They Suddenly Came into My Days – Part 5

Title                       : They Suddenly Came into My Days (Part 5)

Author                  : myee

Main Casts          : Kim Soona, SHINee members

Support Casts    : Seo Jeo Hyun, Im Yeon Ji

Other Casts        : Seung Ri (Bigbang), Seul Ong, Jo Kwon, Jin Woon (2AM), Changmin, Yunho (DBSK), Hyo Yeon (SNSD)

Genre                   : AU (School), Friendship, Romance

Length                  : Sequel

Rating                   : G

—–

Kim Soona’s POV

Setelah empat hari aku istirahat di rumah untuk memulihkan kembali kepalaku, akhirnya aku bisa masuk sekolah lagi. Aneh juga, ketimpuk bola baseball kok bisa segitu parahnya sih?

“Soo, besok tim basket putra mau tanding. Ikut nonton enggak?”, tanya Jeo Hyun sambil duduk di bangku sebelahku. Aku berpikir sedikit.

“Kayaknya ikut, soalnya Kibum sama Minho ikut tanding sih”, jawabku.

Yeon Ji yang baru datang dari kamar mandi langsung menghampiri kami berdua, “Formasi timnya kayak gimana sih emangnya?”, tanyanya pada Jeo Hyun sambil duduk di depanku.

“Hmm, kata Seung Ri oppa sih… Jo Kwon kan lagi cedera, terus katanya Taemin yang ngeganti. Jadinya yang main Seung Ri, Seul Ong, Minho, Kibum, sama Taemin. Cadangan utamanya Changmin oppa, Yunho oppa sama Jin Woon oppa”, jawab Jeo Hyun.

“Wah serius? Baru kali ini aku denger ada anak baru yang dimasukkin langsung ke tim inti!”, kataku terkejut.

“Itu juga yang bikin aku aneh. Aku udah nanya ke Seung Ri oppa kalau keputusannya kali ini tepat atau enggak, soalnya kan biasanya anak klub yang baru itu belum siap mental”, ucap Jeo Hyun.

“Terus terus?”, Yeon Ji penasaran.

Jeo Hyun menggaruk-garuk pipinya, “Seung Ri oppa cuma senyum. Terus dia nyuruh aku ngeliat latihan basket anak putra. Dan gila, baru kali ini aku lihat mereka bermain segila itu.”

“He? Enggak keliatan dari tampangnya ya?”, kata Yeon Ji.

“Oh, ya, Soo. Dua namja basket itu lagi dimana sekarang? Kok tumben dari pagi ini aku enggak liat mereka?”, tanya Jeo Hyun.

“Mereka di gymnasium. Latihan buat besok kan”, jawabku.

“Eh, liat yuk!”, ajak Yeon Ji. “Beuh. Ngapain?”, ucapku.

“Ya iseng-iseng aja. Lumayan cuci mata”, lanjut Yeon Ji sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aku melenguh. “Ya sudah, khajja.”

Akhirnya kami bertiga segera keluar dari kelas dan berjalan menuju gymnasium. Di halaman belakang sekolah aku berpapasan dengan Onew oppa.

“Lho, Soona? Mau ke mana?”, tanya Onew oppa.

“Ke gymnasium, anak ini mau liat tim basket putra”, kataku sambil menunjuk Yeon ji. “Annyeong Onew sunbae…”, kata Yeon Ji dan Jeo Hyun bersamaan sambil membungkuk.

“Annyeong Yeon Ji-ah, Jeo Hyun-ah… Aku juga mau ke sana. Bareng aja ya?”, ucap Onew oppa.

Aku mengangguk. “Jjong oppa… Eodiseoyo? Tumben dia tidak bersamamu”, tanyaku sambil berjalan menuju gymnasium.

“Oh, dia ada tugas tambahan. Dia lupa mengerjakan tugasnya kemarin”, jawab Jinki oppa. “Hee~ Tumben…”, kataku. Onew oppa hanya terkekeh.

