu-lagu ballad, dia masih berjalan tak tentu arah disekitar pantai,dan dia juga masih tetap berpikir dengan memutar otaknya.

Tiba-tiba, dari belakang seseorang mencengkram bahunya dan tangannya yang lain menarik earphone yang sejak tadi diam, bertengger di telinga Hyerin.

“Hyerin-ah.” panggil orang itu membuat Hyerin menoleh kebelakang.

“Mi..Minho-ssi.” respon Hyerin dengan gugup. “Ada apa? Syutingnya sudah selesai?” Hyerin bertanya dengan keraguan. Dia ragu akankah pertanyaanya dijawab oleh si pemilik nama?

“Ne. Tinggal proses editing kok, tapi itu nanti.”

“O-oh..” Hyerin masih saja gugup, jantungnya berdegup tak karuan.

Hyerin terus berjalan disepanjang pantai, melanjutkan apa yang Ia lakukan sebelum Minho menghampiri. Tapi, kali ini dia jalan berdua. Hanya berdua, dan hal ini membuat Hyerin semakin bingung. Keadaan menjadi sepi. Mereka saling diam beberapa saat.

“Hyerin-ah, gamsahapnida sudah mau bertahan disini.” kata Minho mencairkan kebekuan.

“aku pikir tadi Hyerin-ah mau pulang karena selalu sendirian di hotel.”

“A-ani. Gwencanayo, Minho-ssi.” jawab Hyerin dengan wajah tertunduk.

Mereka berdua kembali diam. Angin yang bertiup tidak lagi dirasakan mereka dingin. Karena suasana yang membatasi mereka jauh lebih dingin dan kaku. Sesekali mereka saling bertatapan, kemudian saling menunduk lagi. Tergores kerutan kening dan alis mereka saling berhimpit, suatu gambaran bahwa mereka sedang berpikir.

“Ada yang ingin kubicarakan!” kata mereka bersamaan

“Eh?! Hyerin-ah dulu aja.” Hyerin menggeleng.

“Ani. Minho-ssi duluan saja.” kata Hyerin menolak sambil terus menatap pasir-pasir yang ditapakinya.

“Baiklah, tapi habis ini Hyerin-ah ya?” Hyerin mengangguk malu. “Kamu tahu kertas apa yang eomma minta kamu tandatangani tempo hari?” Hyerin menggeleng. “Itu. Itu berkas-berkas surat cerai.”

“Ne?” Hyerin menangguhkan kepalanya memandang Minho.

“Sudah lama Eomma minta kita cerai, tapi aku belum bisa mengambil keputusan apapun. Sampai akhirnya, aku tahu apa yang aku inginkan.” kata Minho menerangkan sambil tetap berjalan disekitar pantai. “Sejujurnya aku belum ingin mengakhiri pernikahan kita yang terkesan setengah-setengah ini. Aku belum ingin menjadi duda. Jadi, aku mohon pada Hyerin-ah, mau kan bertahan seperti ini sebentar lagi saja?” tanya Minho begitu serius. “Paling tidak, sampai hari wisudaku. Aku ingin dihari penting itu, aku melihat istriku duduk dibangku paling depan, sehingga aku dapat melihatnya dari tempatku berdiri.” Minho menarik nafas panjang. “Setelah itu, terserah padamu.”

Hyerin tertegun ditempatnya mematungkan diri. Jantungnya seakan hendak keluar dari tempatnya beberapa saat lagi, nafasnya tercekat ditenggorakan, dan tubuhnya seperti akan meleleh. Hyerin masih saja menunduk. Ia tidak berani menatap namja disebelahnya yang masih akan berstatus suami baginya untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Ia sedang berusaha keras menutupi kegugupannya. (*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Hyerin POV

Geez!! Apa ini? Rasa apa ini, Tuhan? Hhh… aku, aku sampai sebegini sesak dibuatnya. Aku tidak berani melirik Minho-ssi, namja yang masih akan menjadi suamiku entah untuk berapa lama lagi. Aku, aku ingin menangis, tapi tidak mungkin didepannya. Aku sudah cukup sering menyusahkannya. Pasti sulit sekali bersikap manis seperti ini, terlebih lagi setelah dia tahu penyakitku.

Tuhan, kirimkanlah aku seorang penolong yang dapat menarikku dari suasana ini. Aku tidak tahan jika saat-saat seperti ini harus berlangsung lama.

