Family Game – Part 1

Title                 : Family Game (Part 1)

Author             : Park Ha Ki a.k.a Nysa

Main Cast        : Lee Jimi (imagine you), Choi Minho, Lee Jinki

Support Cast   : Go Yongsoo (father), Park Eunjoon (mother), Song Eunmi (grand mother)

Length             : Sequel

Genre              : Humor, Family

Rating             : General

Summary         : 6 orang asing akan tinggal satu atap sebagai sebuah keluarga.

A.N                 : Hai, aku Park Haki a.k.a Nysa. Ini FF pertamaku, jadi aku mohon komentar,

Kritik dan saran yang membangun ya. Oia, cerita FF ini aku angkat dari    Komik Jepang yang judulnya Family Game. Oke, let’s read my first FF. ^,^

FAMILY GAME (Part 1)

Author POV

Pagi itu dikediaman keluarga Kim semua tampak biasa dan wajar. Appa yang seorang pegawai kantoran sedang sarapan dengan tenang tanpa mengeluarkan suara. Umma yang seorang pemain pachinko professional masih meneguk minumannya, meskipun ia tampak sudah tak kuat mengangkat kepalanya sendiri. Sedangkan anak-anak mereka..

“ Ah, Jimi aku minta tambah lagi!” ucap Jinki seraya menyerahkan mangkuk kepada Jimi agar diisi dengan nasi. Dengan sigap Jimi menambahkan nasi kedalam mangkuk yang disodorkan oleh Jinki. Lalu Minho, ia sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca Koran.

^^

Jimi POV

“Sup miso-nya masih banyak, ayo tambah lagi” ujarku dengan semangat 45 sambil membawa sepanci sup. Oia, perkenalkan namaku Jimi siswi SMA kelas X. setiap pagi, akulah yang menyiapkan sarapan untuk keluarga karena ibuku tidak bisa memasak.

“ Minho, kau melupakan sarapanmu lho!” ujarku seraya mendekati Minho yang sedang memakai sepatunya.

“aku tidak biasa sarapan. Minum kopi saja sudah cukup!” ujarnya ketus tanpa menoleh sedikitpun kearahku.

“ tidak boleh begitu, sarapan itu penting! Karena sarapan itu sum_”

“pantas tidak?”

“HUWAAAAAAAA” kalimatku terhenti ketika halmioni muncul dengan mengenakan pakaian anak SMU, diaaa… benar-benar. Apakah dia memang seorang halmioni? Atau sebenarnya dia adalah anak sd yang mendadak tua? Sifatnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia adalah seorang halmioni.

“ ini aku beli kemarin, pantas tidak?” Tanya halmioni dengan senyum sumringah.

“ah, pa..pantas kok…” jawabku bohong. “eh, pancinya mana?” tiba-tiba aku baru tersadar kalau panci yang tadi kupegang sudah tidak ada ditanganku lagi. Kemana pancinya ya???

“HAH?? Mi..Min..Minho..ng..noona ambilkan handuk….” Ucapku terbata-bata melihat panci yang kupegang tadi sudah berada dikepala Minho. Tentu saja semua isinya sudah tumpah keseragamnya. Dia jadi bermandikan sup miso.

“siapa “noona”?? KALIAN SEMUA KAN ORANG ASING!!!!” ia berteriak keras membuat seluruh isi rumah bergetar hebat.

Yah begitulah, kami adalah keluarga biasa yang terdiri dari enam orang. Yaitu appa, umma, halmioni, dan 3 orang anak. Itu kalau dikesampingkan kenyataan bahwa keluarga ini adalah keluarga buatan.

FLASHBACK

Aku tahu permainan ini sebulan yang lalu. Aku mendapatkan sebuah email yang berisikan:

PENCARIAN

Apakah anda mau mencoba tinggal disebuah

Bangunan eropa yang indah dan berpartisipasi

Dalam sebuah family game?

BERHADIAH!!!!

