Remembering Sunday – Part 1

Remembering Sunday( part 1)

Author :           Nekochan

Main Cast :     Lee Jinki, Lee Taemin, Choi Hana

Support Cast:  Kim Kibum

Length :           Series

Genre :                        Mystery, Angst, Romantic

Rating :           PG-13

Aku memandang kosong hamparan mobil yang lalu lalang di bawahku. Bosan sekali hari ini. Tunggu, kemarin juga bosan, dan kemarinnya juga. Hah. Hidup ini jelas membosankan. Tidak ada perubahan, statis—PLAK. Tiba-tiba kepalaku menghantam sesuatu yang lembut, cepat-cepat kutolehkan kepalaku.

”YAISH! Kim Kibum!” aku memelototi sosok bersayap putih itu, dan ia malah tersenyum kecil.

”Hai, Jinki-ssi. Kau sedang apa? Tidak menjalankan tugas?” tanyanya, ia menggulung sayapnya dan segera mengambil lahan untuk duduk di sebelahku.

”Maksudmu mencabut nyawa orang-orang biadab itu? Sudah kuselesaikan.” jawabku sinis. Kulihat ia memonyongkan bibirnya dan ber-oh panjang. Sesuatu menangkap mataku, ada yang lain dengan malaikat bodoh satu ini. Ya ampun rambutnya!

”Ya! Kau apakan rambutmu?”

Ia tersenyum lebar dan mengelus bagian kepalanya yang botak. ”Keren kan? Ini style baru di dunia manusia. Aku sangat tertarik ingin mencobanya! Ahahaha…”

Aku menatapnya datar. ”Kau pikir manusia-manusia yang kau cabut nyawanya itu tidak akan kaget apa kalau melihat malaikat pencabut nyawanya nyentrik seperti ini? Bagaimana kalau kakek tua yang mati karena serangan jantung? Bisa-bisa ia terkena serangan jantung lagi ketika melihatmu.”

Ia membelalakkan matanya dan mulai panik. ”Benarkah? Aduh! Bagaimana ini??? aduh aduh aduh! Kenapa tidak terpikirkan olehku… gimana donk, Jinki-ssi???”

Tuh kan? Apa kubilang. Malaikat ini bodohnya minta ampun, masa ia percaya begitu saja dengan ucapanku. Aku menjewer telinganya.

”PAABBOO. Masa kau percaya pada setan seperti ku? Ampun deh.”

Ia menggembungkan kedua pipinya dan mengernyitkan hidungnya.

”Aku percaya donk. Kau kan Jinki. Temanku. Aku tidak perduli kalau kau setan pencabut nyawa atau apapun.”

Aku memukul pelan belakang kepalanya dan ia meringis pelan.

”Kau tidak melanjutkan tugasmu? List-nya masih banyak tuh.” aku menunjuk sejumput kertas di tas punggung berbentuk telur miliknya. Kertas itu berpendar keperakan, menandakan waktu ajal dari tiap-tiap orang sudah semakin mendekat.

”Astaga! Aku lupa… aduh! Makasih ya, Jinki-ssi! Aku pergi dulu… dan kau jangan suka bengong seperti itu. Dadahh…” ia mengibaskan sayapnya sekali dan hilang dalam tiupan angin.

Yah… bosan lagi…kalau ada diakan, minimal ada yang bisa aku kerjai.

Tiba-tiba sensasi aneh menyelubungi perutku, seolah-olah aku akan tertarik ke belakang dan benar saja. Pusaran hitam bergulung di belakangku dan menyedotku tanpa ampun. Apa-apaan ini!? Tunggu… jangan bilang kalau…

”Kau ya setannya?” suara itu bergema lantang. Bocah lelaki dengan rambut emas menengadah menatapku. Di bawah kakinya pentagram yang dilukis dengan cat tampak berpendar berkilauan terkena sinar lilin.

●●●

Aku mencuri pandang diam-diam ke arah cowok berambut emas itu. Namanya Lee Taemin, cowok pendiam yang akhir-akhir ini berhasil menarik perhatianku. Ia sibuk membaca buku sambil bersandar di salah satu rak yang ada di pojok perpustakaan. Rambut emasnya berkibar dengan lembut seiring angin berhembus melewati jendela.

