BLOODY 19th – PART 3

BLOODY 19th

PART 3

Author : Lynda a.k.a Lynmvpshyni, Lida a.k.a SHyning SoHee, Ia-chan a.k.a Eunbling-bling

Cast:  Choi Sulli (Sulli f(x)), Choi Minho (Minho SHINee), Lee Taemin (Taemin SHINee), Park Heamin, Choi Sohee, Choi Eunhee.

Genre: Thriller, Horror, Romance, Alternate Universe

Length: Chaptered

Rating: PG 15 * ratingnya turun kekekeke

Little Inspired: Drag Me to Hell, Haunted School

PS: Anggep umur Sulli Taemin Jiyoung itu 19, Minho 20, Onew 21 O.K.. kekekekeke~

****************************************************************

“Tentu saja! Setiap musim dingin aku selalu sendirian menunggu seseorang. Mungkin bisa dibilang selama-lamanya aku akan kesepian.”

“Ehehe~ tidak mungkin, pasti anda bergurau. Di dunia ini walaupun anda kehilangan seseorang anda masih mempunyai seseorang yang akan menghibur anda sehingga tidak kesepian lagi.”

Halmony itu tersenyum lebar, ia menyeringai kearah Sulli sehingga membuat Sulli bergidik ngeri.

“Aku bukan sepertimu nak! Aku selalu kesepian! Dan aku suka hal ini! Aku bisa melihat dari ekspresi wajahmu, kau kehilangan seseorang yang sangat berharga! Sebaiknya kau jangan selalu mempercayai semua orang! Lebih baik kau kesepian seperti ku! Karna nantinya kau tidak ingin kan melihat semua orang yang kau sayangi terbunuh oleh sebuah kutukan mengerikan?”

Halmony tua itu beranjak pergi dari tempat itu, ia membuatnya bingung. Ia mengatakan hal yang hampir sama seperti yang dikatakan Jinki-ssi. Dan mimpi itu… mimpi-mimpi itu, ia telah melihat kedua orang tuanya dan Jiyoung meninggal dengan tragis, mereka orang-orang yang sangat berharga untuknya. Dan satu hal lagi, kutukan? Kutukan apa yang ia maksud. Ini diluar dari logikanya. Ia terus saja memikirkan hal tersebut, sehingga ia tidak menyadari ponselnya berdering. Ia melihat kearah layarnya, ternyata Taemin yang menelpon. Ia menekan tombol penjawab.

Tuts…

“Yeoboseyo?”

“Sekarang kau ada dimana?”

“Aku di pertigaan jalan menunggu bus! Memangnya kenapa?”

“Bukankah kau bilang, kau dijemput Minho Seonbae? Lebih baik, kau telpon Minho Seonbae untuk menjemputmu, lalu pergilah kerumah Jiyoung, arraseo?”

“Hey.. tunggu.. tunggu dulu! Memangnya ada apa dengan Jiyoung apakah dia sudah pu…”

Teet… teet…

Taemin telah memutus telponnya. Sulli penasaran, ia bergegas mencari kontak Minho yang ada di ponselnya.

“Yeoboseyo??”

“Ne, Yeoboseyo! Kenapa jam segini baru pulang?”

“Tak usah bertanya-tanya Oppa, cepat jemput aku di pertigaan jalan di dekat kampus”

Sulli segera mengakhiri telponnya, dan menunggu tidak sabar. Teet… Teet… sebuah klaskson mobil berbunyi, Sulli menoleh kearah sumber suara klakson mobil itu. Red-Ferrari yang begitu familiar muncul dihadapannya. Seseorang yang berada di dalam mobil itu membuka kaca jendela mobil tersebut.

“Sulli, ayo cepat masuk, diluar dingin sekali.”

Sulli mengangguk, dan bergegas membuka pintu mobil itu.

“Oppa, kau tahu kan rumah Jiyoung. Nah! Kita harus cepat kerumahnya!”

“Ah! Memangnya ada apa?”

“Jangan bertanya padaku, aku juga tidak tahu!”

“O.K!”

*******************************************

Sulli heran kenapa banyak polisi, dan orang-orang di depan rumah Jiyoung. Ia dapat melihat Jinki-ssi menangis di depan pintu ek yang berukirkan dedaunan.

Knock… Knock…

Sesorang mengetuk kaca mobil red-Ferarri. Minho membukakan kaca mobil itu, terlihat Taemin dengan raut wajah yang begitu sedih. Sulli membuka perlahan pintu mobil, dan menutup pintunya kembali.

“ADA APA? ADA APA?” Teriaknya.

Sulli dapat melihat Taemin menitikkan air matanya. (*Author 2 sambil nahan sakit TT^TT : Cengeng ternyata Taemin, ekekekeke.. *Plakk*)

“Jiyoung! Hiks… Jiyoung telah meninggal!”

