They Suddenly Came into My Days – Part 3

Title                       : They Suddenly Came into My Days (Part 3)

Author                  : myee

Main Cast            : Kim Soona, SHINee members

Support Cast      : Seo Jeo Hyun, Im Yeon Ji

Genre                   : AU (School), Friendship

Length                  : Sequel

Rating                   : G, biar aman 😀

—–

Kim Soona’s POV

Sudah hampir tiga minggu aku menapaki tahun keduaku di SMA. Sudah tiga minggu pula kelima namja itu tinggal bersamaku. Sampai saat ini, aku baru bisa beradaptasi dengan Onew dan Jonghyun oppa, karena sosok mereka yang kuanggap seperti kakak kandungku sendiri.

Teman-temanku di sekolah dan para seniorku belum mengetahui siapa sebenarnya mereka berlima (kecuali Jeo Hyun dan Yeon Ji). Mereka menganggap kalau kelima namja itu adalah saudara jauhku. Dan sikap kelima laki-laki itu di sekolah memang biasa saja, malahan mungkin bisa dibilang seperti sikap kakak terhadap adiknya. Yah, bisa dibilang cukup akrab dan normal, lah.

Tapi, diriku tetap merasa selalu diawasi. Di dalam kelas, aku selalu diperhatikan oleh Minho dan Kibum. Di kegiatan klub, giliran Jinki oppa dan Jonghyun oppa. Dan Taemin, aku baru menyadari kalau dia selalu melihatku kalau aku sedang di kantin bersama teman-temanku yang lain.

“INI SOAL APA SIH?!”

Di lain hal, tugasku kian menumpuk seperti gunung. Ditambah lagi tes-tes dan belasan lembar kerja yang harus dikumpulkan minggu depan. Ditambah lagi satu map partitur yang harus aku latih untuk beberapa pertunjukan paduan suara yang akan diadakan bulan depan.

Aku melenguh panjang. Sekarang aku berada di ruang tengah, ruang santai lebih tepatnya. Aku duduk lesehan di bawah. Aku melihat sekeliling. Tidak ada orang.

Oh ya, Jonghyun oppa dan Jinki oppa sedang berbelanja, sedangkan Taemin lagi di kamarnya. Minho lagi bermain basket di halaman belakang rumah.

“AAAAAAAAAAAH! AMIT-AMIT!!”, aku mengacak-ngacak rambutku sendiri. Dengan adanya tugas ini, kuputuskan aku membenci matematika selamanya.

“Kau berisik sekali hah?!”, ucap seseorang. Aku mendongakkan kepalaku ke atas. Kulihat Kibum sedang menyenderkan badannya di pagar lantai 2 dan melihatku dari atas sana. Sesaat kemudian dia turun ke bawah.

“Kenapa sih? Berisik”, kata dia mengahampiriku. “Lho? Sejak kapan kau pakai kacamata?”, tanyaku sambil memperhatikan mukanya.

“Setiap belajar aku memakai ini”, katanya. “Ngerjain apa sih? Let me see~”, sambungnya sambil duduk di sebelahku. Dia melongo tak percaya.

“Ya tuhan! Demi apa kau tidak bisa mengerajakan soal semudah ini? Lulus SMP enggak sih?”, katanya sambil setengah berteriak.

“YAA! Kalau enggak niat bantu ya udah pergi sana!”, kataku sambil merebut bukuku kembali dari tangannya.

“Mana pensilmu? Sini! Biar aku yang kerjakan!”. Dengan sedikit kesal aku memberikan pensilku. Dia melihat lagi soalnya, dan dia mengambil secarik kertas. Kurang dari 2 menit soal itu sudah berhasil dia pecahkan.

“Sudah! Mudah sekali. Dasar anak kecil, soal kayak gitu aja enggak bisa”, katanya mengejek. Aku mendelik. “Heh! Jangan ngejek aku melulu kenapa sih?”

“Astaga, bisa enggak sih kalian sehari aja gak ribut, hah?”, ucap Jonghyun oppa. Rupanya dia baru sampai rumah.

“Habis dia nyebelin banget”, kataku sambil menunjuk Kibum. “Aku malu jadi orang Korea kalau anak presidennya bodoh kayak gini”, ejek Kibum lagi.

CTAKK. Urat emosiku putus.

