What If – Part 6

Author             : Storm

Casts               : Yoora, Minho, Jonghyun, Yesung

Genre              : Romance, Friendship

Length             : Sequel

Rating             : General

Summary         : “Terlalu sedikitkah rasa cinta dihatimu itu untukku? Tidak bisakah kau gunakan rasa cinta itu untuk bertahan?”

What If-Part 6

Take it or Leave it?

Jonghyun POV

“Yoora ikut aku!” langsung kutarik tangan Yoora setelah melihat kissing scene-nya dengan dongsaeng yang kusayangi. Aku tidak menyangka mereka sudah berbuat jauh seperti ini. I’m fine jika Yoora hanya merebahkan kepalanya di pundak Minho. Tapi berciuman? Benar-benar tidak bisa kuterima!

“Ta..tapi..tapi Jonghyun aku..Minhoo?” Matanya mengarah pada Minho. Meminta pertolongannya. Tapi apa perduliku? Tanganku terus menarik tangannya pergi mengikutiku!

“Jjong kumohon jangan begini. Lepaskan tanganku.” Pintanya sambil menahan tarikanku yang semakin kencang di pergelangan tangannya. Kakinya benar-benar menolak untuk mengikutiku.

“Jangan melawan Yoora!” Teriakku padanya sambil tetap menarik tangannya. Aku benar-benar tidak perduli rengekannya.

“Hentikan hyung!” hingga kurasakan sebuah tangan berada di atas genggaman tanganku. Membuat langkahku benar-benar terhenti. Kutengokkan kepalaku. And here he is! My lovely dongsaeng. Berdiri dengan angkuhnya menatap langsung mata hyungnya.

“Lepaskan gadisku” katanya yang membuatku tertawa dengan kerasnya.

“Ahahaha..Gadismu?”

*BUG

“KYAAAAAAAAAAA! JONGHYUN!!” Yoora langsung teriak ketika melihatku mengarahkan tinjuku pada Minho. Tapi entah setan apa yang merasukiku, aku tidak memperdulikan teriakannya itu.

“Gadismu katamu??” ku ulangi perkataanku barusan. “Kau dengar Choi Minho! Gadis ini milikku! Dan akan selalu menjadi milikku! Mengerti?” teriakku tepat diwajahnya. Tanganku mencengkram kuat kaos polo putihnya.

“Hah! Dulu maksudmu?” nada sinis mengiri ucapan Minho. Tangannya dengan cepat menghempas tanganku dari polo-nya.

*BUG

“KYAAAAAAA! MINHO JANGAN!!” Yoora kembali berteriak. Tapi kali ini ia teriak pada Minho yang tiba-tiba melayangkan tinjunya padaku, yang jatuh tepat di sudut bibirku.

“Sekarang ia gadisku. Jadi jangan coba-coba mendekatinya!” Tangannya langsung menarik Yoora kesisinya. Membuat amarahku semakin meninggi. Dan..

*BUG

“KYAAAAAAAA! JONGHYUN CUKUP!”

“DIAM YOORA! JANGAN IKUT CAMPUR!” Aku membentaknya. Ya. Aku membentak gadis yang aku cintai. Entahlah apa yang terjadi pada diriku sampai kuberani membentaknya. Tapi ini semua gara-gara pria ini!

“Kau! Choi Minho! Suduh cukup aku berbuat baik padamu! Sudah cukup aku memperhatikanmu! Sudah cukup aku khawatir padamu! Sampai aku rela melepasnya untukmu!” Ku tunjuk Yoora pada saat mengucapkan kalimat terakhirku itu dengan tangan kiriku. Sedangkan tangan kananku mencengkram kuat polo-nya.

“Tapi kali ini tidak bisa! SHE IS MINE! MINE! NOTE THAT!” kudorong tubuhnya ke belakang. Sebelum akhirnya kuarahkan kakiku ke arah gadis yang sedang duduk meringkuk dengan air mata dipipinya. Menyaksikan sesuatu yang sangat ia benci.