“A… APA? KAU BERCANDA?? PASTI KAU BERCANDA TAEMIN!!!”

Sulli mengamuk, Taemin mencoba menenangkannya. Taemin hendak memeluknya, tapi Minho reflek menarik Sulli dan memeluknya. Minho dapat mendengar Sulli terisak di pelukannya.

“Hiks… Kenapa ia meninggal?? KENAPA, Oppa!!”

“Sudahlah Sulli, mungkin kecelakaan. Setiap manusia tak akan luput dari kecelakaan, bukan?”

Sulli tak dapat berbicara lagi. Ia terus menangis di pelukan Minho, matanya sembab oleh air matanya.

*********************************

“Semoga arwahnya tenang di alam sana, amin!!” Ucap seorang pendeta di siang hari  yang begitu mendung.

Orang-orang meletakkan sebuket bunga di pusaranya. Sebuah potret-nya yang sedang tersenyum gembira bersandar di nisan yang bertuliskan RIP Kang Jiyoung 05 Januari 2011. Sulli tak kuat menopang tubuhnya. Ia berlutut di pusaranya.

“Ji…yo…ung!! Kenapa kau pergi secepat ini!! Hiks…!!” Isaknya.

Minho yang sedari tadi dibelakang Sulli, mencoba berjalan kearah Sulli yang terkapar dengan lemah di pusara Jiyoung.

“Sudahlah Sulli, ayo kita pulang. Hujan akan segera turun.”

Minho menopang tubuh Sulli. Sulli agak kaget, ia melihat sesosok yang begitu familiar. Sosok itu sedang duduk disebuah tempat duduk yang dikelilingi oleh pohon-pohon rindang. Itu halmony yang ia temui di halte bus kemarin. Ia tersenyum kearahnya, Sulli bergidik ngeri, ia melirik Minho kemudian mencoba mengintip halmony tadi, tetapi halmony itu sudah menghilang. Sulli memutar Kepalanya kearah pusara Jiyoung, raut wajahnya berubah sedih lagi. Mimpi itu ternyata benar-benar terjadi. Apa mungkin orang tuanya juga akan meninggal secara tragis seperti yang ia lihat di dalam mimpinya?

“Sulli!” Sapa seseorang.

Minho dan Sulli menoleh kearah sumber suara itu.

“Jinki-ssi?” Sapa Sulli.

“Hati-hati! Jangan sampai seperti Jiyoung!”

mereka berdua heran dan saling menatap.

“Apa maksudmu?” Ucap Minho emosi.

“Dan kau juga harus hati-hati.” Jinki menatap tajam mata Minho dengan lekat, seakan-akan ia bisa membaca masa depan yang akan datang.

Jinki meninggalkan mereka berdua. Taemin dan Jinki saling berselisih. Tak sengaja Jinki menatap matanya Taemin, nampaknya ia bisa membaca pergerakan tatapan mata Taemin. Tiba-tiba Taemin melirik kearah Jinki. Jinki tetap saja menatap Taemin dengan tajam. Taemin mengerutkan alisnya, ia agak heran dengan sifat sepupu Jiyoung tersebut. Tetapi ia mengacuhkannya.

“Hey, kalian. Cepatlah pulang. Hujan akan turun!!” Teriak Taemin.

“O.K!” Jawab Minho.

“Ayo Sulli kita pulang. Kau sepertinya harus banyak istirahat.” Minho tersenyum kearah Sulli.

***********************************

Sudah beberapa hari sejak kematian Jiyoung,  namun sulli masih saja dalam keadaan berkabung. Tak berselera untuk melakukan apapun bahkan hanya untuk sekedar berjalan. Kakinya terasa lumpuh dan sulit untuk digerakkan. Ia terus mengurung dirinya dikamar, duduk memeluk lututnya dan menangis sesekali ketika mengingat kenangannya bersama sahabatnya itu.

Knock..knock….

Seseorang mengetuk pintu kamarnya dan sulli tau pasti siapa sipengetuk pintu. Dia tidak lain adalah namjachingunya ‘Choi Minho’ sekaligus pemilik resmi kamar yang sedang ditempatinya. Yap.. ia masih berada diapartemen Minho karna Eomma dan Appanya yang belum juga kembali dari rumah Halmoninya. Sulli bahkan tidak mengetahui mengapa Appa dan Eommanya masih belum kembali juga, yang sekarang memenuhi pikirannya hanya kenangan-kenangan manis yang ia jalani dengan sahabatnya itu.

“Sulli… kajja! Makan malam!” ajak Minho dari luar kamar.

Sulli hanya diam tak memberikan respon apapun, bahkan ia terlihat seperti tidak mendengar apa yang Minho katakan. Untuk beberapa saat keadaan hening, hingga akhirnya terdengar desahan nafas panjang dari namja bertubuh jangkung itu. entah untuk kesekian kalinya ia membuang makanan, hasil penolakan Sulli.

