POLICE LINE! – Part 3 (END)

POLICE LINE!

Dedicate For You: Part 3

Author             : Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast        : Choi Min Ho, Nam Hee Ra

Other Cast       : Inspektur Hwan, Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Im Dong Joon, Song Seung Hyun (FT Island), Jung Ha Na and other.

Cast for this Case: Lee Jin Ki, Kim Jong Hyun, Lee Ji Ra

Length             : Sequel

Genre              : Mystery, Action, Family

Rating             : General atau PG

Disclaimer:

I don’t own SHINee, they are belong to SMEnt and their family, but i do own this story. And I do own some of the cast (Nam Hee Ra, Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Lee Ji Ra, Im Dong Joon).

Lee Jin Ki POV

“Lalu siapa berikutnya?” tanya Jong Hyun.

Aku menghela nafas. Kubalik-balikkan berkas yang ada disampingku, “Yang tersisa hanya mereka yang tinggal di luar Seoul. Aku tidak mungkin menemui mereka!”

Disaat aku sedang berfikir, tiba-tiba hpku berdering.

“Han Seung Hee…? Kenapa?” gumamku.

From: Seung Hee-Han

Oppa, belakangan ini kau tidak pernah menelponku. Apa kau baik-baik saja?

Langsung terbersit dalam otakku. Han Seung Hee… benar. Dia memang gadis yang aku cintai, tapi…

To: Seung Hee-Han

Seung Hee, aku baik-baik saja. Bisa kita bertemu? Di depan seberang bioskop dekat taman.

Tidak lama kemudian, Seung Hee membalasnya.

From: Seung Hee-Han

Ne, baiklah. Oppa cepat datang ya. 🙂

Aku menghela nafas panjang, “Aku sudah dapat. Aku pergi dulu, Jong Hyun!”

Jong Hyun mengangguk. Aku segera keluar rumah dan berlari menuju taman kemarin.

♫ ♫ ♫ ♫

Choi Min Ho POV

“Ne, aku masih disini Ki Na…” ujarku lagi saat Ki Na memanggilku. Ia sedang menelponku, “Aku sedang bicara dengan Hee Ra.”

Hee Ra menatapku serius, “Kalau transplantasi dilakukan, Ha Na bilang ada yang langsung cocok jika darahnya sama. Tapi, dalam beberapa kasus, ada juga yang gagal. Artinya, tubuhnya menolak.”

“Benarkah? Lalu, kesimpulan sementara adalah pelaku sengaja mencari orang dengan golongan darah B dan mengambil organ dalamnya.” Ujarku.

“Benar. Tapi, kita belum bisa mengetahui bagian apa yang diambilnya untuk transplantasi.” Kata Hee Ra serius.

Tiba-tiba hp Hee Ra berdering.

“Yoboseyo.” Ucap Hee Ra, “Seung Hyun?”

“Ne, aku sudah menemukannya, Hee Ra. Kemarin Inspektur Hwan sudah menyuruhku mencari data tentang dokter atau ahli bermasalah. Aku sudah mendatangi rumah mereka. Ada sekitar 3 orang. Tapi hanya 1 orang yang memang masih tinggal di rumahnya yang lama.” Jelas Seung Hyun.

“2 orang ya?” gumam Hee Ra.

“Ne, benar. 2 orang.” jawab Seung Hyun, “Salah satu dari mereka adalah seorang ahli atau dokter bedah yang sangat handal. 2 tahun yang lalu dia dituduh melakukan malapraktek terhadap pasien dirumah sakit. Tapi 3 bulan setelah itu, tuduhan itu tidak terbukti. Saat rumah sakit memanggilnya kembali, dokter itu sudah menghilang. Namanya Lee Jin Ki.”

“Mwo? Ahli bedah?” Hee Ra tampak terkejut.

“Min Hoooo…” sahut Ki Na.

