BLOODY 19th – PART 2

BLOODY 19th

PART 2

Author : Lynda a.k.a Lynmvpshyni, Lida a.k.a SHyning SoHee, Ia-chan a.k.a Eunbling-bling

Cast:  Choi Sulli (Sulli f(x)), Choi Minho (Minho SHINee), Lee Taemin (Taemin SHINee), Lee Jinki (Onew SHINee), Kang Jiyoung (Jiyoung KARA)

Genre: Thriller, Horror, Romance, Alternate Universe

Length: Chaptered

Rating: PG 16 – NC 17

Little Inspired: Drag Me to Hell, Haunted School

PS: Anggep umur Sulli Taemin Jiyoung itu 19, Minho 20, Onew 21 O.K.. kekekekeke~

Ratingnya kami pake NC, sebenarnya tidak ada unsur apa-apa yang berbau ‘itu’ cuman isi FF ini kebanyakan pembunuhan dan akkhh.. pokoknya gitulah… Yang niat baca.. baca aja… yang enggak ya enggak usah, kami enggak maksa kok 😀

****************************************************************

Sulli terpojok saat tubuhnya menyentuh dinding dibelakangnya. Sosok bertudung hitam itupun kini berdiri tepat didepannya. Sosok itu kemudian berjongkok. Ia memegang dagu Sulli. Hingga Sulli memandang langsung mata sendu sosok didepannya. Mata itu tidak asing baginya. Ia seperti pernah melihat mata itu disuatu tempat entah dimana.

Keringat dingin mulai bercucuran deras membasahi piyama yang melekat pada tubuh Sulli. Ia memandang takut sosok bertudung hitam dihadapannya.

Sosok itu menempelkan sabitnya keleher mulus Sulli. Glek! Sulli tampak menelan ludahnya saat sosok itu mulai menekan sabitnya. Sosok itu terlihat menyeringai dan sedetik kemudian ia dengan cepat menggerakkan sabitnya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Sulli terbangun dari mimpi buruknya, yang semakin lama tampak semakin nyata baginya.

Sulli mendekap mulutnya, napasnya tersengal-senggal. Keringat dingin membanjiri piyama tidurnya. Matanya sembab, air mata meluncur dengan deras membasahi pipi-pipinya yang mulus. Sulli teringat sesuatu, disibakannya lengan kanan piyama tidurnya.

“Kenapa benda ini semakin bertambah saja..” Umpatnya, begitu melihat tanda berbentuk bulan sabit disebelah angka satu yang sebelumnya muncul secara tiba-tiba dilengan kanannya itu.

Sulli teringat mimpi buruknya itu, diraihnya ponsel biru yang ia letakan disamping jam bekernya, lalu segera menekan speed dial 1

“Eomma??” Pekik Sulli, begitu tersambung dengan orang yang ditelponnya itu.

“Ada apa Honey?”

“Eomma, apa Eomma dan Appa baik-baik saja?? Maksudku kalian tidak kenapa-kenapa kan??”

“Tenanglah, Honey. Eomma baik-baik saja, erm kalau Appa dia agak sedikit lelah karena dari tadi terus mengemudi mobil”

Sulli menarik napas lega

“Sulli?”

“Ne.. Ne Eomma..”

“Jaga baik-baik dirimu selama kami pergi, Arraso”

“Ne, Eomma. Kalian juga.. Sampaikan salamku buat Halmoni”

“Ya sudah, lanjutkan tidurmu lagi.. Ayo sana.. Have a nice dream, Honey

“Ne, Eomma.. Ne..”

Piip

************************************************************

“Sulli, kau kenapa??” Taemin mengibas-ibaskan tangannya dimuka Sulli, tapi Sulli tetap tidak bereaksi.

“Sulli-ya!!” Pekik Jiyoung yang tiba-tiba muncul dari belakang Sulli, berusaha mengagetkan gadis itu, tapi tetap saja tidak berhasil. Jiyoung duduk dengan lunglai disamping Sulli sambil memanyunkan bibirnya.

“Engg.. Taeminnie.. Aku kesana sebentar ya.. Ada yang harus kuurus.. O.K.. Kau tetap disini jaga Sulli..”

“Ne..Ne”

Jiyoung berdiri dan berlari kecil kearah koridor kampus. Tinggal Taemin dan Sulli yang duduk disana. Taemin menghela napas sebentar, lalu menyedot soft drinknya

“Taemin..”

Akhirnya Sulli membuka suaranya, Taemin segera menoleh dan menatap Sulli lekat.

“Ne..”

“Taemin, apa kau pernah bermimpi buruk..”

“Eh? Mimpi buruk? Apa ya? Sepertinya pernah, seperti diterkam laba-laba atau digigit serangga raksasa. Ya seperti itulah, memang kenapa Sul?”

Sulli menarik napasnya kemudian berpaling menatap Taemin dan berbicara lagi

“Akhir-akhir ini, aku sering bermimpi buruk Taemin. Dan mimpi itu terasa begitu nyata. Pembunuhan-pembunuhan itu, sosok bertudung hitam.. Aku takut Taemin, aku takut.. Tolong aku” Isak Sulli

“Tenanglah Sulli, semuanya akan baik-baik saja” Ucap Taemin sembari memegang pundak Sulli berusaha menenangkan gadis itu.

“Tapi Taemin, aku—-“

“Sssttt, tenanglah. Aku punya sesuatu untukmu”

Sulli menatap Taemin heran, Taemin tersenyum lalu menyuruh Sulli mengangkat telapak tangan kanannya.

“Lihat telapak tangan itu, kemudian pusatkan pikiranmu disana..”

“Bayangkan buah yang kau suka, kau suka apa Sulli??”

“Enngg, jeruk”

“Bagus, bayangkan jeruk…”

“Apa kau sudah berhasil membayangkannya??” Sulli menganguk

Tiba-tiba Taemin mendorong telapak tangan Sulli hingga membentur wajahnya dengan keras. Sulli mengaduh kesakitan, sementara Taemin tertawa terbahak-bahak.

“Ahahahahahahahahahahahahahahahaha, Kalau saja kau bisa lihat ekspresimu tadi. Kau pasti akan tertawa terbahak-bahak Sulli.. Ahahahahahahaha”

“YA!! DASAR TAEMIN!! Kau menipuku!!”

Tangan Sulli bergerak memukul-mukul bahu Taemin, mereka berdua tampak senang, meskipun Taemin tetap mengaduh akibat pukulan Sulli.

“Ya!! Apa yang terjadi?? Apa aku melewatkan sesuatu??” Tanya Jiyoung yang baru datang sambil menatap Taemin dan Sulli bergantian dengan ekspresi heran. Taemin dan Sulli saling bertatapan kemudian serentak tertawa bersama-sama, membuat Jiyoung semakin heran saja.

“Sulli, apa aku boleh menginap dirumahmu? Tadi Eomma mu menelponku, katanya kau sendirian dirumah, Jadi bagaimana??” Ucap Jiyoung

“Eh? Boleh, aku senang kau mau menginap Jiyoungie..” Sulli tersenyum lebar kearah Jiyoung

“Kalau begitu ayo, tapi kerumahku sebentar untuk ngambil bajuku dulu ya..” Sahut Jiyoung

“Oke..” Sulli berdiri dan berjalan kesamping Jiyoung

“Taeminnie mau ikut??” Tawar Jiyoung

“Tidak Ah.. Memangnya aku yeoja apa, seperti pesta piyama saja”

“Ya sudah kalau begitu, dadah Taeminnie..”

“Taemin, gomawo leluconmu tadi” Kali ini giliran Sulli yang angkat bicara

“Ne.. Ne.. Sudah sana pergi…” Usir Taemin

——————————————————————————————–

“Tunggu sebentar disini ya Sul”

“Ne..”

