POLICE LINE! – Part 2

POLICE LINE!

Dedicate For You: Part 2

Author             : Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast        : Choi Min Ho, Nam Hee Ra

Other Cast       : Inspektur Hwan, Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Im Dong Joon, Song Seung Hyun (FT Island), Jung Ha Na and other.

Cast for this Case: Lee Jin Ki, Kim Jong Hyun, Lee Ji Ra

Length             : Sequel

Genre              : Mystery, Action, Family

Rating             : General atau PG

Disclaimer:

I don’t own SHINee, they are belong to SMEnt and their family, but i do own this story. And I do own some of the cast (Nam Hee Ra, Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Lee Ji Ra, Im Dong Joon).

Lee Jin Ki POV

“Annyong~” sapaku pelan.

Gadis itu menoleh, “Ah… annyong…”

“Kau masih ingat aku?” tanyaku.

“Mmmm…?” ia menatapku tak yakin.

“Rumah sakit…” ucapku.

Gadis itu tiba-tiba tersenyum, “Ah, dokter Jin Ki!”

“Ne, benar. Ini aku. Ada yang mau aku sampaikan padamu terkait kondisimu yang sesungguhnya. Bisa kau ikut aku?”

Wajah gadis itu tampak sedikit khawatir, “Benarkah, dokter?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, kkaja.” Ucapnya.

Aku tersenyum. Akhirnya kami berjalan menuju sebuah taman yang sangat sepi. Kuajak ia duduk diatas bangku panjang.

“Kau mau minum dulu?” tawarku sambil menyerahkan sebotol minuman padanya, “Aku tidak mau kau tegang.”

Gadis itu tersenyum sambil mengambil minuman yang ada ditangannya, “Gamsahamnida, dokter.”

Aku tersenyum. Setelah dibukanya botol itu, gadis disebelahku ini langsung meneguknya.

“Jadi apa yang ingin dokter katakan?” tanyanya.

Aku menghela nafas, “Sebelumnya aku ingin tanya bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Aku sudah jauh lebih baik, dokter.” Ia tersenyum. Tiba-tiba ia memegangi kepalanya.

Aku tersenyum tipis, “Kau kenapa?”

Gadis itu menggeleng, “Kenapa rasanya aku sangat pusing ya…dokter?”

Tidak sampai satu menit kemudian, tubuhnya ambruk disebelahku. Aku menghela nafas panjang.

“Mianhae…” ucapku sebelum mengeluarkan sebuah jarum dari ranselku.

Kutusukkan jarum itu ke telunjuk kirinya. Tampak olehku darahnya menetes…

♫ ♫ ♫ ♫

Choi Min Ho POV

“Tidak mungkin…” ucap Hee Ra perlahan. Kakinya melangkah mundur beberapa langkah.

Kugenggam tangannya, “Petugas, tolong tutupi mayat ini.”

Petugas forensik langsung menutupnya, “Kami akan membawa mayat ini sebentar lagi. Kalau ada yang ingin diperiksa lagi, silahkan.”

Aku mengangguk, “Tae Hwa, Seung Hyun tolong ya…”

Mereka mengangguk. Kubawa Hee Ra keluar dari tkp. Kududukkan ia di bangku taman.

“Gwenchana?” tanyaku.

Hee Ra terdiam. Aku tau, sejak kecil Hee Ra tidak berani melihat keadaan seperti mayat tadi.

Pagi ini, Inspektur Hwan kembali menelpon kami. Ada pembunuhan di taman ini. mayatnya lagi-lagi seorang wanita dan lagi-lagi organ-organ tubuhnya hilang. Mayatnya ditemukan pukul 5 pagi tadi, saat petugas kebersihan taman baru datang.

“Hee Ra, kau tidak apa-apa?” tanyaku sekali lagi.

Hee Ra menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

“Min Ho, kau ke tkp saja. Aku hanya perlu menenangkan diriku sebentar.” Ujarnya pelan.

