Bad Boy Sitter – Part 1

Bad Boy Sitter

Part 1



Author : Firdha a.k.a Park Yeorin

Main Cast : Park Jiyeon, Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Yoo Seung Ho, Choi Minho

Support Cast: Other SHINee members, etc.

Length: Sequel

Genre : Friendship, Romance

Rating : PG-13

Summary :

Ternyata ia memang benar-benar menatapku, dengan tatapan menyelidik, tatapan yang sepertinya sedang mencari sesuatu dalam diriku. Namun anehnya, aku merasa familiar dengan wajahnya, dan matanya. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana, ya? Apa dia….

OMO!!! Benar! Dia… dia adalah….

***

Author POV

“Kau itu ceroboh sekali, sih?” Hardik Jae Hwa. Dia tidak habis pikir kalau kecerobohan adik iparnya itu bisa separah ini.

“Aduh! Aku tidak sengaja onnie, mian….” Jiyeon terus meminta maaf dan memasang wajah memelasnya.

“Aku heran, kau adalah gadis yang sangat pandai dan teliti dalam akademik. Tapi, diluar itu, kau selalu ceroboh dalam segala hal.” Jiyeon mencibir, sedangkan Jae Hwa segera mencari sesuatu di tasnya. Lalu, ia mengeluarkan selembar kertas.

“Tada….”

“Itu… tiketnya… kok…”

Flashback

Jae Hwa POV

“Jae Hwa, Jiyeon sudah menunggu di depan.” Ujar omma.

“Ah, ye. Aku akan segera ke sana, omma.” Jawabku.

“Ya sudah. Cepatlah, nanti kalian ketinggalan pesawat lagi.”

“Ne… omma.… Omma tidak perlu khawatir.” Omma segera pergi meninggalkanku.

Apa Jiyeon sudah menyiapkan semuanya dengan benar? Jujur saja, aku tidak yakin. Dia kan gadis yang sangat ceroboh. Lebih baik aku periksa dulu kamarnya.

Saat di kamar Jiyeon, kuperiksa setiap sudut kamarnya, dari tempat tidur hingga meja belajar, sepertinya tidak ada yang tertinggal. Setelah yakin, kuputuskan untuk segera bergegas pergi. Tapi, saat aku akan membuka pintu, aku merasa menginjak sesuatu. Apa ini? Secarik kertas? Sepertinya ini… tiket! Dasar gadis ceroboh! Untung saja aku menemukannya. Jincha!

Flashbac End

“Onnie tau betul sikap cerobohmu itu, Jiyeon. Jadi, onnie….” Belum sempat Jae Hwa menyelesaikan kalimatnya, Jiyeon memotong kalimatnya dengan tiba-tiba memeluknya.

“Gomawo onnie. Onnie memang daebak! Tidak salah Jungsu oppa memilihmu.” Jiyeon melepaskan pelukannya dan menyunggingkan senyumnya. “Tapi sayang oppa tidak bisa mengantarku.” Wajah Jiyeon berubah menjadi sedih.

“Sudahlah. Oppamu kan harus bekerja di Jepang, kau harus bisa mengerti.”

“Aku mengerti kok, onnie. Tapi, aku hanya berpikir akan lebih menyenangkan bila kepergianku bisa diantar oleh Jungsu oppa. Aku kan….” Tiba-tiba terdengar suara…

Kepada para penumpang pesawat Shining 255-08 (Author ga tau nama-nama pesawat, jadi jangan protes!) tujuan Seoul harap segera memasuki pesawat…

“Pasawatnya sudah mau berangkat. Cepat sana!”

“Aku pasti akan merindukanmu onnie.” Jiyeon memeluk Jae Hwa erat.

“Na do. Kajja palli! Nanti kau ketinggalan pesawat.”

“Annyeonghi gaseyo, onnie!” Jiyeon mulai berjalan menjauh saraya melambaikan tangannya.

“Annyeonghi gyeseyo, Jiyeon-ah! Jangan lupa hubungi onnie!” Seru Jae Hwa.

“NE, ONNIE!” Seru Jiyeon berteriak.

Jiyeon berjalan semakin manjauh, meninggalkan Jae Hwa yang masih terdiam di tempatnya. ‘Jaga dirimu baik-baik, Jiyeon-ah!’ seru Jae Hwa dalam hati.

***

Jiyeon POV

Di dalam pesawat…

“Huffttt…” Aku menghela nafasku. Rasanya agak menegangkan sekarang. Kini, rasa takut mulai menghampiriku. Jelas saja. Aku benar-benar akan tinggal di Seoul. Kenapa aku tegang? Jawabannya adalah karena aku akan tinggal sendiri di Seoul, SENDIRI. Jungsu oppa hanya menyediakan tempat tinggal dan akan mengirimiku uang setiap bulannya, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Kami bukanlah orang kaya, jadi memang hanya itu yang bisa Jungsu oppa berikan padaku.

Bingung kenapa aku ingin tinggal di Seoul? Kali ini jawabannya adalah karena aku ingin bersekolah di sekolah yang sama dengan kedua orang tuaku, tempat di mana pertama kali mereka bertemu hingga akhirnya menikah lalu melahirkan aku dan Jungsu oppa. Orang tuaku meninggal saat aku masih berusia 5 tahun. Karena itulah, aku agak iri pada Jungsu oppa, karena dia bisa mendapatkan kasih sayang omma dan appa lebih lama dariku. Aku memiliki cerita yang panjang mengenai kematian orang tuaku. Aku tidak sanggup mengingatnya, bahkan Jungsu oppa pun tidak pernah tau kenapa aku takut kegelapan, aku akan mulai menggigil dan menangis, bahkan berteriak jika berada dalam kegelapan. Kejadian itu… ah! Aku tidak mau mengingatnya!

Selain karena orang tuaku, aku pun ke sini memang karena alasan pendidikan. Walaupun sangat ceroboh, aku memiliki otak yang encer lho! *sombong* Aku mendapat beasiswa dan mengikuti kelas akselerasi. Aku hanya sekolah selama dua tahun di tahun Junior. Normalnya, seharusnya aku ini baru masuk kelas tiga tahun Junior. Tapi, kini aku sudah kelas 1 Senior, ditambah lagi aku lahir pada tanggal 31 Desember. Kata appa, aku lahir lima detik menjelang tahun baru, keren bukan? Jadi, kemungkinan besar aku akan menjadi yang paling muda di kelasku nanti karena aku sudah tidak mengikuti program akselerasi lagi. Aku capek, setiap harinya aku selalu pulang lebih lama dari teman-temanku dan aku pun memiliki jadual yang sangat padat. Jadi, aku putuskan di tahun Senior ini aku akan mengambil kelas regular saja. Tapi, beasiswaku masih berlanjut, kok. Hanya saja aku tidak ikut program akselerasi lagi. (author ngasal karena author sama sekali ga ngerti soal sistem akselerasi, jadi mohon dimaklum ya!)

BRUK!

Aku kaget karena tiba-tiba saja seseorang duduk di sampingku, seorang namja. Dia memakai kaca mata dan jaket hitam. Sebenarnya aku akan biasa saja jika tadi dia duduk dengan biasa juga dan bersikap sedikit ramah. Tapi, dia malah duduk begitu saja tanpa memperdulikanku yang kaget karena ulahnya. Untung saja HP yang sedang kupegang tidak jatuh. Tidak berapa lama kemudian HP-nya berbunyi. Lalu, ia pun segera mengambil HP-nya dan mengangkat panggilan.

“Ada apa?” Jawabnya ketus dan dingin. Sungguh tidak sopan.

