THE GUITARIST – Part 3

THE GUITARIST

Author             :   Dubudays aka Kan Ahra and Nikitaemin aka Shin Minki

Main cast        :  Lee Jinki, Cho Hyunsa (original character)

Other cast       : Cho Jiman (ayah Hyunsa), Sungha Jung (Korean fingerstyle guitarist)

Genre              : romance (??), life, family

Rate                 : PG-13

Type                : Chaptered (3/5)

Note                : kami banyak menyebutkan Sungha Jung di fanfict ini. Sungha Jung itu bukan tokoh fiktif yang kami karang sendiri. Itu semua asli kecuali Jinkinya. Jelas dia tidak ada hubungan apapun dalam kehidupan nyata.

Satu lagi, maaf banget buat yang baca ff ini via handphone karena kami cukup banyak memasukkan link youtube disini. Mohon maaaf dan happy reading ❤

Disclaimer       : this fanfiction BELONGS to KAN AHRA and SHIN MINKI, EXCEPT LEE JINKI, HE’S BELONGS TO GOD O:)

Lee Jinki’s pov

Hoaaahm~  tidurku semalam nyenyak sekali, Jinjjayo. Pasti karena Hyunsa menemaniku berjalan-jalan ke danau semalam.

“Hyunsaaaa, ayo bangun!!” Terdengar suara Cho sonsaengnim mengetuk.. anni anni. Ini justru mendekati menggedor pintu kamar Hyunsa. Sebaiknya aku juga keluar. Gak enak sama Cho sonsaengnim.

“Hoaaahm, ‎Annyeong sonsaengnim,” Sapaku pada Cho sonsaengnim yang masih berdiri di depan pintu kamar hyunsa.

“Haai, Jinki. Kukira aku juga harus menggedor pintumu supaya bangun. Saya buru-buru, nih. Teman saya udah nunggu di studio. Jadi saya harus berangkat ke studio duluan. Nanti kalian nyusul.”

“Ohohoh, maaf, sonsaengnim. Saya kesiangan, ya bangunnya?”

“kalau kamu, sih dimaklumin. Kalo Hyunsa enggak.  Masa tuan rumah bangunnya kesiangan. Eh, aduuh, saya telat nih. Bisa gak kamu yang bangunin Hyunsa? Terus kalo kalian  udah mau berangkat, kasih tau Hyunsa buat telpon saya. Oke? Oh iyaa, saya juga udah buatin sarapan buat kalian berdua. Dimakan, ya. Awas kalo nggak.”

“Nee sonsaengnim. Hati-hati dijalan.”

Setelah bunyi mobil sonsaengnim menjauh segera kuketuk pintu kamar Hyunsa.

“Hyunsaaaaaa, bangun! Hyunsaaaa! Ireona— aigooo!” Tiba tiba Hyunsa keluar dari kamarnya dengan tampang masih mengantuk.

“Apaan, siih? Berisik!”

“Good morning, sleeping beauty. Akhirnya bangun jugaa. Aduh aduh aduuh, kamu gak sisiran apa gimana, sih? Ini rambutnyaaaa.” Kusisir rambut Hyunsa yang berantakan dengan jariku. Setiap sentuhan jariku pada rambutnya, memberikan efek listrik bertegangan rendah yang mengaliri tanganku. Berlanjut hingga ke otakku. Membuat ritme detak jantungku sedikit kacau. Rambut Hyunsa begitu halus meskipun berantakan.
“habis kamu berisik, sih. Mana sempet sisiran.  Ehh ntar dulu. Kayaknya ada yanng aneh, nih sama bahasanya Jinki. Lebih informal, ya? Cieeee, udah bisaa. Bagus deh.”

“Iya.kupikir kamu kesehariannya juga pakai bahasa seperti ini. Aku hanya menyesuaikan supaya sama-sama nyaman. Eh, appa kamu berangkat duluann tadi. Temennya udah nungguin di studio. Jadi kita disuruh berangkat berdua.”

“Oh, gitu? Okedeh. Eh, appa bikininn sarapan, gak? Laperr.”

“Katanya, sih bikin. Yuk turun! Aku juga laper.” Kutarik lengann Hyunsa pelan mengajaknya turun. Oh Tuhan, lagi-lagi listrik bertegangan rendah seakan mengaliri tanganku setiap bersentuhan dengan gadis ini. Ritme detak jantungku yang mulai tenang kembali kacau. Oek, Jinki gugup.

