Half Married – Part 5 (END)

Half Married

( Part 5, The End )

Omo !!!! gak terasa ya sudah part 5 aja. Ending pula.

Ok. Tidak perlu berlama-lama. Let’s reading! Kajja!!! ^^

Author: I-el

Main Cast: Choi Minho, Ji Hye Rin (para flames, anggaplah itu diri kalian)

Support Cast: Other SHINee’s member, Sulli F(x), Eomma Minho (mertuanya author. Haha)

Other Cast : Wartawan yang ada di HM Part 1, Appa Hyerin

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: agak NC-17 (lagi)à gak yakin juga sih >_<”

Summary : … aku sudah memikirkan ini semua. Dan memang dicoba seperti apapun, aku tidak rela Minho oppa berdampingan dengan orang lain selain diriku…

Sesampainya di Seoul, merekapun memutuskan untuk memulai hari-hari mereka dari awal. Mereka mencoba membenahi  semuanya. Mereka memulai dari saling mengutarakan apa yang mereka pikirkan, mereka mulai saling bicara serius, dan membicarakan semuanya dengan kepala dingin.

Kehidupan mereka perlahan mulai berjalan normal, seperti halnya pasangan suami-istri lain yang baru membina hubungan mereka yang baru seumur jagung.

Sampai suatu hari, saat mereka baru saja akan memulai hari mereka pagi itu, eomma Minho menyambangi rumah Minho-Hyerin dengan ditemani oleh Sulli yang berdiri agak dibelakang. Ketika itu Hyerin sedang menyiapkan sarapan, sedangkan Minho, seperti biasa menonton liputan berita pagi hari. Dan kedatangan eomma Minho yang sama sekali tidak diharapkan oleh mereka berdua itu, terpaksa menyita perhatian mereka.

”Kajja! Ikut eomma! Palli!!” kata eomma Minho sambil menarik tangan anaknya itu, sementara Hyerin hanya diam terpaku, tidak beranjak sama sekali dari tempatnya berdiri.

Ternyata kedatangan eomma Minho itu tidak lain adalah untuk menjemput anaknya untuk ikut bersamanya ke SM Office, tempat beliau mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan rencana pertunangan antara Minho dan Sulli kepada publik.

Tentu saja Minho berontak dan mencoba melepaskan diri dari cengkraman eommanya, tapi kondisi eomma Minho yang mendadak penyakit jantungnya kambuh, berhasil meluluh-lantahkan keteguhannya. Dan Minhopun menurut dengan permintaan eommanya.

”Hyerin, bertahanlah sebentar lagi, kali ini benar-benar sebentar lagi saja. Jebal!” kata Minho sesaat sebelum pergi.

Selama ditinggal sendirian, Hyerin mencoba berpikir dengan pikiran yang terbuka. Hatinya mulai merasakan ada sesuatu yang sulit ditafsirkan olehnya dan perasaan itu didorong oleh kekuatan yang Minho berikan, yaitu kepercayaan. Tapi, disaat yang benar-benar menjepitnya ini, dia mencoba bertanya pada hatinya, sampai kapan dia akan bekeras hati untuk tetap bertahan dengan Minho padahal keadaan dan bahkan orang-orang diluar sana lebih banyak yang menentang pernikahan ini.

Dalam kebimbangannya, Hyerin yang pasrah berniat pergi ke gedung SME office dengan tujuan memberikan ucapan terakhir. Ditangannya telah dia genggam seikat mawar kuning yang memiliki arti ’Selamat tinggal’.

*          I-el       *

Acara baru akan dimulai pukul 2 siang. Masih ada sisa waktu baginya untuk meminta Minho menemuinya diluar gedung karena dia tidak diizinkan untuk masuk ke ruang konferensi pers, bahkan untuk menjajalkan kakinya di lobbypun tidak deperkenankan. Iapun menelpon ponsel Minho.

”Oppa, Aku ada di depan gedung. Aku mau ketemu sebentar saja. Bisa?”

”Apa yang kau lakukan? Aku kan tadi menyuruhmu menunggu di rumah.” kata Minho dari seberang sana.

”Oppa~, jebal.”

”Andwae!! Sekarang pulanglah. Dasar keras kepala! Aku tidak menanggung jika sesuatu terjadi padamu.” kata Minho lagi dengan nada yang meninggi.

Telponpun terputus. Tepat setelah itu, konferensi pers dimulai. Hyerin hanya bisa memandang nanar sosok Minho dari layar besar yang terpampang di sebuah gedung yang berhadapan dengan SME office. Di dalam gedung itu, Minho dan Sulli terlihat duduk berdampingan.

