They Suddenly Came into My Days – Part 2

Title                       : They Suddenly Came into My Days (Part 2)

Author                  : myee

Main Cast            : Kim Soona, SHINee members

Support Cast      : Seo Jeo Hyun, Im Yeon Ji

Other Casts        : Tae Yeon, Jino, Seung Ri, Seul Ong, Jo Kwon, Hyo Yeon

Genre                   : AU (School), Friendship

Length                  : Sequel

Rating                   : G, biar aman 😀

—–

Kim Soona’s POV

Sungguh! Apa sih yang appa pikirkan? Tiba-tiba saja ada lima orang namja yang sama sekali tidak aku kenal, dan mereka tiba-tiba sudah ada di sekelilingku. Tinggal di rumah yang sama lagi!

“Yak, kita sampai”, ucap Jinki sambil mematikan mesin mobil.

Aku buru-buru keluar dari mobil. Ya tuhan, semoga aku belum terlambat!

“Ya! Tunggu!”, teriak Kibum. Aku menoleh ke belakang. Si menyebalkan itu sedang merapikan rambutnya, terlihat Minho sedang menguap untuk kesekian kalinya, Taemin sedang melihat sekeliling, Jonghyun sedang merapikan dasi dan blazer hitamnya, sedangkan Jinki sedang mengunci pintu mobil.

“Bisakah kau tunjukkan dimana kelas kami?”, tanya Jinki sambil berjalan menuju ke arahku. Aku mendengus, “Bisa kalian cari sendiri aja? Aku sepertinya terlambat.”

“YA! KIM SOONA! Kan sudah kubilang kau harus datang lebih pagi hari ini!”, teriak seseorang. Aku menoleh pada asal suara itu. Ya tuhan, aku lupa! Kan aku harus latihan pagi sekarang!

“Jeongmal mianhae, Jino sunbae!”, kataku sambil membungkuk dalam. Dia mendengus, “Ya sudah, tapi kamu sudah mempelajari partitur yang kukasih kemarin, kan?”. Aku mengangguk dan tersenyum, “Tentu, sunbae! Aku sudah latihan beberapa kali di rumah!”

Dia tertawa kecil dan mengacak-ngacak rambutku, “Dasar! Oh iya… Lalu… Mereka berlima itu siapa?”, tanyanya. Jinki menghampiri kami dan mengulurkan tangannya, “Lee Jinki imnida. Aku murid baru di sini.”

Jino sunbae juga mengulurkan tangannya dan mereka pun bersalaman, “Oh? Apakah kau kelas tiga?”. “Ne. Aku ditempatkan di kelas III-2”, jawabnya singkat.

“Itu kelasku! Mari kuantar!”, ucap Jino sunbae ramah. Kemudian Jonghyun menghampiri mereka berdua, “Aku juga kelas III-2”, katanya sambil tersenyum.

“Wah? Jjinja? Baiklah, ayo kita ke kelas, 5 menit lagi masuk!”, lanjut Jino sunbae. “Oh, ya, Soo, jangan lupa jam pelajaran ke 5, kutunggu di hall barat. Arasseo?”, ucapnya sebelum masuk ke dalam gedung sekolah. “Ne, sunbae”, jawabku.

Aku melirik ke tiga namja yang masih berdiri di belakangku. “Kalian kelas apa?”, tanyaku pada Kibum dan Minho. “Kelas… II-3”, ucap mereka serempak.

“Kabar buruk, kalian sekelas denganku”, ucapku kesal. “Lho? Bagus kan? Kita jadi bisa mengawasimu LEBIH ketat”, kata Kibum sambil mendekatkan mukanya padaku. Aku mendelik padanya.

“Dan tolong biarkan aku BEBAS di sekolahku sendiri. Kalau kalian berani mengekangku berlebihan, kau tanggung akibatnya”, kataku ketus sambil menunjuk muka Kibum.