“Oooii!! Minho!! Hyerin!!” panggil seseorang dari belakang kami. Kamipun menoleh ke sumber suara.

“Onew oppa?!” syukurlah, berarti doaku terkabul.

“Onew hyung? Waeyo?” tanya Minho dengan ekspresi yang gelagapan.

“eum… berhubung syutingnya sudah selesai, jadi kita mau merayakan semuanya di restaurant sebelah sana.” kata Onew oppa sambil menunjuk ke arah restaurant yang dia maksud. “Kita minum-minum disana, yuk?! Kajja!!” kata Onew oppa lagi sambil menarik tanganku agar mengikutinya.

“Tunggu, hyung!!” kata Minho sambil menahan tanganku yang satunya. Aku menahan nafas. “Memangnya Hyerin-ah bilang ‘iya’?”

“heum…” matanya melirik kearahku. Akupun menggeleng.

“Hyerin-ah gak kuat minum.” aku mengangguk setuju dengan pernyataan Minho-ssi. Tunggu!! Dia tahu darimana? “Jadi, lebih baik kami kembali ke hotel saja. Salam buat yang lain ya, hyung.” kata Minho-ssi sambil menarik tanganku dan melambaikan tangannya yang lain kepada Onew oppa.

*          I-el       *

Minho-ssi berjalan dengan sangat terburu-buru. Apa dia marah? Tapi kenapa? Aishh… Minho-ssi memang susah sekali ditebak, apalagi aku memang belum berpengalaman sama sekali.

Sesampainya di kamar hotel, Minho-ssi segera menutup pintunya. Tidak biasanya, ada apa ya? Minho-ssi katakan sesuatu, aku bingung.

“Hyerin-ah.” Panggil Minho-ssi membuat aku tersentak kaget.

“N-ne.. Nde.” jawabku terbata sambil melangkah mendekati sofa.

“Duduk.” Pintanya dengan wajah kesal. Aduh apalagi yang Hyerin buat? Hyerin babo!! Lagi-lagi bikin mood Minho-ssi rusak, lagi-lagi bikin Minho-ssi kesal. Tidak bisakah aku menjadi yeoja baik-baik sebentar saja? Aku pasrah seandainya kami bertengkar. Aku sudah lelah seperti ini terus.

“Tadi kau panggil Onew hyung apa?” tanya Minho-ssi dengan mata memicing kearahku.

“Apa?” aku memutar otakku. “eum… Onew oppa” jawabku polos. Tapi memang begitulah. Apa aku salah lagi?

“Lalu kau panggil aku apa?”

“eh.. eumh..  Minho-ssi.” jawabku menjadi gugup. Aku sedang diinterogasi atau apa? Kok gugupnya bukan main. Astaga!! Jantungku. Jantungku, jangan berdegup kencang seperti ini, nanti kedengaran. Aku jadi takut. Tiba-tiba Minho-ssi mendekat ke sisi sebelahku yang kebetulan kosong. Spontan, aku menggenggam kerah bajuku kuat-kuat.

“Aku masih suamimu dan aku… aku juga mau dipanggil begitu.” Hehh..hhh.. aku pikir apa. Eits.. apa lagi ini? “Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Aku mandi duluan ya, habis itu kamu.” katanya menyadarkan lamunanku.

“N-ne..”

*          I-el       *

Aku menunggu 10 menit pertama. Aish… kenapa lama sekali. Ck… aku mau cepat-cepat sadar dari tidur panjang ini. Lagipula, aku bingung. Apa maksud Minho-ssi ‘Aku juga mau dipanggil begitu’ barusan? Maksudnya dipanggil ‘oppa’ gitu? Aishh… susah. Aku sudah terbiasa memanggilnya ‘Minho-ssi’. Aduh… bagaimana aku memulainya?

“Hyerin-ah!!” panggilnya dengan sedikit berteriak. “Air panasnya sudah ada di bath-up. Kau mau berendam?”

“Eum… sepertinya begitu, Minho-ssi.” Kataku sambil berpikir. Aku lihat dia mendengus sebal. Maaf Minho-ssi, aku belum bisa.

