Rainbow

Title                 : Rainbow

Author             : Liyah aka amelee

Cast                 : Lee Taemin, Shin Mina (OC), also Hyori (OC)

Genre              : Family (?), Romance (?), Friendship (?)

Length             : Oneshot

Rating             : General

A/N                 :

Aku cuma nekat kirim. Aslinya cuma cerpen maksa buat tugas bahasa Indo yang uda lama banget, dan kuedit seadanya hingga terciptalah FF jadi-jadian ini. Masih nempel majas-majasnya kata-kata gajenya, dan setting yang muncul anggep aja beneran ada, namanya juga bekas cerpen. Judul aslinya juga aku lupa, soalnya waktu itu ngumpulnya pake judul dadakan (maklum, uda diketik rapi tinggal ngasi judul plus ngeprint malah disuruh tulis tangan *nostalgia*). Ah ya, happy reading aja. Semoga kalian ga muntah bacanya! (>o<)

Langit pun menangis, menyisakan warna kelabu yang kini setia menyelimuti bumi. Matahari masih enggan muncul, tetap pada posisinya yang bersembunyi di balik kumpulan awan-awan kelam. Hujan tak begitu deras, namun dinginnya angin yang menerpa seakan menusuk-nusuk ke dalam tulang.

Aku masih duduk termangu di dalam kelas. Jam pelajaran kosong. Aku sempat memperhatikan sekelilingku sejenak. Ada yang masih sibuk mengerjakan PR kemarin, ada yang malah rajin membaca buku-buku pelajaran, ada juga yang tetap setia dengan ponsel dan earphonenya, bahkan ada beberapa yang asyik tidur –menangkupkan kepalanya di atas meja.

Sebagian besar ke luar ruangan kelas, sekedar berdiri menikmati hujan ataupun melakukan berbagai aktifitas konyol. Ada yang menengadahkan tangan, menampung tetes demi tetes air hujan, kemudian membuangnya ke arah teman yang lain. Ada pula sekelompok dari mereka yang nekat bermain bola di lapangan. Sinting! Tak kapok rupanya dimarahi para seonsaengnim.

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku senang dengan suasana seperti ini. Rasanya seluruh penatku cepat menghilang bagaikan kilat. Tapi, tetap saja ada yang kurang. Sekarang aku sudah tidak bisa lagi melihat pelangi. Entah sejak kapan, aku tak tahu. Padahal aku sudah tidak pernah menangis lagi.

Dulu, seseorang pernah memberitahuku, bahwa jika aku menangis pelangi tidak akan muncul setelah hujannya. Sejak saat itu, aku mencoba untuk menjadi anak yang ceria dan tidak cengeng. Dan benar saja, setiap kali kulalui hujan dengan perasaan riang gembira, setelah itu pula pelangi muncul dengan cemerlangnya di hadapanku.

Entah sejak kapan itu menghilang, aku tak dapat mengingatnya. Ia tidak pernah muncul lagi di hadapanku.

“Mina…!”

“Mina…!”

Sapaan Hyori memaksaku keluar dari lamunanku. Wajahnya agak kusut. Lagi bosan dia, pikirku.

“Hujan melulu nih. Bete jadinya” keluhnya padaku.

“Oktober, kan?” aku mengomentarinya singkat.

Wajah Hyori semakin kusut. Wajar saja kalau Hyori memang membenci hujan. Badannya yang agak lemah memang gampang terkena penyakit, apalagi di bulan-bulan seperti ini yang notabene adalah musim hujan. Kuperhatikan wajahnya yang agak pucat dan hidungnya yang memerah. Dia kena flu.

“Kamu tuh kok seneng banget ya sama hujan? Buat sebel tahu?” gerutunya kesal.

Hyori menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, kemudian menempelkan keduanya di pipi. Badannya agak menggigil, dia kedinginan.

Aku hanya tersenyum kecil dan mengangkat bahuku sekenanya untuk menanggapinya. Aku ingin menggodanya sedikit.

“Sinting! Diajak bicara malah senyum-senyum gak jelas. Huh!” Hyori terpancing, ekspresinya lucu.

“Hey, kalau marah-marah, nanti kerutan di alismu akan bertambah lho.” kilahku.