Sulli masih dalam posisinya sejak beberapa hari yang lalu, duduk meringkuk  dan memandang kosong dinding bercat biru didepannya. Miris melihat keadaannya, matanya yang bengkak dan timbul lingkaran hitam dibawah kelopak matanya, rambut yang tak terurus  serta baju yang terlihat kumuh dan kusut. Ia bahkan tidak terganggu dengan mimpi-mimpi yang selalu saja menenornya kemarin-kemarin karna ia hampir tidak tidur setiap malam.

Ekspresi raut wajah sulli berubah ketika sesuatu terjadi pada kandung kemihnya, yah kejadian alam yang wajar terjadi pada manusia. Tangannya memeluk perutnya, sebenarnya ia tidak mau menurunkan kakinya dari ranjang yang selama beberapa hari selalu hangat karna kehadirannya tapi ia juga tidak bisa membiarkan dirinya membuang kotoran hasil pencernaannya diatas tempat tidur yang jelas-jelas ia ketahui milik Minho. Hasil pencernaan? Padahal tak satupun makanan yang masuk kedalam perut mungilnya tapi kenapa harus membuang hasil yang jelas-jelas tidak diketahui asal usulnya. Dengan sangat terpaksa ia bergegas membuka handle pintu dan berlari menuju toilet.

Selesai dengan ritual pembuangan sampah dari dalam tubuhnya ia berencana untuk kembali kedalam kamar yang ia sebut ‘kamarnya’. Diurungkannya niatnya itu ketika melihat Minho tidur diatas sofa yang jelas-jelas lebih pendek dari tinggi badannya yang terkenal jangkung. Ia mendekat kearah Minho, menatap bersalah Minho yang tidur sangat tidak nyenyak disofa kecil itu. Sulli berjongkok disamping Minho menatap wajah tampan bermata belo didepannya. Diangkatnya tangan kanannya, dengan ragu diusapnya perlahan rambut Minho.

Ditariknya kembali tangannya ketika namja belo itu merubah posisi tidurnya. Tak berapa lama kemudian Minho menganti lagi posisi tidurnya.

“auw.. appu!” gumam Minho masih dengan mata terpejam seraya memegangi bahu sebelah kanannya. Terlihat jelas bahwa minho tidak nyaman dengan tidurnya.

“sofa yang begini kecil mana bisa kau jadikan tempat tidur! Bukannya merasa nyaman tapi malah menambah sakit dan pegal-pegal! Bapo!” ucap Sulli lirih sambil mengusap air matanya yang sedari tadi terus mengalir deras.

Ia baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu egois, mengurung diri dikamar yang jelas-jelas bukan kamarnya. Menolak untuk makan maupun bicara. Tidak menyadari bahwa orang yang ia cintai merasa khawatir dan dibuatnya susah.

Sulli meraih tangan Minho dan mengenggamnya kuat.

“mi..anhae!” ucapnya terisak. Minho yang menyadari ada seseorang yang mengenggam tanganya lantas bangun dan menoleh kesampingnya. Dilihatnya yeoja yang selama beberapa hari yang lalu selalu mengurung diri dan menolak untuk berbicara, kini ada disampingnya. Ia meraih puncak kepala yeoja itu.

“gwanchana!” ucapnya lembut.

Sulli lantas mendongakkan kepalanya menghadap kearah Minho yang sedang tersenyum manis kearahnya. Senyuman yang selalu membuat hatinya tenang dan berdebar-debar. Ia segera memeluk Minho yang kini sudah dalam posisi duduk.

“oppa! Mianhae! Aku selalu membuatmu susah!” ucap Sulli ditengah-tengah tangisnya.

“cup..cup.. uljima! Gwanchana!”

Minho melepaskan pelukan Sulli dan menatap lekat yeoja itu. Dihapusnya air mata yang terus mengalir deras dari mata sipit Sulli dengan jari telunjuknya yang ramping. Tangannya turun keleher Sulli dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sulli. Ia mencium bibir mungil Sulli dan berharap yeoja itu membalas ciumannya. Tapi Sulli hanya diam, namun mata sipitnya tertutup rapat seperti menikmati ciuman yang Minho berikan. (aduh.. author 3 nggak bisa kalo bikin FF nggak ada kissunya!! Kyaaaaa…. #ogah tobat!!).

**********************************************************

Are you ready?” tanya Minho yang melihat yeoja manisnya tengah sibuk memakai Safety Beltnya.

“Memang kita mau kemana, Oppa?” tanya Sulli yang sudah sukses memasang Safety Beltnya.

“kau akan tau nanti!” ucap Minho seraya menancap gas mobil Red-Ferarri-nya.

