Kontesutokukkingu

Title                 :  Kontesutokukkingu[1]

Author             : E-blow (Echie)

Rating             : G

Casts               : Choi Yoo Ri (OC) ♥ Kim Ki Bum (Key)

Other Cast       : Choi Yoo Jin (OC)

Genre              : Family, Romance

Length             : One shoot

Disclaimer       : I don’t have Key characters. He belong to himselves. Yoo ri are belong to my imagination. And Yoo Jin is my original character.  All things that happen in here are only a fiction. So please don’t sue me.

Warning          : Un-beta-ed

Summary         : A woman who aspires to become a skilled chef. An the cooking contest begin she met her soulmate.

A/N                 : In this is fanfic I didn’t use any diction. So you can relax and read this fict with comfort. I’m sorry for my fault, maybe any miss typo in this fict. But I hope you can enjoy it.

And before you read this fanfic complete, I will give you a rule:

1.      TAGGED MUST BE COMMENT

2.      DON’T BE SILENT READER

3.      PLEASE DON’T SUE ME, IT’S ONLY FANFICTION.

Gerimis mengeram kesunyian diantara aku dan adik perempuanku yang tengah duduk manis di kasur empuk; pemberian halabeoji sebelum ia meninggalkan kami.

“Eonnie-ah” Yoo Jin membuka suaranya, membungkam kesunyian diantara kami.

“Ne”

“Kenapa kau tidak menerima pekerjaan yang di tawarkan oleh Sooman ahjussi”

“Aku tidak suka”

“Kenapa? Padahalkan dia menawarkan agar kau jadi marketing manager di perusahaanya”

“Aku tidak mau jadi marketing manager, atau apapun itu. Dari dulu aku ingin jadi seorang koki.”

“Oh.. kalau begitu kita ganti topik, bagaimana hubungan kau dengan Chunji Oppa ?” Yoo Jin bertanya sudah seperti seorang wartawan yang tengah mencari sebuah berita terpanas.

“Ah, sudahlah aku mau tidur” aku menarik selimut melampaui kepalaku, menutup seluruh tubuhku, kalau tidak burung yang satu itu akan berkicau terus-terusan.

“Ya !! Eonnie-ah, kenapa kau malah tidur, aku mau bicara dengan kau!! Bekicot bangun!!” Yoo Jin menarik selimut yang aku kenakan, dan mengambil bantal yang ada di sebelahnya, lalu memukulkannya ke bahuku.

“Sakit, Bekicot !! Baiklah, kami sudah putus sebulan yang lalu. Puas?” aku tak mau kalah dengan adikku yang gila ini, aku mengambil bedak yang ada di samping lampu tidur dan menaburkanya ke Yoo Jin.

“YAA!!” suara teriakan Yoo Jin menggema di rumah yang di huni oleh keluarga kecil kami; Aku, Yoo Jin, Eomma, dan Appa.

“Kau jangan berteriak seperti itu, nanti eomma dan appa bangun!!” aku membekap mulut Yoo Jin dengan tangan kananku. Belum sempat Yoo Jin membalas tindakanku, muncul sosok yang aku kenal; eomma.

“Ini sudah malam, sebaiknya kalian tidur, dan kau Yoo Jin, jangan berteriak seperti itu, ini sudah malam”

“Tapi….” desah Yoo Jin.

“Sudahlah, besok kau sekolah. Sebaiknya tidur dan istirahat.”

Eomma berlalu, dan sekarang hanya ada aku dan bekicot dengan wajah putihnya akibat bedak yang aku taburkan tadi ke kepalanya. Bahuku masih sakit akibat pukulan yang di berikan oleh yodongsaeng ku itu.

“Kau lihatkan, eomma marah. Jadi, bebaring manis dan tidur yang nyenyak.” aku melanjutkan acara tidurku yang sempat terbengkalai karena ulah bekicot itu.