“Iya… aku sedang di pesawat sekarang… kau itu cerewet sekali sih!… Aku bosan mendengar ocehanmu, sekarang juga kita putus! Aku tidak peduli… pokoknya mulai detik ini kita putus!” Ia menutup telponnya dan langsung mancabut baterainya. “BI**H!” What! Apa yang ia katakan tadi? Nappeun namja! Kata-katanya sungguh luar biasa, dan sepertinya tadi dia sedang bicara dengan pacarnya dan dengan mudahnya memutuskan hubungan seperti itu. Sungguh, aku tidak habis pikir di dunia ini ada namja seperti dia.

Tanpa sadar aku meperhatikannya. Aku penasaran seperti apa wajah pria yang sangat tau sopan santun ini. Namun, sepertinya ia menyadari bahwa aku sedang menatapnya karena ia tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku segera mengalihkan pandanganku, syukurlah ia pun segera memalingkan wajahnya dan sepertinya ia memejamkan matanya, berusaha tidur. Tidak terasa mataku pun mulai terasa berat dan mulai menutup dengan sendirinya.

***

Aku membuka mataku, dan mengucek-nguceknya. Sepertinya aku tertidur cukup lama. Tapi, kenapa aku merasa aneh, ya? Aku merasa sedang bersandar pada pundak seseorang. Aduh! Kepalaku benar-benar miring ke kanan dan sepertinya aku memang bersandar di bahu seseorang. Kucoba melihat ke sebelah kanan perlahan, dan… mataku bertemu dengan matanya yang sudah tidak lagi ditutupi oleh kacamata. Sebuah senyum simpul yang lebih terkesan seperti seringaian terlukis di bibirnya. Aku pun segera menegakkan badanku. Kurasakan pipiku memanas. Lalu, pria itu langsung memakai kacamatanya lagi, berdiri dan beranjak pergi.

Malam hari di Bandara Seoul…

Dasar pabo! Pabo! Pabo! Kanapa kau bisa bersandar di bahunya? Benar-benar memalukan. Hari pertama di Seoul sudah disambut oleh kejadian seperti ini. Semoga saja aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Kupastikan aku akan sangat malu jika aku bertemu denganya lagi. Dasar pabo!

“Annyeong haseyo! Apa kau Jiyeon?” Tanya seorang gadis yang sepertinya hanya 1 tahun lebih tua dariku. Dia memiliki wajah yang manis.

“Annyeong! Iya, aku Jiyeon. Yeorin-ssi?” Tebakku. Ya, kata Jungsu oppa aku akan dijemput oleh orang yang bernama Yeorin.

“Tepat! Kata ibuku kau adalah gadis yang sangat cantik, sama seperti ibumu, dan ternyata benar.” Pipiku memerah mendengar pujiannya.

“Ghamsahamnida. Tapi, pujianmu itu terlalu berlebihan.”

“Ah! Tidak juga. Ya sudah, ayo kita pergi. Kau pasti sudah sangat lelah kan?”

“Ah, ye. Aku memang ingin cepat-cepat membaringkan tubuhku di tempat tidur.”

“Kajja!” Aku pun menurut dan mengikuti Yeorin. Tidak lama setelah kami berjalan, kami sampai di tempat parkir mobil. Yeorin segera menghampiri mobil yang sepertinya sudah agak kuno, terlihat ada seseorang di dalam mobil.

“Appa! Ini Jiyeon. Jiyeon, dia appaku, namanya Park Yeosung”

“Annyeong, Yeosung ahjussi! Jiyeon imnida.” Aku membungkukkan badanku.

“Annyeong, Jiyeon-ah! Kau sungguh cantik, sama seperti ibumu.”

“Ah! Gamsahamnida ahjussi.” Lagi-lagi ada yang memujiku. Ya, ibuku memang cantik dan kata orang aku sangat mirip dengan ibuku. Tapi, aku tidak pernah merasa kalau aku secantik itu, walaupun memang hampir setiap orang yang baru mengenalku selalu mengatakan hal serupa. Bahkan ada yang menyarankan aku untuk menjadi anggota Girlband. Tapi, aku tidak mau. Walaupun aku memang memiliki bakat menyanyi dan bisa bermain gitar dan piano, tapi aku tidak tertarik menjadi artis. Aku ingin hidup yang normal saja.

“Ya sudah. Lebih baik sekarang kita pulang, omma-nya Yeorin sudah memasak banyak makanan khusus untuk menyambut kedatanganmu.” Ujar Yeosung ahjussi.

“Jeongmal gamsahamnida ahjussi. Sepertinya, aku merepotkan.”

“Tentu saja tidak. Malah kedatanganmu sangat berarti bagiku, karena hari ini aku bisa makan banyak.” Yeorin manjawab pertanyaan yang kuajukan pada Yeosung ahjussi dengan mata berbinar.

PLETAK

Sebuah jitakan pun mendarat seketika di kepala Yeorin, ia meringis kecil, sedangkan aku tertawa melihat Yeorin dan Yeosung ahjussi. Sikap mereka membuatku merindukan appa. Ya! Yeorin! Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal melow seperti itu. Kugeleng-gelengkan kepalaku.

“Jiyeon-ah! Kau kenapa?” Tanya Yeorin bingung.

“Oh, aniyo.”

“Ya sudah. Kajja!” Yeorin menarik tanganku dan membawaku memasuki mobil. Lalu mobil pun segera berjalan.

Kami berhenti di sebuah tempat yang kelihatannya masih agak tradisional, lingkungannya masih terlihat seperti pedesaan walaupun rumahnya sudah tidak tradisional lagi. Kami segera masuk ke sebuah rumah yang berukuran lumayan besar. Ya, cukup untuk menampung 4 orang dan akan menjadi 5 lima orang denganku. Setelah masuk, benar saja, sepertinya Sunhye ahjumma, orang yang Jungsu oppa bilang adalah sahabat omma, baru saja memasak karena aku bisa mencium dengan jelas aroma masakan yang tentu saja langsung membuat cacing di perutku berdemo.

“Jiyeon-ah! Kau pasti Jiyeon, kan?” Tanya seorang ahjumma dengan wajah yang berbinar-binar.

“Ne. Ahjumma pasti Sunhye ahjumma, kan?” Tebakku.

“Ne. Jiyeon-ah! Kau sungguh sangat cantik seperti ibumu, bahkan sepertinya kau lebih cantik.” Lagi-lagi pujian yang sama. Aku hanya tersenyum menanggapi pujian Sunhye ahjumma.

“Omma! Aku lapar.” Rengek seorang anak laki-laki yang usianya kira-kira masih sekitar 4 tahun.

“Iya, Yoogeun. Tapi apa kau tidak mau menyapa Jiyeon noona dulu?” Yoogeun menatapku sejenak, lalu tersenyum. Senyumnya benar-benar menggemaskan.

“Annyeong, noona!” Sapa Yoogeun pelan.

“Annyeong, Yoogeun.” Kucubit pipinya. Ia pun kembali tersenyum malu. Kyeopta!

“Baiklah. Kalau begitu kita langsung makan saja. Kau pasti sudah sangat lapar, kan?” Sunhye ahjumma langsung menuntunku menuju meja makan. Terlihat berbagai macam masakan terhidang di meja makan. Mulai dari kimchi, kimbab, hingga bulgoggi, semuanya telah tersedia dan membuat perutku semakin anarkis saja. Sunhye ahjumma mengambilkan nasi untukku. Aku agak canggung untuk menyuap makananku, kulirik Yeorin sebentar, ternyata ia pun sedang memerhatikanku. Saat mata kami bertemu dan ia menyadari kecanggunganku, ia tersenyum dan mengangguk sembari menunjuk makananku dengan tatapan matanya, menyuruhku untuk segera memakannya dan aku pun mulai menyuap makananku dengan lahap. Rasanya sungguh bahagia berada di tengah-tengah mereka, merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sangat kurindukan, keluarga yang lengkap dan utuh.

