Can you be mine, Noona? – Part IV

Title: Can you be mine, Noona?

Author: Mocha-creamy

Main Cast: Lee Taemin, Victoria Song

Support Cast: other SHINee members (dan beberapa orang yang belum terpikirkan X))

Length: 2.300+ words

Genre: Drama, Angst

Rating: PG-15

A.N: Author dah ga bisa ngasih alasan (karena memang cuma satu alasannyaà author sering hilang ide). Maaf selalu membuat menunggu. Terima kasih sudah mau membaca! Semoga bisa dimengerti dan tolong reviewnya? ^^ Gomawo~

CHAPTER IV

Give Me Strength.

‘… Tolong jangan jatuh cinta padaku Vic. Kau hanya akan melukai dirimu sendiri.’

“… Semoga segala perbuatan baiknya bisa diterima,”

‘Vic, pertunangan kita… aku hanya mengikuti keinginan ibuku.’

“… Amen.”

Victoria’s POV

Aku lelah.Lelah dengan semua yang kuhadapi.Semuanya terjadi beruntutan tanpa jeda.Semua kejadian buruk ini.Aku bahkan tidak bisa melakukan apapun saat peti Nickhun diturunkan ke tanah.

“Vic.” Panggil umma.Digandengnya tanganku dengan lembut.Apakah aku terlihat serapuh itu? “Vic, kau kuat sayang…” apa yang umma katakan? Tentu saja aku kuat.Sedikit demi sedikit gundukan tanahnya mulai meninggi.Benarkah yang kulihat?Tidak jelas.Terlalu banyak air di mataku.Sampai malas aku untuk menyekanya.

“… kami permisi dulu, Nyonya Song, semoga Vic tabah.” Samar-samar kudengar orang-orang memberikan rasa ibanya kepadaku.

“Ne. terima kasih.Berhati-hatilah di jalan.”Entah sudah berapa lama kami berdiri disini.Langit hari ini pun mendung. Apakah ia juga merasa kasihan padaku? Pada aku yang sudah membohongi diriku sendiri?

“Victoria, ada Jinki-sshi.” Panggil Umma, namun aku tidak menoleh.“Umma tunggu di mobil ya Vic.”

“…Ne.” jawabku lirih.

“Noona.”Sudah tak ada gunanya aku menangis terus-terusan disini.Umma juga pasti khawatir.Setelah menyeka air mata, aku membalikkan badan.

“Annyeonghaseyo, Jinki-sshi.”Sulit rasanya melekukkan bibir ini agar membentuk sebuah senyuman.“Bagaimana kabar Taemin-goon, Jinki-sshi?”

“aku yang harusnya bertanya dulu Noona, bagaimana kabar Noona?” jawabnya malah bertanya padaku. Orang ini.orang ini kelewat ramah. Rasanya tenang jika melihatnya tersenyum seperti itu.

“… beginilah.” Jawabku asal.“Aku tidak mau berbohong kepadamu dan mengatakan kalau aku baik-baik saja.” Tanganku menyentuh batu nisan Nickhun. Merabanya. Seandainya aku bisa menyentuh kulitmu yang sesungguhnya Khun…

R.I.P

10.05.2010

Nickhun Horvejkul

God Always be with You.

“Sepertinya… Nickhun-hyung orangnya baik.”Aku menoleh ke Jinki.Dia tersenyum padaku.

“Karena dia bisa mendapatkan noona.Orang paling tabah yang pernah aku temui.”

“Kenapa kau bisa mengatakan hal itu?”

“Hmm… jawabanmu kemarin memberitahuku.”Aku membalas senyumannya.Jinki benar-benar orang yang ramah.

“Lalu bagaimana kabar Taemin, Jinki-sshi?”Senyumnya mendadak hilang.Pandangannya yang jatuh ke tanah semakin membuatku sulit untuk membaca raut wajahnya.