”Hadirin sekalian, disini saya sebagai orangtua ingin memberi pengumuman kepada publik bahwa pasangan yang sering disebut-sebut di dunia hiburan ini akan menjadi pasangan resmi seutuhnya. Pihak keluarga sedang merancang prosesi pertunangan terlebih dahulu, karena kami tidak mau terburu-buru.” kata eomma Minho di layar kaca yang ada dihadapan Hyerin.

Melihat itu, dengan spontan Hyerin berniat untuk menembus penjagaan ketat dari pihak pengamanan yang sengaja dikerahkan. Banyaknya wartawan kurang beruntung yang tidak dapat masuk ke dalam ruangan konferensi perspun juga menghalangi jalan Hyerin untuk menerobos. Sementara Hyerin berdesak-desakan, Minho dan Sulli masing-masing diminta tanggapannya atas pernyataan eomma Minho.

”Eum…Joneun Sulliyeyo. Sebelumnya jeongmal gamsahada untuk seluruh hadirin untuk kedatangannya. Saya merasa bersyukur dapat hadir disini…. blablabla..” sementara itu terlihat juga Onew yang tiba-tiba muncul dari belakang, menghampiri Minho dan membisikan sesuatu padanya. Sepersekian detik kemudian, mata Minho terbelalak. Ekspresi kaget dan tidak percaya.

”Sekarang tanggapan dari Minho-ssi.” kata salah seorang wartawan beruntung dalam ruangan itu.

”Annyeonghaseyo Joneun Minhoipnida…. blablabla..” dengan tenang dan lugas Minho menyatakan apa yang menjadi isi otaknya sejak tadi. Ia keluarkan perlahan kata-kata yang sudah dia rancang sebelum acara ini mulai dan terasa sekali aura yang menyatakan bahwa Ia berusaha memilah kata agar tidak menyakiti pihak manapun. Setelah Ia menyelesaikan kalimatnya, Ia keluar dari ruangan tanpa mengucapkan salam sama sekali. (*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Hyerin POV

Aku berusaha sekeras mungkin, memaksa masuk ke dalam ruangan dimana Minho oppa berada. Sejak diperjalanan, aku sudah memikirkan ini semua. Dan memang dicoba seperti apapun, aku tidak rela Minho oppa berdampingan dengan orang lain selain diriku, meskipun desakan orang-orang disekitarku membuat semuanya tidak sejalan dengan keinginanku, aku tidak peduli dengan semua itu.

Sulit sekali oppa untuk melepasmu. Sulit. Ini lebih sulit dibandingkan dengan ketika aku mulai kehabisan nafas karena terjatuh dari tempat tinggi dengan posisi terduduk ataupun terbaring.

”Jebal, beri aku jalan. Jebal!! Aku ini istrinya.” dan bodohnya aku, pernyataanku tadi sepertinya membuat suasana malah semakin keruh.

Tiba-tiba semua orang yang sejak tadi sudah berada di depan gedung SME Office itu mengerubungi aku. Dengan nafas yang masih naik-turun, kepala yang berputar-putar, dan perasaan yang beradu di benakku, aku mundur perlahan menghindari kerumunan massa itu.

”Apakah anda Hyerin-ah yang keberadaannya kembali kepermukaan karena kemunculan kabar hubungan kalian mulai harmonis?” tanya seorang wartawan.

”Benarkah saat pernikahan anda, tak satupun keluarga Minho-ssi yang hadir” tanya wartawan yang lainnya.
”Apa tindakan anda selanjutnya? Benarkah kabar bahwa anda merelakan hal ini terjadi?”

Serentetan pertanyaan memenuhi telingaku. Dan dari sekian banyak pertanyaan, yang terakhir itulah yang membuatku semakin sulit bernafas dan berpikir jernih. Mataku liar mencari si pemilik pertanyaan, kakiku tak berhenti melangkah mundur, sementara tanganku sibuk mencari pegangan. Dan teryata wartawan itu adalah wartawan yang selama ini berbuat onar dalam kehidupan SHINee.

Saat aku semakin terjepit, aku malah tersudut kesebuah pagar berpalang besi yang tingginya kira-kira sepinggang orang dewasa. Aku ingin lari, tapi aku malah terpeleset dan aku merasakan kepalaku membentur keras palang besi itu. Tubuhku langsung saja merosot ke lantai beton tersebut. Saat itu aku masih sadar, aku masih bisa merasakan orang-orang itu belum juga membubarkan diri, dan saat itu juga aku merasakan diriku digendong oleh seseorang yang cukup kuat. Pada akhirnya bunga mawar kuning yang kugenggam itupun terlepas begitu saja dari genggamanku.