“Ayo Yoora kita pergi” Tanganku mencoba membangunkannya dari duduknya. Tapi gadis ini tidak bergerak sama sekali. Seolah nyawanya sedang tidak berada dijasadnya. Dia benar-benar kehilangan kesadarannya.

“Jonghyun jahat! Jahattttttt!!” Yoora teriak tepat dihadapanku. Tangannya mendorong pundakku. Matanya merah. Bengkak. Dan pipinya basah. Benar-benar basah. Membuat hati ini benar-benar menangis melihatnya.

“Maaf Yoora..aku tidak bermaksud membuatmu menangis seperti ini. Maaf. Melihatmu mengecup bibir lak-laki itu. Benar-benar menyulut emosiku.” Kataku padanya sambil menghapus air mata dipipinya.

*Buk

“Jangan sentuh gadisku!” Minho tiba-tiba saja mendorong tubuhku. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya pada Yoora. Tangannya kini memegang kedua bahunya. Minho menatap dalam matanya. Hah! Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat didepanku ini.

“Lepaskan tanganmu darinya” ujarku sambil menghempas tangannya dari bahu Yoora. Kembali kuhapus air matanya.

“Kau! Sudah kubilang jangan menyentuhnya!!” Minho kembali berulah.

“Kau yang jang…”

“HENTIKAN!! CUKUP HENTIKAN!” Yoora teriak tepat dihadapan kami. Matanya memandang kami dengan rasa benci. Air matanya menjadi bukti kalau ia tidak suka akan semua ini. Aku dan Minho langsung terdiam mendengar teriakan itu darinya. Benar-benar terdiam.

“JAHAT! Kalian benar-benar JAHATT!!” tubuh yang tadinya duduk meringkuk dengan air mata dipipinya kini beranjak bangun dan pergi dengan cepatnya.

“Yoora!”

***

“Yoora!” Minho segera bangun dari duduknya dan mencoba mengejar Yoora. Tetapi gadis itu tetap saja berlari dengan kencangnya tanpa melihat ke belakang. Aku tau Yoora. Ia benar-benar tidak bisa melihat sebuah perkelahian.

Shit!” Tangan Minho terlihat meninju dinding disampingnya.

“Kau tidak tau ia benci melihat perkelahian? Benar-benar benci!” Kataku sambil berjalan melewatinya. Ku yakin nada sinis itu masih ada dalam kalimatku tadi.

“Kau!” Tangannya menarik kaosku. Membuatku berhadapan dengannya.

“Kenapa?” Tanyaku santai.

“Benar-benar keterlaluan!” Minho menatapku tidak percaya. Tangannya mencengkram kaos biru ku. “Kalau kau tau, ia tidak suka melihatnya. Kenapa kau malah membiarkannya melihat perkelahian kita?” ujarnya dengan nada tinggi.

“Jangan berteriak di hadapanku. Itu salahmu. Kenapa kau berani mengecupnya?”

“Ya Tuhan hyung! Tidak bisakah kau…arghhh!! Dasar egois!!” Ujarnya sambil berjalan dengan setengah berlari. Huh! Egois? Kalau aku egois aku tidak mungkin meminta gadis itu untuk menerima mu.

Tapi terserahlah. Yang pasti Yoora tidak akan mau bertemu salah satu dari kita lagi. Itu pasti.

***

Yoora POV

*BUG

“Sekarang ia gadisku. Jadi jangan coba-coba mendekatinya!”

*BUG

“SHE IS MINE! MINE! NOTE THAT!”

Andwae! Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin!” Aku menolak keras apa yang baru saja kulihat. Dua orang namja itu. Mereka berkelahi? Mereka saling bunuh karenaku?

“Tidak! Ini tidak mungkin! Tidak mungkinnnn!!”

*BUG

“Sekarang ia gadisku. Jadi jangan coba-coba mendekatinya!”

*BUG

“SHE IS MINE! MINE! NOTE THAT!”

