They Suddenly Came into My Days – Part 4

Title                       : They Suddenly Came into My Days (Part 4)

Author                  : myee

Main Cast            : Kim Soona, SHINee members

Support Cast      : Seo Jeo Hyun, Im Yeon Ji

Genre                   : AU (School), Friendship, Slight Romance

Length                  : Sequel

Rating                   : G

—–

Author’s POV

Ponsel namja itu bergetar. Dia melihat sekeliling, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya.

“Yeoboseyo?”

“Kudengar kabar kalau dia mengalami kecelakaan kecil, benar?”, tanya seseorang dari seberang sana.

Namja itu mengangguk, “Ya, benar. Dia masih belum sadarkan diri, tapi aku bisa memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja.”

“Baguslah. Lalu?”

“Aku masih mengawasinya di sini. Keempat orang lainnya juga tidak mengetahui siapa aku sebenarnya”, sambungnya.

Pertahankan situasi itu. Ingat, dia itu anak dari si brengsek Kim. Yeoja itu bisa kita manfaatkan untuk menjatuhkan dia. Awasi dia terus, mengerti?”

“Ya, aku mengerti.”

“Bagus. Saluran kuputus di sini. Kutunggu laporanmu selanjutya”, ucap seseorang itu sebelum mematikan line teleponnya.

Namja itu melenguh panjang dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia kemudian beranjak menuju lantai dua, di mana keempat namja lain tengah menunggu si putri semata-wayang presiden Korea bangun dari alam bawah sadarnya.

Kim Soona’s POV

“ngggr~h”, erangku.

“Soona!”

Aku membuka mataku. Pandanganku masih sedikit kabur. Tetapi setelah aku berkedip beberapa kali, pandanganku sudah lumayan jelas lagi.

“SOO! Syukurlaaah!”, Yeon Ji memelukku yang masih terbaring di tempat tidur. “Kukira kau kenapa-kenapa! Kau mengkhawatirkan kami!”, lanjutnya sambil melepaskan pelukannya. Kuperhatikan matanya sedikit sembab.

Lho? Dia kenapa?

Aku bangun dan duduk menyandar pada tempat tidurku. Ternyata aku sudah berada di kamarku. Onew oppa, Jonghyun oppa, Yeon Ji, dan Jeo Hyun duduk mengelilingiku di tempat tidur. Taemin menyandar pada dinding di sebelah jendela, Kibum duduk di sofa kamarku, dan Minho berdiri di sebelah tempat tidurku sambil melipat tangannya.

Tunggu, ini ada apa sih? Kok semuanya ngumpul gini?

“Kalian semua? Ada apa?”, tanyaku polos. Sungguh, aku tidak mengerti.

“Lho? Kamu lupa sama itu?”, tanya Jeo Hyun sambil menunjuk keningku. Aku menyentuh dahiku, sepertinya ada yang melilit. Ah, perban ternyata.

“… Noona enggak amnesia, kan?”, tanya Taemin tiba-tiba. Aku menggeleng heran. “Ya enggaklah, aku masih inget kalian semua kok”, kataku.

“Jadi, kemarin itu kepalamu ketimpuk bola baseball. Berdarah. Kamu sempat sadar kemarin, tapi pingsan lagi”, ucap Jonghyun oppa.

Oh, ya, aku ingat. Kejadian di lapangan yang itu.

EH! TUNGGU!

“Sebentar! Kok kemarin sih?”, aku mengrenyitkan dahiku.

“Dari kemarin siang kamu tuh enggak kunjung bangun. Akhirnya pada saat itu juga kita izin untuk nge-skip 2 jam pelajaran terakhir untuk ngebawa kamu ke rumah, dan Jjong menghubungi dokter pribadimu. Bola itu mengenai bagian kepalamu sebelah kiri deket pelipis atas, dan syaraf matamu sedikit terbentur. Tapi untung enggak berdampak terlalu bahaya, jadi kamu enggak apa-apa”, kata Onew oppa. Aku manggut-manggut.

“Mau nanya. Kemarin kenapa kamu tiba-tiba pingsan lagi?”, Kibum berdiri dari sofanya dan berjalan ke arahku.

Aku menggeleng. “Mollaseo… Kalau enggak salah sih, pas aku ngeliat sinar matahari dari luar, tiba-tiba kepalaku berdenging gitu, kayak ditusuk-tusuk. Terus… Enggak inget lagi.”