Aku mencoba membuka sedikit mataku. Aku ingin memastikan siapa yang begitu baik menolongku. Aku menambah daya fokus lensa mataku dan akupun menangkap bayangan wajah Minho oppa samar-samar. Tidak mungkin. Diakan sedang berada didalam sana. Tapi, itu memang dia. Aku lihat sekali lagi dan memang Minho oppa yang membopongku. Matanya menatap lurus kedepan dan hanya ada guratan cemas di dahi dan sekitar bibirnya.

*          I-el       *

Aku kerjap-kerajapkan mataku hingga pupil mataku terbiasa dengan cahaya disekitarku sambil memegangi kepala belakangku. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa aku ada di ruang rawat rumahsakit, berhubung saat aku bangun hanya ada warna putih. Belum lagi tangan kiriku tiba-tiba mengilu karena tusukan jarum infus.

Aku lepaskan masker oksigenku dan seketika tercium aroma obat yang menusuk hidung. Aku memutar pandanganku mencari dia, tapi mataku belum juga menangkap sosoknya.

”Kau sudah bangun, Hyerin-ah?” malah sosok Onew oppa yang mencoba tersenyum hangat yang muncul di depanku kini.

”Aku mau bertemu Minho oppa.” pintaku dengan nada memohon.

”Ta-tapi…” kata Jonghyun oppa tersendat. Aku mencoba duduk dengan dibantu oleh Taemin.

”Aku ingin bertemu dengannya.” kataku sedikit mendesak. ”Sekarang!! SEKARANG!! Aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal, jika dia memang ingin mengakhiri semuanya sampai disini.” pintaku semakin keras memaksa dan tindakanku malah membuat tubuhku mendadak lemas, tapi Jonghyun oppa dan Onew oppa dengan sigap menahan tubuhku.

Aku melihat Kibum oppa mengambil remote dan menyalakan tv yang memang tersedia di ruang perawatanku.

”Kau harus menonton ini.” katanya membuat perhatiaanku tertuju pada layar tv. (*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Minho POV

”Sekarang tanggapan dari Minho-ssi.” kata salah seorang wartawan dalam ruangan pengab ini.

Annyeonghaseyo Joneun Minhoipnida.” kataku basa-basi. ”seperti yang kalian tahu, saya datang kesini karena tujuan eomma. Saya bahkan tidak mengira hari ini akan benar-benar ada dan tentu saja saya terkejut.”

”Lalu apa tanggapan anda?” tanya seorang wartawan lainnya. Pertanyaan bagus. Ini saatnya.

”Biasa saja.” kataku dengan entengnya. ” Hari ini ada bukan karena saya menginginkannya, tapi karena sebuah sabotase pihak tertentu demi kepentingannya.” ini baru permulaan. ”Eomma, aku tahu maksud eomma baik dan memang dari dulu eommalah yang berjasa memilihkan jalan yang terbaik agar aku mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tapi tidak untuk yang satu ini. Yang aku butuhkan sejak beberapa waktu yang lalu, mulai sekarang, dan sampai waktu berkata ’sudah selesai’ adalah Hyerin seorang.” eommaku terbelalak. Itu ekspresi khasnya. Aku lihat dia mulai sesak.

”Saya akui, saat itu kami menikah karena ego kami masing-masing.” lanjutku lagi. ”Saya sebagai suami tidak bisa menghadirkan suasana aman baginya. Tapi itu sudah lama dan waktu ternyata melakukan sesuatu yang jauh dari perkiraan manusia. Waktu membuat kami saling mengerti satu sama lain, saling memahami, bahakn saling melengkapi.” aku tarik nafas panjang. ”Kalau bagi Hyerin, Minho adalah pengobat rasa sakitnya, bagi Minho dia adalah separuh bagian dari hidup Minho. Minho harap eomma mengerti.” kataku sambil menatap eomma yang mulai memegangi dadanya.

Akupun segera keluar dari ruangan yang penuh sesak ini. Eomma menahan tanganku, tapi Sulli ternyata melakukan hal yang tidak kuduga-duga. Ia mencoba membantuku melepas cengkraman eomma. Sambil terus berkata ’uljima’, Sulli mencoba memberi pengertian pada eomma.

”Ahjumma, biarkan Minho oppa bahagia dengan keputusannya. Hari ini sangat membuka hati Sulli lebar-lebar. Sulli gak apa-apa kok. Ini semua juga salahku, ahjumma.” katanya mencoba embuat eomma mengerti.

”Bagaimana bisa ini salahmu?” kata eomma Minho dengan emosi yang menanjak.