Tapi semakin keras pikiranku ini menolak, semakin jelas pula bayangan perkelahian itu di-ingatanku. Minho yang jatuh meringkuk. Lebam di wajah Jonghyun. Itu semua gara-gara aku.

“Mereka berkelahi karena aku. Semua gara-gara aku. Gara-gara akuuu!! Andwae! Andwaee!!” kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Mencoba menutupi mata ku yang mungkin sudah merah. Atau bengkak. Atau.. “Arghhh!! Ini tidak mungkin!!”

Ice Cream Nona muda?

“Bagaimana kalau mereka saling bunuh?”

Nona, Ice cream coklat?

“Tidak! Hal itu tidak mungkin terjadi! Tidak mungkin!”

Ice cream nona muda? Siapa tau bisa menenangkanmu?” Ish.. Penjual ice cream ini benar-benar berisik!! Benar-benar tidak lihat situasi!

“Ya! Ahjuss- Op..pa?” Niat ku untuk memarahi penjual ice cream itu segera mereda ketika kulihat Yesung oppa berada di depanku dengan ice cream ditangannya.

“Hahaha..kau pikir aku tukang ice cream keliling? Mana ada malam-malam seperti ini Yoora? Ini makanlah..” Ujar oppa sambil membuatku menerima ice cream-nya. Dan duduk di samping ayunan milikku.

“Sudah berapa lama di taman ini?”

Molla. Yang pasti dari sore.” Jawabku sambil membuka bungkus ice cream itu dan memakannya.“Darimana oppa tau aku ada di sini?”

“Aku bukan kakak yang baik jika tidak tau adiknya ada dimana..” jawab Oppa sambil menjilati ice creamnya.

“Tuker dong Yoora. Kayaknya enakan yang itu deh..” pintanya sambil menukar ice cream ku dengannya. Kakinya bergerak ke depan dan ke belakang di atas tanah taman ini. Membuat tubuhnya terayun kecil.

“Kau seperti anak kecil oppa. Makan ice cream di atas ayunan seperti itu hahaha” ledekku.

“Kamu yang lebih anak kecil.. Berlari dengan air mata di pipi tanpa arah seperti ini.” Bibirku langsung terkatup rapat mendengarnya.

“Ada apa?” Aku hanya diam merespons pertanyaan dari oppa-ku itu.

“Eh! Ayo cerita! Kenapa? Kenapa sampai teriak ‘Andwae!’ ‘Tidak mungkin’?” katanya sambil menirukan teriakanku.

“Ehm..aku..” Kutarik nafas panjang sebelum melanjutkan perkataanku. “Oppa..kau pernah bilang kan apapun yang terjadi aku harus tetap meneguk racun yang diberikan oleh Juliette ku?” Yesung oppa menghentikan ayunannya dengan kakinya.

“Benar. Lalu?”

“Kurasa aku akan berhenti meminumnya.” Kali ini oppa mengalihkan pandangannya dari jalan raya dan menatapku. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka berkelahi.”

“Sudah umum bukan? Dua orang pria berkelahi untuk mendapatkan gadis yang mereka cintai?”

Common? You said it’s common? Oh! Give me a break!” Aku tidak percaya dengan yang kudengar. “Bagaimana bisa kau menyebut hal ini sudah biasa, oppa? Mereka berkelahi oppa. Berkelahi! Bertengkar! Saling menyakiti! Dan apa yang lebih buruk dari itu??”

“Ungkapan ‘Yang kuat yang menang’ tidak hanya berlaku di hutan atau di kompetisi saja Yoora. Tapi juga dalam cinta. Kau tau dunia percintaan itu memang lebih semu dibandingkan dengan dunia nyata. Tapi kau juga harus tau, bahwa dunia percintaan itu juga lebih kejam. Jadi jangan cengeng Yoora. Bahkan Juliette pun memilih untuk meminum racunnya kan?”

“Tapi tidak berarti mereka harus saling bunuh. Tidak berarti mereka harus menjadi licik. Ti-”

Welcome to the real world baby.” Aku masih memandang oppa-ku ini. Memberinya tatapan tidak percaya. Sangat tidak percaya.