Aku tetap duduk disampingnya. Dibukanya kedua telapak tangannya. Ia menghela nafas panjang. Tiba-tiba ia tersenyum.

“Tidak usah khawatir, aku sudah tidak apa-apa.” Ia menatapku.

Aku mengangguk, “Baiklah. Kita kembali ke tkp?”

Ia mengangguk, ditariknya tanganku, “Kkaja.”

Kami berjalan menuju ke tkp. Saat sampai di tkp, ternyata mayatnya sudah dibawa untuk diotopsi.

“Mayatnya sudah dibawa petugas forensik.” Ujar Seung Hyun.

Hee Ra menatap Seung Hyun dan Tae Hwa, “Apa ada kertas lagi?”

Aku terkejut mendengar kata-kata Hee Ra.

Seung Hyun menghela nafas panjang, “Ne, ada… dilekatkan menggunakan lakban.”

“Mianhamnida?” tanya Hee Ra.

Tae Hwa mengangguk, “Dan seperti biasa… tulisannya komputer. Ukuran kertas kira-kira sama dengan kertas sebelumnya.”

“Baiklah.” Hee Ra mengangguk.

“Bagaimana penyelidikan kalian?” sebuah suara mengejutkan kami.

“Inspektur?” kami membungkuk kearah inspektur Hwan yang baru datang bersama Ki Na, Dong Joon dan juga Inspektur Tae Joo.

“Ne, kalian datang pagi-pagi buta kesini ya?” tanya Dong Joon.

Aku mengangguk.

“Baik, kalian pergi ganti baju kalian, mandi, sarapan dan segera kembali kemari stelah melakukan semuanya.” Ujar Inspektur Hwan sambil tersenyum tipis.

Aku tersadar. Aku belum mandi pagi, belum sarapan dan hanya menggunakan baju kaos putih berlapis jaket kotak-kotak kecil dan celana training bewarna abu-abu juga sneaker. Tidak beda dengan Dong Joon dan Tae Hwa. Malah Tae Hwa tidak menggunakan jaket.

“Ne, baik inspektur!”

Ki Na dan Dong Joon tampak menahan tawanya.

♫ ♫ ♫ ♫

Nam Hee Ra POV

“Sudahlah.” Ujar Ha Na, “Nanti juga kau akan melupakannya. Lagipula, kau baru beberapa bulan ditempatkan di bagian investigasi.”

Aku menghela nafas. Kumasukkan bajuku dalam mesin cuci, “Beberapa bulan? Ha Na… sudah 8 bulan…”

“Ya itu karena di Seoul jarang sekali ada pembunuhan sadis.” Ha Na mengganti saluran televisi dihadapannya.

“Ne, benar juga. Kurasa begitu, Ha Na…”

Ha Na tersenyum, “Mmm…apa kau akan kembali ke taman itu?”

“Ne, Ha Na. Nanti tolong jemurkan kainku ya? Maaf merepotkanmu lagi.” ujarku pelan sambil membalikkan celana kotorku.

“Kau ini…! Memangnya kau fikir aku bukan temanmu? Selalu saja berkata seperti itu.” Ha Na menatapku.

Aku tertawa kecil, “Mianhae…”

Saat kubalikkan celana trainingku yang kupakai tadi, tampak olehku bercak darah di belakangnya.

“Ya, kenapa ada bercak darah?” gumamku.

“Kenapa Hee Ra?” Ha Na menghampiriku.

Aku menunjuk celanaku.

“Kau datang bulan lagi?” tanya Ha Na.

Aku menggeleng, “Tidak, kok.”

Kupejamkan mataku untuk mengingat apa yang kulakukan tadi pagi. Tadi pagi begitu bangun tidur, aku dapat telepon dari Min Ho dan langsung lari mengambil celana dalam lemari. Berarti aku baru mendapat noda ini tadi. Apa di mobil atau di taman?

