THE GUITARIST – Part 5 (END)

THE GUITARIST

Author                  :  Dubudays aka Kan Ahra and Nikitaemin aka Shin Minki

Main cast             :  Lee Jinki, Cho Hyunsa (original character)

Other cast           : Cho Jiman (ayah Hyunsa), Sungha Jung (Korean fingerstyle guitarist

Genre                   : romance (??), life, family

Rate                       : PG-13

Type                      : Chaptered (5/5)

Note                      : kami banyak menyebutkan Sungha Jung di fanfict ini. Sungha Jung itu bukan tokoh fiktif yang kami karang sendiri. Itu semua asli kecuali Jinkinya. Jelas dia tidak ada hubungan apapun dalam kehidupan nyata.

Satu lagi, maaf banget buat yang baca ff ini via handphone karena kami cukup banyak memasukkan link youtube disini. Mohon maaaf dan happy reading ❤

Disclaimer           : this fanfiction BELONGS to KAN AHRA and SHIN MINKI, EXCEPT LEE JINKI, HE’S BELONGS TO GOD O:)

AUTHOR’S POV

Matahari mulai menyinari kamar Hyunsa. merasa sedikit silau, akhirnya Hyunsa terbangun dan duduk di tempat tidurnya. Menikmati hangatnya mentari yang menerpa wajahnya. Mencoba mengumpulkan nyawa sambil mengilas balik kejadian semalam. Beruntung sekali Hyunsa tidak flu hari ini.

Hyunsa ingat betul kejadian semalam. Bagaimana dirinya dan Jinki menyelamatkan diri dari guyuran hujan yang sangat deras, bagaimana Jinki memeluknya erat untuk menghangatkan tubuhnya, dan kata-kata manis dari mulut Jinki yang menyatakan cintanya. Hyunsa menyentuh bibirnya pelan. Lembutnya bibir Jinki saat menyentuh bibirnya semalam masih terasa, seolah tidak mau pergi dari pikirannya.

“Jinki,” panggil Hyunsa dari kamarnya. Jinki tidak menyahut. Mungkin masih terlelap dalam mimpinya. Hyunsa berinisiatif untuk membuatkan sarapan untuk dirinya dan Jinki. Hyunsa memutuskan untuk membuat bubur ayam kesukaan Jinki, namjachingunya.

Dengan nampan kecil, Hyunsa membawa kedua bubur ayam yang telah dibuatnya ke lantai atas. Diketuknya pintu kamar Jinki beberapa kali. Akhirnya Jinki menampakkan dirinya di depan Hyunsa.

“selamat pagi, ehm, honey.” Pipi Hyunsa merona saat mengucapkan kata itu untuk pertama kalinya.

“eh? Se.. selamat pagi juga, honey.” Jinki tersenyum mendengar wanita di depannya menyapanya.

“nih, udah aku buatin sarapan. Makan, yuk.”

“kenapa dibawa ke atas?”

“kamu kehujanan semalem. Jaket kamu sebagian besar nutupin kepala aku, bukan kamu. Muka kamu juga pucat. Ayo makan dulu.”

Jinki duduk di kasurnya sementara Hyunsa menarik kursi di kamar Jinki. Hyunsa mengambil mangkuk Jinki dan mulai menyuapinya.

“eh? Aku makan sendiri aja. nanti bubur kamu keburu dingin.” Jinki menutup mulutnya dengan tangan.

“nggak. Aku mau nyuapin kamu. Buka mulutnyaa. Aaaaa.” Dengan ragu, akhirnya Jinki membuka mulutnya. Hyunsa tertawa kecil saat Jinki menelan buburnya.

Setelah menyuapi Jinki, Hyunsa menaruh tangannya di dahi Jinki. “omo! Kamu demam, Jinki. Sebentar, aku ambil obat di bawah.”

Hyunsa berlari menuruni tangga untuk mengambil obat. Tak lama kemudian dia kembali ke kamar Jinki dan menemukan Jinki sedang berbaring di kasurnya.

“Jinki. Ini obatnya. Ayo minum dulu.” Hyunsa menyodorkan obat dan segelas air putih.

“Ne. gomawo.”

“Jinki, jam empat sore nanti appa sampai di Jakarta. Aku mau jemput. Kamu gak usah ikut, ya. Nanti makin pusing.”

“sirheo. Aku mau temenin kamu.”

“Jinkii—“

“aku bisa istirahat di perjalanan. Tenang aja. ayolaaah, yayayaa?”

“hh, terserah deh. Tapi kalau makin sakit aku gak nanggung, ya.” Hyunsa beranjak dari kamar Jinki.

“sip. Eh, kamu mau ke mana? Temenin aku di sini.”

“ih manjaaaa!”

********

“Appaa!” Hyunsa berseru senang saat appanya telah di depan mata.

“Aigoo, Hyunsaaa. Sampai repot-repot jemput appa di bandara. Oh, hai Jinki. Nice jacket. Tapi kayaknya ini lagi panas, deh. Tebel amat jaketnya.” Appa Hyunsa menggoda Jinki yang sedang setengah mati menahan pusing di kepalanya.