“Kata dokter… keadaan Taeminnie semakin memburuk.Tapi kuharap itu salah,” Jinki tertawa kecil. “kau tahu, dokterpun juga manusia kan?” aku tak sanggup berkata apa-apa. Jinki kembali menatapku.Matanya berkaca-kaca.

“… Kami boleh berharap kan, Noona?” aku hanya bisa menawarkan senyumku padanya.

“Ne. hanya itu yang bisa kita lakukan.”

Angin hari ini cukup kencang.Daun-daun maple berguguran di atas tanah Nickhun.Sedikit-sedikit aku membersihkannya.

“Aku dengar dari Ahjumma, katanya Noona suka menari?” gerakan tanganku terhenti mendengar pertanyaannya.Menari.Sudah lama sekali aku tidak melakukannya.Apa badanku masih cukup lentur?

“kapan ya terakhir kali aku menari? Aku bahkan tak ingat.”Aku tertawa. “Mungkin melakukan split saja aku sudah tak bisa sekarang.”

“Kami anggota dancer dari sekolah SMA kami dulu lho, Noona.”

“Jinjja?”

“Ne. dan kau pasti kaget jika mendengar siapa main dancer kami.”

“Siapa?”

“kau tidak mau mencoba menebak, Noona?” alisku terangkat sebelah.

“uum… Namja yang kemarin membawa Taemin keluar?”

“Ani. Bukan Minho.”

“Namja yang menyusulnya keluar?”

“Salah.”

“Kau?”

“masih salah, Noona.” Tunggu.Jangan bilang kalau…“Yang benar Taemin.”Jika aku berkata aku tidak kaget sekarang sudah pasti aku berbohong.

“Jinjja??” tanyaku masih tak percaya.

“Kau akan melihat Taemin berubah jadi beast di dance floor, Noona. Passion nya benar-benar terasa.”Ada yang berubah saat dia bercerita tentang namja yang memisahkan Khun dariku.

“Dia akan berubah menjadi orang yang tidak kami kenal!” nada bicara Jinki jadi playful sekali jika sedang membicarakan Taemin.

“Kau… jika kau berkata demikian. Aku tidak percaya kalau kau hanya temannya, Jinki-sshi.”Ujarku.“Kau terdengar seperti seorang Hyung yang sangat menyayangi dongsaeng nya.”

“Kami juga berharap kalau kami bukan hanya temannya, Noona.”Jinki menarik nafas.“Namun bukan itu yang ditakdirkan Tuhan. Kami sama sekali tidak keberatan memiliki dongsaeng sebaik dia.”Suaranya semakin lirih saat mengucapkan kalimat terakhir.

“Ne. Dia… Orang yang sangat baik.”Tiba-tiba aku teringat wajah Taemin saat menangis kemarin. Wajah kagetnya saat aku menamparnya… wajah sedihnya… Tuhan, apa yang sudah kulakukan?

“Semuanya mulai berubah sejak dia di vonis dengan penyakitnya itu.”Jinki duduk di sebelahku sekarang.Tangannya membantuku menyingkirkan daun-daun yang berserakan di atas makam Nickhun.“Kadang aku merasa Tuhan tak adil.”

“… Kau benar. Kadang Tuhan memang tak adil…” Kami terdiam lagi untuk beberapa saat.Suasana pemakaman yang sepi menambah kesunyian diantara kami.

“Maukah noona mengajak Taemin menari?”Pintanya tiba-tiba.Tentu saja aku kaget.Aku tidak menyangka ada orang yang memintaku untuk menari setelah sekian lamanya.

“Wa- waeyo?”

“Noona adalah satu-satunya orang yang baru dikenal Taemin yang bisa memperlakukannya seperti Namja normal.”Jawabnya bersemangat.

“Ta- tapi aku—“

“Kumohon Noona. Aku tidak peduli meski hanya sekali.Aku—tidak, kami ingin melihat Taemin tersenyum seperti dulu.Karena dancing adalah kebahagiannya, Noona.Kumohon?”