“Ha Na, tolong cucianku ya!” aku segera berlari menuju kamarku dan mengambil kunci mobil dan kartu identitas polisiku.

“Kau mau kemana?” tanya Ha Na saat kupasang sepatuku.

“Kembali ke tkp! Aku pergi dulu Ha Na!” aku segera berlari menuju mobilku yang terparkir di depan apartemen.

Kubuka pintu mobilku. Kuamati tempat dudukku. Tidak ada noda apa-apa…! Berarti…!!!

Aku langsung masuk dalam mobil dan memasang seatbeltku sebelum akhirnya tancap gas meninggalkan apartemenku. Kupercepat laju mobilku. Sekitar 5 menit kemudian aku sampai di taman. Kerumunan orang masih ada disekitar tkp. Aku berlari kencang menuju bangku taman tadi.

“Hhh…hhh…” nafasku memburu cepat saat aku sampai di depan bangku tersebut.

Aku jongkok didepan bangku kayu tersebut. Tampaklah olehku noda di bangku tersebut. Noda kecokelatan yang kuyakin adalah noda darah. Diujung bangku tersebut tampak tetesan bewarna lain. Kukeluarkan sarung tangan plastik putih dari saku jaketku.

Perlahan kuseka cairan bewarna biru muda tersebut menggunakan tangan kiriku. Kucium baunya. Hampir tidak ada baunya.

Kukeluarkan hpku dari saku.

“Yoboseyo, Ki Na. Tolong panggil petugas identifikasi untuk datang ke tempatku.” Ujarku begitu mendengar panggilanku diangkat.

“Kau ada dimana?” tanya Ki Na.

Aku melihat ke arah sekitarku, “Aku sudah tiba di taman. Hmmm… dari tempatmu berada, arahkan badanmu menuju arah jalan raya.”

“Ne, kemudian…?”

“Hadap kiri. Jalan lurus sekitar 10 pohon. Aku didekat bangku panjang. Tolong ya, Ki Na.”

“Baiklah, kau tunggu ya Hee Ra…”

“Ne, gomawo.” Kuakhiri panggilan itu.

Kuamati kedua jenis noda itu. Kulihat arah sekitarku.

“Apa ini tkp aslinya ya?” gumamku.

“Hee Ra!” tampak Ki Na berlari bersama seseorang. Petugas identifikasi.

“Ki Na…!” sahutku.

“Ada apa, Hee Ra? Kau menemukan sesuatu?” tanya Ki Na.

“Ne.” aku mendongakkan kepalaku, “Kwon-ajussi?”

Kwon-ajussi mengangguk, ia tersenyum.

“Ajussi, bisa aku minta cairan luminol?” pintaku.

Kwon-ajussi mengangguk. Ia membuka tasnya, “Ini luminol, Hee Ra.”

Aku mengambilnya dari tangan ajussi. Kuteteskan dua tetes luminol di atas noda kecokletan tersebut. Setelah beberapa detik, noda itupun berubah warna menjadi warna ungu. Aku tersenyum.

Ki Na jongkok disampingku, “Ini darah…”

Aku mengangguk. Kuberikan lagi cairan luminolnya pada Kwon-ajussi.

“Aku akan memotretnya dulu.” Ujar Kwon-ajussi.

“Jangan dulu, ajussi. Tolong, apa bisa kau periksa ini noda apa? Aku tidak yakin dengan penciumanku.” Aku berdiri. Kuperlihatkan sarung tanganku pada Kwon-ajussi.

Kwon-ajussi menatapnya sebentar lalu mencium baunya.

“Ini serum anti-.” Ucap Kwon-ajussi, “Bau serum anti-A ini memang nyaris tidak ada, namun baunya sedikit khas.”

Aku terdiam sejenak, “Ah! Iya! Benar…! Aku pernah melihatnya di labor.”

Ki Na mendongakkan kepalanya, “Apa mungkin ini tkp asli?”