“Ne, tunggu… ada informasi dari Seung Hyun.” Ujarku.

“Ne, benar. Satu lagi adalah spesialis transplantasi organ. Ia juga dituduh melakukan malapraktek dan ia menghilang bersama Lee Jin Ki. Namanya Kim Jong Hyun.” jelas Seung Hyun.

Hee Ra terdiam.

“Kalau mereka adalah pelaku pembunuhan ini, berarti benar kata-kata petugas forensik, pelakunya bukan orang biasa.” Ucap Seung Hyun.

“Memangnya ada apa, Min Ho? Ayolaah, bicara Min Ho… aku takuuut! Sepi sekali di taman ini.”

Jung Ki Na POV

“Memangnya ada apa, Min Ho? Ayolaah, bicara Min Ho… aku takuuut! Sepi sekali di taman ini.” ujarku.

Aku jongkok untuk mencari hpku dibawah bangku taman. Tadi saat kuperiksa jasku, hpku tidak ada. Sekarang terpaksa aku pakai hp oppa-ku.

“Ki Na, disana kan ada polisi juga.” Kata Min Ho.

Aku  mengangguk, “Ada sih. Tapi jauh dari tempatku. Kau sekarang mau kemana?”

“Hee Ra mengajakku ke taman. Ah, bukannya sudah kubilang tadi.” Min Ho tertawa kecil.

Tiba-tiba mataku menangkap sesuatu di antara rerumputan di belakang bangku. Sebuah botol kecil. Kusorot senterku kearah botol tersebut. Perlahan kukeluarkan sarung tanganku, kukenakan ditangan kananku.

“Ada apa, Ki Na? ketemu?” tanya Min Ho.

“Serum anti-A?” gumamku begitu kulihat botol kecil berisi cairan bewarna biru tersebut.

Lee Jin Ki POV

Tampak olehku seorang wanita sedang jongkok di depan bangku panjang tersebut. Kukeluarkan sapu tangan yang ada di sakuku. Kemudian kusemprotkan cairan obat tidur ke sapu tangan tersebut. Perlahan kudekati wanita itu.

“Serum anti-A?” gumam wanita itu.

Aish… itu serum anti-Anya!! Aku segera mendekatinya. Kubekap mulutnya.

“Mmmm…mmmm…mmm…” ia memberontak. Senter, hp dan Serum anti-A yang dipegangnya terlepas.

“Ya! Ki Na! kau masih disana kan?” terdengar teriakan dari handphone-nya.

Kumatikan hpnya. Aku langsung mengambil serum anti-A yang ada ditangannya. Tiba-tiba terbersit dalam otakku untuk mencobanya dengan wanita ini. Kukeluarkan jarumku. Kutusukkan pada telunjuk wanita ini.

Saat darahnya keluar, segera kuteteskan serum anti-Anya. Larut. Kuteteskan cairan anti-B yang bewarna kuning. Larut juga. Berarti, darahnya bukan B, tapi O. Aku menghela nafas panjang. Segera kubereskan barang-barangku.

Choi Min Ho POV

“Tuuut…tuuuttt…” panggilannya berakhir.

“Ki Na!” teriakku.

“Ada apa, Min Ho?” tanya Hee Ra.

“Ayo cepat, Hee Ra… Mungkin Ki Na dalam bahaya!!” aku segera menarik tangan Hee Ra dan berlari menuju arah taman.

“Dalam bahaya?” tanya Hee Ra sambil berlari.

“Tiba-tiba teleponnya terputus. Sebelumnya ia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaanku.”

“Apa ia menemukan sesuatu?” tanya Hee Ra.

“Aku tidak tau, Hee Ra.”

Akhirnya kami sampai di taman. Sepi. Aku menghentikan lariku.

“Ke arah mana?” tanya Hee Ra.

“Aku tidak tau. Ki Na datang kesini mencari hpnya.” Ujarku.

