POLICE LINE! – Part 1

POLICE LINE!

Dedicate For You: Part 1

Author             : Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast        : Choi Min Ho, Nam Hee Ra

Other Cast       : Inspektur Hwan, Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Im Dong Joon, Song Seung Hyun (FT Island), Jung Ha Na, and other.

Cast for this Case: Lee Jin Ki, Kim Jong Hyun, Lee Ji Ra

Length             : Sequel

Genre              : Mystery, Action, Family

Rating             : General atau PG

Disclaimer:

I don’t own SHINee, they are belong to SMEnt and their family, but i do own this story. And I do own some of the cast (Nam Hee Ra, Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Lee Ji Ra, Im Dong Joon).

Lee Jin Ki POV

“Tidak ada pilihan, Jin Ki kau harus segera menemukannya!” teriak Jong Hyun tertahan.

Aku terus menggenggam tangan Ji Ra, “Aku tidak punya biaya!! Apa yang harus kulakukan?”

“Jin Ki, tolong kau keluar dulu. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Kau pikirkan cara untuk menemukannya! Ppali!!”

Aku segera beranjak keluar ruangan. Kepalaku terasa sangat berat. Apa yang harus kulakukan? Aku harus segera menemukannya untuk Ji Ra!!

Tiba-tiba terlintas suatu cara gila. Aku tau ini bukan hal baik, tapi aku harus melakukannya… demi Ji Ra…!

♫ ♫ ♫ ♫

Choi Min Ho POV

“Annyonghaseoo!!” sapa Dong Joon begitu ia datang.

Aku dan Hee Ra tersenyum, “Annyong~”

“Ceria sekali.” Ucap Hee Ra tanpa mengalihkan pandangannya ke arah koran yang sedang dibacanya.

Dong Joon tertawa, “Ne. Aku semangat sekali bekerja hari ini.”

Aku tersenyum, “Kenapa belakangan ini banyak yang ceria begitu sih? Padahal ini sudah masuk musim gugur.”

“Apa hubungannya, Min Ho?” sahut Hee Ra dari balik korannya.

“Yah, biasanya kan musim gugur, musim yang mendung. Ya, Dong Joon… apa hanya kita bertiga yang baru datang?” tanyaku.

“Yang lain sedang diluar. Membicarakan sesuatu. Belakangan ini tugas kita sangat membosankan ya.” ujar Dong Joon.

“Kalau ada kasus, kau mengeluh juga.” Sambung Hee Ra.

Dong Joon tertawa, “Kau ini, Hee Ra…”

“Hmmm… aku mau menyelesaikan laporan penyelidikan kemarin.” Hee Ra melipat koran yang dibacanya.

“Penyelidikan?” tanya Dong Joon.

Aku mengangguk, “Pencurian di Yongsan-gu 4 hari yang lalu.”

“Oooh… pencurian alat-alat rumah sakit itu ya? Lalu bagaimana hasilnya?”

“Entahlah. Tidak ada bukti-bukti memadai. Hanya ada sebuah surat yang diketik dengan komputer. Bacaaannya…”

“Mianhamnida.” Sambung Hee Ra.

Aku mengangguk. Dong Joon menatapku dan Hee Ra bergantian.

“Mianhamnida?”

“Ne, Dong Joon.” Sahut Hee Ra, “Aku tidak mengerti kenapa pencuri itu minta maaf. Tapi kalau dilihat dari tkp yang rapi dan tidak berantakan, sepertinya pelakunya sudah mengetahui secara pasti letak alat-alat tersebut.”

Dong Joon menggigit ujung bibirnya, “Penyelidikan kemarin kau dan Hee Ra ya, Min Ho?”

“Ne, aku dan Hee Ra. Inspektur Hwan juga. Kemarin kami menghubungimu tapi tidak ada jawaban. Ternyata kau terlibat kasus juga ya.” jawabku sambil tertawa.

Hee Ra tertawa, “Kasus salah tangkap. Salahmu juga, ngebut ke markas tidak membawa kartu identitas polisi.”

Dong Joon tertawa kecil, “Untungnya ditangkap oleh temanku sendiri, Jung Eun. Kalau Inspektur Hwan yang menangkapku, mungkin aku sudah diseret ke pengadilan.”

Hee Ra tersenyum, “Tuduhan berlapis. Mengendarai mobil melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan, tidak membawa kartu identitas, dan satu lagi… terlambat dalam tugas.”