Jiyoung segera menaiki undakan tangga meninggalkan Sulli yang masih duduk disofa besar berwarna plum itu. Sulli menopang dagunya dengan tangan karena bosan menunggu Jiyoung, tiba-tiba ada seorang namja keluar dari sebuah kamar dan duduk menghampiri Sulli.

“Eh? Teman Jiyoung??” Tanyanya

“Ne, kau??”

“Aku Sepupunya, Jinki imnida” Ucap namja itu sembari tersenyum memamerkan gigi kelincinya

“Sulli imnida” Sahut Sulli

Hening sejenak, mereka berdua sama-sama terdiam.

“Eh.. Sulli-ssi??”

“Ne”

“Bukan maksudku lancang, tapi sebaiknya kau harus jaga jarak dengan orang disekitarmu”

“Hah? Kenapa?”

“Aku rasa auramu berwarna pekat Sulli, kau harus hati-hati. Akan ada sesuatu yang berbahaya akan menimpamu”

“YA!! Sulli ayo kita berangkat” Jiyoung muncul sambil menggeret koper besar disebelahnya

“Ne..”

“Mau kemana??” Tanya Jinki heran melihat Jiyoung mengarak koper besar disampingnya

“Aku mau menginap Oppa, ditempat Sulli ehehehe”

“Oh.. yasudah..hati-hati ya Jiyoung.. Jaga dirimu baik-baik”

“Ne, Oppa.. kami berangkat dulu.. Annyeong!!”

********************************************************

Gadis berambut perak, tengah berlari di sebuah jalan yang gelap. Ia menghindari seseorang yang tengah mengejarnya. Bertudung hitam, membawa sabit, dan haus akan darah. Ia melihat sebuah rumah tua diseberang Alenea Street, ia berniat untuk bersembunyi di dalamnya. Mungkin persembunyian yang ia dapat, bisa dikatakan aman, disebelah lemari yang cukup tinggi dan menghubungkan keruang tengah. Kini ia dapat mendengar deru nafasnya sendiri. Detak jantungnya yang tidak beraturan, aliran darahnya mengalir deras dalam tubuhnya, yang tak dapat menahannya untuk mengeluarkan sebercak air dari matanya.

Tap.. tap…

Terdengar seseorang sedang berjalan di pelataran, matanya melirik waspada diantara perabot tua yang berlapis kain putih. Tak sengaja, ia melihat sebuah tombak besi terbengkalai di dekat meja bundar yang tepat berada di ruang tengah. Ia berjalan merunduk dan berhati-hati untuk mengambil tombak besi, well… untuk berjaga-jaga apabila orang-yang-haus-darah itu akan membunuhnya.

Ckriet…

Gadis itu tanpa sengaja menginjak sebuah beling  vas bunga, ia mendekap mulutnya untuk tidak reflek berteriak. Perlahan ia masih berjalan merunduk, ia tetap menjaga matanya untuk mengawasi sesosok misterius bertudung hitam itu. Perlahan ia mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil tombak besi yang kini berusaha ia dapatkan.

Jrasss…

Darah segar mencuar, tangan kanannya ditebas oleh sosok bertudung hitam itu. Reflek tangan kirinya mengambil tombak besi itu, ia mengibas-ngibaskan tombak besi tersebut kearah sosok bertudung hitam, dengan tenaganya yang tersisa.

“Ehehehehe…You wanna Kill me, baby?”

“Yeah, I must kill You.

Tombak besi yang kini berada ditangan kirinya langsung ia lontarkan kearah tangan kanan orang itu.

JLEBB…

Bravo! Tombak itu menembus pergelangan tangannya. Darah mengalir dengan riangnya. Orang itu mencabut tombak itu dengan perlahan, terdengar sebuah rintihan dari mulutnya.

“You almost hurt me, you know!!”

Sosok bertudung hitam itu mendekat kearahnya, ia memainkan sabitnya kesebuah dinding setiap ia mendekati gadis itu. Gadis itu agak menjaga jarak, ia mulai agak lemah karena kehabisan darah, tangan kanannya tak henti-hentinya mengeluarkan cairan pekat yang begitu menggiurkan.

“Ouw! This is annoying me!!”

Gadis itu bisa melihat sosok bertudung hitam itu sedang menjilati lukanya, yang diakibatkan oleh lontaran tombaknya tadi.

“Hey… I Know You!”

“Is that really?”

“Yeah!! But I’m not certain that you the-people-who-I-Know!” Gagap gadis itu.

“You will know soon me, IN THE HELL!!”  Teriaknya.

JLEEEB!!!

Sabit itu berhasil ia lontarkan kearah mata gadis itu. Gadis itu roboh, tak berdaya. Selaput bening yang kini menjaga kornea matanya pecah akibat tertembus oleh sabit yang tiga kali lipat tajamnya pisau daging. Orang bertudung itu mencabut dengan paksa sabitnya, sehingga urat-urat mata gadis itu tidak bisa menahannya dan berhasil terlepas dari tempatnya. Darah mencuar dari matanya yang kini terlepas.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Sulli terlonjak dari tempat tidurnya, ia berteriak histeris.

“Sul… Sulli.. Sulli… Kenapa?? Tenang.. Ssst.. Tenanglah Sulli-ya” Jiyoung berusaha menenangkan temannya itu dengan memeluk tubuh gadis itu.

Sulli menangis dipelukan Jiyoung, kali ini dia benar-benar ketakutan, mimpi-mimpi itu selalu mengganggu tidurnya.

“Jiyoung, tolong aku.. hiks”

“Kau kenapa Sulli??” Jiyoung melepaskan pelukannya kemudian menatap lekat Sulli.

“hiks.. Pembunuh itu.. Pembunuh bertudung hitam.. hiks.. aku takut Jiyoung, aku takut..”

“Tenanglah, itu cuma mimpi…”

“Tidak Jiyoung, kau tidak mengerti. Orang itu mencoba menerorku.. Aku yakin sebentar lagi dia akan membunuhku..”

“Kau harus menenangkan pikiranmu..”

Sulli membuka kancing piyamanya dan menyibakkan lengan kanan piyamanya itu.

“Kau lihat Jiyoung, tattoo ini, tiba-tiba saja muncul setiap aku habis bermimpi mengerikan itu,dan sekarang bertambah, garis melengkung ini sebelumnya tidak ada, tapi sekarang kau lihat..”

Jiyoung mendekap mulutnya sendiri dengan tangannya, memandang kearah lengan kanan Sulli yang menorehkan angka 1 dan angka 9 yang berwarna tidak sehitam angka 1 disampingnya.

“Tolong aku Jiyoung.. Tolong aku”

*******************************************************

“Aku antar kau ketempat Minho?? Bagaimana??” Tawar Jiyoung saat Sulli sudah masuk kedalam mobil Mazda-nya dan duduk sempurna disampingnya

“Tap—“

“Sudah, kau lebih aman bersamanya Sulli. Aku pasti akan membantumu. Aku akan meminta bantuan Jinki Oppa”

“Jinki??” Tanya Sulli heran

“Ne, mungkin dia bisa membantumu menyelesaikan masalahmu itu, bagaimana?” Tawar Jiyoung, ia tersenyum kearah Sulli. Sulli mengangguk

“Baiklah, sekarang kita ketempat Minho dulu untuk mengantarmu..” Jiyoung menarik porsnelling(??) mobilnya, dan melesat kejalanan.