Setelah selesai makan, Yeorin mengantarku ke ruangan yang akan menjadi kamarku. Tempatnya di lantai dua. Kubuka pintu ruangan yang ditunjukkan Yeorin padaku. Ruangannya bersih dan cukup besar. Terdapat satu single bed, lemari dan meja belajar yang dilengkapi rak buku di dalamnya. Sungguh beruntung aku bisa mendapatkan tempat tinggal yang nyaman seperti ini, gratis lagi, hehe.

“Baiklah, Jiyeon. Kamarku ada di sebelahmu, kalau butuh apa-apa kau tinggal bilang saja padaku, arasso?” Ujar Yeorin seraya mengedipkan matanya.

“Ne, arasso. Gomawo Yeorin-ah.”

“Ne, annyeonghi jumuse… Ah, anni! Kau kan belum mandi. Lebih baik kau mandi dulu sana! Tubuhmu sudah bau!” Yeorin berlagak mencium aroma tidak sedap dan mau muntah.

“Ya! Kau juga kan belum mandi.” Balasku.

“Ah, ye.” Yeorin memukul keningnya. “Aku juga kan belum mandi.” Kami pun tertawa lepas.

“Oh, iya. Aku masih belum tau berapa usiamu?”

“Aku lebih tua satu tahun darimu, tapi panggil aku Yeorin saja, tidak usah memanggilku onnie!”

“Geurae, Yeorin-ah.”

“Ya sudah. Kau mandi saja duluan! Aku ke kamar dulu,ya.” Yerin segera beranjak menuju kamarnya.

Aku pun langsung masuk ke kamarku, lalu mengambil handuk dan beranjak ke kamar mandi. Rasanya sangat segar setelah mandi, aku pun segera merapihkan barang-barangku. Setelah selesai, kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur. Rasanya benar-benar nyaman, hingga akhirnya mataku pun perlahan mulai terpejam.

***

2 hari kemudian…

Author POV

Jiyeon baru saja selesai mandi. Lalu, ia pun segera memakai seragamnya. Ya, hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah. Ternyata, Yeorin juga akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Jiyeon sangat senang mendengarnya, karena itu artinya ia tidak sendirian di sekolah nanti. Ya… walaupun nantinya ia pasti akan mendapat teman baru, tapi akan lebih nyaman jika ada teman yang sudah kau kenal, bukan?

Jiyeon masih berdiri di depan cermin. Ia terus memandangi bayangan dirinya di cermin, bayangan seorang gadis cantik dengan rambut panjang hitam yang dikuncir kuda. Matanya besar dan indah, namun terlihat jelas wajah cantik itu adalah wajah cantik yang dimiliki gadis Korea, karena matanya memiliki ujung mata yang panjang. Saat ini Jiyeon telah memakai seragam tahun Seniornya, seragam berwarna putih dengan rompi dan blazer berwarna hitam, serta rok dan dasi motif kotak-kotak dan garis-garis dengan warna senada. Tidak terasa, sekarang ini ia sudah berusia 15 tahun (umur Korea), sudah memasuki masa remaja tentunya. Dan Desember nanti ia akan berusia 16 tahun, rasanya waktu itu sangat singkat.

Tok.. Tok… Tok…

Suara ketukan pintu berhasil membuat Jiyeon tersadar dari lamunannya.

“Jiyeon-ah! Kau sudah siap?” Seru Yeorin dari luar pintu.

“Ne,” Jiyeon segera mengambil tasnya, lalu membuka pintu. “Annyeong! Mian, aku kelamaan.”

“Gwenchana. Ayo, nanti kita telat.”

“Ne. Kajja!” Jiyeon pun menggamit lengan Yeorin dan turun ke bawah.

Di Hanyoung Senior High School…

Jiyeon POV

Aku dan Yeorin sampai di sekolah masih pagi, namun terlihat sudah banyak siswa yang datang. Mungkin karena hari ini adalah hari pertama murid-murid kelas 1, jadi banyak yang datang lebih pagi. Aku dan Yeorin terus berjalan memasuki sekolah baru kami ini, menelusuri setiap sudutnya untuk mencari di mana kelas kami karena kebetulan kami dimasukkan di kelas yang sama, senangnyaaa!!

Kami terus saja berjalan seraya memperhatikan nama-nama kelas di depan pintu, hingga akhirnya langkah kami terhenti setelah kami menemukan kelas yang kami cari. Dengan sedikit ragu dan canggung, kami mulai memasuki kelas, terlihat beberapa murid sedang mengobrol dan saling berkenalan. Aku melihat bangku kosong di barisan kedua dari kanan dan ketiga dari depan, tempat yang ideal untukku. Kuajak Yeorin untuk duduk disitu, walaupun ada sedikit perdebatan, tapi akhirnya Yeorin mengalah karena tiba-tiba saja seorang yeoja duduk di tempat yang Yeorin inginkan, yaitu di belakang tempat yang kuinginkan, haha, terima kasih yoeja! Aku belum tau namanya, jadi kupanggil saja dia yeoja.

“Annyeong!” Tiba-tiba yeoja yang baru saja menempati tempat yang diinginkan Yeorin menyapa kami.

“Annyeong!” Jawabku. Ia tersenyum dan aku pun membalas senyumannya. Sepertinya Yeorin agak kesal karena yeoja itu baru saja merebut tempat duduknya, dia hanya tersenyum agak dipaksakan.

“Aigoo! Neon Neomu yeppeo. Kenalkan, namaku Cho In Su. Kau?”

“Gomawo. Namaku Park Jiyeon, dan temanku ini Park Yeorin.”

“Oh, namamu Jiyeon. Kau tahu, senyummu itu benar-benar manis.”

“Ah… Geuraeyo? Gomawo.” Aku agak salah tingkah mendengar pujiannya.

“Jika dilihat-lihat, wajahmu terlihat masih imut.Aku merasa sepertinya kau lebih muda dariku.” In Su memicingkan matanya dan menatapku lekat.

“Tebakanmu benar. Haruskah aku memanggilmu onnie? Aku satu tahun lebih muda dari rata-rata usia murid kelas satu.”

“Oh, pantas. Tapi jangan panggil aku onnie! Aku jadi berasa tua.” Aku terkekeh pelan mendengar jawaban In Su.

“Ah, ne.”

“ Yeorin-ah, kau sakit?” In Su mengalihkan perhatiannya pada Yeorin. Yeorin terlihat agak terkejut.

“Huh? Nugu? An… aniya. Nan gwenchanayo.” Jawab Yeorin gugup.

“Dia hanya agak kesal karena kau telah mengambil tempat duduknya.” Jelasku sekenanya. Yeorin terlihat menatapku dengan tatapan membunuh.

“Aku? Oh, jadi kau mau duduk di sini. Kau kan bisa duduk denganku.” Tiba-tiba Yeorin menegakkan tubuhnya, layaknya seseorang yang baru saja menemukan sebuah jawaban saat sedang ulangan. Parasaanku jadi tidak enak.

“Ah! Benar juga. Aku duduk denganmu saja.”

“MWO? Andwae! Yeorin-ah!” Seruku tidak setuju.