“Oppa, ada apa denganmu? Kenapa kau begitu enteng memandang ini semua? Kenapa kau terkesan jahat? Terkesan cuek. Ter-”

“Kau tau Yoora, banyak cerita percintaan di luar sana yang sama sepertimu. Kisah cinta segitiga. Pun tidak jarang sang gadis mencintai salah satu dari dua orang yang berteman baik.” Yesung oppa memutus kalimatku dengan ceritanya ini.

“Dan kau salah satunya?” Tanyaku padanya dengan alis kanan terangkat.

“Kau tau apa yang gadis-gadis di luar sana lakukan?” Oppa ku ini kembali tidak menjawab pertanyaanku. Melainkan memberiku pertanyaan lain.

“Mereka tetap mempertahankan cinta mereka. Walau mereka tau mungkin akan menghancurkan persahabatan kedua orang itu.” Aku tertawa mendengarnya.

“Aku tidak sejahat itu oppa.  Aku tidak mau salah satu dari mereka mati.”

You are too naïve, sist. You love Minho, don’t you?

So what? Hanya karena aku mencintai Minho. Tidak berarti aku akan membiarkan kedua namja itu saling bunuh demi diriku. Terlebih aku tau mereka hyung dan dongsaeng. Mereka bersahabat.”

“Tapi Yoora..”

“Sudahlah oppa.. Aku tetap akan berhenti meminum racun yang sudah kuteguk.” Kali ini aku yang memutus perkataannya. Sudah cukup. Ya sudah cukup. Tidak akan kulanjutkan.

“Apa kau tidak benar-benar mencintai Minho?” Sekali lagi aku menarik nafas panjang.

Molla..Mungkin saja. Ya mungkin aku tidak benar-benar mencintainya. Atau aku terlalu mencintai kedua orang itu. Aku terlalu takut kehilangan mereka.” Lirihku sambil menatap tanah di taman ini.

“Kurasa kau mungkin tidak benar-benar mencintaiku.” Bukan. Yang berbicara barusan bukan Yesung oppa. Melainkan..

“Minho? Oppa? Kau memberitau-nya aku di sini?” Ya. Minho. Dan aku langsung memberikan oppa ku itu pertanyaan melalui pandanganku. Maksudnya apa? Kenapa oppa malah memberitaunya?? Err!

“Baiklah..aku pergi dulu.” Dan kau tau? Oppa ku itu langsung bangkit dari ayunan yang didudukinya. Tanpa menjawab pandanganku.

“Selesaikanlah masalah kalian” ujarnya sambil berlalu.

“Ya! Oppa!! Jangan pergi! Oppa!” Ish..apa-apaan oppa ini. Kenapa malah meninggalkanku? “Oppa!!” teriakku lagi. Aku berniat mengejar oppa-ku itu sebelum akhirnya..

“Han Yoora duduk!” Sebelum akhirnya Minho menghentikan langkahku dengan perintahnya itu. Kubalikkan badanku. Dan kulihat namja yang sekarang tengah duduk di ayunan tempatku tadi.

“Duduklah Yoora..” Tangannya mengenggam tanganku. Matanya memintaku untuk duduk. Tapi aku tetap berdiri.

“Duduklah kumohon. Atau kau mau aku menarikmu duduk di atas pangkuanku?” katanya sambil tersenyum.

“Ish..yang benar saja! Awas kalau bera- Ggyaaa…”

“Kau pikir aku tidak berani? Kau pikir aku main-main?” katanya setelah menarikku dan membuatku duduk di atas pangkuannya. Tangannya segera mengikat pinggangku erat.

“Ahhh…Minho lepasss..baiklah..aku akan duduk disampingmu. Sekarang lepassss” tanganku mencoba melepas tangannya. “Ihhh..MINHO! LEPAS!!”