Dan aku yang sebatang kara ini tentu saja tertarik dengan tawaran tersebut. Akupun mengunjungi alamat yang tertera pada email tersebut dan..

“selamat! Anda-lah yang terpilih Lee Jimi!” ucap pemandu sekaligus pengaacara, Raein. “nah sekarang akan saya jelaskan peraturan permainan ini sesederhana mungkin”

Ya, aku berhasil lolos dengan peran sebagai putri keluarga Kim. Dan nanti aku akan bertemu dengan 5 orang lainnya yang akan berperan sebagai appa, umma, halmioni, dan 2 anak laki-laki.

“mulai sekarang selama satu tahun, anda akan tinggal ditempat ini bersama 5 orang lainnya yang belum saling mengenal satu sama lain pastinya. Oleh karena itu, peraturannya anda tidak boleh mengungkapkan identitas anda serta tidak boleh menyelidiki identitas peserta lainnya. Arraseo?” Tanya Tuan Raein kepadaku yang masih celingukan.

“ne” jawabku singkat.

“selanjutnya, jangan perlakukan sesama pemain seperti orang asing. Jadi perlakukan mereka selayaknya keluarga yang sebenarnya. Asalkan anda bisa mematuhi peraturan itu, saya rasa tidak akan ada masalah. Kalian bisa menghabiskan waktu satu tahun permainan ini. Oia, seandainya dalam waktu satu tahun ada seorang anggota keluarga yang keluar, maka permainan ini akan selesai atau Game Over” Tuan Raein menjelaskan panjang lebar dan aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

“oia, aku mau mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara acara ini’ ucapku semangat.

“ah, soal itu.. identitas penyelenggara ini tidak boleh diketahui” ujar Tuan Raein menjelaskan.

“oh, mianhe” aku membungkuk 90 derajat.

End of flashback

Semenjak itu, kami berenam mulai tinggal bersama sebagai sebuah keluarga dengan marga Kim. Tentu saja nama marga kami semua diganti menjadi Kim. Walaupun namanya permainan, tapi jujur saja aku sedikit cemas tentang orang-orang yang akan jadi keluargaku. Tapi tidak ada yang menakutkan kok.

“ah, Minho! Selamat jalan!” ucapku ketika melihat minho akan berangkat sekolah.

“JIIIT..ARRRGH” aku melihatnya, tatapan dingin dan tajam yang terpancar dari matanya. Yah, mungkin tidak juga. Aku rasa Minho sedikit menakutkan. Ia tidak pernah bersikap ramah terhadapku. Apa mungkin pertemuan pertama itu yang memberikan kesan tidak enak? Aku kembali mengingat pertemuan pertamaku dengan minho.

“ah, ultahku 5 hari lebih cepat daripada kau. Kalau begitu panggil aku noona ya! Aku ingin sekali dipanggil noona” ucapku dengan semangat dan senyum yang lebar. Tapi minho? Dia memandangku dengan tatapan yang seolah mengatakan siapa-kau?

“Tuk” seseorang menyentuh pundakku.

“Jimi, aku berangkat dulu ya!” Jinki oppa, ia tersenyum kearahku. ah, senyumannya itu sungguh manis. Aku suka senyum itu.

“BRUKK” Jinki oppa tersandung dan ia jatuh telungkup didepanku. Aisssh… kalau saja dia tidak seceroboh itu, dia pasti sangat sempurna.

^^

Sementara itu…

Author POV

“ya! Jangan lelet dong! Menghalangi jalan tau!!” umma berbicara setengah berteriak sambil berkacak pinggang.

“ah, mi..mian…” appa menggeser badannya menjauh dari pintu.

“KAU KAN NAMJA! JANGAN SEGAMPANG ITU MINTA MAAF!!” ucap umma lagi dan kali ini benar-benar berteriak.

“i..iya.. mianhe…” jawab appa pasrah.

Yah, begitulah keadaan umma dan appa dikeluarga Kim. Sang umma yang tampaknya mantan berandalan atau mungkin ketua geng (?) sifatnya sangat kasar dan keras. Berbanding terbalik dengan appa yang sifatnya sangat lemah lembut.

