The Pervert Nerd

The Pervert Nerd – Glasses 1

TITLE : The Pervert Nerd (Glasses 1)

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

Main Cast :

Support Cast :

Length : Sequel

Genre : Romance, Angst, Sad, Humour, Friendship

Rating : PG – 16

THE PERVERT NERD

 

Lee Seorin mengayuh pedal sepedanya semakin cepat. Gara-gara tidur kemalaman, ia bangun terlambat pagi ini dan dua menit lagi pintu gerbang akan ditutup.

“ANDWAE!!!” teriak Seorin saat melihat seorang namja mulai menutup pintu gerbang. Namja itu mendongak dan menatap Seorin yang mengayuh sepedanya semakin cepat, tapi ia sama sekali tidak menghentikan kegiatannya menutup pintu gerbang. Namja itu menatap Seorin selama beberapa detik sebelum membalikkan badannya dan berjalan menjauhi pintu gerbang.

Seorin mengerang dengan geram. Kalau saja namja itu berbaik hati dan menunggu selama beberapa detik, ia tidak akan terkunci di luar gerbang dan tidak perlu berurusan dengan guru BP yang super galak. Beberapa siswa lain yang juga datang terlambat memiliki ekspresi yang sama muramnya dengan Seorin.

“Oh, tidak. Tamatlah riwayatku.” Omel Seorin pada dirinya sendiri sambil melihat ke sekeliling.

***

“Tidakkah dia sangat tampan?” tanya teman Il Sora—teman baik Seorin—sambil menunjuk ke arah seorang namja yang baru saja keluar dari ruang guru dan sedang membungkuk sebelum meninggalkan ruangan itu.

Seorin dan Sora sedang berjalan berdampingan di koridor sekolah menuju ke cafetaria. Setelah hukuman—karena terlambat—yang ia terima tadi, ia merasa sangat lapar dan tidak ingin memikirkan hal lain kecuali makan untuk saat ini.

“Apa bagusnya dia? Dia kan hanya seorang kutu buku.” Jawab Seorin tidak tertarik, ia lebih memikirkan apa yang sebaiknya ia makan nanti. Seorin bukan orang yang terlalu suka memperhatikan namja-namja disekitarnya, atau bisa dibilang ia tidak begitu tertarik pada percintaan karena menurutnya itu hanya membuang-buang waktu karena tidak berguna, tidak seperti Sora yang sangat tergila-gila pada namja tampan.

“Oh, come on! Dia memang kutu buku, tapi dia tidak mengenakan kacamata tutup botol—setidaknya ia memakai kacamata yang cukup modis. Dan wajahnya sangat tampan—apalagi senyumnya yang sangat manis. Dan dia juga sangat baik dan sopan! Keluarganya kaya raya. Lihat, dia perfect kan?” tanya Sora lagi meminta persetujuan Seorin, tapi lagi-lagi Seorin tidak tertarik.

“Tidak ada manusia yang sempurna, kau tau itu.” Seorin masih saja terus berdebat dengan Sora karena tidak ingin menyerah begitu saja pada kesimpulannya.

“Tapi—tapi… Dia tidak hanya bagus di akademis, di non-akademis pun ia sangat menonjol. Lalu, tidakkah menurutmu hebat jika seorang kutubuku seperti dia memegang kendali atas geng yang paling ditakuti diwilayah kita—di sekolah kita?”

Seorin berhenti melangkah dan memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Sora dengan lebih jelas. Seorin memicingkan matanya dan mendekat ke arah Sora.

“Jangan katakan padaku kalau kau suka pada kutu buku seperti dia?” Tanya Seorin dengan tatapan curiga.

“Mwo? Kau sedang bercanda padaku kan?” Sora balik menatap Seorin dengan tidak percaya. Seorin mengangkat pundaknya dengan acuh lalu kembali meluruskan tubuhnya dan kembali berjalan.

“Aku hanya tertarik karena dia itu ulzzang, tidak lebih.”

“Ah~ geure, bukankah kau sudah punya Key, huh? Mana mungkin kau suka pada kutu buku itu.” Ejek Seorin. Seorin tertawa kecil setelah mendengar Sora mendengus kesal.

“Ya, ya, sesukamu sajalah.” Sora tertawa sinis dan memutar bola matanya.

“Apakah kalian sedang membicarakan Choi Minho?” Han Yuna muncul di tengah-tengah Seorin dan Sora lalu menggandeng lengan mereka.

“Nah, ini dia si Choi Minho lover.” Goda Sora. Sora melingkarkan lengannya di pundak Yuna dan menarik yeoja mungil itu untuk ke cafetaria bersama mereka.