“Appa! Jinki lagi demam, tau.”

“oh ya? Yah, kalau gitu maaf, deh. Heheh. Yaudah, yuk ke mobil.” Appa Hyunsa menarik kopernya sambil merangkul putrinya.

“Sonsaengnim, biar saya bawakan tasnya.” Jinki menawarkan diri.

“Jangan. Sudah, biar saya bawa sendiri. Ayo jalan!”

Hyunsa dan appanya berjalan mendahului Jinki. Hyunsa menoleh kearah Jinki yang berjalan pelan dan melipat kedua tangannya di dada.

“maaf,” bisik Hyunsa. Jinki yang melihatnya hanya memberi jempolnya dan tersenyum manis.

********

“bagaimana latihan kalian selama appa pergi? Jangan bilang belum latihan lagi.” Appa Hyunsa duduk santai di sofa sambil menonton tv.Begitu sampai di rumah, Jinki langsung pamit pada appa Hyunsa untuk istirahat.

“tentu sudah, appa. Kami berlatih setiap hari. Oh iya, Jinki juga bantu Hyunsa ngajar, lho. Murid-murid Hyunsa seneng semua diajarin sama Jinki.” Hyunsa meletakkan secangkir teh dan biscuit di meja kecil dekat sofa dan duduk di samping appanya.

“terus udah siap, belum? Appa mau liat dong.”

“lumayaan. Jinki banyak bantu Hyunsa, appa. Appa liatnya nanti, ya kalau Jinki udah sembuh.”

“emang gimana ceritanya dia bisa sakit? Kamu kasih makan apaan dia?”

“kemarin kita kehujanan sehabis pulang dari danau. Hyunsa lupa bawa payung. Terus Jinki kasih jaketnya buat nutupin kepala Hyunsa. Jadilah dia sakit sekarang.”

“cieee, romantis amat, sih. Jangan-jangan kalian pacaran, ya?“

“apa sih, appaaa! Udah, nih minum tehnya.”

“aigoooo, anak appa udah besar sekaraang. Ciee mukanya meraah, hahahah.”

“ssst appa! Nanti Jinki bangun.  Hyunsa mau ke atas dulu, ya.”

“ngapain? Mau ngapel, ya sama Jinki? Iiiii, mencurigakan.”

“appaaaaa!!!”

********

CHO HYUNSA’S POV

“Jinki.” Kuketuk pintu kamar Jinki. Sudah pukul tujuh malam. Jinki harus minum obat lagi.

“sebentar.” Jinki tak lama kemudian membuka pintu dan tersenyum tipis padaku.

BRUUKK

Belum sempat aku membalas senyumannya, tiba-tiba Jinki kehilangan keseimbangan dan jatuh ke arahku.

“Jinkii! Aduuh, ayo ayo ayo kupapah ke tempat tidur. Omo, badanmu panas sekali, Jinki.” Cepat-cepat kuselimuti tubuh Jinki. “Sebentar, ya aku ambil obat dulu.”

Cepat-cepat aku berlari ke dapur untuk mengambil segala yang kuperlukan untuk Jinki. Appa yang sedang membaca buku terheran-heran melihatku kalang-kabut seperti ini.

“ada apa, Hyunsa?” Tanya Appa.

“Jinki, appa. Aduh, Hyunsa naik dulu, ya. Badannya Jinki panas banget.”

Aku segera kembali ke kamar Jinki. Dia menaikkan selimutnya hingga menutupi mulutnya. Tangannya sedikit gemetar. Jinki menggigil.

Segera kuukur suhu tubuhnya. 39 derajat! Pantas saja dia menggigil. Kuambil roti yang tadi kuambil di dapur. Jinki, kan belum makan.

“honey, makan dulu, ya. Abis itu minum obatnya, oke?” kusodorkan potongan roti ke depan mulutnya. Jinki menuruti kata-kataku dan membuka mulutnya. Baru seperempat roti kuberikan padanya, dia sudah menggeleng.

“aku kenyang, Hyuns. Udah, ya.” Jinki mencegat tanganku yang akan memasukkan potongan roti lagi ke mulutnya.

Kuletakkan potongan roti itu di nampan dan mengambil segelas air putih yang sudah lengkap dengan sedotannya. “oke oke. Ini, minum dulu airnya. Abis itu minum obat.”

“Nah, sekarang kukompres, ya. Biar panasmu cepat turun,” lanjutku. Jinki hanya mengangguk pelan.

Kucelupkan handuk kecil yang telah kubawa ke dalam baskom yang telah terisi air dan mulai  mengompres dahinya. Kasihan sekali, Jinki. Matanya terpejam dan wajahnya pucat. Giginya gemeletukkan.

“Hyuns, makasih, ya. Maaf aku ngerepotin kamu lagi,” Jinki membuka percakapan setelah beberapa lama kami terdiam.

“tadi kamu panggil aku apa? Hyuns? Haha, lucu juga. Gapapa, honey. Kumat, deh maaf-maafannya. Justru aku yang harusnya minta maaf. Jaket kamu aku yang ambil alih semuanya. Maaf, ya.”