^^

Jimi POV

Hari ini aku pulang cepat. Segera aku masuk kamar dan menukar seragamku dengan pakaian rumah. Aku berjalan menuju dapur dan kulihat banyak piring kotor ditempat cucian piring. Segera aku menuju tempat cucian piring dan bermaksud mencuci piring.

“ckraak” aku mendengar seseorang membuka pintu dapur. Aku menoleh dan ternyata itu Minho. Untuk apa dia kemari ya??

“selama ini kau selalu bilang keluarga dan kesenangan sendiri. Jujur saja, tingkahmu itu membuat orang lain sebal” ujarnya tiba-tiba.

“eh?” aku hanya memandang bingung kearahnya. Aku tidak mengerti maksud dari pembicaraannya itu.

“kalau kau ingin seratus juta itu, jangan lakukan hal-hal yang tidak perlu. Lagipula kita semua dalam kondisi yang sama kan?” ujarnya lagi dan kata-katanya itu sungguh membuatku sangat-sangat terkejut. Aku.. aku tidak begitu mengerti.. kondisi?seratus juta? Berarti, aku dibenci?

“PRAANG” piring yang kupegang jatuh dan pecah berkeping-keping. Jujur saja aku sedikit shock dengan perkataan Minho barusan. “akh” jariku terkena pecahan piring. Aku harus segera mengobatinya. “klik”semuanya menjadi gelap. Sepertinya mati lampu. Aduh, bagaimana ini?

“patss..” ada cahaya yang menyilaukan mendekatiku.

“Jimi!”

“Oppa?” ternyata itu Jinki oppa, ia datang kearahku sambil membawa senter.

“tadi aku mau pakai dryer, tapi sekringnya malah turun. Sekarang kita harus cari sekringnya” ucap Jinki oppa. Kami pun berjalan menyusuri lorong rumah mencari letak sekring.

“ah, jarimu kenapa?”Tanya Jinki oppa. Dia sungguh perhatian, bahkan ditempat gelap seperti ini ia bisa melihat kalau jariku terluka.

“i..ini tadi terkena pecahan piring. Tapi sudah tidak apa-apa kok” jawabku pura-pura tegar. Padahal perih sih.

“coba kulihat!” Jinki oppa menarik tanganku dan menghisap darah dijariku yang terluka.

“deg” ah, apa-apaan ini? Apa maksudnya “deg” barusan itu? Kenapa aku jadi malu sama oppa ku sendiri? aku belum pernah berada sedekat ini dengannya. Bahkan bau shampoo nya dapat tercium olehku.

‘sudah tidak apa-apa, ayo kita cari sekringnya!” ucap Jinki oppa seraya berjalan didepanku.

“ah, ketemu!!” aku menemukan sekringnya.

“tinggi juga ya? Kita perlu sesuatu untuk dijadikan pijakan. Ah, Minho!” jinki oppa memnaggil minho yang kebetulan lewat didekat kami. Tapi yang dipanggil tidak menggubris sama sekali. Hh, makhluk yang satu itu sepertinya tidak ingin berbaur. Dia sama sekali tidak bisa bersosialisasi.

“bagaimana ya? Sepertinya dia tidak mau berbaur” ucap jinki oppa seraya menggaruk kepalanya yang kurasa sama sekali tidak gatal. Kemudian ia meraih kursi yang ada didekatnya. Tampaknya kursi itu sudah lapuk. Dan kaki kursinya sudah ada yang patah. Sehingga ridak bisa berdiri dengan tegak. Jinki oppa naik keatas kursi itu.

“oppa, tadi Minho mengatakan hal yang aneh. Dia bilang seratus juta. Maksudnya apa ya?”

“seratus juta?? Oh, pasti maksudnya kalau kita berhasil menyelesaikan permainan ini dalam waktu setahun kita akan diberi hadiah seratus juta”

“MWO??? Ser..serat..us jjutta itukan jumlah yang banyak?”ucapku terbata-bata, mendadak dikepalaku berseliweran uang yang sangat banyak. Jika dibagi enam, tetap saja uang itu masih banyak.