“YA! Choi Hana! Minggir!” bentak seseorang di belakangku. Aku cepat-cepat memutar badanku. Wah. Mujur sekali aku. Shin Hyomin, si ratu populer. Batinku miris.

Ia bersama konco-konco centilnya menatapku sinis, aku balik menatap mereka.

”Kau menghalangi jalan kami. Coba minggir dulu.”

Dengan enggan aku memundurkan badanku ke dinding dan membiarkan mereka lewat. Namun tiba-tiba kakiku tersandung dan badanku tersungkur tanpa ampun menabrak dinding. Mereka terkikik nyaring.

”Aduh, Hana sayang. Makanya kalau jalan lihat-lihat donk.” ia terkikik semakin keras. Rasanya aku ingin lompat ke lubang manapun yang ada di sekitarku. Aku malu sekali. Kenapa sih mereka ini suka sekali mengerjai orang?

”Sini…” sebuah suara mengalun di atasku. Ketika aku mendongakkan kepalaku, kulihat sosok berambut emas tersenyum kepadaku. Ia mengulurkan tangannya kepadaku dan menarik tubuhku dengan pelan.

“Auw…” ringisku. Lenganku sakit sekali. Berdenyut-denyut minta segera dikompres.

“Gwaenchana?”tanyanya. Baru kusadari orang ini adalah Lee Taemin. Teman sekelasku yang sangat diam. Aku bahkan tidak pernah berbicara dengannya.

”Ah, ne…”

”Ya! Kalau jalan liat-liat. Percuma cantik kalau buta!” ia mengerling ke arah Hyomin dan kemudian menuntunku ke arah ruang UKS. Sekilas aku melihat wajah Hyomin yang dipenuhi amarah, warnanya sudah melebihi kepiting rebus.

”Terima kasih, Lee Taemin…” ucapku lirih.

”Iya… sama-sama…” ia tersenyum.

Itulah momen singkat yang terjadi antara aku dan dia beberapa waktu lalu. Semenjak hari itu aku terus memperhatikannya, jelas selama 9 bulan sekelas dengannya aku nyaris tidak pernah sadar akan kehadirannya. Ia jelas patung bernyawa yang mengisi kelas dengan keheningan. Aku perhatikan ia jarang sekali ikut pelajaran olahraga, ia selalu membawa bekal dan ia tidak pernah ada di kelas atau dimanapun untuk menyantap makan siangnya. Dan beberapa hari ini aku baru tahu kalau dia hobi sekali ke perpustakaan, sepertinya ia menyelundupkan bekalnya dan memakannya diam-diam di sudut perpustakaan. Dan dengan resmi dimulailah hari-hari stalker-ku di perpustakaan.

Aku duduk dengan posisi strategis, aku bisa menatapnya sesuka hatiku. Setidaknya dia bukan tipe yang sadar akan sekeliling, selama aku memerhatikannya dia tidak pernah sadar. Cih. Apa aku-nya yang memang tidak punya keberadaan sama sekali?

Aku menonton seorang Lee Taemin sedang membaca buku. Sosoknya yang tenang benar-benar membuatku kagum, aku takkan bosan menonton dia bahkan ketika ia diam. Sosoknya membuat imajinasiku kembali melambung tinggi, muncul sebuah ide cerita di kepalaku. Tentu saja dengan dia sebagai tokoh utamanya. Tanganku mengalir begitu saja, tak terasa bayang-bayang sudah meninggi. Nyaris membuat temaram keadaan perpustakaan.

”Agassi…” panggil seseorang di belakangku.

Aku terhentak kaget dan segera menolehkan wajahku, kulihat Kim-ahjussi tersenyum memamerkan giginya yang sudah ompong. Pengurus sekolah itu tidak sendiri, ia bersama kakakku. Si jangkung penggila sepak bola, Choi Minho.

“Ya! Kau pikir ini sudah jam berapaaa, Hana?” ia menjitak kepalaku. Aku memonyongkan bibirku dan segera bangkit dari tempat duduk. Tiba-tiba aku tersadar. Lee Taemin. Namun sudut perpustakaan itu kosong. Tidak ada siapa pun disana.