“kamu juga dari tadi panggil aku honey. boleh dong aku bikin panggilan juga. Iya, dimaafin, Hyuns. Aku gak mau kamu sakit, eh malah aku yang sakit.”

“yaudah, istirahat, ya. Aku temenin kamu sampe tidur.”

Jinki tiba-tiba meraih tanganku. “temenin aku. Malam ini aja. oke?”

“iya iya. Jinki manja, ya ternyata.”

“manja sama pacar sendiri ini, kok.”

Kudekatkan posisi dudukku dengan Jinki agar tangannya yang tetap memegang tanganku erat tidak pegal. Satu jam kemudian, pegangan itu mengendur dan akhirnya terlepas. Jinki sudah terlelap sekarang. Kuperhatikan sekeliling. Kamar Jinki sangat bersih. Tidak seperti kamar laki-laki pada umumnya, berantakan. (yang gak ngerasa kayak gini abaikan ya.)

Aku menatap wajah Jinki sambil mengganti kompresannya. Wajahnya tetap tampan meskipun masih pucat dan lemas. Kasihan sekali dia, mau melindungiku tapi malah dia sendiri yang sakit.

Kuambil handphone ku dari saku. Sebaiknya aku beritahu appa. Nanti dia berpikiran yang macam-macam, lagi -.-

To: Appa

Appa, Hyunsa nemenin Jinki di kamarnya malam ini.

Suhu badannya naik.Jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya.

Kalau gak percaya, liat aja sendiri.

Tak lama kemudian handphone ku bergetar. Appa membalas sms ku.

From: Appa

Iya deh. Percaya aja sama yang lagi kasmaran.

Hehehe. Rawat yang bener, ya. Eh, kamu belum

makan, kan? Makan dulu.”

Kubalas sms appa lagi.

To: Appa

…… Appa -_____- Hyunsa makan rotinya Jinki

ajadeh. Dia gak habis makannya.

“Jinki-ya, cepatlah sembuh. Aku takut melihatmu dalam keadaan lemah seperti ini. Apalagi, tadi kau sampai jatuh di hadapanku. Kembalilah seperti sedia kala. Meskipun kau hanya demam, tapi aku sangat mengkhawatirkanmmu,” bisikku ditelinganya.

Aku tau, Jinki pasti tak akan mendengar. Ini hanya ungkapan hatiku saja. Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Seharian ini aku tidak melihat senyumnya. Kalaupun dia tersenyum, itu pasti dipaksakan. Senyum Jinki adalah dopingku, tanpanya, mungkin aku tidak ada apa-apanya.

Dengkuran halus Jinki mulai terdengar. Suaranya sama sekali tidak menggangguku yang biasanya sangat tidak menyukai bunyi dengkuran. Malahan, suara dengkuran Jinki membuatku mengantuk dan akhirnya tertidur di kursi.

********

1 Februari, 2015

H-1  SHOWCASE FEBRUARI

“Hyunsa, Jinki. Udah siap belum?” Teriak Appa dari lantai bawah. Hari ini kami bertiga akan mengunjungi gedung yang akan dipakai untuk showcase bulan Februari nanti, Erasmus Huis di daerah Kuningan.

Segera kuambil gitar dan tasku. Saat kubuka pintu kamarku, Jinki juga baru membuka pintunya. Dia menoleh padaku.

“Pagi, Hyuns,” sapanya. Wajah Jinki riang sekali. Tiba-tiba dia merentangkan sebelah tangannya. “sini, deh.”

Cuupp

Bibir Jinki mendarat di pipiku. Aaaaaaa, mukaku pasti langsung merah sekarang. Jinki juga cekikikan melihatku. Huuuh, awas, ya! Nanti kubalas kauu, Jinki!

“oioioi, mesra mesraannya ntaran ajadeh. Udah siang ini.” Suara Appa kembali terdengar. Ini lagi! Kenapa appa bisa tau?-..-

“iseng banget, siih. Awas, ya, ntar kubales! ” Kupukul bahu Jinki pelan.

“meroong. Hehehe, balesnya jangan sekarang, ya. Ntar dimarahin calon appa mertua.”

“YAAA! Siapa yang bilang kamu boleh panggil begitu sama saya, Jinki?!”

“rasain, tuh! Ayo, turun!”

********

Seperti biasa, aku selalu takjub melihat gedung kesenian Belanda ini. Gedung yang cukup simple tapi menyimpan kemegahan di dalamnya. Dua minggu yang lalu, kami bertiga pertama kali mengunjungi tempat ini. Mungkin lebih tepatnya aku dan Jinki.


Lagi-lagi appa memberiku kejutan. Kupikir, showcase ini akan diadakan pada pertengahan Februari. Ternyata Appa memajukan tanggalnya jadi persis saat ulang tahunku, 2 Februari. (salah satu author ngeksis. Hayo tebak yang manaaa~)

Aku dan Jinki kembali berlatih, tepat di tengah panggung. Waah, aku takut sekali membayangkan esok hari. Kata Appa, sekitar 300-an orang akan datang besok. Mungkin bagi appa dan Jinki, jumlah itu sangat sedikit. Tapi menurutku yang hanya mentok manggung di café, jumlah itu luar biasa.