“Untung saja tidak.” Dong Joon tertawa. Hee Ra geleng-geleng kepala.

♫ ♫ ♫ ♫

Lee Jin Ki POV

“Apa kau benar-benar akan melakukannya Jin Ki?” tanya Jong Hyun sekali lagi.

Aku menghela nafas. Kumasukkan barang-barang yang kuperlukan ke dalam tasku, “Aku tidak punya pilihan.”

Jong Hyun terdiam, “Apa kau tau resikonya?”

Aku mengangguk, “Tenang saja, Jong Hyun. Kau lakukan saja apa yang seharusnya kau lakukan. Jangan cemaskan aku.”

Jong Hyun tak berkata apa-apa lagi. Aku berdiri dari dudukku dan memasang sepatuku.

“Aku pergi dulu.” Ujarku singkat sebelum akhirnya meninggalkan Jong Hyun di rumah.

Aku menghela nafas. Aku harus menguatkan hatiku. Ini demi Ji Ra.

Kususuri jalan setapak yang akan menghubungkanku ke arah sungai Han. Tampak olehku mobil yang masih berlalu lalang diatas jembatan.

“Hey, namja brengsek…” terdengar sebuah suara mengagetkanku.

Aku menoleh kearah belakang. Seorang yeoja, kurasa ia sekitar 18 tahun. Dan sepertinya saat ini ia sedang mabuk.

“Ne, kau… laki-laki… semuanya brengsek…” ceracau nya.

Tiba-tiba terlintas dalam fikiranku untuk melakukannya pada wanita ini. Disekitar kami tampak sepi dan tidak ada orang sama sekali. Aku membuka tasku… dan mengambilnya…

♫ ♫ ♫ ♫

Nam Hee Ra POV

Aku langsung mempercepat laju mobilku. Earphone ku masih terpasang di sebelah telingaku.

“Inspektur sudah menunggu mu.” Ujar Jung Ki Na begitu aku sampai di markas besar kepolisan Seoul.

Aku mengangguk dan melangkah cepat menunggu ruangan inspektur Hwan. Ki Na mengikuti langkahku dari belakang. Kubuka pintu ruangannya. Tampak sudah ada Min Ho, Dong Joon, Song Seung Hyun, Kim Tae Hwa serta inspektur Hwan dan beberapa petugas forensik juga tim identifikasi.

“Hee Ra?” sahut Inspektur Hwan dengan suara beratnya. Sorot matanya serius.

Aku mengangguk, “Mianhamnida menuggu lama, inspektur.”

Inspektur Hwan mengangguk, “Seperti biasa. Aku memanggil karena ada kasus. Kali ini kasus pembunuhan di sungai Han sekitar daerah Yongsan.”

Min Ho, Dong Joon, Seung Hyun tampak sedikit terkejut. Aku pun juga terkejut.

“Yongsan?” ulangku.

Inspektur mengangguk, “Ne. Baiklah, untuk kali ini Hee Ra, Min Ho dan Tae Hwa pergi ke tkp bersama petugas forensik dan tim identifikasi, disana sudah ada Inspektur Tae Joo. Dong Joon dan Ki Na selidiki masalah ini apa ada keterkaitannya dengan kasus pencurian 5 hari yang lalu.”

“Siap, Inspektur!” jawab kami serentak begitu Inspektur Hwan menyelesaikan kalimatnya.

Kami segera bergegas menuju ke luar ruangan. Aku, Min Ho dan Tae Hwa segera berlari ke arah mobil polisi yang terparkir di depan markas besar. Min Ho segera tancap gas begitu kami sudah masuk kedalam mobil. Mobil petugas forensik pun mengikuti dari belakang.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Tae Hwa?” tanyaku.

Tae Hwa menghela nafas singkat, “Seorang wanita ditemukan terapung di sungai Han tadi pagi pukul 7 oleh masyarakat sekitar sana. Kami belum tau keadaan korban secara pasti.”

Aku terdiam sejenak, “Baiklah.”

Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke daerah Yongsan. Tepatnya di bawah jembatan sungai Han. Tampak ramai sekali saat kami sampai disana. Aku, Min Ho dan Tae Hwa segera turun dari mobil dan menembus kerumunan yang ada. Police line sudah dipasang oleh petugas.