Aku hanya menghela nafas, “Kita masih belum bisa memastikannya, yang jelas tempat ini juga harus dipasang police line. Kwon-ajussi, silahkan memotret barang-barang bukti ini.”

Kulepas sarang tanganku hati-hati. Ki Na berdiri. Sejenak kami memperhatikan Kwon-ajussi.

“Kenapa cairan serum anti-A ada disini bersama darah?” gumam Ki Na.

Kutatap Ki Na, “Benar…”

“Kalau ini memang darah korban, mana mungkin pelaku mengecek darah korban sebelum membunuh.” Ujar Ki Na.

Aku mencerna kata-kata Ki Na. Mengecek darah korban?

“Ki Na, kau disini dulu bersama Kwon-ajussi ya! Aku mau ke tempat Inspektur Hwan.”

Choi Min Ho POV

“B?” ulangku.

“Benar, Min Ho. Darah korban B. Ini tidak bisa dibilang kebetulan.” Sahut Tae Hwa yang masih mengamati barang bukti, “Jenis kertasnya masih sama dengan kertas-kertas sebelumnya. Tidak salah lagi, pelakunya sama.”

Tiba-tiba ponselku berdering.

“Min Ho, bagaimana?” tanya Hee Ra terburu-buru.

“B.” jawabku, “Sama seperti korban-korban sebelumnya.”

Tidak ada jawaban.

“Hee Ra…” panggilku.

“Ah, ne.. gomawo, Min Ho.” Terdengar panggilan diakhiri.

“Hee Ra?” tanya Tae Hwa.

Aku mengangguk, “Ne.”

“Baiklah, ayo kita cari rumah keluarga korban.” Sahut Tae Hwa.

“Apa sudah diumumkan kematian gadis ini?” tanyaku sambil berdiri.

Tae Hwa mengangguk, “Tapi belum ada laporan apa-apa.”

“Kalau dari seragamnya, ia siswi di Chungdam. Aku akan menelpon SMA Chungdam.” Ujarku.

“Ne, benar. Seragam itu seragam SMA Chungdam.” Tae Hwa mendekat kearahku.

Aku mengangguk. Kubuka Yellow page yang ada disebelah ganggang telepon (di Korea ada Yellow page gak sih? *PLETAKK*).

“Chungdam…” gumamku sambil mencarinya di deretan huruf C.

“Ini dia, Min Ho.” Tae Hwa menunjuk sebuah nomor.

“Betul.” Aku segera menekan nomor telepon tersebut.

“Yoboseyo.” Sahut seseorang diseberang.

“Yoboseyo. Maaf mengganggu. Kami dari kepolisian Seoul.” Ujarku.

“Polisi? Saya kepala staff TU. Ada yang bisa kami bantu?”

“Apakah ada laporan siswi hilang?” tanyaku.

Staff TU tersebut terdiam sejenak, “Sepertinya tidak ada.”

Kutatap Tae Hwa.

“Sudahlah. Kita saja yang kesana.” Bisik Tae Hwa.

“Baiklah. Kami akan kesana untuk memastikannya. Gamsahamnida.”

“Ne, silahkan.”

Kuletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Tae Hwa menatapku. Aku mengangguk. Kami segera menuju ke mobil yang terparkir di depan markas.

“Sekolah ini mewah juga ya.” ujar Tae Hwa begitu kami sampai di SMA Chungdam.

Aku mengangguk, “Ayo masuk.”

Tae Hwa dan aku segera masuk ke dalam bangunan utama sekolah ini.

“Ruang kepala sekolah.” Gumam Tae Hwa.

“Ada dimana ya?” tanyaku. Lebih kepada diriku sendiri.

Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng. Siswa-siswi nya mulai keluar dari kelasnya.

“Ahh… itu siapa ya? Tampan sekaliii!!!” bisik siswi-siswi yang lewat didepanku dan Tae Hwa.

“Ne, yang pakai jas putih ituuu!!!” bisik mereka.