Jam sebelas malam. Appa sudah pulang duluan dan menyuruhku untuk mengawasi pekerja yang mendekor panggung.

“Jinki.” Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya sambil menatap panggung yang 90% telah tertata.

“hm?”

“aku senang sekali hari ini. Besok adalah ulang tahunku dan keikutsertaanku di showcase appa untuk  yang pertama kalinya. Bagaimana denganmu?”

“aku juga senang hari ini. Tau kenapa? Karena aku melihatmu tersenyum terus sepanjang hari ini. Kalau Hyuns bahagia, Jinki juga pasti bahagia.”

Jinki menatapku dalam. Tatapan yang selalu kuinginkan dari seorang Lee Jinki. Tatapan akhirnya meluluhkan hatiku dan berani menjawab ‘ya’ dengan yakin saat dia menyatakan cintanya padaku.

“Gomawo, honey. aku juga akan selalu bahagia kalau kamu bahagia. Saranghae.” Kukecup pipi kanan Jinki. “sebentar, ya aku—“

“Hyuns, awaaaas!!!” Jinki berusaha menahan badanku yang limbung. Kakiku tersandung gulungan kabel  dan..

KRRAKK

Jinki gagal menahan tubuhku dan akhirnya aku terjatuh menimpa sesuatu. Gitarku.

“Kyaaaaaa!!! Gitarkuu!”

Segera kubuka case gitarku dan ohhh, kondisi gitarku mengenaskan sekali! Aku jatuh tepat dibagian neck gitar1, sehingga bagian headstock2 patah. Kondisi body nya juga parah. Dari bagian sound hole3 hingga brigde4 retak. Aaaaa, ottokkee? Aku tidak punya cadangan gitar di rumah! Huaa, bagaimana ini? Aku tidak mungkin memaksakan memakai gitar untuk right handed, kan?

“Jinki, ottokke? Aku tidak punya gitar lagi.” Air mataku mulai keluar. Pupus sudah harapanku bisa bermain di showcase appa.

“ ayo ke toko musik sekarang! Ppalli!” Jinki menarik tanganku.

“ini sudah malam. Toko udah tutup semua. Huaaaa, Jinki.”

“ssstt, uljima uljima. Ayo kita pikirin gimana jalan keluarnya sekarang. Jangan nangis dulu, oke?” Jinki memelukku erat.

“huu, ottokke? Showcase mulai jam satu siang. Toko musik biasanya buka jam sepuluh sedangkan kita sudah wajib ada disini dari jam Sembilan, kan? Banyak senior yang datang. Gak mungkin kita datang terlambat.”

Jinki juga terlihat bingung dan panik. “kamu pakai punyaku saja, oke? Aku bawa dua gitar, kan? Yang kubawa dari Seoul dan yang kubeli di Jakarta.”

“babo! Aku ini kidal! Kau lupa, ya?” ups, seharusnya aku tidak boleh berkata kasar pada Jinki. “mianhae, honey. mianhae. Aku panik sekali. Maaf.”

“kwenchana kwenchana. Yaudah, sekarang kita pulang dulu, ya. Istirahat dulu. Besok kita pikirin lagi, oke? Aku janji bakal bantuin kamu.”

Aku menuruti kata-kata Jinki. Saat berdiri dari kursi, aku merasa kakiku sangat sakit. “Honey, kakiku sakit sekali. Mungkin terkilir karena kabel sialan itu.”

“yaudah, kugendong, ya. Kamu tolong bawain gitarku.” Akhirnya Jinki menggendongku di punggungnya. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan besok? Ini showcase pertamaku.

“Mana kunci mobil kamu? Biar aku yang nyetir.” Jinki mengulurkan tangannya padaku.

“igeo. Tapi, memang kamu punya SIM internasional? Kalau dicegat polisi, bagaimana?”

“aku punya. Tenang aja. eh, nanti kupinjam mobilmu sebentar, ya.”

“buat apa? Ini udah malem, lho.”

“buat… ya nanti kamu juga tau.”

********

2 Februari 2015, showcase time

AUTHOR’S POV

“Hyuuuuuunsss, ireonayoooo!”  Jinki mengguncang tubuh Hyunsa. Hyunsa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Akhirnya dia bangun juga dan menyibakkan selimutnya. Tampangnya… mengenaskan sekali. Matanya sembab dan rambutnya sangat berantakan. “aigooooo, apa yang kamu lakukan semalam? Bergulat? Atau tinju? Kenapa itu mata?”

“Yaaa! Jangan bercanda.”

“ banguuuun! Ingat? Hari ini adalah hari yang bersejarah, kan untukmu? Ayo, lekas mandi! Calon appa mertua udah berangkat duluan tadi. Selalu begitu. Berangkat duluan, pulang duluan.”

“heh, gitu-gitu juga itu appaku, tau!” tangan Hyunsa sukses mendarat di kepala Jinki.