——————————————————————————————–

“Jiyoung, gomawo sudah mengantar Sulli kemari” Ucap Minho

“Ne.. Ne.. jaga dia baik-baik ya Seonbae” Jiyoung pamit dan segera berjalan keluar dari apartement Minho. Minho menutup pintu apartementnya dan berjalan menghampiri Sulli yang duduk disofa, Ia mendekati gadis itu dan duduk disampingnya.

“Mau coklat hangat??” Tawar Minho, Sulli mengangguk. Beberapa saat kemudian Minho kembali dari dapurnya sembari membawa dua gelas coklat hangat, dan menyodorkan salah satunya kearah Sulli. Sulli menerimanya dan segera menghirupnya.

“Seonbae.. aku takut..” Ucap Sulli kemudian, ia mengigit bibir bawahnya sendiri.

“Tenanglah Sulli, ada aku, aku akan selalu menjagamu” Minho memeluk erat tubuh Sulli, membelai rambutnya berusaha menenangkannya.

“Seonbae….”

“Ssst.. Jangan panggil aku seonbae Sulli, panggil aku Oppa..”

“erm.. Seon.. Op..Oppa.. aku.. aku takut.. dia mengincarku.. tolong aku!!” Sulli menangis dan mendekap erat tubuh Minho, tubuhnya gemetaran. Beberapa menit kemudian, tubuhnya terlihat tenang. Minho melonggarkan pelukannya, dilihatnya Sulli sudah tertidur.

“Tidurlah Sulli, tidurlah yang nyenyak..” Minho tersenyum sembari mengusap kepala Sulli.

——————————————————————————-

Drrtt… Drrrtt…

Ponsel Jiyoung bergetar, Jiyoung meraih ponselnya, menarik flip ponselnya dan membaca pesan yang terpampang dilayar ponselnya. Satu alisnya terangkat, ia segera berbelok arah dan melaju kearah kampusnya. Sesampainya disana, ia langsung memarkirkan Mazda-nya ditempat biasanya dia parkir, dan segera berjalan menusuri koridor kampus.

“Apasih maunya Asdos itu?? Malam malam gini manggil” Gerutu Jiyoung, ia masuk keruangan tapi tidak ada siapapun disana.

“Eh? Aneh.. mana dia??”

Dengan kesal Jiyoung merogoh ponselnya yang dia masukan kedalam Satchel Grey-nya. Ditariknya flip ponselnya, lalu dengan kesal memencet beberapa tombol

“Yeoboseyo??”

“Yeoboseyo.. Seonbae.. Seonbae dimana?? Aku sudah ada dikampus”

“Hah?? Untuk apa kau kekampus malam-malam begini Jiyoung..”

“Mwo? Seonbae itu pikun atau pura pura pikun. Bukannya tadi seonbae yang menyuruhku kesini..”

“Tidak ada, aku tidak ada menyuruhmu”

“Oh, kalau begitu aku yang salah.. gomawo Seonbae”

Pip

Jiyoung menghela napasnya, “Siapa sih yang iseng ngerjain orang, kurang kerjaan banget deh” Umpatnya, Jiyoung kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.

Jiyoung menyusuri koridor kampus yang sepi dan gelap, bulu kuduknya berdiri. Ia percepat langkahnya.

“Jiyoung”

Panggil sebuah suara, Jiyoung menoleh kearah sumber suara itu, dilihatnya secara samar-samar orang bertudung hitam, membawa sabit ditangan kanannya. Jiyoung terbelalak, tangannya refleks menutup mulutnya.. Jiyoung segera berlari menghindari sosok itu, tapi sosok itu terus mengejar Jiyoung dibelakang.

Angkelboot sialan, aku tidak akan pernah mau memakaimu lagi” Maki Jiyoung lalu melepaskan Angkelboot itu dari kakinya dan membuangnya asal, kemudian segera berlari lagi.

Jiyoung melihat sebuah ruangan yang belum tertutup pintunya, dengan cepat dia masuk ketempat itu dan mengunci pintunya dari dalam. Pintu itu berusaha didobrak dengan kasar dari luar, Jiyoung berusaha menahan pintu itu sekuat tenaga. Pintu itu berhenti didobrak dari luar, Jiyoung menarik napas lega, tubuhnya merosot dan bersandar dibalik daun pintu itu, dia memeluk kakinya, tubuhnya gemetaran, air mata mengucur deras membasahi pipinya.

KRAAAAAKKKKKKK

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Jiyoung berteriak saat daun pintu itu ditembus oleh sabit dari luar, Jiyoung segera berdiri dan berlari, menyembunyikan dirinya dibalik meja-meja. Jiyoung masih mendengar pintu itu dihancurkan oleh sabit dari luar, tinggalah serpihan-serpihan kayu. Jiyoung melihat sepasang kaki dengan boots hitam berjalan mendekat kearahnya, sambil menyeret sabit disampingnya. Jiyoung bergidik ngeri membayangkan nasibnya sesudahnya, Jiyoung nampak berpikir kemudian ia ingat kalau ia menyimpan pisaulipat didalam pencilcasenya. Sosok itu semakin mendekat kearah Jiyoung, ia mengangkat dan mengayunkan sabitnya kearah Jiyoung, untunglah Jiyoung sempat menghindar, dan kini Jiyoung berdiri disamping lemari besi sambil memegang pisau lipat ditangannya. Jiyoung menatap tajam sosok itu, sosok bertudung hitam itu kemudian terkekeh

“Mau coba membunuhku huh??”

Ia mengayunkan lagi sabitnya kearah Jiyoung, Jiyoung merunduk dan sabit itu sukses menghantam lemari besi itu sampai penyok. Melihat ada kesempatan Jiyoung menusukan pisaunya kearah sosok hitam bertudung itu, sialnya hanya menggores tangan kirinya. Dengan sisa kekuatannya yang ada, Jiyoung menendang tubuh sosok itu, lalu segera berlari keluar dari tempat itu.

Jiyoung berlari kearah mobilnya, dia berusaha membuka pintu mobilnya, tapi sial dia meninggalkan kunci mobilnya didalam Satchel Grey-nya. Kakinya yang tidak terbungkus sepatu menendang ban mobilnya.

“Mencari ini…”

Ucap seseorang, Jiyoung berbalik dan mendapati sosok bertudung hitam lengkap dengan sabit ditangan kanannya berdiri beberapa meter darinya. Tangan kirinya memainkan kunci mobil Jiyoung.

Jiyoung berlari lagi tapi sayang kakinya tersandung dan jatuh, dengan cepat tubuhnya berhasil ditangkap oleh sosok bertudung hitam itu. Jiyoung menatap nanar kearah sosok itu, meminta belas kasihan darinya, tapi apa yang didapatnya sosok itu malah tersenyum mengerikan. Angin tiba-tiba berhembus kencang dan menyingkap tudung sosok itu. Jiyoung membelalakan matanya dan menggeleng kuat sambil mendekap mulutnya sendiri saat melihat sosok asli orang bertudung hitam itu.

“Kau.. T..Tidak mungkin!! Kenapa??”

“Huh.. Kau sudah tahu, Kau tidak akan kubiarkan hidup Jiyoung.. Maaf atas segalanya..” Ucapnya sinis sembari melayangkan sabit yang berada digenggamannya kearah Jiyoung.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Sabit itu memenggal kepala Jiyoung, darah mengalir deras, membasahi orang itu. Kepala Jiyoung menggelinding, diambil dan diangkatnya oleh orang itu. Orang itu kemudian mengeluarkan pisau lipat yang dipakai Jiyoung tadi untuk melukai tangannya. Ditusuk-tusukannya pisau itu kekepala Jiyoung, cairan encer berwarna putih kekuning-kuningan merembes dari bekas tusukan itu. Kemudian dia mengarahkan pisau itu kewajah Jiyoung. Sedikit-demi sedikit dikulitinya kulit wajah Jiyoung dengan pisau itu. Sampai habis seluruh kulit dimuka Jiyoung. Mata pisau yang tajam itu dia arahkan kemata Jiyoung, menyongkel paksa kedua matanya dari tempatnya, urat dan otot-otot mata Jiyoung berserakan. Orang itu mengorek sampai tidak tersisa kedua isi mata Jiyoung, sampai hanya tulang matanya yang tersisa. (author 1: sumpah gue mual dan udah pengen muntah waktu nulis ini.. gyaaa.. tobat dah gue.. kagak bakat jadi pyshcopat -.-‘) Kemudian dia melemparkan kepala Jiyoung kedekat timbunan sampah.. Terkekeh pelan lalu melenggang pergi, sosoknya hilang dikegelapan malam.