“ya! Jimi” Jinki oppa oleng. Segera aku menahan kursinya dengan kedua tanganku. Saking kagetnya aku mendengar penjelasan Jinki oppa, fikiranku jadi tidak karuan dan ternyata aku melepaskan tanganku dari kursi yang sedang dinaiki jinki oppa.

“tapii, aku tidak tahu soal seratus juta itu oppa” jawabku dengan tampang polos.

“lho? Hmm, begini. Bagaimana kalau kita pakai permisalan? Jika kau disuruh memilih diantara 2 pilihan yang tidak mungkin kau dapatkan. Antara ‘keluarga” dan “seratus juta” kau pilih yang mana?” Tanya jinki oppa dengan tersenyum dan mengusap rambutku.

“itu, aku tentu saja pilih keluarga!” jawabku mantap.

“hmm, mungkin karena itu, karena kau memilih keluarga. Makanya Raein lupa menjelaskan tentang seratus jutanya. Karena yang lainnya, termasuk aku pasti lebih memilih seratus juta. Tipe seprtimu itu sangat langka lho!” ucap Jinki oppa kemudian dan pastinya dengan senyumnya. Aku merasa pipiku menjadi hangat. Untung gelap. Kurasa pipiku sudah semerah tomat.

“apa iya begitu?” aku jadi salah tingkah dan menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.

“YA! JIMI! JANGAN DILEPASKAN PEGANGANNYA!” jinki oppa berteriak keras. Badannya mulai oleng.

“BRAKKKK!!”

“mianhe. Oppa tidak apa-apa?”

“ne, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” ucap jinki oppa. Suaranya sangat dekat sekali. Tapi aku tidak dapat melihat apa-apa. Disini begitu gelap.

“klik. Batttss…” tiba-tiba semuanya menjadi terang. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas. Jinki oppa ternyata ada didepanku. Sedangkan aku, terbaring dilantai. Tangan jinki oppa berada tepat disebelah kanan dan kiriku. Jarak kami sangat dekat dan hanya terpaut beberapa senti. Aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Bahkan sangat jelas. Minam. Omo apa yang aku fikirkan? Dia kan oppa ku. Perlahan-lahan wajah jinki oppa semakin mendekat. Apa yang harus aku lakukan? Mau apa dia? Andwae….

^^

TBC

Ps: gimana? Gimana? Aku mohon comment nya yaa!!! *maksa*

Title                 : Family Game (Part 2)

Author             : Park Ha Ki a.k.a Nysa

Main Cast        : Lee Jimi (imagine you), Choi Minho, Lee Jinki

Support Cast   : Kim Yongsoo (father), Park Eunjoon (mother), Song Eunmi (grand mother)

Length             : Sequel

Genre              : Humor, Family

Rating             : General

Summary         : 6 orang asing akan tinggal satu atap sebagai sebuah keluarga.

A.N                 : uda pada baca part 1 kan? Di part 1 emang diliat dari sudut pandang Jimi.

Tapi makin Kesini tar minho ama jinki juga kebagian kok . jangan lupa

Comment nya yaaa!! Have a nice read!! ^,^

FAMILY GAME (Part 2)

Jimi POV

“YA! JIMI! JANGAN DILEPASKAN PEGANGANNYA!” jinki oppa berteriak keras. Badannya mulai oleng.

“BRAKKKK!!”

“mianhe. Oppa tidak apa-apa?”

“ne, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” ucap jinki oppa. Suaranya sangat dekat sekali. Tapi aku tidak dapat melihat apa-apa. Disini begitu gelap.