“Berarti dokter pribadimu benar, matamu sedikit kena efeknya. Pokoknya sekarang jangan liat sinar yang terlalu silau dulu ya? Apalagi sinar matahari langsung…”, lanjut Jonghyun oppa.

“Tapi, Soo. Kamu sekarang enggak apa-apa kan? Kepalamu gimana? Terus penglihatanmu masih baik-baik aja kan? Bener enggak apa-apa kan?”, kata Yeon Ji cemas sambil memegang kedua pundakku.

Aku mengangguk, “Iya… Enggak apa-apa. Tenang dong, Yeon Ji-ah…”

“Syukurlah…”, kata Jeo Hyun sambil melenguh panjang.

Aku melihat sekeliling, “Kalian enggak sekolah?”, tanyaku heran.

Minho mengrenyitkan dahinya, “Ini udah jam enam sore, Soo.”

HAH?

Selama itukah aku enggak sadar?

“Duh, pantes aku laper eehehehehehe”, kataku sambil nyengir.

Mereka semua terkekeh, “Kalau gini sih bener dia enggak apa-apa”, kata Kibum sambil berjalan keluar kamar. “Mau ke mana kau, Key?”, tanya Jonghyun oppa.

“Buat makanan. Ada yang mau bantu? Kalian pada laper kan?“, ujarnya beranjak keluar kamar.

“Oh, aku mau bantu, hyung!”, kata Taemin sambil berjalan mengikuti Kibum. “Kita juga!”, kata Jeo Hyun dan Yeon Ji. Tinggalah Minho, Onew oppa, dan Jonghyun oppa di kamarku.

“…Aku mau ke bawah juga, mau bantu-bantu dikit”, kata Minho seraya beranjak keluar kamar.

“Oppa berdua enggak bantuin?”, tanyaku. Mereka menggeleng, “Terlalu banyak yang di dapur juga kayaknya enggak bakal efektif deh”, kata jjong oppa.

Aku manggut-manggut. “Oh iya, maaf ya aku merepotkan kalian semua… Terima kasih banyak udah mengkhawatirkan aku seperti itu… Kalian sampai nge-skip sekolah kemarin juga gara-gara aku, kan? Jeongmal mianhae…”

“Kan sudah kubilang ini tugas kita. Jangan merasa sungkan, kita selalu siap sedia untuk membantumu”, kata Onew oppa sambil mengelus kepalaku.

Aku tersenyum.

Sungguh baik sekali dua oppa baruku ini.

“Oppa, aku mau ke bawah dong, bosen kalau di sini terus”, kataku sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.

“Yakin? Kepalamu gimana? Udah enggak pusing?”, tanya Onew oppa. Aku mengangguk, “Masih sih, tapi enggak apa-apa, kok.”

“Ya sudah, sini aku bantu jalan. Takut jatuh, sih”, ujar Jonghyun oppa sambil memegang lenganku. “Geomawo oppa…”

—–

“Noona! Ada telepon untukmu nih!”.

Taemin yang sedang berada di ruang tengah memanggilku yang tengah berada di ruang makan. Yeon Ji, Jeo Hyun, dan Kibum sudah memasak spaghetti dan omelette untuk kami berdelapan.

Aku bangkit dari kursiku. “Tidak usah, biar line teleponnya aku sambungin ke telepon ruang makan, tunggu sebentar”, kata Minho.

Aku mengangguk. Sesaat kemudian Minho menyodorkan sebuah telepon kepadaku. “Dari siapa?”, tanyaku sambil menerima telepon itu. “Appamu”, jawab Minho sambil tersenyum.

“Appa?!”, ujarku sambil berbicara pada orang yang meneleponku dari jauh sana.

“Soona! Kamu enggak apa-apa sayang?”

“Ne, gwaenchanayo, appa…”

“Syukurlah! Tadi Jinki menelpon Ho Dong, katanya kau mengalami kecelakaan kecil…”

“Hahaha, kecelakaannya tidak separah itu kok, appa…”, aku terkekeh. Memang sifat gampang khawatir yang dimiliki appaku itu cepat sekali kambuh.

“Bagaimana dengan kelima namja itu? Apakah kerja mereka baik?”

Aku melihat kelima namja yang sedang memperhatikanku itu. “Ne, appa. Mereka baik sekali… Tapi ada satu orang yang sifatnya agak menyebalkan”, kataku santai sambil melirik Kibum.