“Min Ho, Tae Hwa, Hee Ra…!” panggil seseorang begitu kami melewati police line setelah menunjukkan kartu identitas polisi kami.

“Inspektur Tae Joo.” Ujarku pelan.

“Gunakan masker ini untuk memeriksa keadaan mayat. Kalian tidak mungkin melihatnya tanpa menggunakan masker. Periksa bukti-bukti yang ada.” Ujar Inspektur Tae Joo.

Aku mengangguk, kuambil masker yang diserahkan petugas identifikasi kepolisian di sebelah Inspektur Tae Joo.

“Penyelidikan tkp kuserahkan pada kalian.” Kata Inspektur Tae Joo sebelum kami mendekati mayat.

“Bagaimana kondisi korban ketika ditemukan?” tanya Min Ho sambil memasang tali maskernya disebelah telinganya saja.

Petugas yang sedang berjalan disebelahku mengangguk, “Korban ditemukan mengapung di sungai Han. Perutnya robek dan organ-organ dalamnya tidak lengkap. Kami belum tau apakah yang diambil atau memang sengaja dipisah-pisahkan dan dibuang dalam sungai.”

Choi Min Ho POV

“Korban ditemukan mengapung di sungai Han. Perutnya robek dan organ-organ dalamnya tidak lengkap. Kami belum tau apakah yang diambil atau memang sengaja dipisah-pisahkan dan dibuang dalam sungai.” Ujar petugas identifikasi yang berjalan di sebelah Hee Ra.

Hee Ra langsung terpaku sejenak. Ia tampak memejamkan matanya, sedetik kemudian ia menggeleng. Aku tau, walau bagaimana pun, Hee Ra adalah wanita…

“Lalu dari hasil penyelidikan sementara, kapan waktu kematiannya?” tanya Tae Hwa.

Akhirnya kami sampai di depan mayat yang sudah ditutupi plastik kuning oleh petugas forensik.

“Waktu kematian belum bisa diperkirakan kapan. Karena, korban ditemukan berada terapung dalam air.” Terang petugas forensik. Hmmm… kalau tidak salah, Uhm Jung So.

Aku mengangguk, “Benar. Mungkin pelaku sengaja memasukkannya dalam air untuk menyamarkan waktu kematian korban.”

Tae Hwa mengangguk, “Ne.”

“Lapor, pak!” sahut seorang petugas identifikasi yang segera menghampiri Petugas Uhm yang berdiri di sebelah kami.

“Ne, ada apa?”

“Kami menemukan jejak darah di tanah dan di dinding jembatan ini.” ujarnya.

Hee Ra terdiam sejenak, “Bisa aku lihat jejak darahnya?”

Petugas identifikasi itu mengangguk, “Silahkan.”

Hee Ra berjalan mengikuti langkah petugas itu ke pinggir sungai Han. Ia mendunduk untuk mengamati tanahnya.

“Apa kami bisa melihat mayatnya?” tanya Tae Hwa tiba-tiba.

Petugas Uhm mengangguk, “Silahkan. Tapi, mayatnya sudah…”

“Tidak apa.” Jawab Tae Hwa singkat.

Tae Hwa menatapku. Aku mengangguk. Kami sama-sama memasang masker yang kami kenakan.

Nam Hee Ra POV

Tampak olehku, Min Ho dan Tae Hwa membuka perlahan plastik kuning itu. Aku menggelengkan kepalaku. Terngiang di kepalaku perkataan Petugas Uhm Jung So. Organnya sudah tidak ada lagi. Aku memang sanggup melihat mayat dengan darah berlimpah-limpah. Tapi, aku tidak sanggup kalau sudah melihat seperti yang dikatakan Petugas Uhm.

Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah tanah yang terdapat bekas darah, “Dimana lagi?”

Petugas identifikasi disebelahku menunjuk dinding bawah jembatan yang tepat berada di sebelahku.

Aku berdiri, kuamati sebentar bekas darahnya, “Sudah kering.”

Petugas identifikasi itu mengangguk, “Benar. Darahnya sudah mengering.”

Aku terdiam sejenak, “Saat ini musim gugur, angin bertiup lebih kencang dari biasanya tadi malam. Sulit sekali memastikan waktu kejadian.”

“Apakah identitas korban diketahui?” tanyaku.