Ku lihat Yoojin yang tengah pergi menuju kamar mandi, sementara aku memikirkan kata-katanya tadi–menjadi marketing manager di perushaan Sooman ahjussi. Apa harus aku mengambil pekerjaan yang di tawarkan oleh Sooman ahjusssi, menjadi seorang marketing manager bukanlah impianku. Dari kecil aku ingin sekali menjadi seorang koki handal. Dan bekerja dengan perusahan yang aku buat sendiri dari hasil jerih payahku.

“Eonnie-ah” terdengar suara parau Yoo Jin memanggilku.

“Eum… kau sudah membasuh mukamu dan mencuci kakimu?”

“Sudah”

“Tidurlah”

“Ne”

Yoo Jin membaringkan badannya ke kasur dan terlelap, terbang ke alam yang hanya ada dia. Aku menutup pelan mataku. Mencoba untuk tidur.

***

Aku sedang berada di dapur saat Yoo Jin memanggil-manggil namaku.

“Eonnie-ah, Eonnie-ah”

“Ne, aku di dapur!”

“Huhuh,,,” terdengar desahan nafasnya, menyedihkan. Tampaknya dia habis berlari lima puluh kilometer.

“Atur dulu nafasmu, lalu mulailah bicara.”

“Begini, saat aku pulang sekolah, aku lihat ada brosur yang memajang iklan untuk lomba memasak. Katanya diadakan untuk seluruh Korea. Hadiahnya juga lumanyan besar. Juara pertama pergi kursus masak di Italia selama dua tahun yang juara kedua selama satu tahun. Dan sejumlah uang. Menarik bukan? Bukankah ini yang selama ini kau cari?” terlihat Yoo Jin semangat sekali.

“Kapan lombanya?”

“Minggu depan”

“Baiklah, Eonnie akan ikut. Kau juga ikut, jadi asistenku. Mau kan?”

“Tapi, aku tidak pandai dalam hal memasak. Aku payah soal itu. Bagaimana?”

“Tapi aku butuh asisten. Dan hanya kau yang ada di otakku sekarang. Tolong bantu Eonniemu ini, Yoo Jin-ah” aku menatapnya dengan tatapan–kau harus ikut denganku kalau tidak aku akan mati.

“Baiklah, aku tidak tahan melihat kau memelas seperti itu.”

***

“Kau pasti menang Eonnie-ah” Yoo Jin berbisik di telingaku. Ya, sekarang lomba memasak seluruh Korea di adakan. Bibirku hanya menyunggingkn seulas senyum.

“Tentu saja, aku pasti yang akan menang.” aku sangat yakin dengan kemampuanku. Appa menyekolahkanku di sekolah khusus memasak selama bertahun-tahun. Baik itu di dalam maupun luar negeri. Di usiaku yang tujuh belas tahun ini, aku merasa cukup ahli dalam meracik masakan yang lezat. Tak di ragukan lagi aku pasti yang akan menang. Bahkan aku peserta termuda yang ikut lomba ini, jika aku yang menang pasti banyak orang yang akan merasa takjub melihatku.

Aku mengecek lagi peralatan yang aku bawa. Wajan teflon terbaik, anti lengket. Satu set pisau tajam yang di impor langsung dari Jepang.

Kali ini panitia lomba memperbolehkan para peserta membawa semua keperluanya untuk lomba. Aku membawa bahan dan bumbu yang aku perlukan. Aku menatap puas toples-toples bening yang berisi  rempah dan bumbu yang ada di hadapanku. Ada mint, sage, allspice, rosemary, biji sawi hijau, cabai, yogurt, bay leaf, biji wijen, daun bawang, jahe, deonjang dan yang lain semuanya kompit. Tinggal menunggu saja.

“Yoo Jin-ah apa kau sudah mengecek semua peralatan masak kita?”

“Ne, semuanya beres. Tidak ada yang kurang.”

“Baguslah kalau begitu.”

“Eonnie-ah aku nervous, kira-kira bahan yang akan digunakan apa ya?”