“Waeyo? Aku ingin duduk di sini dan In Su pun tidak keberatan duduk bersamaku.” Jawabnya sok cuek.

“Yeorin-ah… Jebaaall…” Aku memasang puppy eyes-ku.

“Kyeopta!” Seru In Su tiba-tiba.

“Huh?” Puppy eyes-ku kini sudah berubah menjadi ekspresi bingung alias melongo.

“Aku tidak mengerti, semua ekspresi wajahmu itu sungguh menggemaskan. Biar kutebak, nanti kau pasti akan disukai banyak orang.” Serunya dengan ekspresi yang berbinar-binar. Aku jadi agak takut berteman dengannya, dia agak… mencurigakan. Aku melirik Yeorin, dan sepertinya ia juga memikirkan hal yang sama denganku.

“Jangan berpikir yang macam-macam! Aku normal! Tapi aku memang selalu terus terang mengatakan apa yang tidak dan aku sukai. Jadi, jangan heran.” Jawab In Su yang langsung menepis semua prasangka yang baru saja berkelebat di pikiranku.

“Oh, syukurlah.” Yeorin terlihat lega.

“Ya! Daripada kita di sini terus, lebih baik kita ke lapangan basket saja. Di sana banyak sunbae-sunbae yang tampan, lho!”

“Kau ini, baru masuk sekolah pikirannya langsung ke namja saja!” Hardik Yeorin.

“Ah! Kau belum lihat saja aksi mereka saat bermain basket. Selain itu, mereka juga sangat tampan.” Ujar In Su meyakinkan.

“Ya sudahlah. Dari pada hanya di sini. Aku juga bosan.” Ucapku santai.

“Ok! Kajja!” In Su menarik tanganku dan Yeorin menuju lapangan basket. Terlihat banyak murid-murid yeoja yang sedang menonton pertandingan basket. Sepertinya kata-kata yang In Su bilang tadi adalah benar, karena buktinya para yeoja kini sedang meneriakkan nama-nama namja yang tentu saja adalah salah satu dari pemain basket.

“In Su-ah! Sebenarnya ini pertandingan apa? Masa baru masuk sekolah sudah ada pertandingan basket?” Tanyaku bingung.

“Ini pertandingan basket yang biasa diadakan setiap 4 bulan sekali.” Jawab In Su tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan basket.

“Dari mana kau tahu?” Tanyaku bingung.

“Oppaku dulu sekolah di sini. Dia sudah lulus dua tahun lalu.”

“Oh.”

“Ngomong-ngomong, siapa saja yang bertanding?” Tanyaku polos.

“Tentu saja kelas 2 dan 3. Kelas 1 kan baru masuk, Jiyeon.” Jawab Yeorin dengan tatapan tidak percaya.

“Ah, ye.” Aku menggaruk kapalaku yang tidak gatal. Pertanyaan pabo!

Aku pun ikut menonton pertandingan basket dengan agak malas. Jujur saja, aku tidak begitu menyukai olahraga, karena tidak bisa. Aku selalu mendapatkan nilai di atas rata-rata untuk semua mata pelajaran, kecuali olahraga. Ya, aku memang sangat-sangat payah dalam bidang yang satu ini.

Semua yeoja sibuk meneriakkan nama namja. Sungguh pengang kupingku. Kuperhatikan saja semua pemainnya. Kuakui, mereka memang memiliki wajah yang tampan. Tapi apakah harus seheboh itu, di dunia ini namja tampan kan banyak, tidak bisakah mereka bersikap biasa saja. Kuperhatikan salah satu namja yang sepertinya adalah bintang lapangan. Wajah namja itu tipe Kkot-mi-nam (lelaki cantik). Ia memiliki potongan rambut yang terkesan asal. Rambutnya pun terlihat acak-acakan. Oh, jelas saja, dia kan sedang bermain basket. Kulihat ia benar-benar lihai memainkan bola basketnya, dan yang membuatku heran adalah, setiap ia berlari ke pinggir, yeoja yang berada disitu langsung menjerit dan meneriakkan namanya, berlebihan! Aku terus memperhatikannya yang sedang berjalan karena waktunya istirahat, dan duduk di pinggir lapangan di seberangku. Namun, tiba-tiba ia melihat ke arahku, ia memicingkan matanya dan menatapku tajam. Karena merasa ragu, kualihkan pandanganku ke belakang, memastikan siapa yang sebenarnya sedang ia tatap. Dan ternyata ia memang benar-benar menatapku, dengan tatapan menyelidik, tatapan yang sepertinya sedang mencari sesuatu dalam diriku. Namun anehnya, aku merasa familiar dengan wajahnya, dan matanya. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana, ya? Apa dia….

OMO!!! Benar! Dia… dia adalah….

TBC

A.N: Eotthaeyo? Bagus ga, bagus ga? Bagus dong… #PLAAKK

Ini adalah FF debutku di dunia per-ffan. Gomawo buat admin yg udah mau publish FF pertamaku ini… *hug admin* Judulnya rada ngasal, kalau ada orang Inggris yang baca mungkin aku udah diketawain. Karena ini ff pertamaku, mian kalau ceritanya jelek. But, I need your comments. Don’t be silent readers, please! Kritik & saran siap saya terima. Komen Ya Ya Ya

!

Bad Boy Sitter – Part 1

Author : Firdha a.k.a Park Yeorin

Main Cast : Park Jiyeon, Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Yoo Seung Ho, Choi Minho

Support Cast: Other SHINee members, etc.

Length: Sequel

Genre : Friendship, Romance

Rating : PG-13

Summary :

Ternyata ia memang benar-benar menatapku, dengan tatapan menyelidik, tatapan yang sepertinya sedang mencari sesuatu dalam diriku. Namun anehnya, aku merasa familiar dengan wajahnya, dan matanya. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana, ya? Apa dia….

OMO!!! Benar! Dia… dia adalah….

***

Author POV

“Kau itu ceroboh sekali, sih?” Hardik Jae Hwa. Dia tidak habis pikir kalau kecerobohan adik iparnya itu bisa separah ini.

“Aduh! Aku tidak sengaja onnie, mian….” Jiyeon terus meminta maaf dan memasang wajah memelasnya.

“Aku heran, kau adalah gadis yang sangat pandai dan teliti dalam akademik. Tapi, diluar itu, kau selalu ceroboh dalam segala hal.” Jiyeon mencibir, sedangkan Jae Hwa segera mencari sesuatu di tasnya. Lalu, ia mengeluarkan selembar kertas.

“Tada….”

“Itu… tiketnya… kok…”

Flashback

Jae Hwa POV

“Jae Hwa, Jiyeon sudah menunggu di depan.” Ujar omma.

“Ah, ye. Aku akan segera ke sana, omma.” Jawabku.

“Ya sudah. Cepatlah, nanti kalian ketinggalan pesawat lagi.”

“Ne… omma.… Omma tidak perlu khawatir.” Omma segera pergi meninggalkanku.

Apa Jiyeon sudah menyiapkan semuanya dengan benar? Jujur saja, aku tidak yakin. Dia kan gadis yang sangat ceroboh. Lebih baik aku periksa dulu kamarnya.

Saat di kamar Jiyeon, kuperiksa setiap sudut kamarnya, dari tempat tidur hingga meja belajar, sepertinya tidak ada yang tertinggal. Setelah yakin, kuputuskan untuk segera bergegas pergi. Tapi, saat aku akan membuka pintu, aku merasa menginjak sesuatu. Apa ini? Secarik kertas? Sepertinya ini… tiket! Dasar gadis ceroboh! Untung saja aku menemukannya. Jincha!