“klik. Batttss…” tiba-tiba semuanya menjadi terang. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas. Jinki oppa ternyata ada didepanku. Sedangkan aku, terbaring dilantai. Tangan jinki oppa berada tepat disebelah kanan dan kiriku. Jarak kami sangat dekat dan hanya terpaut beberapa senti. Aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Bahkan sangat jelas. Minam. Omo apa yang aku fikirkan? Dia kan oppa ku. Perlahan-lahan wajah jinki oppa semakin mendekat. Apa yang harus aku lakukan? Mau apa dia? Andwae….

“Kalian sedang apa??”

“HUWAAAAAA!!!!” aku berteriak kencang sekali. Aku sangat terkejut tiba-tiba halmioni sudah ada didepanku. Padahal tadi aku masih melihat Jinki oppa, tapi kenapa sekarang jadi halmioni ya?? Segera aku beranjak bangun. Dan ternyata, jinki oppa masih dalam posisinya. Hanya saja halmioni sudah berada diantara kami. *ngerti gak? Ngerti kan?* (author maksa). Dan ternyata, appa dan umma yang mengidupkan lampu.

“dasar babo!” yang ini aku tahu. Suara minho. Dia memandangku dengan tatapan menegejek. Ah, aku malu sekali. Pasti aku tampak sangat konyol saat ini. >,<

^^

Hari minggu pagi dikediaman keluarga Kim…

Jimi POV

“Huaaah…” aku menguap berkali-kali. karena kepikiran banyak hal,aku jadi kurang tidur. Apalagi kejadian kemarin, masih teringat jelas sekali dikepalaku. Pagi ini hanya aku yang ada dirumah. Seperti biasa, aku membersihkan rumah. Sedangkan yang lain, pergi semua. Minho belajar kelompok, jinki oppa katanya ada urusan, umma belum pulang sejak semalam, appa sedang dinas keluar kota, dan halmioni pagi-pagi sekali sudah pergi. Katanya ada acara reunian dengan teman-temannya. Hh, kalau sendirian saja dirumah seperti ini rasanya rumah ini besar juga.

Semua ruangan sudah aku bersihkan, kecuali kamar Minho. Dia melarang siapapun masuk kekamarnya. Tapi kalau hanya untuk bersih-bersih sepertinya tidak apa-apa. Baiklah, perlahan-lahan aku mendekati kamarnya. Sebenarnya aku juga penasaran sih, seperti apa kamar minho.

“kubunuh kalau berani buka!” suara berat itu menghentikan tanganku yang hendak membuka pintu kamar minho. Aku hafal sekali itu suara siapa. Perlahan-lahan aku menoleh kebelakang dan benar saja si pemilik kamar sudah ada dibelakangku.

“eh, minho.. sudah pulang yaa.. begini, aku mau bersih-ber_”

“BAMMM!!” kalimatku terhenti ketika tangan minho menghentak keras kepintu kamarnya. Kondisi seperti ini menyulitkanku. Aku tidak bisa kemana-mana. Karena aku terpojok didepan pintu. Sedangkan minho ada didepanku.

“aku sudah bilang kan? Jangan melakukan hal-hal yang tidak perlu!!!” ucapnya dengan suara yang kasar dan tatapan yang tajam.

“i..iyyaa, mian..” aku hanya dapat menunduk. Kemudian minho masuk kedalam kamarnya.

“BLAMM!!”

^^

Minho POV

Aku masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Dasar bocah itu, benar-benar lancang! Kalau saja aku tidak pulang lebih cepat, dia pasti sudah masuk kekamarku. Bagaimanapun juga, bermain rumah-rumahan kan ada batasnya.

“ZRASSSSS…” suara hujan. Sepertinya aku punya jemuran diluar. Bergegas aku keluar kamar. Hah? Apa itu?? Aku seperti melihat gumpalan kain yang lari-lari!

“Minho! Bantu aku!!” suara itu, berasal dari gumpalan kain. Apa gumpalan kain bisa bicara?

“ya! Minho! Ayo bantu!” kali ini suara nya lebih keras. Sepertinya aku tahu itu suara siapa.

“kenapa harus aku?” aku pura-pura cuek.

