They Suddenly Came into My Days – Part 1

Title                       : They Suddenly Came into My Days (Part 1)

Author                  : myee

Main Cast            : Kim Soona, SHINee members

Support Cast      : Seo Jeo Hyun, Im Yeon Ji, Kang Ho Dong

Genre                   : AU (School), Friendship

Length                  : Sequel

Rating                   : G, biar aman 😀

—–

Author’s POV

Matahari sudah mulai meninggi. Bunga-bunga sudah mulai mekar dari kuncupnya, sedangkan udara hangat mulai mengisi Korea Selatan. Ya, ini awal April, saatnya tahun pelajaran baru.

Sesosok yeoja berdiri di depan teras sebuah rumah, bukan, lebih tepatnya sebuah mansion putih yang sangat mewah dan besar. Dia menatap langit yang terbentang luas di atas kepalanya. Awan putih telah menghiasi bentangan karpet biru dari ufuk timur hingga barat, dan matahari telah menunjukkan sinar hangatnya.

“Ho Dong ahjussi, appa mana?”, tanya yeoja bernama Kim Soona itu. Nothing special. Dia hanya seorang siswi SMA yang akan menapaki tahun keduanya. Gadis berambut panjang sebahu dilengkapi dengan poni. Ditambah dengan tas yang dipegang pada tangan kirinya. Tipikal anak sekolahan yang biasa.

Seorang namja berumur awal 40 tahun-an menghampiri dirinya, “Maaf, Soona agassi. Tuan besar sedang ada tugas kenegaraan di Amerika. Beliau akan diluar Korea kurang lebih selama sebulan”, ucapnya formal.

Yeoja itu hanya mengambil nafas panjang dan tersenyum kecut, “Lagi? Ya sudahlah, kamsa hamnida”, katanya lembut. Kim Soona, anak semata wayang seorang presiden Negara Korea, mungkin itu yang membuatnya dipandang berbeda. Keluarga yang kini diimilikinya hanyalah appanya, sedangkan eommanya telah meninggalkan mereka lebih dulu, sekitar 8 tahun lalu.

“Agassi? Mobil sudah disiapkan di depan gerbang”, ucap Kang Ho Dong, bawahan sekaligus kepala pengawal ayahnya yang sangat dipercaya. Ia sudah mengabdi pada keluarga besar Kim semenjak Soona berumur 6 tahun, bahkan Soona menganggapnya sebagai paman kandungnya sendiri.

Gadis itu menggeleng, “Anio… Aku mau jalan kaki saja… Bosan aku lama-lama pakai mobil terus”, katanya seraya meninggalkan rumahnya itu. “Tunggu, agassi. Apa benar tidak apa-apa?”, cegahnya. Soona menghentikan langkahnya.

“Gwaenchanayo, ahjussi. Aku bisa jaga diri, kok. Aku sudah berumur 17 tahun. Ya?”, katanya sambil tersenyum. “Ne, annyeonghi gasipsio, agassi”, balasnya sambil melambaikan tangan.

Setelah gadis itu pergi, ponsel kepala pengawal itu bergetar.

“Yeoboseyo? Ya tuan? Ya.. Ya… Nona sudah pergi. Oh? Kelima orang itu akan segera datang? Baiklah… Baik tuan. Ne… Saya mengerti.”

—-

Gadis itu melihat sekeliling. Sekolahnya masih sedikit sepi, mungkin hanya seperlima dari total seluruh siswa yang baru datang. Maklum, jam baru menunjukkan pukul 7 pagi lebih 15 menit, dan pembelajaran baru akan dimulai 45 menit lagi.

Ia berjalan menuju gedung utama dan berhenti di hall besar berisi loker-loker siswa. Saat ia hendak mengambil buku-bukunya, seseorang menepuknya dari belakang. Sontak hal itu membuatnya terlonjak kaget.

“YA! Jeo Hyun-ah! Jangan membuat orang sakit jantung seperti itu!”

Seo Jeo Hyun. Ia adalah sahabat Kim Soona semenjak mereka menginjak bangku sekolah dasar. Ia adalah salah seorang atlet basket putri yang membawa nama Korea Selatan ke tingkat internasional. Berkat prestasinya di bidang olahraga tersebut, ia diterima di Seoul International School, sekolah terbaik di Korea ini, melalui jalur beasiswa.

“Soo~ Jangan marah dong~ Tumben banget pagi buta gini udah dateng, biasanya kan kamu telat terus…”, katanya sambil terkekeh. Soona menggembungkan pipinya dan mengacak-ngacak rambut Jeo Hyun.