****************************************************

“JIYOOUUUUNGGGGGGGGG!!!!!!!” Teriak Sulli kencang, dia terbangun dari tidurnya. Wajahnya benar-benar pucat, badannya gemetar hebat.

KREEIIT

Minho membuka pintu apartemennya dan masuk sambil menenteng sebuah plastik putih. Melihat Sulli yang terbangun dari tidurnya dengan kondisi yang -berantakan- ia segera mendekati tubuh gadis itu dan mendekapnya erat..

“Oppa.. Jiyoung.. Jiyoung.. tadi aku bermimpi Oppa… dia.. dia.. dibunuh… aku… aku takut Oppa… hikss” Isak Sulli

“Tenanglah Sulli, tenangkan dirimu.. Aku yakin Jiyoung baik-baik saja” Minho mengelus puncak kepala gadis itu, menenangkannya.. membiarkan t-shirt birunya basah oleh airmata Sulli. Beberapa saat kemudian, tangisan Sulli mereda..

“Kau lapar?? Mau makan??” Tawar Minho, Sulli mengangguk. Minho menyodorkan makanan kearah Sulli.

“Eh? Tanganmu kenapa Oppa?? Kenapa diperban??” Tanya Sulli melihat tangan kiri Minho diperban

“Oh ini, tadi ada orang mabuk, dia mau memalakku dan berusaha melukaiku tanganku dengan pisau yang dia bawa.. Sudahlah, tidak usah dipikirkan.. Ayo makan makananmu, Sulli” Ucap Minho

*************************************************

“Nanti setelah pulang kuliah telepon aku saja!” Teriak Minho di dalam red-ferrarinya.

“Ne! Gomawo Oppa!” Ucap Sulli sambil tersenyum dan melambaikan tangannya sembari melihat kekasihnya pergi.

“Huh… bodohnya aku hari sedingin ini kenapa aku memakai mini skirt ini? Ya sudahlah…!!

Sulli berlenggang menuju kelasnya. Beberapa menit lagi dosen Kim akan memulai pelajaran. Ia memutar kepalanya kearah parkiran mahasiswa, tak terlihat sebuah mobil Mazda. Mungkin Jiyoung agak terlambat kali ini. Sulli mencoba merogoh ponselnya di kantong Hoodienya. Sebelum ia menekan tombol ponselnya, lagi-lagi Taemin mengagetkannya.

“Omo~ Kau!!! Ih… terus saja mengagetkanku!”

“Ehehehe~ Mian!! Hei! Mana Jiyoung?? Aku tidak ada melihatnya, di kelas maupun di kantin.”

“Aku kira ia bersama mu! Kan, dia sering dekat denganmu akhir-akhir ini!”

“Babo!!” Ucap Taemin sembari memukul kepala Sulli dengan perlahan.

“Hei!! Ada apa dengan tanganmu? Kau habis berkelahi ya? Wah rupanya kau jagoan sekarang, yah?” Cela Sulli.

“Oh~ ini!! Hanya luka ringan saja. Kemarin aku tidak sengaja bergulat dengan peliharaanku, dia melukaiku, cakarannya sangat dalam sehingga merobek dagingku.”

“Iyuh… apa kau bercanda? Ini bukan luka ringan, babo! Aku baru tahu kau punya peliharaan, apakah itu benar?” Sulli menatap mata Taemin dengan dalam hanya untuk mengetahui apa dia menyembunyikan sesuatu.

“Tentu saja benar. Berhenti menatapku seperti itu. Lebih baik, kita kekelas. Sebentar lagi dosen Kim akan datang. Ayo…!”

“Ne… ne!!!

******************************

Ketika jam pelajaran sudah tiba, dosen Kim memasuki kelasnya. Semua mahasiswa disini tidak ada yang berubah, mereka sama. Tentu saja, memangnya mereka itu siluman? Yang berubah hanyalah seseorang yang duduk tak jauh disamping Sulli, yaitu Jiyoung, sudah dua hari ini ia tidak masuk. Tidak mengabarkan kabarnya, dan tidak menelpon. Sulli memutar kepalanya kearah sebuah kursi kosong, ia memandangi kursi itu, sahabatnya yang sudah 2 tahun mau berteman dengannya. Kenapa seperti ini? Sulli mengingat bagaimana Jiyoung tersenyum, tertawa, marah, dan menangis sewaktu di toilet itu. Sulli mendekap matanya, kini ia dapat merasakan aliran air membasahi pipinya yang putih. Sulli dapat merasakan ada seseorang menyodorkan sapu tangan kearahnya.

“Aku yakin, kau sangat membutuhkan  ini!” Ucap Taemin menyodorkan sapu tangan biru bergaris horizontal.

“Ah! Pelajaran dosen Kim sudah selesai ternyata, aku tidak menyadarinya, ahahaha…” Ucap Sulli mencoba tertawa.

“Hei! Kau tidak usah mencoba menyembunyikannya dariku! Kalau kau ingin menangis. Menangislah disini.” Ucapnya sambil menepuk pundaknya.

Taemin mengambil kursi dengan perlahan, ia menarik kursi itu disebelah Sulli dan ia mendudukan pantatnya di kursi itu.

“Kau tidak usah repot-repot!”

“Kalau belum waktunya, ya… aku akan pergi! Sampai nanti!”

Taemin beranjak dari kursi itu, berjalan meninggalkan Sulli yang sendirian di tempat duduknya.

“TAEMIN… hiks.. BERHENTI KAU! KEMBALI!” Ucap Sulli sambil terisak.

Taemin tersenyum puas, membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah Sulli. Ia kembali duduk ditempat duduk disebelah Sulli.

“Aku tahu kau tidak akan tahan menopang ini, Sulli!! Silahkan menangislah di pundakku, aku tidak  berkeberatan, kapan saja!”

Perlahan kepala Sulli bersandar kepundak Taemin, ia terisak.

“Apa kau tahu Taemin?”

“Ne? Ada apa memangnya?” Taemin balik bertanya.

“Jiyoung itu sangat berharga untukku!!”

“Jinja? Rupanya kalian sangat bersahabat!!”

“A…ku…!! Hiks… Aku kemarin malam, memimpikannya. Ia… ia telah dibunuh oleh sesosok pembunuh bertudung hitam yang selalu saja kuimpikan. AKU TAKUT KALAU MIMPI INI BENAR-BENAR TERJADI!! Hiks…”

“Ini tidak mungkin, Jiyoungie pasti masih hidup. Kau jangan percaya terhadap mimpi itu. Well… ini sudah lumayan sore. Apa kau mau kuantar pulang?”

“Ah! Tidak usah, lagipula aku dijemput oleh Minho Seonbae!”

“O.k! Sampai jumpa besok! Oh, ya bersihkan dulu air matamu, lihat matamu terlihat sembab, sungguh jelek. Ahahaha…”

“Huh! Kau ini!! Sampai jumpa!”