“Ssst… itu kau Min Ho.” Bisik Tae Hwa sambil tertawa.

“Annyiooo! Yang pakai kaos abu-abu itu jugaaa!” sahut yang lain.

Aku tertawa kecil. Tae Hwa hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Kuhampiri mereka, “Annyonghaseo.”

Mereka menatapku, “Annyonghaseo. Ada yang bisa kami bantu?”

Aku tersenyum, “Dimana ruang kepala sekolah?”

Mereka terus menatapku.

“Permisiiii… bisa tunjukkan aku ruang kepala sekolah?” ulangku.

Mereka menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ada disana.” Tunjuk salah satu siswi tanpa mengalihkan pandangannya dariku.

“Disana…?”

“Ne…disana…” mereka mengangguk.

Aku tersenyum, “Gamsahamnida.”

“Ah, tunggu… apa kau guru baru disini?” tanya seorang diantara mereka.

Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum, “Bukan.”

Tae Hwa tersenyum ke arah mereka. Ditunjuknya badge polisi yang tersemat di jas hitamnya.

“Gamsahamnida. Kami permisi dulu.” Ujarku pada mereka sambil tersenyum.

“Ooooh… mereka polisi yaa?”

“Sayang sekaliii…”

“Ternyata polisi sekarang keren-keren ya. Kalau begitu aku ingin jadi polwan saja.”

Aku dan Tae Hwa tertawa kecil. Kami berlalu menuju ruang kepala sekolah. Kuketuk pintu ruangan tersebut.

“Ne. Silahkan masuk.” Sahut seseorang pria dari dalam.

Aku membuka pintu tersebut, “Permisi. Kami dari Kepolisian Seoul.”

Kepala sekolah tersebut langsung berdiri, “Annyonghaseo. Aku sudah dengar tadi ada polisi yang menelpon ke TU.”

Tae Hwa mengangguk, “Kami sengaja datang untuk mencari tau tentang sesuatu.”

“Ne, silahkan duduk dulu.” Kepala sekolah tersebut mempersilahkan kami duduk.

“Gamsahamnida.” Ujarku sambil duduk.

“Langsung saja. Kami ingin tau apa ada seorang siswi yang absen pada hari ini.” Tae Hwa duduk.

Kepala sekolah tersebut menatap kami.

“Terjadi suatu kasus di taman daerah Yongsan. Seorang siswi ditemukan tewas mengenaskan dan siswi itu mengenakan seragam SMA Chungdam.” Jelasku.

Kepala sekolah itu terkejut, “Benarkah?!”

Kami mengangguk pelan. Kepala sekolah itu langsung mengeluarkan handphone-nya.

“Yoboseyo. Jung-sonsaengnim, tolong kau bawa absen sekolah hari ini ke ruanganku. Cepat.” Ucap kepala sekolah begitu telepon diangkat.

Tak sampai 2menit kemudian, pintu diketuk.

“Masuk.” Sahut Kepala sekolah.

Pintu dibuka.

“Berapa siswa yang tidak hadir?” tanya Kepala sekolah begitu seorang wanita masuk.

“Ada dua orang, sonsaengnim. Lee Tae Min dan Ahn Min Young.” Jawab wanita itu sambil mengecek kertas-kertas yang dibawanya.

“Ahn Min Young?!” tanya Kepala sekolah.

“Ne, benar sonsaengnim.”

Kutatap Tae Hwa. Tae Hwa mengangguk.

“Bisa kami minta data dari siswi itu?” tanya Tae Hwa.

♫ ♫ ♫ ♫

Nam Hee Ra POV

“Barusan Tae Hwa menelponku. Dia sudah mendapat kepastian tentang identitas korban dari keluarganya.” Ujar Inspektur Hwan, “Korban bernama Ahn Min Young, 17 tahun, siswi SMA Chungdam.”

Aku terdiam.