Beberapa menit kemudian mereka sampai disebuah bangunan yang terlihat tua dengan beberapa anak-anak yang sedang bermain didepan bangunan itu. sulli masih berdiri mematung didepan mobil Minho sambil mengedarkan pandangannya kesekelilingnya hingga Minho menarik tangannya dan membuatnya berjalan mengikuti Minho.

Minho menghentikan langkahnya didepan tiga orang yeoja yang usianya sekitar  7 – 9 tahunan. Sulli nampak menautkan kedua alisnya ‘apa ini anak-anak Minho?’ pikirnya seraya terkekeh.

“Jangan kau pikir ini anakku!” ucap Minho yang jelas saja membuat Sulli tercekat.

Sulli hanya menjawab pernyataan Minho dengan sebuah senyuman simpul.

“Minho-ssi! Waeyo?” Seorang yeoja berambut pendek berkuncir dua dengan hiasan pita biru menatap Minho dengan ekspresi -yang entah apaitu-

what happen!” Sambung yeoja lain yang memakai pakaian serba pink lengkap dengan sebuah bando pink dikepalanya

“ada apa?” Ucap yeoja kecil yang terakhir, berambut pendek dan terlihat lebih manly(?) diantara kedua yeoja kecil yang lainnya (author1: gue bener-bener ngakak, auhtor 3 ada-ada aja dah, maaf yee gue perbaikin sedikit nih scene, fufufu~)

“tumben!”

“sekali”

“kau datang kesini?” ucap mereka secara bergantian tapi membentuk satu pertanyaan.

“aku-hanya-kangen-pada-kalian!” eja Minho seraya menatap bergantian yeoja kecil didepannya. Ia kemudian berjongkok didepan ketiga yeoja kecil itu dan memeluk mereka. Ketiga yeoja kecil itupun tersenyum senang. Sedangkan Sulli hanya memilih diam seraya mengamati mereka.

Minho menoleh kearah sulli. “perkenalkan!! mereka adalah anak angkatku! Kajja perkenalkan diri kalian!” ucap Minho seraya menatap kembali kearah ketiga yeoja kecil itu.

“Park Heamin imnida!” ucap yeoja kecil dengan pita biru itu, menatap Sulli tanpa ekspresi yang jelas.

“Choi Sohee imnida.. Mannaseo bangapseumnida” ucap yeoja kecil yang serba pink, berdiri ditengah-tengah seraya membungkuk dan tersenyum kearah Sulli.

“Naneun Choi Eunhee imnida..” ucap yeoja yang terlihat paling manly, agak sedikit risih menatap Sulli, tapi berusaha disembunyikannya…

(* author 3 : buat para author.. mian yee… namanye aye pinjem ekekeekekke… udah terima aja! Bayangin kalean masih kecil and imut-imut! Apalagi gue!! Ekekekeke… #koplak)

“Choi Sulli imnida!” ucap sulli, sedikit membungkukkan badannya.

“dia siapamu Minho-ssi?” tanya Heamin to-the-point seraya menunjuk kearah Sulli.

“ya! kenapa kau memanggilku ‘Minho-ssi’? panggil aku appa!”

“tapi aku lebih suka memanggilmu ‘Minho-ssi’!”

“waeyo?”

“kau masih terlalu muda untuk menjadi uri appa!” ucap Sohee menjawab pertanyaan Minho yang jelas-jelas ditujukan kepada Heamin.

“jadi dia siapamu Minho-ssi?” tanya Eunhee yang terlihat penasaran.

“dia eomma kalian!”

“uri…eomma?” tanya ketiga yeoja itu berbarengan.

“ne?” Sulli lantas menunjukkan ekspresi bingungnya.

“bukankah kalian harus pergi kesekolah? Ini sudah jam 7! Ppalli berangkat! Nanti kalian terlambat!” ucap minho setelah melihat jam tangannya.

“ah! ne kau benar! Annyeong Minho-ssi! Upss Appa~” ucap heamin seraya mengandeng kedua dongsaengnya.

“annyeong Appa!” ucap Sohee seraya melambaikan tangannya.

“annyeong Appa! Sulli-ssi!” ucap Eunhee sambil melakukan hal yang sama seperti sohee.

“annyeong!” ucap Sulli sambil melambaikan tangannya kearah ketiga yeoja kecil yang baru saja berjalan meninggalkan mereka.

“menurutmu bagaimana mereka?” tanya Minho tanpa menoleh kearah Sulli, matanya masih focus memandang ketiga anak angkatnya.

Sulli lantas menoleh dan menaikkan salah satu alisnya. “maksudmu?”

“menurutmu mereka bagaimana?”

Sulli kembali melihat kearah ketiga yeoja kecil tadi. “mereka lucu dan terlihat bahagia!”