“kalau kau tidak mau membantuku mengangkat jemuran, akan aku tinggalkan pakaian dalammu diluar sana! biar basah kena hujan!” ancamnya.

“baiklah” aku pun mengalah. Daripada pakaian dalamku basah. (=,=)

^^

Jimi POV

“fuiiih… selamat!” aku tersenyum senang karena semua pakaian dapat selamat dari hujan.

“selamat apanya??” minho memandang seragam sekolahnya yang basah kuyup karena hujan.

“mian..mian… gomawo yaa. Nih pakai handuk” aku menyodorkan handuk kepadanya. Tapi, ia menepis handuk itu. Anak ini benar-benar deh. Aku memungut handuk yang jatuh kelantai dan mengusap rambut minho yang basah.

“ah, kau tidak boleh begitu. Harus dikeringkan atau nanti kau masuk angin” aku tersenyum kecil. Tumben sekali dia tidak membantah.

“BATSS” tiba-tiba ia menyibak handuk yang kupakaikan dan tentu saja itu membuatku kaget. Akupun jatuh terduduk.

“SUDAH CUKUP BELUM?? KAU ITU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!!” minho berteriak keras sekali. Telingaku sampai berdengung dibuatnya. Tapi kenapa? Bukankah barusan dia baik-baik saja?

“minho?” aku berusaha memegang keningnya. Mungkin saja dia demam. Makanya dia marah-marah seperti itu.

“baiklah, kuikuti kemauanmu bermain rumah-rumahan” ucapnya seraya menarik tanganku. “sebagai gantinya, kau harus mendengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan, kau bisa kan “noona”?” kini ia sudah berada tepat didepanku. Jarak kami hanya terpaut beberapa senti. Omo~~ bagaimana mungkin aku mengalami hal yang serupa sebanyak dua kali?

“minho? Apa yang?..” ia mendekatkan wajahnya kearahku.

“ajak aku juga dong bermain rumah-rumahan!” tiba-tiba jinki oppa sudah ada didekat kami. “wah, sudah selesai rupanya?” ia berjalan mendekati kami. Dan minho, ia berdiri. Untunglah jinki oppa datang tepat pada waktunya.

“aku kan bukan kalian, mana mungkin aku serius!” jawab minho ketus.

“sayang sekali, padahal seru juga kalau kita benar-benar menjadi keluarga. Walaupun hanya permainan” jawab jinki oppa dengan tenang.

“BIKIN PERASAAN TIDAK ENAK SAJA! SELALU BILANG KELUARGA KELUARGA! KALIAN ITU SAMA SAJA KAN? PADA AKHIRNYA YANG KALIAN INCAR UANG SERATUS JUTA!!!” kali ini minho berteriak.

“memang apa jeleknya?” Tanya jinki oppa dengan tatapan serius. Jujur saja, baru kali ini aku melihat jinki oppa seserius ini. Aku jadi tidak enak. Kenapa semuanya jadi begini?

‘tidak ada. Aku hanya ingin membuat dia mengerti. Itu saja” kali ini minho menurunkan nada bicaranya. Mungkin ia sedikit segan dengan jinki oppa yang tiba-tiba bicara dengan serius seperti tadi. ‘aku tidak peduli sekeras apapun usahanya menyatukan kita. Bagaimanapun juga, kita ini orang asing yang tidak saling mengenal. Jadi tidak mungkin akan bisa jadi keluarga” ucap minho dengan menekankan kata keluarga.

“so, soal itu kan..” aku mengigit bibir bawahku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Eh, mau apa dia? Kulihat minho melepas kancing bajunya. Andwae, apa dia sudah gila?

