They Suddenly Came into My Days – Part 6

Title                       : They Suddenly Came into My Days (Part 6)

Author                  : myee

Main Casts          : Kim Soona, SHINee members

Support Casts    : Seo Jeo Hyun, Im Yeon Ji

Other Casts        : Seung Ri (Bigbang), Seul Ong, Jo Kwon, Jin Woon (2AM), Chang Min, Yunho (DBSK), Hyo Yeon (SNSD)

Genre                   : AU (School), Friendship, Romance

Length                  : Sequel

Rating                   : G

—–

Author’s POV

Minho yang berdiri di dekat Key langsung melesat menghampiri sahabatnya yang tengah terkapar itu.

“Ya! Key! Waeyo?!”, ujarnya sambil membantu Kibum untuk bangun. Key terus memegangi pelipis kanannya. Dia terus meringis menahan sakit tanpa menjawab pertanyaan Minho. “Maaf, tadi sikuku menghantam kepalanya….”, ucap seseorang dari tim lawan.

Minho mendelik ke arahnya dan menarik kerah baju basket namja tersebut dengan kasar, “Apa katamu?!”

“Minho-ya, sudah, jangan main fisik di sini. Kita bisa didiskualifikasi, kau tahu?”, ucap Key tiba-tiba sambil berusaha bangun. Minho melepas cengkramannya pada kerah namja itu dengan terpaksa.

“Panggil Changmin! Gantikan Key sekarang!”, ucap Pelatih Choi yang kini sudah berada di tengah lapangan diikuti oleh para petugas medis.

“…Tidak usah, songsaenim. Aku masih bisa ikut bertanding…”, ucap Kibum sambil berusaha untuk berdiri tegak.

“Jangan dipaksakan, hyung….”, ujar Taemin.

Key menggeleng. “Aniyo… Gwaenchana… Apa kau tidak percaya padaku?”, katanya sambil tersenyum kecil. Taemin menatap anggota tim basket yang lain. Mereka semua hanya mengangkat bahunya.

“Maaf, apa bisa dilanjutkan?”, tanya si wasit. Kibum mengangguk, “Ya, mohon bantuannya.”

Seung Ri menepuk punggung Key, “Kalau kau merasa lelah atau sakit, cepat bilang pada wasit. Jangan sampai kau terlalu memforsir tenagamu berlebihan, arasseo?”

Kibum tersenyum. Dia sedikit melemaskan otot lehernya, mengusap sedikit pelipisnya dan mengambil nafas yang panjang. Saat ia menoleh ke pinggir lapangan, terlihat kecemasan pada wajah para anggota basket putra cadangan dan anggota tim putri.

Tidak terkecuali Soona.

Yeoja itu menatap Kibum dengan pandangan yang sangat khawatir.

Key hanya menyunggingkan senyum kepadanya.

‘Gwaenchanayo…’, Kibum menggerakan mulutnya untuk menyampaikan kata-kata itu kepada Soona. Gadis itu hanya mengangguk dan kembali duduk di bangkunya. Key menatap ke atap gedung itu, dan sinar lampu sedikit menyilaukan matanya. Ia melihat kembali ke sekeliling lapangan. Anggota tim yang lain sudah bersiap pada posisinya.

Ia mengambil napas panjang sekali lagi, dan kakinya mulai berlari menuju rekan timnya berdiri.

—–

“WE DID IT!”, teriak Seung Ri di tengah lapangan. Para anggota cadangan tim basket yang lain berhamburan ke lapangan dan memeluk para anggota inti. Changmin berlari menghampiri Seul Ong, dan Jin Woon dan Yunho menepuk-nepuk kepala Seung Ri.

Kibum terdiam di tengah lapangan. Napasnya sudah terputus-putus. Namun senyum tetap terpasang pada bibirnya.

Tapi beberapa detik kemudian badannya terasa oleng. Kepalanya seperti berputar. Kesadarannya mulai sedikit hilang dari matanya.

“Sudah kuduga bakal gini…”, ucap Onew  yang kini sudah merangkul badan Key yang hampir rubuh itu. Key menoleh pada namja yang sekarang tengah membantunya berjalan, “Thanks hyung…”

“Hoalaaah, pelipismu makin bengkak tuh”, ujar Hyo Yeon sambil menunjuk pelipis Kibum. Namja itu hanya mengusap-ngusap pelipisnya dan dia mencoba menekannya sedikit. “Appo…”, lirihnya.