“Aku tidak yakin—“

Jinki membungkukkan badannya rendah sekali di hadapanku.Tanganku sudah mencoba untuk mencegahnya, tapi tak bisa.

“Kumohon!”

Bisakah aku berkata tidak jika dia sempat menatapku dengan puppy eyes itu? Aku adalah orang yang lemah terhadap aegyo.Lagipula untuk Taeminkan? akan kucoba. Aku sudah tidak mau melukai siapapun lagi.Setidaknya, aku bisa membahagiakan orang lain.

“ Akan kuusahakan, Jinki-sshi.” Jawabku pada akhirnya.Jinki langsung mengangkat wajahnya menatapku.Senyum ciri khasnya itu kembali terkembang.

“Terima kasih banyak, Noona!”Aku hanya bisa tertawa.

“Ne, ne…” aku berdiri dan menyibakkan rokku yang terkena tanah.Jinki mengikutiku.Aku melihat ke arahnya.Wajahnya terlihat senang.Hanya karena aku mau menari dengan Taemin bisa membuatnya sesenang itu? Tak terasa aku juga menyunggingkan bibirku melihatnya.

“Jinki-sshi?”

“Ne?”

“Aku juga tak keberatan mempunyai dongsaeng manis sepertimu.” Aigoo~ wajahnya memerah.Aku ingin mencubit pipinya.

“a- ah.N- ne. kamsahamnida, Noona.”

“Ayo pulang.Sudah sore.”Ajakku padanya.Sebelum pergi, aku menoleh ke makam Nickhun untuk yang terakhir kali.

‘aku sudah mengabulkan keinginanmu untuk selalu bersama Hyomin-sshi, Khun. Dia bahkan ada di sebelahmu sekarang.Semoga kalian bahagia.’Rambutku yang kugerai sebagian bergerak mengikuti hembusan angin sore ini yang terasa sangat lembut.‘Doakan aku, Khun, agar aku bisa menemukan kebahagianku yang sesungguhnya.Aku akan berusaha. Terima kasih untuk semua kenangan yang kau berikan… Selamat tinggal.’

Third’s POV @ Seoul Hospital

“Kalau sudah merasa enakan, kau bisa jalan-jalan keluar, Taemin-ah…”

“…masih agak pusing sih, jadi kalau sudah enakan aku boleh pulang, Sungmin-hyung?” dokter bernama Sungmin itu menarik nafas dalam saat mendengar pertanyaan taemin.

“tidak akan kubiarkan, taeminnie,” spontan pipi taemin menggembung kesal, “tidak sampai kau benar-benar sembuh dan bisa naik motor dengan benar.”

“…”

suasana yang tidak asing bagi Sungmin. Taemin yang memaksa pulang, ditolak, kemudian bertingkah seperti anak kecil seharian.Ironis bagi Sungmin yang harus bertemu dengan taemin setidaknya sebulan sekali.Bukannya tidak mau ataupun benci dengan namja cantik yang sering dikira yeoja ini, tapi keadaan pasien yang sudah seperti dongsaengnya sendiri itu semakin memburuk tiap kali bertemu dengannya.Susah sekali mempertahankan kode etik kedokteran pada saat seperti ini.

“…Hyung jelek.” Alis sungmin naik.

“apa?”

“kau. Hyung jelek.”Taemin menjulurkan lidahnya.

Sungmin menggeleng pelan, kemudian tersenyum jahil.

“tentu saja, dongsaeng-ku. Aku lebih jelek darimu yang cantik.”Balas sungmin sengit.

“HYUNG!Aku ini namja!”

“lalu? Tetap saja cantik~ haha.”Setelah membereskan catatan-catatannya yang berserakan di atas meja, sungmin mendekati taemin dan mengacak rambut panjangnya.

“aku masih ada kerjaan. Nanti lagi ya.Kapan Jinki-ah datang?”