Hee Ra menarik tanganku dan berlari menuju arah tkp, “10 pohon setelah tkp.”

Saat kami melewati tkp, ada beberapa petugas yang masih berjaga.

“Kami datang untuk mencari seseorang.” Lapor Hee Ra pada mereka sambil mengeluarkan kartu polisinya.

Petugas-petugas itu membungkuk, “Silahkan.”

Hee Ra segera menarik tanganku. Ia berhenti tepat di samping pohon ke-10. Tampak olehku seorang pria yang jongkok membelakangi kami. Ia tampak sedang membereskan sesuatu ke dalam tasnya. Didepannya terbaring tubuh Ki Na.

“Apa yang sedang kau lakukan?!” teriak Hee Ra sambil mendekat ke arahnya.

Pria itu membalikkan badannya. Ia tampak sangat terkejut. Kutatap wajahnya. Pria ini tidak seperti pembunuh kebanyakan. Wajahnya putih bersih. Rambutnya belah tengah dan bewarna kecoklatan. Matanya sipit.

“Kami polisi.” Teriak Hee Ra, “Cepat katakan, apa yang kau lakukan!”

Tiba-tiba pria itu berlari menuju gerbang belakang taman. Aku dan Hee Ra segera berlari mengejarnya.

Aku masih sempat menekan speed dial 4.

“Ki Na pingsan di taman!” teriakku begitu panggilanku diangkat.

Segera kumasukkan hpku dalam saku. Kutarik tangan Hee Ra untuk berlari lebih kencang. Pria itu berlari keluar dari taman. Ia berlari di trotoar, menabrak beberapa pejalan kaki. Begitupun dengan aku dan Hee Ra.

“Minggir! Polisi!!” teriakku.

Pria itu tampak terus berlari.

Lee Jin Ki POV

Aku terus berlari menjauh dari mereka. Tampak dari jauh, Seung Hee sedang menunggu di seberang bioskop. Aku menambah laju lariku.

“Seung Hee! Kkaja!” aku segera menarik tangan Seung Hee untuk berlari.

Aku berlari masuk dalam gang. Aku sudah hafal daerah ini. Ada sebuah gudang tua dibelakang gang-gang ini. Tidak ada yang hafal jalan menuju gudang itu. Tapi, aku hafal.

“Oppa, apa yang terjadi?” tanya Seung Hee saat kami sudah sampai di gudang tersebut.

Aku tersenyum, “Tidak ada, jagi. Tadi temanku mengejar-ngejarku. Ia sedang mabuk.”

Seung Hee menatapku, ia memelukku erat, “Oppa, aku rindu denganmu.”

Aku terkejut menerima perlakuan Seung Hee. Tuhan, kenapa kau berikan aku kekasih sebaik Seung Hee. Aku tidak sanggup melakukannya pada gadis ini. Aku tidak sanggup.

“Bagaimana kabar Ji Ra?” tanya Seung Hee.

Aku terpaku. Ji Ra… waktunya tinggal beberapa jam lagi. Seung Hee, maafkan aku… maaf…

“Dia… baik…” jawabku pelan, “Oh ya, golongan darahmu B kan?”

Ia mengangguk, “Sama dengan Ji Ra, oppa.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku, “Apa kau ingin minum? Sepertinya setelah berlari kau haus.”

Seung Hee mengangguk. Kuberikan sebotol minum yang ada dalam tasku. Ia meneguknya.

Choi Min Ho POV

“Kalau dari fotonya, tidak salah, Hee Ra! Lee Jin Ki kulitnya putih dan rambutnya cokelat kekuningan. Matanya sipit. Kalau Kim Jong Hyun rambutnya bewarna cokelat gelap. Hampir mendekati warna hitam. Matanya juga tidak terlalu sipit.” Jelas Seung Hyun.

“Baiklah! Gomawo, Seung Hyun!” ujar Hee Ra. Dilepasnya earphone yang dikenakannya.

