CLICK “F” FOR FAME : DUCK TURNS INTO SWAN (Part 2)

CLICK “F” FOR FAME

DUCK TURNS INTO SWAN (Part 2)

Author : Eci a.k.a PeppermintLight

Main Cast : Tae Min SHINee

Support Cast : Min Ho SHINee

Genre : Mystery, Friendship, Romance

Rating : General

Length : Chaptered

PS 1: oke, setelah mikirin mekanisme kerja si Tae Min di sini (dan nggak dapet ide lain), akhirnya saya memutuskan untuk meniru sistem kerja Mr. Parker Pyne di novel Parker Pyne-nya Agatha Christie (lupa judulnya). Bedanya, kalo Parker Pyne itu lewat kolom iklan surat kabar, kalo Lee Tae Min lewat situs.

PS 2 : this fan fiction is also published on ffindo

Part 2

“Cantiknya anak Umma!” Umma Hye Ram berdecak bangga ketika putrinya itu mematut diri di depan kaca malam itu. Hye Ram kini mengenakan gaun malam hitam selutut yang asimetris dengan pita biru tua di pinggangnya. Rambutnya ditata rapi dengan jepit rambut berwarna senada dengan pita biru besar di pinggangnya. Kacamatanya benar-benar sudah tersimpan rapi di kotaknya. Hye Ram bahkan tidak ingin menyentuhnya lagi. Soft lense coklat pemberian Tae Min bagaikan sudah melekat di matanya.

“Aku pergi dulu, Umma,” pamit Hye Ram anggun. Umma mengangguk.

“Kamu pulang jam…”

“Mungkin lewat tengah malam, Umma. Atau bahkan mungkin aku tidak pulang. Teman-temanku mengadakan pesta dengan jadwal until drop dan aku tidak ingin melewatkan satu pun acara di sana,” ujar Hye Ram tanpa rasa bersalah. Terlihat sedikit perubahan di wajah Umma Hye Ram. Beliau bersyukur, Hye Ram tidak jadi anak yang “tampak berkorban” lagi. Tapi sepertinya ada yang salah dengan perubahan putrinya ini.

Hye Ram pamit kemudian pergi setelah terdengar bunyi klakson tiga kali di depan pintu rumahnya. Seorang namja bertuxedo tidak rapi keluar dari mobilnya dan membukakan pintu penumpang samping untuk Hye Ram.

“Cantik,” komentar namja itu sembari menyetir. Hye Ram tersipu. Baru kali ini ia dengar seorang namja yang terang-terangan bilang padanya kalo dia cantik.

“Makasih, Han Ryeo Joon,” ucap Hye Ram. Namja bernama Ryeo Joon itu ketawa.

“Panggil Ryeo Joon ajalah. Toh kita udah jadian kan,” ujarnya. Hye Ram kembali tersipu. Ryeo Joon memang udah jadi pacarnya sekarang. Namja yang dulu bahkan tidak menyadari keberadaannya di sekolah.

Mobil memutar ke pelataran parkir sebuah hotel mewah. Ryeo Joon dan Hye Ram berjalan berdampingan usai memarkir mobil menuju ke lobi hotel.

$$$$$$$$$$

Di tempat yang sama, Tae Min berjalan menyusuri lobi hotel sambil sesekali merapikan tuxedonya. Ia merasa sedikit risih dengan pakaian formal kayak gitu. Sepatu yang dipakenya sekarang terasa berat. Maklum, Tae Min biasa pake sepatu kets.

“Keiya,” ujarnya. Keiya menoleh dan menghela napas.

“Kamu bakal aku kasih hadiah payung cantik kalo sekali lagi kamu bilang kamu risih pake baju itu. Ayolah, Taem…sesekali formalan dikit kenapa sih?” decak Keiya. Gadis itu tampak cantik dengan gaun turtle neck asimetris yang sisi kirinya menjuntai hingga tumit dan sisi lainnya hanya sebatas lutut. Warna pink salem cocok sekali untuknya. Kepalanya dihiasi sejenis gelang kepala (*bodo amatlah namanya apa) perak, melengkapi indahnya rambut ikalnya yang panjang.

“Aku nggak ngomong gitu kok,” ujar Tae Min lagi.