Petugas identifikasi menggeleng, “Belum diketahui. Di tubuh korban tidak ditemukan apa-apa. Tapi…”

“Tapi apa? Apa ada yang aneh?”

“Ne, ada kertas diatas tubuh korban.”

“Kertas apa? Bagaimana caranya ada diatas tubuh korban?” tanyaku.

Petugas identifikasi itu terdiam sejenak, “Kertas itu dimasukkan kedalam sebuah plastik bening dan ditempel menggunakan lakban diatas tubuh korban.”

“Apa ada tulisannya? Bisa aku lihat?”

Petugas itu mengangguk, dipanggilnya petugas lain.

“Shin Yo, tolong bawa kertas bukti tadi!” sahutnya.

Petugas bernama Shin Yo itu mengangguk. Ia segera membawa sebuah plastik dan menghampiri kami. Setelah memberikannya pada petugas yang dari tadi ada disebelahku, petugas Shin Yo langsung menghampiri petugas lain yang sedang bekerja.

“Ini kertasnya. Kami belum membuka plastiknya.”

Aku menerimanya. Benar, plastiknya dua lapis. Satu plastik petugas identifikasi. Kubalikkan plastik itu perlahan.

“Mianhamnida???” ujarku tertahan.

“Ne, dan seperti yang bisa dilihat, itu diketik menggunakan komputer.”

♫ ♫ ♫ ♫

“Apa?” teriak Inspektur Hwan.

“Ne, sepertinya pelakunya sama dengan pelaku pencurian alat-alat rumah sakit itu, Inspektur.” Ulangku sekali lagi.

“Apa kau punya bukti??” tanya Inspektur Hwan.

Aku mengangguk, kuserahkan barang bukti yang dari tadi kupegang.

“Mianhamnida?” gumam Inspektur Hwan setelah membaca kertas yang ada dalam plastik.

“Ne, inspektur. Kertas ini ditemukan petugas di atas tubuh mayat. Kertas ini dimasukkan kedalam plastik dan direkatkan menggunakan lakban hitam.”

“Baiklah. Ki Na, segera bawa barang bukti ini untuk diperiksa. Mungkin saja masih ada sidik jari yang tertempel.”

Ki Na mengambil plastik itu dari tangan Inspektur Hwan, “Baik.”

“Lalu bagaimana hasil otopsi?” tanya Inspektur Hwan setelah Ki Na keluar.

“Hasil otopsi baru keluar nanti sore, inspektur.” Sahut Tae Hwa.

“Inspektur Hwan, mungkin saja kita tidak menemukan sidik jari dari plastik itu.” ujarku, “Pada kertas sebelumnya juga tidak ditemukan sidik jari.”

Inspektur Hwan terdiam sejenak, “Lalu apa tulisan kertas itu sama persis?”

Aku mengangguk, “Ne. Sama persis. Letak hurufnya juga sama. Mungkin pelaku memang sengaja mempersiapkannya.”

“Yang jadi pertanyaan sekarang, kenapa ia minta maaf.” Ujar Min Ho yang daritadi diam.

Semua terdiam.

“Mungkin ia menyesal atau terpaksa.” Tae Hwa menatap Min Ho.

Min Ho mengangkat bahunya, “Mungkin… tapi ini terlalu kejam.”

“Manusia pasti punya alasan untuk membunuh.” Tae Hwa duduk disebelahku.

“Apapun alasannya, tidak seharusnya manusia membunuh manusia lainnya.” Ujarku pelan.

Semua terdiam. Inspektur Hwan mengangguk pelan.

“Hasil otopsi sudah keluar!” sahut seseorang yang baru saja membuka pintu dengan tergesa. Ki Na.

“Jinca? Kenapa lebih cepat?” tanya Tae Hwa.

Ki Na mengangkat kedua bahunya, tangannya memegang kertas-kertas yang kuyakini adalah hasil otopsi. Ki Na terburu-buru menyerahkannya pada Inspektur Hwan. Inspektur membacanya.

“Korban bernama Han Song Ja, umurnya 19 tahun dan merupakan mahasiswi Universitas Seoul.”

“Apa keluarganya sudah memastikan?” tanyaku.

Ki Na mengangguk, “Ne. Tadi pagi polisi mendapat laporan tentang seorang yeoja yang hilang sejak kemarin dan polisi langsung memastikannya ke rumah korban. Setelah dilakukan otopsi, ternyata benar. Dia yeoja yang hilang itu.”