“Astaga, sejak kapan aku dapat jabatan seperti itu? Aku hanya mengaguminya karena …”
”Karena dia sangat dewasa, seperti kakakmu!” Potong Seorin dan Sora bersamaan lalu tertawa. Mereka sudah sangat mengenal karakter Yuna yang pasti akan luluh pada orang-orang—siapapun itu—yang bersikap dewasa.

“Kudengar tadi kau datang terlambat, benarkah itu?” Tanya Yuna tanpa memalingkan wajahnya dari menu makan siang sesampainya mereka di cafetaria. Seorin hanya mengangguk pelan, mengingat kejadian itu membuatnya kembali tidak bersemangat. Seorin mungkin memang bukan tipe anak teladan yang selalu tampil rapi dan manis—seperti Yuna. Tapi ia juga bukan tipe orang yang terlalu cuek terhadap dirinya sendiri dan peraturan—seperti Sora. Tadi pagi adalah kali pertamanya datang terlambat, padahal hari ini masih termasuk ajaran baru di tahun keduanya.

“Oh, pantas saja dia sangat sentimen saat aku menceritakan tentang Minho. Bukankah dia yang selalu bertugas untuk menutup pintu gerbang, si ketua badan kesiswaan kita itu?” Sora seolah mendapat titik terang mengapa Seorin sangat ketus tadi. Meski itu bukan 100% alasan mengapa Seorin sangat sangat sangat tidak tertarik pada Minho, tapi memang ada sekian persen karena kejadian itu membuat ia semakin tidak suka pada Minho. Minho si ketua OSIS dan ketua geng, apakah itu masuk akal?

Ya, namja yang mereka sebut-sebut sebagai kutu buku itu memang cukup dihormati—atau ditakuti—oleh geng sekolah mereka. Tidak ada seorang pun yang tau mengapa ia bisa menjadi ketua diatas diketua dalam geng tersebut. Entah karena ia kaya, pintar, atau memang memiliki karisma seorang leader? Entahlah, tapi yang pasti, tidak ada seorangpun yang pernah melihatnya berkelahi. Jadi memang patut dipertanyakan, bagaimana bisa ia menjadi ketua geng jika ia tidak pernah berkelahi untuk mempertahankan dirinya ataupun untuk menunjukkan kualitasnya sebagai seorang ketua geng?

Seorin mengambil makanannya dengan cepat, ia tidak suka jika mereka mulai membicarakan Minho, karena itu akan menjadi sangat lama. Han Yuna—si pecinta pria dewasa, dan Il Sora—si pecinta ulzzang, apa yang bisa menghentikan mereka kalau sudah menyangkut hal-hal yang mereka sukai? Seorin membalikkan badannya, bermaksud mencari tempat duduk kosong, tapi ia justru tidak menyadari ada orang di belakangnya, alhasil hampir saja makanan yang ia bawa mengotori pakaian orang itu kalau saja orang itu terlambat satu detik untuk membantu Seorin memegang nampan makanannya.

“Aigoo, jweongsohamnida…” ucap Seorin penuh penyesalan. Ya, dia memang gadis yang ceroboh dan ia rasa ia harus segera menghilangkan sifatnya itu.

“Gweanchanayo.” Sahut namja yang ada dihadapannya. Seorin mendongak dengan cepat. Benar saja, yang berada di hadapannya adalah Choi Minho bersama 4 namja lain. Minho tersenyum ramah pada Seorin yang hanya dibalas dengan tatapan tidak bersahabat dari Seorin.

“KYAAA! SHINee!!” teriak beberapa murid perempuan yang berada di cafetaria begitu melihat kelima orang namja itu. Seorin memutar bola matanya setelah mendengar teriakan itu. Ia tidak mengerti, bagaimana mungkin murid-murid perempuan begitu mengidolakan kelima makhluk yang terlihat sama dengan namja lainnya? Hanya karena mereka tampan? Tapi apa yang bisa menjadi jaminan bahwa sifat mereka juga bagus? Dan SHINee, entah bagaimana mereka bisa memberikan nama grup seperti itu pada mereka. Mereka bukanlah artis idola yang multi talenta, mereka hanya lima orang namja SMA yang terkenal dan dijuluki ulzzang, jadi apa hebatnya mereka? Mereka itu anak geng—anak-anak yang suka kekerasan.