“Trus kenapa manggil aku?”

“Cih. Aku cuma mau tanya kita pulang jam berapa,” ujar Tae Min. Ia menggaruk-garuk belakang lehernya. Tuxedo baru ini dibelikan Min Ho beberapa bulan yang lalu untuknya sebagai hadiah gaji pertamanya kerja part-time. Bukan gaji pertama sih…, tapi gaji yang dikumpulin. Tuxedo kan nggak murah. Pas ditanya kenapa malah beli tuxedo, jawaban Min Ho aneh bin ajaib.

“Ya supaya nanti pas ikutan pesta sama Keiya kamu nggak perlu cari tempat sewaan tuxedo. Gimana sih kamu, Taem,”.

Dan perhitungan Min Ho nggak salah. Ini kali pertamanya Tae Min mengenakan pakaian sebagus itu. Bersama Keiya.

“Liat nanti deh pulang jam berapa,” sahut Keiya. Tae Min mensejajarkan langkahnya dengan langkah Keiya. Gadis itu jago jalan cepat. Nggak peduli lagi pake rok atau high heels.

“Eh, nggak bisa gitu dong! Kalo pestanya sampe pagi gimana? Aku belum belajar Fisika buat besok!” protes Tae Min.

“Aku kan bilangnya ‘liat nanti’, bukannya mau nurutin yang ngadain pesta. Lagian emang besok ulangan Fisika?” tanya Keiya. Tae Min menggeleng. Keiya tersenyum.

“Ya udah, ya udah. Jam 10, oke?” ujarnya.

“Jam 9,”

“Sepuluh, Tae Min…”

“Sembilan atau aku pulang sekarang,” ujar Tae Min tegas. Dia nggak suka angin malam. Toh dia bukan mikirin dirinya sendiri. Dengan baju kayak gitu Keiya mana mau disuruh pake jaket, meskipun mereka lagi ada di dalam mobil ber-AC.

Keiya memandangnya sejenak.

“Sepuluh,” gadis itu tetap berargumen.

“Pulangnya nanti hati-hati,” ucap Tae Min sembari berbalik menuju ke arah pintu keluar. Keiya menahan senyumnya. Gadis itu masih berdiri di tempatnya sementara orang lain berlalu lalang. Ia paham sifat Tae Min.

Benar saja, nggak nyampe lima menit terlihat Tae Min dan tuxedonya berjalan menghampiri Keiya. Gadis itu terkikik geli ngeliat muka Tae Min yang merah padam.

“Kok balik?” tanya Keiya.

“Aku lupa pintunya di mana. Puas? Nyebelin banget sih malam ini?” gerutunya. Keiya berusaha menghentikan tawanya dan melanjutkan.

“Kalo kamu mau pulang jam 10 aku tunjukin pintu keluarnya,”

“Keiya! Nggak lucu! Biar aku cari sendiri…”

“Ya Tuhan…, iya deh iya deehhh…jam sembilan. Udah sekarang masuk yuk!” Keiya menarik tangan Tae Min menuju lokasi pesta ulangtahun teman sekelas mereka, Kim Sera.

Di sana semua tamu sudah berkumpul. Area pesta seperti membentuk suatu galaksi sendiri. Galaksi gemerlap. Sangat menunjukkan kalo para tamu undangan Kim Sera secara nggak langsung merupakan kumpulan para pecinta kehidupan jetset. Tae Min menghela nafasnya. Ia mulai merasa tidak nyaman. Kalau Keiya tidak mendesaknya untuk menemaninya memenuhi undangan Sera saja mungkin Tae Min lebih memilih membuka-buka situsnya daripada mesti bergabung di sini.

“Kamu kan juga dapat undangannya, Taem? Bukannya si Sera bakal kecewa kalo kamu nggak dateng?” gitu alasan Keiya waktu itu. Akhirnya Tae Min menyanggupi.

Lagipula Tae Min nggak mau kalo Keiya pergi sama namja lain.

Sera membuka acara dengan sambutannya yang berisikan ucapan syukur kepada Tuhan dan juga ucapan terima kasih buat para undangan yang datang.  Gadis itu mengenakan gaun malam yang menjuntai hingga menyentuh lantai dengan kristal-kristal yang bertaburan di bajunya. Orang populer memang beda.