“Ya sudah, kita ke ruangan kesehatan dulu, oke?”, ucap Jonghyun. Key mengangguk. Soona, Yeon Ji, dan Taemin mengikuti ketiga namja itu dari belakang.

Jeo Hyun menepuk punggung Soona, “Soo, aku ke SNU (Seoul National University) dulu ya, aku sama anggota yang lain diundang untuk ngeliat kegiatan tim basket di sana…”, bisiknya. Soona mengangguk, “Oke. Hati-hati.”

Ternyata yang ke SNU tidak hanya anggota basket putri. Beberapa anggota putra juga ikut, yaitu Seul Ong, Changmin, Seung Ri, Jo Kwon, Yunho, Jin Woon, dan Minho. Sebenarnya Key juga seharusnya ikut, tapi dia diperingatkan untuk beristirahat sebentar oleh pelatih Choi.

“Kita ke sana dulu ya, Kibum. Kau harus istirahat, babak selanjutnya dimulai minggu depan. Pulihkan kepalamu”, ucap Seul Ong sambil keluar ruang kesehatan. Key hanya mengangguk. Dan seketika ruangan itu langsung sepi, tinggal Soona, Yeon Ji, Jonghyun, Onew, dan Taemin yang tersisa di sana.

Yeon Ji menoel (aduh bahasanya jelek banget) pundak Soona, “Soo. Aku harus pulang nih, mau nganter eommaku ke Incheon. Enggak apa-apa, kan?”

Soona tersenyum, “Ne… Salam untuk Im-ahjumma ya!”. Yeon Ji mengambil tasnya dan membungkuk pada mereka semua, “Annyeong Jonghyun sunbae, Onew sunbae, Taemin-ssi… Key-ssi, semoga cederamu cepat pulih!”, ucapnya. Mereka semua tersenyum dan Yeon Ji pun keluar dari ruangan itu.

“Hyung, masih sakit enggak?”, tanya Taemin sambil duduk di kursi sebelah pembaringan. “Hm… Masih senat-senut sih…”, jawabnya sambil memegang pelipis kanannya yang kini sudah ditempeli semacam plester penahan sakit.

“Kok tadi maksain tetep main sih? Padahal tadi aku sempet liat kalau itu (pelipis) bengkak banget…”, ucap Soona sambil berdiri di sebelah Taemin. Key hanya terkekeh, “Ahaha, itu sih biasa… Lagian aku memang niat pengen main sampai selesai kok.”

“Biar aku ambil tasmu dan barang-barangmu. Disimpan di mana?”, tanya Jonghyun.

“Eh, gak usah hyung. Biar aku–“. “Tidak. Aku tahu daritadi kau menahan sakit di pelipismu itu. Tadi saja kau hampir jatuh, kan?”, ucap Onew memotong perkataan Key.

Key hanya terdiam di tempat tidur ruang kesehatan. Taemin berdiri dari kursinya, “Aku juga mau ke cafetaria bentar, mau beli makanan. Nanti kubelikan jus kesukaanmu deh”, ujar Taemin. “Eh, aku nitip roti melon ya”, ucap Soona. Taemin mengangguk.

“Tasnya ditaruh dimana?”, tanya Jonghyun sekali lagi.

“Di ruang ganti, loker paling kanan. Ada namaku kok, hyung”, jawab Key. Onew mengangguk, “Soona, aku keluar dulu sebentar. Kalau ada apa-apa, telepon aku aja.”

Soona mengangguk, “Ara, oppa.” Dan mereka bertiga pun keluar ruangan tersebut.

Yeoja itu duduk di kursi Taemin tadi, dan menatap ke arah namja yang sedang terduduk di atas tempat tidur. Tiba-tiba mata Key terpejam, seakan menahan beban berat di kepalanya.

“… Kibum, gwaenchana?”, tanya Soona cemas.

“AAAAARGHH–!!”, Kibum tiba-tba meringis kesakitan. Kedua tangannya menumpu kepalanya yang terasa sakit, menahan tusukan-tusukan jarum yang terasa di kepalanya.