“BISA DIEM ENGGAK SIH HAH?!”, aku benar-benar kesal dengannya sekarang. Dia menutup kupingnya dan bangkit dari duduknya. “Ya ya ya, kau berisik, anak kecil”, katanya sambil beranjak ke dapur dan mengambil minuman dari kulkas.

“Kibum… Hobi banget sih ngerjain anak perempuan?”, tanya Jinki oppa. Kibum hanya tertawa kecil, dan dia kembali ke kamarnya di lantai dua.

Jinki mengambil nafas panjang, “Sabar ya, Soo. Sifatnya memang kayak gitu”, katanya. Oh iya, sekarang Jonghyun oppa dan Jinki oppa memanggilku dengan nama Soo atau Soona saja, tanpa embel-embel agassi lagi. Aku yang memintanya, karena sungguh aneh dipanggil dengan sebutan itu dengan mereka yang notabene adalah seniorku juga di sekolah. Taemin memanggilku noona, karena dia adalah hoobae-ku. Minho memanggilku Soo, kadang masih dengan embel-embel agassi. Dan si sombong Kibum (untuk Lockets, mianhae :D), seperti biasa, memanggilku dengan sebutan anak kecil. Menyebalkan.

Aku mengalihkan pandanganku pada soal yang baru diselesaikan Key tadi. Tanpa coretan, dan tulisannya cukup rapi. “Oppa, Kibum itu jenius ya?”, tanyaku tiba-tiba.

Jonghyun yang sedang duduk di sofa mengrenyitkan dahinya, “Hah?”

“Habis, tadi aku enggak bisa matematika, terus dia ngerjainnya tanpa masalah gitu. Lancar-lancar aja”, kataku sambil menyodorkan kertas jawaban Kibum. Jonghyun oppa melihat kertas itu dan tertawa kecil.

“Wae?”, tanyaku heran. “Ya ampun Soo, ini sih kelas satu SMA juga diajarin, ini soal dasar. Masa sih kau enggak bisa?”, dia terkekeh. Aku cemberut.

“Ahahaha, Key itu anak biasa kok. Prestasinya juga enggak begitu menonjol, tapi di olahraga memang dia ada kelebihan, sama kayak Minho. Dia tidak sejenius yang kamu kira”, sambungnya.

“Jadi maksud oppa aku bodoh, gitu?”, tanyaku sedikit kesal. Dia tertawa, “Kamu sendiri yang bilang lho ya.”

Aku manyun. Aku malas mengerjakan tugasku. Aku beranjak dari tempat dudukku menuju ruang depan, dan duduk di hadapan grandpiano hitamku. Memang, hanya musiklah yang bisa melupakan segala kejenuhanku.

—–

Lee Jinki’s POV

Anak itu memainkan sepotong lagu gubahan Beethoven, Moonlight Sonata. Setelah menyimpan bahan-bahan makanan ke dalam kulkas, aku menghampirinya yang tengah memainkan piano di ruang depan. “Kau suka musik?”, tanyaku sambil berdiri di depannya.

Ia mengangguk tanpa memberhentikan permainan pianonya. “Cuma musik yang bisa membuatku semangat lagi, eommaku yang mengajarkan hal itu”, ujarnya sambil tersenyum kecil.

“Kalau appa enggak pulang, aku biasa memainkan piano ini. Kalau aku kesepian dan kalau ada masalah, pelarianku ya cuma musik. Aku enggak punya orang yang bisa diajak bicara…”, lanjut Soona.

Aku mengrenyitkan dahiku, “Lho? Kau kan punya teman-temanmu?”. Soona tertawa kecil, “Mereka juga banyak urusan kan? Aku enggak berhak untuk menarik mereka ke dalam masalahku sendiri…”, jawabnya.

“Sekarang kau kan punya kami berlima”, kataku sambil tersenyum. Soona berhenti menekan tuts-tuts piano itu dan memandangku.

“Memang, kita ini hanya bodyguard, tidak, semacam pengawas lebih tepatnya. Tapi kita tidak sekaku itu, kok. Kita selalu terbuka kepada atasan-atasan kami”, ucapku lembut.

“Oppa, boleh aku tanya sesuatu?”, katanya sambil menatap mataku. “Hm? Wae?”, ucapku sambil duduk di sebelahnya.

“Kenapa kalian berlima menjadi bodyg– tidak, kenapa kalian menjadi pengawasku?”.