Usai acara tiup lilin dan potong kue (Tae Min menghitung-hitung harga kuenya Sera yang kira-kira lebih mahal dari soft lensenya Hye Ram), dimulailah acara bebas. Musik mulai mengalun. Have Fun Go Mad yang dibawakan oleh Blair menjadi pemeriah suasana malam itu. Dance floor jadi saksi setiap hentakan kaki para tamu.

Tae Min hendak menjauh dari kebisingan ketika suara Blair digantikan oleh Let Me Love You-nya Mario. Extended version lagi, bukan yang akustik. Tae Min tersenyum merasakan beat lagu itu dan kakinya mulai memimpinnya ke dance floor.

Tae Min mulai menghentakkan kakinya mengikuti beat. Kemudian ia menggerakkan tubuhnya pelan, meliuk sejenak, kemudian berhenti dengan pose robotiknya – membungkuk sedikit dengan kepala ditundukkan dan tangan kanannya merentang lebar. Seisi ruangan menggumam-gumam. Tapi nggak ada yang protes dengan aksinya Tae Min yang seakan menginterupsi kesenangan mereka malam itu.

Kemudian Tae Min berputar di tempatnya, makin lama makin cepat. Dan selanjutnya, Tae Min melakukan gerakan-gerakan dance mengikuti irama Let Me Love You yang sedang berkumandang. Makin lama para tamu yang sebagian besar remaja itu makin bersorak. Dan tepuk tangan yang riuh serta sorakan “we want more” mengguncang dance floor ketika Tae Min dengan manis menutup dancenya. Namja dengan senyum mempesona itu memberikan bow seakan dia baru saja mempersembahkan penampilan yang benar-benar memukau di tribute concertnya Michael Jackson.

Mata Tae Min menangkap Keiya. Gadis itu ikut bertepuk tangan riuh. Tae Min tersenyum. Ia suka melihat wajah Keiya ketika sedang tertawa dan tersenyum.

“Wohouw! Kamu barusan ngedance?!! Ya Tuhan, Ya Tuhan…, kamu tadi keren banget Lee Tae Min! Aku nggak tahu lho kamu bisa nge­dance!” seru Keiya berkali-kali pas Tae Min menghampirinya. Namja itu tertawa melihat wajah Keiya yang takjub.

“Hahaha. Udah ah, ke meja makan yuk. Haus aku daritadi, mau ke sana nggak ada temen,” ujar Tae Min. Keiya ketawa ngakak dan mengacak-acak rambut Tae Min. Kemudian ia menarik Tae Min menuju meja makan dan mereka mengambil gelas berisi limun berwarna pink. Tae Min menghabiskan minumannya dan hendak mengelap mulutnya dengan lengan tuxedonya ketika Keiya menahannya.

“Ya ampun, jorok. Tuxedo mahal dipake buat ngelap mulut. Sini!” Keiya mengambil tisu yang disediakan di meja buffet dan perlahan membersihkan mulut Tae Min. Namja itu diam saja. Sekarang dia pasrah kalau ternyata Keiya bisa mendengar detak jantungnya yang terasa berkali-kali lipat memompa darahnya. Tangannya berkeringat dingin. Keiya benar-benar membuatnya salah tingkah.

“J…jam berapa ini, Kei?” tanya Tae Min gugup. Keiya melirik arloji kecil peraknya dan menaikkan alisnya.

“Udah mau jam sembilan. Mau pulang sekarang?” tanyanya. Tae Min mengangguk. Setidaknya ia bisa punya kesempatan untuk meredakan debaran di dadanya karena kejadian barusan.

Keiya menelepon supir pribadinya supaya mengeluarkan mobil dari parkiran dan menjemput mereka di depan entrance hotel. Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar hotel menuju mobil yang sudah menunggu di depan.

Tae Min melonggarkan dasinya dan membuka jas tuxedonya. Ia memasangkan jasnya pada Keiya. Gadis itu menoleh.

“Loh?”