“Kkaja!” kutarik tangan Hee Ra masuk dalam gang.

“Min Ho, kau yakin ke sebelah sini?” tanya Hee Ra.

“Kalau aku tidak salah, disekitar sini ada sebuah gudang.” Ujarku.

Hee Ra mengikuti langkahku menyusuri gang-gang membingungkan ini, “Dugaanku kuat, ia pelaku pembunuhan berantai ini.”

“Ne, benar. Aku juga yakin. Ia tadi berlari kearah sini dengan menarik seorang wanita.” Kataku pelan.

Hee Ra mengangguk, “Dia tidak jadi membunuh Ki Na, karena golongan darah Ki Na adalah O. Ayo, cepat! Jangan sampai ada korban lagi, Min Ho.”

Akhirnya setelah lebih dari 20 menit menysuri dan memeriksa gang ini, kami tiba di depan sebuah gudang tua. Tiba-tiba pintu terbuka. Keluar seorang pria. Pria yang tadi. Ditangannya ada sebuah plastik. Tangannya penuh darah.

“Kau pelakunya? Benar kan?” ucap Hee Ra dingin.

“Lebih baik kau tidak melawan, cepat serahkan dirimu!” aku mendekat kearahnya.

“Ppali!”

Pria itu terdiam, “Aku akan menyerahkan diri. Tapi, tolong bantu aku…!”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

Pria itu tiba-tiba berlutut, “Adikku dalam keadaan kritis. Dia membutuhkan jantung ini. aku mohon. Setelah jantung ini cocok, aku akan menyerahkan diriku. Aku janji. Aku mohon, bantu aku.”

Hee Ra mendekat, “Bagaimana mungkin kami bisa mempercayaimu?”

“Aku mohon! Aku tidak mau adikku meninggal seperti…orangtuaku. Tolong aku…! Kalian bisa ikut aku jika kalian tidak mempercayaiku.” Air matanya mulai menetes, “Aku akan mengakui semuanya jika kalian mengizinkan aku menemui adikku.”

Hening sesaat. Hanya terdengar isakan pria itu.

Aku menghela nafas panjang, “Baiklah, tapi kami akan memborgolmu.”

Hee Ra mengangguk, “Ne, sekarang bangun.”

Pria itu bangun dan menyerahkan kedua tangannya. Kukeluarkan borgolku yang ada disaku. Kuborgol tangan laki-laki ini.

“Gam…sa…hamni…da.” Ucap laki-laki ini.

“Jalanlah dulu, aku akan menelpon Dong Joon.” Ujar Hee Ra yang langsung menempelkan earphone-nya ketelinganya.

♫ ♫ ♫ ♫

(credit song: Ryeowook-Smile Again or Yesung-It Has To Be You)

Lee Jin Ki POV

“Ne, mereka polisi. Jong Hyun, cepat kau lakukan transplantasinya.” Perintahku pada Jong Hyun.

Jong Hyun mengangguk. Diambilnya plastik dari tanganku, “Jangan khawatirkan keadaan Ji Ra.”

Aku mengangguk pelan. Air mataku tak hentinya mengalir. Aku memang bukan laki-laki tegar. Aku hanya seorang pembunuh yang sangat mencintai adiknya.

Jong Hyun masuk kedalam ruangan tempat Ji Ra terbaring lemah.

“Bisa kau ceritakan apa yang terjadi?” tanya polisi laki-laki disebelahku.

Aku menghela nafas, “Adikku, sejak kecil jantungnya lemah dan belakangan ini jantungnya sudah mulai tidak berfungsi. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan hingga aku dan Jong Hyun sepakat untuk melakukan transplantasi jantung pada Ji Ra. Baik jantungku maupun Jong Hyun tidak ada yang cocok. Sementara aku tidak mempunyai biaya untuk mendapatkan jantung dari orang lain, jangankan untuk jantung, untuk biaya  rumah saja, aku tidak punya. Karena itulah… aku mem…bunuh…”

♫ ♫ ♫ ♫

“Jin Ki, jantungnya cocok! Tubuh Ji Ra menerima jantung itu. Sekarang Ji Ra sudah melewati masa kritisnya. Apa kau ingin melihatnya?” tanya Jong Hyun.