“Oalaa~ Anak kecil ini berani sekali~”, ucap Kibum sambil menyeringai. “Ya! Kalian hentikan!”, kata Taemin sambil menarik tangan Kibum. “Oh, ya… Boleh kan kupanggil kau ‘noona’? Kan aneh di lingkungan sekolah kalau aku memanggilmu dengan sebutan agassi”, lanjut Taemin sambil tersenyum.

“Tentu, Taemin-ah. Oh, ya kelasmu di mana?”, tanyaku ramah. “Hmm, kelas I-1”.

“Oke, itu ada di lantai dua, khajja! Sebentar lagi bel!”, kataku sambil berjalan memasuki gedung utama.

—–

“Haaa~h”, aku melenguh panjang. Sekarang waktunya istirahat, dan kuputuskan untuk diam saja di kelas.

“Soo…”, Yeon Ji menarik-narik ujung kemejaku. Aku menoleh kepadanya, “Wae?”

“Dua anak baru itu… Apa kau kenal mereka?”, kata Jeo Hyun sambil menunjuk bangku dua namja yang berada 2 bangku di belakangku.

“…Memang kenapa?”, tanyaku. “Sepertinya daritadi mereka melihatmu terus…”, lanjut Yeon Ji.

Aku mendengus. “Biar kuberitahu kalian…”. Aku memperbaiki posisi dudukku, dan aku membisikkan sesuatu pada Jeo Hyun dan Yeon Ji, “Mereka bodyguard baruku, appa yang–“

“MWO? BODYG– Hmmppph!“”, aku membungkam mulut Jeo Hyun sebelum dia berteriak. “SHH~ Aku tidak mau sekelas menjadi gempar gara-gara munculnya dua bodyguard seperti mereka!”, bisikku. Dia hanya mengangguk.

“Demi tuhan, remaja seperti mereka menjadi seorang pengawal? Apakah tidak terlalu…”, kata Yeon ji pelan. “Itulah, aku juga tidak mengerti. Tumben sekali appa memperkerjakan orang seperti mereka…”, lanjutku.

“Tapi, Soo~ Mereka tampan lho~”, kata Jeo Hyun sambil menyenggol sikuku. Aku hanya mendelik, “Itu hanya tampang luar! Yang di sebelah kanan itu sifatnya buruk sekali!”, kataku sambil menunjuk Key.

“Kim Kibum maksudmu?”, tanya Jeo Hyun. Aku mengangguk.

Yeon Ji terkekeh, “Ya sudahlah… Mungkin appamu terlalu sayang padamu, putri presiden…”. Aku cemberut, “Ya!  Aku benci panggilan itu!”, kataku kesal. Dia mengacak-ngacak rambutku, “Lebih baik temani aku ke kantin, aku mau membeli beberapa snack untuk menonton kalian berdua pada saat pengenalan ekskul nanti”, ujarnya sambil menarikku bangun dari bangkuku.

Aku tersenyum. Kami bertiga akhirnya beranjak ke kantin. Dan aku menyadari, bahwa ada dua orang yang mengikutiku dari belakang. Aku menoleh, “Sudah kuduga kalian…”, aku melenguh.

“Maaf, ini sudah tugas”, ucap Minho singkat. “Sekalian, aku juga mau beli makanan ke kantin”, lanjut Kibum. Yeon Ji dan Jeo Hyun menatap kami bertiga. “Terserah. Yang penting jangan ganggu aku”, ucapku sambil berjalan meninggalkan dua namja itu.

Saat aku sampai di kantin, kulihat Jinki, Jonghyun, dan Jino sunbae sedang mengobrol di kursi kantin. “Oh, Soo!”, teriak Jino sunbae sambil melambaikan tangannya. Aku menghampiri mereka, “Kalian bertiga sudah akrab lagi, toh?”, tanyaku.

“Ternyata mereka berdua suka musik juga, obrolan kita jadi mengalir terus”, kata Jino sunbae sambil menyeruput jus buahnya. Aku hanya manggut-manggut. “Oh, ya… Kalian itu siapanya Soona?”, lanjut Jino.