“Jadi begitu ya.” gumam Tae Hwa.

“Golongan darahnya B.” ujar Inspektur Hwan.

Aku terdiam.

“Waktu perkiraan kematian tidak didapat secara pasti.” Tambah Inspektur Hwan.

“Apa keluarganya sudah dimintai keterangan?” tanya Min Ho.

Ki Na menggeleng, “Keluarganya tampak sangat terpukul. Mungkin baru bisa besok.”

“Baiklah, Hee Ra dan Min Ho besok temui keluarga korban.” Instruksi Inspektur Hwan.

“Baik, Inspektur.” Jawabku dan Min Ho serentak.

“Aku akan memeriksa barang-barang bukti lebih lanjut, Tae Hwa hubungi Song Seung Hyun, katakan padanya untuk memeriksa tkp sekali lagi bersamamu.”

“Baik, Inspektur!” jawab Tae Hwa.

“Inspektur, ada satu hal penting yang disampaikan petugas otopsi.” Ujar Ki Na.

“Apa itu?” tanya Inspektur Hwan.

Ki Na menghela nafas panjang, “Pelakunya bukan orang biasa. Sepertinya ia paham betul bagaimana seluk beluk strukur dalam organ manusia.”

♫ ♫ ♫ ♫

Choi Min Ho POV

“Min Ho, benar ini rumahnya?” tanyaku Hee Ra lagi.

Aku mengangguk, “Benar, sudahlah. Ayo kita masuk.”

Aku melangkah menuju dalam gerbang rumah yang tampak megah ini. Hee Ra mengikutiku masuk.

“Ting… tong…” kutekan bel yang ada disebelah pintu.

Tidak ada jawaban. Hee Ra mengamati keadaan di sekitar rumah.

“Apa tidak ada orang? Rumahnya tampak sepi sekali.” Ujar Hee Ra.

Kutekan belnya sekali lagi, “Mungkin tidak kedengaran belnya.”

“Ne, tunggu sebentar.” Terdengar sahutan dari dalam.

Aku tersenyum kearah Hee Ra. Hee Ra tersenyum. Pintu rumahnya terbuka. Tampak seorang ajumma yang membukanya. Sepertinya bukan pemilik rumah.

“Annyonghaseo. Maaf mengganggu, kami dari Kepolisian Seoul.” Ujarku ramah sambil mengeluarkan tanda identitas polisiku dari saku.

Hee Ra membungkuk dan melakukan hal yang sama denganku.

“Ah, ne. Saya pembantu disini.”

Hee Ra tersenyum, “Apa kami bisa bertemu dengan orangtua dari Han Song Ja?”

Ajumma itu terdiam sejenak, “Nyonya dan Tuan besar ada di dalam. Silahkan masuk.”

Aku dan Hee Ra segera masuk kedalam rumah tersebut.

“Nyonya tampak begitu terpukul atas kematian Song Ja-agassi.” Ujar ajumma itu, “Silahkan duduk. Saya panggilkan Tuan dan Nyonya dulu.”

Aku mengangguk. Ajumma itu berlalu dari hadapan kami.

♫ ♫ ♫ ♫

Lee Jin Ki POV

Kutatap lagi tubuh yang tergeletak lemas itu dengan pandangan nanar. Kim Jong Hyun menggenggam bahuku.

“Tidak bisa.” Ujarnya pelan. “Tubuhnya tidak cocok dengan yang kau dapatkan.”

“Lalu bagaimana?!!” tanyaku setengah berteriak.

Jong Hyun menggelengkan kepalanya pelan, “Kau harus mencarinya lagi, Jin Ki. Waktunya tidak akan lama lagi. Aku tidak bisa membuatnya menjadi lebih baik jika kau tidak bisa menemukannya. Itu satu-satunya cara yang harus kau tempuh.”

Air mataku perlahan turun mengalir ke pipiku. Buru-buru kuseka airmataku.

“Kau harus tegar, Jin Ki. Kau harus tegar!”

♫ ♫ ♫ ♫

Choi Min Ho POV

Inspektur terdiam.

“Memang tidak ada sidik jari yang bisa ditemukan dari kertas atau plastik itu, Inspektur.” Ujar Ki Na.

“Baiklah, terimakasih atas laporanmu, Ki Na.” Inspektur menutup berkas yang ada didepannya, “Hee Ra dan Min Ho, bagaimana dengan kalian?”