Flashbac End

“Onnie tau betul sikap cerobohmu itu, Jiyeon. Jadi, onnie….” Belum sempat Jae Hwa menyelesaikan kalimatnya, Jiyeon memotong kalimatnya dengan tiba-tiba memeluknya.

“Gomawo onnie. Onnie memang daebak! Tidak salah Jungsu oppa memilihmu.” Jiyeon melepaskan pelukannya dan menyunggingkan senyumnya. “Tapi sayang oppa tidak bisa mengantarku.” Wajah Jiyeon berubah menjadi sedih.

“Sudahlah. Oppamu kan harus bekerja di Jepang, kau harus bisa mengerti.”

“Aku mengerti kok, onnie. Tapi, aku hanya berpikir akan lebih menyenangkan bila kepergianku bisa diantar oleh Jungsu oppa. Aku kan….” Tiba-tiba terdengar suara…

Kepada para penumpang pesawat Shining 255-08 (Author ga tau nama-nama pesawat, jadi jangan protes!) tujuan Seoul harap segera memasuki pesawat…

“Pasawatnya sudah mau berangkat. Cepat sana!”

“Aku pasti akan merindukanmu onnie.” Jiyeon memeluk Jae Hwa erat.

“Na do. Kajja palli! Nanti kau ketinggalan pesawat.”

“Annyeonghi gaseyo, onnie!” Jiyeon mulai berjalan menjauh saraya melambaikan tangannya.

“Annyeonghi gyeseyo, Jiyeon-ah! Jangan lupa hubungi onnie!” Seru Jae Hwa.

“NE, ONNIE!” Seru Jiyeon berteriak.

Jiyeon berjalan semakin manjauh, meninggalkan Jae Hwa yang masih terdiam di tempatnya. ‘Jaga dirimu baik-baik, Jiyeon-ah!’ seru Jae Hwa dalam hati.

***

Jiyeon POV

Di dalam pesawat…

“Huffttt…” Aku menghela nafasku. Rasanya agak menegangkan sekarang. Kini, rasa takut mulai menghampiriku. Jelas saja. Aku benar-benar akan tinggal di Seoul. Kenapa aku tegang? Jawabannya adalah karena aku akan tinggal sendiri di Seoul, SENDIRI. Jungsu oppa hanya menyediakan tempat tinggal dan akan mengirimiku uang setiap bulannya, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Kami bukanlah orang kaya, jadi memang hanya itu yang bisa Jungsu oppa berikan padaku.

Bingung kenapa aku ingin tinggal di Seoul? Kali ini jawabannya adalah karena aku ingin bersekolah di sekolah yang sama dengan kedua orang tuaku, tempat di mana pertama kali mereka bertemu hingga akhirnya menikah lalu melahirkan aku dan Jungsu oppa. Orang tuaku meninggal saat aku masih berusia 5 tahun. Karena itulah, aku agak iri pada Jungsu oppa, karena dia bisa mendapatkan kasih sayang omma dan appa lebih lama dariku. Aku memiliki cerita yang panjang mengenai kematian orang tuaku. Aku tidak sanggup mengingatnya, bahkan Jungsu oppa pun tidak pernah tau kenapa aku takut kegelapan, aku akan mulai menggigil dan menangis, bahkan berteriak jika berada dalam kegelapan. Kejadian itu… ah! Aku tidak mau mengingatnya!

Selain karena orang tuaku, aku pun ke sini memang karena alasan pendidikan. Walaupun sangat ceroboh, aku memiliki otak yang encer lho! *sombong* Aku mendapat beasiswa dan mengikuti kelas akselerasi. Aku hanya sekolah selama dua tahun di tahun Junior. Normalnya, seharusnya aku ini baru masuk kelas tiga tahun Junior. Tapi, kini aku sudah kelas 1 Senior, ditambah lagi aku lahir pada tanggal 31 Desember. Kata appa, aku lahir lima detik menjelang tahun baru, keren bukan? Jadi, kemungkinan besar aku akan menjadi yang paling muda di kelasku nanti karena aku sudah tidak mengikuti program akselerasi lagi. Aku capek, setiap harinya aku selalu pulang lebih lama dari teman-temanku dan aku pun memiliki jadual yang sangat padat. Jadi, aku putuskan di tahun Senior ini aku akan mengambil kelas regular saja. Tapi, beasiswaku masih berlanjut, kok. Hanya saja aku tidak ikut program akselerasi lagi. (author ngasal karena author sama sekali ga ngerti soal sistem akselerasi, jadi mohon dimaklum ya!)

BRUK!

Aku kaget karena tiba-tiba saja seseorang duduk di sampingku, seorang namja. Dia memakai kaca mata dan jaket hitam. Sebenarnya aku akan biasa saja jika tadi dia duduk dengan biasa juga dan bersikap sedikit ramah. Tapi, dia malah duduk begitu saja tanpa memperdulikanku yang kaget karena ulahnya. Untung saja HP yang sedang kupegang tidak jatuh. Tidak berapa lama kemudian HP-nya berbunyi. Lalu, ia pun segera mengambil HP-nya dan mengangkat panggilan.

“Ada apa?” Jawabnya ketus dan dingin. Sungguh tidak sopan.

“Iya… aku sedang di pesawat sekarang… kau itu cerewet sekali sih!… Aku bosan mendengar ocehanmu, sekarang juga kita putus! Aku tidak peduli… pokoknya mulai detik ini kita putus!” Ia menutup telponnya dan langsung mancabut baterainya. “BI**H!” What! Apa yang ia katakan tadi? Nappeun namja! Kata-katanya sungguh luar biasa, dan sepertinya tadi dia sedang bicara dengan pacarnya dan dengan mudahnya memutuskan hubungan seperti itu. Sungguh, aku tidak habis pikir di dunia ini ada namja seperti dia.

Tanpa sadar aku meperhatikannya. Aku penasaran seperti apa wajah pria yang sangat tau sopan santun ini. Namun, sepertinya ia menyadari bahwa aku sedang menatapnya karena ia tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku segera mengalihkan pandanganku, syukurlah ia pun segera memalingkan wajahnya dan sepertinya ia memejamkan matanya, berusaha tidur. Tidak terasa mataku pun mulai terasa berat dan mulai menutup dengan sendirinya.

***

Aku membuka mataku, dan mengucek-nguceknya. Sepertinya aku tertidur cukup lama. Tapi, kenapa aku merasa aneh, ya? Aku merasa sedang bersandar pada pundak seseorang. Aduh! Kepalaku benar-benar miring ke kanan dan sepertinya aku memang bersandar di bahu seseorang. Kucoba melihat ke sebelah kanan perlahan, dan… mataku bertemu dengan matanya yang sudah tidak lagi ditutupi oleh kacamata. Sebuah senyum simpul yang lebih terkesan seperti seringaian terlukis di bibirnya. Aku pun segera menegakkan badanku. Kurasakan pipiku memanas. Lalu, pria itu langsung memakai kacamatanya lagi, berdiri dan beranjak pergi.

Malam hari di Bandara Seoul…

Dasar pabo! Pabo! Pabo! Kanapa kau bisa bersandar di bahunya? Benar-benar memalukan. Hari pertama di Seoul sudah disambut oleh kejadian seperti ini. Semoga saja aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Kupastikan aku akan sangat malu jika aku bertemu denganya lagi. Dasar pabo!

“Annyeong haseyo! Apa kau Jiyeon?” Tanya seorang gadis yang sepertinya hanya 1 tahun lebih tua dariku. Dia memiliki wajah yang manis.