Aduh adikku yang satu ini. Padahal dia kan hanya asisten, kenapa dia yang nervous.

“Jangan takut, kita bisa merubah bahan sederhana jadi luar biasa.” aku meyakinkan Yoo Jin.

Para peserta lain menunggu dengan ekspresi bermacam-macam. Ada yang terlihat cemas, ada yang mondar-mandir, ada yang bengong, dan ada juga yang tenang, seperti seorang laki-laki–mungkin tua beberapa tahun dariku–yang ada di samping kiriku. Kulihat dia tidak membawa banyak bumbu dan peralatan memasak. Dia terlihat santai dengan hanya membolak-balik majalah masakan terbaru. Bagaimana bisa santai dengan persiapan seminim itu. Aku mengeleng.

“Wah, tahun ini pesertanya banyak sekali yah, Eon? Tidak seperti tahun lalu. Sayang tahun lalu Eonnie masih kursus di Amerika.” Yoo Jin mencerocos, membuyarkan lamunku.

“Lihat saja hasilnya nanti” aku membetulkan letak celemek yang ku kenakan dan duduk di samping Yoo Jin, dan tampak dengan jelas olehku laki-laki tadi memperhatikanku.

“Lama sekali ya? Aku sudah tidak sabar” Yoo Jin membuka mulutnya lagi.

“Sabarlah, masih lima belas menit lagi.” Aku sadar kenapa Yoo Jin bersikap seperti itu, ini memang bukan lomba biasa. Ini lomba luar biasa. Jumlah pesertanya juga banyak. Hadiahnya juga fantastis. Kursus masak di Italia selam dua tahun segalanya ditanggung, mulai dari biaya makan, visa, akomodasi, tiket, dan uang saku. Semua koki dan ahli masak pasti mikir dua kali untuk menolaknya. Tidak terkecuali aku. Panitia menyiapkan dua buah bahan yang akan diolah oleh peserta menjadi; appetizer[2], main course[3], dessert[4].

“Tahun lalu siapa yang menang?” aku bertanya pada Yoo Jin.

“Eum…. aku lupa, yang jelas yang menang tidak diperbolehkan untuk ikut lagi”

Nomor pesertaku sedikit miring. Gusar. Walaupun hal sekecil itu tidak mungkin dinilai tapi aku mau kelihatan sempurna saat lomba nanti.

Memang, sekali menang pasti akan terkenal. Karena disini yang menang pasti akan dikenal sebagai juru masak handal. Semua hotel dan restourant ternama pasti akan berlomba untuk memperkerjakannya. Dengan bayaran yang sangat mahal tentunya. Kalau beruntung, aku mungkin dapat meraih cita-citaku. Membuka sebuah restourant. Dengan kemampuanku sekarang, pasti aku bisa.

“Lomba akan segera dimulai” suara seorang mc, membuyarkan lamunku. Suaranya yang lembut tapi terdegar tegas. Aku tak sabar menunggu bahan apa yang akan di masak. Dan apapun itu akan ku olah menjadi masakan yang sangat enak.

“Untuk tahun ini, kita akan menggunakan dua bahan yaitu; ayam dan strawberry”ucap salah satu panitia lomba.

Aku tercengang. Tak dapatku percaya yang ku dengar. Ayam dan strawberry? Begitu mudah. Aku tersenyum lega. Dan kulihat peserta lain juga ikut tersenyum.

“Kalian punya waktu dua jam untuk menyiapkan setidaknya tiga hidangan. Panitia akan membagi-bagikan daging ayam dan strawberry, jika ada yang merasa kurang, peserta diperbolehkan untuk mengambil bahan baku yang disediakan di meja panitia” ucap mc.

Aku menyuruh Yoo Jin untuk mengambil beberapa buah strawberry jenis fragaria virginiana.. Sementara aku tengah sibuk menyusun bahan yang akan aku gunakan nanti.