“Aigoo, kau akan memakan ini sendirian? Kau yakin? You’re not a pig, aren’t you?” Suara Key menyadarkan Seorin dari lamunannya. Ia tidak perlu menoleh ke tempat di mana Key berada sekarang, karena ia yakin Key sedang berbicara dengan Sora—mengkritik porsi makan Sora, dan itu berarti sebentar lagi mereka akan kembali memulai perang mereka. Seorin menghiraukan namja yang ada dihadapannya dan mencari tempat kosong diikuti oleh Yuna yang sesekali menoleh ke belakang dan bertemu pandang dengan Jonghyun.

Seorin mengerutkan keningnya, benarkah apa yang dilihatnya? Yuna melirik ke arah Jonghyun? Dan sepenglihatan Seorin, Jonghyun juga melirik ke arah Yuna dan menyeringai.

“Ada sesuatu yang kulewatkan?” tanya Seorin sambil melirik sekilas ke arah Jonghyun.

“Huh, aniya..” Yuna menopang dagunya menggunakan tangan kiri sementara tangan kanannya terus mengaduk makanan yang ada dihadapannya dengan malas.

“Urgh! Lihat saja Kim Kibum itu! Tingkahnya sudah seperti ibuku saja!” Sora menghempaskan tubuhnya dengan kasar dihadapan Seorin dan Yuna.

***

“Urgh! Dia itukan seorang yeoja, apa dia tidak bisa menjaga pola makannya sedikit saja?” Geram Key setelah Sora berlalu meninggalkannya.

“Memangnya apa pedulimu? Dia kan bukan pacarmu.” Balas Onew dengan tenang.
”Tapi semua tingkah lakunya itu membuatku risih hyung! Yaaaa, Jonghyunnie hyung! Berhentilah menggoda wanita!” Key memukul kepala Jonghyun. Jonghyun meringis pelan lalu menatap Key dengan galak.

“Minho-ya, kenapa kau terus melihat ketiga orang yeoja itu? Omo! Jangan katakan padaku kalau suka pada Il Sora itu! Andwaeyo! Dia itu bukan yeoja, dia itu sangat mengerikan!”

“Tsk, tenang saja. Aku tidak akan melirik yeoja-mu.” Minho berdecak pelan, lalu melirik ke arah Seorin untuk terakhir kalinya.

“Astaga! Ada yang salah dengan otak kalian.” Key tetap menggerutu pelan.

***

Seorin mengayuh sepedanya dengan santai. Ia tidak perlu terburu-buru pulang ke rumah, jadi dia bisa menikmati waktunya selama perjalanan pulang. Sebatang lolipop menyembul keluar dari mulut Seorin yang bersenandung tak jelas. Ia selalu suka berkeliling naik sepeda, ia merasa sangat nyaman dan bisa menenangkan pikirannya. Yah, ia memang harus menenangkan pikirannya setelah hari panjang yang sangat melelahkan hari ini. Entah kesalahan apa yang ia buat hingga harus bertemu dengan Minho terus menerus tanpa sengaja di sekolah. Dan yang lebih membuat Seorin risih adalah bagaimana Minho selalu menatapnya setiap kali berpapasan. Padahal itu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, meskipun mereka berpapasan, tidak akan ada satupun dari mereka yang saling menatap—apalagi menegur.

Seorin menatap sebuah toko ice cream yang seolah sedang melambai-lambai memanggilnya—meski jelas itu tidak mungkin. Seorin menelan air liurnya dengan susah payah, menahan godaan untuk tidak masuk ke dalam toko atau akan mati sesampainya di rumah. Nyonya Lee sudah berpesan padanya agar tidak mampir ke manapun sepulang sekolah karena mereka akan kedatangan tamu. Dan Seorin tau jelas ia akan habis kalau tidak mendengar kata-kata Nyonya Lee. Seorin sesekali menoleh ke belakang, sungguh-sungguh tidak rela harus melewatkan toko ice cream kesukaannya begitu saja, tapi apa boleh buat. Masih ada lain kali baginya.

“Aku pulang.” Sapa Seorin saat masuk ke rumah dan langsung melepas sepatunya. Nyonya Lee muncul diambang pintu dengan wajah keibuannya yang terlihat lega karena Seorin menuruti kata-katanya tadi pagi.

“Eomma!” Sahut Seorin riang. Seorin berlari kecil ke arah Nyonya Lee dan melingkarkan tangannya di leher Nyonya Lee dengan erat.