“heheheh. Bercanda, honey. ayo banguuun!”

“gak ah. Gimana aku bisa main di showcase? Gitar aja gak punya.”

“makanya bangun dulu.” Hyunsa akhirnya mengalah dan duduk di tempat tidur. “bentar, ya.”

Jinki mengambil sesuatu yang sudah dia sembunyikan di balik pintu Hyunsa.

“tadaaa! Saengil chukhahamnidaa!! Ini dia kejutan untukmuu!” Jinki menyerahkan barang itu. sebuah gitar baru untuk Hyunsa. gitar left handed, tentu saja.

“ini.. ini.. Kok bisa?”

“Ya bisa, laah. Lee Jinki~.”

Hyunsa segera membuka case yang melindungi gitar itu dan memandanginya takjub. “ahah, oh my god! Thanks Honeeey! You’re the best” aku suka bangeeet!”

“sama-sama. Saengil chukhahamnida, honey.” Jinki memeluk Hyunsa erat. Hyunsa juga membalas pelukannya.

********

Showcase dimulai . Jinki dan Hyunsa menjadi penampil terakhir sekaligus menutup acara. Mereka memainkan ketiga lagu duet dengan sangat baik.  Penampilan mereka disambut meriah oleh penonton. Appa Hyunsa juga tidak berhenti memuji permainan mereka. Begitu juga pada senior-senior yang datang dan ikut mengisi acara showcase itu. acara benar-benar selesai sekitar pukul delapan malam. Setelah semua selesai, Jinki dan Hyunsa pamit pulang duluan.

Mereka pergi ke pinggir danau tempat kesukaan mereka berdua. Duduk di bangku yang berada dibawah pohon rindang. Hyunsa duduk di pangkuan Jinki. Melingkarkan sebelah tangannya pada bahu kokoh lelaki itu.

“Hyuns, that was great! Kamu gak grogi, tuh tadi. Hebaaat!” Jinki mengelus puncak kepala Hyunsa.

“itu gara-gara doping dari Jinki. Gomawo, honey.” Hyunsa menyenderkan kepalanya di tangannya yang melingkar di bahu Jinki. “By the way, boleh nanya sesuatu?”

“nanya apa?”

“gimana kamu bisa dapet gitar baru buat aku? Waktu kita pulang aja udah jam setengah duabelas. Emang masih ada toko yang buka?”

“ohh, itu. jadi gini..”

Flashback

LEE JINKI’S POV

Setelah memastikan Hyunsa tertidur, aku segera berbicara pada Cho sonsaengnim mengenai gitar Hyunsa. Sonsaengnim kaget sekali mendengarnya. Beliau juga bilang sulit sekali mencari toko musik yang masih buka selarut ini. Tapi beliau merekomendasikan suatu tempat di Jakarta yang buka hingga larut.

Dengan insting pas-pasan mengenai kota Jakarta, akhirnya aku sampai di toko tersebut. Fiuuh, untung saja tokonya masih buka.

“selamat malam. Bisa dibantu?” sapa si penjaga toko.

“ya. Saya mau cari gitar akustik  buat left handed. Ada?”

“oh, ada. Mari saya antar.”

Setelah cukup lama melihat-lihat, mataku tertuju pada sebuah gitar. Ibanez lagi. Corak di body nya cukup menarik. Warnanya juga bagus, sesuai dengan kesukaan Hyunsa. Abu-abu kehitaman.

(gambar gak sesuai sama cerita, ini buat right handed, bukan left handed hehe :$)

“saya pilih yang itu,” tunjukku. “oh iya, saya juga mau cari hardcase yang pas buat gitar itu.”

“baik. Case gitar ada di dekat kasir. Mari.”

Huaah, akhirnya selesai juga. Aku sengaja memilihkan Hyunsa hardcase karena tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. Semoga Hyunsa senang dengan pilihanku.

Saat keluar dari toko musik tadi, lagi-lagi mataku tertuju pada sesuatu yang menarik. Toko perhiasan.

“selamat malam, bisa dibantu?” sapa penjaga toko.

“malam. Saya mau lihat-lihat sesuatu yang cocok dijadikan hadiah untuk pacar saya.” Aku mulai melihat barang-barang yang dipajang di etalase toko. Hm, ada kalung, gelang— kira-kira Hyunsa suka apa, ya?

“hm, boleh saya lihat yang ini?” kutunjuk sebuah gelang yang cukup sederhana tapi menawan. Setahuku, Hyunsa suka sesuatu yang sederhana, simple, tapi elegan.  Si penjaga toko mengambilkan gelang pilihanku.

“pilihan yang bagus, tuan. Gelang itu dijual secara sepasang dengan model yang sama juga. ”

“Terima kasih. kalau begitu, saya beli yang ini saja.”

Flashback end

AUTHOR’S POV

“gitu, Hyuns.” Tutup Jinki.

“waahh, hebat kamu bisa nyari toko sendirian. Instingnya jago!”

“Hyuns,” panggil Jinki setelah beberapa lama mereka terdiam dalam lamunan masing-masing.