Sesampainya di gymnasium, ternyata banyak juga yang menonton latihan tim basket putra sekolahku ini. Yah, 80% dari yang menonton itu adalah yeoja.

“Seung Ri oppa!!! Kyaaaaa~~~”

“Seul Ong!! Hwaiting~!”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Benar-benar ya tim basket ini. Banyak sekali penggemarnya.

“KYAAA~ Itu Choi Minho! Anak baru yang itu! Kyaaa~ Tampannyaaaa!”

“Keeeeeeeeeeeeey! We love you!”

“Taeminnie~~~ Ayo kau bisaaaa!”

Aku menoleh ke arah tribun kiri. Wah, ternyata tiga namja itu sudah banyak penggemarnya juga ya? Enggak heran, sih. Selain tampang mereka yang bisa dibilang keren (bisa banget malahan!), skill olahraga mereka juga gila-gilaan.

“Ayo kita ke bawah”, ajak Jeo Hyun sambil menarik tanganku. Akhirnya kami berempat beranjak menuju pinggir lapangan. Terlihat beberapa anggota tim basket putra lainnya yang sedang duduk di bangku pemain.

“Ah, Jeo Hyun-ah!”, sapa seseorang. Itu Jin Woon oppa, teman sekelas Seul Ong oppa sekaligus pemain cadangan di tim putra.

“Mereka sedang apa?”, tanya Jeo Hyun sambil melihat ke arah lapangan. “Oh, mereka lagi lari bolak-balik. Pelatih lagi ngetes stamina mereka sampai sejauh mana”, jawabnya.

Aku melihat lapangan. Seul Ong oppa, Seung Ri oppa, Minho, Kibum, dan Taemin memang lagi latihan lari (lebih tepatnya sih sprint) bolak-balik lapangan. Suara decit sepatu basket terus terdengar. Hmm, khas olahraga basket.

“Ya! Cukup! Kuberi waktu untuk istirahat selama 15 menit! Setelah itu ambil bola basket dan kalian akan berlatih cross dribbling”, ucap pelatih Choi (bukan bapaknya Minho lho ya).

Kelima namja basket itu mengangguk dan menghampiri kami semua yang berada di pinggir lapangan. “Ah, kalian kemari rupanya”, ucap Minho sambil terengah-engah. Dia duduk di sebelah Changmin oppa (pemain cadangan juga) dan mengelap keringat yang membanjiri kening hingga tengkuknya, kemudian dia mengambil sebotol air putih dingin yang terletak di lantai.

“Duh, lumayan nguras tenaga juga ya?”, kata Taemin sambil berbaring di atas lantai pinggir lapangan. Jo Kwon melempar handuk kepada Taemin, “Oh, thanks hyung”, sambung Taemin sambil menangkap handuk itu.

“Bocah, ambilin minumku dong”, ujar Kibum kepadaku sambil terengah-engah. Aku menoleh ke belakang. Ada tas Kibum ternyata.

“Enak aja”, kataku singkat. “Heh!”, dia berdecak kesal.

Aku terkekeh dan mengambil sebotol minuman isotonik dingin dari tas Kibum. “Ini! Cuma bercanda kok”, kataku sambil melempar botol itu ke arah Kibum. Dia menangkapnya dengan tangan kirinya, “Thank you.”

“Udah siap buat besok, hm?”, tanya Onew oppa berjongkok di sebelah Taemin yang sedang duduk bersila di lantai. “Hh… Lumayan hyung…”, katanya.

“Taemin-ya! Kakimu jangan nekuk gitu! Bisa kaku nanti! Lurusin!”, kata Seul Ong oppa. Taemin menurut dan memperbaiki posisi duduknya.

“Kalian capek enggak? Ini baru latihan awal menuju pertandingan lho…”, kata Seung Ri oppa sambil meneguk minumannya.