“Udah pake aja. ACnya dingin. Lagian inilah makanya aku nggak mau kalo kita pulang kelewat malem. Aku sih nyantai aja, soalnya pakaian aku udah berlapis-lapis. Tapi kamu kan pake gaun. Masuk angin tahu rasa,” ujar Tae Min sambil membuang pandangannya ke arah jendela mobil. Dia nggak mau Keiya melihat rona merah di wajahnya.

Keiya tersenyum dan merapatkan jas Tae Min ke tubuhnya. Udara di dalam mobil memang dingin banget buat jam segini.

“Tae Min,…”

“Hm?” sahut Tae Min, memberanikan diri menoleh.

“Kamu ke sini nggak pake parfum ya? Ini tuxedonya masih bau toko,”

“Ya jangan dicium juga sih! Jorok!”

“Hahahaha! Damai…, damai…,” tawa Keiya. Trus mereka diem-dieman lagi sampe akhirnya mobil Keiya berhenti di depan kostnya Tae Min dan Min Ho.

“Makasih ya, udah mau datang sama aku. Selamat tidur, Tae Min,” ucap Keiya dan mobilnya pun melaju. Tae Min memandang mobil Keiya hingga hilang di tikungan.

$$$$$$$$$$

“Kamu serius?” tanya Hye Ram ketika Ryeo Joon mengajaknya ke sebuah kamar hotel. Mereka sekarang berdiri di depan pintu hotel. Namja itu tersenyum.

“Menurutmu gimana kalo ternyata aku sudah pesankan sebuah kamar hotel? Kamu tahu maksudku kan, chagiya?” ujarnya santai. Hye Ram meringis ragu. Dia memang benar-benar menikmati menjadi pacar Ryeo Joon. Namja itu kapten basket di sekolahnya dan rata-rata siswi ingin jadi pacarnya. Makanya Hye Ram langsung bilang iya ketika Ryeo Joon memintanya jadi pacar.

Tapi, haruskah Hye Ram bertindak sejauh ini? Dia tahu maksud Ryeo Joon membooking kamar hotel untuk mereka. MEREKA. Bukan untuknya seorang. Hye Ram masih punya masa depan. Ia tidak ingin melangkah ke arah yang salah.

Tapi ia juga mencintai Ryeo Joon.

“Jadi nggak? Ayolah, chagi. Nggak usah munafiklah. Kurasa cuma Keiya gadis yang menolak tidur denganku. Tapi biarkan saja. Keiya kan memang tidak normal. Kalo kamu kan…pacarku…” Ryeo Joon membisikkan kalimat terakhir itu ke telinga Hye Ram. Tapi namja itu salah perhitungan.

PLAK!!!

Sebuah tamparan mendarat telak di wajah Ryeo Joon. Namja itu kaget sambil memegang pipinya. Ia menggeram bagai macan yang sarapannya diambil pawang.

“CEWEK NGGAK TAHU DI UNTUNG!!! KURANG AJAR! KAMU NGELAWAN AKU??!” Ryeo Joon memelototi Hye Ram. Namun gadis itu tidak takut.

“DENGAR YA! KAMU BOLEH TIDUR DENGAN SIAPA PUN!! TAPI TIDAK DENGANKU!!! NAMJA MURAHAN!!! MULAI SEKARANG KITA…”

“PUTUS? OKE! KITA PUTUS! MASIH BANYAK GADIS CANTIK YANG MAU DENGANKU! LAGIAN KAMU SIAPA SIH? CUMA ITIK BURUK RUPA YANG JADI ANGSA DOANG KAN?!”

“TERSERAH! PERMISI!” Hye Ram pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kemudian nggak lama ia kembali lagi. Ryeo Joon tersenyum penuh kemenangan.

“Berubah pikiran?” tanyanya.

PLAK! Sekali lagi Hye Ram menghajarnya, kali ini dengan tas jinjingnya yang bertahtakan manik-manik. Ryeo Joon meringis. Manik-manik di tasnya Hye Ram menyakiti wajahnya.

“Itu buat Keiya! Keiya itu sangat normal makanya nolak kamu! Ngerti kamu?! PERMISI!”