“Annyeong! Iya, aku Jiyeon. Yeorin-ssi?” Tebakku. Ya, kata Jungsu oppa aku akan dijemput oleh orang yang bernama Yeorin.

“Tepat! Kata ibuku kau adalah gadis yang sangat cantik, sama seperti ibumu, dan ternyata benar.” Pipiku memerah mendengar pujiannya.

“Ghamsahamnida. Tapi, pujianmu itu terlalu berlebihan.”

“Ah! Tidak juga. Ya sudah, ayo kita pergi. Kau pasti sudah sangat lelah kan?”

“Ah, ye. Aku memang ingin cepat-cepat membaringkan tubuhku di tempat tidur.”

“Kajja!” Aku pun menurut dan mengikuti Yeorin. Tidak lama setelah kami berjalan, kami sampai di tempat parkir mobil. Yeorin segera menghampiri mobil yang sepertinya sudah agak kuno, terlihat ada seseorang di dalam mobil.

“Appa! Ini Jiyeon. Jiyeon, dia appaku, namanya Park Yeosung”

“Annyeong, Yeosung ahjussi! Jiyeon imnida.” Aku membungkukkan badanku.

“Annyeong, Jiyeon-ah! Kau sungguh cantik, sama seperti ibumu.”

“Ah! Gamsahamnida ahjussi.” Lagi-lagi ada yang memujiku. Ya, ibuku memang cantik dan kata orang aku sangat mirip dengan ibuku. Tapi, aku tidak pernah merasa kalau aku secantik itu, walaupun memang hampir setiap orang yang baru mengenalku selalu mengatakan hal serupa. Bahkan ada yang menyarankan aku untuk menjadi anggota Girlband. Tapi, aku tidak mau. Walaupun aku memang memiliki bakat menyanyi dan bisa bermain gitar dan piano, tapi aku tidak tertarik menjadi artis. Aku ingin hidup yang normal saja.

“Ya sudah. Lebih baik sekarang kita pulang, omma-nya Yeorin sudah memasak banyak makanan khusus untuk menyambut kedatanganmu.” Ujar Yeosung ahjussi.

“Jeongmal gamsahamnida ahjussi. Sepertinya, aku merepotkan.”

“Tentu saja tidak. Malah kedatanganmu sangat berarti bagiku, karena hari ini aku bisa makan banyak.” Yeorin manjawab pertanyaan yang kuajukan pada Yeosung ahjussi dengan mata berbinar.

PLETAK

Sebuah jitakan pun mendarat seketika di kepala Yeorin, ia meringis kecil, sedangkan aku tertawa melihat Yeorin dan Yeosung ahjussi. Sikap mereka membuatku merindukan appa. Ya! Yeorin! Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal melow seperti itu. Kugeleng-gelengkan kepalaku.

“Jiyeon-ah! Kau kenapa?” Tanya Yeorin bingung.

“Oh, aniyo.”

“Ya sudah. Kajja!” Yeorin menarik tanganku dan membawaku memasuki mobil. Lalu mobil pun segera berjalan.

Kami berhenti di sebuah tempat yang kelihatannya masih agak tradisional, lingkungannya masih terlihat seperti pedesaan walaupun rumahnya sudah tidak tradisional lagi. Kami segera masuk ke sebuah rumah yang berukuran lumayan besar. Ya, cukup untuk menampung 4 orang dan akan menjadi 5 lima orang denganku. Setelah masuk, benar saja, sepertinya Sunhye ahjumma, orang yang Jungsu oppa bilang adalah sahabat omma, baru saja memasak karena aku bisa mencium dengan jelas aroma masakan yang tentu saja langsung membuat cacing di perutku berdemo.

“Jiyeon-ah! Kau pasti Jiyeon, kan?” Tanya seorang ahjumma dengan wajah yang berbinar-binar.

“Ne. Ahjumma pasti Sunhye ahjumma, kan?” Tebakku.

“Ne. Jiyeon-ah! Kau sungguh sangat cantik seperti ibumu, bahkan sepertinya kau lebih cantik.” Lagi-lagi pujian yang sama. Aku hanya tersenyum menanggapi pujian Sunhye ahjumma.

“Omma! Aku lapar.” Rengek seorang anak laki-laki yang usianya kira-kira masih sekitar 4 tahun.

“Iya, Yoogeun. Tapi apa kau tidak mau menyapa Jiyeon noona dulu?” Yoogeun menatapku sejenak, lalu tersenyum. Senyumnya benar-benar menggemaskan.

“Annyeong, noona!” Sapa Yoogeun pelan.

“Annyeong, Yoogeun.” Kucubit pipinya. Ia pun kembali tersenyum malu. Kyeopta!

“Baiklah. Kalau begitu kita langsung makan saja. Kau pasti sudah sangat lapar, kan?” Sunhye ahjumma langsung menuntunku menuju meja makan. Terlihat berbagai macam masakan terhidang di meja makan. Mulai dari kimchi, kimbab, hingga bulgoggi, semuanya telah tersedia dan membuat perutku semakin anarkis saja. Sunhye ahjumma mengambilkan nasi untukku. Aku agak canggung untuk menyuap makananku, kulirik Yeorin sebentar, ternyata ia pun sedang memerhatikanku. Saat mata kami bertemu dan ia menyadari kecanggunganku, ia tersenyum dan mengangguk sembari menunjuk makananku dengan tatapan matanya, menyuruhku untuk segera memakannya dan aku pun mulai menyuap makananku dengan lahap. Rasanya sungguh bahagia berada di tengah-tengah mereka, merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sangat kurindukan, keluarga yang lengkap dan utuh.

Setelah selesai makan, Yeorin mengantarku ke ruangan yang akan menjadi kamarku. Tempatnya di lantai dua. Kubuka pintu ruangan yang ditunjukkan Yeorin padaku. Ruangannya bersih dan cukup besar. Terdapat satu single bed, lemari dan meja belajar yang dilengkapi rak buku di dalamnya. Sungguh beruntung aku bisa mendapatkan tempat tinggal yang nyaman seperti ini, gratis lagi, hehe.

“Baiklah, Jiyeon. Kamarku ada di sebelahmu, kalau butuh apa-apa kau tinggal bilang saja padaku, arasso?” Ujar Yeorin seraya mengedipkan matanya.

“Ne, arasso. Gomawo Yeorin-ah.”

“Ne, annyeonghi jumuse… Ah, anni! Kau kan belum mandi. Lebih baik kau mandi dulu sana! Tubuhmu sudah bau!” Yeorin berlagak mencium aroma tidak sedap dan mau muntah.

“Ya! Kau juga kan belum mandi.” Balasku.

“Ah, ye.” Yeorin memukul keningnya. “Aku juga kan belum mandi.” Kami pun tertawa lepas.

“Oh, iya. Aku masih belum tau berapa usiamu?”

“Aku lebih tua satu tahun darimu, tapi panggil aku Yeorin saja, tidak usah memanggilku onnie!”

“Geurae, Yeorin-ah.”

“Ya sudah. Kau mandi saja duluan! Aku ke kamar dulu,ya.” Yerin segera beranjak menuju kamarnya.

Aku pun langsung masuk ke kamarku, lalu mengambil handuk dan beranjak ke kamar mandi. Rasanya sangat segar setelah mandi, aku pun segera merapihkan barang-barangku. Setelah selesai, kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur. Rasanya benar-benar nyaman, hingga akhirnya mataku pun perlahan mulai terpejam.