Aw! Hyori mencubit pinggangku. Wajahnya sangat puas sekali.

“Masih menunggunya?” Hyori bertanya tiba-tiba padaku.

Aku menggeleng enggan. Orang itu, ah… ingatanku samar-samar. Aku tidak begitu mengingatnya, hanya teman masa kecil saja.

“Tapi, kau sangat menikmati hujan, kau sering melamun atau menjadi pendiam tiba-tiba. Bukankah kau memikirkannya?” lanjutnya panjang lebar, tanpa basa-basi.

Sekali lagi aku menggeleng.

“Tidak, aku hanya menunggu pelangi.”

“Akh, Mina!” Hyori mendesah kesal. “Aku tak pernah mengerti apa yang ada di pikiranmu. Lagipula…” sambungnya. “Bahkan tanpa hujan pun pelangi bisa muncul kok.”

Hyori meletakkan kepalanya ke atas meja, memejamkan mata perlahan dan mencoba untuk tidur. Aku mengerti, dengan cuaca yang seperti ini dia pasti lemas sekali. Tapi bodohnya, ia sama sekali tak mau berpindah ke ruang kesehatan.

Ah, orang itu ya? Tak begitu jelas. Tetapi, semakin lama malah semakin tergambar dengan sempurna. Waktu-waktu sepuluh tahun lalu, saat di mana aku adalah anak yang cengeng dan lemah. Sampai saat itu, ketika orang itu datang menghampiriku juga memperkenalkan pelangi padaku.

**

Saat itu sudah memasuki hari-hari penuh hujan dan angin. Aku yang berumur lima tahun kala itu, mengayun-ayunkan kaki mungilku di sebuah ayunan di taman bermain dekat rumah. Taman ini, dengan tiga ayunan, dua jungkat-jungkit, perosotan besar, dan bak pasir yang menjadi perabotan khasnya. Semuanya dicat warna-warni, merah, kuning, biru, hijau, warna-warni yang menyenangkanku. Di sudut taman ada sebuah pohon besar yang akar-akarnya menjulang ke atas tanah, gemuk dan saling berpilin. Kata umma itu pohon beringin. Pohonnya rindang dan teduh, dan banyak tali yang menjulur di antara dahan-dahannya.

Di samping taman itu ada sebuah lapangan kecil tempat anak laki-laki bermain bola. Terkadang anak-anak perempuan memanfaatkannya untuk bermain kejar-kejaran. Tak jarang pula mereka kompak bermain bersamaan.

Aku ingin menangis. Melihat appa dan umma yang bertengkar seperti tadi benar-benar membuatku ingin menangis. Mereka saling berteriak, menjerit-jerit sampai-sampai telingaku rasanya ingin pecah. Kata-katanya sama sekali tidak aku mengerti. Ah, aku benar-benar tidak mengerti.

Dunia orang dewasa begitu rumit dan mengerikan ya. Belakangan ini appa dan umma sering sekali bertengkar. Rasanya aku ingin selalu menjadi anak-anak seperti ini selamanya.

Kupeluk erat boneka sapi kecilku yang kubawa dari rumah. Tetes-tetes kecil hujan kemudian turun. Gerimis datang berkunjung. Aku pun menangis tersedu. Rasanya dada ini sakit sekali, seperti di tusuk-tusuk oleh jarum. Aku tak mengerti apa alasannya. Yang kuingat waktu itu hanyalah wajah appa dan umma yang memerah karena marah, wajah mereka yang sedang bertengkar.

“Hey, adik kecil!”

Aku menengadah. Kulihat seorang anak lelaki kecil berdiri di hadapanku. Ia mengenakan jas hujan berwarna hijau dan sepatu boots kecil berwarna kuning. Rambut pendeknya acak-acakan juga pipinya yang putih dan bulat terlihat seperti bakpao yang sering kubeli bersama umma di pasar. Wajahnya yang kebingungan membuatnya terlihat bodoh.

“Adik kecil” ia menyapaku.

Kuhapus air mataku segera. Aku melihatnya tajam dan berdiri mengimbanginya. Ternyata tubuhnya tidak lebih tinggi dariku. Kami seimbang.