Hye Ram menghentakkan langkahnya pergi dari situ diiringi dengan caci-maki dari Ryeo Joon. Air matanya mengalir deras, tapi ia tidak menyesal sudah menolak ajakan Ryeo Joon. Ia menyesal karena tidak mendengarkan kata-kata Keiya waktu itu, bahwa populer itu tidak selamanya enak. Ia menyesal sudah bersikap angkuh dan lupa daratan. Syukurlah, Tuhan masih melindunginya dengan membukakan pintu hatinya.

Hye Ram memanggil taksi dan pergi. Bukan ke rumahnya, tapi ke rumah Tae Min. ia mengetuk pintu rumah kost Tae Min dan Min Ho membukanya.

“Selamat malam, oppa. Bisa bicara sebentar dengan Lee Tae Min? Katakan saja ada Hye Ram. Sebentar saja, oppa. Maaf mengganggu. Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu,” ujar Hye Ram dengan suara serak. Min Ho tersenyum dan memanggil Tae Min. Namja imut itu muncul dengan mata mengantuk.

“Loh? Kenapa, Hye Ram? Aduh maaf nih aku udah pake piyama…”

“Nggak apa-apa, Tae Min. Ini…”, Hye Ram menyerahkan sebentuk kotak kecil pada Tae Min dan Tae Min membukanya. Sepasang softlense sudah bertengger rapi di situ, lengkap dengan pembersihnya.

“Kenapa? Kalo kamu nggak nyaman pakenya minta ganti aja,”

“Bukan, bukan. Aku nyaman kok. Makasih ya, Tae Min. Tapi kurasa aku tidak membutuhkan ini lagi. Ambil saja, nanti biar aku yang melunasi pada optiknya. Tidak usah kamu, kan aku nggak pake lagi,” ujar Hye Ram. Nafasnya masih tersendat menahan tangis. Tae Min jadi kasihan.

“Mau masuk dulu? Nanti kubuatkan coklat panas,”

Hye Ram akhirnya masuk ke rumah kost Tae Min yang sempit. Sebenernya nggak boleh sih mereka bawa cewek masuk. Tapi karena tampaknya Hye Ram lagi ada masalah dan toh dia juga cuman mampir, Min Ho mengijinkannya.

“Ryeo Joon ternyata brengsek. Dia mau meniduriku tadi. Kemudian aku menolak dan kami putus,” Hye Ram menceritakan kronologis kejadian di hotel tadi sambil meneguk coklat panasnya. Air matanya mengalir lagi.

“Oh, maaf, Hye Ram. Tapi ya sudahlah, si Ryeo Joon kan bukan satu-satunya namja di sekolah. Masih banyak namja keren lain yang nunggu. Apalagi kamu sekarang udah bukan kamu yang dulu kan?” ujar Tae Min. Hye Ram tersenyum dan menggeleng.

“Ini bukan aku, Tae Min. Aku itu pake kacamata dan suka baca buku. Aku nggak suka pesta,” ujarnya.

“Sama. Aku juga nggak suka pesta, tadi itu ikutan soalnya diajakin…”

“Keiya?” lanjut Hye Ram dan tertawa kecil ngeliat Tae Min yang salah tingkah. Kemudian Hye Ram melanjutkan.

“Oiya, si Ryeo Joon tadi juga nyebut-nyebut nama Keiya,” ujarnya.

“Hah? Emang Ryeo Joon bilang apa?” tanya Tae Min ingin tahu.

“Dia bilang Keiya nggak normal soalnya nggak mau diajak tidur sama dia,”

“Brengsek tuh namja!!!” geram Tae Min.

“Makanya aku gampar dia dua kali. Satu karena sudah merendahkanku, dan satunya lagi karena sudah merendahkan Keiya. Gimana pun Keiya sudah menolongku waktu hampir ditampar Bae Ji Yeon,” ujar Hye Ram tersenyum. Tae Min membelalakkan matanya. Dia nggak nyangka Hye Ram berani menampar Ryeo Joon. Seingatnya Ryeo Joon itu namja penakluk. Tipe ladykiller yang bisa melelehkan cewek dalam sekejap.

“Ya udahlah, aku pulang dulu. Taksinya aku suruh nunggu tadi. Oiya, aku masih pegang struk softlensenya kok. Biar aku yang bayar semuanya. Dan aku akan jadi diriku sendiri. Park Hye Ram. Dan aku nggak akan menuruti situs misterius itu lagi,”

“Situs misterius?”