“HEI! MAKSUDMU AP– HMMP”, mulut Kibum sudah keburu dibungkam Taemin.

“Hah? Maksudmu?”

“Haha, aku bercanda appa. Mereka baik semua kok.”

“Syukurlah kalau begitu. Tidak salah Ho Dong memilih mereka berlima…”

“Oh iya, appa kapan pulang?”

“… Urusan appa yang di Amerika masih ada, sayang. Terus ada kemungkinan appa harus menghadiri konferensi antar negara di Swiss. Jadi mungkin appa pulangnya masih sedikit lama…”

Aku tertegun. “Ya sudah…”, kataku lirih.

“Maafkan appa, Soona. Appa janji kalau appa sudah sampai Korea nanti, kita habiskan waktu bersama, ya!”

Aku tersenyum tipis. “Ne, appa. Kudoakan semoga pekerjaan appa lancar.”

“Tenanglah Soo. Masih ada kelima namja itu yang akan menjagamu. Jangan merasa kesepian ya?”

Aku mengangguk. “Ya, appa.”

“Ya sudah, appa masih ada rapat nih. Jaga kesehatanmu baik-baik ya. Jangan lupa makan yang teratur, terus jangan ceroboh, appa enggak mau denger kamu celaka lagi, arasseo?”

“Ne appa…”

“Baiklah, sampai jumpa nanti ya, anakku”, ujarnya sambil menutup line telepon.

Aku meletakkan telepon itu di meja. Aku melenguh panjang. “Waeyo?”, tanya Jeo Hyun.

“Sepertinya appa bakal lama di luar negeri. Sampai kapan sih appa bakal sibuk terus?”, aku menggerutu.

“Tenang, Soo! Masih ada kita kan?”, kata Yeon Ji sambil tersenyum.

Aku memandang muka mereka semua. “Tapi… Apa aku tidak merepotkan?”

Jeo Hyun terkekeh, “That’s what friends for… We’ll always beside you!”, ucapnya.

Aku tersenyum kecil. Ternyata di dunia ini masih ada juga yang bersedia membantuku dan bersedia menjadi sahabatku. Jujur, sebagai anak seorang presiden, kadang banyak orang yang memandangku sebelah mata, dan tidak sedikit orang yang merasa terlalu minder untuk bergaul denganku.

“Thanks…”, ucapku.

—–

Hari minggu, dan aku bosan. Ya, bosan.

Perbanku sudah dicabut dari kemarin malam, dan saat kulihat di kaca, terdapat sebuah luka gores di dahi bagian atas. Luka itu masih sakit kalau kupegang. Waktu cuci rambut saja tanganku musti hati-hati agar tidak terkena bekas luka itu.

Sekarang jam sepuluh. Sudah lebih dari dua jam aku duduk di bangku kayu beralaskan kasur tipis empuk yang terletak di teras halaman belakang, melihat kucuran air yang mengalir menuju kolam renang. Hembusan angin sejuk terus membuat rambutku menari-nari kecil, dan sinar matahari musim semi terasa hangat menerpa badanku.

Aku tidak diizinkan untuk pergi keluar oleh Jinki oppa dan Jonghyun oppa. Ya, sekarang aku sudah 100% menganggap mereka sebagai kakak laki-lakiku, jadi sekarang aku berusaha menuruti apa yang mereka katakan. Tapi, baru 2 jam di rumah aja bosannya minta ampun. Oppa! Aku mau keluaaar!

“Ini, kemarin malem aku sempat buat puding”, seseorang menyodorkan sebuah piring kecil kepadaku.

“Kibum? Ah, geomawo…”, aku menerima puding vanilla dengan saus coklat yang dia bawa dan melahapnya.

Dia duduk bersila di sebelahku dan menyantap puding miliknya. “Ngapain bengong di sini?”, tanyanya.

“Emm… Afhu bo-hen di khama hehus… (Aku bosen di kamar terus)”, kataku sambil mengunyah makanan itu.

“Haish! Jorok! Makan jangan sambil bicara!”, dia menjitak kepalaku.

“APPOOO!”

Aku meletakkan piring puding itu di meja dengan kasar. Aku langsung memegang dahiku dan meringis. Jitakannya hampir saja kena luka yang kemarin.

“MIANHAE! Aduh lupa!”, Kibum meletakkan piringnya di sebelah kirinya dan dia memegang dahiku. Dia menyingkirkan poniku dan melihat ke arah lukaku. “Masih sakit banget?”, tanyanya sambil terus memegang dahiku.