Sulli memutar kepalanya kearah kursi kosong, ia mencoba menahan air matanya untuk tidak keluar.

“Jiyoung ku harap kau baik-baik saja!” Batinnya.

Sulli beranjak dari tempat duduknya, berjalan kearah toilet untuk membersihkan wajahnya terlebih dahulu.

“Ah! Lihat wajahmu! Ahahaha… seperti dikeroyok orang saja. Hari ini aku naik bus saja pulangnya. Aku tidak PD dengan wajah seperti ini apabila Minho Oppa melihatku. Hmmph…!!”

Sulli meninggalkan toilet tersebut, dan berlenggang keluar kampus yang sudah sangat gelap dan sepi. Ia berjalan menuju pertigaan jalan untuk menunggu bus, disampingnya ada seorang halmony yang begitu tua dengan jaket musim dinginnya yang begitu panjang, berwarna hitam pekat. Di tangan kirinya memegang sebuah korek api, dan ditangan kanannya, ia memegang sebuah kalung hitam bermanik-manik, dan tepat ditengahnya sebuah salib yang berwarna senada dengan manik-manik tersebut. Mungkin itu sebuah Rosario. Ia melilitkan Rosario itu dengan kencang di tangannya. Sempat terbesit olehnya mungkin halmony ini seorang gadis korek api yang muncul  dari buku dongeng anak-anak, tapi tidak mungkin, ia seorang halmony, dan siapa juga yang akan percaya dengan dongeng anak-anak?

“Hai nak!” Sapa Halmony itu.

“Ne! Halmony sendirian disini?”

“Tentu saja! Setiap musim dingin aku selalu sendirian menunggu seseorang. Mungkin bisa dibilang selama-lamanya aku akan kesepian.”

“Ehehe~ tidak mungkin, pasti anda bergurau. Di dunia ini walaupun anda kehilangan seseorang anda masih mempunyai seseorang yang akan menghibur anda sehingga tidak kesepian lagi.”

Halmony itu tersenyum lebar, ia menyeringai kearah Sulli sehingga membuat Sulli bergidik ngeri.

TBC

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Out of My Mind

Out of My Mind

Author             : I-el

Main Cast        : member SHINee and the girls

Length             : Drabble

Genre              : (all) Romance, Life

Rating             : General, PG-13

Summary         : Kami melakukan sesuatu diluar nalar kami.

*          I-el       *          I-el       *

Title           : Out of My Mind

Main Cast : Lee Jinki, Kim Hara Continue reading Out of My Mind

Mr. Ice – Part 1

Title : Mr. Ice part (1.2)

Author: Alifah Diantebes Aindra a.k.a Song Ha neul

Main Cast: Choi Minho dan Song Ha neul

Support Cast : Key, choi se hwa, lee seosangnim, lee jinki

Length : twoshoot

Genre : romance

Rating: biar admin aja yang nentuin

Sebelumnya… Mianhae!!! Ini FF pertamaku.. haah!! Aku tak tau harus berekspresi bagaimana.. yang jelas jeongmal mianhae.. kalau ff ini jeleks.. tapi aku ahrap.. bagi pembaca.. please kasih komentar ya.. kritik dan saran kalian membuatku menjadi lebih baek.. Gomawo!!

Ha Neul POV

Di sini lah aku sekarang, berada di laboraturium Fisika. Lee seosangnim mengajakku kesini untuk ikut bimbingan fisika demi persiapan olympiade Fisika 1 bulan lagi. Walau aku memang pintar dalam Fisika, tapi jujur saja aku malas mengikuti lomba-lomba seperti ini, terkadang itu semua membuat beban bagiku.

“Annyeong.. apa semuanya sudah berkumpul disini?” Tanya lee seosangnim memulai bimbingan.

“hmm.. kurasa kurang satu orang, kalau nggak salah dia kelas dari kelas 1-4.” Sahut seorang namja yang sudah kutahu bernama Kim Jonghyun, kakak senior kelas 2 yang biasa di panggil Jonghyun.

“ooh.. gamsahamnida Jonghyun, baiklah.. kita sebaiknya mulai saja. Karena nampaknya sore ini akan turun hujan. Ha neul, karena kau masih kelas 1. Tak apakah jika aku mengajar materi kelas 2? Karena materi yang di ujikan banyak dari 2. Tanya lee seongsangnim membuyarkan lamunanku.

“Ne pak.. gwaencana, aku sudah sedikit belajar materi kelas 2.” Jawabku

Tok..tok.. “Mianhae, saya terlambat” kata seorang  namja yang menerobos masuk lab. Ini tergesa-gesa.

“ne.. kau ikut dalam bimbingan ini?” Tanya lee seosangnim.

“Ne.. saya Choi Minho dari kelas 1-4.” Jawab namja itu tersengal-sengal seperti habis lari beberapa kilometer.

“ooh.. ya sudah silahkan duduk”

Jadi dia namja yang di bicarakan oppa Jonghyun tadi toh. Kelas 1-4?? Pantas saja aku tak pernah melihatnya, akukan kelas 1-2 yang ruang kelasnya terpisah jauh dengan kelas 1-4. Wajahnya tampan, putih dan tinggi. Tanpa sadar mataku mengikuti sosoknya hingga ia duduk tepat di belakangku.

Bimbingan Fisika sudah berlalu 1 Jam lalu, tapi aku masih tetap berada di sekolah gara-gara hujan beserta petir yang menyambar-nyambar liar ini menghambatku untuk pulang. Kulirik jam putih di tanganku, Jam 5 sore. Kurapatkan jaket yang menyelubungi tubuhku. Dingin sekali sih!! Batinku. Kurasakan ada seperti cairan yang mengalir dari hidungku.

“Apa ingus ya??” kiraku, ku seka cairan itu..

“OMO!! Darah!! Pasti ini gara-gara aku kedinginan!!” teriakku melihat jari tanganku merah, aku memang sungguh tak kuat cuaca dingin. Apabila cuaca sudah terlalu dingin bagi tubuhku, Hidungku langsung mengeluarkan darah. Ku cari tisu atau sapu tangan di kantong jaketku, tapi Nol.. tak ada apapun disana.

“Pakai ini!!” kata seseorang. Kuraih sapu tangan itu tanpa melihat seseorang yang memberiku tadi, ku usapkan pada hidungku.

“Gam.. ah.. Minho. Gomawo” ucapku setengah kaget melihat Minho berdiri mengenakan jaket biru dengan corak putih.

“kau belum pulang?? Kukira semuanya sudah pulang” tanyaku padanya

“aku pulang dulu” jawabnya singkat berlalu dari tempatku. Akupun hanya bisa melihat punggungnya yang terlihat sangat gagah. Deg!! Kurasakan jantungku mulai berdetak sangat cepat. Ada apa sih ini?? Batinku bertanya-tanya.

__________________________

“aku Jatuh cinta!! Aku bertemu dengannya kemarin di perpustakaan dan hari ini!! Aku bertemu dengannya di perpustakaan lagi!! Haaah.. ini rasanya sudah di takdirkan deh..” cerocos Key, teman baikku dan sekaligus tetangga samping rumah saat istirahat sekolah.

“geulaeseo??” Tanya ku malas

“Jadi…?? Apakah tak ada respon yang lebih bagus??” key cemberut dengan memajukan bibirnya beberapa cm ke depan.

“huuuftft.. memang siapa namanya?? Dia kelas berapa?”

“tak tahu” jawab key memelas seperti ada awan hitam di atas kepalanya.

“AAAiiish.. masak kau tak tau?? Memang ciri-cirinya seperti apa sampai kau suka dengannya??” tanyaku tak sabar.