”Bisa, ahjumma. Kesalahan itu bisa terjadi jika kita tidak bisa memilih dengan tegas dan selalu mengulur apa yang ada di depan mata.” kata Sulli dengan tatapan yang kosong.

Setelah tanganku terlepas, aku berlari keluar tempat dimana Hyerin menungguku sejak tadi. Onew hyung bilang sekarang Ia berada dalam masalah dan aku harus ada untuk menolongnya kapanpun itu. Tuhan, tolong percepatlah langkah kakiku, aku tidak mau kehilangannya.

Sesampainya di depan, aku melihat Hyerin sudah disudutkan oleh wartawan. Dia terus berjalan mundur, tapi karena kurang berhati-hati, diapun tergelincir dan terjatuh dengan kepala belakang tepat mengenai pagar besi yang sesaat tadi menjadi tumpuannya.

Dengan gusar dan tatapan memburu kepada setiap orang yang mengerubungi istriku, aku masuk ke dalam kerumunan dengan usaha menyelamatkan Hyerin. Aku berhasil menggendong tubuhnya yang terlalu mungil.

Aku berjalan dengan mata yang tidak lepas dari mobil SHINee dan berusaha tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang bahkan sedang mengejarku untuk meminta konfirmasi atas penyataanku tadi di depan awak media. Karena aku lebih mementingkan istriku, aku biarkan mereka kecewa dan terus melajukan mobil ke rumahsakit.

*          I-el       *

Ya Tuhan, ini adalah hari keenam, tapi Hyerin tidak sadar-sadar juga. Padahal banyak sekali yang ingin aku jelaskan padanya. Meskipun aku seharian duduk berjaga disamping tempat tidurnya, aku berusaha tidak mengeluh dan anehnya rasa lelah sama sekali tidak pernah terbersit dipikiranku sediktipun.

Hyerin, bangunlah!! Aku ingin menjadi seseorang yang pertama kau lihat saat kau siuman. Bantulah aku mengurangi rasa frustasiku dengan membuka matamu.

”Hyerin…” kataku pada akhirnya memanggil namanya juga. Tapi dia tak kunjung bangun. ”Hyerin, kau harus bangun untuk melihat apa yang seharusnya kau lihat.”

Sampai matahari terlelap dipembaringannya, Hyerin tak juga bangun. Padahal besok adalah hari yang penting bagiku.

”Minho, ayo pulang, nak! Kamu harus bersiap-siap untuk besok.” aku angkat wajahku yang sejak tadi bersandar di atas tangan Hyerin yang dingin. Aku menoleh kebelakang untuk memastikan suara itu memang berasal dari pita suara eommaku.

”Tunggu eomma!” kataku meminta. Aku balikkan lagi badanku menghadap ke Hyerin yang masih saja terpejam. Setelah aku kecup keningnya, akupun mengikuti eomma yang berjalan meninggalkan ruang rawat inap Hyerin.

Ini semua salahku. Jika saja aku bisa membicarakan hal ini baik-baik dengan eomma sebelumnya, hari ini mungkin tidak akan pernah ada. Ini sudah kesekian kali aku menyakitinya bahkan membahayakan nyawanya.

*          I-el       *

”Apa hari ini Hyerin sudah sadar? Apa dia mencariku?” argh… daritadi kedua pertanyaan itu hilir mudik dalam batinku. Aku jadi gelisah sendiri di tempat dudukku. Hari ini adalah hari yang penting bagiku, salahkah kalau aku berharap yeoja yang masih menjadi istriku itu, bisa datang hari ini?

Dibangku tamu undangan paling depan, yang kulihat hanya ada kedua orangtuaku, Minseok dan Sulli. Juga beberapa kerabat kami. Tapi tidak satupun  batang hidung milik member SHINee lain yang terlihat dari tempat dudukku. Apalagi Hyerin.

”Saudara Choi Minho.” namaku dipanggil, tapi aku masih enggan mengangkat diri untuk beranjak dari bangku menuju panggung auditorium.

Aku melihat eommaku memberi isyarat agar aku segera naik ke atas panggung. Akhirnya akupun menurut setelah menghela nafas panjang. Dan satu-satunya hal yang aku pikirkan adalah harapanku agar Hyerin dapat melihat tayangan ulang konferensi pers tempo lalu. Aku tidak ingin dia pergi dengan hati yang tercabik, setidaknya itupun kalau dia memutuskan untuk pergi dari hidupku. Tapi aku harap tidak.

Dalam sekejap, pita diatas topiku* sudah berpindah 180 derajat dari posisinya semula.