“Aaah, apa menu sarapan kita hari iniii?” Hyunsa membuka tudung saji dan tadaaa! Waaaah, ada makanan favoritku waktu kecil! Bubur ayam! *ayamnya teteeeuup*

“Waaah, ini makanann favoritku waktu kecil.”

“Jinjjayo? Kalo gitu makan yang banyak, Jinki! Masakan appa soalnya daebak banget!”

“Oke!” Segera kuambil beberapa sendok bubur ayam dan woooww, masakan Cho sonsaengnim emang top!  “Hyunsa, ini benar-benar enaak!”

“Benar, kan kataku? Makanya, makan yang banyak. Okee?”

“Sip. Kalo makanannya seenak ini terus bisa-bisa berat badanku naik sepulangnya ke Korea.”

“Gapapa. Abis kamu juga keliatann kurus gitu, sih. Terlalu kurus juga gak bagus tauu.”

“Eh, Hyunnsa. Kata appa kamu, kalau kita udah mau berangkat, kamu disuruh nelepon beliau.”

“Okee. Bisa diatur itu. Jinki, kalau udah selesai makan, taruh aja piringnya di bak cuci piring. Nanti aku yang cuci.”

“Nggak. Aku aja yang cuci. Kan ini bekas aku.”

“Ngehh, terserah kau sajalah.”

********
“Halo, kenapa appa?” Hyunsa mengaktifkan loadspeaker handphonenya dan memberikannya padaku. Waduh, aku dijadiin tripod handphone nya, nih?

“Hyunsa, udah mau jalan?” Jawab Cho sonsaenim.

“Udah. Ada apa, appa?”

“Gini, ini mendadak banget. Tapi temen lama appa ngajak buat ngisi showcasenya akhir desember nanti di Jerman. Jadi… Kamu sama Jinki sementara latihan tanpa appa dulu, ya? Appa pulang kira-kira pertengahan Januari. Begitu appa balik, kalian harus udah lancar main gitarnya. Jangan kecewain appa. Oke?”

“iya, appa. Hyunsa dan Jinki gak akan kecewain appa. Ya kan, Jinki?”

“e.. Ne sonsaengnim,” sahutku.

“jadi appa berangkat kapan?”

“besok pagi. Maaf banget, ya appa gak bisa nemenin kalian. Appa gak enak juga sama teman appa. Kalau bisa nolak, pasti udah appa tolak dari tadi.”

“gapapa, appa. Udah, appa fokus aja sama kerjaan appa. Eh appa, Hyunsa udah sampai, nih. Hyunsa masuk ke ruang berapa?”

“Ruang 7. Appa udah minta diberesin dan dinyalain AC nya. Appa ada di ruang 5, ya sama teman appa yang juga diajak showcase di Jerman.”

“sip.” Hyunsa mengambil kembali handphone nya dari tanganku. “hehe, makasih, ya udah megangin handphone aku. Aku lupa bawa headset.”

“besok-besok jangan lupa lagi. Pegel.”

“hehe, iya iya. Bawel nih. Ayo masuk!” Hyunsa menarik tanganku dan sedikit berlari.

Gedung studio milik Cho sonsaengnim memiliki beberapa ruangan lagi. Seperti tempat noraebang(karaoke) di Korea. Memang, sih ruangannya tidak terlalu besar. Tapi tempat ini sangat nyaman. Ruangan 7 berada agak di dalam gedung. Akhirnya kami sampai juga di ruangan tersebut.

“Naah, mari diskusikan lagu apa yang bakal kita mainin buat showcase Februari.” Hyunsa membuka tas gitarnya setelah duduk di sofa.

Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk bermain fingerstyle dan akustik. Hyunsa memilih lagu Beat it yang di cover oleh Sungha dan Start yang dimainkan oleh Depapepe. Sedangkan aku memilih lagu karangan Sungha, For you. Saat membuatnya lagu itu, Sungha banyak berdiskusi denganku. Ternyata Hyunsa juga menyukai lagu yang kupilih.