“ha..!!! rambutnya panjang lurus, tak seperti kau yang berambut pendek. kulitnya putih dan dia biasa mengenakan bando berwarna biru, tak seperti kau yang suka rambutmu di kuncir kuda, kau tau siapa dia?” key bersemangat.

“oooh.. dia choi se hwa, dulu dia satu kamar denganku saat ada olimpyade Fisika” jawabku yang tak asing dengan cirri-ciri tersebut. Memang kuakui se hwa sangat cantik dan suka memakai bando berwarna biru, katanya.. warna biru sangatlah unik.

“Sungguh?? Kau bisa kenalkan aku padanya?? Jebal!!!” rengak key merapatkan kedua telapak tangannya ke arahku.

“Ne.. besok aku kenalkan kau padanya, tapi aku tak janji!! Oh ya key, aku mau Tanya, kenapa jantungku kemarin berdebar-debar kencang ya.. Tapi.. hanya pada saat tertentu” tanyaku teringat kejadian mimisan dan minho dating menolong kemarin.

“haaa?? Kau sedang jatuh cinta ya?? “ kata key menaikkan alis kirinya lebih tinggi daripada alis kanannya

“masak?? Kau ini ada-ada saja!!” akupun tertawa garing.

“memang kapan debaran itu terjadi??” selidik key

“saat.. aku bertemu minho.”

“yup.. sudah kupastikan kau menyukai si minho itu!!”

Masak aku jatuh cinta?? Apa ini akan jadi cinta pertamaku?? Batinku.

__________________________

“Se hwa.. kenalkan, ini kim kibum teman yang dulu pernah ku ceritakan padamu” jelasku pada se hwa saat aku, key dan se hwa bertemu di kantin sekolah.

“Kim kibum imnida, kau bisa memanggilku key saja. “ kata key cengengesan mengulurkan tangan kanannya kea rah se hwa.

“ Choi Se hwa Imnida, panggil saja se hwa. Jadi ini temanmu yang baru berhenti ngompol saat kelas 6 sd?? Tanya se hwa??

“haa..??” key dan aku bersamaan kaget. Karena aku sungguh tak merasa memberi tahu hal itu pada se hwa.

“aku hanya bercanda!! Nggak usah serius gitu dong!!” se hwa tersenyum bangga karena dapat mengerjaiku dan key.

“ah kau ini, mengagetkan saja!!” key tertawa

“haaahahaha.. ia nih.. key kan baru berhenti ngompol kelas 4 sd!! Hahaha!!” tawaku pecah. Aku memang yeoja yang tak segan-segan menahan tawa.

“kelas 4 sd??” Tanya se hwa

“uuups.. mianhae key, aku blak-blakan” saat itu pun key melihatku dengan mata tajamnya yang seolah berbicara. ‘Kubunuh kau!!’. Inilah kebiasaan burukku.. selalu saja blak-blakan.

“kau tinggal dimana Se hwa?? “Tanya key yang berusaha mengalihkan topic.

“di perumahan Gongsang.. aku tinggal bersama shamcon dan Shungmoku karena ayah dan ibuku pindah ke Jepang.”

“ooo.. kapan-kapan kita boleh mampir kesana??” tanyaku

“Jelas saja boleh!!” jawab se hwa riang.

Ku biarkan key dan se hwa mengobrol tapi kadang-kadang aku menyahut pula dengan perbincangan mereka. Mereka Nampak akrab sekali. Key memang orang yang mudah akrab. Ku pandangi sekitarku, banyak siswa-siswa yang berdesakan membeli sesuatu dikantin. Aku langsung tercekat saat melihat seorang siswa dengan headset ditelinganya, ia memakai topi warna hitam yang hamper menutupi seluruh wajahnya. Walau begitu aku tau siapa dia, dia Choi Minho. Deg.. sebentar saja aku melihatnya jantungku langsung berdebar-debar, tanganku sungguh gemetar tak karuan. Aku teringat sapu tangan biru bercorak garis hitam milik minho.

“Sebentarya.. aku mau membeli sesuatu” kataku kepada key dan se hwa, tak peduli apa jawaban mereka karena aku bermaksud mengejar minho yang berjalan menjauh dari kantin untuk mengembalikan sapu tangannya.

“Yaa… Minho!!” panggilku saat berada tidak jauh dibelakangnya. Diapun berhenti tanpa melihat padaku. kuhampiri dia.

“ini.. aku kembalikan sapu tanganmu.. maaf merepotkan, dan gomawo buat itu.” Kataku padanya

“Ne” jawabnya singkat kemudian melanjutkan jalannya.

Dingin sekali tanggapannya, seperti es, tapi.. walau begitu.. Aku tetap suka!!!! Jeritku dalam hati. Tunggu-tunggu!! Apa?? Suka?? Memang aku suka ya..?? batinku heran.

__________________________

Hari ini hujan lagi, tepat setelah bimbingan fisika selesai. Terpaksa aku menungu hujan reda di depan sekolah. Sekarang sudah jam 5 lewat. Aku berharap aku tak kemalaman pulang hari ini, karena akhir-akhir ini di sekitar rumahku sering terjadi pencopetan.

“Meeeooow..meeow..” aku terkaget dari lamunanku, ku cari sumber suara kucing tersebut dan ternyata ada 2 kucing lucu sekali, 1 berwarna hitam pekat dan yang 1 berwarna coklat tepat di samping tempat dudukku. Kedua keucing itu mengelus-ngeluskan kepalanya ke kakiku.

“kau lapar ya..!! tunggu sebentar, ku rasa bekalku tadi masih tersisa.” Kubuka tasku dan kuambil kotak dnasi yang isinya tinggal setengah.

“Ini.. makan saja..” kataku kepada kucing itu. Ku elus-elus kepala kucing itu “ibumu mana??”tanyaku polos.

“meow..”

“hmm.. kalau ibumu pergi. Berarti kau sama sepertiku, ibuku sudah pergi jauh.. tapi aku bahagia.. karena ia sudah berada di surga.. pasti disana ibukupun bahagia.”

“ho.. sudah habis?? Kalian masih lapar ya..?? sayang aku tak punya makanan lagi..”.

“biarkan mereka memakan sisa bekalku” kata minho mengagetkanku menyodorkan kotak nasinya kepadaku. Kuterima kotak itu dan kuletakkan didekat kucing.

“kau belum pulang lagi?? Apa yang kau kerjakan sih??”tanyaku padanya. Ku tunggu ia menjawab tapi ia tak kunjung menjawab.

“eh.. kalau kau buru-buru.. tinggalkan saja kotak nasimu, besok akan ku berikan padamu kok.. yagsog!!” kataku meyakinkan dengan membentuk huruf V di tangan kananku.

“tak usah.”

“jadi kau mau menunggunya??” tanyaku

“Ne”.

“singkat, padat dan jelas” aku tersenyum ke arahnya. Mata kamipun bertemu. Deg.. tuh kan berdebar lagi!! tapi matanya sungguh indah Batinku.

“ngapain cengengesan??” tanyanya.

“ha..?? aku cengengesan ya.. OMO!!!! Akhirnya kau bertanya!!!” sorakku riang yang menyadari ini kali pertamanya ia bertanya. Kulirik minho. Ekspresinya tetap datar. Tak bisakah dia menunjukkan ekspresi lainnya??

“OMO!!! Jam 6!! Aduuh.. aku bisa dimarahin appa nih.. Minho, aku pulang duluan ya.. annyeong!!” kataku tergesa-gesa meninggalkan minho walau sebenarnya kau enggan meninggalkannya.

Aku sudah tiba di gang yang menuju rumahku, aku sedikit takut kalau malam-malam berjalan disini, karena banyak sekali pencopet. Semoga tak ada copet!! Do’aku. Baru saja berdo’a, tiba-tiba 2 orang dewasa berjalan ke arahku. Aku panic tak karuan. Badanku bergetar.