”Minho, senyumlah!” kata dosen pembimbingku yang kebetulan berdiri di atas panggung juga. Huffh..  bagaimana aku bisa tersenyum?

Tiba-tiba pintu besar ruang auditorium terbuka. Dari pintu itu muncul sosok yang kutunggu-tunggu sejak tadi pagi. Keempat member SHINee yang tengah mendorong kursi roda yang didudukki oleh yeoja yang selama beberapa waktu ini menjadi bagian dari hidupku.

Dengan terburu-buru aku turun dari panggung dan menghampirinya yang hanya bisa tersenyum bangga memandangku. Aku tahu saat ini semua pasangmata sedang memandangi kami, tapi aku tidak peduli.

”Hari ini aku resmi lulus, jagiya.” kata-kataku disambut oleh setitik airmata yang meluncur mulus dipipinya yang terasa dingin, ketika aku menyeka airmata itu dengan ibu jariku.

”Tahun depan aku pasti menyusul, oppa.” balasnya dengan suara yang lemah sekali. Aku pegang pipinya dan kukecup salah satunya lekat-lekat. Entah ini karena hari wisudaku ini dihadiri oleh istriku juga atau karena pada akhirnya aku bisa membina keluarga kecil kami dari awal lagi. Yang kutahu hari ini aku begitu bahagia.

”Minho, ini acaramu. Masa kau menghancurkannya dengan adegan seperti ini sih?” kata Onew hyung mengingatkanku.

Aku dorong kursi roda Hyerin ke bangku paling depan, tempat dimana keluarga dan kerabatku duduk. Eommaku yang pertama kali merespon kedatangan kami dengan membantuku memperbaiki posisi kursi roda Hyerin. Kemudian eomma memberi kecupan di pipi kanan dan kiri Hyerin dan kecupan itu direspon Hyerin dengan sebuah senyum merekah dari bibir tipisnya. (*** I-el)

*          I-el       *

”Aloha, yeobo!” sapa Hyerin pagi itu sambil memegang cangkir porselinnya. Kemudian ia kembali membalikkan tubuhnya ke arah pantai.

”Loh?! Udah bangun, jagi?” kata Minho sambil menghampiri Hyerin yang belum beranjak dari balkon. ”Aloha!!” Minhopun membalas ucapan selamat pagi istrinya. Kemudian dia merengkuh bahu istrinya dan menariknya dalam dekapannya.

”Mau teh?” tanya Hyerin menawari sambil menatap tubuh Minho yang tidak mengenakan atasan. Minho membalas dengan gelengan.

”Aku mau yang lain.” ujar Minho dengan nada manja dan rawut muka yang berubah dengan spontan. Otak Hyerin kemudian menerjemahkan bahasa tubuh Minho.

”Hah?!! Sekarang? Ck…” respon Hyerin yang baru selesai menjabarkan arti dari permintaan Minho itu. ”Ta-tapi ini masih pagi. Entar malam aja ah~.” kata Hyerin lagi dengan agak takut-takut.

”Gak apa-apa. Tadi malam kan enggak jadi karena kepalamu tiba-tiba sakit.” kata Minho sambil merengkuh kedua tangan Hyerin dan mengajaknya berputar-putar. ”Mau ya?!” tanya Minho dengan sedikit memberi penekanan memaksa.

”Huwaaaa….” jerit Hyerin. Karena kehilangan keseimbangan sewaktu berputar tadi, merekapun terjatuh ke lantai dengan posisi Hyerin berada di atas tubuh Minho.

Nafas Minho tiba-tiba berubah menderu di leher Hyerin dan Hyerin hanya bisa menutup matanya, pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dengan perlahan, Minho mendorong tubuh Hyerin ke samping sehingga kini posisi mereka terbalik.

Kemudian Minho menangkap bibir Hyerin dan menguncinya dengan agak gusar sehingga membuat bibir bawah Hyerin sedikit terluka.

”Eungh…” erang Hyerin ketika menyadari bibirnya tergigit oleh Minho. Dengan segera,  Minho menyudahi penjarahan singkat yang dilakukan pada bibir istrinya itu.

Masih dengan posisi tidur dengan siku kiri menahan bobot tubuh, ibu jari Minho bergerak ke bibir Hyerin yang terluka itu untuk menyeka setitik darah yang muncul ke permukaan kulit bibir tipis Hyerin, sedangkan Hyerin masih saja diam dan tidak berontak dengan apa yang Minho lakukan. Darahnya terus-menerus keluar walau dengan intensitas yang kecil.

”Biar aku seka.” kata Minho.