Akupun segera masuk ke kamar mandi. Akhirnya aku bisa bersembunyi juga. Selama berendam otakku berkelana, terus memutar ulang memori yang masih berhubungan dengan kejadian hari ini. Aku ingat bagaimana Minho-ssi menolongku tadi pagi, aku ingat bagaimana Minho-ssi menghampiri mejaku walaupun tujuan sebenarnya adalah member SHINee yang kebetulan duduk bersamaku, dan aku juga ingat bagaimana aku meninggalkan mereka dengan muka menahan malu.

Aku juga ingat bagaimana Ia memanggil namaku ketika aku sedang berjalan santai sendirian di tepi pantai, aku ingat bagaimana dia berusaha memecah ketegangan, dan bagaimana dia menyuarakan isi hatinya walaupun aku tahu pasti sulit sekali. Tapi, hari ini aku memang benar-benar merasa nyaman dengan dirinya yang sekarang. Aku nyaman dengan perubahannya walaupun mungkin tidak akan berlangsung lama.

Omo!! Sudah berapa lama aku berendam begini?! Aah.. aku takut untuk keluar. Jangan-jangan hari ini Minho-ssi mau melakukan itu lagi. Aku belum siap. Kemarin aja, aku sama sekali gak ingat apapun. Aduh!!! Apa aku didalam sini aja ya, gak usah keluar? Tapi,,, tapi, aduh gimana ini? Nanti kalau aku keluar….

Imagination

“Hyerin-ah, kajja. Aku ingin malam ini jadi malam yang tak terlupakan seperti kemarin.” kata Minho-ssi yang duduk diatas tempat tidur smbil menepuk-nepuk kasurnya mengisyaratkanku untuk duduk.

“Jangan lama-lama, Hyerin-ah.” kata Minho-ssi lagi sambil membuka kaos V neck-nya.

“Kajja!!” lahi-lagi Minho-ssi menepuk tempat tidur, kali ini dia mengedipkan sebelah matanya lalu membuka celananya.

END of Imagination

“Anio. Andwae!!!” kataku sambil menggeleng keras. “ok. Sebaiknya aku tetap disini.” Aku tarik nafasku dalam-dalam, lalu aku buang dengan gusar. Aku tarik nafas lagi, lalu aku buang lagi. Aku ingin menghilangkan isi otakku yang mulai aneh ini. Lama-lama air dalam bath-up ini semakin panas, tapi aku malah semakin mersa mataku berat, ahh…. Semuanya gelap. (*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Minho POV

Babo!! Kenapa aku meminta dia memanggil ‘oppa’ ya?? Minho, Minho, sekarang apa lagi yang memenuhi otakmu? Kali ini Lucifer macam apa? Beri aku alasan kenapa aku melakukan hal konyol tadi. Aish… kenapa otakku penuh begini? Bahkan acara tv didepanku ini tidak mampu menyita perhatianku.

“Aish… kenapa Hyerin-ah lama sekali berendamnya? Dia itu benar-benar berendam atau tidak sih?” akupun kembali menuju ke kamar mandi. Ini sudah yang ketiga kalinya aku bolak-balik kamar mandi-ruang tv. Aku tahu dia sangat suka berendam, tapi tidak perlu selama empat jam seperti ini pula, kan?!

Aku tempelkan telingaku ke pintu. Eum… kenapa tidak ada suara apapun dari dalam? Padahal, beberapa jam yang lalu aku masih bisa mendengarnya mengoceh sendiri. Aku tempelkan lagi telingaku untuk memastikan.

“Benar-benar tidak ada suara apapun.”Aku berjalan kembali ke ruang tv.

Glek…

Tiba-tiba muncul firasat buruk sama seperti hari ketika eomma datang ke rumah. Apa sekarang sedang terjadi pada Hyerin-ah di dalam? Sesuatu yang buruk?

“Anio” aku tepis pikiran buruk itu. Hyerin-ah pasti baik-baik saja, dia pasti sedang bersenang-senang dengan aktivitas berendamnya itu. “Baiklah ini sudah kelamaan.” Aku kembali melangkah ke kamar mandi.

BRAKK…

Aku dobrak pintunya. Aku menemukan Hyerin masih berada dalam bath-up dengan mata terpejam.

“Aigo!!!” seruku saat melihatnya. “Apa aku angkat aja?” akupun melangkah masuk. Aku tertegun melihat tubuhnya tanpa sehelai benang seperti ini.