“Kelas kita dimana?”, tanya Soona. “Di lantai tiga. Khajja!”

Mereka berdua segera berjalan menuju lantai tiga. Sesampainya di sana, ada seseorang yang sedang tertidur lelap di bangku dekat jendela. Mereka berdua terkekeh dan berjalan mengendap menuju orang yang tengah terlelap itu.

“YA~! IM YEON JI! JANGAN MOLOR TERUSS!”, teriak keduanya.

Sosok yang tidur itu sontak langsung bangun dan menatap keduanya tajam. “KALIAN! Aku lagi tidur kok diganggu, hah?”

Yeoja itu bernama Im Yeon Ji, teman Jeo Hyun dan Soona semenjak mereka di bangku SMP. Dia adalah seorang siswi yang tergolong cukup dikenal di sekolahnya. Hasil fotografinya pernah memenangkan lomba di tingkat nasional, ditambah kemampuan otaknya yang tergolong cukup tinggi. Dia meruapakan seorang anak dari diplomat terkemuka di Korea.

“Hihi, mianhae~”, kata Soona sambil menaruh tasnya di bangku sebelah Yeon Ji.

Jeo Hyun langsung mengambil tempat duduk di depan Yeon Ji, “Lagian ini masih pagi. Kenapa bisa ngantuk sih?”

Yeon Ji menguap dan meregangkan tangannya, “Capek banget~ Semalam aku nunggu eomma pulang dari London, eh baru nyampe Incheon jam 1 malem…”

Jeo Hyun dan Soona hanya manggut-manggut. “Eh, kalian mau tetep di klub masing-masing?”, tanya Jeo Hyun.

“Hm~ Belum tau, nih… Kalau fotografi tetep aku yang pegang. Mau gimana juga kan aku ketuanya. Tapi pengen juga sih ikut klub yang lain”, jawab Yeon Ji.

“Kalau kamu, Soo?”. Yeoja itu tersenyum, “Tetep di paduan suara, kok.”

Jeo Hyun mengangguk, “Aku juga tetep fokus di basket.”

“Terus buat besok, pas pengenalan ekskul-ekskul gitu, klub kalian udah pada nyiapin belum?”, tanya Yeon Ji.

“Kata Hyo Yeon eonni sih bakal kayak latih tanding gitulah, seluruh anggota basket putri dibagi jadi 2 tim, terus kita kayak tanding gitu”, ucap Jeo Hyun.

Yeon Ji menoleh padaku, “Kalau klubmu?”

“Jino sunbae sama Tae Yeon eonni udah nyiapin formatnya. Kita bakal ngadain sejenis pertunjukan gitu di hall barat sekolah”, kataku sambil mengambil iPodku.

“Parah  ya, baru masuk udah sibuk gini”, ujar Yeon Ji. Mereka bertiga melenguh panjang.

——

Sementara itu…

Kediaman Keluarga Kim (Still Author’s POV)

Kang Ho Dong terlihat sedang menunggu seseorang. Ia tengah duduk di ruang tamu kediaman keluarga Kim, lengkap dengan segelas teh yang mulai mendingin di meja. ‘Ini sudah lewat satu jam dari waktu yang dijanjikan, mana mereka?’, pikirnya.

Dia terus menatap jam yang ada di tangannya, dan tiba-tiba terdengar sebuah bunyi klakson mobil. Ia menatap keluar jendela, dan terlihat sebuah mobil hitam telah sampai di halaman rumah besar itu.

Lima orang namja berpakaian rapi –memakai setelan jas– terlihat keluar dari mobil itu. Kang Ho Dong beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu utama.

“Selamat datang. Silakan masuk”, ucapnya.

Kelima namja itu membungkuk sopan dan mengikuti Ho Dong. “Pertama-tama, bisa perkenalkan diri kalian?”, tanya Ho Dong.

Namja yang berdiri paling kanan itu membungkukkan dirinya, “Lee Jinki imnida. Anda bisa panggil saya Onew”, ucapnya sopan.

“Kim Jonghyun imnida”, ucap namja di sebelahnya sambil tersenyum.

Lelaki di sebelahnya membuka kacamata hitamnya, “Kim Kibum. Panggil aku Key”, ucapnya singkat sambil membungkuk.

“Choi Minho. Anda bisa memanggil saya Minho”, lanjut namja jangkung di sebelahnya.