Ternyata Minho kembali meraup bibir Hyerin perlahan. Dengan lidahnya, Ia mengecap darah yang masih menempel dibibir Hyerin. Kali ini tangan Minhopun tidak tinggal diam. Setelah dia merasa darah itu berkurang, Ia melumat bibir Hyerin perlahan, tangan kirinya mengelus puncak kepala Hyerin, dan tangan kanannya membuka satu persatu kancing kemeja putih transparan yang Hyerin kenakan untuk tidur.

Minho mulai bersiap untuk mendarat di atas tubuh Hyerin yang sudah mencoba mengatur nafasnya, dan ketika dia sudah sampai di bagian tubuh Hyerin yang menjadi lokasi pendaratannya, tiba-tiba pintu kamar hotel yang mereka sewa terbuka.

”Wahh… sepertinya appa mengganggu kalian ya, Hyerin?!” suara itu bersumber dari appa Hyerin.

”Appa!!!” seru Minho dan Hyerin gelagapan.

Minho segera menyingkir dari tubuh Hyerin dan menaikan kembali celananya, sedangkan Hyerin tergesa-gesa mengancingkan kemejanya dan merapikan ikatan rambutnya.

”Sudah… sudah… lanjutkan saja. Anggap saja appa tadi tidak datang.” kata appa Hyerin membuat pipi keduanya memanas. ”Oh ya, Hyerin. Jangan dilantai kayak gitu ahh.. nanti kamu masuk angin. Lagian kasur itu lebih empuk daripada lantai.” kata appa Hyerin lagi semakin membuat keduanya tak karuan, sambil beranjak keluar dari kamar anak dan menantunya itu.

Setelah memastikan appa Hyerin tidak ada lagi disekitar kamar mereka, merekapun bangkit dari lantai, menghampiri tempat tidur mereka, dan duduk di pinggirannya.

”Hhh… ada-ada aja gangguannya.” kata Minho sambil mengambil nafas panjang. ”urusan half married kita udah selesai, tapi timbul lagi masalah half honeymoon. Gimana ini?” kata Minho sambil menggaruk-garuk kepalanya gusar.

”Lagian kamu sih iseng ngajak appa. Kan udah aku bilang, biar aja appa di Korea daripada ikut kita kesini, malah bikin kamu frustasi. Hahaha…” kata Hyerin disambut dengan gelak tawa dari dirinya sendiri.

”Udah kayak gini, kamu malah nyalahin aku.”

”Lagian tadi aku kan bilang entar malam aja.” seraya memilin rambut sepinggang atasnya itu. Minhopun tertarik untuk memegang rambut Hyerin dan kemudian menghirup aroma melon dari rambut Hyerin itu. ”udah. Entar wanginya habis kalau kamu hirup begitu.”

”Ne. Tapi, nanti malam pastikan pintunya tertutup, ya!” kata-kata Minho itupun disambut dari gelak tawa keduanya.

Mereka menutup cerita pernikahan masa lalu mereka yang kelam itu dengan saling berpelukan penuh kehangatan. Kehangatan yang selama ini terkubur dibalik kekerasan hati mereka. Dan seiring berjalannya waktu, takdir meminta mereka untuk tetap bersama, berjalan berdampingan, dan tetap saling melengkapi.

Fin ^^

Footer : * maksudnya topi yang biasanya dipakai orang klo wisuda. Tahu kan?! Aku lupa namanya apa. Keke

N.B

Hehhh….

* menghela nafas sambil merenggangkan tangan keudara.

Akhirnya selesai juga nih album FF debut aku. Haha… (berasa penyanyi aja nih)

Ya, pokoknya begitulah. *apa dah!! ._.

Sebelumnya maaf banget karena judulnya ’Half Married’ part ending ini juga terkesan setengah-tengah. Apalagi itu adegan N.C.nya yang lebih setengah” lagi. Mian… Mian..

*bow TT…TT

Sebenarnya sih sengaja bikin adegan kemunculan appa Hyerin. Kalau aku terusin, pasti reader jadi gak nyaman bacanya (aku banget ini sih), apalagi bagi yang udah tahu profile dibalik identitas I-el ku itu. Lagipula, aku gak begitu paham menjabarkan hal yang beginian. Bukan ahli (tapi sok”an bikin adegan ini. Mich…Mich). Faktor umur pula. Hehe… maklumin ya, authornya belum 17 thn waktu bikin FF ini (menuju 17thn itu tinggal menghitung hari dimulai dari pas bikin part ini), makanya adegan itu jadi agak” crunchy gimana gitu. Malah mungkin melempem? Huwaa… maaf..

* lah?!! Curcol.

Ehemm… ehemm..