Aku mengangguk. Aku masih meringis. Aduh, perih sekali.

“Maaf maaf! Ini kuapakan dong?”, Kibum berdecak. Tiba-tiba aku merasakan ada angin dingin yang menerpa dahiku.

Kusadari Kibum sedang meniup-niup dahiku lembut.

Aneh. Kenapa tiba-tiba dia jadi perhatian begini?

“… Emang ngaruh?”, kataku. “Ya coba aja, siapa tau bekas lukanya terasa dingin”, ujarnya tanpa berhenti meniup.

“EHM! EHM!”. Kibum menarik telapak tangannya dari dahiku dan menoleh ke arah pintu teras. Aku langsung menatap sosok yang berdehem itu.

“Kalian…”, kata Taemin sambil terkekeh. Di sebelahnya ternyata ada Jinki oppa yang berdiri sambil melipat tangannya. “Key, ngapain kamu?”, tanya Jinki oppa.

“Tadi dia ngejitak kepalaku…”, kataku sambil mengusap-ngusap dahiku. “Makanya aku niup-niup, siapa tau jadi enggak sakit lagi…”, sambung Kibum sambil mengambil piringnya lagi, kemudian berdiri dan berjalan masuk ke dalam.

“BABO! Ngapain main jitak, sih? Kalau kepalanya kenapa-kenapa lagi gimana? Taemin-ah! Bawa es ke sini sama handuk kecil!”, ujar Onew oppa kesal sambil menjewer (bahasa Indonesia yang benernya apa sih?) Kibum. Taemin mengangguk dan berlari ke arah dapur.

“YAAAAA! Hyung, aku kan kelupaan!”, kata Kibum sambil melepaskan jeweran Onew.

“Kalian berdua, sudah sudah…”, ujar Taemin menengahi, kemudian dia menempelkan handuk kecil berisi es batu itu ke dahiku pelan. “Noona enggak apa-apa? Masih sakit enggak?”, tanyanya. Aku menggeleng.

“Dahiku udah enggak begitu sakit lagi kok, Taemin-ah. Oh ya, makasih udah khawatir, oppa…”, kataku. “Kibum-ya! Geomawo pudingnya!”, teriakku dari teras. Kibum hanya mengangkat tangan kanannya sebentar sambil berjalan ke dalam.

Onew oppa menghampiriku dan duduk di sofa seberangku. “Oppa, aku boleh keluar enggak? Bosen banget di sini…”, kataku sambil terus menempelkan handuk kecil itu di dahiku.

“Tidak boleh, aku takut kamu jatuh atau pingsan atau apapun itu di luar sana. Kepala kamu masih sakit gitu lagi”, katanya dingin sambil bersender di bantal sofa yang besar itu. Taemin mengambil sepiring puding yang ada di meja, “Noona, ini boleh buat aku?”, tanyanya.

“Eh? Tapi itu sendoknya? Kan bekasku…”, kataku. “Biarin”, katanya singkat dan melahap pudingku. Ya ampun anak ini… lagi kelaparan apa ya?

Aku menatap Onew oppa lagi. “Onew oppa~ Please ya? Ya?”, aku mengeluarkan puppy eyes-ku sambil tersenyum. Onew oppa mengerutkan alisnya, “No.”

“Yaaah, oppa. Tolong dong, sekaliiiiiiiii aja!”, aku berdiri dari bangku kayu ini dan duduk di lantai dengan kepala menghadap Onew oppa. Aku meletakkan tanganku di lantai, bersiap untuk ‘menyembah’ Onew oppa.

“YAAA! SOONA! Hentikan! Gak usah main sujud-sujud juga!”, katanya sambil menarikku berdiri. Taemin hanya tertawa-tawa melihat kelakuanku ini.

“Habis oppa enggak ngijinin aku keluar sih”, aku manyun. Dia melenguh panjang, “Ya sudah, kau boleh keluar”, katanya menyerah.

“ASSSAAA~~~~”, aku sumringah. “Tapi satu syarat, kita berlima ikut”, ucapnya singkat.

Aku terdiam. Berlima? Semuanya?

“Hah?”, aku melongo. Onew oppa mengangguk, “Iya. Berlima.”

Aku sedikit berpikir. “Ya sudah”, kataku sambil tersenyum. Onew oppa menepuk-nepuk kepalaku pelan dan pergi ke dalam rumah.