“Ya.. apa yang kau lakukan di sini?” Tanya namja yang memakai kalung corak rantai.

“aku..aku.. hanya lewat, rumahku terletak setelah gang ini” jelasku tak kuasa menahan ketakutan.

“hmm.. kau yeoja yang cantik, kau mau ikut bersamaku?” Tanya namja satunya yang memakai topi.

“haha.. gomawo,!! Kau sudah memujiku..” jawabku yang tanpa sadar di sertai tawa yang dipaksakan olehku.

“Kaja..!! ikut bersamaku..” namja berkalung corak rantai meraih tanganku.

“Ani.. aku harus pulang” pintaku

“sudahlah.. ikut saja bersamaku!!” suara namja bertopi itu sukses membuatku makin ketakutan.

Aku mencoba memberontak untuk kabur, tapi gagal karena keduanya sangatlah kuat. Mereka mendorongku ke dinding gang, akupun jatuh terduduk. Kulihat namja bertopi itu berusaha meraih bajuku, tapi aku cepat-cepat melindunginya dengan kedua tangan yang membentuk huruf X.

SReeek.. suara bajuku sobek tepat di bagian lengan kananku.. aku tak kuasa menahannya aku menangis minta tolong, ku pejamkan mataku karena aku terlalu takut. Apa yang ku takutkan akan terjadi?? Batinku.

“BUUUk..BuuUUUk..BUUUk.. “ suara pekul-pukulan terdengar kencang. Aku ingin melihatnya, tapi aku telalu takut untuk membuka mataku.

Ha neul POV END

Minho POV

Aku bermaksud mengembalikan kotak makanan yang tertinngal saat ia tergesa-gesa pulang, jadi kuikuti saja ia. Entah kenapa aku selalu saja tak sanggup menatap wajahnya lama-lama. Baru saja aku memanggilnya, tapi aku melihatnya di dekati oleh 2 namja. Ku biarkan ha neul, barangkali mereka kenalannya. Tapi aku kaget saat mereka mulai mendorong ha neul, di sertai tangisan yang di keluarkan ha neul, aku berlari ke arahnya. Ku pukuli kedua orang itu, untuk saja aku pernah ikut beladiri. Kedua laki-laki itu langsung kabur setelah lama kupukuli.

Kuhampiri Ha neul yang masih duduk dan memegang tubuhnya erat.

“gwaencanayo??” kataku untuk memastikan keadaannya baik-baik. Tapi ia tak kunjung merileks. Mungkin ia masih takut. Batinku. “tak apa ha neul.. mereka sudah pergi.”

“Mii… Minho??” katanya menatap lekat diriku. Ssekarang aku bisa melihat jelas wajahnya, wajah yang di hiasi dengan air-air yang keluar dari matanya.

“Gwaencanayo??” tanyaku lagi, akupun mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

“kau terlihat pucat.” Kataku jujur. Wajahnya sungguh terlihat pucat. Tiba-tiba ia memelukku erat, sangat erat.

“a..aku takut,” katanya dengan di iringi tangisan yang semakin menjadi di pundakku.

“sudah lah..” kataku berusaha menenangkannya, ku elus-elus rambut pendeknya yang sedikit berantakan. Kurasakan tangannya mulai mengendurkan pelukannya. Mungkin ia sudah tenang batinku. Tapi salah ia pingsan!!

“Ha neul??” kataku kaget. Ku gendong ia menuju ujung gang, untung saja ada orang lewat disana, aku bertanya rumah Song ha neul, dan ia menunjukkannya.

Sesampainya disana, aku bertemu dengan appanya, ku jelaskan semua yang terjadi pada ha neul, dan appa ha neulpun percaya.

Minho POV END

_______________________

Ha Neul POV

“Key.. antarkan aku ke kelas 1-4!! Aku harus berterima kasih ke minho.” Kataku setelah jam istirahat mulai.

“Mwo?? Kau saja lah yang kesana… aku ingin ke kantin, siapa tau bertemu dengan se hwa!! Annyeong!!” kata Key yang kemudian berlari dengan sekuat tenaga menjauhiku. Dasar key!! Batinku

Akupun terpaksa berjalan sendirian menuju kelas 1-4. Sudah sampai aku disana, baru saja mau membuka pintu kelas 1-4 tapi pintu itu sudah di buka oleh namja yang berlawanan arah denganku.

“Yaa!! Kau mengagetkanku, nugusaeyo? Mau cari siapa?” Tanya namja itu.

“hm… Song Ha neul imnida. Choi minho ada??”

“MINHO!!! Ada yang mencarimu” teriaknya. “lee jinki imnida..” dia tersenyum.

“ ada apa?” kata minho yang sudah berada tepat di bibir pintu.

“bisa bicara sebentar??” tanyaku kemudian melirik jinki dan kembali menatap minho.

“kau mau berdiri disini terus dengan senyummu itu? Atau aku harus mengikuti yeoja ini?”Tanya minho pada jinki, yang diikuti kecemberutan jinki, kemudian jinki pun pergi mengalah.

“kau keliatan akrab dengannya.”kataku masih berada di depan pintu.

“tak usah basa-basi” katany pedas

“huuuftft.. Choi Minho..!! Gomawo, tapi.. bagaimana kau bias membawaku pulang ke rumah” akupun membungkuk padanya.

“ne.. cheonmaneyo. Sekarang aku bisa pergikan?”

“haa??” tanyaku heran. Masak begitu saja?? Aku kan penasaran!! Batinku. “Ne” jawabku pasrah.

_______________________

“OOOoo!!! Jadi kau di selamatkan oleh Minho!!! Waaah..waaah.. benih-benih cinta makin tumbuh nih..” sorak-sorai key di kantin setelah ku ceritakan apa yang terjadi tadi malam.

“hhuuuussst.. bias tidak sih.. kau pelankan suaramu!! Aku tak mau ada yang dengar bahwa aku suka minho!!” kataku dengan menjewer kuping key, keypun menurut dan memasang wajah anehnya.

“kau suka sama siapa??” Tanya se hwa yang baru saja dating dari membeli minuman mengagetkan ku dan key.

“Oooh.. ini.. he neul lagi suka sama Mi. hmPP” belum sempat key menyelesaikan kan kalimatnya ia mulutnya sudah kudekap sekuat tenaga.

“Diam kau!!” bisikku menyunggingkan senyuman iblis dari wajahku ke arah key.

“Mi.. ??? mi siapa?” Tanya se hwa penasaran

“Mi.. Mr. Ice!!” jawabku ngasal. Mengingat sikap dingin minho yang selalu ia nampakkan.

“Mr.ice..?? sungguh itu namanya??”

“hhmm.. ani, aku malu mengatakannya padamu.. bisakah kita anggap saja ia Mr.ice??” pintaku

“Ne,..  Aratseo, kau jadi ke rumahku nanti sore?? katanya kau mau pinjam komik-komikku.”

“ah.. Ne, aku akan kesana sekitar jam 3 sorean. Bisakan??” Tanya ku

“terserah kau saja, kapanpun aku bisa” se hwa tersenyum

“Aaaah.. tapi aku tak bisa datang karena aku harus menjemur pakaian di rumah!!” kata key tiba-tiba yang keliatan sangat kecewa.

“Yaaa!! Memang siapa yang mengajakmu!! Dasar Key Umma!!” aku memukul kepala key dengan sendok yang ku pegang. Se hwa pun terkekeh melihat tingkah kami berdua.