Yeoja yang berada di sampingnya bangkit dari kursinya dan mengelus punggung Kibum pelan, “Berbaringlah, itu akan membuatmu merasa lebih baik, Kibum…”

Kibum mengangguk kecil dan membaringkan tubuhnya. Soona melepas sepatu basket Kibum, dan menarik kain putih tipis untuk menyelimuti badan Key. Kedua tangan Key masih memegang ubun-ubun kepalanya, bahkan ia memukul-mukul kepalanya sedikit untuk menghilangkan rasa pening yang tiba-tiba saja menghamipirinya.

“Kau butuh sesuatu? Mau makan? Atau minum?”, tanya Soona. Kibum hanya meringis tanpa menghiraukan ucapan yeoja itu. “Kibum… Jawab aku… Apa kau butuh sesuatu?”, sekarang Soona memegang pergelangan tangan Kibum, menghentikan pukulan-pukulan kecil dari kepalan tangan Kibum yang menghujam kepalanya sendiri.

Kibum tetap tidak menggubris omongannya. Malah sekarang ia meringkuk di atas pembaringan itu sambil terus meringis. Yang membuat Soona terkejut adalah, air mata Kibum sedikit mengalir dari matanya.

‘Ya Tuhan… Apakah sesakit itu? Bukannya tadi dia tidak apa-apa? Tuhan, apa yang harus kulakukan?’, batin Soona cemas.

“…Biar kupanggilkan tim medis!”, ucap Soona. Dia beranjak dari kursinya, tapi tangan Kibum menahannya. “Tidak usah… Aku… Tidak apa-apa…”, ucapnya lirih.

“Tapi… Keadaanmu…”

Namja itu membuka matanya dan menggeleng pelan. “Piryoeopseo… Aku hanya butuh istirahat…”, ujarnya lemah. Soona mengrenyitkan dahinya. Ia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, ia harus memanggil dokter atau perawat sekolah untuk meredam rasa sakit di pelipis Key, tapi di sisi lain Key tidak menginginkan itu.

“… Baiklah. Kalau kau butuh apa-apa, bilang saja padaku”, kata Soona dan dia pun duduk lagi di kursinya. Key hanya tersenyum tipis dan kembali memejamkan matanya.

Tanpa sadar, tangan Key meraih tangan kiri Soona yang ada di pinggir pembaringan. Ia menggenggamnya erat.

“Kibum?”, tanya Soona heran. Namja di hadapannya tidak menjawab. Nampaknya ia sudah tertidur. Perlahan ia melepaskan genggaman tangan Kibum dari tangan kirinya.

‘Mukanya polos sekali’, pikir Soona. Ia menarik lagi kain putih tipis (selimut) yang sudah sedikit berantakan dengan tangan kanannya, dan menyelimuti badan Key.

“Kuharap kau cepat sembuh, Kibum”, gumamnya.

—–

“Ya! Taeminnie! Cepat habiskan susumu!”, teriak Onew. “Ya~ hyung. Sebentar dong! Bentar lagi juga habis!”, jawab Taemin.

“Ayolah, kita sudah setengah jam lebih di cafetaria! Aku yakin Soona dan Key sudah menunggu kita!”, ujar Jonghyun sambil membawa tas sport milik Key.

“Ne… Ne… Ara”, Taemin langsung meneguk susunya habis, dan mengikuti kedua hyungnya ke gymnasium. Mereka bertiga langsung menuju ruang kesehatan di gedung tersebut. Jonghyun membuka pintu ruangan itu perlahan.

“Sssst~”, ucap Jonghyun pelan sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Taemin dan Onew yang ada di belakang Jjong hanya mengrenyitkan dahinya heran. Mereka berdua mengintip ke dalam ruangan.

Terlihat Soona tertidur di pinggir tempat tidur.

“Soo, bangun… Ayo kita pulang”, kata Jonghyun sambil menepuk-nepuk bahu Soona pelan. Yeoja itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan menguceknya. “Oh… Ne…”, jawabnya masih mengantuk.

Ia melihat ke arah Key yang masih terlelap dan mengecek pelipisnya. Kemudian Soona merapikan rambutnya yang sedikit kusut. Onew menghampiri Kibum dan membangunkannya. “Key, bangun. Kita mau pulang nih…”

Key membuka matanya perlahan. Ia memegang kepalanya yang tertempel plester. Masih sedikit sakit rupanya. Kepalanya juga lumayan pening.