Aku memiringkan kepalaku. Aku sedikit memutar otakku untuk menjawab pertanyaan itu. Kemudian aku meletakkan jemariku di atas tuts-tuts piano, memainkan melodi-melodi yang tenang.

“Hmm… Intinya sih balas budi…”, kataku singkat. Mukanya terlihat bingung. “Maksud oppa?”

“Appamu itu orang yang sangat baik, Kim Soona. Beliaulah yang membantu keluargaku keluar dari kesulitan…”

“Hah?”, dia semakin bingung. Aku mengambil nafas panjang, “Jadi… Ayahku adalah seorang polisi yang cukup dipandang di tempat kerjanya. Dia itu semacam kepala bagiannya,lah. Saat itu ayahku difitnah dan diancam akan dihukum mati akibat suatu kasus, padahal ayahku sama sekali tidak bersalah…”

“Lalu?”

“Saat pengadilan, appamu yang saat itu merupakan jenderal besar kepolisian di Korea datang dan membela ayahku. Appamu membawa bukti kuat tentang kasus itu, dan akhirnya ayahku terbebas dari segala tuduhan palsu yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Dan mulai dari saat itu, ayahku bersumpah untuk melindungi keluarga besar Kim, dan jujur, aku sangat mengagumi appamu… Appamu itu adalah orang yang down to earth, tidak membeda-bedakan orang, dan sangat menyayangi semua bawahannya seperti keluarga sendiri…”, ujarku sambil tersenyum.

Soona mengangguk. “Terus, kalau yang lainnya? Kenapa mau menjadi sepertimu juga?”

Aku berpikir lagi. “Sama, intinya balas budi. Orang tua Minho dan Jonghyun adalah kepala aktifis kemanusiaan di negara ini. Waktu ada ketegangan dengan Korea Utara, mereka berdua hampir dihukum mati juga. Dan seperti tadi, appamu menyelamatkan mereka.”

“Kalau Taemin dan Kibum?”, tanyanya lagi. “Taemin sebenarnya anak yatim piatu. Dia diambil dari panti asuhan waktu aku berumur 6 tahun, dan dia menjadi bagian keluargaku. Dia sih hanya ikut-ikutan aja ingin balas budi…”, kataku sedikit terkekeh.

“Kalau Key… Aku juga sedikit aneh padanya. Mungkin keluarganya tidak ada sangkut pautnya dengan ayahmu. Tapi, dia merupakan anak dari teman ayahku di kepolisian. Mungkin ayahnya Key mempunyai alasan tertentu mengikutsertakan Key pada tugas ini”, sambungku.

Soona hanya ber-oh saja. “Oh iya, satu lagi. Kalian kenapa bisa saling kenal?”

Aku berhenti bermain piano dan tersenyum. “Ceritanya panjaaang! Inti dari intinya, tugas ini bukan pertama kalinya bagiku. Sebagai anak dari komandan kepolisian, aku sudah beberapa kali ikut ayahku dalam tugasnya, bahkan waktu aku berumur 17 tahun, aku sudah dipercayakan mengawal beberapa menteri di Korea ini…”

Dia terkejut. “Benarkah?”. Aku mengangguk.

“Memang kalian umurnya berapa sih?”, tanyanya lagi.

“Aku dan Jonghyun 20 tahun, Minho dan Kibum 18 tahun, dan Taemin baru 16 tahun”, jawabku.

“Heee? Benar-benar ya kalian… Oh ya, lanjut! Kenapa bisa kenal?”, sepertinya dia semakin tertarik pada ceritaku ini. Sekarang ia duduk bersila di atas kursi piano dan menghadap ke arahku.

“Yah, pada umur 19 tahun, aku dan ayahku bertugas mengawal ayah Minho dan Jonghyun keluar negeri. Setelah orang tua Minho dan Jonghyun mengetahui bahwa ayahku itu pernah diselamatkan oleh tuan Kim, mereka juga berniat untuk membalas budi pada appamu. Begitu…”

“Waaah, appaku sebaik itukah?”, tanyanya polos.

Aku mengangguk. “Yup. Dia kepala negara yang hebat. Kang Ho Dong ahjussi adalah atasan ayahku, dan saat mengetahui ayahmu meminta tolong pada Ho Dong ahjussi untuk mengawasimu, ayahku langsung setuju.”