***

2 hari kemudian…

Author POV

Jiyeon baru saja selesai mandi. Lalu, ia pun segera memakai seragamnya. Ya, hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah. Ternyata, Yeorin juga akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Jiyeon sangat senang mendengarnya, karena itu artinya ia tidak sendirian di sekolah nanti. Ya… walaupun nantinya ia pasti akan mendapat teman baru, tapi akan lebih nyaman jika ada teman yang sudah kau kenal, bukan?

Jiyeon masih berdiri di depan cermin. Ia terus memandangi bayangan dirinya di cermin, bayangan seorang gadis cantik dengan rambut panjang hitam yang dikuncir kuda. Matanya besar dan indah, namun terlihat jelas wajah cantik itu adalah wajah cantik yang dimiliki gadis Korea, karena matanya memiliki ujung mata yang panjang. Saat ini Jiyeon telah memakai seragam tahun Seniornya, seragam berwarna putih dengan rompi dan blazer berwarna hitam, serta rok dan dasi motif kotak-kotak dan garis-garis dengan warna senada. Tidak terasa, sekarang ini ia sudah berusia 15 tahun (umur Korea), sudah memasuki masa remaja tentunya. Dan Desember nanti ia akan berusia 16 tahun, rasanya waktu itu sangat singkat.

Tok.. Tok… Tok…

Suara ketukan pintu berhasil membuat Jiyeon tersadar dari lamunannya.

“Jiyeon-ah! Kau sudah siap?” Seru Yeorin dari luar pintu.

“Ne,” Jiyeon segera mengambil tasnya, lalu membuka pintu. “Annyeong! Mian, aku kelamaan.”

“Gwenchana. Ayo, nanti kita telat.”

“Ne. Kajja!” Jiyeon pun menggamit lengan Yeorin dan turun ke bawah.

Di Hanyoung Senior High School…

Jiyeon POV

Aku dan Yeorin sampai di sekolah masih pagi, namun terlihat sudah banyak siswa yang datang. Mungkin karena hari ini adalah hari pertama murid-murid kelas 1, jadi banyak yang datang lebih pagi. Aku dan Yeorin terus berjalan memasuki sekolah baru kami ini, menelusuri setiap sudutnya untuk mencari di mana kelas kami karena kebetulan kami dimasukkan di kelas yang sama, senangnyaaa!!

Kami terus saja berjalan seraya memperhatikan nama-nama kelas di depan pintu, hingga akhirnya langkah kami terhenti setelah kami menemukan kelas yang kami cari. Dengan sedikit ragu dan canggung, kami mulai memasuki kelas, terlihat beberapa murid sedang mengobrol dan saling berkenalan. Aku melihat bangku kosong di barisan kedua dari kanan dan ketiga dari depan, tempat yang ideal untukku. Kuajak Yeorin untuk duduk disitu, walaupun ada sedikit perdebatan, tapi akhirnya Yeorin mengalah karena tiba-tiba saja seorang yeoja duduk di tempat yang Yeorin inginkan, yaitu di belakang tempat yang kuinginkan, haha, terima kasih yoeja! Aku belum tau namanya, jadi kupanggil saja dia yeoja.

“Annyeong!” Tiba-tiba yeoja yang baru saja menempati tempat yang diinginkan Yeorin menyapa kami.

“Annyeong!” Jawabku. Ia tersenyum dan aku pun membalas senyumannya. Sepertinya Yeorin agak kesal karena yeoja itu baru saja merebut tempat duduknya, dia hanya tersenyum agak dipaksakan.

“Aigoo! Neon Neomu yeppeo. Kenalkan, namaku Cho In Su. Kau?”

“Gomawo. Namaku Park Jiyeon, dan temanku ini Park Yeorin.”

“Oh, namamu Jiyeon. Kau tahu, senyummu itu benar-benar manis.”

“Ah… Geuraeyo? Gomawo.” Aku agak salah tingkah mendengar pujiannya.

“Jika dilihat-lihat, wajahmu terlihat masih imut.Aku merasa sepertinya kau lebih muda dariku.” In Su memicingkan matanya dan menatapku lekat.

“Tebakanmu benar. Haruskah aku memanggilmu onnie? Aku satu tahun lebih muda dari rata-rata usia murid kelas satu.”

“Oh, pantas. Tapi jangan panggil aku onnie! Aku jadi berasa tua.” Aku terkekeh pelan mendengar jawaban In Su.

“Ah, ne.”

“ Yeorin-ah, kau sakit?” In Su mengalihkan perhatiannya pada Yeorin. Yeorin terlihat agak terkejut.

“Huh? Nugu? An… aniya. Nan gwenchanayo.” Jawab Yeorin gugup.

“Dia hanya agak kesal karena kau telah mengambil tempat duduknya.” Jelasku sekenanya. Yeorin terlihat menatapku dengan tatapan membunuh.

“Aku? Oh, jadi kau mau duduk di sini. Kau kan bisa duduk denganku.” Tiba-tiba Yeorin menegakkan tubuhnya, layaknya seseorang yang baru saja menemukan sebuah jawaban saat sedang ulangan. Parasaanku jadi tidak enak.

“Ah! Benar juga. Aku duduk denganmu saja.”

“MWO? Andwae! Yeorin-ah!” Seruku tidak setuju.

“Waeyo? Aku ingin duduk di sini dan In Su pun tidak keberatan duduk bersamaku.” Jawabnya sok cuek.

“Yeorin-ah… Jebaaall…” Aku memasang puppy eyes-ku.

“Kyeopta!” Seru In Su tiba-tiba.

“Huh?” Puppy eyes-ku kini sudah berubah menjadi ekspresi bingung alias melongo.

“Aku tidak mengerti, semua ekspresi wajahmu itu sungguh menggemaskan. Biar kutebak, nanti kau pasti akan disukai banyak orang.” Serunya dengan ekspresi yang berbinar-binar. Aku jadi agak takut berteman dengannya, dia agak… mencurigakan. Aku melirik Yeorin, dan sepertinya ia juga memikirkan hal yang sama denganku.

“Jangan berpikir yang macam-macam! Aku normal! Tapi aku memang selalu terus terang mengatakan apa yang tidak dan aku sukai. Jadi, jangan heran.” Jawab In Su yang langsung menepis semua prasangka yang baru saja berkelebat di pikiranku.

“Oh, syukurlah.” Yeorin terlihat lega.

“Ya! Daripada kita di sini terus, lebih baik kita ke lapangan basket saja. Di sana banyak sunbae-sunbae yang tampan, lho!”

“Kau ini, baru masuk sekolah pikirannya langsung ke namja saja!” Hardik Yeorin.

“Ah! Kau belum lihat saja aksi mereka saat bermain basket. Selain itu, mereka juga sangat tampan.” Ujar In Su meyakinkan.

“Ya sudahlah. Dari pada hanya di sini. Aku juga bosan.” Ucapku santai.

“Ok! Kajja!” In Su menarik tanganku dan Yeorin menuju lapangan basket. Terlihat banyak murid-murid yeoja yang sedang menonton pertandingan basket. Sepertinya kata-kata yang In Su bilang tadi adalah benar, karena buktinya para yeoja kini sedang meneriakkan nama-nama namja yang tentu saja adalah salah satu dari pemain basket.

“In Su-ah! Sebenarnya ini pertandingan apa? Masa baru masuk sekolah sudah ada pertandingan basket?” Tanyaku bingung.

“Ini pertandingan basket yang biasa diadakan setiap 4 bulan sekali.” Jawab In Su tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan basket.

“Dari mana kau tahu?” Tanyaku bingung.

“Oppaku dulu sekolah di sini. Dia sudah lulus dua tahun lalu.”