“Aigoo! Kau harusnya ganti baju dulu. Tamu kita akan datang sebentar lagi.” Nyonya Lee melepaskan pelukan Seorin dan mendorong Seorin ke arah tangga. Seorin hanya memasang wajah cemberut meski ia tetap menuruti kata-kata Nyonya Lee dan beranjak ke lantai dua di mana kamarnya berada. Seorin berdiri di depan pintunya, tapi berhenti melangkah. Seorin membalikkan kepalanya menghadap ke pintu di depan kamarnya. Kamar itu seharusnya kosong, tapi sebentar lagi tamu itu akan menempatinya. Seorin agak tidak rela. Karena baginya lantai dua adalah daerah kekuasaannya. Dia anak tunggal, jadi jelas tidak ada adik atau kakaknya yang akan mengganggu dan orangtuanya tidur di lantai satu. Jadi selain Seorin, jarang—atau tidak ada—orang yang hilir mudik di lantai ini. Seorin menghela nafas berat, ia harus membiasakan diri untuk beberapa waktu. Toh tamu itu tidak akan tinggal selamanya di sini.

Seorin masuk ke kamarnya dan segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman—kaos dan hot pants. Seorin menatap bayangan dirinya dari balik cermin. Rambut panjangnya yang menjuntai terasa sangat mengganggu apalagi di musim panas seperti ini. Seorin menguncir rambutnya dengan asal-asalan lalu keluar dari kamar. Baru saja dia menutup pintu kamar, terdengar suara bel yang berbunyi. Ia tau itu berarti tamu yang telah mereka—orangtuanya—tunggu-tunggu telah datang. Seorin melangkah menuruni tangga dengan pelan, sedikit menundukkan wajahnya ke bawah untuk melihat tamu mereka. Tamu itu masuk, dan segera mendongak begitu menyadari ada orang lain yang sedang mengamatinya dan tersenyum ramah saat ekspresi Seorin menunjukkan keheranan.

Nyonya Lee memanggil Seorin yang masih terus menatap Minho, Choi minho, tanpa berkedip untuk bergabung dengan mereka di ruang keluarga.

“Mulai sekarang, ia akan menjadi teman serumah kita.” Kata Nyonya begitu kalian berempat—Seorin, orangtuanya, dan si kutu buku itu—duduk di ruang keluarga. Seorin memandang kutu buku itu dengan heran. Bukankah ia orang kaya? Apakah ia tiba-tiba saja jatuh bangkrut hingga tidak punya tempat tinggal lagi?
”Karena orangtuaku harus keluar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama dan mereka tidak tega membiarkanku tinggal sendirian, untunglah ada aboenim yang bersedia menjagaku selama mereka pergi.” Seolah bisa membaca pikirannya, Minho dengan sukarela menjelaskan pada Seorin.

“Aboenim?” Tanya Seorin tidak percaya karena ia memanggil Tuan Lee dengan sebutan seperti itu.

“benar, karena appa bekerja diperusahaan orangtuanya dan ia sering datang membantu, appa sudah menanggap dia sebagai anak appa sendiri dan memintanya untuk memanggil appa seperti itu.”

Seorin mengangguk sebagai tanda mengerti.

“Antarkan dia ke kamarnya, kamar kosong yang ada di depanmu.” Pinta Nyonya Lee.

Seorin dan  Minho  menaiki tangga dalam diam, Seorin mengantarnya ke kamar dan membukakan pintunya.

“Ini akan menjadi kamarmu selama kau tinggal di rumah kami.” Ucap Seorin masih menatap Minho dengan tatapan datar.

“Kamsahamnida.” Ucapnya sambil tersenyum manis. Seorin terpaku selama sedetik, ia luluh pada senyum manisnya, ternyata memang benar-benar sangat menawan, pikirnya.

Minho tersenyum kecil. Ia mengangkat tangannya dan melepaskan kacamata yang dipakainya sementara tangan lainnya yang bebas menarik Seorin mendekat padanya.

“Jangan menatapku seperti itu… You make me hard, baby.” Ucap Minho di telinga Seorin dengan suara yang sangat menggoda.

Seorin  bingung dengan apa yang baru saja ia dengar, rasanya sangat tidak nyata mendengar kutu buku sang murid teladan itu berkata dengan nada seperti itu. Belum bisa Seorin mencernanya secara keseluruhan, Minho menempelkan bibirnya pada Seorin, melumatnya dengan lembut tapi bisa membuat Seorin terkesiap.  Lidahnya menjilati bibir bawah Seorin sementara Seorin terus meronta agar terlepas darinya.

Ia mengginggit pelan bibir Seorin, membiarkan yeoja itu meringis lalu melepaskannya.

“Kau belum berpengalaman rupanya. Tapi tidak apa-apa, aku akan mengajarimu dengan sabar.” Ia menjilati bibirnya dan mengusapkan ibu jarinya pada bibirnya yang basah lalu mengerling dan masuk ke kamarnya  membiarkanmu mematung kebingungan ‘mengenang’ kembali ciuman pertamamu hingga akhirnya kau mulai bereaksi.