Aku mengangkatnya ketempat tidur sambil sesekali melirik tubuhnya. Apa semua wanita tubuhnya kecil begini? “Aish.. apa-apaan kau ini Minho??!” batinku mengelak.

Aku letakkan tubuhnya yang masih basah keatas tempat tidur. Aku ambil handuk dan mengeringkan tubuhnya perlahan agar dia tidak bangun. Dan lagi-lagi, mataku menatap tubuhnya. Tanpa pakaian seperti ini, setiap lekukan tubuhnya nyata terlihat.

“Aish…” aku menggeleng lagi. Aku kembali mengeringkan tubuhnya, kali ini bagian rambut. Tanpa sengaja tanganku menyentuh keningnya. “Aigo, dia demam.” Aku segera mengambil pakaiannya dan kuletakkan di atas lemari kecil samping tempat tidur.

Sshh… aku hampir gila. Aku tidak mengerti bagaimana caranya memakaikan bra. Aku tidak mungkin memanggil artis atau model yang ada disini, apalagi member SHINee yang lain. Onew hyung, Jonghyun hyung, dan Kibum pasti akan mencercaku seperti tempo hari. Ya sudahlah, tidak usah dipakai yang penting dia tetap pakai baju, kan?

Kemudian aku mengambil plester penurun panas yang ada dikotak P3K di kamar hotel ini (*anggap aja tuh plester ampuh buat 17 tahun ++), lalu aku tempelkan ke dahinya. Lama aku perhatikan tubuhnya lagi. Timbul lagi keinginanku seperti semalam.

“Ya sudahlah, toh dia istriku dan aku laki-laki. Kupikir aku bebas memilih.” kataku sambil mematikan lampu kamar.(*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Hyerin POV

“Ya ampun, badanku pegal.” kataku sambil mencoba duduk dan menghempas tanganku ke udara dengan mata yang masih terpejam. Aku buka mataku, tapi masih tetap gelap. Loh?! Aku udah buka mata, kan?

“Oh, lampunya dimatiin.” kataku setelah pupil mataku mulai terbiasa dengan keadaan gelap disekitarku. Aku berjalan untuk menyalakan lampunya. “Hah??!!” seruku ketika melihat keadaan tempat tidurku semula rapi, sekarang seperti kapal pecah.

“Ada apa Hyerin-ah?” itu suara Minho-ssi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar, mungkin karena mendengar seruanku. Aku perhatikan matanya tidak lepas dari tubuhku. “Omona!!” aku segera berlari ke tempat tidur, menarik bed cover, dan melilitkannya ditubuhku.

Aku baru ingat, aku tadi pingsan di bath-up, kan? Terus sekarang aku bangun di atas tempat tidur lengkap dengan pakaian walaupun tanpa pakaian dalam. Disini, tidak ada tanda-tanda orang lain yang masuk, hanya ada Minho-ssi dan aku. Kemudian, sekarang tempat tidurnya berantakan. Andwae!! Sudah dua kali, tapi aku tidak ingat apa-apa.

“Syukurlah kau tidak apa-apa.” kata Minho-ssi membuat darahku seakan naik dari kaki ke kepala.

“Mi.. Minho-ssi, ta-tadi kaukah yang mengangkatku dari kamar mandi?” sambil menggigit bibirku ragu.

“Ne.” Jawabnya enteng dengan wajah yang datar.

“Lalu, Minho-ssi yang memakaikan baju?” tanyaku lagi penasaran tapi dengan keraguan yang menjadi-jadi.

“Ne.” jawabnya lagi dengan ringan dan wajah tanpa dosa. Aku hampir menangis. Aku.. aku.. ARGHH… “KENAPA? Aku kan suamimu, jadi wajar kan jika aku melakukan hal ITU?” katanya lagi dengan nada sedikit membentakku. Hhh.. sesak. Sesak sekali. Apa dia marah? Ani.

Dengan mata perih, aku keluar dari kamar menuju dapur sambil tetap menutup tubuhku dengan bed cover. Aku tahu dia berhak melakukan apapun padaku, tapi tidak begini caranya. Aku terisak sedikit, tidak banyak. Aku tidak ingin membuat Minho-ssi merasa bersalah.

Aku bawa hot chocolate yang kubuat satu untukku dengan gelas biru muda dan satu lagi menggunakan gelas biru metalic yang sedikit lebih besar dari gelasku menjadi bagian Minho-ssi ke ruang tv. Aku berikan padanya dan dia sedikit tersenyum.