‘Aduh, jangan sampai Jino sunbae tahu!’, pekikku dalam hati.

“Kami berdua saudara jauhnya… Iya kan, Soona-ah?”, tanya Jonghyun sambil tersenyum. Saat aku melirik Jinki, dia sedikit berbisik padaku, ‘Panggil kita oppa di sini’.

“Emm… Ne, oppa….”, kataku pelan. Sungguh aneh.

Jino sunbae tertawa, “Ooh, pantes… Soalnya kalian kok murid baru udah kayak kenal gitu sama dia…”

“Soo! Ayo kita kelas!”, teriak Yeon Ji dari jauh. Aku membungkuk, “Aku duluan, Jino sunbae, Jonghyun oppa, Onew oppa…”. Mereka bertiga mengangguk dan melambaikan tangannya.

“Itu teman baru Jino sunbae, ya?”, tanya Jeo Hyun sambil memakan roti strawberrynya.

“Hmp. Mereka berdua juga bodyguardku…”, aku mendengus. “Mwo? Berapa orang sih?”, ucap Yeon Ji heran. “Lima.”

Mereka berdua melongo.

“Noona”, ada yang menepuk pundakku tiba-tiba,

“Ah, kau, Taemin-ah. Waeyo?”. “Perkenalan klub dimulai jam berapa?”, tanyanya sambil tersenyum. Aku balas tersenyum, “Jam pelajaran ke-6. Nanti tinggal kau pilih saja”, kataku. “Oke. Geomawo, noona”, katanya sambil melengos pergi.

Jeo Hyun dan Yeon Ji menatapku bingung. “Soo, jangan bilang…”, kata Jeo Hyun pelan.

“Well, even I haven’t told you, you must be know about that then”, kataku sambil berjalan.

“Astaga…”, ucap Jeo Hyun. “Mereka berlima? Sumpah, kau orang yang beruntung, Soo!”, kata Yeon Ji sambil merangkul bahuku. “Ha? Beruntung apanya? Hidupku jadi enggak bebas lagi tau enggak?”, aku berdecak kesal.

“Kau dikelilingi 5 namja tampan! Itu kan namanya beruntung!”, lanjut Jeo Hyun. Aku hanya menggeleng. “Tidak tidak… Aku benci itu”.

—–

Sekarang jam menunjukkan pukul 12 siang. Aku tengah bersiap di atas panggung di dalam hall barat sekolah. Terlihat beberapa anak paduan suara yang tengah mengahapal lirik-lirik lagu.

“Kau sudah siap, Soo?”, tanya Tae Yeon eonni ramah. “Ne, eonni… Tapi… Aku masih bingung bagian ini”, kataku sambil menunjuk partitur lagu. “Oh… Itu kau naikkan saja nadanya setengah oktaf, lalu percepat temponya”, katanya sambil tersenyum. “Baiklah…”, aku mengangguk.

Sesaat kemudian, muncul Jino sunbae bersama dua orang yang sepertinya aku kenal. Jinki dan Jonghyun?

“Lho? Mereka berdua ngapain, sunbae?”, tanyaku sambil menunjuk dua namja itu.

Jino sunbae tersenyum, “Aku memberitahu kalau bakal ada pertunjukan musik kecil. Mereka mau lihat persiapannya, jadi ya sekalian kuajak saja ke sini.”

Aku berdecak. Sepertinya aku selalu diikuti mereka ya?

Aku berjalan menuju piano sekolah dan berlatih lagu yang akan dimainkan nanti. “Jarimu salah”, kata Jonghyun sambil menunjuk jariku.

“Eh? Eh?”, aku terkejut dan melihat partiturku kembali. “Di bagian ini seharusnya begini”, sekarang Jinki yang duduk di sebelahku dan mulai memainkan tuts-tuts piano itu. “Kemudian, setelah ini, naikkan setengah tempo”, lanjutnya. Omoo~ Mahir sekali permainan pianonya.