“… Terus kenapa kalian mengawasiku? Sampai ke lingkungan sekolah, bahkan kalian jadi tinggal di rumahku”, lanjutnya.

Oke, aku sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Tapi tiba-tiba Jonghyun datang dan berdiri di sebelahku.

“Appamu bilang kalau dia sangat khawatir padamu, karena umurmu yang bisa dibilang tanggung dan masih sangat labil…”, katanya sambil menepuk-nepuk kepala Soona.

“Jadi, kita ditugaskan untuk mengawasimu di manapun dan kapanpun. Kau adalah anak semata wayang presiden Korea, dan aku yakin banyak orang yang mengincarmu di luar sana, apalagi kau adalah seorang yeoja yang baru menginjak dewasa”, sambungnya.

Soona mengangguk, “Oke, aku bisa terima alasan itu. Tapi aku enggak mau terkekang berlebihan, arasseo?”, katanya meyakinkan. “Baiklah”, kata Jjong singkat.

“Ya sudah, aku mau ke kamar dulu, masih banyak tugas yang ngantri”, katanya sambil meninggalkan kami berdua di ruang depan.

Aku melenguh panjang.

“Kau menyelamatkanku, Jjong”, kataku sambil berdiri. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.

“Jangan sampai tahu kalau dirinya sedang diincar sekelompok orang asing. Bisa kacau kalau dia sampai panik. Aku tadi bingung mau jawab pertanyaannya seperti apa”, sambungku.

Jonghyun menepuk pundakku, “Ya sudahlah. Pokoknya kita fokus aja sama tugas ini ya? Kita juga sudah lumayan deket sama dia, jadi lebih gampang menjaganya, bukan?”. Aku mengangguk.

—–

Esok harinya…

Author’s POV

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIHHH~”

Terdengar suara teriakan dar lantai dua. Sontak lima namja yang ada di ruang makan yang terletak di lantai bawah mendongakkan kepalanya ke atas.

“Aiissh, anak itu”, Key berdecak.Onew hanya geleng-geleng kepala sambil sedikit terkekeh.

DRAPDRAPDRAPDRAP. BRUAAAAKK.

“Aku telat! AKU TELAAAAAAAAAT!”,teriak Soona sambil berlari ke bawah. “Kenapa kalian enggak ada yang ngebangunin sih?!”, sambungnya sambil berlari ke arah ruang makan.

“Ini rotimu”, kata Minho sambil menyodorkan sepiring roti sandwich. Soona langsung melahapnya dengan cepat. Ia dikejar waktu.

“Ukh- Uhuk uhuk!”, dia tersedak dan memukul-mukul dadanya. Jonghyun menggeleng-gelengkan kepalanya dan memberikan segelas susu, “Pelan-pelan dong.”

“Sudah kuduga bakal kayak gini, kan?”,ucap Key sambil menyeruput teh hangatnya. Soona menatapnya, “Maksudmu?”

Taemin bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tasnya, “Kemarin Key hyung diam-diam merubah semua jam di kamarmu, jadi semuanya dicepetin 15 menit”, katanya santai. Soona mengrenyitkan dahinya, “Hah?”

“Jadi sekarang ini kau masih punya waktu 30 menit untuk masuk ke sekolah. Ayo cepat, aku takut jalanan macet”, kata Onew sambil membawa piringnya ke dapur.

Soona nyengir, “Hee~ Rupanya kau punya sisi baik juga, ya?”,ujarnya sambil melirik Key. Key hanya mendehem, “Aku cuma tidak mau telat gara-gara nungguin sapi yang tiap hari bangunnya kesiangan mulu”, katanya santai.

“YA!”,Soona mendelik tajam. “HAISH! Sudah! Cepat ke mobil!”,seru Minho sambil menarik Soona keluar rumah. Key mengikuti mereka dengan mulut cengar-cengir.

—–

“LARI!! RUN! RUN! RUN!”, teriak Jeo Hyun kepada Yeon Ji yang berhasil memukul bola.

Sekarang jam pertama, dan sekarang waktunya jam pelajaran olahraga. Murid perempuan di kelas Soona mendapat giliran bermain baseball minggu ini, sedangkan para murid laki-laki mendapat jatah bermain sepak bola. Letak lapangan baseball dan sepak bola bersebelahan, sehingga para siswa laki-laki bisa melihat kegiatan olahraga para siswi perempuan, begitu pula sebaliknya.