“Aku tidak akan melepas apa yang sudah kugenggam Yoora.” Tangan yang tadi berusaha melepas tangannya dari tubuhku kini langsung berhenti. Kata-kataku langsung habis mendengar ia berkata seperti itu. Benar-benar habis. Membuat taman ini sunyi. Membuat suara desing kendaraan benar-benar terdengar jelas.

***

“Kau benar-benar ingin berhenti? Ingin menyerah?” tanyanya setelah beberapa saat kami ditemani hening. Tangannya masih melingkar dipinggangku. Dan kini dagunya sudah berada di atas pundak kananku. Membuat pipi kami bersentuhan.

“Kurasa itu yang terbaik Minho.” Kurasakan ia menarik nafas cukup panjang.

“Tapi kita baru mulai Yoora. Baru tadi pagi bukan? Kita bahkan baru berbaikan. Dan kau sudah mau menghentikan semua ini?” Tangannya semakin erat mengikatku ketika ia mengucapkan semua itu.

“Ehm..sudah kuputuskan untuk menyerah Minho.”

“Menyerah atas apa Yoora? Kita baru mulai. Belum ada apapun. Ibaratnya, kita itu baru membeli buku. Kita bahkan belum menulis nama kita di buku itu. Belum ada nama Minho dan Yoora. Sekarang kau pikir. Kau menyerah untuk apa? Untuk menulis nama kita di buku itu?” Terus terang aku bingung untuk menjawab apa. Yang bisa kulakukan adalah diam.

“Jawablah Yoora. Kau mau menyerah atas apa?”

“Aku..Aku hanya tidak bisa melihat kalian bertengkar. Aku tidak bisa melihat kalian saling bunuh. Aku ti..”

“Aku tidak akan berkelahi lagi dengan Hyung. Jika itu yang kau khawatirkan.” Kurasakan tangannya kini melipat tanganku dan menguncinya bersama tangannya yang besar.

“Tapi..”

“Walau hyung memukulku sampai berdarah. Aku tetap tidak akan melawannya. Aku berjanji. Tapi kumohon Yoora bertahanlah. Ya? Setidaknya biarkan buku yang kita beli itu terisi. Kumohon”

“Kau akan sakit Minho. Kau akan sangat lelah.” Kujelaskan padanya hal terburuk yang mungkin akan terjadi.

“Siapa perduli? Aku tau ini cliché. Aku tau ini terdengar picisan. Tapi selama kurasakan genggaman tanganmu padaku. Selama kau berdiri disampingku. Selama aku bisa merebahkan kepalaku dipundakmu. Aku bisa menahan rasa sakit itu. Aku bisa bertahan. Aku tidak akan lelah.”

“Aku..Ehm..” Aku tau ia sungguh-sungguh. Aku tau ia serius. Tapi aku..

“Kau masih ragu? Terlalu sedikitkah rasa cinta dihatimu itu untukku? Tidak bisakah kau gunakan rasa cinta itu untuk bertahan? Hmm? Tidak bisa?” Kurasakan nada suaranya mulai agak tinggi. Mungkin ia kesal karena sikapku ini..

“Kau tau aku sangat menyayangimu. Kau tau pasti itu.” Jawabku.

“Kalau begitu bertahanlah.” Pintanya padaku. “Bertahanlah untuk perasaanmu itu Yoora.”

“Aku bukannya tidak mau mempertahankan perasaan ini Minho… Aku hanya tidak mau melihat kalian….”

“Kau tidak mau melihat kami bertengkar kan? Kau tidak mau melihat kami berkelahi kan?” Aku mengangguk menjawabnya. Minho menarik nafas panjang sebelum ia semakin erat mengikat tubuhku dengan tangannya.

“Sayang, aku kan sudah bilang tadi. Aku tidak akan pernah membalas pukulan hyung padaku. Dan aku tidak akan pernah berkelahi dengannya lagi. Kau mau aku mengatakannya berapa kali? Hmm?” Jika tadi Minho yang menarik nafas panjang, kini aku yang menarik nafas panjang.

“Ahh..Minho kau tidak mengerti. Aku..”