“Jjong, coba kau nyanyikan bagian ini. Supaya lebih kebayang nantinya”, kata Jinki. Jonghyun mengangguk dan bersenandung kecil. Dan yang membuat aku merinding, suaranya sungguh luar biasa! Tidak kusangka kemampuan musik dua namja ini sungguh hebat! Aku kagum!

“Nah, sudah terbayang?”, kata Jinki sambil tersenyum. Aku melongo, “Wow”, hanya kata itu yang keluar dari mulutku.

Mereka berdua hanya terkekeh. “Kalian hebat”, lanjutku sambil tepuk tangan. “Permainan jarimu sudah bagus, cuma tinggal dilatih sedikit lagi, kok”, kata Jonghyun ramah.

“Good luck ya”, kata Jinki sambil menepuk pundakku.

Aku tersenyum, “Geomawoyo, Onew oppa, Jonghyun oppa…”. Jonghyun oppa mengacungkan jempolnya dan mereka berdua berjalan menuju kursi penonton.

Sepuluh menit kemudian, pertunjukan paduan suara pun dimulai. Dan syukurlah, aku tidak melakukan kesalahan. Suara Tae Yeon eonni dan Jino sunbae sebagai lead vocal juga dapat ditampilkan dengan sempurna. Anggota paduan suara yang lain juga mengeluarkan segenap kemampuannya dengan baik. Aku puas J

Saat aku turun dari panggung, Minho dan Kibum menghampiriku.

“Permainan pianomu bagus juga, anak kecil”, katan Kibum. Aku menatapnya tajam, “Bisakah kau tidak memanggilku anak kecil, hah?”

Dia hanya tertawa, “Lho? Memangnya kenapa? Kau memang masih bocah, kan?”, lanjutnya sambil menyeringai. Di sebelahnya, Minho hanya geleng-geleng kepala.

Aku berusaha menahan emosiku. Orang ini sungguh, sungguh, SUNGGUH menyebalkan.

“Oh ya, temanmu yang bernama Jeo Hyun barusan banget bilang kalau dia tanding sekarang. Mau ke gymnasium basket?”, tanya Minho.

Aku menatapnya, “Mana Yeon Ji?”, tanyaku. “Oh, dia ada keperluan katanya. Dia ketua klub fotografi kan? Sekarang lagi ada pameran di lantai dua, dia kan ketua panitianya”, lanjut Minho. Aku mengangguk.

“Permainanmu cukup bagus”, kata seseorang sambil menepuk-nepuk kepalaku. Ah, Jonghyun oppa rupanya.

“Geomawoyo, Jonghyun oppa”, kataku sambil tersenyum. Kibum menatap kami berdua, “Hyung, kau sudah akrab lagi sama anak kecil ini? Cepat sekali.”

“Ya Kibum! Berhentilah memanggilnya anak kecil, kenapa sih?”, ucap Jinki oppa. Kibum memanyunkan mulutnya. Aku terkekeh.

“Apa kau ketawa-ketawa, hah?”, katanya ketus. “Mukamu jelek, Kibum-ya…”, kataku singkat. Dia hanya berdecak kesal.

Minho melihat sekeliling, “Lho? Taemin mana?”, tanyanya.

“Dia lagi di hall timur. Biasa, hobi dia tuh poppin’ dance”, kata Jinki oppa singkat.

“Ya sudah, aku ke gymnasium dulu, yah. Jeo Hyun mau tanding soalnya”, kataku sambil mengambil tasku. “Kami ikut”, kata Jonghyun. Aku melenguh, “Ya ya… Terserah.”

Di sepanjang perjalanan menuju gymnasium yang terletak di belakang gedung utama, banyak sekali orang yang melihatku heran. Memang sih, bukan pemandangan biasa kalau ada seorang gadis yang diikut empat orang laki-laki di belakangnya.

Aku iseng menoleh ke belakangku, dan benar kata Jeo Hyun, mereka berempat itu benar-benar tampan. Aku sempat terkesima melihat tampang-tampang mereka.