“Lumayan hyung. Kita udah 20 menit sprint terus…”, ucap Minho seraya mengatur napasnya kembali.

“Tapi untuk ukuran anak baru di basket kalian udah cukup hebat lho”, kata Jo Kwon yang dari tadi duduk di bangku.

“Oh ya, kalian memang besok mau tanding di mana sih?”, tanya Yeon Ji.

“Di sini kok”, jawab Seung Ri oppa sambil tersenyum. “Wueh, di kandang sendiri dong? Harus menang ya! Kalau enggak malu-maluin sekolah deh kalian”, ujar Jeo Hyun.

“Optimis menang kok, tenang aja”, kata Yunho oppa.

Kemudian Jeo Hyun mengambil bola basket yang terletak di pinggir lapangan. Dia mendribble-nya pelan.

“Ya, Choi Minho. Aku penasaran dengan kemampuanmu…”, kata Jeo Hyun sambil menunjuk Minho.

Minho menyeringai, “Duel nih?”.

Jeo Hyun mengangguk, “Jangan anggap remeh aku lho, ya. Mentang-mentang aku seorang yeoja, aku tidak mudah untuk dikalahkan.”

“Oke, siapa takut?”, Minho beranjak dari bangkunya dan menghampiri Jeo Hyun yang kini sudah berdiri di tengah lapangan.

Aku menatap mereka berdua. Mata yang lain pun tertuju pada dua manusia yang berdiri di lapangan itu.

“Mulai deh anak itu”, kata Onew oppa sambil memukul dahinya sendiri. “Memang kenapa, oppa?”, tanyaku. “Sekalinya insting bersaing Minho tersulut, udah deh, gak ada yang bisa nahan dia.”

Duel mereka pun dimulai. Bola dikuasai Jeo Hyun, dan Minho terus membayang-bayanginya. Muka mereka berdua tampak sangat menikmati duel mereka tersebut.

“Wuih, Jeo Hyun keren”, ujar Yeon Ji. Aku hanya tersenyum dan melihat mereka berdua lagi. Seluruh orang yang berada di gymnasium itu berteriak menyoraki mereka. Ada yang menyemangati Jeo Hyun, dan tentu saja banyak juga yang menyemangati Minho.

Sayang, sekarang Jeo Hyun memakai seragam sekolah. Jelas hal itu membuatnya tidak bebas bergerak. Setelah kurang lebih 7 menit mereka berkutat, Minho akhirnya dapat merebut bola, berlari dan memasukkan bola itu ke dalam ring.

“Duh, aku kalah”, kata Jeo Hyun sambil nyengir dan berjalan menghampiriku. “Kemampuanmu bertambah, Jeo Hyun-ah”, ujar Jin Woon oppa.

“Kau hebat juga”, kata Minho yang berjalan menghampiri kami. “Lain kali aku bakal menang”, kata Jeo Hyun. Minho tersenyum, “Akan kutunggu itu.”

“Baik, istirahat selesai! Bagi tim yang akan bertanding besok sekarang ambil bola basket kalian dan cepat ke tengah lapangan!”, ujar pelatih Choi. Lima namja itu pun mengambil tumpukan bola basket yang ada di pojok lapangan dan bersiap untuk latihan lagi.

“….Kalian jahat amat ninggalin aku haaaah? ssssss~”, seseorang mendesis di telinga kananku.

Tengkukku bergidik. “HYAAAAAAA JONGHYUN OPPA! JANGAN NGEBUAT ORANG MERINDING!”, kataku sambil memukul bahu kanannya keras. Yeon Ji dan Jeo Hyun yang ada di sebelahku tertawa-tawa.

“HAISH! SAKIT!”, ucapnya kesakitan sambil mengusap-ngusap bahunya. Aku hanya manyun dan perhatianku teralih lagi ke tengah lapangan.