Taemin menepis tangan sungmin pelan dari kepalanya, “jam 11. Masih ada jadwal katanya.”Jawabnya dengan wajah cemberut yang imut.

“hmm… oke. Istirahatlah dulu.”Ujar sungmin saat berjalan kea rah pintu keluar.

“hyung?” langkahnya terhenti ketika taemin memanggilnya ragu.

“…Noona Victoria… apa masih disini?” tanya taemin pelan. Sungmin berpikir sejenak.

“…aku tak tahu pasti. Akan kucari tahu, arasso?”Senyum taemin mengembang mendengar jawaban dokternya itu.

“bisakah sekalian dengan alamat rumahnya, hyung?” taemin benar-benar berharap hyung nya bisa membantu.

“hahh… kau merepotkan,” sungmin menghela nafas, “tapi akan kuusahakan. Jadi cepatlah sembuh…”

“gomawo, hyung!”

“ne, ne~”

Brak!

Taemin’s POV

Sendiri lagi. Hah.

Sudah 2 hari ini aku sadar terus.Bukannya tidak bersyukur… tapi entah kenapa rasanya aku masih ingin tidur.Lama.Semua kejadian ini membuatku lelah.

Berarti..sudah 4 hari yang lalu sejak pertemuanku dengan Victoria-noona. Bagaimana keadaannya?Dan lagi, kenapa appa Victoria-noona kemarin malah meminta maaf padaku?Semakin membuatku tambah bersalah saja.

“ah.” Sial.Sakitnya terasa lagi.Kakiku sudah agak mendingan, tapi yang dikepalaku belum mau pergi.

“…Noona… maafkan aku…” Ucapku tidak pada siapapun.Ya, seandainya aku punya keberanian sebesar itu untuk mengatakannya pada Victoria-noona. Ah, aku memang pengecut.

Tok tok!

‘Eh? Siapa yang datang sepagi ini? Bukannya Jinki-hyung bilang jam 11?’ Kulirik jam di dekat jendela. 6:23 A.M.

“Um, masuk saja.”

Kreet.

Orang tuaku.Benarkah yang kulihat sekarang?Apa aku berhalusinasi?

“…Umma.”

“Taemin.”Umma berjalan mendekati bed ku. Kalau kuperhatikan, dandanannya terlalu rapi untuk orang yang akan menjenguk di rumah sakit.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya umma dengan tetap berdiri. Aku menggeser sedikit tubuhku ke pinggir bed.Mungkin umma mau duduk.

“… sudah mendingan, umma. Jangan khawatir.”Ucapku sambil senyum-senyum sendiri. Aku senang sekali umma mau menyempatkan waktunya—

“Jangan bercanda, lee taemin.Aku tak punya banyak waktu melakukan hal seperti ini.Kalau memang sudah mendingan, cepatlah keluar.Jangan merepotkan.Jika tidak ada proyek dekat sini aku juga tidak akan kesini.”

Deg!

“…”

“Sejak kemarin teman-temanmu menghubungiku terus.Dan siapa putra dari keluarga Lee itu?Jinki?Ibunya bahkan ikut menelponku.”Umma kelihatan sangat sebal.

Aku… tidak tahu harus menjawab apa.

“Ya sudah kalau kau memang tidak apa-apa.Aku pergi dulu.”

Tanpa memberiku bahkan sebuah ciuman maupun sebuah pelukan, umma langsung berjalan kea rah pintu keluar.

“Oh ya Taemin. Appa menitipkan salam buatmu. Dia ada job di luar kota jadi tidak bisa menemanimu.”

“… ne.”

‘jangan menangis. Kau seorang namja.’

Brak.

Sudah dua kali pintu itu tertutup. Seharusnya untuk kunjungan yang terakhir aku senang, tapi… seandainya ada hal lain yang bisa dibicarakan… ah. Sudahlah.