“WHAT THE HELL!!” teriakmu frustasi dan masuk ke dalam kamarmu sendiri sambil membanting pintu dengan keras.

Dibalik pintu kamarnya, Minho terkekeh pelan mendengar teriakan histeris Seorin. Entah apa yang merasukinya, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh ketika ia melihat yeoja itu belakangan ini. Dan bisa mencicipi bibirnya merupakan hal yang sangat menyenangkan baginya. Apalagi dari cara Seorin merespon tadi, Minho jelas tau kalau itu adalah ciuman pertamanya. Minho meletakkan kacamatanya di meja samping tempat tidur dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang empuk. Awalnya Minho merasa sangat sebal karena orangtuanya bersikeras menyuruh dia untuk tinggal di kediaman Lee, padahal Minho sudah terbiasa tinggal sendirian di mansion mereka super mewah. Minho tidak perlu takut mati kelaparan karena ada koki kelas satu di rumahnya. Tapi sekarang rasa-rasanya ia justru tidak akan sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya di hari-hari ke depan. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali Minho merasa bersemangat seperti ini.

***

Seorin berbaring di atas tempat tidurnya tanpa bergerak sedikitpun. Kedua matanya terpejam rapat dan masih asyik menikmati alam mimpinya.

“—rin-ah! Seorin-ah!” samar-samar Seorin bisa mendengar seseorang memanggil namanya tapi ia terlalu malas untuk bergerak. Seorin bergeming dari tidurnya, berpura-pura ia sama sekali belum bangun agar orang yang memanggilnya menyerah dan membiarkan dia tidur sedikit lebih lama lagi.

“Yaa, Lee Seorin! Irona!!” nada suara orang yang memanggilnya terdengar kesal.

“Uh! 5 menit lagi, eomma..” akhirnya Seorin membuka mulutnya. Seorin menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga ke ujung kepala.

Minho berdiri dihadapan Seorin dengan berkacak pinggang dan berdecak kesal. Ia sudah mencoba membangunkan Seorin hampir selama 20 menit dan sekarang yeoja itu masih ingin tidur? Minho menghembuskan udara dari mulutnya sebelum menyeringai pelan. Ia sudah berbaik hati untuk membangunkan yeoja ini, dan jangan salahkan dia kalau berbuat sesukanya karena yeoja keras kepala ini tak kunjung bangun.

Minho memanjat naik ke atas tempat tidur, menumpukan kedua telapak tangannya di sisi kepala Seorin yang masih terbungkus rapat oleh selimut sementara lututnya mengapit tubuh Seorin. Minho mencondongkan tubuhnya, menarik turun selimut yang digunakan Seorin. Seorin jelas tidak melawan atau mencoba menahan selimutnya karena ia masih belum sadar sepenuhnya. Minho terkekeh pelan, wajah polos Seorin terlihat jauh lebih menggoda ketika ia sedang tidur dan Minho bisa melihatnya dari jarak sedekat ini. Kalau saja ia tidak harus buru-buru membangunkan Seorin dan berangkat ke sekolah, ia pasti akan betah berlama-lama memperhatikan yeoja itu. Minho mendekatkan mulutnya ke telinga Seorin dan menghembuskan nafas hangat membuat Seorin sedikit bergerak tak nyaman.

“It’s time to wake up, baby…” Bisik Minho dengan suara yang menggelitik telinga Seorin. Suara itu terdengar asing bagi Seorin, yang jelas itu bukan suara Nyonya Lee, batinnya.

Seorin membuka matanya perlahan-lahan dan mengerjap berkali-kali sebelum akhirnya ia membelalakkan matanya. Dengan cepat Seorin meletakkan tangannya di dada Minho—bermaksud mendorong namja itu menjauh, tapi Minho sama sekali bergeming dari posisinya.

“KYAAAAA~! Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanya Seorin histeris.

“Eomma! Tolong aku!!!!” teriak Seorin sekuat tenaga, berharap Minho akan gentar dan segera menyingkir.

“Aigoo! Jangan berteriak terus dan cepatlah bangun, Seorin-ah!” jawab Nyonya Lee dari lantai satu—sama sekali tidak merasa tergerak dengan permintaan tolong Seorin. Minho tersenyum penuh kemenangan melihat kekesalan yang menumpuk di ekspresi wajah Seorin.

“Ini caramu berterima kasih padaku karena sudah membangunkanmu, huh? Tidak ada hadiah?” ejek Minho menahan tawanya sebisa mungkin.