“Salahmu sendiri, Jjong. Siapa suruh buat ngagetin coba?”, ujar Onew oppa sambil tertawa kecil. Jonghyun oppa hanya mendengus kesal. “Tugasmu udah selesai?”, sambung Onew. Jjong mengangguk.

“Mereka bertiga ikut tanding?”, tanya Jonghyun. Sekarang kedua tangannya dimasukkan ke saku blazernya. “Yup”, jawab Jinki oppa singkat.

“Hee~ They’re really taking it seriously, huh?”, sambung Jonghyun sambil melihat tiga orang anak basket itu. “Lumayan buat latihan fisik, kan?”, kata Onew oppa sambil melipat tangannya.

Aku memandang tiga orang namja pengawasku yang sedang bermain di tengah lapangan. Memang, kemampuan fisiknya di atas rata-rata. Sepertinya mereka sudah terlatih sekali.

“Oppa, mereka sering latihan fisik ya?”, bisikku pada Onew oppa dan Jonghyun oppa. Yeon Ji dan Jeo Hyun juga nampaknya penasaran. “Iya, tadi pas Jeo Hyun duel sama Minho-ssi kayaknya tenaganya masih kesisa banyak, padahal udah sprint gitu”, ujar Yeon Ji.

Jonghyun oppa tersenyum. “Minho itu sabuk hitam karate. Kalau Kibum Dan dua karate. Nah, kalau Taemin dia lagi belajar aikido. Jadi ya jelas aja fisiknya memang di atas rata-rata”, ujarnya.

Yeon Ji dan Jeo Hyun melongo. “Ternyata kalian tuh bener-bener terlatih buat ngawasin si putri ini yah?”, tanya Jeo Hyun sambil menunjukku. Aku mendelik pada Jeo Hyun, “Hyunnie-ah. Sudah kubilang aku benci panggilan semacam itu”, kataku. Jeo Hyun cuma nyengir.

“Kalau kalian ikut beladiri apa?”, bisik Yeon Ji. “Aku sih sabuk coklat karate sama sabuk hitam aikido. Kendo juga aku lumayan bisa”, kata Onew oppa. “Aku lebih ke thai boxing. Tapi tae kwon do juga aku lumayan”, sambung Jonghyun.

Aku melirik mereka berdua. “Kok aku gak pernah tau sih kalian segitu hebatnya dalam olahraga bela diri?”, ucapku heran. “Lah, kamu gak pernah nanya”, jawab Jonghyun oppa sambil menepuk kepalaku. Aku mendengus.

Yeon Ji dan Jeo Hyun terkekeh, “Sekarang aku ngeliat kalian bertiga lebih mirip hubungan kakak-adik daripada atasan-bawahan lho”, ucap Yeon Ji.

“Iya. Soalnya kalian berdua perhatian banget sama Soona”, sambung Jeo Hyun sambil memandang Jonghyun dan Onew.

Kedua namja itu hanya tersenyum. Aku pun balas tersenyum, soalnya aku memang sudah menganggap mereka sebagai kakakku sendiri.

—–

Esok harinya, Seoul International High School Gymnasium

Author’s POV

“Kalian perginya pagi banget, sih. Gymnasiumnya aja masih kosong gini”, ucap Soona sambil melihat seisi gymnasium. Yeoja itu melirik jam yang terpasang di tangannya. Waktu masih menunjukkan jam delapan pagi.

“Tandingnya memang jam berapa?”, tanya Jinki kepada tiga namja basket itu. “Ehm, jam sebelas, hyung”, kata Taemin sambil membaca kertas yang dipegangnya dari tadi. “Ya ampun, masih tiga jam lagi sampai waktunya tiba”, ujar Soona.

“Teman-temanmu datang?”, tanya Kibum. “Jeo Hyun pasti dateng sama anggota basket putri yang lain, kalau Yeon Ji sih kemungkinan bisa”, jawab Soona. “Anak-anak kelas kita juga bakal dateng buat support kalian”, sambungnya.

Minho dan Kibum hanya mengangguk.