“Ini bukan yang pertama kali Lee Taemin,” aku menepuk-nepuk pipiku, “Umma memang sibuk, jadi beliau pasti capek—”

“…”

“—iya kan?” Setelah memastikan baju yang kupakai cukup hangat, aku turun dari bed.Pusing nya sudah lebih baik dari kemarin, jadi kuhiraukan saja. Masih agak susah untuk menjaga keseimbangan sih, tapi ya… sudahlah. Aku bosan di sini.

“apa ke taman saja ya? Cuacanya enak.”Aku menengok keluar jendela. “taman, taman…” Denah rumah sakit yang tertempel di dinding memberi tahu posisiku sekarang.

“haaah… 2-3 lantai di bawah. Yang benar saja.’Aku tidak yakin bisa jalan sejauh itu.Tapi… daripada disini.Bisa-bisa aku menjamur.

Dengan berbekal nekad aku keluar dari kamar bernomor 325 itu, berusaha menjaga keseimbangan dengan memegang apapun yang bisa kuraih.

Author’s POV

“Huwaaa~ enaknya udara luar!” Taemin berjalan menyusuri pinggiran taman rumah sakit. Sinar matahari tidak begitu terik.Cuaca yang bagus untuk bepergian.

“apa kucari sendiri saja Victoria-noona nya ya?”

“Tangkap!”

“Yah!”

“Jangan kejauhan, nanti si cengeng itu tidak bisa menangkap bolanya!”Pandangan Taemin mengarah pada anak-anak yang sekarang bermain di depannya.Dari pakaian yang mereka kenakan, mereka juga pasien di sini.

“jangan menyebutku cengeng! Kalian jahat!” teriak seorang gadis kecil yang duduk di rerumputan.

“yee~ terserah kami. Rasakan.Makanya, jangan cacat!” balas seorang anak.Taemin yang mendengarnya saja tidak tahan.Dengan sedikit lari Taemin mendekati kerumunan anak tadi.

“halo.” Sapa Taemin. anak-anak tadi menoleh kaget.

“apa kalian tidak malu mengganggu seorang yeoja?”

“si-siapa kamu, hyung?”

“dia adikku.” Taemin menunjuk gadis kecil itu.

“op—oppa?” Gadis berambut coklat itu nampak kebingungan.

“cepat minta maaf.” Sepertinya senyum dingin Taemin berguna.Sementara yang di pandang mulai menciut.

“Ma-maafkan kami…” jawab seorang anak memberanikan diri.

“N—ne…”

“Sudah. Pergi sana. Jangan ganggu adikku lagi.”

“N-ne hyung. Ayo.”

Taemin memandang anak-anak tadi sampai hilang dari penglihatannya.Gadis kecil tadi terlupakan.

“O-oppa..?” panggil gadis itu lirih.

Suaranya membuat Taemin tersadar dari lamunannya.Dia berbalik.

“Gwenchana?”Tanya Taemin mendekatinya.

“y-ya.Terima kasih banyak, oppa.”Balasnya malu-malu.Taemin tersenyum.

“Namaku taemin, siapa namamu?”

“Jiyoung, oppa.”Taemin mengulurkan tangan kanannya, yang di pandang dengan tatapan aneh oleh Jiyoung.

“Kenapa, Jiyoung-ah?Kau tidak mau bangun?”

“Ani, oppa. Bukan itu,” Jiyoung menatap kursi roda di belakangnya, “Jiyoung  tidak bisa jalan, oppa.” Jawaban polos Jiyoung membuat mata Taemin terbelalak.Tanpa diminta, taemin mengambil kursi roda tadi dan menaruhnya di dekat Jiyoung.

“Mianhae.Ayo kubantu duduk.”Kali ini uluran kedua tangan taemin diraih oleh Jiyoung.dengan hati-hati Taemin mendudukkan Jiyoung di kursinya. Jiyoung kembali berterima kasih.