“Kau mau aku menendangmu?” balas Seorin dengan sinis.

“Tsk, a kiss will do…” Minho mengangkat dagu Seorin, mendekatkan bibir mereka sementara Seorin hanya bisa terkesiap. Tidak, jangan lagi! Jelas Seorin merasa risih saat Minho berada terlalu dekat dengannya, tapi entah kenapa ia justru tidak bisa bergerak untuk menolaknya sama sekali.

Saat jarak antara bibir mereka hanya tersisa beberapa milimeter, Minho terkekeh dan bangkit dari tempat tidur, meninggalkan Seorin tanpa sepatah kata pun.

“Choi Minho, you bastard!” Seorin mengumpat pelan dan menghentakkan langkahnya ke kamar mandi yang ada di lantai dua.

Setelah selesai bersiap-siap, Seorin melangkah turun dengan gontai, hanya untuk melihat Minho duduk manis di meja makan dan Nyonya Lee yang terlihat sangat mengagumi namja itu. Seorin memutar bola matanya, kalau saja Nyonya Lee tau bahwa Choi Minho itu tidak sebaik seperti apa yang ia pikir.

Kenapa Seorin tidak memberitaukan sosok Minho yang sesungguhnya pada orangtuanya? Ada beberapa alasan, yang pertama karena ia tidak ingin membuat orangtuanya khawatir—membiarkan seekor serigala berada di ruangan yang sama dengan santapannya tentu sangat berbahaya. Yang kedua ia tidak tau apa yang bisa Minho lakukan untuk menyangkal pernyataannya. Dan yang terpenting, apakah mungkin orangtuanya akan percaya? Ia bahkan ragu kalau temannya akan mempercayai kata-katanya jika ia menceritakan semua hal—yang tidak masuk akal ini—pada mereka. Terlebih lagu Han Yuna, tidak mungkin yeoja itu akan mempercayai kata-kata Seorin.

Minho dan Seorin berjalan hampir bersamaan ke pintu depan dan mengucapkan salam pada Nyonya Lee yang dengan senang hati melambai pada kedua orang itu sebelum menutup pintu dan melakukan pekerjaan sehari-harinya.

“Kau akan jatuh cinta padaku kalau kau terus menatapku seperti itu.” Ujar Minho cuek. Seorin tersentak. Bagaimana mungkin Minho bisa tau kalau dia sedang menatapnya padahal Minho berjalan beberapa langkah di depannya?

“Hmm, Choi Minho …” Seorin berhenti melangkah, diikuti Minho yang sedikit penasaran karena Seorin tidak meledak-ledak mendengar kata-katanya. Minho memiringkan tubuhnya sedikit dan menatap Seorin.

“Bisakah kau berpura-pura tidak mengenalku di sekolah? Maksudku, jangan biarkan orang-orang tau kalau kau tinggal di rumahku untuk beberapa waktu.” Tambah Seorin dengan cepat saat Minho mengernyitkan keningnya. Yah, Seorin tidak ingin kehidupan damainya di sekolah berubah rusuh saat orang-orang tau bahwa ia dan Minho tinggal di bawah atap yang sama. Meski sangat sulit untuk mengakuinya, tapi Minho memang sangat—garis bawahi itu, SANGAT—populer di sekolah.

Minho memiringkan kepalanya, mencoba mencerna kata-kata Seorin dan menangkap arti dibalik permintaannya. Minho melangkah mendekati Seorin.

“Jadi, kau sedang memohon padaku?” Minho mengangkat alisnya dan terus mempersempit jarak antara mereka.

“Uh, tidak. Bagiku itu hanyalah permintaan tolong.”

Minho tersenyum nakal dan menegakkan tubuhnya.

“Geure. Aku bisa saja menyanggupinya, tapi kau harus bersikap ‘manis’ padaku.” Ucap Minho mencoba menyembunyikan antusiasmenya.

“Bersikap manis? Aku bukan tipe girly-girl. Aku tidak bisa.” Tolak Seorin, tidak bisa menangkap arti dibalik kata-kata Minho.

“Gweanchana, kau hanya perlu mendengarkan semua perintahku. Karena bagiku itu sudah manis.”

Seorin memikirkan kata-kata Minho dengan seksama. Tidak mungkin. Menuruti perintahnya? Itu sama saja dengan menyeret dirinya  ke neraka. Tapi apalagi yang bisa dilakukannya?
”Geure. Tapi hanya selama satu bulan, otte?”
”Hmm, tidak masalah.” Minho menyeringai lebar dan menatap Seorin dari atas hingga ke bawah lalu kembali berjalan. Minho memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan bersiul pelan.