—–

Sekarang jam satu siang. Aku, Yeon Ji, Jeo Hyun, dan kelima namja itu kini tengah berada di pusat kota Seoul. Sudah lama aku tidak begini, bebas, berjalan-jalan bersama sahabat-sahabatku. Aku bersyukur juga diberi pengawas yang umurnya tidak jauh beda (sebaya malahan) denganku. Aku bisa nyambung mengobrol dengan mereka.

“Soo..”, Jonghyun oppa menepuk-nepuk pundak kananku pelan.

Aku menoleh padanya, “Waeyo, oppa?”

Dia sedikit menggaruk kepalanya, “Kamu… Kamu anaknya presiden, kan?”

Aku mengrenyitkan dahiku, “Iya. Terus?”

“Kok dari tadi kayaknya gak ada orang yang nyadar kalau kau itu anak presiden?”

Aku tertawa kecil.

“Ahahaha. Yah, appaku itu memang sedikit menyembunyikan identitas asliku. Memang, masyarakat tau kalau presiden mempunyai seorang anak perempuan tunggal, tapi mereka tidak tahu siapa. Appaku itu super protektif padaku.”

“Tapi berkat itulah aku bisa sedikit menghirup udara kebebasan”, sambungku.

Jonghyun oppa menatapku. “Tapi siswa sekolahmu pada tau kan?”

“Hmm, tidak semuanya. Kurang dari 10% siswa kok yang tahu statusku sebenarnya. Para guru juga tidak menyebarkannya.”

Aku tersenyum. “Jujur, aku kurang suka dengan status ‘putri presiden’ atau semacamnya. Itu membuatku sedikit dipandang beda oleh orang lain.”

Oppaku yang satu itu mengerenyitkan dahinya pertanda bingung.

“Hmm, eotthoke? Aku bingung menjelaskannya gimana… Terkadang aku sedikit dianggap berbeda…”

Sesaat kemudian Jonghyun oppa tersenyum dan menepuk-nepuk kepalaku, “Ya…ya… Ara, aku mengerti.”

Aku hanya tersenyum pada Jonghyun oppa.

“Oh. Aku mau ke toko olahraga itu sebentar”, kata Minho tiba-tiba sambil menunjuk toko sport di seberang jalan.

“Ngapain?”, tanya Jinki oppa.

“Minggu depan kemungkinan aku ada pertandingan. Mau liat-liat sepatu”, jawabnya.

“Minho hyung ini udah dipilih jadi pemain inti, lho”, kata Taemin di belakangku. “Wah? Jjinja? Seung Ri oppa memilihmu?”, tanya Jeo Hyun tidak percaya.

Si jangkung itu hanya tersenyum, “Bukan hanya aku, Kibum juga”,ucapnya sambil menunjuk Kibum yang sedang mendengarkan lagu dari iPodnya. “Hee~ Enggak nyangka…”, kataku sambil melirik Kibum.

Kibum yang sedang asyik melihat sekeliling akhirnya sadar bahwa dia sedang dilirik oleh tujuh pasang mata. “Apa?”, katanya sambil membuka sebelah earphone-nya.

“Ani… Kita mau ke toko olahraga dulu”, ucap Jonghyun oppa. Kibum mengangguk dan memakai lagi earphone-nya.

Kami berdelapan menyebrang jalan dan sampailah di toko olahraga itu. Kulihat mata Minho langsung berbinar-binar.

Taemin berjalan menuju rak-rak yang berisi kaos dan jaket sport. Dia tampak tertarik untuk membeli salah satu dari kaos atau jaket yang tergantung di sana. Di sudut lain, terlihat Kibum yang melihat-llihat aksesoris basket yang terletak di ujung toko. Jeo Hyun sedang memilih-milih tas ransel kecil di ujung kanan, dan Yeon Ji menemaninya. Sedangkan Onew oppa dan Jonghyun oppa keluar toko untuk membeli minuman hangat.

“Soona-ah…”

Aku menoleh ke sebelah kiriku. Minho sedang berdiri di sebelahku dan matanya tertuju pada etalase puluhan sepatu basket yang terpampang di depannya.

“Sepatunya mending yang mana ya? Aku bingung…”, lanjutnya.