“Kami sudah memintai keterangan dari keluarga dan teman kampusnya kemarin.” Kata Hee Ra.

Aku mengangguk, “Ternyata hubungan kedua orangtuanya tidak begitu baik. Korban jarang diperhatikan oleh orangtuanya. Sementara dari cerita teman-temannya, mereka bilang, selama ini korban baik-baik saja. Tidak ada musuh yang berarti di sekitarnya.”

“Jadi, dia gadis baik-baik?” tanya Inspektur Hwan.

“Ne. Ia bukan gadis pemberontak.” jawabku.

“Teman-temannya terakhir kali bertemu dengannya pada malam itu pukul 10. Pada malam itu korban mengajak teman-temannya minum di bar. Korban baru saja diputuskan oleh pacarnya hari itu. Mungkin karena itulah ia mabuk-mabukan malam itu.” terang Hee Ra.

“Berarti waktu kematian korban diprediksi sekitar pukul 10 malam hingga jam 3 pagi?” tanya Inspektur Hwan.

“Jam 3 pagi?” tanyaku.

Ki Na mengangguk, “Berdasarkan keterangan petugas otopsi, waktu perkiraan kematian korban adalah dari pukul 7 malam hingga pukul 3 pagi. Karena tidak mungkin lebih dari pukul 3 pagi, keadaan korban bisa seperti itu.”

Hee Ra menganggukkan kepalanya.

“Bukan jam 10 malam.” Ujarku tiba-tiba.

“Kenapa?” tanya Inspektur.

“Bar itu terletak jauh dari sungai Han dan teman-temannya bilang dia pulang jalan kaki dalam keadaan mabuk begitu.” Kutatap Hee Ra.

“Bisa saja ia dibunuh dijalan lalu dibawa ke sungai Han.” Ki Na menatapku.

Hee Ra menggeleng, “Itu tidak mungkin, Ki Na. Korban pasti dibunuh di pinggir sungai Han. Dibawah jembatan. Karena ada bekas darah di dinding penyangga jembatan.”

Inspektur Hwan tersenyum.

“Dari bar sampai ke pinggir sungai, kalau ditempuh menggunakan mobil kira-kira memakan waktu sekitar 30 menit. Kalau berjalan kaki, mungkin lebih kurang 1 jam.” Terangku, “Berarti waktu pembunuhan sekitar pukul 11 malam hingga jam 3 pagi.”

“Alibi teman-temannya sempurna. Pacarnya juga sudah kami mintai keterangan. Pacar korban bilang tadi malam ia menghabiskan waktunya bersama orangtuanya dirumah, alibinya sempurna. Alibi kedua orangtua korban juga sama. Ayah korban menghadiri meeting terbatas perusahaan dan kami sudah memastikannya. Ibu korban malam itu ada di hotel bersama selingkuhannya.” Jelas Hee Ra.

“Dan dari kesimpulan sementara, pelaku adalah orang yang tidak punya hubungan apa-apa dengan korban?” tanya Ki Na.

Kami mengangguk. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Ternyata Dong Joon dan Seung Hyun.

“Inspektur, petugas tidak menemukan barang bukti apapun di dasar sungai dan tidak ada lagi barang bukti di tkp.” Lapor Seung Hyun.

“Ne, baiklah. Kurasa itu cukup.” Kata Inspektur Hwan.

“Jadi, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?” tanyaku.

Inspektur terdiam. Suasana hening karena tak ada yang berbicara.

“Baiklah.” Ujar Inspektur Hwan tiba-tiba, “Seung Hyun dan Dong Joon, kalian selidiki data-data dokter di rumah sakit kemarin. Selidiki jika ada dokter atau ahli yang bermasalah.”

“Siap, inspektur!” sahut Seung Hyun dan Dong Joon.

“Sekarang, aku permisi dulu.” Ucap Inspektur Hwan yang langsung meninggalkan kami semua.

Hee Ra tampak menggigit ujung bibirnya. Aku tau, itu kebiasaannya saat sedang berfikir.

“Hee Ra…” panggilku.

Hee Ra menoleh, “Ah, ne?”

“Apa yang sedang kau fikirkan?” tanyaku sambil menatap matanya.

Hee Ra menghela nafas panjang. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Pembunuhan ini belum berakhir…”

♫ ♫ ♫ ♫

Lee Jin Ki POV

“Gadis itu… benar…” gumamku.