“GOAAAAAAAAAAAAAAAAA~LL”, teriak para siswa laki-laki itu tiba-tiba. Soona yang sedang berdiri di pinggir lapangan baseball, menoleh ke lapangan di sebelah kanannya. Lagi-lagi si jangkung Minho yang menembus gawang lawan. Minho terlihat berlari mengelilingi lapangan sambil merentangkan tangannya, dan dengan sekejap dia sudah dikerubungi anggota timnya. Tidak lupa Kibum yang langsung melompat ke arah Minho dan memeluknya.

“SOO! JOSSIMHAE!”, teriak Jeo Hyun dari base kedua. Soona sontak melihat ke arah Jeo Hyun, dan…

DUKKKK. Kepala Soona terbentur bola baseball yang mendarat di puncak kepalanya (info: bola baseball itu keras banget lho.)

Soona langsung terjatuh tidak sadarkan diri. Seluruh siswi langsung berlari menghampirinya.

—–

Kim Kibum’s POV

“Ya! Jangkung! Cepat sekali kau masukin bolanya, heh?”, kataku sambil mengacak-ngacak rambut Minho. “Hyung! Stop! Hahahhaha’, katanya sambil tertawa-tawa.

“Minho-ya! Kemampuan olahragamu sungguh gila!”, sambung Jo Kwon sambil ikut mengacak-ngacak rambut Minho. Tim kami sontak langsung berteriak-teriak gembira.

“Eh? Ada apaan tuh?”, tanya Jaesuk (dia teman sekelasku) sambil menunjuk ke arah lapangan baseball yang sedang digunakan oleh para perempuan di kelasku. Aku dan Jo Kwon berhenti mengacak-ngacak rambut Minho dan ikut melihat apa yang terjadi.

Minho memicingkan matanya. Sesaat dia mengrenyitkan dahinya, kemudian langsung melesat ke arah lapangan baseball.

“Ya! Minho-ya! Apa-apaan kamu?”, teriakku. “Itu Soona! Dia pingsan!”, Minho balas berteriak. Sontak aku terkejut dan berlari mengikuti Minho.

“Minggir! Minggir!”, kudengar Minho mengatakan itu untuk menerobos kerumunan yeoja yang berdiri mengelilingi Soona. Minho berjongkok di sebelah kanan gadis itu dan menggoyang-goyangkan badannya.

“Soo? Bangun!”, ucap Minho. Aku berjongkok di sisi yang lain, dan saat kusentuh kepalanya, ada darah yang melekat di tanganku. “Astaga…”, kataku terkejut.

“Bawa dia ke ruang kesehatan, sekarang!”, perintah Park songsaenim, dia guru olahraga murid perempuan. Saat aku akan mengangkat tubuh Soona dari tanah, ternyata Minho sudah mengangkatnya lebih dulu dan langsung membawanya pergi dari lapangan.

Hei! Kenapa kau duluan duluan yang mengangkatnya, heh?

“Hyung! Bisa kau bantu aku mengurusnya di ruang kesehatan?!”, katanya membuyarkan lamunanku. “..Ne…”, aku berdiri dan berlari mengikuti Minho dari belakang. Dan bisa kusadari kalau banyak sepasang mata yang memandang ke arah kami bertiga.

“Aku ikut!”, teriak seseorang. Oh, itu Im Yeon Ji, sahabat Soona. Dia berlari ke arah kami bertiga.

Sesampainya di ruang kesehatan, Minho langsung membaringkan Soona di tempat tidur. Dokter sekolah langsung menghampiri kami dan memeriksa Soona. Kami bertiga disuruh untuk keluar ruangan untuk beberapa saat.

Kami bertiga duduk di bangku depan ruang kesehatan tersebut. Kulihat raut muka Minho sedikit pucat.

“Minho-ya, wae?”, tanyaku. Dia hanya menggeleng dan tersenyum kecut.

“Ini semua salahku… Kalau aku memukul bolanya sedikit lebih kuat, pasti tidak akan mengenai kepalanya”, kata Yeon Ji sedikit terisak. “Aku takut dia kenapa-kenapa… Bola baseball itu kan keras sekali”, lanjutnya.

“Kenapa dia tidak memakai pelindung kepala?”, tanyaku. “Dia sedang tidak bermain, dan aku tidak tahu arah bolanya ke mana… Jeongmal mianhaeyo…”, ujarnya sambil menangis.