“kau tau! Sebulan yang lalu semua keluarga mereka meninggal karna tabrakan beruntun! Hanya mereka yang berhasil selamat!”

“mworago?” tanya Sulli dengan cepat menolehkan kepalanya kearah Minho.

“dan bisa kau lihat! Mereka bisa menjalani kehidupan mereka walau harus menyandang status ‘anak yatim piatu’ dan harus tinggal dipanti asuhan!”

Sulli diam, dia tau bahwa Minho belum menyelesaikan kata-katanya.

“jadi, aku ingin kau juga sama seperti mereka! Walau baru saja ditinggalkan oleh orang yang kau sayangi tapi waktu terus berputar! Tidak seharusnya kau selalu melihat kebelakang! Mulai sekarang cobalah untuk melihat kedepan! Masih banyak orang-orang yang lebih menderita dan kehilangan banyak orang yang mereka sayangi dari pada kau! Kau mengertikan apa maksudku?” ucap minho seraya menoleh kearah sulli.

Sulli mengangguk. “ne! Aku akan berusaha untuk melihat kedepan!”

Minho tersenyum seraya mengusak puncak kepala sulli.

********************************************************

“KYAAAAAAAAAAAAAAA!” Sulli berteriak sekeras yang ia bisa. Lagi-lagi mimpi-mimpi itu menerornya.

“Sulli! Gwanchana?” tanya minho yang sudah berada disamping Sulli.

“oppa!” Sulli langsung memeluk namja belo itu.

“ada apa? Apa kau bermimpi buruk lagi?” tanya Minho seraya mengusap punggung sulli yang berada dipelukannya.

Sulli mengangguk dalam pelukan Minho.

Beberapa menit kemudian tangis sulli mereda dan ia terlihat agak tenang. Minho mulai mengendurkan pelukannya.

“sepertinya kita harus cari solusi untuk mengatasi mimpi-mimpimu itu!” ucap Minho seraya melepaskan pelukannya dan memegang bahu sulli.

Sulli hanya mengangguk lemah.

**********************************************************

“oppa… bukankah ini….” pandangan Sulli terpaku pada sebuah bangunan rumah didepannya yang ia tau pasti bahwa itu adalah rumah Jiyoung.

“ne! Rumah Jiyoung! Tapi aku membawamu kesini bukan untuk mengingatkanmu kepada Jiyoung!”

“lalu?”

“kita akan bertemu dengan Jinki! Aku rasa dia tau sesuatu untuk mengatasi masalah mimpi-mimpimu!”

Sulli mengangguk lalu mulai melepaskan Safety Belt yang melilit tubuh mungilnya. Ia juga berpikir bahwa jinki mengetahui cara untuk menghilangkan mimpi-mimpi itu atau paling tidak ia bisa menjelaskan kenapa mimpi-mimpi itu terus menerornya.

Ting Tong….

Telunjuk ramping Minho tampak menekan tombol bell yang tertempel horizontal pada tempok pagar didepan mereka.

Sepi…. tak ada sahutan atau reaksi dari sipemilik rumah.

Ting….Tong….

Sekali lagi telunjuk Minho menekan bell. Tapi tetap tak ada respon.

Ting…Tong….

Minho masih mencoba menekan bell, berharap si pemilik rumah keluar dan mempersilakan mereka masuk. Tapi tak ada satupun tanda-tanda bahwa sipemilik rumah akan keluar. Minho menoleh kearah Sulli, pandangannya seperti meminta sebuah ide.

Sulli menoleh kearah bangunan disebelah rumah jiyoung. Pandangannya mendapati seorang ajumma yang sedang asyik menyiram kebun bunganya. Sulli berjalan menghampiri rumah itu.

“annyoeng haseyo!” sapa Sulli ramah.

“annyoeng!” ucap ajumma itu seraya menghampiri Sulli.

“ajumma! Apa aku boleh bertanya sesuatu?”

“mworagoyo?” tanya ajumma itu ramah.

“ajumma tau kemana perginya pemilik rumah itu?” tanya sulli seraya menunjuk rumah jiyoung.

“maksudmu Jinki?”

“ne! Apa ajumma tau kemana Jinki-ssi pergi?”

“kemarin dia pulang ke daegu!”

“daegu? Umm… boleh kutau dimana alamatnya?”

“ah! sebentar aku catatkan!”

“ne!”

Ajumma itu lantas masuk kedalam rumahnya, tak berapa lama kemudian ia keluar kembali dengan membawa secarik kertas ditangannya.

“yeogi!”

“gamsahamnida ajumma!” ucap Sulli seraya mengambil kertas tersebut dan membungkuk.

“ne!”

**********************************************************

“Daegu??”