“Orangtuanya terkejut melihat mayat anaknya dan korban ini tidak punya hubungan apa-apa dengan korban sebelumnya. Ini semakin menguatkan bahwa pelaku adalah orang yang tidak punya hubungan dengannya. Sama seperti keadaan mayat sebelumnya, organ-organ dalamnya hilang.” Terang inspektur Hwan.

“Apa yang diincar pelaku ini memang organ-organ manusia?” tanya Ki Na.

Aku menggelengkan kepalaku, “Belum bisa dipastikan apakah pelaku memang mengincar organ-organ manusia.”

“Kesamaan dalam kasus sebelumnya ada 2 poin.” Ujar Dong Joon, “Yang pertama adalah golongan darah yang sama dan keadaan korban yang sama.”

“Bukan 2 poin. Tapi 4.” Sahut Ki Na, “Ditambah dengan kertas dan juga…”

“Apa?” tanyaku.

“Ada bekas jarum di tubuh korban. Tepatnya di telunjuk.” Kata Ki Na sambil menatapku.

Aku tercekat. Bekas jarum di telunjuk. Tiba-tiba aku teringat akan cairan serum anti-A yang kemarin ada dibangku didepanku ini. Apa mungkin pelaku memeriksa golongan darah korban?

“Pelakunya sengaja.” Ucapku.

Inspektur menatapku, “Sengaja?”

“Ne, dia sengaja memeriksa darah korban. Ini bukan kebetulan. Buktinya ada bekas jarum di telunjuk korban.”

“Untuk apa dia memeriksa darah korban?” tanya Dong Joon.

Aku menggeleng pelan, “Entahlah.”

♫ ♫ ♫ ♫

“Ha Na, kau tidak kerja hari ini ya?” tanyaku sambil meneguk segelas susu yang baru saja kutuang dari botolnya.

Ha Na menggeleng, “Tidak. Rumah sakit masih sibuk dengan berkas-berkas yang hilang itu. Aku jadi malas ke rumah sakit.”

Kutatap Ha Na, “Berkas?”

Ha Na tak mengalihkan pandangannya dari televisi, “Bukankah kau sudah tau? Alat-alat rumah sakit dan berkas-berkas.”

“Benarkah? Yang aku tau, rumah sakit hanya mengatakan alat-alat saja.” Ujarku.

Ha Na menggeleng, “Berkas penting.”

“Memangnya berkas apa?” tanyaku.

“Berkas keterangan operasi transplantasi organ dari 4 tahun yang lalu.” ucap Ha Na.

Aku terkejut, langsung aku duduk disamping Ha Na, “Berkas operasi transplantasi organ?!”

Ha Na menatapku, “Ya, kau kenapa?”

“Apa benar?!”

Ha Na mengangguk, “Memangnya aku pernah bohong.”

Aku terdiam. Ini tidak mungkin!

“Barang-barang sih bisa dibeli lagi. Kan cuma alat-alat operasi, alat pacu jantung, beberapa alat suntik, pisau operasi dan beberapa obat-obatan. Tapi, kalau berkas sepenting itu hilang, mana bisa diganti?”

Tidak mungkin… itu alat-alat untuk operasi kan? Mayat-mayat itu… organnya… jarum… Serum anti-A…

“Ha Na… apa untuk melakukan transplantasi organ… darahnya harus sama…?” tanyaku perlahan.

Ha Na menatapku. Ia terdiam sejenak.

“Ne, tentu saja dan harus ada kecocokan organ.”

Tidak mungkin…

♫ ♫ ♫ ♫

Lee Jin Ki POV

“Kenapa tidak cocok, Jong Hyun?!!!” teriakku.

Jong Hyun terdiam. Ditatapnya aku lama. Ia menggeleng, “Tubuhnya menolak, Jin Ki. Kau harus segera menemukan yang baru. Waktunya tinggal beberapa jam lagi. Tidak sampai 1 hari lagi!”