Aku mau ngucapin Admin yang udah turut campur tangan dgn kehadiran FF ini sampai tuntas. >.<”, bwt reader yang udah senantiasa baca, comment, nunggu, baca lagi, comment lagi, trus nunggu lagi sampai akhirnya The End juga

^_^ Gamsahapnida!!!! *bow 1000 kali (lebih banget!!)

Dan bwt Dee ‘S.Yo’ eonni, hidup ini gak berakhir sampai di sebuah kegagalan aja kok. Kegagalan itu adalah pertanda kalau apa yang kita lakukan sebelum kegagalan itu, kurang maksimal dan berarti kita harus memperbaikinya. Merajut kembali semuanya dari awal lebih mudah daripada kita harus mundur kebelakang sambil menyesali jalan yang udah kita ambil sebelumnya. Walau prosesnya agak lama, tapi hasilnya pasti akan lebih indah. ^^

Pokoknya makasih deh bwt semua yg terlibat. Buat seluruh penghuni SF3SI. ^^

Terimakasih ya!!!Dadah……. goodbye…… annyeong…….

*dadah-dadah gaje sambil berdiri di skateboard yang ditarik sama SHINee

*plakk…. (para istri-istrinyapun menampar author)

Sincerely,

Author: Ji I-el ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

106 thoughts on “Half Married – Part 5 (END)”

  1. I like your story!!

    duh Hyerin makan yang teratur dan rajin olahraga yaa~
    mesti jaga kesehataaaaaaaaaaann

    huhuhu akhirnya omma-nya Minho setuju juga sama Hyerin *nangis terharu*

    GREAT STORY!!

  2. saya suka ff ini, narik nafas lega pas baca di part terakhir gak jadi NC, soalnya saya gak suka baca yg begituan biar umur ud mau 30 tahun wkwkwkwkwk

    1. huhh… aku yang bikin aja kaget. entah knp aku bisa bikin begini
      Setelah jd trus baca ulang satu kata di batinku ‘YA AMPUN AKU KOK JADI YADONG BEGINI?!!!’
      Hehehe…
      Thanks bwt commentnya ya

  3. aku ktinggalaaaaaaaaaaaannnnnnnn *selalu*
    el g blg2 publishnya… *memangnnya a ku sapa*

    huwaaaaaaaaaaa keren, apalg pas konferensi pers itu….
    endingnnya bagus…
    dan apa itu adegan dlantai i el syg???

    hahahahaha, bkin mupeng deh.

  4. uwaaaaa mian aku koemnnya disini aja yah….. *bow*
    Aku uda bacaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! huwa keren buanget , aku sampe bilang dlem hati “aku anggep Hyerin itu aku ajadeh!!” huakakakaka…
    akhirnya happy end jugaaaaa….
    huh appanya hyerin tuh ngganggu aj, tpi gpp deh….
    kereeen!!
    ^_^

  5. wah, ceritanya bagus ya…
    maaf baru comment di part ini…
    duh, bikin nangis nih ceritanya, padahal mata kiriku abis dioperasi, perih deh hehhe. gwanchana ^_^
    bagus alur ceritanya thor, daebak!

  6. wah ceritanya baguss, aku sempet kesel karna part 4&5 nya gak bisa dibuka, minho itu memang suami idaman dehhhh, lanjutkan author…………….

  7. ceritanya mirip kaya manga karangan miyawaki yukino, aku lupa judulnya apa, pokoknya ada bagian yg minum bir rasa jeruk, terus ada bagian pingsan di bath up jg.
    bagian lagian gituan trs ada bapaknya jg mirip kaya di manga.
    walopun banyak jg yang gak sama hehehe.
    jgn2 authornya suka baca manga jg kaya saya *reader rewel hahaha*
    tp bagus ko thor!! =)

    1. Ahahaha…
      Emg iya ini tuh diangkat dari komik Half series yang trbagi jadi 4
      Half Married, Half Wedding, Half Honeymoon, sma Half apa lg ya, aku lupa yg satu lg ^^
      Iya, aku suka baca manga 😛
      Dr SD smpe skrng malah
      Mian aku bru bs blsnya skrng ya ^^
      -bow-

  8. halo, aq newbie d sni n ini komen prtma q, wlau ini bkn sequel prtma yg q bca smpai habis. tp half married emg keren bget. aq nangis wktu bca part 2 n part 3.. keren!