“Nah, tiga jam ini kalian mau ngapain?”, tanya Jonghyun sambil duduk di bangku pinggir lapangan. “Sumpah, ini tempat masih sepi….”, sambungnya lagi.

Memang hanya mereka berenam yang berada di gymnasium. Namun terlihat juga beberapa panitia pertandingan yang lalu lalang keluar masuk gymnasium. Tapi itu hanya sekitar tiga atau empat orang saja. Anggota basket putra juga baru akan datang sekitar jam sembilan, karena latihan pemanasan baru dimulai jam setengah sepuluh.

“Aku mau lari-lari dikit di lapangan luar”, ujar Minho sambil memakai sepatu basket yang baru dibelinya seminggu kemarin (yang pas jalan-jalan itu, lho).

“Hyung, aku ikut dong”, kata Taemin sambil membenarkan tali sepatunya. “Khajja”, ujar Minho sambil beranjak keluar gymnasium. Taemin menyusulnya, dan mereka pun mengobrol sambil berjalan keluar.

Key hanya melihat seluruh sudut dalam gymnasium sambil meregangkan tangannya. “Aku mau ke mobil dulu sebentar, hp-ku ketinggalan”, ujar Onew. Soona dan Jonghyun mengangguk. Kemudian Jonghyun berjalan-jalan mengelilingi tribun gymnasium dan melihat-lihat beberapa piagam dan piala yang terpampang pada pintu masuk gymnasium.

Soona duduk di bangku pinggir lapangan. Ia merapatkan cardigan berwarna krem-nya. Entah kenapa pagi itu cuacanya sedikit dingin. Ia membuka ponselnya dan mengutak-atiknya.

“Soona”, ujar Kibum. Soona menoleh pada sosok yang kini sudah duduk di sebelahnya. Soona mengerutkan alisnya.

“Hah? Tadi kau memanggilku apa?”, tanya Soona.

“Soona. Memang kenapa?”, kata Key sambil menoleh pada Soona. “Tumben banget. Biasanya manggil ‘bocah’ atau ‘anak kecil’…”, Soona terkekeh dan mengalihkan pandangannya pada ponselnya lagi.

“Oh? Mau kupanggil dengan sebutan bocah? Oke, dengan senang hati”, lanjut Key sambil menyeringai. Soona menatap tajam pada Kibum. “Jangan kau rusak mood-ku pada hari ini. Atau kudoakan kakimu tiba-tiba kram pas pertandingan nanti.”

“Yah? Kejam amat sih? Jangan dong”, Kibum manyun. “Hahaha, canda…”, ucap Soona sambil tertawa kecil.

Key merogoh tasnya dan menunjukkan sesuatu pada Soona. “Apa ini?”, Soona menoleh pada barang yang tengah dipegang Key.

“Wristband, eh bukan, lebih tepatnya gelang kain sih. Minggu kemarin aku melihatnya di toko olahraga itu. Warnanya bagus, unik lagi bentuknya. Makanya aku beli”, ucapnya sambil tersenyum. Soona memandang gelang kain berwarna merah-biru-putih yang diikat kepang itu.

“Kok tiba-tiba baik gini? Enggak ada maksud tersembunyi, kan?”, Soona mengrenyitkan dahinya. Kibum melenguh, “Aissh, dibaikin enggak mau? Ya sudah ini untuk yang lain aja”, ujar Kibum sambil memasukkan gelang kain itu ke dalam saku celananya.

“Eh jangan! Warnanya lucu! Aku kan suka warna merah sama biru!”, kata Soona sambil menarik-narik lengan mantel warna kuning yang dipakai Key.

Key tersenyum dan kembali mengambil gelang kain itu. Dia menarik pergelangan tangan kanan Soona dan memakaikan gelangnya. “Aku suka banget warnanya”, ucap Soona sambil melihat gelang yang sudah melingkar di pergelangan tangannya itu.