“Mina bukan adik kecil, bodoh!”

Dia cemberut, raut wajahnya malah terlihat lucu sekali.

“Heheheheh….” Dia cengengesan. “Dasar adik kecil, kalau kecil ya kecil. Bodoh!”

“Mina gak bodooooh….!” Teriakku kesal sambil mencubit pipinya sekuat tenaga.

Dia membalasku, mencubit kedua pipiku kuat sekali. Aku tidak mau kalah. Dia pikir dia siapa? Tapi….

“Ukh… sakiiiit….” Isakku kembali.

Dilepaskan tangannya dari kedua pipiku.

“Iya deh, maaf, maaf!” ucapnya sambil mengusap-usap kepalaku. “Cep cep, kamu duluan sih yang mulai.”

“Huweeee…!!!” tangisku semakin keras. Dia semakin terlihat bingung. Bukan maksudku untuk membuatnya panik, tetapi entah mengapa saat ini aku hanya ingin menangis.

“Taemin!!!” seseorang berteriak memanggil-manggil. Suara seorang wanita di ujung jalan. Aku rasa ia meneriakkan nama anak di hadapanku ini.

Gerimis mulai lebat, dan hujan pun turun dengan damainya.

Dia menarik tanganku. Dengan berlari-lari kecil, ia membawaku ke pohon besar itu, mengajakku naik ke atas akar-akarnya dan bersembunyi di balik tubuh besarnya.

“Itu ummamu, kan? Kamu dicariin.” Ujarku masih terisak.

“Psssst…. Kamu diam dong. Nanti aku cubit lagi nih.”

Aku terdiam dan kembali terisak. Kudekapkan wajahku pada boneka sapi kecilku.

Saat itu hening, hanya suara riuh tetes-tetes hujan yang terdengar. Hujan tidak begitu lebat, dan pohon besar ini melindungi kami. Aku merasa sesuatu diletakkan di punggungku. Aku menoleh sebentar, ternyata ia membagi jas hujan kecilnya padaku.

“Hey adik kecil, berhentilah menangis. Bisa-bisa aku yang dimarahi ummamu.”

Aku menggeleng dan masih terisak. “Appa dan umma udah gak peduli lagi sama Mina. Kerjaannya beranteeem terus. Mereka udah gak sayang lagi sama Mina.”

Saat itu pun aku pikir dia sudah tak mampu berbicara apa-apa lagi. Dia membiarkan aku menangis. Kulihat sekilas wajahnya yang sendu, menatap hujan dengan pilu.

“Hey adik kecil. Mau kutunjukkan sesuatu yang bagus?”

Aku menoleh memperhatikannya. Wajahnya seketika cerah kembali.

“Apa?”

Dia tersenyum. “Tapi kalau kamu nangis, dia gak bakal muncul, lho!” bujuknya. Ekspresinya kelihatan serius sekali.

Aku kebingungan dan sekali lagi ia tersenyum

“Pelangi! Cantik, lho!”

Aku mengangguk dan menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak menangis lagi. Aku terbujuk.

“Sabar, ya!”

Dan waktu itu pun hening kembali. Hujan turun seakan begitu lama. Aku tak sabar menunggu.

Langit sudah cerah, hanya gerimis-gerimis kecil yang tersisa. Titik-titik air hujan masih menetes-netes di sela dedaunan pohon. Wajahnya ceria, tersenyum penuh kelegaan. Tangannya menunjuk ke arah langit dekat lapangan bola. Di sini, aku melihat lengkungan penuh warna itu bersinar cemerlang. Dan aku tahu, senyum kami pun mengembang dengan sempurna.

Sejak saat itu aku berkali-kali menunggu pelangi bersamanya di taman ini. Sebenarnya, banyak hal yang tak kutahu tentangnya.

“Oppa, rumahnya di mana?” tanyaku padanya. Kami kembali duduk di atas akar-akar pohon. Hujan baru saja berhenti, hanya titik-titik gerimis saja.

“Itu!” ia menunjuk sebuah rumah tepat di bawah lengkungan pelangi berada. “Yang warna hijau. Kapan-kapan main, ya?”