Aku mengambil tempat disampingnya, tapi tidak benar-benar disampingnya karena lantai ruangan ini menjadi lebih luas akibat sofa yang ada dipindahkan ke pojok ruangan. Aku rasa Minho-ssi menjadikan ruang ini menjadi tempat tidurnya.

“Kau marah?” katanya tiba-tiba saat aku mulai fokus ke layar tv.

“Tidak. Tidak lagi. Tapi…” aku menghentikan kalimatku. Aku ragu dengan apa yang ingin aku bicarakan. “tapi lain kali kalau mau melakukan ‘itu’, bilang-bilang, ya?!” aku melanjutkan kalimatku yang sempat terpotong sambil mengalihkan pandanganku ke jam dinding yang menunjukan pukul dua dini hari.

“Syukurlah.” katanya seraya menghela nafas lega. “oh ya, maksudmu melakukan apa?” tanya Minho-ssi dengan rawut muka yang kebingungan.

“I-itu..” dia terlihat memutar otak, berusaha mencari memorinya. Hufh.. mungkin lebih baik aku memberitahukannya secara jelas. Aku memberikan isyarat agar dia sedikit mendekat. “ssh… sweshh.. swees.. swewewessh.. wesh..” bisikku ke telinganya. Aku menggigit bibir bawahku karena takut melihat reaksinya.

“Buwahahaha… haha..” tawa Minho-ssi meledak keras. Pabo!! Aku tutup mulutnya sampai dia berhenti tertawa.

“Minho-ssi, ini pagi-pagi buta. Jangan tertawa keras seperti itu ah~” kataku sambil mencoba melepas tanganku daari mulutnya.

“Buwaahahahahakkh.. hahakh..” tawanya semakin keras. Kali ini sampai airmatanya hampir keluar. Aku pasrah, pasti aku baru saja melakukan hal yang bodoh lagi. “kau.. kau sungguh berpikiran kalau kita melakukan ‘itu’?” aku hanya mengangguk. Dia menepuk jidatnya. “pantas saja hari ini kamu kelihatan linglung.” katanya dengan nafas yang masih tersengal karena tertawa. “Kita tidak melakukan apa-apa kok. Sekarang kamu bisa tenang.” matanya beralih lagi ke layar tv.

“Mworago?” tanyaku tidak percaya. Aku mengapit bed covernya lebih rapat lagi ditubuhku.

“Ne. Kita gak ngapa-ngapain. Apa Hyerin-ah sungguh berharap hal ‘itu’ terjadi?” pipiku memanas dibuatnya.

“Ta-tapi kemarin pagi aku bangun hanya dengan mengenakan baju tipis dan celana pendek yang aku pakai sebagai baju dalam. Dan sekarang? A-aku…” aku berusaha menjelaskan kenyataan yang sekarang sedang aku lihat, tapi Minho-ssi memotong pernyataanku dengan meletakan ujung telunjuknya di bibirku.

“Hyerin-ah, half groomku yang manis. Malam itu kamu mabuk. Saat aku pulang, aku menemukan sebuah kaleng bir yang baru diminum sedikit isinya di atas meja samping tempat tidur. Saat aku ke kamar, aku menemukanmu tepar kayak gini..” Minho-ssi memvisualisasikan gaya tidurku yang lebih mirip lumba-lumba yang terdampar. “nah, saat aku mau keluar dari kamar, kamu menggeliat megangin kepala dan tiba-tiba kamu bangun dengan kondisi setengah sadar sambil melepas semua pakaian kamu. Kalau gak salah, waktu itu kamu bilang ‘gerah’ deh.” katanya mencoba menjelaskan padaku.

“Hah? Jinjja??”

“Ne, maka dari itu aku tahu kalau kamu gak kuat minum dan itulah alasanku menolak ajakan Onew hyung tadi sore.

“A~ terus tadi malam?” tanyaku lagi dengan rasa ingin tahu.

“Aigo!! Gak percaya kalau kita tuh gak ngapa-ngapain?” aku menggeleng. “ok. Tadi malam aku emang ngeliatin kamu, terus kenapa? Lagian emang salah aku sampai kamu bisa tidur di bath-up kayak gitu?”

“Pingsan.”