Ho Dong melirik laki-laki yang berdiri di paling kiri. “Lalu yang terakhir?”

“Lee Taemin imnida”, ucapnya sambil tersenyum.

Kang Ho Dong mengangguk, “Baiklah. Silakan duduk. Akan kujelaskan tugas kalian kali ini.”

Kelima laki-laki itu duduk di hadapan Ho Dong. “Baik. Aku Kang Ho Dong, kepala pengawal di sini. Apakah kalian tahu siapa atasan kalian kali ini?”

Jinki menatap Ho Dong, “Kim Soo Ro, presiden Korea. Benar kan ahjussi?”. Ho Dong tersenyum, “Dan sekarang, bisa kalian lihat ini?”

Ho Dong mengeluarkan secarik surat berwarna putih dan meletakkannya di meja. Jonghyun mengambil dan membukanya. Ia mengrenyitkan dahinya. Keempat namja lainnya membaca surat itu bergantian.

“Ini…”, ucap Jinki. Ho Dong berdiri dari kursinya dan menatap keluar, “Ya. Tugas kalian adalah melindungi nona ini”, ucapnya sambil menunjukkan sebuah foto. Foto seorang Kim Soona.

“Surat itu datang dua hari yang lalu, saat tuan besar Kim masih di Korea. Saya, sebagai ketua pengawal keluarga Kim berkewajiban untuk mengambil alih semua keamanan di sini. Namun, saya juga tidak bisa selamanya menjaga Soona agassi di sini. Saya juga ada tugas menjaga tuan Kim selama beliau keluar negeri”, lanjutnya.

Kang Ho Dong menjentikkan jarinya, dan seketika muncullah 3 orang berpakaian setelan jas mengahapiri mereka berenam. Mereka membawa lima koper.

“Bukalah. Itu tugas kalian”, kata Ho Dong. Kelima namja itu beranjak dari duduknya dan masing-masing mengambil koper-koper tersebut.

Kibum mengrenyitkan dahinya, “Baju ini…”, tanyanya heran sambil mengangkat sehelai kemeja berwarna putih.

Ho Dong tersenyum, “Kudengar umur kalian masih tergolong muda, benar? Dan yang tertua adalah kau, Lee Jinki. Dan umurmu baru memasuki 20 tahun…”

“Ne”, jawab Jinki singkat.

“Kalian akan masuk ke dalam sekolah Soona agassi, dan tolong jaga dia. Ingat, sekolah itu merupakan salah satu sekolah ter-elit di Korea Selatan, sehingga banyak juga anak petinggi Korea yang bersekolah di sana. Jadi, mungkin tugas kalian juga mencakup melindungi sekolah itu dari ancaman orang lain. Namun tetap yang utama adalah lindungi Soona agassi”, terang Kang Ho Dong.

“Saya percaya kalian berlima. Saya mendapat informasi bahwa kalian sebelumnya juga pernah mengawal beberapa pejabat negara…”, lanjutnya sambil tersenyum. Ho Dong menghampiri Jinki dan mengulurkan tangannya, “Setuju bekerjasama dengan kami, Lee Jinki?”, tanyanya.

Jinki tersenyum , “Anda bisa mempercayakan kami, Kang Ho Dong ahjussi. Aku dan ayahku sudah bersumpah akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga besar Kim.”

Jonghyun menghampiri mereka berdua, “Maaf. Kapan ini dimulai?”

Ho Dong menoleh, “Mulai hari ini. Tidak usah kalian anggap terlalu serius. Tugas ini tidaklah terlalu sulit, bukan? Hanya lindungi Soona agassi. Apabila pelaku pengirim surat itu ditemukan dan ditangkap, selesailah tugas kalian. Kami, seluruh pengawal keluarga Kim juga akan turut ambil alih hal ini. Kalian juga tidak usah mengkhawatirkan tuan besar Kim, karena beliau ada di dalam pengawalan kami. Dan ingat, jangan sampai nona tahu mengenai tugas kalian. Mengerti?”

Kelima namja itu saling bertatapan dan tersenyum, “Ya.”

—–

Pukul dua siang, saatnya Soona keluar dari kelasnya. Ia dan kedua seniornya, Tae Yeon eonni dan Jino sunbae sudah sepakat untuk mengadakan rapat tentang acara pengenalan seluruh klub untuk esok hari.

DRRRT.DRRRRRRRRT. Ponsel Soona bergetar. Langkahnya terhenti di depan pintu kelasnya dan mengangkat telepon itu.