‘Tidak tidaaaak! Buang pemikiranmu ini jauh-jauh!’, batinku.

Saat aku sampai di dalam gymnasium, aku melihat ke tempat duduk terdepan. Di sana ada beberapa anggota tim basket putra, dan aku menghampiri mereka.

“Ah Soo! Sini! Duduk di sini aja!”, teriak salah seorang dari mereka. Ternyata itu Jo Kwon, teman sekelasku. Aku duduk di sebelahnya, dan keempat orang itu (Jinki dkk.) duduk di belakangku.

“Sudah pertunjukan paduan suaranya?”, tanya Seul Ong oppa yang duduk di sebelah Jo Kwon. Dia merupakan ketua angkatan kelas tiga sekarang. Dia juga merupakan sunbae terdekatku waktu SMP, dan itu masih berlangsung sampai sekarang.

Aku mengangguk, “Yup. Sukses.” Dia tersenyum, “Baguslah kalau begitu…”, pandangannya beralih lagi pada lapangan basket.

“Mereka siapa?”, kata Jonghyun oppa berbisik kepadaku. “Oh, mereka anggota tim basket putra di sekolah ini”, kataku.

“Soo, mereka anak baru?”, tanya Seung Ri oppa. Dia adalah saudara Jeo Hyun. Dia merupakan kapten tim basket putra.

“Oh, ya, mereka murid-murid baru di sini…”, kataku. “Oh maaf, namaku Kim Jonghyun, aku kelas III-2, dan ini Lee Jinki, dia sekelas denganku”, kata Jonghyun oppa ramah.

“Aku Kim Kibum, II-3”, katanya singkat. “Aku Choi Minho, aku sekelas dengan Kim Soona”, katanya sambil tersenyum.

“Senang berkenalan dengan kalian. Betah-betah di sini, ya”, kata Seung Ri oppa ramah sambil bersalaman dengan mereka berempat. “Kalian sudah memutuskan untuk masuk klub apa?”, tanya Seul Ong oppa. Kibum dan Minho menggeleng.

“Lho? Jonghyun dan Onew oppa memang sudah mutusin mau klub apa?”, tanyaku. “Klubmu, klub paduan suara”, ujar Jinki oppa sambil tersenyum. Aku melongo. Ya tuhan.  Enggak di rumah, enggak di kelas, dan sekarang di klub pun aku diawasi.

“Supaya lebih gampang mengawasimu~”, bisik Jonghyun oppa. Aku mendengus kesal.

TEEEEEEEEEEEEEEEEET.

Kuarter pertama selesai. Tim Jeo Hyun memimpin 6 poin.

“Hei…”, Minho menepuk bahuku. “Wae?”, tanyaku sambil menoleh ke belakang.

“Temanmu itu punya teknik dribbling dan shooting yang bagus. Saat dia melakukan bounce pass sama chest passnya benar-benar akurat, lay-up-nya juga sempurna”, kata Minho serius. Aku memiringkan kepalaku. Ngomong apa sih dia?

“Jelas lah, atlet putri nasional”, kata Jo Kwon tiba-tiba.

“Jjinja?”, tanya Minho tidak percaya. “Hei, sepertinya kau suka basket. Benar?”, tanya Seul Ong oppa. Minho hanya mengangguk pelan.

Tiba-tiba terdengar derap kaki mendekat ke arah tempat duduk kami. “Aduh! Maaf aku telat!”, ucap Taemin sambil terengah-engah. Nampaknya dia habis berlari dari hall timur sampai gymnasium.

“Sudah memutuskan masuk klub mana?”, tanyaku sambil menyodorkan air mineral dari tasku. Dia mengambilnya dan meneguknya, “Belum… Oh, geomawo minumannya, noona.”

“Dari tadi kau di hall timur ngapain aja? Kukira kau masuk klub dance”, ucap Kibum. “Ani… Klub itu latihannya sangat padat, bayangkan seminggu bisa 4 sampai 5 kali latihan. Tugas utamaku bisa terbengkalai kalau begitu”, kata Taemin sambil duduk di sebelah Jonghyun.