“Iya, pingsan.” Minho-ssi membuang lagi wajahnya ke tv.

“Tapi kalau emang gak ngapa-ngapain, kenapa tempat tidurnya berantakan terus lampunya mati?”

“Aish.. kayaknya kamu memang mengharapkan itu terjadi deh.” Aku ternganga. “bercanda. Kalau itu sih karena vertigomu kambuh. Kamu menggeliat-geliat kayak ulet bulu. Coba liat punggung tanganmu.” Pintanya maasih dengan tatapan yang tak lepas dari acara malam yang sejak tadi ditontonnya. Aku melihat punggung tanganku tertempel skopolamin. “terus raba keningmu!” pintanya lagi. Aku memang merasakan ada yang menempel di dahiku. Aku cabut perlahan. Ternyata plester penurun demam. Aku demam?

Tiba-tiba dia bergeser tepat di sampingku, meraih tanganku, dan menatap dalam mataku. Tapi aku tidak bisa membalas tatapannya.

“Aku, meskipun hanya half bride bagimu, aku akan mencoba menjagamu sebaik pasangan sungguhan di luar sana. Dan karena itu, aku sama sekali gak ingin menyakitimu. Sudah cukup besar kesalahan yang aku perbuat selama ini, tapi kau tetap bersabar dan bertahan sampai selama ini.” Minho-ssi menghentikan kalimatnya untuk menarik nafas. “sekalipun aku punya hak untuk melakukan itu pada istriku, tapi aku gak ingin melakukannya disaat dia tidak sadar, bahkan saat dia memang tidak menginginkannya. Aku sadar, aku sangat sadar bahwa aku tidak memiliki hak dan kendali penuh atas dirimu.” Lagi-lagi dia membuatku menangis. Tuhan, aku tidak ingin saat-saat seperti ini berlalu dengan cepat.

“Ohhookk.. ohookk..” aku terbatuk.

Minho-ssi sambil beranjak menuju kamar. Aku mendengar Minho-ssi membuka kopernya. Sesaat kemudian, dia datang dengan membawa kotak obatku yang bahkan tidak kuingat kapan Ia membawanya. “Ini. Minum obat batuknya. Awas ya kalau vertigonya kambuh sampai separah waktu itu!” ancamnya sambil menuangkan obat batuk cair itu ke tutup bertakarnya dan mengarahkan padaku. “Aku sakit ketika melihatmu sakit.”

“Ohookk.. ohhokk..” aku terbatuk lagi, tapi batuk yang ini berbeda. Ini hanya akibat respon spontan setelah mendengar pernyataannya.

“Ya!! Ya!! Apa dosisnya kurang?” tanyanya setengah berteriak sambil mencari wajahku yang tertunduk.

“Anio, Minho-ssi.” kataku dengan suara yang pelan. Aku menengadahkan kepalaku kearahnya dan melontarkan senyumku. Aku lihat wajahnya berubah. “Arassho. Arassho.” aku mengerti artinya, “Anio, oppa.” akhirnya aku berani memanggilnya begitu.

Sial!! Pengaruh obatnya cepat sekali. Sekarang aku sudah mengantuk, padahal aku belum ingin mengakhiri semua ini. Aku pikir mungkin hari yang seperti ini tidak akan ada lagi di hari esok, jadi aku tidak ingin moment ini berlalu begitu saja.

Aku mengerjapkan mataku yang mulai berat. Aku masih melihat Minho-ssi mendorongku pelan kebelakang. Dia membiarkanku terbaring di kasur lipat yang dibentangkannya, kemudian dia sedikit membetulkan letak bantal kepalaku dan membatasi sisi sebelah kiriku dengan guling. Mungkin agar aku tidak berguling keluar batas kasur lipatnya.

Aku juga masih dapat melihatnya kembali fokus dengan siaran tv, beberapa saat sebelum aku benar-benar jatuh ke alam tidur. Setelah itu mataku terpejam, tapi aku masih dapat merasakan dirinya mengambil tempat di sampingku, berbaring. Kemudian dia menyisipkan tangannya ke kepalaku, menarik tubuhku dalam dekapannya, dan mengelus puncak kepalaku samapi aku benar-benar tertidur. (*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Minho POV

Hari ini aku sudah melakukan hal yang kurasa benar. Dua hari ini aku mencoba bersabar menghadapi perilakunya dan mencoba belajar bagaimana mengerti dirinya. Ternyata tidak sulit. Aku hanya butuh memberikannya kesempatan untuk menunjukkan apa yang Ia pikirkan. Dua hari ini, Onew hyung, Jonghyun hyung dan Kibum benar-benar membimbingku perlahan. Dan dua hari ini sudah, aku melihat apa yang selama ini personil SHINee dan Manager hyung lihat dari pribadinya.