“akan aku perlihatkan, seperti apa keluarga yang selalu kalian dengung-dengungkan itu” ucapnya dengan tatapan sedih, marah, kecewa, semuanya bercampur jadi satu. Dan.. ya tuhan.. aku menutup mulutku. Sementara mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang aku lihat. Dibalik baju yang ia kenakan itu ternyata menyimpan banyak luka. Ya, hampir diseluruh tubuh minho penuh dengan luka. Pantas saja dia selalu menggunakan pakaian yang tertutup *lengan panjang*

“ayahku yang sudah mati itu setiap hari selalu mabuk dan memukuliku. Ini bekas yang ditinggalkannya. Bahkan keluarga kandungku saja tidak bisa menjadi keluarga yang sesungguhnya.lalu, apa yang bisa aku harapkan dari keluarga bohongan macam ini??” kali ini ia berkata dengan nada lirih dan sendu. Aku bisa merasakan nya. Perasaan sedih yang begitu mendalam. Kupikir, dia orang yang tak punya perasaan. Tak kusangka, ia jadi seperti itu karena ia pernah mengalami hal buruk dimasa lalu.

“lagi pula aku ikut permainan ini hanya karena ingin uang seratus juta itu. Bukannya untuk main rumah-rumahan bersama kalian. Ak..aku..aku..” minho tampak sedikit ragu melanjutkan kalimatnya.

“aku.. sudah..”

Oh tidak, jangan-jangan.. aku jadi teringat perkataan Tuan Raein. Jika salah satu anggota keluarga keluar dari permainan. Maka permainan akan selesai.

“aku..sudah tidak bisa lbih dari ini” akhirnya apa yang aku takutkan terjadi. Minho, mengucapkannya juga.

“SIIING” suasana mendadak sepi. Sedikit banyak, aku merasa bersalah. Bagaimanapun juga aku yang selalu membuat mood minho jadi jelek. Sedangkan minho, ia tampak sudah yakin dengan keputusannya. Dan jinki oppa, ia seperti memikirkan sesuatu.

“hei! Hari ini aku menang lhoo!” suasana hening terpecah oleh umma yang pulang dengan wajah sumringah.

“ng? ada apa?” Tanya umma bingung melihat kami yang hening ini.

^^

Author POV

Begitulah, minho menyatakan dirinya ingin keluar, lalu Tuan Raein datang. Dan minho pun menyatakan pengunduran dirinya secara resmi kepada Tuan Raein. Dengan demikian, maka berakhir lah permainan ini.

“begitu ya..” ucap appa setelah mendengar penjelasan dari Tuan Raein.

“lagi pula pada akhirnya akan jadi begini juga” jawab umma dengan rokok dimulutnya. Jinki dan halmioni tidak berkata apa-apa. Dan Jimi, ia tampak paling sedih dan terpukul dengan berakhirnya permainan ini. Tapi semuanya sudah terjadi, maka permainan pun selesai.

GAME OVER

^^

TBC

Ps: gimana reader?? Aku mohon dengan sangat komentarnya yaa. Oia, FF ini belum selesai kok. Masih ada lanjutannya. Makasih ya buat yg uda mau baca and comment. Thanks juga utk admin yg uda mau ngepublish!!

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^ Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

34 thoughts on “Family Game – Part 1”

  1. Ooh masih ada lanjutan nya ternyata haha . . Aku pertama nya agak bingung bacanya tapi smakin ke bawah, bawah, dan bawaah (?) ceritanya ternyata nyambung daaan aku kasih 4 thumbs buat ff ptama nya *kenapa 4? Karena jempol ku cuma 4 sisanya jari2 haha / plakk apasih?*

  2. Pas awal awal ga ngerti maksud ceritanya gimana ? Pas kebawah ternyata rame jadi ga sabar nunggu cerita selanjutnya

  3. Wow DAEBAK…
    Epep’ny keren…
    Jd mewek pas baca part minho yg d sksa sm appa kndung’ny. Huhu T.T
    Pkok’ny lanjutan’ny jgn lma2 ya thor… #maksa

  4. iia, ini diadaptasi dr komik.
    ia uda ada lanjutannya, tinggal dikirim aja.
    gomawo semuanya…

    game over itu, permainan family game nya. bukan ff nya. ^^

  5. wah…. kasian minho, kasian juga si jimi… dia kan ikut karena udah sebatang kara ….