Aku langsung menatap Jong Hyun, “Benarkah?”

Jong Hyun mengangguk. Aku menghela nafas lega. Aku tersenyum.

“Gomawo…Seung Hee…” ucapku perlahan.

“Kau ingin melihatnya?” tanya Jong Hyun lagi.

Aku berdiri. Polisi Nam dan Polisi Choi juga berdiri.

Aku menghela nafas panjang, “Aku lihat dari luar saja, Jong Hyun…”

Kulangkahkan kakiku menuju depan pintu. Kubuka perlahan pintu tersebut. Tampak Ji Ra diatas ranjangnya. Wajahnya begitu damai. Gadis itu tampak tersenyum dalam tidurnya.

“Jong Hyun, gomawo…” ucapku sambil menutup pintu itu kembali.

Jong Hyun mengangguk, “Tidak usah begitu, Jin Ki…”

“Aku titip Ji Ra ya, Jong Hyun…” ujarku perlahan.

“Jin Ki… kau tidak mau menunggunya sadar dulu?” tanya Jong Hyun sambil menatapku.

Aku menggeleng, “Katakan padanya, aku baik-baik saja dan aku sangat mencintainya.”

Jong Hyun terdiam, “Jin Ki…”

Aku tersenyum kearah Jong Hyun, “Maaf merepotkanmu lagi ya. Aku pergi dulu…”

Aku melangkah menuju polisi Nam dan polisi Choi, “Silahkan bawa aku…”

Polisi Nam menatapku. Tiba-tiba air matanya menetes. Ia menghapusnya cepat, dialihkannya mukanya kearah lain.

“Ayo, bawa aku ke penjara… aku pantas mendapatkannya…” air mataku menetes kembali.

♫ ♫ ♫ ♫

Nam Hee Ra POV

“Ki Na dan Dong Joon, segera bawa adik Lee Jin Ki ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.” Instruksi Inspektur Hwan, “Seung Hyun, kau bawa Kim Jong Hyun ke markas pusat untuk dimintai keterangan. Tae Hwa, kau periksa rumah ini dan temukan barang bukti lain.”

“Siap, inspektur!!” sahut mereka semua. Mereka langsung melaksanakan tugas mereka masing-masing.

“Inspektur, bagaimana dengan mayat di gudang itu?” tanya Min Ho.

“Sudah ada Inspektur Tae Joo dan anak buahnya disana. Kau dan Hee Ra ikut aku untuk mengintrogasi Lee Jin Ki di markas pusat sekarang. Kim Jae Yoon, komando di lapangan kuserahkan padamu.”

Kim Jae Yoon mengangguk, “Siap, inspektur!”

Aku dan Min Ho langsung mengikuti langkah kaki Inspektur Hwan meninggalkan rumah Lee Jin Ki. Sirine mobil ambulance dan polisi terus terdengar. Akhirnya… kasus ini tuntas…

♫ ♫ ♫ ♫

Choi Min Ho POV

“Malam itu aku menemukannya mabuk di pinggir sungai Han. Aku membekapnya dan mengecek darahnya. Ternyata cocok. Aku tidak bisa… menguasai diriku… untuk melakukannya…” Lee Jin Ki tertunduk.

Aku hanya menghela nafas panjang.

“…aku membunuhnya dan membelah perut dan dadanya. Aku sengaja tidak membunuhnya hingga ia benar-benar tewas. Jantungnya masih berdegup saat itu, dan aku kemudian… mencabut jantungnya…”

“Lalu apa yang kau lakukan selanjutnya?” tanya Inspektur Hwan.

