Music in the blood

Title : Music in the blood

Author : t.ara

Main Cast:

  1. Kim Raera
  2. Choi Minho

Support Cast :

  1. Omma minho
  2. Noona minho
  3. Omma Raera
  4. Dan pendukung lainya..

Length : oneshoot

Genre : Romantic

Rating : General

Ting..ting..ting..

Alunan piano itu begitu indah. Jemari-jemari lentiknya mengayun dengan lembutnya di atas tuts-tuts piano di hadapannya. Dia benar-benar di lahirkan untuk bermain piano. Permainannya seperti butir-butir sihir yang dapat menyatu dengan siapapun. Merasuk dalam setiap hembusan nafas pendengar. Mengalir menyatu dengan aliran darah.

Meski ia tak mengeluarkan suara, semua yang melihatnya pasti mengerti yang ia ucapkan. Semua yang mendengarnya pasti merasakan apa yang sedang ia rasakan. Nada-nada di pianonya serta ekspresi wajahnya seperti bahasa yang telah di mengerti semua orang di manapun ia berada.

Mataku terus tertuju pada gadis yang sedang dengan anggunnnya memainkan sebuah lagu, tanpa berkedip. Aku begitu takjub. Ia penyihir. Penyihir yang dapat menyihir semua orang yang ada di sekitarnya.

Aku datang kemari karena perasanku yang sedang kacau. Tapi begitu mendengar permainannya yang lembut tapi lincah, sepersekian menit aku hampir melupakan permasalahnku. Permainan pianonya kini menunjukan dia sedang bahagia. Membuatku juga ikut bahagia.

Tanpa terasa ia telah menyudahi permainan pianonya. Dia berdiri. Penonton bertepuk tangan dengan riuh. Ia memberi hormat. Dan mengucapkan sesuatu. Tapi aku tak dapat mendengar apapun. Apa karena terlalu ramai. Kurasa tidak. Ini hanya sebuah cafe yang tidak bisa di bilang kecil ataupun besar. Tapi jelas bagiku kalau dia mengucapkan sesuatu. Ia mengucapkan ‘makasih’. Mungkinkah ia bisu?

“ tuhan, izinkan aku untuk menjaga malaikat di hadapanku itu.”

****************

Raera menyodorkan selembar kertas padaku saat kami berhenti untuk beristirahat.

“ Gomawo, karena kamu udah mau nemenin Raera jalan-jalan.”

“ Chonmaneyo. Kenapa pake kertas. Kenapa nggak langsung ngomong?”

Raera mengambil kertas yang di berikannya tadi. Ia menulis sesuatu kembali. Aku menunggunya dengan sabar.

“ ya..kau pabo atau bagaimana. bibir Raera capek, dodol. “

Raera menyerahkan kertas kepadaku. Aku membacanya dan tersenyum geli kemudian aku mengacak-acak rambut Raera. “es kirm?” Raera mengangguk antusias. Aku berjalan menuju penjual es krim dan membeli dua es krim cone.

Raera memakan es krimnya dengan lahap. Seperti anak kecil yang di turuti kemauaannya. Raera terlihat begitu lugu. Aku memandang lekat pada Raera. Dia benar-benar gadis tegar. Saat gadis seusianya ngerumpi ataupun bergaul di mall, dia hanya bisa berdiam dan bermain piano. Pita suaranya rusak saat dia duduk di kelas 2 SMP. Dia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan pita suaranya rusak sehingga ia tak dapat lagi mengeluarkan suaranya.

Tapi ia tak pernah berputus asa. Tak pernah ku lihat sekali pun ia menangis ataupun termenung. Pernah kulihat, tapi saat ia melihat seseorang terluka ataupun menderita. Ia tak segan untuk membantu. Ia pernah berkata, “ selagi aku bisa melakukannya, akan aku lakukan.” Kalimat itulah yang terus memotivasiku untuk menghadapi semuanya. Kalimat yang mungkin hanya dia ucapkan asal-aslan, tapi justru kalimat itulah yang dapat membuatku berjuang hingga kini.

********************

“ Omma, Minho mau ngomong.” Ucapku ketika kulihat Ommaku sedang menangis sendiri di kamar. “ Minho ? kemari nak.” ucap Ommaku sembari merentangkan tanganya untuk memelukku. Aku memeluk Ommaku. Rasanya hangat. Udah lama aku ngak merasakan kehangatan ini. Aku harus kuat dan tegar. Ini demi semuanya.

“ aku mau ngomong tentang noona, omma.”

Omma terdiam. Sepertinya memikirkan sesuatu. Tapi aku tak mengurungkan niatku untuk mengutaraan isi hatiku.

“ meski noona bilang, noona membenci Omma. Tapi aku tahu, hingga akhir hayatnya ia terus mencintai Omma. Bahkan,” air mataku mulai menggenang. “ kata ‘Omma’ lah yang terus diucapkannya. Noona nggak pernah kecewa ama Omma. Malah dia bangga, punya Omma seorang penari ballet profesional. Bagi noona dan aku, Omma adalah Omma terbaik yang pernah aku temui di dunia ini.”

Air mata Omma meluncur deras. Aku memeluk Omma lagi. “ makanya, Omma jangan pernah behenti untuk jadi penari ballet dunia. Aku dan noona, yang pasti sekarang lagi seneng-seneng di surga tuch, akan selalu dukung Omma. Apupun itu.”

“gamsahamnida, gamsahamnida Minho..”

Omma tak berkata apa-apa lagi. Ia terus memelukku. Makin erat malah. Andai noona ada d sini. Berpelukan bersama juga. Pasti makin hangat dan kebahagian ini akan lengkap. Aku telah mengutarakan isi hatiku. noona, jaga aku dan Omma dari atas sana ya?

***********

“ ya…Raera.aku udah ngomogin semuanya ke omma. Dan omma setuju buat nerusin baletnya di Paris.” Ucapku antusias begitu aku menemukan Raera sedang bermain piano di rumahnya.

Raera menatapku. Bibirnya bergerak dan aku mulai membacanya. “ bagus donk. “

“ ini semua berkat kamu tahu nggak?”

Raera mengernyitkan alisnya. “ kamu inget pernah bilangkan? selagi aku bisa melakukannya, akan aku lakukan. Selagi aku bisa support Omma ku, akan aku lakukan. Sekarang Cuma aku yang bisa diandelin ama omma. Jadi, i will give my best for my mother.”

Raera tersenyum tulus. Senyuman itu sangat menentarmkan hatiku. Benar-benar seperti oase segar di padang sahara.

“ dan rencannanya, aku bakal ikut omma ke Paris. Nemenin omma lah di sana. Seperti yang aku  bilang tadi, Cuma aku sekarang yang bisa diandelin ama omma.”

Ekspresi Raera berubah sesaat. Kemudian ia bertanya kapan aku berangkat. “ mungkin 1 minggu lagi.”

“ begtu cepat.” Terbersit rasa kecewa di wajah Raera. Tapi kemudian Raera terseyum. “ mau temani aku latihan untuk konser perdana ku nanti?”

Aku mengangguk dengan cepat.

***************

Tepuk tanagn penoton memadati seisi aula. Bahkan banyak penonton yang memberi standing ovation untuk nya. Raera mengadakan konser perdananya. Konser yang hampir bisa di bilang sukses. Ratusan penonton hadir hanya untuk melihta aksinya. Malam ini Raera begitu cantik. Degan gaun viloet bahu terbuknya, ia tampil anggun di panggung itu. Rambut Raera yang panjang, ia sanggul sedikit, sangggul ala jepang. Memuatnya terlihat makin fresh.

Hari ini hari terakhirku di Indonesia. Setelah konser Raera, aku akan pergi ke Paris sesuai misiku. Nemenin omma. Meski berat meninggalkan semuanya, tapi aku harus melakukannya. Aku pingin selalu ada saat omma butuhin aku.

Mc keluar dari balik panggung. “amazing.you are so amazing..baiklah kita memasuki lagu terakhir. Tapi sebelumnya, kami mengundang tuan Choi Minho untuk berdiri di sini menemani nona Kim Raera bermain piano.“

Semua mata tertuju padaku. Aku nggak tahu menahu tentang skenario ini. Raera nggak pernah bilang, kalo aku harus nemenin dia di akhir lagu. Atas dorongan omma dan senyuman Raera yang tulus dari panggung aku merelakan untuk melangkah ke panggung.

“ aku harus bagaimana?” tanyaku pada Raera.

“ nyanyikan ini.” Raera memberiku secarik kertas berisikan syair lagu. Lagu dari ungu. Cinta dalam hati.

Raera mulai menekan tuts piano. Nada-nada yang ia ciptakan begitu indah. Raera menatapku, aku mulai bernyanyi.

mungkin ini memang jalan takdirku…..mengagumi tanpa di cintai

tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia

dengan hidupmu…… dengan hidupmu.

Raera ikut menyanyi. Meski tak terdengar,tapi ia bernyanyi dengan segenap jiwanya. Bahkan aku merasa , aku mendengar suara hati Raera.

telah lama kupendam perasaan itu…….menunggu hatimu menyambut diriku

tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah ……bahagia untukku, bahagia untukku…..

Aku melrik sekilas pada Raera. Entah karena cahaya atu apa, aku rasa mata Raera berkaca-kaca.

ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu

meski ku tunggu hingga ujung waktuku

dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya

dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja

tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya

dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja

Oh..oh..oh..ah..aha..aha…

( cinta dalam hati, by Ungu)

Tepukan tangan dari segala penjuru gedung memenuhi ruangan. Bahkan terlihat beberpa penonton menitikan air matanya. Jujur, sebenarya aku juga hampir menangis. Mataku sudah berkaca-kaca. Permainan Raera benar-benar seperti hidup. Merasuk dalam jiwa setiap pendengar.

Aku melirik Raera. Raera terdiam di tempatnya. Tak bergerak. Jarinya masih berada di tuts piano. Terdengar nafas Raera yang memburu. Perasaanku mulai tak enak. Aku menghampiri Raera. Dan saat itulah Raera……

“ Akhhhhh…….”

********************

“ dia menderita kanker tulang.”

Bagaikan di sambar petir ketika aku mendengar pernyataan dari Omma Raera. Seminggu yang lalu, Raera telah di vonis dokter. Umurnya hanya tinggal 6 bulan lagi. Kanker tulangnya telah megerogoti tubuhnya.

Seminggu yang lalu? Bukannya itu saat aku mengabari Raera tentang kepergianku? Apa ini salahku?

“ bukan. Saat kau datang, Raera baru saja tiba di rumah dari pemerikasaan sekaligus kabar yang menyakitkan hatinya.” Ucap Omma Raera seperti mengetahui pikiranku.

Bodoh. Kenapa aku nggak peka? Aku memang nggak pernah peka. Saat noona mempunyai penyakit leokopinia, aku pun nggak sadar.

Aku nggak mau kejadian yang sama terulang lagi. Cukup noona. Belum terlambat Raera. Belum terlambat. Aku akan menemanimu. Seperti kamu yang selalu menemani aku.

Bodoh, kenapa baru ku sadari sekarang bahwa Raera sangatlah penting untukku. Perlahan tapi pasti ia menyatu denganku. Dia nggak boleh pergi. Dia harus tetap ada untukku. Tuhan aku ngak ingin Raera pergi dariku. Cukup Noona saja.

Kak, aku titip satu orang lagi. Jaga Kim Raera untukku. Dia begitu berarti untukku. Tanpa dia, mungkin aku telah hancur.

Air mataku menitik.

***************************

“ Raera, bangun. Ayo kita main piano lagi. Ayo kita ke taman bermain lagi. Cepatlah bangun.”

Aku membatalkan kepargianku ke Paris. Omma mengerti dengan keadaanku. Sejak saat itu, aku menghabiskan waktuku untuk menjaga Raera. Sampai saat ini, Raera tak kunjung sadar dari tidur panjangnya.

Sudah 1 bulan berlalu setelah konser perdana Raera. Saat-saat terakhir, Raera mengeluarkan suaranya. Tapi mirisnya itu suara kesakitan Raera. Aku pingin denger Raera menyanyi. Sekalis aja. Untukku.

“ Raera, aku inget pertama kali aku liat kamu. Saat itu, aku lagi ancur-ancurnya. Aku lagi kalut dan datang ke cafe kamu. Niatku untuk minum-minum. Tapi begitu mendengar permainan piano kamu. Niatku hilang. Entah kemana. Permaian piano kamu seperti sihir bagiku. Jujur, malah ada satu rasa yang timbul. Aku malah ingin melindungi malaiakat . malaiakat yang sedang bermain piano di hadapan ku itu. “

Aku tersenyum sambil menggenggam tangan Raera. “ makanya aku nekat kenalan ma kamu. Karena saat kamu ada di sampingku, rasanya aku bisa melupakan semuanya. Melupakan kematian noona, melupakan kepergian appa. Perlahan tapi pasti, kamu mengisi hati aku.memperbaiki hatiku yang hancur berkeping-keping. Tapi… Kepingan itu belum sempurna. Makadari itu bangunlah. Selesaikan kepingan itu. Kepingan terakhir. Yaitu kamu. Aku membutuhkanmu. Aku..mencintaimu.”

“ Sekarang. Kamu dilarang pergi. Kamu harus di sini untuk aku. Aku pingin banget denger suara kamu. Nyanyian kamu. Aku nggak mau denger jeritan kesakitan kamu. Aku pingin denger kamu tertawa. Yang paling pingin lagi. Aku rindu akan permainan piano kamu. Aku pingin banget denger permainnan piano kamu. Bangun Raera..bangun…jangan tinggalin aku. Plis…” Aku menangis. Tak kuat membendung air mataku.

“ aku yang nyanyi, kamu yang main ya?”

Aku mendongak. “ Raera?”

Raera tersenyum.

****************************

“ lagu terakhir ini ku persembahkan untuk kekasihku yang sedang ada di taman terindah yang pernah ada.”

Mungkin kau bertanya-tanya…Arti perhatianku terhadapmu

Pasti kau menerka-nerka……Apa yang tersirat dalam gerakku

Akulah serpihan kisah masa lalumu…..Yang sekedar ingin tahu keadaanmu

Reff:

Tak pernah aku bermaksud mengusikmu

Mengganggu setiap ketentraman hidupmu

Hanya tak mudah bagiku lupakanmu

Dan pergi menjauh

Beri sedikit waktu

Agar ku terbiasa

Bernafas tanpamu oooohhh

Hoo hooo… 2x

Teruntuk dirimu

Dengarkanlah

Back to Reff:

Bernafas tanpamu…….

( Lya, bernafas tanpamu)

Aku belajar banyak dari Raera. Raera mengajariku untuk tak pernah pantang menyerah. Raera mengajariku untuk ada di setiap seseorang membutuhkanmu. Raera mengajariku untuk terus hidup. Raera mengajariku arti hidup. Dari Raera, aku menemukan cahaya terang yang tak kan pernah bisa padam dan dapat terus membimbingku.