”Kau sedang melihat apa?” tanyanya sambil ikutan melihat ke sudut perpustakaan.

”Aniyo…” ucapku pelan. Kecewa. Bagaimana mungkin aku tidak sadar ketika ia meninggalkan ruangan? Kau pabbo sekali, Choi Hana! Aku terseok meninggalkan perpustakaan diiringi celotehan Minho-oppa tentang pertandingannya tadi siang. Terserah kau lah, Oppa. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana aku harus menghabiskan jam-jam ke depan tanpa melihat Lee Taemin. Ish! Kenapa dia pergi begitu saja sih? Aku merogoh tas ku dan panik begitu tau notes yang tadi kugunakan di perpustakaan tidak ada.

”Andwae!” jeritku.

”YA! Mengagetkan saja! Ada apa lagi?”

”Bukuku tertinggal di perpustakaan. Oppa duluan saja!”

”Yaish, Choi Hana. Jangan lama-lama!!!”

Aku berlari dengan kecepatan penuh menuju ruang perpustakaan. Aku berharap perpustakaan belum ditutup walau seharusnya jam segini petugas Kim sudah bersiap untuk mengunci semua ruangan. Aku melonjak senang ketika melihat pintu-ganda perpustakaan masih terbuka lebar. Syukurlah.

Aku menghambur masuk ke perpustakaan dan melengos ketika melihat meja tempatku tadi bersih. Tidak ada satupun benda di atasnya. Kemana buku ituuu??? Aduh…

Aku melongok ke bawah tempat duduk dan tidak ada apapun. Aku mengelilingi perpustakaan sampai 2 kali dan buku itu tidak bisa kutemukan.

”Kau mencari ini?” sebuah suara mengagetkanku. Dan betapa terkejutnya aku melihat Lee Taemin sedang duduk di atas mejaku tadi.

”A… itu…”

Ia menyodorkan buku itu kepadaku dan berkata, ”Kisah yang menarik.”

Mati aku. Segera aku ambil buku itu dan mengambil langkah seribu. Ya ampun dia membaca cerita yang ku buat!!!

”Hei!”

●●●

Aku menatapnya sinis, dia lebih pendek dariku. Matanya sedikit lebih besar dariku, dan dia sangat pucat. Aku bisa melihat itu, kulitnya tampak putih tidak normal. Dan harus kuakui, bocah ini luar biasa tampan. Tapi untuk apa bocah manusia ini  memanggilku? Apa dia tidak tahu konsekuensinya? Pemikiran itu nyaris membuatku kesal. Aku bukan setan yang tidak ada kerjaan sampai harus menghadapi manusia hidup  yang egois seperti ini.

Bocah itu mulai memandangiku dengan tatapan menilai dan memutariku beberapa kali. ”Wah. Kau setan tapi tampan sekali, ya? Bukannya setan itu mengerikan dan ada tanduknya?”

Aku hampir terjungkal mendengar kata-katanya. Dia pikir aku setan yang menjaga neraka apa? Aku ini setan pencabut nyawa! Jelas beda!

”Kau memanggil setan pencabut nyawa, bocah.” ujarku dingin, aku melipat sayapku dan mebiarkan kakiku menginjak lantai.

Ia mengerjapkan matanya.

”Tapi kau tetap sama seperti yang dibuku kan? Yang bisa dipanggil dan  mengabulkan keinginan?” ia memberi penekanan pada kata terakhir. Tunggu, dia tahu akan hal ini dari buku? Buku macam apa yang mengajarkan hal seperti ini!?

”Kau tahu dari buku katamu? Pentagram itu juga?”

”Iya. Aku membuatnya berdasarkan petunjuk dari buku.”

Aku menghela nafas panjang.

”Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau bisa kan mengabulkan permintaan?”

Lagi-lagi tatapan itu, tatapan penuh keberanian. Namun tersirat luka mendalam di baliknya.

”Kau tahu apa konsekuensinya?”

”Aku akan pergi ke neraka bersamamu.” jawabnya mantap.