Seorin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak, seharusnya dia tidak bernegosiasi dengan Minho. Siapa yang tau apa yang Minho ingin Seorin lakukan?

***

“Sepertinya ada sesuatu yang baik yang terjadi.” Cibir Onew pada Minho. Onew berjalan keluar dari dapur dan meletakkan segelas minuman pada Minho.

“Mau berbagi padaku?” tanya Onew setelah menghempaskan tubuhnya di samping Minho. Minho menggeleng pelan dan menyenderkan kepalanya di senderan sofa sambil memejamkan matanya. Senyum kecilnya masih tertempel di wajahnya.

“Aigoo! Percayalah padaku, suatu saat nanti kau pasti akan membunuh salah satu dari mereka.” Suara omelan Key memenuhi ruang nonton Onew. Baik Onew maupun Minho sama-sama menoleh dan melihat Key berjalan diikuti Jonghyun dan Taemin.

Taemin mengangkat bahunya tanda tidak peduli pada kata-kata Key. Onew menatap Jonghyun, meminta penjelasan karena ia tau Key tidak akan bisa menjelaskan dengan kepala dingin.

“Biasa, dia ‘bermain’ agak berlebihan lagi.” Ucap Jonghyun santai. Onew tau yang dimaksud oleh Jonghyun adalah pertarungan mereka dengan Seoul High School yang memang dijadwalkan hari ini oleh Onew sendiri. Onew menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa maknae mereka seperti ini. Siapa yang berpendapat bahwa Taemin adalah member SHINee yang paling imut, cute dan lainnya? Semua orang berpendapat seperti itu. Tapi siapa yang menyangka jika ternyata justru maknae itulah yang paling sadis diantara mereka?

“Minho, kau harus bersikap tegas padanya! Kau tidak lihat bagaimana dia menghajar geng Seoul High School tadi, ini sudah keterlaluan!” Key menghampiri Minho dan melipat tangannya di depan dada. Minho memiringkan kepalanya untuk melihat sosok Taemin dari balik tubuh Key yang menghalangi pandangannya. Taemin duduk dengan cuek.

“Mereka mengatakan kita—geng Chungdam High School—orang-orang yang lemah! Jadi aku harus menunjukkan padanya siapa kita, kau setuju kan, Minho hyung?”

Minho mengganguk pelan, mengakibatkan Key untuk mengerang kesal.

Onew kembali—entah dari mana—dengan kotak P3K di tangannya. Onew mengisyaratkan Taemin untuk mendekat padanya, dan Taemin menurutinya. Sementara Onew sibuk membersihkan luka di tangan Taemin, Jonghyun melihat seorang yeoja berjalan melewati ruang nonton. Jonghyun menghampiri Onew dengan tidak sabar dan menggoyang-goyangkan lengan Onew.

“Onew hyung, siapa yeoja itu? Kenapa aku baru melihatnya sekarang?”

Onew melihat sekilas untuk melihat yeoja yang di maksud oleh Jonghyun meski sebenarnya ia sudah bisa menduga Jonghyun akan bertanya seperti itu padanya saat melihat yeoja berpakaian pelayang yang sedang membersihkan jendela. Onew kembali memfokuskan pandangannya pada luka-luka Taemin.

“Dia Kim Rinhae, pelayan baru. Jangan coba-coba untuk meletakkan seujung jari pun padanya, aku memperingatkanmu Kim Jonghyun.” Sergah Onew sebelum Jonghyun sempat mengungkapkan keinginannya. Onew tau—semua member SHINee tau—kalau Jonghyun tidak akan bisa begitu saja melewatkan yeoja yang menggiurkannya. Jonghyun kembali duduk di sofa dengan kesal. Sudah lama ia tidak bertemu dengan yeoja yang terlihat sangat menarik, tapi Onew justru melarangnya.

“Hei, Seoul High School sekarang berada di bawah kekuasaan kita. Apa yang harus kita lakukan untuk merayakannya?” Key tidak ingin berlarut-larut dengan rasa kesalnya pada Taemin, itu tidak baik untuk kesehatan kulitnya maka ia mencoba untuk bersenang-senang dan melupakan kekesalannya.

“Bagaimana kalau kita berpesta di rumah Taemin?” usul Jonghyun yang langsung disambut oleh tatapan maut oleh Taemin.

“Waeyo?” tanya Jonghyun bingung. Key malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Taemin—yang dianggapnya berlebihan—dan reaksi Jonghyun yang terlalu sangat tidak peka.