“hm?”

“aku ingin bersamamu selamanya. Di sini.”

“di sini? Di danau maksudnya?”

“bukaaan-.- di sini. Di Indonesia.”

“maksudnya?”

“aku mau jadi Warga Negara Indonesia. Aku mau pindah kewarganegaraan.”

“tapi..? orang tua kamu? Karir kamu di Korea? Sungha? Mau dikemanain itu semua?”

“Aku sudah bicara pada mereka semua. Mereka mengizinkan. Sungha juga begitu. Awalnya aku merelakan Sungha mencari partner lain. Tapi dia bilang ‘gak mau, hyung! Aku mau tetap sama hyung. Aku akan fokus sekolah dulu dan fokus di solo dulu. Kalau hyung sedang main ke Korea, aku akan mengajak hyung duet lagi, oke?’ gitu katanya.”

“apa yang buat kamu ingin tetap di sini?”

“kamu. Tentu saja. Masih ingat kata-kataku dulu? Ya, aku selalu terpaku padamu. Tidak bisa berhenti memikirkanmu. aku telah membangun ikatan yang kuat dengan dirimu di hatiku. aku ingin kau melakukan hal yang sama padaku.” Jinki mengambil sesuatu dari kantung jaketnya dengan tangannya yang bebas memegang Hyunsa. “ini mungkin terdengar aneh dan apa yang kuberikan padamu nanti juga cukup aneh, tapi.. would you marry me, Cho Hyunsa?” Jinki memasangkan gelang yang dibelinya itu di tangan kiri Hyunsa.

“ini lambang pengikat diantara kita. Jalinan gelang ini sangat kuat. Aku harapkan, itu yang akan terjadi pda hubungan kita. Aku tidak ingin berpisah denganmu,” lanjutnya.

“tapi.. ini masih terlalu dini, Jinki. Kita—“

“ya makanya itu. aku mau tetap di sini. Aku mau selalu di samping kamu. Jagain kamu, lindungin kamu. Aku belum butuh jawaban dari pertannyaan itu sekarang., yang aku mau sekarang, kamu restuin aku tinggal di sini. Sama kamu. Sampai kamu siap jawab pertanyaan aku.”

“oh my, kau sungguh membuatku shock hari ini. Perasaanku campur aduk sekarang. Ya, Lee Jinki, kau boleh tinggal di sini, tentu saja. Apa hakku melarangmu? Dan ini,” Hyunsa menyentuh gelang pemberian Jinki, “aku janji, hubungan kita akan seperti jalinan rantai ini, kuat dan tak terpisah. Akan kujawab pertanyaanmu saat waktunya sudah tepat. Kau sudah berjanji padaku untuk selalu di sini bersamaku, maka akupun akan berjanji akan selalu mendampingimu. Thanks, Jinki.”

Dan, langit malam ini yang dihiasi oleh sinar rembulan dan bintang yang bertaburan menjadi saksi bisu janji Hyunsa dan Jinki, dua insan manusia yang diberkahi suatu rasa oleh Tuhan.

Cinta.

het einde. Fin

huaaaaa, jelek banget endingnya *banjir airmata(?)* gagaaal mianhae mianhae mianhae *sujud sujud*

Insipirated by:

–          SHINee- One

–          Super Junior-Marry U

–          SHINee-One for Me

–          Novel The Pilot’s Woman by Dahlian

keterangan:

  1. Neck guitar: kayu panjang yang tempat kita mencet kunci
  2. Headstock: tempat nahan senar dan tempat tunning machine (yg bisa diputer-puter itu, buat nyetem)
  3. Sound hole: bolongan yang ada ditengah body. penghasil nada, berfungsi mengeluarkan suara getaran senar dan sebagai tempat sirkulasi udara didalam bodi gitar hingga daya akustiknya bagus
  4. Bridge: Pengikat/penahan senar ke badan gitar

(http://budisapt.blogspot.com/2008/11/mengenal-bagian-bagian-gitar.html)

Special thanks to:

  1. Faqih, makasih bos ilmu gitarnya! Ibanez emang top! Beliin dong hehe /plak
  2. Vay,  thanks bantuin milih gambar-gambar gitar! Sekaligus jadi kelinci percobaan buat ff ini huekekekek :p
  3. Au, aku pinjem namanya, ya Au! Buat nama mamanya Hyunsa. Thanks juga jadi kelinci percobaan buat ff ini heheh *lempar Minho buat kamu*
  4. Dan, Semua reader, baik yang aktif berkomen ria maupun yang masih tega jadi silent reader huhu. Terima kasih buat yang komen di ff ini biarpun ff nya abalan-,-, itu jadi penyemangat kita buat bikin yg lebih bagus lagi. Thaaankss *lempar kembang*(ps: Vay, pinjem quote nye yee~)

Oh iya, bedanya gitar untuk right handed sama left handed itu, kalo left handed kita mencet kunci di tangan kanan, terus senarnya dibalik dari yg gitar right handed. Coba sekali-kali dipraktekin pake gitar right handed (gitar akustik pada umumnya). Bagian neck ada di sebelah kanan. Senar bass jadinya ada dibawah, kan? Nah, kalau di gitar untuk lefthanded, senar bass tetap ada di atas.