“Bagaimana kursimu bisa sejauh itu? Jangan bilang anak-anak tadi—“

“Sudah biasa kok oppa.”Senyum ceria dari bibir Jiyoung membingungkan Taemin.Bukankah dia seharusnya marah?

“tidak semua masalah harus diselesaikan dengan masalah juga. Jika memang masih bisa diterima, anggap saja ini cobaan,” lagi-lagi bukan jawaban yang dikiranya bisa keluar dari mulut gadis sekecil itu, “Benar kan oppa?Umma yang mengajarkannya padaku.”Tatapan mata Taemin dan Jiyoung bertemu.Taemin masih saja terdiam dan tidak menjawab Jiyoung.

“oppa?”

“N-ne?Ne.”

Senyum Jiyoung kembali mengembang.Tangannya meraih roda kursinya, dan mulai menggerakkannya jalan.Taemin mengikuti dibelakangnya. Mereka berjalan menyusuri taman.

“Kenapa oppa disini?” langkah taemin sempat terhenti mendengar pertanyaan itu. Seandainya Jiyoung tidak menoleh, dia pasti akan jadi hiasan baru di taman.

“…aku hanya… perlu sedikit kemoterapi.” Entah kenapa nyaman baginya untuk mengatakan semua hal yang dianggapnya tabu kepada seorang anak yang baru saja dikenalnya.

“Oh. Jiyoung juga hanya latihan berjalan disini.Susah sekali.Tapi karena appa sudah hampir pulang, mungkin 2 hari lagi Jiyoung sudah pulang.Oppa bagaimana?”

“Mungkin… 3 hari lagi,” Jawab Taemin asal. ‘atau mungkin selamanya aku akan disini…’

“syukurlah kalau begitu. Jiyoung yakin Taemin-oppa tidak suka tempat ini seperti Jiyoung.”Taemin tertawa mendengar jawaban Jiyoung.

“tentu saja. Aku benci tempat ini.”

Mereka terus berjalan sampai masuk ke koridor rumah sakit.Seorang wanita paruh baya melambaikan tangan kea rah mereka.

“Jiyoung-ah!”

“Umma~”

Ibu Jiyoung mendekati mereka.

“Annyeong haseyo.”Sapa Taemin sambil membungkuk.

“Annyeong haseyo.Apakah ini temanmu, Jiyoung-ah?”

“Ya.Kami baru saja bertemu.Tapi Taemin-oppa sudah membantuku mengusir anak-anak nakal itu.”

“Jinjja?Terima kasih banyak Taemin-sshi.”Ucap ibu Jiyoung.

“Ne, bukan apa-apa.”Taemin menoleh kea rah Jiyoung.“Tanpa aku pun, sepertinya Jiyoung bisa mengusirnya sendiri.”

“hehehe.”

Jiyoung dan ibunya benar-benar orang yang baik hati.Tidak hanya dengan Jiyoung, Taemin juga merasa nyaman dengan Ibu Jiyoung.orangnya sangat lembut. Sekilas Taemin teringat Ibunya sendiri, tapi pikiran itu ditepisnya jauh-jauh.

“sebenarnya aku masih ingin berbincang denganmu, taemin-sshi, tapi aku harus membawa Jiyoung kembali ke kamarnya…”

“Oh. Tentu saja.Silahkan.”

“Dah oppa~” Jiyoung melambai. “kamsahamnida.” Jiyoung kembali tersenyum.Taemin sempat ragu, namun akhirnya memberanikan diri.

“Jiyoung-ah!Bolehkah… aku bertanya sesuatu sebelum kau pergi?”Jiyoung menatap Taemin bingung.

“Bagaimana kau bisa terus tersenyum? Kau tahu, takdir kita…” Taemin tertunduk.Ibu jiyoung meremas pundak anaknya lembut.Jiyoung memandang ibunya, seolah meminta ijin.Dengan tersenyum, ibu Jiyoung mengangguk pelan.