“Oh.”

“Ngomong-ngomong, siapa saja yang bertanding?” Tanyaku polos.

“Tentu saja kelas 2 dan 3. Kelas 1 kan baru masuk, Jiyeon.” Jawab Yeorin dengan tatapan tidak percaya.

“Ah, ye.” Aku menggaruk kapalaku yang tidak gatal. Pertanyaan pabo!

Aku pun ikut menonton pertandingan basket dengan agak malas. Jujur saja, aku tidak begitu menyukai olahraga, karena tidak bisa. Aku selalu mendapatkan nilai di atas rata-rata untuk semua mata pelajaran, kecuali olahraga. Ya, aku memang sangat-sangat payah dalam bidang yang satu ini.

Semua yeoja sibuk meneriakkan nama namja. Sungguh pengang kupingku. Kuperhatikan saja semua pemainnya. Kuakui, mereka memang memiliki wajah yang tampan. Tapi apakah harus seheboh itu, di dunia ini namja tampan kan banyak, tidak bisakah mereka bersikap biasa saja. Kuperhatikan salah satu namja yang sepertinya adalah bintang lapangan. Wajah namja itu tipe Kkot-mi-nam (lelaki cantik). Ia memiliki potongan rambut yang terkesan asal. Rambutnya pun terlihat acak-acakan. Oh, jelas saja, dia kan sedang bermain basket. Kulihat ia benar-benar lihai memainkan bola basketnya, dan yang membuatku heran adalah, setiap ia berlari ke pinggir, yeoja yang berada disitu langsung menjerit dan meneriakkan namanya, berlebihan! Aku terus memperhatikannya yang sedang berjalan karena waktunya istirahat, dan duduk di pinggir lapangan di seberangku. Namun, tiba-tiba ia melihat ke arahku, ia memicingkan matanya dan menatapku tajam. Karena merasa ragu, kualihkan pandanganku ke belakang, memastikan siapa yang sebenarnya sedang ia tatap. Dan ternyata ia memang benar-benar menatapku, dengan tatapan menyelidik, tatapan yang sepertinya sedang mencari sesuatu dalam diriku. Namun anehnya, aku merasa familiar dengan wajahnya, dan matanya. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana, ya? Apa dia….

OMO!!! Benar! Dia… dia adalah….

TBC

A.N: Eotthaeyo? Bagus ga, bagus ga? Bagus dong… #PLAAKK

Ini adalah FF debutku di dunia per-ffan. Gomawo buat admin yg udah mau publish FF pertamaku ini… *hug admin* Judulnya rada ngasal, kalau ada orang Inggris yang baca mungkin aku udah diketawain. Karena ini ff pertamaku, mian kalau ceritanya jelek. But, I need your comments. Don’t be silent readers, please! Kritik & saran siap saya terima. Komen Ya Ya Ya!

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

49 thoughts on “Bad Boy Sitter – Part 1”

  1. ffnya keren thor..

    cowonya siapa ? seung ho kah ?

    next partnya thor…
    jangan lama-lama ya… *plak! ditampar author krn nyuruh-nyuruh. Reader baru pula*

  2. Cowonya taemin yaa??
    Abis kot mi nam
    Hheehehe
    Tapi ko galak banget
    Mutusin cewenya dipesawat
    Tapi tetep aja jiyeon tidur di pundaknya
    Hehehehe
    Lanjut!!!

  3. curiga taemin nih.
    entahlah,tapi insting saia blg begitu,huahahahaha xD
    -_-
    #sota dah saia#
    kajja ah lanjut!seru nih kya’y xD

  4. KEREN ! u,u
    seru.. seru.. chingu xDD
    bagus bangeet nih !
    JINJJA !

    Park Jiyeon ? aku jadi keinget Jiyeon T-ARA xDD
    castnya emang dia kan ? kalo bener.. emang Jiyeon itu cantik , imut , menggemaskan.. SEMUANYA DEH ! hahahaha *gag nyambung ama cerita -__-
    ngehehehe xDD

    aku tahu siapa cowoknya.. itu pasti Minho ! atau gak Onew ! atau gak Taemin.. iyaa kan ? *author : semuanya aja lu sebutin ==
    hehe xDD

    overall it’s good thor 😀
    gak terkesan seperti FF debut 🙂
    penasaran !
    next chap jangan lama-lama ya thor *wink
    hehehe xDD

    oiyaah aku boleh minta twitter author gag ? boleh gag ? punyaku @chico_yesung *author : gag ada yang minta woy !
    hehehe 😀

    1. gomawo…
      iya, emang castnya dia
      soalnya sya ni TaeJi, MinJi, & OnJi shipper… hehe… mohon maap ya klo da yg ga suka,,, peace!
      bner bgt tuh, jiyeon emang cantik , imut , menggemaskan.. SEMUANYA DEH ! hehe 😀
      twitter? @firdadubu
      tpi sya nih jarang bgt ol twit,,, cz bka twit di kompi sya tuh bkin naek darah, lola abiiiisss…
      maklum masih smp, ortu ga mo ngasih laptop dlu… hiks… 😦
      tpi klo mo follow sok ajalah ntar sya tinggal follback… OK! 😉
      gomawo…

  5. Yg jd cwo na pasti key kn???
    Alnya hanya key yg py pandangan mata yg tajam n agk sdkt sangar he he he *soktoy
    Btw ff na terulang chingu lupa diapus y!!!

    1. ga tau chingu…
      antah itu emang kesalahan sya atau keulang pas nge-postnya
      tpi yg pnting chingu ngerti kan ya?
      iya iya ajalah biar cpet, hehe
      gomawo dah mo bca n komen! 🙂

  6. cowok yg main basket sekaligus di bandara itu taemin *ala detektif* *pasang tangan di dagu* *joget mirotic* #tamparbolakbalik
    aaa~ aku selalu suka cerita tentang sekolahan! Lanjut!

  7. wah , ~.~
    saya ketinggalan jaman ,
    ternyata ff si fidubu sudah dipost ~.~
    payah nih fidubu gak kasih tau …
    #nangis dipelukan minkey#
    hahaha,

    comment.a udah lebih dr 30 …
    bagus dong berarti ? #digampar firdha , hahaha
    udahlah , gausah banyak cingcong …
    daebak fir ! Akhir.a saya baca jg (untuk yg ke 2 kali.a)

  8. wao.. kamu masih smp toh?
    *berasa tua bgt*haha

    keren lho saeng..
    tu cowoknya sapa coba?
    salam kenal yaa… aku istrinya onew.*plakk*

  9. lah kok double ? =.=

    FF ny Daebak!
    Wkwkka!
    Suka suka suka!
    Bahasa ga trlalu kliatan bgt klo perdana.xD
    Tp ada sdkit kata” sih yg kliatan.
    Wwkkka.xD

    Aiggoooo!
    Mdh”an FF ny ssuai dgn jalan otak pikiran saya nanti ny.
    Wkwkkaaa.

    ^o^)b
    Good Luck

  10. huwaaa…
    aku kira ini ff kayak ff sad yah gimana gitu
    oh ya, aku baru baca, soalnya ini ff rekomendasi temanku
    ceritanya bagus kok, tapi ada kesalahan kecil, dalam penulisannya saja sih
    tapi gak apa-apa kok
    pokoknya good job buat author

  11. Anyeong author 😘😘😘
    Q suka ff ini dri bhasa sama cara penyampaian ceritany,di chapter pertama aja q udh tertarik kyak gini smoga di chapter slanjutnya lbh mnarik & keren lg

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s