Key melipat lengan kiri mantelnya ke atas, “Lihat, aku juga make gelang yang sama lho”, ujarnya sambil menunjukkan gelang yang persis sama dipakai Soona.

Soona memandang muka Key yang sedang tersenyum kepadanya. Soona merasakan sesuatu di balik sikap Kibum yang tiba-tiba baik terhadapnya.

“Aku juga mau gelaaaaang~”.

Jonghyun berbisik di telinga kanan Kibum. Tengkuk Key seketika langsung merinding.

“Kalian berdua ini romantis banget siiih”, Jonghyun menggoda mereka berdua sambil merangkul Soona dan Kibum dari belakang.

“Hyung! Sudahlah!”, kata Key sedikit kesal. “Soo, hati-hati ya anak ini sifatnya buruk!”, sambung Jonghyun sambil terkekeh.

Key berdecak kesal dan berdiri dari bangku itu. Dia mengambil bola basket yang ia bawa dan mulai berlatih dribbling di tengah lapangan.

Soona menatap gelang yang barusan dipakaikan Key padanya. Dia sedikit menyunggingkan bibirnya senang.

—–

Kim Soona’s POV

PRIIIIIT!

Pertandingan pun dimulai pukul sebelas tepat. Lawan kali ini adalah dari Chungdam High School, dan tim basket dari sekolah itu pun dikenal cukup tangguh.

“SEUNG RI OPPPAAA! AWAS KALAU KAU KALAAAAH!!!”, teriak Jeo Hyun dari belakang bangku pemain. “Hei Jeo Hyun, jangan teriak terlalu keras. Kupingku sakit”, kata Changmin oppa yang duduk di depan Jeo Hyun sambil menutup telinganya.

Anggota tim basket putri duduk di belakang bangku pemain tim basket putra sekolah ini. Aku dan Yeon Ji duduk di sebelah Jeo Hyun, sedangkan Onew oppa dan Jonghyun oppa duduk di belakangku.

“Sorry ehehe”, kata Jeo Hyun sambil nyengir.

“SEUL ONG! KUHAJAR KAU KALAU ENGGAK NYETAK POIN!”, sekarang giliran Hyo Yeon eonni yang berteriak. Aku baru tahu kalau dia adalah yeojachingunya Seul Ong oppa.

“YA! HYO YEON-AH! KAU JUGA BERISIK!”, Yunho oppa sedikit membentak. Hyo Yeon eonni hanya nyengir dan kembali duduk di kursinya. Aku dan Yeon Ji hanya terkekeh melihat kelakuan para anak basket itu.

KYAAAAAAAAAAAAA~!

Seisi gymnasium menjadi riuh. Ternyata Minho berhasil menyetak three points di detik ke empat puluh ini. Sontak aku, Yeon Ji, Jeo Hyun, Jonghyun oppa, Onew oppa, dan seluruh anggota tim basket putra dan putri langsung bersorak.

Belum juga satu menit, giliran Seul Ong oppa yang berhasil lay-up1 dan menambah dua poin untuk tim sekolah kami. Hyo Yeon eonni yang paling kenceng teriaknya. Dan anehnya, Seul Ong oppa masih aja sempet-sempetnya menyunggingkan senyum ke arah Hyo Yeon eonni. Seketika saja muka Hyo Yeon eonni langsung memerah dan kami semua yang ada di sekelilingnya tertawa.

Memasuki kuarter kedua, tim basket putra sekolahku berhasil menambah selisih poin dengan tim lawan, yaitu tujuh poin.

Sekarang bola dikuasai oleh tim basket Chungdam. Seseorang dari mereka bersiap akan melakukan shoot dari luar garis three points. Bola melambung ke arah ring. Tapi untungnya bola itu memantul di pinggiran ring dan tidak jadi masuk. Tim basket putra sekolahku yang duduk di bangku pemain bersorak.