Aku ikut melihat etalase itu. Aku bingung. Terlalu banyak model dan warna yang terpampang di sana. Aku juga tidak mengerti kriteria sepatu yang enak dipakai buat bermain basket. Tapi di pojok kanan atas ada sebuah sepatu yang lumayan aku suka.

“Coba yang itu. Aku suka warnanya!”, ucapku sambil menunjuk sepatu basket berwarna putih dengan garis-garis biru. Minho mengangguk. Dia mengambil sepatu itu dan mengeceknya. Dia memperhatikan bentuk dan sol sepatu itu, dan sesaat kemudian namja itu tersenyum.

“Bagus juga, bahannya enak, ringan tapi kuat”, ujarnya.

Dia memanggil seorang pegawai toko untuk mencoba ukuran sepatu yang pas untuknya. Sesaat kemudian pegawai toko itu datang lagi dan membawa sekotak dus sepatu. Minho memakainya dan mencoba untuk berjalan dan berlari sedikit di dalam toko.

“Gimana? Bagus engga?”, tanya Minho. Aku tersenyum. “Bagus kok.”

Dia balas tersenyum, “Ya sudah, aku mau yang ini aja.”

Aku mengerutkan alisku. “Hah? Kok cepet amat milihnya? Emang udah yakin mau sepatu yang itu?”, tanyaku.

Dia mengangguk, “Kan kamu yang milih, jadi ya kubeli aja. Lagian aku suka modelnya yang sederhana. Bahannya bagus, enak buat lari, terus enggak bikin licin. Harganya juga pas buatku.”

Aku cuma manggut-manggut. Kemudian kuperhatikan lagi tumpukan model sepatu yang terpampang di dinding toko. Tanpa sengaja mataku terkena sorotan lampu yang tertempel pada ujung atas rak etalase. Silau sekali.

NGINGGG.

Aiiissssh, ini apa lagi sih? Kok kepalaku senat-senut lagi kalau ngeliat cahaya yang silau?

Aku memegang dahiku dan memijit pelipisku pelan. Kali ini kepalaku juga diserang rasa sakit dan pusing yang amat sangat. Apakah lukaku separah itu? Apakah mataku terkena dampaknya? Apakah karena aku memaksakan diri untuk keluar rumah, padahal keadaanku masih belum sembuh benar?

Keseimbanganku hilang. Rasanya dunia terbalik.

Kudengar ada suara derap langkah menuju ke arahku. Aku ingin menoleh ke arah suara itu berasal, tapi pandanganku sudah gelap semua, dan kakiku sepertinya tidak kuat lagi untuk menopang tubuhku.

“Soona!”

Seseorang menangkap tubuhku yang hampir rubuh. Dia menatapku dengan sangat khawatir.

“Soona! Kau tidak apa-apa? KIM SOONA?!”, ucapnya sedikit berteriak.

Minho, kau tidak usah secemas itu.

—–

Aduuuh, aku pusing.

Aku mengucek-ngucek mataku. Tampaknya aku sudah berada di kamarku lagi. Aku menyentuh keningku, ada sebuah handuk kecil dingin (kompres) yang menempel.

Lampu besar kamarku tidak dinyalakan, hanya lampu kecil di atas tempat tidurku saja yang menyala. Aku sedikit memicingkan mataku untuk melihat sekeliling.

Aku sedikit kaget. Onew oppa dan Jonghyun oppa sudah terlelap di sofa kamarku. Taemin tertidur di meja belajarku. Dan Kibum tertidur di sebelahku, di samping kanan pinggir tempat tidurku.

“Sudah bangun?”

Aku menoleh ke arah pintu kamar. Minho berdiri dengan membawa sebuah selimut. Dia menghampiri Taemin yang sudah berada di alam mimpinya dan menyelimutinya. Ia mengambil sebuah kursi kosong dan duduk di samping kiri tempat tidur.

“Tadi kamu pingsan di toko olahraga. Kan Onew hyung sudah bilang kalau kamu itu musti istirahat di rumah. Kenapa memaksa sih?”, ucapnya pelan agar tidak membangunkan yang lain.

Aku hanya cemberut. “…Kan bosen di rumah terus…”

“Ya tapi jangan buat kita kaget gitu dong. Seisi toko langsung ngeliatin tau engga?”, katanya sambil mengganti handuk kompres-ku.

“Kibum yang paling panik. Dia bilang kalau dia tuh gak sengaja ngejitak dahimu sebelum berangkat tadi, ya kan? Terus Kibum beranggapan kalau semuanya tuh salah dia…”, lanjutnya.