Baiklah Lee Jinki, semuak-muaknya kau dengan keegoisan manusia. Tapi kalau memang sudah tugasmu kau bisa berbuat apa? Mujur sekali kau mendapat ’bonus’ seperti ini. Apa yang bisa dikatakan oleh Tetua di atas kalau melihat ini? Mungkin dengan begini kau bisa meminta izin libur panjang atau apa. Dan satu hal penting, kau tidak akan bosan. Oke. Deal. Betapa memuakkannya permintaanmu bocah, kupastikan jiwamu menyesal tiada akhir di neraka nanti.

”Katakan apa keinginanmu…” pasti ini hal-hal bodoh dan labil ala remaja. Percuma bocah, jika kau batal mengatakannya. Kau mati sekarang juga.

”Kapan aku akan mati?

——————–tbc——————-

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

24 thoughts on “Remembering Sunday – Part 1”

  1. 1st kah?
    wow,authooor,itu jinki dsni jd malaikat pencabut nyawa?ckckck~
    muka’y trllu innocent dah haha 😀
    uwooo!key dsni agak dong dong dong dong gimanaaaa gtu haha 😀
    lucu dah kalo ngbygn malaikat pke style rmbut kya key,aigooo!apa kta dunia -_-

    eoh?itu yg minta prmintaan taemin kah?
    aq masih kurg mudeng ini~
    plot’y trkesan loncat2,ato aku’y yg kurg konsen yak?haduuuh,hehe~

    yasud author!
    biar aq mudeng cpt post part 2’y,hehe~

    1. ini bukan yg ptama cantik… yg Because it’s YOU and ME. itu karya ku juga..
      btw mksih buat saran dan komennya yaa 🙂

  2. wouaahhh..keren…tp aga bingung soalnya ga ad POV…..hehehe…aga bngung dr onew-key tba2 ke hana-taem-minho trs ke onew lgi…kekeke
    cma itu aja yg baut bngung….slbihnya aku ska ma critanya…

    1. kalo dari komik sii iyaa..imajinasi pencabut nyawnaya..
      tapi kalo ceritanya imajinasi aku chingu..:)
      btw mksih komenny…

  3. pas pertama kali baca, rada bingung, eh kesonoh-sononya gx … ceritannya bagus, aduh key oppa gx da gaya rambut laen apa ?? taemin oppa!! polos-polos berbahaya (diam-diam menghanyutkan) pertanyaan apa itu? kapan mati ? lah ,, sableng .. ahahahhaha
    onew oppa jadi setan pencabut nyawa ?? ahahahahahha setan yg ganteng .. ckckck
    kok aku gx liat jjong oppa ya ??? kemana dia thor ?

    penasaran nih …. mending cepet2 part 2 ajh … hehehh #pletak!! sabar napa#
    oh iya, itu paragraf antara org satu dan yg lain tolong pke pov biar gx bingung, emang sih pas udah baca pasti tau itu siapa, biar lebih lengkap ajh .. hehehh

  4. Hahahah key
    Selalu aja dimana mana tampil nyentrik
    Padahal pencabut nyawa
    Hahaahaha
    Taemin itu pas ketemu jinki masih kecil?
    Ato waktunya sama pas diperhatiin 9 bulan sama choi hana?
    Ceritanya asik
    Tapi masih penasaran lanjutannya
    Segera ya thor…

  5. key yeobo kok jadi polos bgt iia,,, mau ajj di bohongin jinki…=.=
    jinki jadi malaikat pencabut nyawa..?? Gak co2k…. Co2k.a jdi cupid… *author : trserah author dong*
    karakter taemin di sini kok pendiam bgt iia,,, biasa.a heboooh….
    Trus permintaan.a aneh bgt,,, masa pengen tau kapan dia mati…. Atau mungin dia nanya kayak gitu karna dia punya (?) penyakit yg mematikan (?)…. (misal : kanker stadum akhir)… *plakkkkkkk
    Penasaraaaannn,,,,
    next part.a…..:P

  6. lucu prolognya, key dan onew jdi malaikat *malaikatnya ckep2*
    tapi gak ngerti akhirnya
    mmm taemin pendiem tapi penuh misteri

    ditunggu lanjutannya

  7. Wah, kalo malaikatnya kaya onew ato key sh q jg mau liatt, hhe~
    overall keren, suka bc ff yg imajinatif kya gni, ga mlulu cnta2an,
    daebak dehh.. *thumbs up*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s