  9. Kalau bagi Hyerin, Minho adalah pengobat rasa sakitnya, bagi Minho dia adalah separuh bagian dari hidup Minho … oh so sweet…

    huuuaaaa … bc maraton….

    ceritanya seru euy… betah bc di depan lappy. biasanya bc lwt hape

    1. Huwaaa.. iyakah> iyakah?
      Ahhh senangnya dlm hati ^^
      Kekeke…
      Aku muter otak, meres otak jg tuh bkin kata”nya XD
      mkasih udh ngecomment walau lama bgt ya nih FF ^^

  10. horee.. happy ending..
    bahagia selamanya..
    ffnya dari awal mpe ending kren banget author..
    d tunggu karya selanjutnya ..
    semangat 🙂

    1. Ahh iya iya, yg itu. Ya ampun, bacaan masa SMP ku itu ^^
      Kekeke.. msh dicetak?
      Sampai skrng? Emejing.. aku mau nyarilah klo gtu, komikku ilang”an soalnya XD

  11. huwaaaa, akhirnya berakhir dengan sebuah kebahagiaan.. seneng deh.. 😀
    adegan terakhirnya, bikin orang ketawa.. itu lucu.. 😉

  12. kyaa~!!! suka bnget!
    pas adegan sulli sma mertuaku(?) aku nya teriakk2 gaje, jiahh!! sulli baik sekali!! 🙂

    trus, pas minho wisuda, pertama kali manggil ‘jagy’! kyaa~ terharu bnget aku~ *ngelap tangis sendri*

    nc nya di tambah dong!! #plakkk, readers otak yadong~ :p

    ahaha~ poko’a aku suka thorrr, untuk debut, ff ini mah sgt keren!

    neomu2 joaheyo!!

    akhir kata,
    Choi Minho, neomu neomu saranghaeyo~ ❤

  13. annyeong haseo..
    dea imnida, ak new reader d sni..
    br jd new reader ak ud bk ff ni n lsg trkagum2.cr pnyampain na daebak bgt,,ak sk..
    thx udh publish y author,, ff ni sgt mghburku..hehehe ♥

  14. Alloha aku reader baru .
    Maap baru komen soalnya baru baca .
    Aku liat sampe part terakhir yaudah aku pikir komennya di part akhir aja hehe .

    Di part pertama aku masih blm ngerti *maklum masih aga lola.
    tp makin kesini aku makin ngerti haha .
    Tp ada rasa kecewa dikit kenapa sih appanya hyerin harus muncul di saat yg ga tepat ?
    Akukan udah serius2 baca eh adegan yg itu ga di terusin lg huft sgt di sayangkan *ketauan bgt otak mesumnya.
    Tp thor ceritanya bagus ko aku suka 🙂

  15. yaaah akhirnya end. tapi aku suka banget thor ceritanya. akhirnya couple satu ini bahagia jga~
    Oiya thor, nama topi yang buat wisuda itu toga ._.
    Great job author! ^^

  16. Kyaaaa kenapa harus finish? Hiks.. Keren ffnya, lucu, menghibur. Ngebayangain jadi hye rin pasti berat banget bebannya. Endingnya bikin senyum-senyum sendiri kekekeke~

  17. hahahaha…. aku ngakak pas endingnya…
    tp lebih ngakak lagi, pas author bilang lupa nama topi untuk wisuda itu…!
    (kenapa, aku ngakak??????…………….)
    karena aku jg lupa!!!! hahahahahaa…………… (plak! ditampar readers…)
    overall…, ni ff bagus, ada bbrp adegan yg sweet bgt mnrut aku…..

    buat after storynya yah… skalian halfhoneymoon, klo perlu!

  18. akhirnya selesai juga bacanya. tapi sebelumnya, aku mau minta maaf karna baru bisa komen di part ending ini:’)
    tapi overall, ffnya bagus kok. ngena bgt:’D
    mungkin dibeberapa bagian ada kata” yang agak kurang baku misalnya dari penggunaaan kata ‘kau’ jadi ‘kamu’, dll.
    tapi utk first, ini udh bagus bgt kok. konfliknya juga udh lumayan:)
    semangat terus nulisnya yaaa. fighting!!

  19. Maapin saya thor -_- saya kira namanya hyeri, ternyata hyerim -_- maklum kalo baca sambil ngantuk/? suka ga fokus -_-

  20. Annyeong~ aku udah baca dari Chapter 1-selesai, tapi baru bisa komen disini. gapapa kan? hehe… soalnya aku reader baru. mohon di maklumi.

    Cerita sweetttttttt banget. Seperti yang di jelaskan di atas, aku nganggap klo Hyerin itu aku (padahal aku itu MVP dan biasku Onew hihihi)
    Bacaannya juga enak dibaca, cuma ya gitu. selalu ada Typo nya :p

    tapi ini sudah cukup bagus banget. aku suka sama FF nya

    Nice FF

Leave a Reply to _chaeRim Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s