Mereka telah membuka pikiranku tentang Hyerin-ah dan aku juga telah membuktikan sendiri cerminan seperti apa Hyerin-ah sebenarnya. Bahkan Taemin benar, ketika kita membiarkan diri kita untuk mengenalnya, maka ada perasaan seperti ingin melindunginya ketika aku melihatnya butuh perlindungan ataupun pertolongan. Taemin juga benar, Hyerin-ah tidak sama dengan wanita lain yang aku kenal didunia entertainment yang sangat sempit ini.

Untung aku mengikuti saran Kibum dan Onew hyung untuk membawa kotak obat pribadinya. Dan beruntungnya Kibum menyuruhku mempelajari semua isi obat-obatan itu.

Aku melihatnya berkedip menahan kantuk. Pasti efek obatnya sudah bereaksi. Aku mencoba membaringkannya pelan disampingku sambil menyingkirkan poni depannya yang sudah panjang dari wajahnya. Mataku memang ada di tv, tapi otakku tidak. Otakku sedang berkelana menuju kenangan-kenangan sepanjang hari ini. Dia ini polos sekali, sampai berpikir seperti tadi. Aigo!!

Hhh… ya sudahlah, hari ini biarlah tetap menjadi hari ini. Bagaimana esok, itu tergantung bagaimana kita menghargai hari ini, bukan? Lebih baik waktu yang tinggal beberapa jam ini aku manfaatkan untuk tidur, besok pagi kami harus pulang.

Aku ambil tempat disampingnya. Aku memeluknya dengan maksud tulus, bukan untuk mempermainkan hatinya atau memberikan harapan palsu. Aku memeluknya sebagai ucapan terimakasihku untuk semua yang dilakukannya selama ikatan pernikahan kami ini. Setelah aku yakin dia sudah terlelap, aku kecup keningnya.

*          I-el       *

Tok..Tok..Tok..

Terdengar suara ketukan dari pintu depan. Aku yang sejak beberapa waktu yang lalu sudah bangun, segera berlari membuka pintu.

”Oh, Onew hyung. Masuk dulu! Sebentar lagi aku turun, aku belum selesai membereskan barang-barang Hyerin-ah.” kataku sambil kembali bergegas ke kamar merapikan barang-barang Hyerin-ah.

”Cepat!! Yang lain sudah menunggu dibawah.”

Hyerin-ah belum bangun dan memang sengaja tidak aku bangunkan. Aku membiarkannya tetap tidur dengan posisi yang sama seperti saat dia tertidur. Kemudian aku keluar kamar dengan menenteng satu tas jinjing dan menarik satu koper.

”Hyung, bisa tolong bantu aku memakaikan jaket Hyerin-ah?” Onew hyung mengangguk. Aku menarik selimut yang menutupi tubuhnya.

”Mi-Minho.” aku mengalihkan mataku ke arah yang Ia lihat.

”Dasar!!” kataku sambil menggetok belakang kepalanya dengan tanganku. ”sudah, biar aku yang mengancingnya.” kataku dengan maksud mengusir. Aku melihat Onew hyung melempar senyum khasnya. Aku tahu dia tidak punya maksud apapun tadi, tapi tetap saja itu bukan haknya. Aku menggendong Hyerin-ah, sedangkan Onew hyung bersedia menolongku mengangkat barang-barang bawaan kami.

Sesampainya di lapangan parkir, Taemin membantuku membuka pintu mobil, Kibum menolongku mendudukan Hyerin-ah di kursi depan, dan Jonghyun hyung membantu Onew hyung meletakan barang bawaan di bangku belakang. Setelah itu, aku segera duduk di depan kemudi dan member SHINee yang telah membantuku, segera berlari menuju ke mobil yang mereka tumpangi. Kedua mobil kami membelah jalanan menuju Seoul.