_______________________

Ku amati tanda pengenal rumah-rumah di perumahan Gongsang ini. Perumahan ini termasuk perumahan elit, karena lihat saja rumahnya.. Buju buneng.. besar dan bagus banget. Akhirnya kau tiba juga. Kata se hwa rumah yang ia tempati bernomor 94, besar amat!!. Yups.. jelas ini!! Batinku. Ke pencet bel rumahnya. Baru sebentar aku menunggu pintu ini tapi se hwa sudah membukakan pintunya.

“Annyeong..” sapaku.

“Annyeong.. ayo masuk Ha neul.” Se hwa tersenyum dan melebarkan pintu untuk mempersilahkan aku masuk.

“sepi sekali.. dimana semuanya??” tanyaku yang melihat tak ada seorangpun disini kecuali aku dan se hwa.

“Oooh.. shamcon dan shungmoku lagi pergi. Lalu Sachonku lagi tidur dikamarnya.” Jelas se hwa. Akupun hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

“ha neul.. aku buatkan minuman dulu ya.. kau ke kamarku saja.. dari sini kau belok ke kiri nanti ada tangga kau naik saja, dari situ kau langsung belok kanan. Nanti ada balkon terbuka kau langsung belok kekiri, kamar paling ujung itu kamarku. Ara??” katanya.

“ne, ara…” jawabku mengerti, walau sebenarnya sedikit bingung, ini rumah apa kantor ya..

Akupun berjalan perlahan sesuai arah yang se hwa kata kan, tapi setelah aku sampai di kamar paling unjung, tapi ada dua pintu disini, dan tak ada tanda pengenal. Jadi kuputuskan  untuk membuka pintu di sebelah kananku. Ku dapati kamar yang bernuansa biru tua di padukan langit. Pasti ini kamar se hwa!! Dia kan suka biru!! Batinku.

Ku letakkan tas kecilku di meja kecil di samping lemari buku yang terletak tepat di samping tempat tidur yang tersirat semburan cahaya matahari. Ku lihat-lihat koleksi bukunya.

“Tak ada komik??” kataku heran melihat tak ada satupun komik di lemari buku ini. Kemudian kurasakan ada yang bergerak dari tempat tidur itu. Ku lihat kasur tertutupi selimut yang menggunduk seperti ada orang disana. Orang itu mulai bergerak membuka selimut yang menutupi sekujur tubuhnya.

“YAAAA!!! Mengapa kau disini ???” teriaknya, akupun kaget hingga jatuh terduduk di samping tempat tidur itu.

“Mi..Minho??” kataku dengan tampang bloonku. Dia pun berdiri di tempat tidur, badannya tampak bidang tanpa pakaian yang menutupinya, iapun hendak berjalan ke arahku, tapi sebelum ia menuntaskan langkah pertamanya, kakinya terbelit selimut.

“BrrUUUkk.. Praaang… Kedubraaaak… kerumPyAAAng.. kelontang-kelontang.. priIIng… Te.. sate (?)”, akupun reflex menutup mataku.

Rasanya ada yang menimpai badanku!! Daaan… rasanya ada yang menempel di pipiku..batinku. ku buka mata perlahan, dan benar saja, tubuh minho berada tepat di atasku dan bibirnya.. menempel di pipiku, tepatnya pertengahan antara pipi dan bibir. Minhopun langsung menyadari apa yang terjadi dan melihat ke arahku.

“AAAAaaaarghh…!!!!!!” teriakku sekuat tenaga. ku dorong tubuh minho menjauh dari tubuhku.

“Kembalikan ciuman pertamaku!!!!” tuntutku. “Braak..” suara pintu terbuka. Aku dan minho bersamaan melihat kearah pintu.

“Ha neul?? Sedang apa disini..??” Tanya se hwa dengan 2 gelas minuman ditangannya dan 2 toples yang nampaknya berisi camilan.

“aku fikir ini kamarmu.”

“ooh.. aku lupa.. kamarku di sebelah kiri, kalau kanan itu kamarnya minho.. Yaa..!! minho kenapa kau bengong!! Cepat pakai bajumu. Yuk Ha neul.” Ajak se hwa. Akupun mengikutinya masih dengan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Se hwa.. minho itu sachonmu?? Kenapa kau tak bilang??” kataku membaca komik di kamar se hwa yang bernuansa biru juga.. tapi warnanya biru kehijauan.

“ne, ya.. ha neul.. kau tak pernah Tanya sih.. jadi aku diam saja.” Se hwa terkekeh. Memang sejak kejadianku dan minho, se hwa cengengesan terus tanpa sebab.

“pantas saja nama depanmu Choi.”

“Naaah.. itu kau tau!!” jawab se hwa enteng masih menatap komik yang ia baca.

“Se hwa… umma meyuruhmu makan malam.” Suara minho terdengar dari balik pintu.

“Ne” teriak se hwa. Aku pun baru sadar kalau sore telah berganti siang hari.

“OMO!!! Sekarang sudah malam?? Waduh.. aku musti cepat pulang nih, kalau tidak pasti akan ada preman yang berkeliaran!!”

“Ah.. ha neul, pulangnya nanti saja.. yuk makan dulu”kata se hwa menarik tanganku.

Makanan yang dihidangkan memang sangat mewah dan enak, perutku sampai kenyang sekali.

“ahjussi, ahjumaa.. aku pamit pulang dulu. Gamsahamnida” kataku seusai makan malam berlangsung.

“Kau pulang dengan siapa ha neul??” Tanya ummanya minho.

“hhmm.. sendiri.. tapi aku bisa jaga diri kok, hehe..” kataku kaku.

“Ani, biar minho saja yang mengantarmu pulang, bahaya kalau pulang sendirian, bisa-bisa kau seperti yeoja yang di tolong minho kemarin lagi, hampir di perkosa di gang.. untung saja minho bisa menolongnya.. walau habis itu.. badan minho memar-memar sedikit..”  jelas appa minho.

“hm.. tidak usah ahjussi.. aku bisa sendiri kok.!!” Jadi badan minho memar-memar gara-gara aku??

“nggak usah nge bantah deh.. !!” kata se hwa senyum-senyum gaje.

“sudah lah.. biar aku yang mengantarmu pulang. Kaja..”  kata minho yang kemudian berlalu menuju pintu keluar.

“baiklah.. sekali lagi gamsahamnida, annyeong..” aku tergesa-gesa mengikuti minho. Ku lihat minho sudah berada di atas motornya. Ku naiki motor itu, tapi aku tak berani memegang pinggangnya, tidak setelah kejadian sore tadi.

“pegangan yang erat!” baru saja minho mengatakannya motor ini sudah melesat cepat. Aku terlalu takut hingga memegang pinggang minho erat dan menutup mataku.

“kau mau memegang pinggangku sampai pagi??” Tanya minho. Kubuka mataku dan tersadar bahwa aku sudah sampai di depan rumah. Aku turun dari motornya perlahan karena lututku masih gemetar karena kecepatan minho tadi dan udara yang berhasil menerobos masuk tubuhku yang tak terlindungi jaket.

“go..go…go ma w.woo..” kataku mengigil kedinginan. Pasti sebentar lagi aku mimisan batinku.. tapi tiba-tiba minho turun dari motornya dan memelukku erat sekali. Hangat.. suhu hangat dari tubuh minho mengalir ke dalam tubuhku.. Mr.Ice memiliki tubuh se hangat ini?? Batinku.

Deg.. jantungku berdegup kencang, sangat kencang daripada sebelumnya, hingga aku takut minho dapat mendengarnya. Apa aku sungguh mencintainya..?? atau lebih tepatnya semakin mencintainya??

Gimana?? Jelas nggak?? Aduuh.. gomawo ya.. buat yang baca.. aku tunggu komentar, kritik dan saran kalian semua.. gomawo udah baca..

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF