BLOODY 19th – PART 2

BLOODY 19th

PART 2

Author : Lynda a.k.a Lynmvpshyni, Lida a.k.a SHyning SoHee, Ia-chan a.k.a Eunbling-bling

Cast:  Choi Sulli (Sulli f(x)), Choi Minho (Minho SHINee), Lee Taemin (Taemin SHINee), Lee Jinki (Onew SHINee), Kang Jiyoung (Jiyoung KARA)

Genre: Thriller, Horror, Romance, Alternate Universe

Length: Chaptered

Rating: PG 16 – NC 17

Little Inspired: Drag Me to Hell, Haunted School

PS: Anggep umur Sulli Taemin Jiyoung itu 19, Minho 20, Onew 21 O.K.. kekekekeke~

Ratingnya kami pake NC, sebenarnya tidak ada unsur apa-apa yang berbau ‘itu’ cuman isi FF ini kebanyakan pembunuhan dan akkhh.. pokoknya gitulah… Yang niat baca.. baca aja… yang enggak ya enggak usah, kami enggak maksa kok 😀

****************************************************************

Sulli terpojok saat tubuhnya menyentuh dinding dibelakangnya. Sosok bertudung hitam itupun kini berdiri tepat didepannya. Sosok itu kemudian berjongkok. Ia memegang dagu Sulli. Hingga Sulli memandang langsung mata sendu sosok didepannya. Mata itu tidak asing baginya. Ia seperti pernah melihat mata itu disuatu tempat entah dimana.

Keringat dingin mulai bercucuran deras membasahi piyama yang melekat pada tubuh Sulli. Ia memandang takut sosok bertudung hitam dihadapannya.

Sosok itu menempelkan sabitnya keleher mulus Sulli. Glek! Sulli tampak menelan ludahnya saat sosok itu mulai menekan sabitnya. Sosok itu terlihat menyeringai dan sedetik kemudian ia dengan cepat menggerakkan sabitnya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Sulli terbangun dari mimpi buruknya, yang semakin lama tampak semakin nyata baginya.

Sulli mendekap mulutnya, napasnya tersengal-senggal. Keringat dingin membanjiri piyama tidurnya. Matanya sembab, air mata meluncur dengan deras membasahi pipi-pipinya yang mulus. Sulli teringat sesuatu, disibakannya lengan kanan piyama tidurnya.

“Kenapa benda ini semakin bertambah saja..” Umpatnya, begitu melihat tanda berbentuk bulan sabit disebelah angka satu yang sebelumnya muncul secara tiba-tiba dilengan kanannya itu.

Sulli teringat mimpi buruknya itu, diraihnya ponsel biru yang ia letakan disamping jam bekernya, lalu segera menekan speed dial 1

“Eomma??” Pekik Sulli, begitu tersambung dengan orang yang ditelponnya itu.

“Ada apa Honey?”

“Eomma, apa Eomma dan Appa baik-baik saja?? Maksudku kalian tidak kenapa-kenapa kan??”

“Tenanglah, Honey. Eomma baik-baik saja, erm kalau Appa dia agak sedikit lelah karena dari tadi terus mengemudi mobil”

Sulli menarik napas lega

“Sulli?”

“Ne.. Ne Eomma..”

“Jaga baik-baik dirimu selama kami pergi, Arraso”

“Ne, Eomma. Kalian juga.. Sampaikan salamku buat Halmoni”

“Ya sudah, lanjutkan tidurmu lagi.. Ayo sana.. Have a nice dream, Honey

“Ne, Eomma.. Ne..”

Piip

************************************************************

“Sulli, kau kenapa??” Taemin mengibas-ibaskan tangannya dimuka Sulli, tapi Sulli tetap tidak bereaksi.

“Sulli-ya!!” Pekik Jiyoung yang tiba-tiba muncul dari belakang Sulli, berusaha mengagetkan gadis itu, tapi tetap saja tidak berhasil. Jiyoung duduk dengan lunglai disamping Sulli sambil memanyunkan bibirnya.

“Engg.. Taeminnie.. Aku kesana sebentar ya.. Ada yang harus kuurus.. O.K.. Kau tetap disini jaga Sulli..”

“Ne..Ne”

Jiyoung berdiri dan berlari kecil kearah koridor kampus. Tinggal Taemin dan Sulli yang duduk disana. Taemin menghela napas sebentar, lalu menyedot soft drinknya

“Taemin..”

Akhirnya Sulli membuka suaranya, Taemin segera menoleh dan menatap Sulli lekat.

“Ne..”

“Taemin, apa kau pernah bermimpi buruk..”

“Eh? Mimpi buruk? Apa ya? Sepertinya pernah, seperti diterkam laba-laba atau digigit serangga raksasa. Ya seperti itulah, memang kenapa Sul?”

Sulli menarik napasnya kemudian berpaling menatap Taemin dan berbicara lagi

“Akhir-akhir ini, aku sering bermimpi buruk Taemin. Dan mimpi itu terasa begitu nyata. Pembunuhan-pembunuhan itu, sosok bertudung hitam.. Aku takut Taemin, aku takut.. Tolong aku” Isak Sulli

“Tenanglah Sulli, semuanya akan baik-baik saja” Ucap Taemin sembari memegang pundak Sulli berusaha menenangkan gadis itu.

“Tapi Taemin, aku—-“

“Sssttt, tenanglah. Aku punya sesuatu untukmu”

Sulli menatap Taemin heran, Taemin tersenyum lalu menyuruh Sulli mengangkat telapak tangan kanannya.

“Lihat telapak tangan itu, kemudian pusatkan pikiranmu disana..”

“Bayangkan buah yang kau suka, kau suka apa Sulli??”

“Enngg, jeruk”

“Bagus, bayangkan jeruk…”

“Apa kau sudah berhasil membayangkannya??” Sulli menganguk

Tiba-tiba Taemin mendorong telapak tangan Sulli hingga membentur wajahnya dengan keras. Sulli mengaduh kesakitan, sementara Taemin tertawa terbahak-bahak.

“Ahahahahahahahahahahahahahahahaha, Kalau saja kau bisa lihat ekspresimu tadi. Kau pasti akan tertawa terbahak-bahak Sulli.. Ahahahahahahaha”

“YA!! DASAR TAEMIN!! Kau menipuku!!”

Tangan Sulli bergerak memukul-mukul bahu Taemin, mereka berdua tampak senang, meskipun Taemin tetap mengaduh akibat pukulan Sulli.

“Ya!! Apa yang terjadi?? Apa aku melewatkan sesuatu??” Tanya Jiyoung yang baru datang sambil menatap Taemin dan Sulli bergantian dengan ekspresi heran. Taemin dan Sulli saling bertatapan kemudian serentak tertawa bersama-sama, membuat Jiyoung semakin heran saja.

“Sulli, apa aku boleh menginap dirumahmu? Tadi Eomma mu menelponku, katanya kau sendirian dirumah, Jadi bagaimana??” Ucap Jiyoung

“Eh? Boleh, aku senang kau mau menginap Jiyoungie..” Sulli tersenyum lebar kearah Jiyoung

“Kalau begitu ayo, tapi kerumahku sebentar untuk ngambil bajuku dulu ya..” Sahut Jiyoung

“Oke..” Sulli berdiri dan berjalan kesamping Jiyoung

“Taeminnie mau ikut??” Tawar Jiyoung

“Tidak Ah.. Memangnya aku yeoja apa, seperti pesta piyama saja”

“Ya sudah kalau begitu, dadah Taeminnie..”

“Taemin, gomawo leluconmu tadi” Kali ini giliran Sulli yang angkat bicara

“Ne.. Ne.. Sudah sana pergi…” Usir Taemin

——————————————————————————————–

“Tunggu sebentar disini ya Sul”

“Ne..”

Jiyoung segera menaiki undakan tangga meninggalkan Sulli yang masih duduk disofa besar berwarna plum itu. Sulli menopang dagunya dengan tangan karena bosan menunggu Jiyoung, tiba-tiba ada seorang namja keluar dari sebuah kamar dan duduk menghampiri Sulli.

“Eh? Teman Jiyoung??” Tanyanya

“Ne, kau??”

“Aku Sepupunya, Jinki imnida” Ucap namja itu sembari tersenyum memamerkan gigi kelincinya

“Sulli imnida” Sahut Sulli

Hening sejenak, mereka berdua sama-sama terdiam.

“Eh.. Sulli-ssi??”

“Ne”

“Bukan maksudku lancang, tapi sebaiknya kau harus jaga jarak dengan orang disekitarmu”

“Hah? Kenapa?”

“Aku rasa auramu berwarna pekat Sulli, kau harus hati-hati. Akan ada sesuatu yang berbahaya akan menimpamu”

“YA!! Sulli ayo kita berangkat” Jiyoung muncul sambil menggeret koper besar disebelahnya

“Ne..”

“Mau kemana??” Tanya Jinki heran melihat Jiyoung mengarak koper besar disampingnya

“Aku mau menginap Oppa, ditempat Sulli ehehehe”

“Oh.. yasudah..hati-hati ya Jiyoung.. Jaga dirimu baik-baik”

“Ne, Oppa.. kami berangkat dulu.. Annyeong!!”

********************************************************

Gadis berambut perak, tengah berlari di sebuah jalan yang gelap. Ia menghindari seseorang yang tengah mengejarnya. Bertudung hitam, membawa sabit, dan haus akan darah. Ia melihat sebuah rumah tua diseberang Alenea Street, ia berniat untuk bersembunyi di dalamnya. Mungkin persembunyian yang ia dapat, bisa dikatakan aman, disebelah lemari yang cukup tinggi dan menghubungkan keruang tengah. Kini ia dapat mendengar deru nafasnya sendiri. Detak jantungnya yang tidak beraturan, aliran darahnya mengalir deras dalam tubuhnya, yang tak dapat menahannya untuk mengeluarkan sebercak air dari matanya.

Tap.. tap…

Terdengar seseorang sedang berjalan di pelataran, matanya melirik waspada diantara perabot tua yang berlapis kain putih. Tak sengaja, ia melihat sebuah tombak besi terbengkalai di dekat meja bundar yang tepat berada di ruang tengah. Ia berjalan merunduk dan berhati-hati untuk mengambil tombak besi, well… untuk berjaga-jaga apabila orang-yang-haus-darah itu akan membunuhnya.

Ckriet…

Gadis itu tanpa sengaja menginjak sebuah beling  vas bunga, ia mendekap mulutnya untuk tidak reflek berteriak. Perlahan ia masih berjalan merunduk, ia tetap menjaga matanya untuk mengawasi sesosok misterius bertudung hitam itu. Perlahan ia mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil tombak besi yang kini berusaha ia dapatkan.

Jrasss…

Darah segar mencuar, tangan kanannya ditebas oleh sosok bertudung hitam itu. Reflek tangan kirinya mengambil tombak besi itu, ia mengibas-ngibaskan tombak besi tersebut kearah sosok bertudung hitam, dengan tenaganya yang tersisa.

“Ehehehehe…You wanna Kill me, baby?”

“Yeah, I must kill You.

Tombak besi yang kini berada ditangan kirinya langsung ia lontarkan kearah tangan kanan orang itu.

JLEBB…

Bravo! Tombak itu menembus pergelangan tangannya. Darah mengalir dengan riangnya. Orang itu mencabut tombak itu dengan perlahan, terdengar sebuah rintihan dari mulutnya.

“You almost hurt me, you know!!”

Sosok bertudung hitam itu mendekat kearahnya, ia memainkan sabitnya kesebuah dinding setiap ia mendekati gadis itu. Gadis itu agak menjaga jarak, ia mulai agak lemah karena kehabisan darah, tangan kanannya tak henti-hentinya mengeluarkan cairan pekat yang begitu menggiurkan.

“Ouw! This is annoying me!!”

Gadis itu bisa melihat sosok bertudung hitam itu sedang menjilati lukanya, yang diakibatkan oleh lontaran tombaknya tadi.

“Hey… I Know You!”

“Is that really?”

“Yeah!! But I’m not certain that you the-people-who-I-Know!” Gagap gadis itu.

“You will know soon me, IN THE HELL!!”  Teriaknya.

JLEEEB!!!

Sabit itu berhasil ia lontarkan kearah mata gadis itu. Gadis itu roboh, tak berdaya. Selaput bening yang kini menjaga kornea matanya pecah akibat tertembus oleh sabit yang tiga kali lipat tajamnya pisau daging. Orang bertudung itu mencabut dengan paksa sabitnya, sehingga urat-urat mata gadis itu tidak bisa menahannya dan berhasil terlepas dari tempatnya. Darah mencuar dari matanya yang kini terlepas.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Sulli terlonjak dari tempat tidurnya, ia berteriak histeris.

“Sul… Sulli.. Sulli… Kenapa?? Tenang.. Ssst.. Tenanglah Sulli-ya” Jiyoung berusaha menenangkan temannya itu dengan memeluk tubuh gadis itu.

Sulli menangis dipelukan Jiyoung, kali ini dia benar-benar ketakutan, mimpi-mimpi itu selalu mengganggu tidurnya.

“Jiyoung, tolong aku.. hiks”

“Kau kenapa Sulli??” Jiyoung melepaskan pelukannya kemudian menatap lekat Sulli.

“hiks.. Pembunuh itu.. Pembunuh bertudung hitam.. hiks.. aku takut Jiyoung, aku takut..”

“Tenanglah, itu cuma mimpi…”

“Tidak Jiyoung, kau tidak mengerti. Orang itu mencoba menerorku.. Aku yakin sebentar lagi dia akan membunuhku..”

“Kau harus menenangkan pikiranmu..”

Sulli membuka kancing piyamanya dan menyibakkan lengan kanan piyamanya itu.

“Kau lihat Jiyoung, tattoo ini, tiba-tiba saja muncul setiap aku habis bermimpi mengerikan itu,dan sekarang bertambah, garis melengkung ini sebelumnya tidak ada, tapi sekarang kau lihat..”

Jiyoung mendekap mulutnya sendiri dengan tangannya, memandang kearah lengan kanan Sulli yang menorehkan angka 1 dan angka 9 yang berwarna tidak sehitam angka 1 disampingnya.

“Tolong aku Jiyoung.. Tolong aku”

*******************************************************

“Aku antar kau ketempat Minho?? Bagaimana??” Tawar Jiyoung saat Sulli sudah masuk kedalam mobil Mazda-nya dan duduk sempurna disampingnya

“Tap—“

“Sudah, kau lebih aman bersamanya Sulli. Aku pasti akan membantumu. Aku akan meminta bantuan Jinki Oppa”

“Jinki??” Tanya Sulli heran

“Ne, mungkin dia bisa membantumu menyelesaikan masalahmu itu, bagaimana?” Tawar Jiyoung, ia tersenyum kearah Sulli. Sulli mengangguk

“Baiklah, sekarang kita ketempat Minho dulu untuk mengantarmu..” Jiyoung menarik porsnelling(??) mobilnya, dan melesat kejalanan.

——————————————————————————————–

“Jiyoung, gomawo sudah mengantar Sulli kemari” Ucap Minho

“Ne.. Ne.. jaga dia baik-baik ya Seonbae” Jiyoung pamit dan segera berjalan keluar dari apartement Minho. Minho menutup pintu apartementnya dan berjalan menghampiri Sulli yang duduk disofa, Ia mendekati gadis itu dan duduk disampingnya.

“Mau coklat hangat??” Tawar Minho, Sulli mengangguk. Beberapa saat kemudian Minho kembali dari dapurnya sembari membawa dua gelas coklat hangat, dan menyodorkan salah satunya kearah Sulli. Sulli menerimanya dan segera menghirupnya.

“Seonbae.. aku takut..” Ucap Sulli kemudian, ia mengigit bibir bawahnya sendiri.

“Tenanglah Sulli, ada aku, aku akan selalu menjagamu” Minho memeluk erat tubuh Sulli, membelai rambutnya berusaha menenangkannya.

“Seonbae….”

“Ssst.. Jangan panggil aku seonbae Sulli, panggil aku Oppa..”

“erm.. Seon.. Op..Oppa.. aku.. aku takut.. dia mengincarku.. tolong aku!!” Sulli menangis dan mendekap erat tubuh Minho, tubuhnya gemetaran. Beberapa menit kemudian, tubuhnya terlihat tenang. Minho melonggarkan pelukannya, dilihatnya Sulli sudah tertidur.

“Tidurlah Sulli, tidurlah yang nyenyak..” Minho tersenyum sembari mengusap kepala Sulli.

——————————————————————————-

Drrtt… Drrrtt…

Ponsel Jiyoung bergetar, Jiyoung meraih ponselnya, menarik flip ponselnya dan membaca pesan yang terpampang dilayar ponselnya. Satu alisnya terangkat, ia segera berbelok arah dan melaju kearah kampusnya. Sesampainya disana, ia langsung memarkirkan Mazda-nya ditempat biasanya dia parkir, dan segera berjalan menusuri koridor kampus.

“Apasih maunya Asdos itu?? Malam malam gini manggil” Gerutu Jiyoung, ia masuk keruangan tapi tidak ada siapapun disana.

“Eh? Aneh.. mana dia??”

Dengan kesal Jiyoung merogoh ponselnya yang dia masukan kedalam Satchel Grey-nya. Ditariknya flip ponselnya, lalu dengan kesal memencet beberapa tombol

“Yeoboseyo??”

“Yeoboseyo.. Seonbae.. Seonbae dimana?? Aku sudah ada dikampus”

“Hah?? Untuk apa kau kekampus malam-malam begini Jiyoung..”

“Mwo? Seonbae itu pikun atau pura pura pikun. Bukannya tadi seonbae yang menyuruhku kesini..”

“Tidak ada, aku tidak ada menyuruhmu”

“Oh, kalau begitu aku yang salah.. gomawo Seonbae”

Pip

Jiyoung menghela napasnya, “Siapa sih yang iseng ngerjain orang, kurang kerjaan banget deh” Umpatnya, Jiyoung kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.

Jiyoung menyusuri koridor kampus yang sepi dan gelap, bulu kuduknya berdiri. Ia percepat langkahnya.

“Jiyoung”

Panggil sebuah suara, Jiyoung menoleh kearah sumber suara itu, dilihatnya secara samar-samar orang bertudung hitam, membawa sabit ditangan kanannya. Jiyoung terbelalak, tangannya refleks menutup mulutnya.. Jiyoung segera berlari menghindari sosok itu, tapi sosok itu terus mengejar Jiyoung dibelakang.

Angkelboot sialan, aku tidak akan pernah mau memakaimu lagi” Maki Jiyoung lalu melepaskan Angkelboot itu dari kakinya dan membuangnya asal, kemudian segera berlari lagi.

Jiyoung melihat sebuah ruangan yang belum tertutup pintunya, dengan cepat dia masuk ketempat itu dan mengunci pintunya dari dalam. Pintu itu berusaha didobrak dengan kasar dari luar, Jiyoung berusaha menahan pintu itu sekuat tenaga. Pintu itu berhenti didobrak dari luar, Jiyoung menarik napas lega, tubuhnya merosot dan bersandar dibalik daun pintu itu, dia memeluk kakinya, tubuhnya gemetaran, air mata mengucur deras membasahi pipinya.

KRAAAAAKKKKKKK

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Jiyoung berteriak saat daun pintu itu ditembus oleh sabit dari luar, Jiyoung segera berdiri dan berlari, menyembunyikan dirinya dibalik meja-meja. Jiyoung masih mendengar pintu itu dihancurkan oleh sabit dari luar, tinggalah serpihan-serpihan kayu. Jiyoung melihat sepasang kaki dengan boots hitam berjalan mendekat kearahnya, sambil menyeret sabit disampingnya. Jiyoung bergidik ngeri membayangkan nasibnya sesudahnya, Jiyoung nampak berpikir kemudian ia ingat kalau ia menyimpan pisaulipat didalam pencilcasenya. Sosok itu semakin mendekat kearah Jiyoung, ia mengangkat dan mengayunkan sabitnya kearah Jiyoung, untunglah Jiyoung sempat menghindar, dan kini Jiyoung berdiri disamping lemari besi sambil memegang pisau lipat ditangannya. Jiyoung menatap tajam sosok itu, sosok bertudung hitam itu kemudian terkekeh

“Mau coba membunuhku huh??”

Ia mengayunkan lagi sabitnya kearah Jiyoung, Jiyoung merunduk dan sabit itu sukses menghantam lemari besi itu sampai penyok. Melihat ada kesempatan Jiyoung menusukan pisaunya kearah sosok hitam bertudung itu, sialnya hanya menggores tangan kirinya. Dengan sisa kekuatannya yang ada, Jiyoung menendang tubuh sosok itu, lalu segera berlari keluar dari tempat itu.

Jiyoung berlari kearah mobilnya, dia berusaha membuka pintu mobilnya, tapi sial dia meninggalkan kunci mobilnya didalam Satchel Grey-nya. Kakinya yang tidak terbungkus sepatu menendang ban mobilnya.

“Mencari ini…”

Ucap seseorang, Jiyoung berbalik dan mendapati sosok bertudung hitam lengkap dengan sabit ditangan kanannya berdiri beberapa meter darinya. Tangan kirinya memainkan kunci mobil Jiyoung.

Jiyoung berlari lagi tapi sayang kakinya tersandung dan jatuh, dengan cepat tubuhnya berhasil ditangkap oleh sosok bertudung hitam itu. Jiyoung menatap nanar kearah sosok itu, meminta belas kasihan darinya, tapi apa yang didapatnya sosok itu malah tersenyum mengerikan. Angin tiba-tiba berhembus kencang dan menyingkap tudung sosok itu. Jiyoung membelalakan matanya dan menggeleng kuat sambil mendekap mulutnya sendiri saat melihat sosok asli orang bertudung hitam itu.

“Kau.. T..Tidak mungkin!! Kenapa??”

“Huh.. Kau sudah tahu, Kau tidak akan kubiarkan hidup Jiyoung.. Maaf atas segalanya..” Ucapnya sinis sembari melayangkan sabit yang berada digenggamannya kearah Jiyoung.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Sabit itu memenggal kepala Jiyoung, darah mengalir deras, membasahi orang itu. Kepala Jiyoung menggelinding, diambil dan diangkatnya oleh orang itu. Orang itu kemudian mengeluarkan pisau lipat yang dipakai Jiyoung tadi untuk melukai tangannya. Ditusuk-tusukannya pisau itu kekepala Jiyoung, cairan encer berwarna putih kekuning-kuningan merembes dari bekas tusukan itu. Kemudian dia mengarahkan pisau itu kewajah Jiyoung. Sedikit-demi sedikit dikulitinya kulit wajah Jiyoung dengan pisau itu. Sampai habis seluruh kulit dimuka Jiyoung. Mata pisau yang tajam itu dia arahkan kemata Jiyoung, menyongkel paksa kedua matanya dari tempatnya, urat dan otot-otot mata Jiyoung berserakan. Orang itu mengorek sampai tidak tersisa kedua isi mata Jiyoung, sampai hanya tulang matanya yang tersisa. (author 1: sumpah gue mual dan udah pengen muntah waktu nulis ini.. gyaaa.. tobat dah gue.. kagak bakat jadi pyshcopat -.-‘) Kemudian dia melemparkan kepala Jiyoung kedekat timbunan sampah.. Terkekeh pelan lalu melenggang pergi, sosoknya hilang dikegelapan malam.

****************************************************

“JIYOOUUUUNGGGGGGGGG!!!!!!!” Teriak Sulli kencang, dia terbangun dari tidurnya. Wajahnya benar-benar pucat, badannya gemetar hebat.

KREEIIT

Minho membuka pintu apartemennya dan masuk sambil menenteng sebuah plastik putih. Melihat Sulli yang terbangun dari tidurnya dengan kondisi yang -berantakan- ia segera mendekati tubuh gadis itu dan mendekapnya erat..

“Oppa.. Jiyoung.. Jiyoung.. tadi aku bermimpi Oppa… dia.. dia.. dibunuh… aku… aku takut Oppa… hikss” Isak Sulli

“Tenanglah Sulli, tenangkan dirimu.. Aku yakin Jiyoung baik-baik saja” Minho mengelus puncak kepala gadis itu, menenangkannya.. membiarkan t-shirt birunya basah oleh airmata Sulli. Beberapa saat kemudian, tangisan Sulli mereda..

“Kau lapar?? Mau makan??” Tawar Minho, Sulli mengangguk. Minho menyodorkan makanan kearah Sulli.

“Eh? Tanganmu kenapa Oppa?? Kenapa diperban??” Tanya Sulli melihat tangan kiri Minho diperban

“Oh ini, tadi ada orang mabuk, dia mau memalakku dan berusaha melukaiku tanganku dengan pisau yang dia bawa.. Sudahlah, tidak usah dipikirkan.. Ayo makan makananmu, Sulli” Ucap Minho

*************************************************

“Nanti setelah pulang kuliah telepon aku saja!” Teriak Minho di dalam red-ferrarinya.

“Ne! Gomawo Oppa!” Ucap Sulli sambil tersenyum dan melambaikan tangannya sembari melihat kekasihnya pergi.

“Huh… bodohnya aku hari sedingin ini kenapa aku memakai mini skirt ini? Ya sudahlah…!!

Sulli berlenggang menuju kelasnya. Beberapa menit lagi dosen Kim akan memulai pelajaran. Ia memutar kepalanya kearah parkiran mahasiswa, tak terlihat sebuah mobil Mazda. Mungkin Jiyoung agak terlambat kali ini. Sulli mencoba merogoh ponselnya di kantong Hoodienya. Sebelum ia menekan tombol ponselnya, lagi-lagi Taemin mengagetkannya.

“Omo~ Kau!!! Ih… terus saja mengagetkanku!”

“Ehehehe~ Mian!! Hei! Mana Jiyoung?? Aku tidak ada melihatnya, di kelas maupun di kantin.”

“Aku kira ia bersama mu! Kan, dia sering dekat denganmu akhir-akhir ini!”

“Babo!!” Ucap Taemin sembari memukul kepala Sulli dengan perlahan.

“Hei!! Ada apa dengan tanganmu? Kau habis berkelahi ya? Wah rupanya kau jagoan sekarang, yah?” Cela Sulli.

“Oh~ ini!! Hanya luka ringan saja. Kemarin aku tidak sengaja bergulat dengan peliharaanku, dia melukaiku, cakarannya sangat dalam sehingga merobek dagingku.”

“Iyuh… apa kau bercanda? Ini bukan luka ringan, babo! Aku baru tahu kau punya peliharaan, apakah itu benar?” Sulli menatap mata Taemin dengan dalam hanya untuk mengetahui apa dia menyembunyikan sesuatu.

“Tentu saja benar. Berhenti menatapku seperti itu. Lebih baik, kita kekelas. Sebentar lagi dosen Kim akan datang. Ayo…!”

“Ne… ne!!!

******************************

Ketika jam pelajaran sudah tiba, dosen Kim memasuki kelasnya. Semua mahasiswa disini tidak ada yang berubah, mereka sama. Tentu saja, memangnya mereka itu siluman? Yang berubah hanyalah seseorang yang duduk tak jauh disamping Sulli, yaitu Jiyoung, sudah dua hari ini ia tidak masuk. Tidak mengabarkan kabarnya, dan tidak menelpon. Sulli memutar kepalanya kearah sebuah kursi kosong, ia memandangi kursi itu, sahabatnya yang sudah 2 tahun mau berteman dengannya. Kenapa seperti ini? Sulli mengingat bagaimana Jiyoung tersenyum, tertawa, marah, dan menangis sewaktu di toilet itu. Sulli mendekap matanya, kini ia dapat merasakan aliran air membasahi pipinya yang putih. Sulli dapat merasakan ada seseorang menyodorkan sapu tangan kearahnya.

“Aku yakin, kau sangat membutuhkan  ini!” Ucap Taemin menyodorkan sapu tangan biru bergaris horizontal.

“Ah! Pelajaran dosen Kim sudah selesai ternyata, aku tidak menyadarinya, ahahaha…” Ucap Sulli mencoba tertawa.

“Hei! Kau tidak usah mencoba menyembunyikannya dariku! Kalau kau ingin menangis. Menangislah disini.” Ucapnya sambil menepuk pundaknya.

Taemin mengambil kursi dengan perlahan, ia menarik kursi itu disebelah Sulli dan ia mendudukan pantatnya di kursi itu.

“Kau tidak usah repot-repot!”

“Kalau belum waktunya, ya… aku akan pergi! Sampai nanti!”

Taemin beranjak dari kursi itu, berjalan meninggalkan Sulli yang sendirian di tempat duduknya.

“TAEMIN… hiks.. BERHENTI KAU! KEMBALI!” Ucap Sulli sambil terisak.

Taemin tersenyum puas, membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah Sulli. Ia kembali duduk ditempat duduk disebelah Sulli.

“Aku tahu kau tidak akan tahan menopang ini, Sulli!! Silahkan menangislah di pundakku, aku tidak  berkeberatan, kapan saja!”

Perlahan kepala Sulli bersandar kepundak Taemin, ia terisak.

“Apa kau tahu Taemin?”

“Ne? Ada apa memangnya?” Taemin balik bertanya.

“Jiyoung itu sangat berharga untukku!!”

“Jinja? Rupanya kalian sangat bersahabat!!”

“A…ku…!! Hiks… Aku kemarin malam, memimpikannya. Ia… ia telah dibunuh oleh sesosok pembunuh bertudung hitam yang selalu saja kuimpikan. AKU TAKUT KALAU MIMPI INI BENAR-BENAR TERJADI!! Hiks…”

“Ini tidak mungkin, Jiyoungie pasti masih hidup. Kau jangan percaya terhadap mimpi itu. Well… ini sudah lumayan sore. Apa kau mau kuantar pulang?”

“Ah! Tidak usah, lagipula aku dijemput oleh Minho Seonbae!”

“O.k! Sampai jumpa besok! Oh, ya bersihkan dulu air matamu, lihat matamu terlihat sembab, sungguh jelek. Ahahaha…”

“Huh! Kau ini!! Sampai jumpa!”

Sulli memutar kepalanya kearah kursi kosong, ia mencoba menahan air matanya untuk tidak keluar.

“Jiyoung ku harap kau baik-baik saja!” Batinnya.

Sulli beranjak dari tempat duduknya, berjalan kearah toilet untuk membersihkan wajahnya terlebih dahulu.

“Ah! Lihat wajahmu! Ahahaha… seperti dikeroyok orang saja. Hari ini aku naik bus saja pulangnya. Aku tidak PD dengan wajah seperti ini apabila Minho Oppa melihatku. Hmmph…!!”

Sulli meninggalkan toilet tersebut, dan berlenggang keluar kampus yang sudah sangat gelap dan sepi. Ia berjalan menuju pertigaan jalan untuk menunggu bus, disampingnya ada seorang halmony yang begitu tua dengan jaket musim dinginnya yang begitu panjang, berwarna hitam pekat. Di tangan kirinya memegang sebuah korek api, dan ditangan kanannya, ia memegang sebuah kalung hitam bermanik-manik, dan tepat ditengahnya sebuah salib yang berwarna senada dengan manik-manik tersebut. Mungkin itu sebuah Rosario. Ia melilitkan Rosario itu dengan kencang di tangannya. Sempat terbesit olehnya mungkin halmony ini seorang gadis korek api yang muncul  dari buku dongeng anak-anak, tapi tidak mungkin, ia seorang halmony, dan siapa juga yang akan percaya dengan dongeng anak-anak?

“Hai nak!” Sapa Halmony itu.

“Ne! Halmony sendirian disini?”

“Tentu saja! Setiap musim dingin aku selalu sendirian menunggu seseorang. Mungkin bisa dibilang selama-lamanya aku akan kesepian.”

“Ehehe~ tidak mungkin, pasti anda bergurau. Di dunia ini walaupun anda kehilangan seseorang anda masih mempunyai seseorang yang akan menghibur anda sehingga tidak kesepian lagi.”

Halmony itu tersenyum lebar, ia menyeringai kearah Sulli sehingga membuat Sulli bergidik ngeri.

TBC

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

33 thoughts on “BLOODY 19th – PART 2”

  1. gyaaaa……..
    kok TBC ??? lagi asyik2 baca juga -____-
    tapi sumpah deh ini ff sadis+serem banget…..
    jadi makin penasaran siapa sih si kerudung item ituuuu????
    btw ini smp brp part????
    lanjutannya cpt di pos yaa ???

  2. bener2 serem, tapi keren … aku suka di bgian jiyoung di bunuh … ahahahah merasuk ke dlm tubuh ku… ampe merinding …
    pertama2 curiga sma minho, eh pas baca kebwh2 taemin juga mencurigakan…. terakhirnya lebih mencurigakan lagi …. wahh… di tunggu lanjutannya …

  3. Serem n sadis critanya…,XD
    gw pikir pelakunya minho,soalnya lengannya kan d perban…,tp eeeh ternyata taemin jg d perban pula tangannya…,
    lanjutkan story-nya author,penasaran nh…,xb

  4. Serem banget ni ff..
    Prtma_y curiga sama minho di bca lgi jdi curiga sma taem..
    Nah ntu halmoni siapa lagi.?
    Trus si jinki knapa ngomong_y jga rada serem..
    Next part asap ya chingu..

  5. yaelah cmnt’q kepotong nih T_T

    pdhal td udh nulis yg panjang bgt thor,gtw knpa kpotong~

    aq td blg,ni keren bgt!horor’y mkin brasa T_T
    yah,aq ksian sm sulli’y ckck

    ngmg2 aq curiga nih sm taemi,entahlah knpa haha xD wlopun emg aawal’y aq curiga sm menong jg sih T_T
    tp bs aja prkiraan’q salah xp

    jinki ko ngmg’y gtu?dy punya 6th sense yh?
    trus tu halmoni sypa?serem bgt x(

    lanjutin!seru authooor xD

  6. Ini siapa ya si pembunuhnya.
    Taemin??? Minho??? Penasaran sumpah…
    Over all ini cerita bagus banget
    Horor nya dapeeet

  7. sapa sih? Minho atau Taemin nih pembunuhnya?? Terus itu nenek-nenek apa hubungannya Thor?
    Sulliiii!!! Cepetan ke Onew deh! Kayaknya dia bisa bantu… 😀
    itu tanda-tanda apaan Thor?
    Penasaraaaaannn!!!

  8. Pembunuhnya siapa si?
    Parah banget deh
    Jiyoung kasian
    Sulli ampe depresi
    Garagara mimpi buruk mulu
    Lanjuutt!!!

  9. tuh kan?? dr awal gw curiga ma minho,, taemin……

    jgan2……
    keren chingu….yah..TBC….jgan2 c halmoeni itu c pembunuh itu??

  10. hwa…kereeennn…
    koq onew ngomongnya gitu sih
    itu..itu…klo kata aku yang sosok tudung hitam itu taem atau onew *sotoy amat
    itu halmoni siapa lagi..
    author musti tanggung jawab dah buat aku penasaran

  11. Nah kan, yang bagian ortunya sulli mati itu ternyata mimpi.
    terus nuh yh, wajtu adegan Jiyoung dibunuh itu gtau knapa ak tiba2 ngira kalo itu Taemin. Meskipun d scene berikutnya dibuat bingung dgn Minho & Taemin yang sama2 punya luka di lengannya.
    Masih blur soal siapa sebenernya si tudung hitam itu & ah! kenapa tiba2 ada halmeoni korek api *?*

    oKEY, aku langsung lanjut ke part berikutnya. Jinjja! I’m so curious!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s