Suaranya kembali dengan ajaibnya. Mukzizat Allah kata Raera. Konser keduanya sukses melebihi koser pertamanya. Ia bahkan mendapat penhargaan. Seperti janjiku aku akan terus bersamanya. Di akhir hayatnya, Raera tersenyum dan berkata, “ saat aku bertemu denganmu pertama kalinya, satu hal yang aku impikan. Bernyanyi bersamamu.” Matanya terpejam, senyuman tulus menghiasi bibirnya. Kini aku tak dapat mebaca bibir itu lagi. Nafasku telah pergi.

Nb: olla..olla… author freelance baru.. perkenalkan t.ara imnida. Haha..mirip* bukan mirip emank sama* *plak*, girl band t.ara ya namanya? Coz emank nmaku sebenernya tiara. Klo di singkt kan jadi t.ara. wkwkw..peace. btw nie ff oneshootku yang pertama. Kalau kalian udah pada baca * iya kalau di published* * kedid-kedip ke admin “ plubish ya..publish..” wkwkw* Live my life with you guys, nie cuman nama karakternya doank yang sama. Sekali lagi, cuman NAMA aja yang sama. * reader: iya..iya tahu..*. orangnya jelas beda jauh. Anggep aja beda dimensi..wkkwkw. ehm.. tentang lagu yang aku pake di sini. Abis dapet idenya pas dengerin lagu indo siy.. adi ya..mianhe kalau bukan korea..maaf..ya..maaf. tak ada gading yang tak retak * author mau bikin kata pengantar..hahahaha*, maka dari itu, kasih saran dan kritik ya….

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

19 thoughts on “Music in the blood”

  1. Annyong t.ara.. Slm knal jg yah.. Githu bc ffmu aq kget krn kirain kmu bwt setting na d korea tp tnyata d indo.. Oh yah aq mw blg gomawo bwt kmu krn msukin lgu indo, alna smenjak keinfeksi dengar lgu korea aq jd jarang bgt dgr lgu indo.. Hahaha.. Ff kmu bgus kok n smg aq jd first coment na.. Gomawo..

  2. wow!ini latar cerita’y di indo kah?
    nice ko author~
    tp aku kaget jg itu tiba2 raera’y dibilangin kanker tulang T_T
    nah terus,itu raera’y siuman tp ujung2’y mati?lah terus minho’y gmn?mati jg?dstu’y kan blg nafasku terhenti -_-

    raera’y kaya penyihir cinta!haha 😀
    minho’y jd insyaf ga minum2 deh!

    nice ff author t.ara~
    gppa pke lgu indo,feel’y dpt jg ko hehe

  3. kereeen…..
    Setting.a d Indo,,,, aQ kirain d Korea….
    Tapi tetap kereen kok…
    Apalagi ada lagu2 fav aQ…

    Jdi,,, Raera sama Minho.a mati..???

  4. bagus, … prokprokprok….
    cuman aku masih belom mengerti pas bagian akhirnya,???
    minho meninggal?
    lain kali di sempurnakan ya,…. di bgian ini banyak yg gx mengerti …

    heheheh mianhae klo misalnya aku kurang sopan …
    jgn kecil hati ok,…. ff author udah bgus bgt dan nyentuh hati hehehe …. terus berimajinasi, dan membuat ff ya …

  5. Daebak~~
    minho romantis bnget deh
    tapi raera kena kangker tulang itu tiba2 bnget…
    Terus agak bingung d akhir2 cerita, minho ninggal juga?
    Kurang jelas nih.. Eon t.Ara
    but i like it so much
    give 2 thumbs for author!

  6. Kerennn!!
    Ga kebayang minho nyanyi lagu indo hehee
    Raera ngajarin banyak hal banget
    Tapi aku kurang ngerti terakhirnya
    tapi kerennn

  7. setting di indo toh, aku jg ga nyangka kalo raeranya bkl sakit
    aku ngrasa alurnya kok cepet ya (ato aku yg buru2 baca?) *abaikan*
    it’s nice ching 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s