Masih bingung? Mari komen dibawaah uyeee (?)

Kamsahamnida~ *bow*

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

Advertisements

50 thoughts on “THE GUITARIST – Part 5 (END)”

    1. terima kasiiih 😀 makasih sekali udh ngikutin dari part 1, gak kerasa udh end aja sekarang hehe
      sebenernya segala sesuatu yg berhubungan sama gitar itu aku juga ngerti ngedadak loh heheh._.

  1. wah happy ending nih, tp entah kenapa endingnya kurang gimanaa gitu (atau cuma perasaanku aja? *abaikan aja deh hehehe)

    bahasanya enak dibaca, ceritanya juga menarik bgt!

    overall super nice story thor, two thumbs up!

    1. keuraee, aku juga ngerasa gak maksimal endingnya 😦 maaaf yaaaa
      tapi kami berencana untuk buat sequelnya. semoga bisa terwujud yaa hehe

      jinjjaa? jeongmal kamsahamnidaaa 😀 terima kasih sekali ya atas masukan dan juga segala komennya ^^

  2. me 1st kah?

    OMAIGOD OMAIGOD OMAIGOD!!
    it so amazing fiction >O<
    jinki dsni dbkin romantis!hyunsa jg huahahaha~
    ksian jg tu jinki'y sempet demam tp untung cpt sembuh!
    trus gigih jg nyariin gitar bwt hyunsa,aigoo!so sweet!
    ya ampun mpe dilamar gt!

    daebak deh pko'y!
    ni ff bkin aq mesem2^^
    nice~

    1. owaa, jeongmal kamsahamnidaaaaa 😀
      iya, kasian jinki sakit lama lama, nanti gak konsen lagi showcasenya hehe ._.
      sekali lagi makasih yaa udh ngikutin dr part1 sampe sekarang ^^

  3. Akhirnya lanjutannya keluar jg. Huaaaa ceritanya keren, tp aku ga ngerti2 soal gitarnya itu ckck. Keren, akhrnya onewnya jd warga indonesia, coba beneran /plak hahaha

    1. haha, iya ya, coba beneran jinki jadi orang indonesia, pasti udh aku uber uber tiap hari kkk
      waauw, jeongmal kamsahamnidaaaaa 😀

  4. keren, ceritanya seru, dan istilah2 gitarnya lengkap, jdi emng gx abal2 untuk memperkuat suatu tokoh … ahahahha keren bgt !!! aku suka gelannya , … huaaa jdi ngidam gelang !! author tanggung jawab !! beliin gelannya ,..!!! *plakkk!!* ahahahhaha

    lengkap bgt, gambar gitarnya ada, gambar tempat showcasenya pun ada,…. !!! wahhh gx kerasa udh end ajah … 😦 mudah2an gx kangen…

    1. aigooooo terima kasih sekali Ella 😀 ngefly loh ff ini dibilang gak abal abal hihi
      gelang? aku juga mauuuuuuuuu hehehe
      untuk tempat showcase nya sebenernya aku pengen banget ke erasmus huis, tapi belom kesampean._. dr gambarnya sih keren, makanya pengen kesana hehe

      waah, kalo kangen ff ini baca lagi yaaaaa hehehe. sekali lagi terima kasiiiiih 😀

  5. waaaaaaaa akhirnya end jugaaaaaa ^^
    sekali lagi makasih ya semua yang udh dukung ff ini 🙂 thanks faqih, au, vay, dan semua reader yg udah baca dan berbaik hati tinggalin komen di ff inii. jeongmal gomabseumnidaaaaaa 😀

    oh iyaa, beberapa hari yg lalu kami kepikiran untuk buat sequelnya the guitarist. ada yang setujuuuu?? karena aku pribadi kurang puas dengan endingnya hehehe ._.
    kl ada yang mau dibikin sequelnya bilang yaaaa. tapi kita bikinnya tunggu selesai UN dan dapet SMA dulu ya heheh >.<

    satu lagii, mohon doanya ya semua untuk kelancaran dan kesuksesan segala ujian yang akan kami hadapi. tentu kami juga akan doakan kalian semua, jadi saling mendoakan yaaa…

    terima kasiiiih 😀

  6. melting melting melting! aih jinki, kamu jd pacar aku aja! *kicked*
    bahasanya enak, ceritanya manis bgt XD *emang makanan?*
    endingnya kurang greget, but it’s ok, i like the whole story :d
    keep fighting for both authors, n share more please XD

    1. ssst tidak boleeh. jinki itu pacarkuu /PLAK
      naah, iya bener banget! aku juga sebenernya kurang maksimal nih untukendingnya 😦 maaf yaaaa
      hihi, keep fighting juga yaaa dan sekali lagi terima kasih atas saran dan komennyaaa 😀

  7. aku komen lagi neeh, boleh yak?

    aku dukung bgt dibuat sekuelnyaa, soalnya kayaknya bakalan rame tuh author!

    semoga UN-nya lancar yaaa

    dan yg bikin aku kaget, apakah sang author masih kelas 9 smp menuju sma?
    gak nyangka weh, soalnya gaya bicara di ff ini kayak yg udah kuliah authornya hahaha
    *banyak omong.