Kumasukkan kertas yang diberikan Jong Hyun tadi kedalam sakuku. Kuhampiri gadis yang masih menggunakan seragam sekolah itu.

“Annyong~” sapaku pelan.

Gadis itu menoleh, “Ah… annyong…”

“Kau masih ingat aku?” tanyaku.

“Mmmm…?” ia menatapku tak yakin.

“Rumah sakit…” ucapku.

Gadis itu tiba-tiba tersenyum, “Ah, dokter Jin Ki!”

To be contined…

a/n: Cast fot this case itu maksudnya cast untuk kasus ini. aku rencananya mau bkin serial Police Line. Cast for this cast dalam ff Police line yang lain beda-beda. Tapi Main cast sama Other Cast nya selalu sama. Doain lancar yaaaa… gomawo udah baca n komen… ^__^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

18 thoughts on “POLICE LINE! – Part 1”

  1. Wah,ky’y gw first reader nh,horee ^o^ *sorak2 gaje
    Kenapa jinki sampai nekat ky’ gt,emg Jira kenapa? Jonghyun t siapanya Jira n Jinki?
    critanya kereen,bikin penasaran bgt,>,<
    Lanjut storynya chingu..

  2. wuiiih.. sadis tuh! mau ngapain dokter jin ki ngambil organ tubuh si korban? apa buat Ji Ra itu? sebenarnya Ji Ra kenapa sih?
    pantes aja katanya si pelaku tahu seluk beluk organ tubuh manusia, orang pelakunya aja seorang dokter. ckck,,
    jin kii.. kejam sekali dikau.. *geleng-geleng kepala*

    1. Seruuu!!!!!!!
      Itu jinki sebenernya dokter?!?!!
      Jira siapa sih? Trs dia kenapa sih?
      Sakit apa si jira itu?
      Jinki jahat, baik, tapi kasian jugaaa
      Huaaaa polisinya minho!!!!
      Tinggi, ganteng, tegap, gila pas banget
      Pasti org2 pada kesemsem kalo liat dia tugas wkwkkwkwkw minho gitu
      Haduh pokoknya jinki jangan kebanyakan bunuh org dong yaaa!!!
      Lanjut part 2 yaaaa

  3. Aishh
    Onew baik bangett
    Rela ngebunuh
    Tapi sedih banget kalo harus ditangkep
    Diakan terpaksa
    Mana polisinya minho lagi
    Pasti ganteng*pernyataan yang udah pasti jawabannya iya*
    Lanjuttt

  4. telat bca soalx kmrn msh uts.. *ga da yg nanya*
    asik bgt critax, jd onew mesti ngebunuh lg? Seunghyun jd polisi, psti jd polisi yg plg imut.. haha..
    ah penasaran, lanjut thor~

  5. waww… ini crita bener2 daebak … aku jdi ngebayangin csi .!!!
    boleh nih, klo kasus ini selesai bisa di bikin kasus2 lain … daebak !!!
    kata2nya mudah di mengerti, pdhal kta2 polisi ato penyidik2 itu kan rada2 susah aku masukin otak ..

    keren, pertama2 aku keinget sma video klipnya tvxq .. terus makin kesisi mirip am csi … ajibb keren dah .. T.O.P !!!

    1. gomawo gomawo gomawooo…
      iya ya mudah dimengerti? syukur deh… ^ ^

      CSI? Aduuuh… jauh banget sama CSI,,,
      aku masih amatiran.. ahahaha..
      tapi CSI itu film kesukaan aku nomer wahid… ahha..

      gomawo dah bacaaaa yaaaaa… 😀

  6. mmm…. kyaknya bisa kuprediksi deh….
    jadi, jinki mungkin punya kerabat yg sdang skit keras n btuh donor. karena ga punya biaya, dia jdi mncari donor itu sndiri. karena ia seorang dokter, ia bisa ‘mengoperasi’ sendiri. slama ini dy blum nemu donor yg cocok, mkanya korban terus menerus berjatuhan, dan donor yang tidak cocok itu beserta korbannya dibiarkan meninggal dan ia hanya bisa mengucapkan ‘MIANHAMNIDA’, karena mrasa bersalah udah merenggut nyawa orang. kira kira sih gituuu….
    lanjuuuuut!!!!!!!!!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s