Aku sangat senang berdiskusi dengan Hyunsa. Dia sangat terbuka, mau mendengarkan pendapat orang lain. Kupikir Hyunsa orangnya gengsi karena anak seorang musisi yang biasanya menganggap dirinya hebat dan paling benar. Hyunsa sama sekali tidak begitu. Ketika dia salah, dia akan mengakuinya dan meminta maaf. Memintaku untuk mengulangi part dimana dia salah memainkan. Sangat menyenangkan bisa berduet dengannya.

Suara Hyunsa saat berbicara sangat menenangkan. Apalagi melihat ekspresinya saat bermain gitar —sangat menghayati dan seperti Goddess.. Setiap mendengar suaranya dan memandang wajahnya, ada sesuatu yang bergejolak di hatiku. Dadaku selalu berdebar tidak karuan. Ada suatu rasa yang memaksaku untuk selalu memandangnya, selalu di sampingnya.

********

Awal Januari, 2015

“Jinki.” Hyunsa memanggilku dari kamarnya pada suatu malam. Hyunsa belum tidur? Padahal ini sudah mendekati jam satu pagi. Segera kudekatkan telingaku pada tembok yang berhubungan langsung dengan kamar Hyunsa.

“kenapa?”

“Kepalaku sakiiiit.”

“HAH?!” aku segera keluar dari kamarku dan berdiri di depan kamar Hyunsa. aku ragu untuk masuk. Ini, kan di Indonesia. Sangat aneh seorang laki-laki asing masuk ke kamar wanita. “Hyunsa, boleh aku masuk?”

“masuk aja. gak dikunci.” Dengan sedikit ragu akhirnya kubuka pintu kamar Hyunsa. Nuansa hijau yang lembut segera menyambutku begitu masuk ke kamar Hyunsa. Hyunsa ada di tempat tidurnya, bergelung dibalik selimut dan sedikit merintih.

“Hyunsa, kamu kenapa?”

“kepala aku sakit. Aku gak bisa tidur dari tadi. Padahal aku capek banget. Kalau aku capek tapi gak bisa tidur, kepala aku selalu sakit. Awww.”

“ada obatnya, gak? Biar aku ambilin.”

“gak ada. Huu, sakiit. biasanya gak sesakit ini. Ini sakit banget.”

“jadi gimana, dong? Kamu mau aku mainin gitar biar tidur? Aku gak bisa ngedongeng. Aku mainin lullaby, ya.”

“ngedongeng? Kamu kira aku anak kecil? Terserahlah. Yang penting aku bisa tidur.”

“bentar, ya.” Aku keluar dari kamar Hyunsa dan mengambil gitarku di kamar. Lagi-lagi aku dan Hyunsa punya kesamaan. Sama seperti Hyunsa, ketika badanku sangat lelah dan menginginkan istirahat tetapi mataku sama sekali tidak bisa terpejam, maka kepalaku akan bereaksi. Berdenyut-denyut tidak karuan.

“ja, aku kembali.”

“welcome back.” Suara Hyunsa sedikit serak. Apa dia menangis?

“Hyunsa nangis? Sakit banget, ya? Maaf aku lama.” Kuhapus airmata yang masih mengalir di pipinya dengan ibu jariku. Tanganku gemetar saat menyentuh pipinya lembut. Airmatanya telah hilang dari pipinya. Tapi entah mengapa, aku masih ingin membelai pipi itu. memberinya kenyamanan dengan tanganku yang besar dan hangat.

“Jinki, aku tidak bisa tidur kalau diperlakukan seperti itu terus. Kau jadi memainkan lullaby untukku?” Hyunsa menatapku dan memegang tanganku. Sesaat aku tersadar. Aku punya tugas lain. Memainkan Hyunsa sebuah lullaby.

“Maaf, Hyunsa. iya, akan kumainkan sebuah lagu untukmu.”

Aku menarik kursi Hyunsa dan mengambil posisi duduk dekatnya.“Lee Jinki presents Lullaby from Lee Byung Woo. Enjoy the song.”

Begitu aku selesai memainkannya, kutengok Hyunsa. Syukurlah dia sudah bisa tidur. Wajahnya damai sekali, dan… cantik.

Jantungku berdegup kencang begitu melihat wajah Hyunsa. Darah seakan di pompa ekstra ke seluruh tubuhku. Wajahku sedikit panas. Mungkin ini rasanya kalau seorang pria melihat goddess. Dan seluruh tubuhku sepertinya telah memilih goddessnya. Cho Hyunsa. Aku jatuh cinta padanya….