Aku mengangguk semangat. Suasana kembali sunyi, kami terdiam menikmati indahnya pelangi waktu itu.

*

Hari itu aku sendirian. Dia sedang tidak ada di sini. Sudah beberapa hari, mungkin ia sedang sakit.

Hari demi hari, tapi ia tetap tak datang. Sudah lama sekali. Lagipula, pelangi sudah jarang muncul. Padahal dulu sering sekali, setiap hujan datang pasti selalu muncul.

Kuputuskan untuk pergi ke rumahnya. Kaki kecilku berlari-lari menuju arah yang ditunjukkannya waktu itu. Rumah berwarna hijau ini, aku sampai.

“Oppa! Oppa! Taemin oppa?!” panggilku dengan suara lantang.

Hening, tiada jawaban. Aku pun mencoba berteriak berkali-kali memanggil namanya. Tapi tetap sama, tidak satupun menjawab dan dia tidak muncul.

Aku tetap berdiri di sana, kutundukkan kepalaku. Rasanya ingin menangis saja, tapi tetap tidak boleh! Dia bilang, kalau menangis pelanginya gak akan muncul.

“Cari Taemin ya sayang?” seorang nenek menyapaku lembut. Badannya agak gemuk tapi kerutan di wajahnya banyak sekali.

Aku mengangguk, nenek itu tersenyum padaku. Aku terus memandangnya. Mungkin tetangga oppa.

“Maaf ya, Taemin sudah tidak di sini lagi. Dia sudah pindah ikut appanya.”

Nenek itu mengusap kepalaku lembut, aku hampir menangis. Kuanggukkan kepalaku, tertunduk aku kembali pulang.

Pikiranku saat itu kosong, aku tak bisa percaya. Aku yakin dia pasti datang.

Berkali-kali aku menunggunya di taman, bahkan menunggunya di depan rumahnya. Tapi dia tetap tidak ada. Dia tidak datang. Sampai suatu ketika aku dapati rumahnya yang sudah ditempati penghuni baru. Ternyata dia tak pernah kembali, tidak pernah datang lagi. Dan sejak saat itu, aku tidak pernah melihat pelangi muncul lagi di hadapanku.

**

Taman ini masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Hanya saja warna-warni mainannya yang diganti, mainan yang sudah tua sekali.

Setelah waktu itu, aku tak pernah mengunjungi taman ini lagi. Ini pertama kalinya setelah sepuluh tahun aku tidak datang ke sini. Aku sadar sebenarnya aku tidak melupakan kenangan itu, hanya saja aku memang tidak ingin mengingatnya. Aku takut, ketika aku mengingatnya aku akan menangis seperti saat ini dan tidak mendapatinya di mana pun. Kedua pelangiku menghilang.

‘Bahkan tanpa hujan pun pelangi bisa muncul kok’ kata-kata Hyori terngiang di kepalaku.

Tapi Hyori, pelangi yang bagaimana? Bukankah sama saja, yang lain kan langka sekali. Aku harus bagaimana?

Keputusasaan itu kini membuncah.

Kuayunkan ayunan ini, mencoba mengingat-ingat waktu itu –kenangan yang sama sekali tidak ingin aku sentuh- semuanya, ya semuanya. Tetes-tetes gerimis sisa hujan tadi pagi masih ada. Semilir angin yang dingin ini pun berhembus.

Ketika aku beranjak masuk SMP, baru aku tahu kalau saat itu kedua orang tuanya sering bertengkar. Ummanya adalah teman berbelanja umma dulu. Kemudian saat dia pindah, orangtuanya bercerai dan dia harus ikut pada appanya. Mendengarnya waktu itu aku benar-benar ingin menangis, tapi masih bisa kutahan.

Bisa-bisanya dia waktu itu menghiburku yang sedang kacau, padahal mungkin keadaannya lebih rumit dan sulit dibandingkan aku. Kenapa dia tidak mau berbagi? Meskipun kami waktu itu adalah anak-anak, bukankah bisa saling menghibur? Dan dia juga tidak memberiku kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia memang payah.

“Dasar bodoh! Kau curang!” isakku kini. Air mata yang kutahan selama ini ingin kutumpahkan semuanya. Aku menangis, dan gerimis ini belumlah reda.