“Sudahlah, kalian tidah usah sebegitu ketat mengawasiku”, kataku sambil sedikit berbisik. “Andwae, Ho Dong-ssi sudah mempercayai kami untuk melakukan hal ini”, kata Onew oppa. Aku menggeleng, “Baik. Aku menyerah.”

Kuarter kedua pertandingan tim putri dimulai. Aku melihat gerak-gerik Jeo Hyun dari kursi penonton. Gerakannya sungguh ringan dan akurat. Benar-benar atlet profesional dia.

Setelah setengah jam pertandingan, tim Jeo Hyun menang dengan selisih 8 poin. Dia menghampiriku dan memelukku. “AISH! Bau keringet!”, kataku sambil melepaskan pelukannya.

“Hahaha, mian mian! Aku terlalu seneng sih! Memang ini cuma pertandingan bohong-bohongan, tapi aku benar-benar menikmatinya!”, ucap Jeo Hyun sambil duduk di sebelahku.

“Harus kuakui, sepertinya jabatan kapten tim harus kuberikan padamu”, sambung Hyo Yeon eonni sambil berdiri di depan Jeo Hyun.

“Ya~ Eonni. Tadi waktu tanding, lari eonni cepat sekali, susah untuk mengejarmu eonni! Teknik shootingmu juga tidak ada yang salah sama sekali”, kata jeo Hyun. Hyo Yeon eonni hanya tersenyum dan dia beranjak keluar gymnasium.

“Lho? Eonni mau ke mana?”, tanya Jeo Hyun. “Mau ke ruangan klub, sepertinya sudah ada peminat untuk basket putri”, ujarnya sambil beranjak pergi. Jeo Hyun mengangguk.

“Teknikmu makin bagus saja, heh?”, ucap Seung Ri oppa sambil mengacak-ngacak rambut Jeo Hyun. “Ya! Oppa! Stop it!”. Seung Ri oppa hanya terkekeh dan dia beranjak menuju tengah lapangan. Sekarang waktunya tim basket putra untuk menunjukkan kemampuan mereka. Seul Ong oppa memanggil anggota basket putra yang lain dari tribun kanan.

Sama seperti tim basket putri, mereka mengadakan pertandingan dadakan. Dan pada akhir pertandingan, Seung Ri oppa memutuskan untuk bermain three on three, tapi dia menginginkan orang yang bukan dari klub basket yang menjadi lawannya.

“Baiklah, ada yang mau? Aku akan bermain dengan Seul Ong dan Jo kwon, ada yang berminat menjadi lawan kami?”, tanya Seung Ri oppa sambil memegang microphone dari pinggir lapangan.

“Aku”, ucap Minho sambil mengangkat tangannya. “Aku juga”, kata Kibum. “Aku juga ah, mau nyoba”, Taemin mengangkat tangannya. Aku terkejut. Kok mau sih?

Seul Ong tersenyum, “Baik, kalian bertiga ayo ke sini!”

Minho, Taemin, dan Kibum beranjak dari tempat mereka duduk dan berjalan menuju lapangan. Gymnasium ini tidak begitu penuh, namun terdengar semua penonton –yang didominasi para yeoja dan anak kelas satu–  berteriak dan bertepuk tangan. Maklum, Jo Kwon, Seul Ong, dan Seung Ri adalah tiga pemain terhandal di Seoul.

TEEEEEEEEET.

Permainan pun dimulai. Pada awalnya, tim Jo Kwon yang memegang kendali pertandingan. Namun setelah 2 menit pertandingan dimulai, Minho dapat mengambil bola dari tangan Jo Kwon dan dia dapat dengan cepat melakukan three points.

“Soo, tekniknya hebat”, kata Jeo Hyun kagum. “Dia itu pemain terbaik waktu SMP dulu lho”, kata Jinki oppa tiba-tiba.

‘Hee? Jjinja?’, batinku.