Selama diperjalanan, aku terus memperhatikan Hyerin sambil berkata-kata dengan pikiranku sendiri. Aku bingung kenapa aku pernah kejam padanya, aku bingung kenapa aku tidak pernah menghargainya, bahkan aku tega menyianyiakannya. Sabarlah Hyerin-ah, kumohon sebentar lagi saja. Aku janji. (*** I-el)

TBC

N.B

Nah gmn critany? Bngung y? Keke maaf y?! ^^

Harap maklum, bginilah crita yg dbwt cuma dlm wkt 4 ar (soalny part 1&2 itu dibwtnya sminggu lbih, mkanya agk mndingan dkit). Klo kalian kecewa, aku mngerti kok. Ap jgn” critanya ga kyk yg kalian harapkan? Mian *bow

O ya, maaf skali lg. Part 4 ni ga bs dijadikan sbg Ending part. Maaf… maaf… maaf… maaf. Aku harap kesediaannya utk mnunggu part 5. Sabar ya. Janji deh part 5 nanti adlh ending. Ga enak jg klo klamaan. Keburu idenya buyar, ilang semua, dan ujung”nya cma jadi cerita picisan geje (perasaan ni FF dr awal juga picisan deh). Eh, maaf deh maaf, ya. Kalau misalnya ada part 6-nya (amit” jgn sampe) *getok” meja trus getok” jidat, di part 6 itu gak usah di comment gak apa” kok. Toh semua org harus ngambil konsekuensi dari apa yg dilakukan, kan? ^^

Thanks to: Admin (psti krja keras bwt edit pnyaku) >.<”, Lana (keinget wkt mlm” aku minta dia liatin HM part 1 udh nyampe ato blm) ^_^, bwt reader (udh ngeluangin wkt bwt baca dan comment pula) :-D, dan bwt Dee ‘S.Yo’ eonni (aku konsul dulu nih sma dia bwt bikin part 5 ini).

Pokoknya makasih deh bwt semua yg terlibat. Kalau ada yg blm disebutin, maklumin ya. Aku belum mengenal semua penghuni SF3SI. >n_n<

Sincerely,

Author: Ji I-el ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

80 thoughts on “Half Married – Part 4”

  1. I’am new reader mau ninggalin jejak low aq dah baca ne ff…aku puaaaaaaaasss *maksdnya?*
    Author Daebaaaaaaaaaakkkk,,, ayoo thooor bikin lagi nyang lebih seru !!!

  2. annyeong…….mantap oenni…mian baru comen….aku lupa comen karna masih berimajinasi gara2 ceritanya kemaren ne…..aku mohonn……lanjutin ceritanya dengan kecepatan secepat kilatttttttt…..(?????)
    aku udah setengah mati ne nunggunya…………..please……..T_T

  3. Ak adlh new reader. Sbnrnya sulit bgt buat ngertiin FF ini, cuz ak nggk bc part sblm nya.
    Tahun brapa sich si author buat nya?

    Tpi ttp keren kok.
    Mga aja ending ny b$a ak bca. ^^

  4. YAAAAAAAAAAA!!!!!!!
    LANJUTANNYA MANA OENNI….????
    GILA AKU NUNGGUNYA….
    penasaran oenni………….jebal…jangan lama-lama lanjutannya…
    yang penting cepat n banyak….(????)

  5. wwooowww ! udh slse part ini..
    aaaaa…
    hyerin pollooosss..
    kirain beneraann..
    hahaah.. *otak yadong*
    😛

    suka deecchh..
    tetep yee key keq emak2..
    *lirik key* sabar ya chagii.. kn masih ada akuu.. *peyuk keyy* :3

    sekiaann sy mau lanjut part berikutnyaaaaa~
    annyeeooonnggg..

  6. hoho… udah mau baikan^^ asikkk!!! menong baru nyadar punya dikit(?) perasaan sama hyerin^^… eheheh~ suka dehh!

    oh ya, next akhir yah? fly dulu ah~

  7. lanjuut thor!! aku kok malah ga rela ff ini cepet-cepet selesai *walaupun emang sekarang udah selesai, ya? hahaha*
    lanjut ke part 5~

  8. phew…… lega… nggak nyesek lg bacanya. minho udh prhatian sm hyerin.
    hahaha… hyerin punya pikiran yg sama ma aku, pas baca awal2 part ini…
    hehehe…. ketauan aku punya piktor… Tp bkal gmnendingnya ya???
    penasaran…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s