“Adik kecil!”

Seseorang menyapaku kemudian. Sapaan itu… ah ya! Kusadari sesosok orang berdiri di hadapanku. Aku menoleh kepadanya. Menatapnya lekat. Wajah bingung yang bodoh ini aku kenal. Mungkinkah….

Dia tersenyum. Pipinya tidak lagi tembem seperti dulu. Tubuhnya tinggi, ia memanjangkan rambut cokelatnya, namun masih tetap acak-acakan, kulitnya putih bersih. Apa ini tidak terlalu tiba-tiba? Tiba-tiba pergi dan tiba-tiba datang, apakah aku bermimpi? Tuhan, benarkah itu dia?

Tangisku semakin deras. Ia berjongkok di hadapanku. Kutepuk pipinya dengan kedua tanganku.

“Ini benar-benar kau?” tanyaku terisak dan ia mengangguk.

“Kau payah! Tiba-tiba muncul dan tiba-tiba pergi.” tangisku. Tangannya mengusap-usap kepalaku. Lagi.

“Mianhae, jeongmal” ucapnya singkat, rasa khawatir dan bersalah tergambar samar dari suaranya. “Berhentilah menangis, nanti pelanginya tidak muncul!” sambungnya mencoba menghiburku.

Kuusap air mataku. “Memang tidak muncul, tidak pernah”, isakku lagi.

Dia kembali tersenyum, mencoba menenangkan aku yang sedang rumit. Masih diusapnya kepalaku ini.

“Kali ini pasti. Kau tak percaya padaku?” ujarnya. Dia tahu cara membujukku.

“Bodoh!” ucapku pelan. Aku benar-benar terbujuk olehnya.

Gerimis masih berjatuhan. Suasana ini, suasana yang kukenal. Persis seperti sepuluh tahun yang lalu. Pohon beringin tua itu, lapangan bola di sebelahnya, dan taman ini, hawanya sama seperti waktu itu. Dan ketika angin berhembus dan gerimis pun reda, ia kembali tersenyum lega seperti waktu itu.

Kuikuti ke mana arah tangannya menunjuk. Lagi, lengkungan cantik itu berkilau cemerlang. Dan aku tahu senyum kami pun mengembang sempurna. Bersama layar putih itu, warna-warninya menghapuskan rinduku, rindu sejak sepuluh tahun lalu.

Lagi, dia membawakanku satu keajaiban. Aku bersyukur dia ada untukku. Juga pelangi di hadapanku, aku menuliskan doaku di atas warna-warninya. Semoga tak ada lagi perih, juga perpisahan. Dan semoga aku bisa lebih kuat, untuk selalu menggenggam hangat pelangi di sampingku dengan senyum.

END

***

Now, oxygen please?

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

33 thoughts on “Rainbow”

  1. OH MY, THIS IS SO SWEEEET!

    aku makin suka sama TAE awawawawawawawa *guling-guling sambil fangirling*

    ya ampun ini cerita pendek tapi sweet banget!

    i like this so muuuuch!
    SUPER NICE STORY THOR!!

  2. Daebak!!
    Nii ff membuat cintaku terhadap taemin smakin dlem.. *Kgak ada yg nanya*

    Wlaupun singkat, makna na nyampe bget..
    Dan membuatku terharu, dan pgen brada d posisina..
    Pkok na kreen bget dah.. (^^)/

    1. dr awal aku buat cerpennya sampe skarang jd ff, aku masih bingung apa maknanya *author goblok dan ga tanggung jawab* tp syukurlah 🙂
      gomawo yaa 🙂

  3. lhoh, ini ff aku yak? (beneran lupa sm ff sendiri)
    ganyangka sambutannya (?) bakal kaya gini, makasi banyak (_ _)
    makasi bgt buat admin, uda rela ngepost ff (remake) abal begini, plus readers yg ngasi tanggapan positif, jeongmal gomawo!
    maaf gabisa balesin komen satu-satu, blum sempet (ini jg nyolong waktu) tp insya allah aku coba balesin *perasaan gada yg minta*
    pokonya makasi banyaaak! *kiss-hug satu-satu*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s