“Ne, Oppa.. Jinki-ssi tinggal di Daegu.. ini alamatnya, tapi cuma nama jalannya yang tertulis. Kita tidak tahu tepat dimana letak rumahnya” Ucap Sulli.

“Hn.. Kalau begitu, biar aku yang mencari alamatnya, kuantar kau ketempat Taemin. Biar dia yang menjagamu selama aku mencari Jinki.. Bagaimana??” Tawar Minho.

Sulli menggangguk lemah, Minho tersenyum menatap yeojachingunya itu, kemudian menarik parsnelingnya dan segera melaju kearah apartemen Taemin.

*********************************************************

“Sulli..” Taemin mengibas-ngibaskan tangannya kemuka Sulli, berusaha membuyarkan lamunan Sulli. Sulli menanggapinya dengan ekspresi datar. Merasa diacuhkan, Taemin menghela nafas panjang, kemudian memegangi pundak Sulli, berusaha mengalihkan pandangan Sulli kedirinya. Taemin menatap lekat mata bening Sulli.

“Kau tidak boleh seperti ini terus. Percayalah, Minho Seonbae akan baik-baik saja” Ucapnya berusaha menenangkan pikiran-pirikan negatif Sulli.

“Tapi Taemin, aku takut. Hal yang buruk akan menimpa Minho Oppa, aku takut kehilangannya seperti aku kehilangan Jiyoung.”

“Sudahlah… Tenangkan dirimu Sulli.. Yakinlah kalau Minho Seonbae akan selamat..”

Sulli terisak pelan. Taemin melonggarkan cengkramannya pada pundak Sulli. Ia menaruh tangan kanannya tepat didada kirinya -letak jantungnya- lalu tersenyum kearah Sulli.

“Apapun yang kau lakukan, percayalah kau pasti bisa melakukan itu. Sekuat apapun kau berusaha kalau tidak didasari atas keyakinan semuanya akan sia-sia Sulli. Kau harus yakin kalau Minho akan selamat, jangan sampai kau termakan oleh pikiran negatifmu Sulli. Percayalah~”

Sulli semakin terisak, kemudian ia menghamburkan pelukannya kearah Taemin. Sulli memeluk Taemin erat, ia menangis dipelukan Taemin. Taemin tersenyum dan membelai-belai puncak kepala Sulli dengan tangannya yang lembut.

“Kau mau jalan-jalan Sulli?” Tawar Taemin, begitu merasa tubuh gadis itu berhenti bergetar dipelukannya. Sulli menggaguk lemah dan berusaha tersenyum -meski agak dipaksakan- kearah Taemin.

————————————————————————————–

“Dimana ini Taeminnie??” Ucap Sulli heran. Taemin membawa Sulli kesebuah tempat yang dikelilingi bukit dan hamparan padang ilalang yang tumbuh tinggi dan subur(?). Taemin menggandeng tangan Sulli dan menuntunnya kearah sebuah pohon err atau bisa disebut batang pohon yang telah mati. Didahannya yang menjuntai serta paling besar terlilit dua buah ayunan tua yang berdebu. Sulli mengeryitkan dahinya, heran mengapa Taemin membawanya ketempat sepi seperti ini.

Taemin terus tersenyum, yang entahlah apa artinya, dia mendudukan tubuh Sulli disalah satu ayunan dan mendorongkannya untuk Sulli. Lalu dia sendiri, segera duduk di ayunan sebelahnya dan mengayunkan ayunan itu dengan kakinya. Taemin tampak menikmati hal itu, berbeda dengan yeoja yang berada disebelahnya, Sulli menatap kebawah dengan ekspresi datar.

“Hey, kau tahu, dulu aku sering kesini dengan Hyungku…” Ucap Taemin, entah kenapa Sulli merasa nada bicara Taemin terdengar pilu, seperti ada perasaan bersalah didalamnya. Sulli memandangi sosok Taemin yang kini menengadah keatas langit biru, mengamati kumpulan awan-awan putih. Ada sebuah senyum terlukis diwajah Taemin, sangat indah bagi siapapun yang melihatnya, termasuk Sulli.

“Taeminnie??” Akhirnya Sulli angkat bicara saat melihat cairan bening menetes dari mata indah Taemin.

“Hn..”

“Err.. Maaf Taemin, kalau boleh tahu, dimana Hyungmu sekarang??” Sulli bertanya hati-hati, dia takut menyinggung perasaan Taemin.

Taemin tersenyum kearah Sulli, menatapnya sebentar lalu berpaling lagi dan menengada kelangit. “Taesun Hyung…. Dia.. Dia sudah pergi menemui Eomma dan Appa disurga.. Suatu saat aku pasti akan menyusul mereka juga, dan kami bisa berkumpul lagi”

“Eh? Aku tidak bermaksud..—“

“Sudahlah, tidak apa.. “

Suasanana Hening, hanya terdengar gesekan kaki yang beradu dengan tanah, tali yang berdecit akibat terayun.