Lee Jin Ki menghela nafas, “Aku menempelkan plastik berisi kertas itu dan membuang mayatnya ke dalam sungai Han.”

“Jam berapa itu terjadi?” tanyaku.

“Sekitar pukul 12 malam.” Jawab Lee Jin Ki.

“Setelah kau membunuh wanita itu, kenapa kau membunuh lagi?” Inspektur Hwan menatap Lee Jin Ki.

“Ternyata, jantung itu tidak akan bertahan lama dalam tubuh Ji Ra. Tubuh Ji Ra menolak jantung itu. Ini bukan salah Kim Jong Hyun… dia tidak bersalah dalam kasus ini. Tolong jangan penjarakan dia… adikku membutuhkannya disisinya.”

“Lalu, kasus selanjutnya… ceritakan secara lengkap.” Instruksi Hee Ra.

Lee Jin Ki mengangguk pelan, “Setelah Jong Hyun mengatakan bahwa… jantung itu tidak cocok, aku kembali memeriksa berkas yang kucuri dari rumah sakit. Ternyata ada seorang gadis yang melakukan transplantasi jantung denganku yang tinggal di Seoul. Aku… ingat gadis itu dan menunggunya saat pulang sekolah… aku membawanya ke taman dan memberinya sebotol…air… ia meminumnya.”

Lee Jin Ki terdiam sejenak.

“Aku mengecek darahnya dan cocok. Aku melakukan hal yang sama padanya… kuletakkan ia dibawah pohon…”

“Kenapa kau menyamarkan tkp seseungguhnya?” tanyaku.

“Aku tidak mau kalian menyelidiki tempat kejadian yang sesungguhnya…” Jawabnya singkat.

“Lanjutkan lagi…” perintah Inspektur Hwan.

“Lagi-lagi jantung itu tidak terlalu cocok dengan Ji Ra… karena tubuh Ji Ra yang semakin lemah dan keadaannya yang makin kritis, malam itu juga aku berniat melakukannya lagi… tapi, semua pasien yang pernah melakukan transplantasi organ di rumah sakit itu, tidak tinggal di Seoul…”

“Karena itu kau membunuh pacarmu sendiri?” suara Inspektur Hwan terdengar tenang namun tegas.

Lee Jin Ki mengangguk, “Malam itu aku menyuruhnya menunggu di seberang bioskop dekat taman tersebut…”

“Kenapa kau kembali ke tkp? Apa benar karena serum anti-A-mu?” tanya Hee Ra.

Ia mengangguk pelan, “Saat aku mencarinya, tiba-tiba aku melihat seorang wanita sedang memegangnya. Aku langsung…membekapnya dan… mengecek darahnya… ternyata aku memang harus membunuh pacarku sendiri… kekasih yang sangat aku cintai…”

Air mata Lee Jin Ki kembali menggenang. Ia menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

“Aku menyesal… tapi mengingat adikku selamat… aku merasa bingung dengan perasaanku saat ini…” isak Lee Jin Ki.

♫ ♫ ♫ ♫

Beberapa minggu kemudian…

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Hee Ra.

Lee Jin Ki hanya tersenyum kecil, “Yah, beginilah keadaanku polisi Nam.”

Hee Ra tersenyum, “Besok kau akan disidang. Apa kau sudah siap?”

Lee Jin Ki hanya menatapku, “Walaupun aku berkata aku tidak siap, sidang akan tetap dilaksanakan besok kan. Yah… aku siap menerima akibat dari perbuatanku ini.”

Aku mengangguk. Aku yakin Lee Jin Ki bukan pria yang sekejam itu. Tapi, perasaan cinta terhadap adiknya telah membuatnya bertindak seperti ini. Ia benar-benar pria yang baik.