Aku menoleh ke arah Kibum. Dia pulas sekali tidurnya.

“…. Mianhae…”, ucapku lirih.

Minho melipat tangannya, “Yah. Pokoknya besok sama lusa kamu dilarang keras buat masuk. Jangan ngebantah.”

Aku mengangguk.

“Jeongmal mianhaeyo…”, kataku.

Dia mengangguk dan tersenyum padaku. Aku pun kembali ke alam mimpiku. Semoga saja besok kepalaku sudah enggak apa-apa lagi.

—–

TBC

P.S          :

Aduh maaf banget kalau part 4 ini telat, soalnya aku dikejar sama tugas-tugas sekolah yang enggak ada henti plus tes dan ulangan yang terus dateng tiap hari (nangis).

Oh iyaaa, mohon saran kritik atau komentarnya yah, supaya aku bisa bikin fanfic ini lebih bagus lagi. Kalau misalnya ada part yang menurut para readers gak seru atau ngebosenin atau jelek, bilang aja, aku menerimanya dengan senang hati 😀

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

25 thoughts on “They Suddenly Came into My Days – Part 4”

  1. Itu yg telponan siapa thor.?
    Salah satu dri bodyguard_y soona kah.?
    Makin pnasaran ni thor.,
    Parah banget ya sakit_y soona.?
    Next part asap ya thor..

    1. ehehe baca aja deh part selanjutnya, ya 🙂

      jadi bola baseballnya itu kena syaraf matanya, jadi dia tuh bakal pening tiba-tiba kalau liat sinar yang silau banget…

      makasih udah baca ya 😀

  2. Aigoo , mkin keren thor , kyknya yg telfonan itu slh satu dari mereka deh ., lanjutannya d publish secpetnya ya thor ..

  3. yee di publish juga!!
    makin seru aja ceritanya! itu siapa yah yg mau manfaatin soona?!! hmm..
    di tunggu lanjutannya!! jgan lama2 okeh,,

  4. Siapa namja yang telfon
    Ko bikin penasaraan
    Kibum lucu deh
    Marah mulu tapi perhatian
    Taemin sampe tidur di meja belajar
    Pasti pegel
    Asik banget di jagain 5 orang ganteng hehe

  5. annyeong!
    jo neun myeeee imnida.

    makasih bgt buat para readers yang udah meluangkan waktunya buat baca plus comment ff aneh aku ini (bows and hugs ya all)

    agak mustahil nih buat bales comment para readers satu persatu, karena saya buka web ini make hape (heheheh)

    oke, jadi yg tentang ‘orang penelpon’ itu, saya bakal kasih taunya di 2 atau 3 part akhir, jadi mohon sabar yaaa 😀

    daaaan kalau tentang adegan actionnya, saya bakal memunculkannya di part-part akhir, jadi buat @Kim Shina, tunggu yaaah!

    oke, sekali lagi JEONGMAL KAMSAHAMNIDA!

  6. sekian lama aku menunggu~ lalalalalalala. ;P
    keren thor! Rame ko.. ngga ngebosenin :))
    aku tau gimana rasanya dikejar tugas, ulangan, sama tes yang ngga ada henti 🙂
    Ayo myeee Hwaiting!

  7. itu yg teleponan siapa ??!!!
    wahh … penasaran !!!
    jjong gx mungin, onew oppa juga, minho apa lagi, kan dy yg pling sedih .. key sedikit curiga sih tapi biasanya mah bukan tokoh kayak gitu … taemin ?? mana mungkin .. aduh author myee pusing nih ….

    tanggung jawab, anda harus memberikan taemin kepada saya, supaya bisa mijit kepala saya !! *plakkk!!!*

    hehehe

    makin hari makin seru….
    ayo..ayo…ayo.. lanjut !!!!! *teriak pke toa, semangat 45, … demo sendirian di depan gedung dpr (?)

  8. akhirnya muncul juga part yang satu iniiiiiiiii~
    rame mye!
    iri ih pengen punya bodyguard mereka ber5 *kayanya di setiap part aku ngomen iri terus* LOL
    LANJUT THOOR~ Hwaitiiing 🙂

  9. Aaaaa minhonya kol cemas bgt gituuuu
    Udah soona sama minho ajaaa:3:3
    Key perhatian gituuii
    Jangan2 suka lagi oooo 😮
    Lanjuttt!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s