“Sudahlah. Sekarang kita berdoa saja supaya dia tidak apa-apa”, ucap Minho. Yeon Ji hanya mengagguk lemah. Setelah 15 menit, dokter sekolah memanggil kami ke dalam ruangan.

“Kim Soona tidak apa-apa. Sepertinya tadi dia sempat menghindar dari bola, jadi luka di kepalanya tidak begitu parah. Sebentar lagi paling dia bangun”, katanya sambil tersenyum.

Aku menatap sosok yang terbaring itu. Dahinya sudah terlilit oleh perban. “Jjinja? Benar dia tidak apa-apa?”, tanya Yeon Ji memastikan. Dokter itu mengangguk, “Ya. Biarkan dia istirahat di sini sampai jam terakhir. Pasti kepalanya akan sakit pada saat bangun nanti”, ujarnya sambil duduk di kursinya.

“Oh, ya. Bisa kutitip dia dengan kalian bertiga? Kebetulan ada yang membutuhkanku sekarang di rumah sakit pusat, jadi saya harus pergi sekarang”, lanjut dokter itu.

“Ne, baiklah. Kamsahamnida…”, kataku sambil membungkuk. Dan dokter itu pun meninggalkan kami berempat di ruang kesehatan ini.

Yeon Ji duduk di samping Soona. Dia memegang tangan Soona erat.

“Soo? Gwaenchanayo? Maaf aku kurang memperhatikan arah bolanya… Mianhae…”, isaknya.

Aku menyenderkan badanku di dinding sebelah jendela. Aku melenguh panjang. ‘Dasar, kenapa sih dia bisa kena bola? Ngelamun kenapa dia?’, batinku.

Dan pada saat aku melirik ke arah Minho, dia terus menatap sosok Soona yang tidak sadarkan diri dengan tatapan sedih, sekaligus khawatir.

Anak itu kenapa sih? Baru kali ini aku melihatnya sesedih itu.

—–

Kim Soona’s POV

Aku berusaha untuk membuka mataku. Rasanya sekelilingku berputar-putar. Aku melirik ke arah kanan, terlihat tirai tipis jendela yang melambai karena terkena angin dari luar.

“Kau sudah bangun?”, tanya seseorang dari arah pintu masuk ruangan ini. Aku membuka-tutup mataku, membiasakan dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan ini. Ah, aku di ruang kesehatan rupanya.

Aku mengerang. “… Kibum…”, kataku lirih.

“Sekarang apa yang kau rasakan, hm?”, ujarnya sambil duduk di kursi sebelah tempat tidur ini.

“… Pusing sekali”, jawabku singkat sambil memegang dahiku yang sudah terlilt perban. “Apa yang… terjadi denganku? Bukannya tadi aku… sedang pelajaran olahraga?”, lanjutku.

“Tadi kepalamu kena bola baseball. Untung aku dan Minho ada di dekatmu, jadi kau bisa segera diurus. Kepalamu sempat berdarah tadi”, katanya.

“Jjinja? Apakah parah?”, aku sedikit terkejut. “Ani… Kau tidak apa-apa”, katanya.

“… Tunggu… Sekarang jam berapa?”, tanyaku. Dia melihat jam tangannya, “Jam dua belas.”

“Jadi… Aku terbaring di sini sudah empat jam?”. Kibum mengangguk. “Terus, apa yang kau lakukan di sini? Kamu enggak ke kelas?”, tanyaku.

“Enggak usah, sekarang giliranku jaga kamu”, kata Kibum sambil membuka majalah yang dia bawa. “Maksudmu?”

“Dari jam delapan sampai istirahat jam sebelas, Minho, Jeo Hyun dan Yeon Ji yang menjagamu. Sekarang giliranku. Tadi Taemin, Onew hyung dan Jjong hyung sudah kukasih tahu, mereka sempat ke sini waktu kamu masih gak sadar”, sambungnya.

“Terus pelajaranmu bagaimana? Enggak apa-apa?”. “Sudahlah, biarin. Cuma ketinggalan sedikit, lagian Lee songsaenim ngijinin aku di sini kok, tenang aja”, jawabnya.

“Mianhae… Aku jadi ngerepotin kalian gini…”

Kibum menutup majalahnya dan menatapku. Kemudian dia tersenyum.