“Sudah. Tidak ada aku aku-an lagi. Kita akan bertahan. Kau dan aku akan bertahan.”  Minho sangat tegas mengatakannya.

I don’t know Minho..I..

“Ahhh..aku tidak mau dengar apapun. Pokoknya, kau dan aku, WE are going to keep this love. OK?” Dan aku masih tidak bisa menjawabnya. Pikiranku kacau. Banyak hal yang melintas di pikiranku. Persahabatan mereka. Perasaan Jonghyun. Perasaan Minho. Argghh!! Kenapa rumit sekali??

And I don’t need your agreement neither your nodding, to say yes of this shit. I’ll keep you in my side. Period!” Ikatan tangannya semakin erat padaku. Membuatku benar-benar sesak.

“Aku menghargai kekerasan kepalamu itu Minho. Tapi..kurasa aku benar-benar tidak bisa bertahan. Maaf..” Dagu yang tadi tertopang di bahu ku kini berada di punggungku. Menemani mata, hidung, dan pipinya yang juga berada dipunggungku.

“Kau tidak dengar tadi aku berkata apa? Aku tidak butuh persetujuanmu untuk meneruskan hubungan kita. Kita akan tetap bertahan. Mengerti?” Suara yang tadinya sudah berat kini terdengar makin berat.

“Maaf Minho..” Sesaat tidak ada satu suarapun yang keluar dari bibir kami. Kami benar-benar menangisi hal ini. Ingin sekali aku mempertahankan Minho disisiku. Tapi jika persahabatan mereka yang menjadi korban. Lebih baik aku yang terluka. Lebih baik aku yang berdarah.

“Minho..bisakah kau melepaskan tanganmu ini.. Aku ingin pulang.” Pintaku padanya beberapa saat kemudian. Tanganku kembali berusaha melepasnya.

“Aku tidak pernah melepas apa yang sudah kugenggam.” Bukannya mengabulkan permintaanku. Namja ku ini malah semakin mempererat lingkaran tangannya.

“Ku mohon..lagipula, apakah kau tidak berat memangku-ku selama kurang lebih 1 jam?” tanyaku padanya sambil tersenyum. Walau mungkin ia tidak melihat senyumku. Tapi aku ingin tersenyum untuknya.

“1 jam? Kau menghitung waktu?”

“Tidak. Aku tidak bisa menghitung waktu jika bersamamu. Hanya menerka saja.”

“Ahaha..manis sekali ucapanmu itu, gadis cantik.” Sekali lagi kukatakan bahwa ia semakin erat mendekapku. Dan hatiku ini langsung menangis hanya membayangkan bahwa mungkin ini terakhir kalinya aku mendengar dua kata itu. Gadis cantik.

“Min-”

“Baiklah..kulepaskan malam ini saja. Besok aku akan kembali menggenggam tanganmu.” Perlahan ikatan tangannya mengendur. Aku berdiri dari pangkuannya.

“Gomawo.. ^^”  Badanku membungkuk sedikit kemudian tersenyum padanya. Kulihat ia juga tersenyum. Dan setelah itu kulangkahkan kakiku.

“Yoora” Tapi baru beberapa langkah aku berjalan. Lelaki ku ini kembali memanggilku. Berjalan ke arahku dengan senyum diwajahnya.

“Aku menyayangimu” Tangannya merengkuh kepalaku dan tidak lama kurasakan kecupan hangat dikeningku. Segera kubalikkan badanku. Dan kembali berjalan.

Hangatnya kecupan itu mengalahkan eratnya ikatan tangannya tadi. Sesak yang tadi kurasakan, tidak ada apa-apanya dibandingkan ini. Kecupan hangat dan perkataannya itu berhasil melukai dasar hatiku. Meruntuhkan pertahanan mata ini. Membiarkan serdadu bening menyerang pipiku, dan menembakkan senjatanya hingga membuat mataku merah.

“KITA AKAN BERTAHAN YOORA. AKAN BERTAHAN. KAU DENGAR??” Kupercepat langkahku mendengar teriakannya itu. Sangat cepat. Walau ingin menoleh ke belakang dan berteriak balik bahwa ‘aku akan bertahan’. Tetap saja kata-kata itu tercekat.