“Clickfforfame. Aku mengirim keluhanku ke sana dan adminnya cuma bilang just wait and see tanpa keterangan apa-apa. Anehnya, sejak itu, semua kejadian yang membantu langkahku buat jadi populer terjadi begitu saja. Aku mencoba menganalisa. Jangan-jangan adminnya itu…”

Jantung Tae Min berdegup kencang. Jangan sampe Hye Ram tahu kalo dialah admin situs itu. Dia nggak mau keberadaannya jadi transparan.

“Aduh pokoknya antara ahjussi yang di optik itu sama pemilik salon waktu itu deh. Bodo amatlah siapa. Yang penting aku nggak mau lagi buka-buka situs aneh kayak gitu. Okelah, annyeonghaseyo!” Hye Ram melambaikan tangannya dan membuka pintu.

Tae Min menarik nafas lega. Dia pikir bakalan ketahuan. Ternyata enggak. Tapi syukurlah, Hye Ram akhirnya sadar kalo jadi populer itu nggak selamanya enak. Paling enggak, dia nggak bisa jadi dirinya sendiri dan si brengsek Ryeo Joon cuma menyukai penampilan luarnya aja.

$$$$$$$$$$

“Hye Ram? Pake kacamata lagi?” tanya Ji Yeon pas dia dan Ha Neul nyamperin Hye Ram yang tengah membaca buku pelajarannya pas istirahat.

“Ada perlu apa?” tanya Hye Ram dingin. Ji Yeon dan Ha Neul saling pandang dan tersenyum. Mereka meletakkan setumpuk kertas di atas meja Hye Ram.

“Apa ini?” tanya Hye Ram.

“Ngg…itu…kemaren kami berdua browsing di internet buat tugas kita. Ya mungkin nggak banyak sih. Tapi semoga bisa membantu. Kami keluar dari kelompok juga nggak apa-apa kok. Ini sebagai permintaan maaf dari kami. Nanti biar kami kerjakan tugas kami berdua sendiri,…”

“Kalian bercanda?” tiba-tiba air muka Hye Ram berubah cerah. Ia terharu begitu melihat hasil print-an tugas kelompok yang mereka kerjakan. Ternyata Ji Yeon dan Ha Neul tidak semenyebalkan yang ia duga.

“Maafkan kami,”

“Boleh saja. Asalkan…” Hye Ram menggantungkan kalimatnya.

“Kalo bahannya masih kurang nanti kami browsing lagi kok,” ujar Ha Neul. Hye Ram memeluk keduanya sampe Ha Neul dan Ji Yeon kaget.

“Asalkan kalian mau kembali sekelompok denganku lagi!” ujarnya. Kedua teman Hye Ram itu tersenyum penuh haru. Kirain mereka udah dipecat djadi anggota kelompok.

“Tentu saja, Hye Ram! Nanti kita kerjakan di rumahmu saja ya! Nanti aku bawakan buku-buku kakakku!” ujar Ji Yeon riang.

Dari kejauhan Tae Min tersenyum senang melihat ketiganya berbaikan lagi. Satu hal lagi yang patut disyukurinya, dia jadi nggak perlu lagi ngelunasin hutang dari optik dan salon itu. Hehehe.

“Ketawa sendirian lagiii…ih jangan-jangan kamu bisa lihat hantu lagi,” suara Keiya mengagetkannya.

“Ya kamu itu hantunya. Ngagetin sepanjang waktu,” sahut Tae Min. Keiya terbahak.

“Aku bukan hantu. Aku ini zombie, dan sebentar lagi aku bakal…”

“Gigit aku?” potong Tae Min langsung. Keduanya tergelak bersama. Waktu istirahat itu benar-benar menjadi waktu yang menyenangkan dengan semua kejadian-kejadian yang benar-benar bermakna. Hye Ram yang akhirnya mengerti tentang menjadi dirinya sendiri, serta Ji Yeon dan Ha Neul yang menyadari kalo persahabatan mereka ternyata sama pentingnya dengan tanggung jawab sebagai anggota kelompok.