    1. Boleh ko comment lagi hehehe
      mungkin sequelnya bakal dibuat abis to
      Kita emang masih kelas 9 hehe
      Ff ini sebenernya dubudays yang nulis
      Kalo aku bagian ide
      Sekali lagi makasih dukungan comment dan sudah membaca 😀

  8. gak kerasa udah end…
    Cerita.a daebak…
    Good job thoor…..:P

    Jinki.a romantis bgt…..
    Jdi iri sama Hyunsa….
    Coba aja Jinki benern jdi WNI….

    1. Makasihhh 😀
      Aku juga sejujurnya sangat iri sama hyunsa
      Tapi kalo aku selingkuh sama jinki
      Kasian taemin hehe
      Mudah mudahan beneran jadi WNI aminnn hehe
      Terima kasih sekali lagi

  9. Aaaaa itu gelangnya minhoooo!!!
    Cie udah endinggg, iya samasama ya dayu niki!
    Itu kucik dah yang manggil ‘honey’ wkwk
    Silahkan saja dipake namanya, saya bangga kekekekekekek :p
    Jadi ngebayangin jinki tidur pas di hello baby kucikkkkkk:3:3:3
    Sweet bgt sih senyum jinkk jadi doping hyunsa, jadi doping hyunsa apa doping lu day? Heeee
    2 februari ultah nya author yang mana ya……
    Yang jinki’s dong ya(?)
    Kenapa ya kalo jinki ngmg “sst uljima uljima” itu kayaknya sweeeet banget kekeke piss day!

    1. Hehe makasih aul
      Iya itu gelangnya minho
      Pengen deh tapi gatau beli dimana
      Hehehe betul betul !!!!
      Aul gatau lagi nih mau bilang apa
      Maap ya commentnya pendek
      Hehehehhe

  10. aku ga mau d sebut jd silent-reader, jd ku comment yaa
    Yoo!! Bagus ya ff’a. Aku hargai lhoo~, meskipun bwt cemburu jg sih ~! *gubraakk*
    Onew (lee jinki) kan idolaku.. Huhuhuuu~ #nangisampebanjir

    1. Hehe makasih udah mau comment
      Jinki emang sweet
      Sebenernya aku juga pengen jadi hyunsa
      Tapi jinki biasnya author 1
      Takut dicekek hehehe
      Jangan nangiss *ngasih tissue

    1. Makasih sudah membaca dan mengcomment
      Berhubung rencananya ff ini akan di buat sequel
      Tunggu, baca dan comment yaa *promosi

  11. saya dukung kalo mau dibuat sequelnya 🙂
    semoga UN nya lancar, dan lulus dengan nilai yang memuaskan 🙂
    amin…

    1. Makasih atas dukungannya
      Makasih juga atas doanya
      Rencananya aku sama dubudays mau bikin abis to selesai
      Baca dan comment ya 😀

  12. hwaaaaaa……………..
    so sweeeeett………..
    akhirnya mereka bareng juga…..
    hmmm… kalo aja Onew oppa bener2 jadi WNI… -____-
    ff’nya daebak !!!!!

    1. Hehhe
      Iya nih
      Jinki sam hyunsa memang tak terpisahkan
      Mari berdoa
      Mudah mudahan onew jadi wni beneran
      Beserta para dongsaengnya yang ganteng keren, baik, rajin menabug dll
      Aminn
      Makasih commentnyaa 😀

  13. Anyeong readers berhubung aku lagi try out pkn
    Dan bahannya sangat banyak
    Dan sulit untuk dihafal *curcol
    Jadi baru bisa balesin comment
    Dan yang kemaren di wakili sama dubudays
    Tapi karena besok hari sabtu
    Jadi aku bisa buka internet
    Makasih semuanya yang sudah mendukung
    Dan memberikan saran ^^;;;

  14. Kya…..Aku mau punya Appa yang kayak Appanya Hyunsa!
    Aku ngefans sama Appanya Hyunsa! *reader aneh bin gila*
    Udah fin ya? Bikin sequel dong! Special edition atau apalah gitu….
    Wuahhh… happy ending, happy everafter.

  15. Akhirnya baru sempat baca sampe ending. Mau dibuat sequel. Bagus dong. Ahahaa. Jinki romantis bgt yak disini. Nice ff chingu.

  16. huaaa bagus banget beneran deeeh~!!
    iriiii sama jinki sama hyunsa juga T^T jinki enak banget jadi partnernya sungha jung
    aku ngefans bgt sama sungha jung hwehehe ^^
    dan gara gara sungha jung juga aku jadi les gitar haha 😀
    ff lainnya ditunggu yaaa~
    bahasamu ringan, dan bagus bangetlah pokoknya 😉 terus berkarya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s