“Kurasa Taemin tidak akan lagi membiarkanmu menginjakkan kaki disekitar rumahnya.” Onew tersenyum kecil. Bagaimana bisa Jonghyun tidak tau alasannya? Bahkan ia saja tau.

“Huh?” Jonghyun mengernyit, justru merasa tambah bingung. Memang apa yang dilakukannya di rumah Taemin terakhir kali?

“Tsk, Taemin tidak akan pernah membiarkan playboy sepertimu dekat-dekat dengan yeojanya.” Jelas Minho karena merasa terganggu dengan sikap bodoh Jonghyun.

“Park Minji? Yang benar saja, aku bahkan tidak tertarik padanya. Dia bukan tipeku!” Jonghyun tertawa kecil.

“Lalu kenapa kau merayunya saat dia datang ke rumahku minggu lalu!?” Taemin mendelik kesal pada Jonghyun.

“Astaga, itu bukan merayu, Lee Taemin. Itu hanya basa-basi.”
”Pffft! I can’t believe you, hyung. Just stay away from her.” Taemin melipat kedua tangannya di depan dada.

“Tsk, kalau kau begitu menyukainya, kenapa kalian harus putus dan justru kembali berteman? Kalian benar-benar seperti anak kecil.” Timpal Minho. Taemin mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Sejengkel apapun, semarah apapun ia tidak pernah bisa membantah kata-kata Minho—karena ia lah ketua mereka—dan Onew. Meski Onew lah yang paling expressionless diantara mereka, itu justru membuat Taemin merasa terintimidasi olehnya.

“Kalian mau ke club ku saja?” Tawar Key. Jonghyun tersenyum lebar—tanda bahwa ia menyetujui usul Key.

“Aku tinggal di rumah teman orangtuaku, dan aku tidak bisa membiarkan mereka mencium bau alkohol pada diriku. Jadi aku tak bisa ikut malam ini.” Minho melambai cepat dan melenggang keluar dari rumah Onew.

“Jadi hanya kita berempat saja?” tanya Taemin memandang ke sekeliling, kalau saja para hyungnya membatalkan acara mereka.

“Tunggulah di luar, aku akan membereskan ini dulu.” Onew menunjuk kotak P3K dipangkuannya. Key, Jonghyun dan Taemin keluar dari rumah Onew, menunggu di halaman rumahnya.

Onew memasukkan kembali obat dan kapas yang digunakannya ke dalam kotak dan menutup kotak itu dengan rapat. Onew mengangkat wajahnya, memandang punggung Rinhae selama beberapa detik dengan ekspresi yang sulit diartikan lalu meninggalkan kotak itu diatas meja dan menyusul member lainnya.

To Be Continue . . .


a/n ::. Mian kalo part satu nya masih belum gereget =(

‘cause harus kasih part pengenalan dulu

Kalo ada yang bingung ato gak ngerti tanya aja ya =D

Komen, kritik dan sarang sangat dibutuhkan^^

Kamsahamnida *bow*

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

201 thoughts on “The Pervert Nerd – Glasses 1

  1. Akk..karakternya minho oppa membuat saya penasaran.. >.< *Cubit.Minho
    Nice FF ^^d
    Ncuss saya lanjut next part..😀

  2. annyeong~ aku reader baru disini:3 fanficnya keren, feelnya dapet. pokoknya daebak bgt deh:3 keep writing yah thor. di tunggu ff thor yang lainnya’3′

  3. hai aq new reader di sni slam kenal yach,,eonni,, aq dpt recomend dari temn ffnya nee bagus,, dana q cba baca bnr” menarikk,, aq suka bgt,, lanjut dlu ya eonni,, aq mo baca next chap.a gomawo,,,

  4. Annyeong^^ aku berkunjung kesini karena ada salah satu blog yang ngerekomnedasiin fanfict ini /eaaaaa/ dan ternyata emang bagus hahaha karena aku suka sifat namja yang pervert gitu wahahaha
    Ketua geng masa kutubuku hahaha tapi jarang-jarang ada fanfict begini.
    Intinya 내가 좋아요, ㅋㅋㅋ
    Aku lanjut yaaaaaapp

  5. Good Job! (Y) awal pertama yang menarik.. Ouhh sifat lain dari minho pervet zZzz!! Salam kenal author, Reader baru.. Baca ff ini cari cari di google iseng iseng pencarian rekomendasi ff yang bagus, ternyata ff ini ada di list. Judulnya menarik perhatianku, dan ternyata ff daebak (y) baru pertama kali baca ff chapter yang castnya di luar couple favorite.. Numpang baca ya🙂 gomawo~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s