“Ya sudah… kami datang hanya untuk mengecek keadaanmu. Besok di pengadilan, sudah ada seorang pengacara yang akan mendampingimu. Jangan fikirkan biaya. Kepolisian yang akan mengurus hal seperti itu.” ujar Hee Ra.

Lee Jin Ki tersenyum, “Gamsahamnida.”

“Kami permisi dulu, Lee Jin Ki.” Kataku.

“Tunggu… aku punya satu permohonan.” Kata-kata Lee Jin Ki menghentikan langkahku.

“Permohonan?” tanya Hee Ra.

Lee Jin Ki mengangguk, “Bisa aku melihat adikku?”

♫ ♫ ♫ ♫

“Ji Ra… kau makan dulu ya!” sahut seorang lelaki yang baru keluar dari sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu dicat putih dan halamannya sangat rindang. Disana seorang yeoja duduk dibawah sebuah pohon yang rindang. Ia mengenakan dress bewarna putih.

“Itu Jong Hyun dan Ji Ra…?” tanya Lee Jin Ki.

Aku mengangguk, “Sekarang mereka tinggal disini. Ditempat yang jauh dari keramaian. Ini adalah rumah untuk mereka yang sakit dan tidak memiliki orangtua.”

Mata Lee Jin Ki berkaca-kaca. Diturunkannya kaca mobil. Angin segar langsung menerpa. Ditatapnya Ji Ra dan Jong Hyun yang tampak sedang tertawa.

“Syukurlah… ia sehat… kuharap ia bisa bahagia.” Ujar Lee Jin Ki pelan.

“Kim Jong Hyun, dia mencintai adikmu ya?” tanya Hee Ra pelan.

“Ne… ia sangat mencintai Ji Ra. Lebih dari seorang adik.”   Lee Jin Ki tersenyum lembut, “Satu-satunya hal yang membahagiakanku adalah disaat Ji Ra tersenyum seperti ini…”

Aku dan Hee Ra tersenyum. Tiba-tiba Lee Jin Ki menutup kembali jendela mobil.

“Ayo, kita kembali.” ujarnya.

“Kita sudah jauh-jauh datang kemari, apa kau tidak ingin bertemu adikmu langsung?” tanya Hee Ra.

Air mata itu kembali menetes dari pelupuk mata Lee Jin Ki, “Justru jika aku turun dan menghampirinya, aku tidak akan bisa melihat senyumannya lagi dan aku tidak akan mau kembali ke penjara. Kumohon, polisi Nam… polisi Choi, sebelum aku berubah pikiran.”

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya melajukan mobilku kembali menuju Seoul.

“Aku menyayangimu, Ji Ra… bahagialah bersama Jong Hyun…” gumam Lee Jin Ki sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

Hee Ra dan aku hanya tertegun. Tampak olehku air mata Hee Ra menggenang di pelupuk matanya.

Dedicate For You-END

a/n: yippiii! Akhirnya, FF mystery pertama aku selesai jugaaaa. ;D Maaf kalau ada banyak kesalahan. Yah, maklum… saiia juga bukan polisi… *PLETAKK!* FF ini terinspirasi dari kejadian nyata yang bener-bener terjadi di kotaku tercintaaaa. Bedanya, pelaku aslinya itu ngambil organ itu kayaknya buat dijual truss di tubuh mayat tuh, disimpen uang beberapa juta. Maaf buat para reader semuanya… aku udah bikin Onew jadi kayak gini… SUMPAH, aku juga gak rela… itu makanya aku bkin Onew-nya baik… bukan pembunuh berdarah dingin. >.< maapkeun…

Saran and kritik jangan lupa yaaah! Makasiiih udah baca and don’t forget to leave your comment please…! Gomawo… ^o^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

34 thoughts on “POLICE LINE! – Part 3 (END)”

  1. Yaaampunnn
    Jinki sayang banget sama jira
    Sampe belabelain ngelakuin semuanya
    Jonghyun juga setia banget
    Mau jagain jira
    Seru banget thor
    Untung aja tadi golongan darahnya o bukan b
    Bisa bisa dibunuh