“AKU MENYAYANGIMU!!” Sial! Sial! Sial! Kenapa aku masih bisa mendengar teriakannya? Kurang cepatkah langkahku?

“AKU MENYAYANGIMU HAN YOORA!!” Arghh! Hentikan Choi Minho! Kau ingin membunuhku? Kubelokkan arahku, menuju sebuah gang kecil. Dan menyenderkan tubuhku di sana. Air mata terus turun dipipiku. Dan tangan ini tetap berusaha menghapusnya.

“Aku juga menyayangimu. Sangat menyayangimu. Sangat. Sangat. Sangat menyayangimu!”

***

TBC

P.S: KYAAAAAAAAA~ SALAHKU SALAH KU !!!!!!!

Aku hari ini lupa ngejadwalin FF yang paginya T.T, jadi terpaksa ya hari ini jam 12 publish 3 FF sekaligus huhuhu

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

28 thoughts on “What If – Part 6”

  1. Uaaaa~ jd yoora bakal tetep sama minho?
    Aaaaa~ penasraaaaan XD
    Keren keren keren!
    Ditunggu lanjutannya eonn ^^

    1. waduhhh kurang tau juga deh Chi..sama Minho atau ga
      ntar aja liat akhirnya ya kekekeke

      thx u for reading and leaving comment ya Uchiii..

  2. SERUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!
    lanjuttt!!!!!!! author jangan kelamaan ya hiatusnya ;))

    makin penasaran.. semoga jadinya ama minho.hehehhee

  3. kyaaaaa… minho so sweet!!,,,

    dripda rbutan mending sma q aja deh minho…*dibantai bini2.X minho* hehe

    .aku ska ff.X, lanjut author… salam knal

  4. hwaa…. yesung oppa jahil … ahahahahha
    minho oppa bener2 sayang sama yoonra ???

    bagus… bgt author ,…..
    penasaran kelanjutannya kayak apa dan akhirnya siapa yg mendapatkan cinta yoonra ??

  5. Aaaaaaa!!!! Minhonyaaaa:3:3:3
    Kenapa sih sama jjong aish ngeselin amat orang
    Ayo buruan part selanjutnya keluaaaar!
    Minho sama yoora ttp harus bareng2 yaaaa!!!

    1. Ehm..ehehe..Minho sama Yoora ya?
      Heee kayaknya Yoora jadiannya sama Yesung aja deh kekeke

      gomawo for reading yaaa ^^

  6. Wahhhhhhh parrah nih
    Jong nyebelin deh
    Dulu dia nyuruh yoora ama minho
    Giliran udah ama minho aja
    Ishhhhh
    Ganggu deh jongnya *ditabok blingers
    Ayo minho pertahankan yoora
    pasti nanti jong ngerti ko
    Yakin deh
    Biar gimana pun
    Minho itu kan dongsaengnya

  7. awalnya ga setuju ama minho..
    tapi lama2 Jongya ngeselin…
    aku bimbang (?) yg mestinya bimbang kan yoora ya?? hehehe –v
    Laaanjuuuutt penasaran endingnya ini maahh

  8. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.
    Qw suka cepetan ya bikin lanjutannya.
    Makin rame.
    Ikut tertekan qw bacanya *lebay*
    Jangan lama hiatus-nya
    Bisa mati penasaran qw.

  9. kyaaaaaaa….
    Mesra bgt minho-yoora pke acara pangku”an sgala…
    Aishhh…jinja….
    Yoora masih gx mau gtu b’tahan demi minong????
    Huhuhuhuhhu…namja seromatess minho ditolak…
    buat aq aj deh klo gtu….
    #plakplakplak….

    dttgu nex chap.a yowwwwww

    1. Ahahhaha kan ceritanya dilema sama Jonghyun jugaaaaaaa

      ok ok wait for the next chapter yaaa ^^

      gomawooo ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s