“Yeoboseyo? Ah, Ho Dong ahjussi. Waeyo?”, tanyanya.

“Agassi pulang jam berapa? Saya akan menjemput agassi..”

“Ya~ Sudahlah, ahjussi. Aku bisa pulang sendiri kok, ya?”

“Agassi, tuan Kim sudah berpesan kepada saya untuk mengawasi agassi selama beliau keluar negeri… Mohon dimengerti…”

Soona melenguh panjang, “Ya sudah. Jam tiga aja. Aku masih ada urusan…”

“Baik. Nanti kami akan menjemput pukul tiga. Terima kasih atas perhatiannya, agassi.”, ucapnya sambil menutup telepon.

Soona meletakkan ponselnya kembali di sakunya. ‘Appa… Sampai kapan appa mau terus over protektif terhadapku?’, tanyanya dalam hati.

“Soona-ah, khajja!”, ajak Tae Yeon eonni sambil menepuk bahu Soona. “Ne…”, ia mengikuti seniornya itu menuju ruang klub.

—–

“Mana Ho Dong ahjussi? Katanya mau jemput… Ini sudah jam empat…”. Soona menghentak-hentakkan kakinya pada lantai marmer hall sekolahnya. Sudah kesekian kalinya ia mengelilingi hall besar yang kosong itu, dan Kang Ho Dong belum saja datang.

“Maaf, anda Kim Soona?”, ucap seseorang di belakang Soona.

Soona menoleh ke belakang, dan ternyata tengah berdiri seorang namja yang memakai cardigan berwarna hitam. Dia tersenyum.

“Ya, aku Soona.Nuguseyo?”, tanyanya pelan.

Namja itu mengulurkan tangannya, “Aku Kim Jonghyun, bawahan Kang Ho Dong.”

Soona memiringkan dahinya. ‘Tidak mungkin orang semuda ini menjadi seorang bodyguard’, pikirnya dalam hati.

“Hmm… Boleh aku memastikannya dulu pada Ho Dong ahjussi? Maaf, bukan maksudku–“. “Aniyo… Tidak apa-apa, silakan”, potong Jonghyun sambil menarik lagi tangannya.

Soona mengambil ponselnya dan menelpon Ho Dong.

“Yeoboseyo?”

“Ah, agassi. Ada apa?”

“Emm… Ini… Ada orang bernama Kim Jonghyun yang menjemputku… Benar itu bawahanmu, ahjussi?”

“Oh, ya ya. Kim Jonghyun, benar. Dia yang menjemput agassi saat ini, karena saya ada tugas untuk mengawal tuan besar Kim, jadi saya harus pergi ke Amerika sekarang…”

“Hmm, baiklah. Kamsa hamnida, Ho Dong ahjussi. Jaga kesehatanmu ya!”

“Cheonmaneyo, agassi”, ucapnya sambil memutus saluran telepon.

Soona kembali menatap Kim Jonghyun yang sedang duduk di bangku dalam hall, kemudian ia menghampirinya.

“Sudah meneleponnya?”, tanyanya sambil berdiri.

Soona mengangguk, “Oke. Aku percaya.”

Jonghyun tersenyum, “Ayo, kuantar kau ke mobil.”

Soona mengikutinya dari belakang. Ia berhenti di depan sebuah mobil berwarna hitam, dan masuk ke jok belakang. Ia melirik ke jok depan, dan terlihat seorang namja tengah duduk di jok kemudi.

“Kau siapa? Aku belum pernah melihatmu…”, ucap Soona pelan.

Lelaki itu membuka kacamata hitamnya dan menoleh kepada Soona. “Oh, maaf. Aku Lee Jinki, kau bisa memanggilku Onew. Mulai sekarang aku adalah salah satu bodyguardmu”, katanya sambil tersenyum.

“… Baiklah…”, kata Soona heran. ‘Kenapa Ho Dong ahjussi memilih mereka berdua sebagai bodyguard baruku? Mereka kan masih muda? Kenapa?’, tanya Soona dalam hati. Hal itu terus berputar-putar dalam kepalanya.

Sesampainya di rumah, Soona langsung pergi ke kamarnya. Ia mengganti baju seragamnya dengan baju rumah yang nyaman, kemudian ia menghempaskan dirinya di kasurnya yang empuk.

“Kim Jonghyun dan… Lee Jinki…”, ucapnya pelan. ‘Tumben appa menyuruh anak muda seperti mereka menjadi bawahan Ho Dong ahjussi’, pikirnya.