    ternyata tbc… klo itu udah game over terus lanjutannya gimna ya ??? bingung… berarti kalo di pikir2 … aku harus baca lanjutannya biar gx bingung… nah berarti aku juga nunggu … #reader banyak omong#

    kesimpulannya… aku tunggu ya lanjutannya … *di lempar sendal am author*

  6. ehk..ehk…ehk… yg di atas bukan nyta tapi aku .. 😦 ahkkk ella ceroboh .. 😦

    huft .. mian .. aku kebiasaan lngsung koment sih .. jdi kayak gini …

  7. @ella : aku smpt kaget lho. habisna mirip namanya. NYSA ama NYTA. hehe

    lanjutannya, RA-HA-SI-A
    ditunggu aja ya, uda dikirim kok.
    berhubung saya ada ujian, maka mohon pamit ya… bubay…
    *lambai-lambai tangan sambil naik gerobak yg ditarik ama jonghyun*
    wkwkwkw *author lebay*

  8. ceritanya sedikit membingungkan, mungkin krn gak pernah baca komiknya…
    tapi bagus kok cerita chingu.,
    aku tunggu kelanjutannya.,

    tambahan :
    hey… kenapa jong ku kau suruh naik gerobak, jelek amat…
    itu sangat memalukan…
    kau ini….

  9. wahh seru-seru epep nya
    org jutek pasti ada sebabnya
    kasihan minho suka disiksa sama babehnya, gak bisa bayangin badan minho penuh dengan luka, andwaeeeeeeee

  10. @all reader: haiiii.. author uda selesai uas ni…
    ia, ditunggu aja lanjutannya.. uda dikirim kok.
    makasih atas respons nya. pahl akwalnya gak pede mw kirim ff ini.
    sempet nginep 1 bulan di kompi.

    buat admin, thanks uda ngepublish and balesin e-mail yg aku kirim.

  11. Wah, ternyata part 1 sama 2 disambung ya? huh tambah lagi dong, cepetan!! hahhahaha maksa ^^

    pertama baca tu aneh banget tau, nama keluarga KIM tapi appa-nya Go, umma-nya Song, marganya beda-beda, mau protes, tapi begitu baca kelanjutannya owh ternyata maen rumah-rumahan to, tapi kok kaya’ reality show penghuni terakhir gitu ya? wah yang menang dapet 100 juta plus rumah kan?

    Aduh, terus kan maen rumah-rumahannya udah selesai, nah terus gimana? mereka tetep saling contact kan? addduuuh, ini yang ga aku suka kalo baca ff sequel, suka penasaran, ga bisa tidur, pokoknya harus diselesaikan!! hahahaha,

    Ya TUHAN, mudahkanlah author ini dalam menulis sisa ff ini, AMIIIIIIIN

    Author fighting!!!! ^^

  12. aku tunggu….
    lama kali di publish part 3 nya.,
    dari kemarin gak bertambah-tambah….

    oiia, kata jong ku ikut main juga lah.,
    masak cuman minho dan onew aja…
    tapi peran nya jangan yang jelek yaa…
    hehehehehhe,,,

  13. koq minho jadi dingin ya pantas karena disakitin sama keluarganya…keren chingu ff nya ditunggu kelanjutannya…hwaiting…

  14. bukan sekali publish 2 part.
    tapi aku nya salah. pas ngirim aku jadikan dalam 1 berkas.
    kupikir bakal dibagi 2 ama adminnya.
    rupanya kagak. *author blo’on, admin byk kerjaan malah ditambah2in*
    hehe
    mianhe reader uda buat kalian bingung

  15. Heheh author aku suka baca ff yang complited dan suka cari ff jadul
    Heheheh

    Bagus kok thor. Aku sssuuuukkkkaaaa.
    Kata kata yang di gunakan juga ringan.

  16. aku gak tau cerita aslinya ff ini, tp aku pngen baca banget kelanjutannya.
    aplg ketauan alesan kenapa Minho jutek bgt…
    nice story…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s