“Sulli..”

“Ne?”

Taemin menyodorkan jari kelingkingnya kearah Sulli, Sulli menatap Taemin heran.

“Janji, kau tidak akan memberitahukan tempat ini pada siapapun.. Ini rahasia kita berdua..”

“Janji” Sulli menautkan kelingking mereka berdua, sembari tersenyum kearah Taemin.

—————————————————————————————–

“Mau ikut memasak??” Tawar Taemin

“Hah? Aku baru tahu kalau kau bisa memasak Taemin..” Ucap Sulli keheranan.

“YA!! Jangan meremehkanku ya! Kalau aku tidak bisa memasak aku tidak akan bertahan hidup sampai sekarang.. Pabo!!” Gerutu Taemin

“Ne..Ne.. Dasar Sensian.. hahaha” Kekeh Sulli

“Akhirnya kau tidak seperti zombie lagi, baguslah. Aku lebih suka kau yang seperti ini Sulli-ya” Taemin berjalan menuju dapur, tidak menyadari akibat kata-katanya itu yang sukses biarpun sedikit membuat pipi Sulli merona merah.

“Taeminnie!! Tunggu! Aku ikut!!” Sulli bergegas berlari menyusul Taemin

“Pakai ini” Ucap Taemin sembari menyodorkan celemek putih kearah Sulli. Sulli menggangguk dan menerimanya lalu memasangnya dibadannya.

“Kita masak apa Taeminnie?” Tanya Sulli

“Hn.. gimana kalau Bibimbap…”

“Aku tidak berselara makan itu Taeminnie..”

“Hmm… kimchi? Bulbogi? Atau…—“

“Ah~ Lupakan kita buat Chiken Milk Roasted saja..”

“Hah!!”

“Wae…”

“Tidak ada daging ayam difreezer Sulli-ya…”

“Huh! Payah kau” Sulli berjalan mendekati kulkas didapur Taemin dan membuka pintunya.

“Kepiting hah? Daging asap…hn.. kau menyimpan sekaleng Asparagus tidak Taeminnie” Seru Sulli

“Ne, ada didalam sana” Tunjuk Taemin keatas lemari dapur (author: aah~ pokoknya lemari yang biasanya ada diatas tempat masak itu lah, yang diisi bumbu dapur piring apasajalah.. ckck ketahuan jarang kedapur -.-‘)

“Bagus.. Kita buat Sup Kepiting Asparagus saja, Taeminnie…”

“Hmm.. tidak buruk juga.. Kajja!!”

>>Skip Adegan memasak<<

Author 1, tidak bisa dan tidak mau tau nih adegan panci kompor wajan dsb.. Soalnya author kagak bisa dan kagak hobi cooking mengcooking -.-‘. Jadi untuk kebaikan (??) bersama, mending diskip aja deh daripada mual-mual liat imajinasi anak autis(?) *naujubillah.. Kalau author maksa buat adegannya bisa jadi adegan panas.. (maksudnya dapurnya bisa kebakaran -.-‘)wokokokok

“Selamat makan..”

Sulli dan Taemin menyantap semangkuk sup kepiting Asparagus -tentu saja satu orang satu- yang baru mereka masak tadi. Keduanya makan dalam diam. Tiba-tiba ponsel Sulli bergetar, Sulli dengan sangat terpaksa menghentikan makannya yang tengah ia nikmati untuk menjawab telepon yang entah dari siapa.

“Yeoboseyo??”

“Yeoboseyo.. Sulli”

“Ne.. Minho Oppa?”

“Sulli kau masih diapartemen Taemin kan??”

“Ne.. Oppa..”

“Bagus, aku sudah menemukan rumah Jinki, aku akan menjemputmu segera.. Kau tunggu saja disana.. sebentar lagi aku akan sampai..”

Pip

“Waeyo??” Tanya Taemin dengan mulut penuh Sup, sehingga kata-katanya terdengar tidak jelas..

“Hn.. Minho Oppa sudah menemukan rumah Jinki-ssi, sekarang dia sedang kesini untuk menjemputku menemui Jinki-ssi..”

“Oh..” Reaksi Taemin, tangannya lalu mengambil gelas yang terletak disampingnya dan meminum isinya.

Ting Tong

“Eh? Itu sepertinya Minho seonbae.. Cepatnya…” Ucap Taemin. Sulli segera berdiri dan berlari kearah pintu depan dan membukakannya, benar saja apa yang dikatakan Taemin. Didepan pintu apartement Taemin, berdiri sesosok namja jangkung dengan mata bulat dan besar tersenyum kearah Sulli. Sulli langsung menghambur kepelukan Minho. Minho mendekap erat tubuh gadis itu.