“Ya sudahlah, mending aku kerjakan tugasku sekarang”, katanya. Ia duduk di meja belajarnya dan mulai membuka buku-buku matematikanya. Sungguh aneh, baru masuk sudah ada tugas yang lumayan menumpuk. Belum lagi tumpukan partitur lagu yang harus dipelajari untuk besok.

Setelah mengerjakan tugasnya, ia beranjak dari meja belajarnya dan mengambil partitur dari tasnya. Kemudian di duduk di depan clavinova miliknya.

Ia mendentingkan tuts-tuts piano sesuai not balok yang tertera pada kertas itu. Ia juga berlatih vokal untuk menyeimbangkan suara Tae Yeon eonni dan Jino sunbae, ditambah lagi suara-suara anggota paduan suara yang lain.

Tok tok tok. Ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.

“Ya, tunggu…”, Soona beranjak dari kursinya dan membuka pintu. Terlihat seorang namja (lagi) yang tengah berdiri di hadapannya. Soona segera menutup pintu. Tunggu… Rambut jamur? Nugu?

Ia membuka lagi pintunya. Namja rambut jamur itu sekarang tersenyum.

“Maaf… Nuguseyo?”, tanya Soona heran.

“Aku Lee Taemin, maaf mengagetkanmu. Sekarang udah jam setengah tujuh, waktunya makan malam”, ucapnya.

Soona menggaruk-garuk kepalanya, “O-ooh… Oke, aku mau mandi dulu…”

Laki-laki bernama Taemin itu hanya tersenyum dan meninggalkan pintu kamar. Soona beranjak menuju kamar mandinya dengan kepala penuh tanda tanya. ‘Oke, itu sudah namja yang ketiga… Ada lagi hah?’, tanyanya dalam hati.

Setelah kurang lebih 30 menit ia berada di kamar mandi, ia turun ke lantai bawah. Ia melihat 3 laki-laki yang telah ia temui sebelumnya sudah berada di ruang makan. Mereka tengah berbicara sesuatu. Sepertinya.

“Ah, kau sudah mandi rupanya”, ucap Jonghyun.

Soona hanya menggagguk dan duduk di kursinya. “Anak ini lama sekali mandinya”, kata seseorang ketus di belakang Soona. Soona mengrenyitkan dahinya.

“Hei, Kibum. Jaga mulutmu. Dia itu seorang yeoja, maklumilah”, kata Jinki.

“Kibum?”, tanya Soona. Jinki menoleh kepadanya, “Oh, maaf. Aku lupa mengenalkannya padamu. Dia Kim Kibum, bodyguard barumu juga”, ucapnya sambil menunjuk namja di belakang Soona. Tampak seorang pemuda dengan tampang cukup ‘sombong’ dan ketus.

“Tunggu, tunggu! Aku belum ngerti, nih! Jadi kalian berempat itu siapa sih? Kenapa tiba-tiba dateng ke sini?”, tanya Soona.

“Bukan berempat, tapi berlima…”, seorang laki-laki berjalan dari ruang tengah menuju ruang makan. “Aku Choi Minho, salam kenal”, lanjutnya sambil duduk di kursi meja makan dan mengambil piringnya.

“Baik. Berlima. Sekarang bisa jelaskan kenapa kalian di sini?”, lanjut Soona.

Jinki memiringkan kepalanya, “Kan sudah kubilang kami ini bodyguardmu mulai sekarang… Hmm, pengawas sih lebih tepatnya.”

Soona menatap mereka berlima heran, “You came here all of sudden! Appaku belum memberitahuku tentang hal ini, kalian tahu?”

“But, that’s the truth. We’re your new bodyguards”, ucap Taemin singkat sambil duduk di sebelah Minho.

“Tapi kalian masih terlalu muda untuk menjadi seorang bodyguard, tahu! Lagian aku gak terlalu butuh bodyguard, aku udah bisa jaga diri!”, Soona berdecak kesal.

Minho menaikkan sebelah alisnya, “Jadi kau tidak mengakui kemampuan kami?”

“Aaah~ Rupanya nona kecil ini belum tahu siapa kita ya?”, ucap Kibum sambil menyeringai.

Soona mendelik tajam, “Nona kecil? Aku ini sudah kelas satu SMA!”

“Tapi kelakuanmu seperti anak umur 5 tahun”, lanjut Kibum sambil memakan apel yang ada di meja.

Soona menggebrak meja, “SIAPA KAU? MEMANGNYA KAU SUDAH MENGENALKU SELAMA BERAPA LAMA, HAH?”