Kibum yang berada tepat di bawah ring melompat untuk melakukan rebound2. Namun sialnya, ada dua orang pemain lawan yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya, dan kedua orang itu juga ikut melompat.

KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!

Seisi gymnasium mulai riuh lagi. Sepertinya gedung ini ikut bergetar saking kerasnya sorakan penonton.

Ya tuhan.

Aku menutup mulutku. Aku sangat kaget.

Kulihat Kibum telah terjatuh di tengah lapangan sambil memegang pelipisnya. Dia meringis kesakitan.

“KIBUM!”, tanpa sadar aku berteriak dan bangkit dari kursiku.

—–

TBC

Keterangan:

1.   Lay-up : lompatan di depan ring untuk mencetak poin.

2.   Rebound : gerakan (biasanya sih loncat) untuk mengambil bola yang gagal dimasukkan tim   lawan di depan ring.

P.S : Ini ff kayaknya nyeritain kecelakaan mulu ya? Hahaha maaf kalau ngebosenin ya?

*thanks buat para readers yang udah nyempet-nyempetin mau baca…

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

17 thoughts on “They Suddenly Came into My Days – Part 5”

  1. Yayayaya!!!!
    Kenapa kibum jadi care gitu sihhhh?
    Kenapa gak minho aja?? Kekkeke
    Udah minho sama soona aja dong plisplisss
    Tp ngmg2 masih penasaran sama yang di part kmrn deh, yang telfon2an itu. Siapa sih?
    Gak ngebayangin minho main basket wkwk
    Lanjuuut!

  2. Kyaaaaaa., key ku knapa.?
    Haduuh., mkin pnasaran ni..
    Key sweet banget deh..
    Aku masih pnasaran sma adegan telpon”an itu..
    Lanjutan_y asap ya thor..

  3. wahh,,key mulai perhatian sma Soona,,, smpe d ksih gelang sma key,,
    ehm,,kyax key mlai suka sma Soona tuh ,, wkwkka,

  4. Aisssshhhhhhh
    Kibum sweeet bangettt
    Tapi tiba tiba dia kenapa?!???!
    Kan soona ngedoainnya kakinya keram
    Kenapa malah kayagitu
    Ngomong ngomong yang telfon di part sebelumnya tuh siapa si
    Bikin penasaran deh
    Taemin ga kebayang main basket
    Apa lagi seulong ga kebayang kalo dia senyum *nose bleeding*
    Lanjut
    Jangan sedih yayayaya thor *pemaksaan*

  5. hyaaa!! ap yg terjadi sama key oppa !!! …. *pletak!!*
    jgn ampe dy knapa2 ….

    aduh thor …. key ppa jgn diapa-apain ya !!!
    klo ampe knap2 aku bakal bunuh ayam !!
    *bletak !!! di lepar panci am author!!*
    ayoo … lanjut …

  6. aigo…diem diem ternyata Key baek ma soona ya, jadi tambah penasara
    ditunggu next partnya ya….eh iya, jangan lama2 hehe, udah g sabar^^

  7. ASTAGFIRULLAH….. NI CEWEK GILA_ PSYC0_SADIS_URAT SARAFNYA PUTUS SMUA, sumpah mual bcanya, bkin mimpi buru_ auth0r byangin ap nulis ff ni *d gt0k auth0r* jngan_jngan sampe ad.

  8. Ini komen pertamaku dr chap.1 aku udh baca tp jujur aku silent readers hehe *mianhae thor* ><
    Sumpahh kereeeeen,doa soona jd kenyataan ya? Kasian key 😦
    Daebak deh buat FFnya!! Ditunggu lanjutannya 😀

  9. HAHA KEY SO SWEEEET
    Udah gih Soona sama Key aja, Minho buat aku :3
    Keren keren myeeee pengungkapan identitas penelponnya jangan jauh jauh dong
    hahaha penasaran myeee
    LANJUT THOOOR! Hwaitiing ❤

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s