Jiyoung mendorong kursinya mendekati taemin.Tangan kecilnya meraih jemari taemin yang berukuran lebih besar.Taemin menatap wajah Jiyoung.ya, senyum itu masih ada di wajahnya.

“Oppa,” Jiyoung mengeratkan genggamannya, “Semua orang sudah sedih dengan keadaan kita, dan aku sangat berterima kasih untuk hal itu.Karenanya, setidaknya sebagai balasan… yang bisa kulakukan adalah tersenyum pada mereka.”Pandangan mereka kembali bertemu.Taemin menutup matanya dan mengambil nafas dalam.Tak lama kemudian, sebuah senyum tersungging di wajah taemin.

“…aku mengerti. Terima kasih, Jiyoung-ah.”

“Ne.”

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

23 thoughts on “Can you be mine, Noona? – Part IV”

  1. Aaaaa sedihhh
    Yaampun eommanya taemin
    Jahat banget siii
    Punya anak imut kaya taemin malah ditelantarin
    Dateng ke rumah sakit aja terpaksa
    Ayo victoria pliplissss bantuin taemin
    Mudah mudahan dia seneng
    Sebelum…
    Aaaa sedihhh, itu anak kecil lucu banget deh
    Lanjuuut

  2. Akhirnya publish juga,,,poor taeminie,,,ibu nya jahat bgt sihhh,,,g punya perasaan,,,semoga my taem sembuh n bsa ngedance lagi,,,,taeminie hwaiting,,,,

  3. hwaa menyedihkan … 😦
    ishhh oemmanya taemin disini, .. pengen bgt aku omelin !!!!
    gx peduli bgt sama anak … huhhhh sabar … (?)

    waahhh jiyoung jadi semangat lagi nih baca penjelasan jiyoung …
    🙂
    aku tunggu lanjutannya ya .. 🙂

  4. aaa mocha eon! / sksd, plak
    lanjutan kjja~~! huaa.. ga sabar nunggu part selanjutnya >____<
    sumpah aku nangis eon waktu taemin di kasarin gtu sm ummanya, aigoo~ keterlaluan bgt.. huhu T____T
    ah itu jiyoung kara bukan eon? kk, aku ngebayanginnya jiyoung kara soalnya xD
    ayo taemin, hwaiting! senyum kaya dulu lg ya ^^
    ga sabar nunggu taemin sm victoria ketemu dan dancing bareng 😀
    lanjut ya eon? asap ^^

  5. hwaaa!!! beneran sujud syukur deh ..
    akhirnya setelah penantian panjang ffnya di post juga!!!

    kerennn bgt deh nih ff.. saya suka bgt!
    tp ini kependekan tau eon..
    tapi tetep bagus!!
    cepetan dikirim yah thor next chapternya!!
    udah gasabar nih.. hehe

    1000 jempol buat author nyah!!!

    update soon …

    *oh yah! boleh ga saya minta name FB & twitt nya author???
    pengen lebih kenal sama author yg keren ini sihh..
    boleh yaa..*puppy eyes..

  6. bagus sekali kata-katamu author!!apalagi kata’ yang terakhir! bikin hati bergetar dan mata mulai meneteskan airnya..huhuhu..

    next part~~hehhehehe

  7. Aihhhb kenapa sih setiap part pasti ada aja yg buat aku nangis hmmmmm
    Taemin pokoknya harus sembuh ya!!!!
    Itu ummanya taemin apa2an sih ngeselin bgt
    Itu jiyoungnyaaaaaaaaa
    Ih gila bgt

  8. authooor, aku terharu bacanya niih. kata-katanya dalem bangeeet. :’)
    daebak daebak! ditunggu part selanjutnya ya…. 🙂

  9. I do not even know the way I stopped up here, however I thought this submit was
    great. I do not realize who you’re however certainly you are going
    to a well-known blogger in case you aren’t already. Cheers!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s