“Tidak, tidak. Sudah tugasku untuk menjagamu. Lagian yang penting sekarang, banyak istirahat. Jangan terlalu banyak ngomong dulu”, katanya.

Aku mengangguk pelan. “Ini, tadi Jeo Hyun sama Yeon Ji membelikanmu roti dan jus buah. Dimakan gih”, katanya sambil menyodorkan sebungkus roti coklat kesukaanku.

“Geomawo…”, kataku lemah sambil tersenyum. Aku berusaha untuk bangun, tapi Kibum melarangku, “Kau masih pusing, kan? Sudah, berbaring saja. Aku ambil bantal dulu sebentar”, katanya sambil mengambil bantal dari tempat tidur lain di ruang kesehatan ini.

Dia mengangkat kepalaku pelan dan meletakkan bantal cadangan di bawah kepalaku.

Wah, rupanya orang ini baik juga, ya?

Aku mengambil roti yang tadi katanya dibelikan Jeo Hyun dan Yeon Ji, kemudian memakannya. “Pelan-pelan makannya”, kata Kibum mengingatkan.

“Soo? Kau sudah bangun?”. Onew oppa muncul dari pintu ruangan ini dan langsung menghampiriku. “Sekarang gimana rasanya? Pasti pusing ya?”, katanya sambil duduk di sebelah Kibum. Aku mengangguk.

“Oppa enggak ke kelas?”, tanyaku. Dia menggeleng. “Tadi kelasku ada tes laboratorium. Aku udah selesai, jadi aku ke sini aja”, jawabnya sambil tersenyum. “Oh ya, Jjong juga bakal ke sini kalau udah selesai…”, lanjutnya.

Aku hanya manggut-manggut. “Kamu besok jangan sekolah dulu ya”, kata Onew oppa. “He~ Wae?”, aku manyun. “Keadaanmu masih kayak gini, istirahatlah dulu sehari, arasseo?”, lanjutnya.

Ya, sudahlah. Mungkin lebih baik aku di rumah dulu sehari. Daripada besok di sekolah ada apa-apa.

Aku kembali mengunyah roti coklat itu. Aku melihat keluar dan memandang sinar matahari yang hangat.

NGIIIIING.

Ya tuhan, kenapa kepalaku tiba-tiba berdenging begini?

Sontak kedua tanganku langsung memegang kepalaku. “Sa…kit!”, erangku. Aku meringis, demi apa kepalaku jadi terasa seperti tertusuk ribuan jarum?

“Soo? Gwaenchana?”, ucap Onew oppa khawatir. Dia bangkit dari kursinya dan memegang kepalaku. Aku tidak bergeming. Kepalaku terlalu sakit untuk menjawab pertanyaannya.

“SOONA!”

Aku mendengar Kibum berteriak, tapi seluruh pandanganku sudah menghitam semua.

—–

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

28 thoughts on “They Suddenly Came into My Days – Part 3”

  1. makin seruuu…..
    lanjuuut….lanjuuuttt thooorrrr…
    makin penasaran sama orng yg ngincar soona…
    Soal.a d part ini msih belum muncul juga’……
    D tunggu next part.a…

  2. Ihhh
    Keynya baik banget *meluk key
    Soonanya kenapa lagi itu
    Mana dia lagi di incer lagi
    Untung ada 5 namja super ganteng yang jagain

  3. wah ..suka-suka-suka……

    itu soona kenapa? huuu teriakin dokternya, klo dokternya boong!!
    ahkk… lgi seru2 baca… juga nih thor… malah tbc .. ckckck … gpp deh .. tetap menunggu apa yang terjadi selanjutnya …..

    next part?? …. i keep wait…

  4. wah? jadi orang kesepuluh lagi..
    hahahaha. maaf ya hanafinahasna. 😉
    hei! ff ini makin lama makin seru deh. :))
    lanjut ya myee!

    1. sepuluh?
      emang kenapa?
      nomornya minho ya? ahaha

      kamu keren feb, jadi komentator nomor 10 pas di jam 10 malem!

      sip dilanjuuuts

  5. Anneyong Haseyo……
    aku anak baru, salam kenal oppa & oenni semua….

    ff-nya keren……
    tapi thor kok ‘mengeluh’ dituli ‘melenguh’?
    bukannnya yang melenguh itu sapi ya?

    tapi keseluruhannya ff-nya bagus banget

Leave a Reply to alfieandasari Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s