  2. huwaa jinki membnuh demi adikY,,
    rasa cnta yg amat sangat pda adikY membuat dy jdi pembunuh,,
    nangis akk bcaY,,

  3. Jinki emg bner2 sayang sm adik’y,dy mo ngorbanin yeojachingu’y bwt nolong adik’y,salut bgt*ngusap pelupuk mata*
    Nice ff, ^^b

  4. Aaaaa! Sedih banget akhirnyaaaaa
    Jinki bener2 ngaku, gak lari dari polisi aih
    Jinki daebak lah(y)(y)
    Dia sayang bgt sa jira aisssss
    Bagus! Seru! Hehehehehe

  5. SUMPAH! KEREN BENGEEEEETTTT!!!
    mewek aku bca.a
    bruntung bgt jira punya kk sebaik itu
    walaupun cara.a salah,
    tpi pengorbanan.a itu looooohhhh…. menyentuh bgt!
    pengeeenn bgt bisa bkin ff kyk gini,
    yg genre.a slain romance, friendship, family taw komedi
    tpi susaaaaahhh bgt!
    ajarin dong thor! 😀

  6. sedih, seru, keren, cinta seorang kk dan juga terhadap pacar.a…..
    qu terharu bngt chingu
    ghamsahamida sudah buat ff terkeren ini

  7. hiks..terharu banget bacanya..
    jinki nya keren,,
    Bagus banget thor ceritanya…………!! kirain masih panjang, taunya udah end..
    hehe keren-keren..!!

  8. huhuhu ..
    ksian si Onew, tpi baik jga ya dy 😀 mw brtanggung jwab pula 😀
    keren thor . kpan2 bkin lgi ya 😉

  9. HAPPY semi SAD ending ini.. TT
    Huhuhuhuhuhuhu…
    Aku bingung, Jin Ki sebenernya salah udah bunuh banyak orang,
    tapi kalo inget adiknya..

    aduh duh… jangan dipenjara aja deh! Lagian ntar SHINee ga punya leader. XD *pletaakkk!*
    good job author! ^^

  10. kasian jinki .. bunuh org karena saking sayangnya sama adiknya ..
    yeojachingu jinki pasti tulus ngasih jantungnya itu .. … hwaaa !!! bikin police line kasus lain dong … ketagihan bacanya !!!
    ayo thor .. yayaya ??? jebal ..*puppy eyes*
    ahahah ……..

  11. satu kata untuk authornya… KERRRRRREEEEEENNNNNNNNN…… *capslok jebbol..

    bikin lagi yg kaya gini dong.. sumpah demi apadeh nie cerita kerenn… bikin penasaran & so sweat..
    author daebak

  12. ga ada yang salah. disini cuma ada godaan dan keterpaksaan, sama cinta.
    Huwaaaaaaaaaaaaaa nig FFF kereeeeeennn abis daebakkkk gilaaaa!!!!!!!!!!!
    walopun ga sampe nangis, tapi makna nya daleeeeemmm banget.
    bikin FF lagi yah thor…
    hwaiting!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  13. miaaan baru bisa bales komen sekarang… aku baru sadar kalo aku blum bales semua komen disini…
    aku bales sekarang aja yaa…
    MIANHAMNIDA, semuanyaaa…. *bow 90 derajat

  14. Hua~ sumpah ga tahan pengen nagis *beneran nagis* Jinki……… hidupnya berat banget… gimanapun harus milih kan, antara adek atau pacar. Dia cinta sma pacarnya tp terpaksa ngebunuh… hiks…. DAEBAK asli, sumpah, demi apa keren banget!!!
    eh, yg pembunuh di kotamu jg pernah mampir ke kotaku. tp untunglah di kotaku ga ada yg kebunuh XD kkk~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s