Lagi-lagi keinginan itu muncul lagi. Keinginan untuk menyentuh pipi Hyunsa. merasakan halusnya kulit gadis itu. Merasakan halusnya pipi yang mempunyai rona alami itu. Tapi aku sadar, Hyunsa bisa saja terbangun dengan perlakuanku. Dia bisa sakit kalau tidak tidur. Kuurungkan niatku.

********

uhh, dingin sekali! Kuraba permukaan di sekitar tanganku.

Lantai, pantas saja dingin. Ditambah AC yang dipasang sedikit lebih dingin dibanding suhu kamarku. Ternyata, semalam aku ketiduran di kamar Hyunsa setelah bermain gitar. Awalnya aku ingin tidur di kamarku sendiri setelah Hyunsa tidur. Tapi pintu kamar Hyunsa agak sedikit berisik ketika dibuka, jadi aku takut membangunkan Hyunsa yang sudah terlelap. Akhirnya kuputuskan untuk tidur di kamarnya. Kuambil jarak sejauh mungkin dari Hyunsa supaya dia tidak kaget ketika bangun nanti.

Kulirik jam dinding di kamar Hyunsa. Pukul enam pagi dan Hyunsa masih tidur. Aku tidak tega membangunkannya. Sebaiknya kusiapkan sarapan untukku dan untuknya.

Dengan kehati-hatian ekstra, kubuka pintu Hyunsa supaya tidak mengeluarkan bunyi yang begitu keras. Huh, berhasil.

Hm, apa yang sebaiknya kubuat untuk sarapan hari ini? Setahuku, Hyunsa suka susu dan roti. Kebetulan sekali, di laci dapur ada susu, dan roti tawar. Ada juga sereal yang masih agak banyak. Kuambil secukupnya untukku. Semoga Hyunsa tidak marah sereal punya nya diambil olehku.

Setelah semua siap, iseng, kunyalakan tv di dekat dapur. Wah, acaranya masih berita semua. Lumayan, lah daripada sepi. Tiba-tiba dari arah tangga terdengar suara orang berjalan. Siapa lagi kalau bukan Hyunsa.

“annyeong, Jinki,” sapanya.

“annyeong, Hyunsa. Lullaby ku sepertinya sukses membuatmu tertidur, ya? Syukurlah kalau begitu. Aku khawatir sekali melihatmu tidak bisa tidur semalam. Kau bisa sakit, Hyunsa.”

“iyaa. Makasih, ya, Jinki. Tenanglah, gak akan separah itu kok.”

“sama-sama. Eh iya, maaf, semalem aku tidur di kamarmu. Soalnya pintu kamu agak berisik, kan kalau dibuka. Aku takut kamu kebangun lagi. Tapi tenaaang, aku tidur di pojok kamar kamu. Jauuuuuh banget dari kamu. Beneran, deh.”

“haha, gapapa, Jinki. Asal kamu gak macem-macem aja sama aku. Waah, ini kamu yang siapin? Makasiih. Maaf ngerepotin. Harusnya aku yang siapin.”

“gantian, dong. Hehe. Lagipula gak enak juga tiap hari kamu yang siapin. Tamu macam apa aku.”

“okeee. Yaudah, makan, yuk.” Hyunsa duduk di kursi dan mulai menyeruput sedikit susunya.

“Hyunsa, aku ambil serealmu, gapapa, ya? Hehe.”

“ambil ajaaa. Santai aja. Eh iya, hari ini aku ada jadwal buat ngajar. Mau ikut? Sekalian bantuin aku, gitu.”

“jadi asisten maksudnya? Haha, boleeh. Dari pada aku lumutan sendiri.”

“sip. Jadwal aku jam dua siang sampe jam delapan malam. Gapapa, ya?”

Aku mengangguk mantap. Mengajar bersama goddess ku, pasti menyenangkan. Membayangkannya saja, sudah membuatku tersenyum-senyum sendirian. Kutundukkan kepalaku supaya Hyunsa tidak melihat. Aku bisa dikata orang gila kalau dia melihat.