Aku terkejut. Kutatap Jong Hyun, “Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?!!”

Jong Hyun menggeleng, “Satu-satunya cara adalah kau harus mencari lagi. Itu satu-satunya cara.”

Aku menghela nafas panjang. Segera aku beranjak mengambil tas ranselku.

“Kau akan pergi lagi?” tanya Jong Hyun.

Aku mengangguk, “Semua demi adikku. Aku tidak peduli bagaimana nasibku setelah ini, yang jelas Ji Ra harus selamat!”

Kuperiksa barang-barang yang ada didalam, “Loh…”

“Ada apa?” tanya Jong Hyun.

“Serum anti-A! Kau lihat Serum anti-Aku?”

Jong Hyun menggeleng, “Kau tidak pernah mengeluarkannya dari tasmu. Apa ketinggalan di taman?”

Aku berusaha mengingatnya. Setelahku coba menguji darahnya, aku meletakkannya di samping bangku. Apa mungkin tertendang oleh kaki Min Young ya?

“Benar!” ujarku.

“Ya sudah. Kau ambil saja.” Kata Jong Hyun.

Aku mengangguk.

“Lalu siapa berikutnya?” tanya Jong Hyun.

Aku menghela nafas. Kubalik-balikkan berkas yang ada disampingku, “Yang tersisa hanya mereka yang tinggal di luar Seoul. Aku tidak mungkin menemui mereka!”

Disaat aku sedang berfikir, tiba-tiba hpku berdering.

“Han Seung Hee…? Kenapa?” gumamku.

To be continued…

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

12 thoughts on “POLICE LINE! – Part 2”

  1. wih, saya dapat kesempatan komen pertama nih! *bangga*
    ooooh ternyata Ji Ra itu adiknya Jin Ki?? Ohohohoho..
    pantes aja Jinki rela ngebunuh orang-orang.. tapi itu kan tetep kejam!!!!
    *muka merah*

    keren2 author! lanjutkan sampai selesai OK! ^^
    annyeong..

  2. Aaaaa jinki kenapa harus ngebunuh lagi sih?
    Emg sebenernya ji ra itu sakit apa sih???
    Wahwah hee ra bentar lg kyknya bisa nebak nih
    Itu minho pas ke sekolah ya ampun………
    Lanjuuut! Ayodong plis yg terakhir organnya cocoooook,
    Biar jinki gak harus bunuh2 lagiii

  3. Aissssh
    Ternyata yang sakit adenya jinki
    Jinki rela berkorban bangettt
    Sayang.. Caranya salah
    Harusnya dia pake cara lain
    Jangan ngebunuh
    Minhoo ama taehwa bikin heboh chungdam hahaha
    Sampe siswinya mau jadi polwan
    Lanjutt

  4. wah.author nya keren nih..!!
    ceritanya bikin penasaran,, lanjutkan ya..!! 😀
    jadi kasian sama Jinki..*hiks-hiks

  5. oh, Ji Ra itu adeknya Jin Ki ya ! Oooooh 😮
    siapa ya slnjutnya ? jgn2 Hee Ra lgy ? *author : bukan yee :p
    keren thor 😉
    d.tggu ya lnjutannya, gak pake lama *maksa 😀

  6. tuhkan bener… jadi itu adiknya Jinki, Jira yg punya golongan darah B… hmmm…
    jadi jinki nyuri alat-alat operasi?? dengan berkas?? yahh… udah tau lah itu buat donor… tapi aku belum bisa nebak donor aka yg dibutuhin….
    daebak FF…
    lanjuttt!!!!!!!!!!!!!!

  7. ah ya ampun.. jadi keinget Sherlock Holmes XD
    tuh, dari part 1 juga kayaknya jinki agak sedikit mencurigakan. ternyata dia beneran yg bunuh. so sweet bgt.. demi ji ra.. tapi kan ga perlu pake ngebunuh T.T hiks… keren abis, thorrrr XD

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s