Aku memutuskan untuk membuat bibimbap, terkesan sederhana namun aku akan membuatnya jadi luar biasa. Aku menyuruh Yoo Jin menyiapkan daging ayam yang sudah di cincang, taoge, daun selada, gochujang dan bahan lainya. Setelah sumuanya siap aku memotong timun, jamur dan wortel menyerupai batang korek api. Setelah yang lain siap aku mengoreng telur dan campuran nasi yang di masak dengan bahan sebelumnya. Lalu tambahkan biji wijen dan gochujang ke piring. Ok, menu utama telah siap. “Ini masakan pertama, masakan kedua aku akan membuat gingseng chicken soup. Aku memotong empat porsi ayam, menyiapkan empat akar gingseng, beras ketan, bawang putih, chestnut, dan bumbu lainya. Aku melihat ke samping kiriku, tampak pemuda itu tengah menyiapkan masakanya. Aku mulai fokus ke masakanku tadi, dan mulai membersihkan ayam, gingseng, ketan dan jujubes. Aku menyuruh Yoo Jin untuk menjahit ayamnya agar tertutup. Setelah selesai dengan gingseng chicken soup. Aku berkutat  untuk  membuat dessert, untuk dessert aku akan membuat muffin strawberry coklat. Meskipun tergolong klasik kue ini sangat memikat selera. Bukan hanya tampilan yang sangat menarik tetapi rasanya juga unik. Sementara isi dan taburanya sangat legit.

Tanpa sengaja aku kembali melihat peserta yang ada di sampingku. Ia kelihatan sama sekali tidak terlihat panik. Dengan tenaganya ia mengolah masakan yang sederhana. Tanpa kusadari aku tersenyum mengejek. “Huh, dalam lomba yang berskala nasional begini, mana mungkin bisa menang hanya dengan masakan sederhana seperti itu.” Runtukku dalam hati.”. Laki-laki tadi tersenyum. Ia cukup tampan. Tapi aku tak ada waktu untuk bermain mata denganya.

“Tinggal appetizer” bisikku ke arah Yoo Jin.

Aku mulai membuat appetizer, kali ini aku akan membuat; hometown glory, begitu aku menamainya. Sajian ini terdiri dari sepotong udang segar dililitkan irisan daging sapi, aku menambahkan daging ayam tentunya. Dan dinikmati dengan saus strawberry. Gurihnya ayam, bercampur udang bertemu dengan daging sapi dinikmati dengan manisnya saus strawberry.

“Waktu habis”

Aku menarik nafas lega. Fiuh! Empat hidangan berhasil kubuat dengan sempurna. Sebagai pembuka ada, Hometown glory, Bibimbap, Gingseng chicken soup dan Muffin Strawberry coklat.

Saat juri datang ke mejaku untuk menilai, mereka saling berbisik dan bertanya bumbu apa saja yang aku gunakan. Dan dengan bangga aku menceritakan semuanya. Mereka mencicipinya sedikit lalu mengaguk puas. Lalu melanjutkan ke meja yang lain.

Namja yang ada di sampingku menatapku sambil tersenyum. Ia menghampiriku.

“Terlihat lezat, boleh aku mencicipinya?” ucapnya, entah basa-basi atau memuji aku tidak tahu.

“Boleh, silahkan” aku mempersilahkannya untuk mencicipi masakan yang telahku buat.

“Eonnie-ah, dia namja yang manis” ucap Yoo Jin setengah berbisik.

“Ah, kau ini”

Aku menyodorkan semua hidangan yang aku buat tadi bersama Yoo Jin tentunya.

“Kita belum kenalan?” ucapku basa-basi.

“Oh, mianhanda aku lupa. Naneun Kim Ki Bum imnida. Kalian boleh panggil aku Key” ucapnya membungkuk.

“Naneun Choi Yoo Ri imnida, dan ini Choi Yoo Jin, dia adikku. Bangeupsumnida”

“Key-sshi, kau masak apa tadi?”

Key menunjuk ke arah mejanya. Ada empat hidangan tersedia di sana. Terlihat tidak istimewa. Cuma ada cake strawberry yang menarik perhatianku dan entahlah yang lainya tidak jelas.