To Be Continued

Credit song      :

–          Cover by Sungha Jung, Beat it (Michael Jackson)

http://www.youtube.com/watch?v=vsTOz_iEfI4 (kalau ada yang belum nonton)

–          Start (Depapepe)

http://www.youtube.com/watch?v=DAvejpRYsQM

–          Original song from Sungha Jung, For You

http://www.youtube.com/watch?v=yGkWlKIjbac

–          OST The Tale of Two Sisters, Lullaby (Lee Byung Woo)

http://www.youtube.com/watch?v=kicmt9uij6U&feature=related

Catatan:

Teknik bermain akustik itu seperti permainannya Depapepe.

Makasih semua yang udah mau baca ff ini. Terlebih lagi yang berkenan meninggalkan komentarnya. Doakan kami bisa bikin lebih baik lagi untuk next part. Hwaiting!

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


Advertisements

37 thoughts on “THE GUITARIST – Part 3”

  1. Oh….part 3-nya udah keluar.
    Kalau part 2 bikin mimisan, part 3 ini bikin….ENVY!!!!
    Udah ah, males komentar panjang jadinya *reader lebay

  2. aigo thor np kau buat hatiq jungkir balik dg ffmu nie
    ckckck part 3 paling banyak adegan romantisx(?) tpi masa’ hyunsa g ngerasain klo jinki slalu gugup melihat dia
    pokokx ditunggu chap slnjtx

    1. Hehe makasihhh ..
      Hyunsa ga ngerasain soalnya disini dia juga selalu gugup
      Jadi masing masing cast lebih cenderung bingung sama perasaan mereka
      Jadi ga sadar deh

  3. d part ini jinki’s pov semua y. Hmm..dr awal konsep cerita’y emg bgus. Unik, menarik. Tp kyk’y alur tiap part’y kependekn dh.
    D tunggu y part selanjutnya. And be better for the next 🙂

    1. Makasih udah baca dan comment
      Makashi juga untuk masukannya
      Doakan kami bisa membuat yang lebih baik di part selanjutnya 😀

    1. Halooooo dubudubudays disinii hihi :p
      Sama doong, aku juga deg-degan waktu nulisnya. ENVYYYY sama hyunsa kkk
      Makasih ya komennya 🙂 tungguinnya ya lanjutannya

  4. Nikiiiii! Dayuuuu! Ini ff kankankan gila kan yg part ini ah najong amat, sumpah itu yg di kamar hyunsaaaaaa itu jinkinya………matimati aja deh udah, ayo part 4!!!! 😀

    1. Hehe hallo anonymous (aku gatau namanya ._.)
      Kalo aku sendiri sih bisa dikiiiiiit (saking dikitnya sampe bisa dibilang gak bisa -_-) tapi kl nikitaemin bisa (y)
      Pas buat ini aku banyak nanya ke temen aku yg expert main fingerstyle hehe

      Makasih yaa komennya 😀

  5. wooooooohoooooooooooooo
    yeeeeeeah
    wooohooooooooo
    *pake suara jonghyun di hello baby ep.1*
    good job!!!
    aku suka ceritanya.
    tapiiii….. member lain gak dinongolin yaaaa??????????/

  6. Bales di satu kotak boleh yaa._. Aku lg pake hp
    @nysa: hehe makasiii :$ iya, member yg lain nggak ada hehe, adanya Sungha Jung 🙂

    @hyemin: iya, benar sekalii 😀 tapi biasalah, mereka malu malu gituu, tapi disini aku lebih ke perasaan Jinki nya 🙂 makasih ya komennyaa 😀

    @Hyo ra: aku juga mauuuu :$, bisa guling guling nih kl beneran jadi Hyunsa kkk *apadeh-_-* makasih ya komennyaaa 😀

  7. tolong, aku uda ga sanggup bayangin onyu di sini! mendadak dugeun dugeun!
    *sumpah, jadi mupeng ga karuan* *plak!*
    wah, authornya suka depapepe? haha sama sama sama!
    aku sampe suka mangap2 gaje kalo liat mereka perform, keren bgt soalnya >,,<d

  8. part 3 nya jadi tambah keren
    terus ngebayangin Onew maen gitar, cakepnya kaya gimana
    belum pernah liat onew main gitar sih, pernah nya jga liat onew maen piano

    Start nya depapepe bagus juga

    good job^^

Leave a Reply to putrii*** Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s