“EHEM” Dehem Taemin, sambil melipat tangan didadanya, berdiri dibelakang Sulli, Lantas membuat Sulli dan Minho melepaskan pelukannya.

“Seonbae sudah menemukan rumahnya??”

“Ne, Taemin.. Secepatnya kita harus membawa Sulli kesana..”

“Hn..”

“Taeminnie, kau ikut kan?” Tanya Sulli

“Eh? Aku?? Aku…”

“Ikut saja Taemin, ayo kita pergi ke Daegu” Ucap Minho

Mereka bertiga lalu turun dari apartemen Taemin dan masuk kedalam Red Ferrari-nya Minho dan melaju ke Daegu menembus gelapnya malam.

TBC

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

22 thoughts on “BLOODY 19th – PART 3”

  1. aku curiga taemin nih -_-
    halaaaaah,kalo beneran taem,berarti taem jd pshyco!huaaaaaaa ><

    kajja lanjutan'y jgn lama2 ya author~penasaran tingkat dewa nih!
    blm lg sikap jinki sm tu halmeoni jg bkin penasaran!kajja ah,dtggu x)

  2. Ko taemin jadi mencurigakan
    Pas dia liat jinki
    Jangan jangan dia lagi pembunuhnya
    Tapi masa si taemin?
    Pasti onew tau sesuatu
    Lanjuuttt

  3. hwa…. tambah makin curiga sma taemin !!!!!!!
    hayoo taemin !!! ehh tunggu tapi masih ad nenek2 itu … wahhh pusing …
    gx bisa milih siapa yg jdi pembunuh disitu …

    yahhh ketauan authornya gx bisa masak, aku bisa dong, masak air, sama mie doang … klo masak telor pasti gosong, klo masak air pasti abis … gx tau knapa .. ?? *pletak!!!*

    wahhh ditunggu lanjutannya ….

  4. kalo taemin dibikin mencurigakan disini, itu author mau mengalihkan perhatian kan?? hohoho, keluar deh kesotoy-an saya. tetep yakin deh, pelakunya si minho. iya kan thor?

  5. Pasti jinki tau sesuatu! Awalnya aku ngira taemin, tapi jadi ragu.. ga tau kenapa XD Soalnya, biasanya tuh ff mistery kayak gini tuh salah satu tokoh dibikin mencurigakan, eh ternyata pelakunya tuh bukan si tokoh itu.. Jadi aku butuh percakapan mereka sama Jinki.. Biar makin jelass…

    jadi intinya, aku pengen lanjutannya yang cepet ya thor..! heheh 😀

  6. aigo, makin penasaran nih >.<
    tanggung jawab nih authornya ntar aku mati penasaran lho kyak lagu ini "sungguh aku bisa mati penasaran~~~*
    hehehe 🙂
    jangan 2min dong pembunuhnya ntar aku shock lagi trus mati shock *apaandeh -_-*
    hehehe :p
    ato2 jangan2 Sulli pembunuhnya???
    hahaha 😀
    lanjut yah~~~

  7. annyeong! ^^
    salam kenal,,
    aku reader baru di sini,, aku tetarik sama cerita-ceritanya. Apalagi yang thriller kayak gini..
    Daebak! ^0^
    lanjutin ya author, penasaran niih!

  8. kemaren aq baca loncat langsung ke part ini padahl part 1 n 2 blom baca hahaha~

    AQ YAKIN PENJAHATNYA KLO GAK TAEMIN YA MINHO…
    tapi lebih sregg ke Taemin…
    orang polos kadang menakutkan…
    semoga tebakan ku tepat
    pokoknya thor…
    gak mau tau.. penjahatnya harus taemin.. *diinjek*
    yapp.. pokoknya juga harus dijelaskan eknapa tuh sulli bisa di kejar2 gitu…
    terus hubungannya ma cwek2 lain di negara2 lain..
    kyaaa… aq penasaran

  9. Hayaaahhh… Minho so sweet banget deh pas bawa Sulli ke panti asuhan itu 😀
    Terus, Taeminnya sumpah mencurigakan banget. Jgn2 Taemin lagi si jubah hitam itu, dan kayanya dia suka sma Sulli yh? tpi msh blm kebaca motif Taemin kl emg dy si jubah hitam.

    Wah! Jinki jadi cenanyang nih.
    Duh! pokonya ak ga sabaran pengen cepet tau endingnya nih. FF ini bagus banget b^^d
    aku langsung cuss dulu ke part akhir~ Hayeee \(^0^)/

  10. kok koooooook mencurigakan sih ‘-‘)?
    aduuh nenek tua itu sapaaaa?
    aku harap bukan taemin yg bunuh deh u.u /dilempar flames/
    uuuu taeminnniiiiie jangan kau jadi pembunuhnya uouooo (?)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s