Angka pertama sudah diraih tim ‘anak baru’. Seung Ri memegang bola, melakukan passing pada Seul Ong dan akhirnya ia berlari dan lay up. Dua poin untuk tim basket putra sekolah.

Selama pertandingan kecil itu berlangsung, tidak kusangka Kibum dan Taemin juga sangat jago bermain basket. Langkah-langkahnya terlihat ringan dan energi mereka sepertinya tidak mudah untuk terkuras.

Dan setelah 15 menit bertanding, tim ‘anak baru’ akhirnya kalah dengan selisih sangat tipis, yaitu satu poin saja. Mereka berenam saling berjabat tangan, dan Minho, Taemin, serta Kibum kembali ke tempat duduk mereka di belakangku.

“Seperti biasa, semangat persainganmu tersulut juga akhirnya, hm?”, tanya Jonghyun kepada Minho. Minho hanya tersenyum, “Kemampuan mereka hebat. Aku ingin menang dari mereka.”

“Aku mau masuk klub basket saja ah”, kata Taemin sambil mengusap keringat yang mengalir pada keningnya. “Aku juga, sepertinya menarik”, sambung Kibum.

“Kalau kau?”, tanya Jinki sambil melirik Minho. Dia hanya tersenyum, “Tidak usah kujawab kau juga tahu, hyung.”

“Hmp. Sudah kuduga”, Jinki oppa tertawa kecil.

Aku menatap mereka berlima. Mereka itu multi-talenta apa? Yang dua jago dalam hal seni dan musik, dan yang lainnya mahir dalam hal olahraga. Terus, kenapa mereka menerima menjadi bodyguardku hah? Itu satu pertanyaanku yang masih belum terjawab.

Jeo Hyun menyenggol lenganku, “Tuh kan, kau beruntung, Soo. Dikelilingi 5 namja tampan dan berbakat seperti mereka.”

Aku hanya mengangkat pundakku. Sepertinya kisahku dengan lima namja ini akan berlangsung panjang, ya?

—–

TBC

P.S          : Aduh sumpah deh ini cerita tipenya udah pasaran banget. Maaf yah kalau enggak rame T.T

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

31 thoughts on “They Suddenly Came into My Days – Part 2”

  1. yoyoyo! AAYO DILANJUUTTTTTTTTTTT ! *teriak pake toak
    bagus bagus aku suka aku suka SAANGGGGGGGGATT SUUUUUKAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    #reader heboh *auhor bawa buldooozer *aku kabuurr

  2. Huaaa daebak daebak
    Padahal sekarang suasana pas baca lagi gaenak
    Tapi abis baca jadi lupa sama masalah
    Makasih thor
    Ffnya bikin aku lupa sesaat dengan masalahku
    Daebak!!!

  3. wah…. seru nih … tapi sumpah, aku ngak ngerti permainan basket! emnk dulu pernah tapi cuman sebulan ikut eskul itu, terus langsung pindah deh ke paskib ..

    wiss… multitalenta… ahkkk lanjutannya jgn lma2 ya ….
    oh iya mian author soal sikap soulmate aku … tolong maafin yah kalo bikin author sakit hati… mian… jeongmal mianhae.. …

    1. hahaha sama aku juga gak ngerti permainan basket kok, istilah-istilah itu tau gara-gara guru olahraga aku 🙂
      ahahaha santai aja ella, aku gak sakit hati sama sekali kok, malahan aku ngerasa punya temen baru 😀

      sip, aku lanjutin, ditunggu yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah~

  4. hmm oke.

    saya mau berterima kasih buat para admin yang udah BAIK BANGET menyelesaikan kericuhan tentang ff ini, yang udah rela nyisihin waktunya buat berusaha menyelesaikan masalah ini.

    sekali lagi, buat para admin SF3SI aku ngucapin terima kasih banyak, dan minta maaf kalau aku udah merepotkan kalian.

    SF3SI, HWAITIIIIIIIIIIIIIIIING! 😀 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s