“Kau mau coba masakanku?” ucapnya.

“Boleh”

“Wah, masissneun” pujinya dengan tulus dan membuat senyumku mengembang. Tapi senyumku memudar saat aku merasakan cake strawberrynya. Begitu renyah sekaligus segar, lembut dan menggelitik. Rasa asam dari strawberry itu sendiri tidak hilang. Astaga ini enak sekali. Aku saja tidak mungkin membuat cake selezat ini. Sungguh menakjubkan.

“Wah, ini bahanya apa saja” tanyaku padanya.

Aku tertarik untuk mencoba yang lain. Dan aku seperti tersihir. Memang semua tampilanya sederhana tapi rasanya, ya tuhan, setiap orang yang mencicipinya pasti mau lagi. Dan aku lebih ternganga lagi saat mengetahui bahan yang ia gunakan; bukan bahan impor. Sedangkan aku hampir semuanya bahan impor. Hal yang tak ku pikirkan sebelumnya. Bahan sederhana bisa jadi luar biasa di tangan Key.

Juri pun berpendapat sama denganku, meskipun masakanku ini enak, tapi ada yang lebih enak. Dan hasilnya dapat ditebak, Key menjadi juara pertama dan aku di tempat kedua. Aku tetap pergi Ke Italia–dengan Key. Tapi hanya satu tahun. Tapi tidak apa aku akan belajar banyak darinya.

***

*Sebulan kemudian*

Aku mengirimi Yoo Jin e-mail.

To                    : Yoo Jin

Hwaa~ kau baik-baik sajakan? Disini aku sangat baik. Dan kau tahu, sekarang aku sudah pacaran dengan Key. Dia memintaku untuk menjadi pacarnya semalam. Aku mau meledak mendengarnya. Ku harap hubungan kau dengan Jinki juga begitu. Aku mau kencan dulu. Bye~ *Chu~*

*END*

P.S       : [1] : Kontesutokukkingu       : Lomba masak

[2] : Appetizer                       : Makanan pembuka

[3] : main course                    : Makanan utama

[4] : Dessert                           : Makanan penutup.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

18 thoughts on “Kontesutokukkingu”

  1. simpel tapi keren Thor!! Aq pengen tau gimana Key jadian sama Yoo Ri, Hehe! Meski penasaran, ini FF tetap Daebak! 🙂

  2. wah, FFnya bagus banget ..
    tapi endingnya terkesan buru-buru banget, coba di kasih perjalanan dan kisah mereka di Italia pasti lebih bagus.
    tapi nice FF loh v^^

  3. Ini lebih banyak kulinernyaa…
    Saya jadi ngiler malem2 *Q*
    Tanggung jawab! Bikinin makanan! #abaikan
    Tapi keren2 ffnyaa~ kirain masih ada lanjutannya pa si Yoo Ri ngirim e-mail ke Yoo Jin..
    Hehhehe tapi keren kok ffnyaa ^^

  4. wah … jdi pengen nyoba masakannya key … aku bosen masakan umma ku … *pletak!! di timpuk spatula*

    nice fanfic … authornya jago masak ya ??…

  5. wah,jd ngiler nih bca ff….
    Appa~,bkinin aq mknan *pletak *key:bkin sndri!emgx gw pmbokat lo?!
    Endingx tggung tuh,thor.coba dijlazin gmna prjlnan YooRi dgn suamiq *plak* di itali.truz gmna jdianx.
    But overall,nice ff.di tggu ff brkutx.

  6. Itu judulnya bahasa Jepang bukan??? *sotoy*
    btw,,, authornya jago masak juga ya???
    Kok tau sampe’ selengkap itu,,,

  7. Eh,, baru-baru ini aku baru baca buku kumpulan cerpen,, trus ada salah satu tentang masak-masak juga.. AKu langsung inget FF ini, dan critanya kok agak mirip ya?? terinspirasikah??

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s