Kibum menatap Soona, “Tuh kan? Segitu aja udah marah. Dasar anak kecil.”

Pipi Soona memerah. Dia segera beranjak dari ruang makan. “Tunggu! Makan malamnya gimana?”, tanya Jonghyun. “Aku tidak lapar!”, teriak Soona. Jonghyun hanya mendengus.

Jinki menatap Kibum. “Ya, Key… Ubah sikap ‘terlalu jujur’-mu itu… Bagaimanapun juga dia adalah orang yang harus kita lindungi sekarang…”

Kibum hanya mengambil nafas panjang, “Ya… ya… Aku tahu.”

——

Keesokan harinya…

Kim Soona’s POV

“nggh~ jam berapa sekarang?”

Aku berusaha membuka mataku. Sinar matahari sudah menembus jendelaku. Siapa yang membuka gordennya sih?

“Ya! Ayo bangun! Sudah jam tujuh pagi!”, ucap seseorang sambil menepuk-nepuk tangannya.

Aku duduk di tempat tidurku. “MWO? JAM TUJUH? AKU TERLAMBAT!!”, sontak aku panik dan langsung masuk ke kamar mandiku. Aku tidak sempat melihat pemilik suara yang membangunkanku itu, aku terlalu panik.

Aku hanya mandi selama sepuluh menit. Aku buru-buru memakai seragamku, mengikat rambutku, dan langsung membereskan buku-bukuku. Setelah selesai, aku berlari ke lantai bawah, tepatnya ke ruang makan. Kulihat ada beberapa buah roti bakar dan setoples selai coklat, selai kesukaanku. Aku langsung mengoleskannya ke atas roti itu.

Setelah kurang lebih 5 menit makan, aku meneguk habis susu yang sudah tersedia dan langsung berlari menuju depan rumahku. Ternyata mobilku sudah menunggu di depan teras rumah. Aku cepat-cepat masuk ke dalam mobil dan mengambil nafas panjang. “Untung keburu…”, kataku pelan.

“Pagi, noona…”, kata seseorang di sebelahku. Aku menoleh, kalau tidak salah, namanya Lee Taemin. Dia memakai seragam sekolah yang sama denganku.

“MWO?”, aku terkejut.

“Kamu sapi ya? Susah banget dibanguninnya”, ejek seseorang di belakangku. Tidak salah lagi orang itu adalah Kibum, si menyebalkan itu. Dan dia memakai seragam yang sama dengan Taemin. Di sebelahnya sudah duduk seorang namja yang kuingat namanya adalah Minho. Dia juga memakai seragam sekolahku.

“Tunggu! Apa ini?”, kataku heran.

“Lho? Aku belum bilang ya? Sekarang kita satu sekolah, lho”, ucap Jonghyun dari jok depan. Dan lagi-lagi, dia memakai seragam yang sama dengan tiga orang lainnya.

“Aku dan Jonghyun di tingkat tiga, Taemin di tingkat satu, sedangkan Kibum dan Minho di tingkat dua, sama sepertimu. Mohon kerja samanya ya”, kata Jinki sambil menyalakan mobilnya.

YA TUHAN, MIMPI BURUK APA AKU SEMALAM?

—–

TBC

P.S          : Ini cerita pasaran banget ya? Maaf yah kalau banyak yang cacat alias gak rame, mohon saran dan kritiknya yah ehehehe (deep bow).

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

22 thoughts on “They Suddenly Came into My Days – Part 1”

    1. wah masa?
      beneran deh ini fanfic pasaran banget idenya ya kalau gitu?

      oke, aku liat blognya deh yaaa, thankyou chingu!

  1. eh, fanfic gue di plagiat!!! tau malu dong!! masa fanfis loe mirip sama fanfic gue, pake bilang tu cerita pasaran!!! KALO SAMPE TUH CERITA LANJUTANNYA SAMA KAYA DI BLOG GUE, GAK SEGEN-SEGEN GUE TABOK!!!

    mirip sama fanfic gue yang My bodyguard Part 1

    http://nytagrazer.blogspot.com/2011/01/my-bodyguard.html

    My Bodyguard part 2

    http://nytagrazer.blogspot.com/2011/01/my-bodyguard-part-2.html

    My bodyguard part 3

    http://nytagrazer.blogspot.com/2011/01/my-bodyguard-part-3.html

    ->admin : Untuk author bisa tolong sms Lana? liat no nya di page LANA ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s