DUCK TURNS INTO SWAN – THE END

-peppermintlight-

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

31 thoughts on “CLICK “F” FOR FAME : DUCK TURNS INTO SWAN (Part 2)”

  1. Noona-nya Taemin ke mana Thor? Pisah rumah atau ada sesuatu?
    Tapi ini FF Daebak! Haha! Aku puas waktu baca bagian Hye Ram Nampar Ryeo Joon, soalnya dari awal Ryeo Joon muncul, firasatku udah nggak enak….
    Nice FF Thor! 😀

    1. huaaaa!!! reader! haihaihaii ^^ siapapun kamu, aduduuhhh~ makasih banget ya udah jadi first commentator di sini ^^.
      hmmm…noonanya taemin? oh itu nanti readers sekalian insya ALLAH bakal diceritain soal si hara lewat flashback2 dulu, baru nanti ada cerita aslinya. hehe.
      gomawo, reader ^^

  2. HAHA !
    walopun saya udha pernah baca , tapi saya mao komen lagii .
    Aku sukak banget yg bagian part 2 Duck urns Into Swan .
    Sipb dah . 🙂

    Eci onn , pnter banget kalok bikin ff ^^

    1. ahiks! ih nadia bikin terharu biru deeehhh~~~ aku sukaaa~ banget sama reader kayak gini.
      eh nadia suka part ini> *idung langsung kayak pinokio.
      gomawo udah baca dan komen lagi ya nadia ^^

  3. onnie pertama-tama aku minta maaf baru aca … soalnya aku baru main komp setelah 2 hari berturut-turut tepar di atas tempat tidur… hehehe jadi telat koment ….
    wah…. ffnya bagus nih … sma kayak motto ku .. “be your self” wahahahha… prok..prok..prok… aplause buat author…

    itu akhirnya situs itu di tutup gx sih ?? taemin pinter ya .. ahahah bisa merubah itik jadi angsa .. pke mantra apaan tuh … *pletak!! dikira harpot??!!*

    yaudah maaf ya onnie comentarnya gx panjang2 masih masa pemulihan .. 🙂

    1. wahahaha~ gpp kok,la…aku dibaca dan dikomen aja udah seneng banget kok ^^
      gini la…ini kan baru cerita pertama aja. nanti insya ALLAH ada judul lain dari click “f” for fame ini. ditungguin ya ^^
      gomawo ella ^^

    1. ahehehe. sebenernya ini idenya aku ambil dari cerita-cerita berseri yang pake situs atau call kok, kayak hell girl dan idol shopping yang ceritanya sambil manggil2 lewat situs atau surat gitu. cuman ya ceritanya Alhamdulillah aku bikin sendiri dengan metode kerja Parker Pyne. hehe. rasanya sih belum ada yang ngebahas tentang popularity gitu. ^^
      makasih, riscanho ^^

  4. aaa~~ DAEBAK!
    akhirnya Hye Ramnya jadi dirinya sendiri lagi deh…
    keren keren keren!! >.<
    two thumbs up buat eci eonn!! d^^b

    1. ahahalooohhh?? kok sebel? ah gpp, yang penting udah dibaca sama fathia dan dipuji. hehe ^^ gomawo, fathia ^^

  5. WAH! Eci eonie semua FFnya bagus-bagus.. huu iri..
    Eonie harus pilih BAGUS ATAU KEREN??
    hahaha..
    ayo buat lagi yang banyak!!

    1. jiaaaa~ yang lain juga kok. dan kalo ga salah kamu nulis ff juga kan? *sori kalo salah, rasanya pernah liat nama kamu di salah satu ff, hehe*. ah shalinna pasti juga keren abis dah ffnya.
      kalo disuruh milih, gimana kalo CANTIK? *banyak tingkah
      makasih, shalinna ^^

  6. Horeng~!! Hyeram jadi diri sendiri akhirnya. Btw, tadi aq baca pas di ultahnya sera, taem ngitungin harga kuenya. Beuh..kerajinan tuh anak. Ahahag…
    Suka begete *banget* deh ma ffnya.. XD

  7. Lagi cari referensi eh ngeliat judul ini di library
    Wooowwww, cerita klasik sih tapi enak nih di bungkus nya *emang makanan?!* Hahahah
    serius ah, asik bahasanya 🙂
    Sorry langsung di part 2 komennya hohoho~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s