“Kubantu berdiri, hyung”, ujar Taemin. Key mengangguk.

“Masih sakit?”, tanya Soona sambil membawa tasnya dan tas sport milik Key.

Key mengangguk kecil. “Lumayan…”

—–

“AISH! Pelan-pelan! Sakit, hyung!”

Key memukul punggung telapak tangan Onew yang hendak meletakkan handuk kecil dingin di pelipisnya.

“Ya! Jangan main pukul juga! Masih untung aku mau ngebantu!”, gerutu Onew. Ketiga namja lain yang berdiri di sekeliling tempat tidur terkekeh melihat tingkah laku dua makhluk itu.

“Ho, gimana tadi di SNU?”, tanya Key sambil menekan-nekan handuk kecil di pelipisnya itu.

Minho duduk di meja belajar Key, “Ya gitulah. Liat contoh pertandingan gitu, dan kalau misalnya kita menang terus di pertandingan antar SMA, kemungkinan kita bisa masuk SNU lewat jalur beasiswa olahraga.”

Key mengangguk. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Key. “Maaf, boleh aku masuuk?”

Taemin menghampiri pintu dan membukanya, “Tentu, noona. Wah? Noona bawa apa?”, ujar Taemin.

Yeoja itu tersenyum. Ia membawa nampan berisi sebuah panci berukuran cukup besar dan 5 tumpuk mangkuk dan sendok. “Aku buat chicken cream soup, mudah-mudahan kalian suka”, katanya.

“Jinjja? Geomawoyo, noona”, Taemin mengambil nampan itu dari Soona dan membawanya ke dalam. Ia meletakkannya di meja yang terletak di sebalah tempat tidur Key.

“Bagaimana? Sudah baikan?”, tanya Soona menghampiri Key yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya. “Hmm, lumayan…”, ucap Kibum.

“Nih bagianmu”, Jonghyun menyodorkan sebuah mangkuk berisi cream soup kepada Kibum. Namja itu menerimanya dan menatap mangkuk itu sambil mengerutkan alisnya.

“Wae?”, tanya Soona heran. “Makanan ini… Aman?”, ujar Key.

Yeoja itu menatap Key tajam, “Ya tuhaaaan! Tadi ini udah aku coba kok di bawah! Gak percaya banget sih ah!”

“Ya maaf, soalnya jarang-jarang kan kamu masak”, Key mengaduk-ngaduk makanannya. Ia meniupnya pelan dan melahapnya. “Enak juga”, ucap Key sambil tersenyum.

“Tuh, makanya jangan negative thinking dulu dong”, ujar Minho sambl memakan supnya. “Geomawo makanannya, Soo. Ini enak”, kata Jonghyun. Soona tersenyum. Kemudian ia berjalan keluar kamar.

“Lho? Mau ke mana?”, tanya Onew. “Aku mau ke kamar, mau tidur dulu. Gak tau kenapa aku ngantuk banget”, kata Soona. “Oh, jal ga”, timpal Onew. Soona mengangguk dan berjalan menuju kamarnya.

“Anak itu baik juga…”, kata Jonghyun tiba-tiba. “Jarang-jarang dia sengaja masak buat kita berlima”, sambungnya. Onew mengangguk, “Aku bersyukur mendapat tugas ini. Dia benar-benar anak yang baik, aku jadi menganggapnya sebagai yeodongsaengku sendiri…”

Taemin menaruh mangkuk kosongnya di meja, “Aku juga sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri… Dia benar-benar yeoja yang perhatian, ya?”

Minho dan Key hanya mengangguk. Onew terkekeh, “Yah, pokoknya aku bersumpah untuk terus mengawasi dan melindunginya. Kalau ada yang berani menganggunya, tidak akan kuampuni orang itu”, ucap Onew.

Keempat namja yang lain hanya menatapnya heran. Dan sekejap tawa mereka langsung meledak.

“Lho? Kenapa sih?”, tanya Onew bingung. “Aahahahaha, hyung! Sok pahlawan banget!”, kata Taemin. “Lho, memang bener, kan?”, Onew sedikit manyun.

“Ahahaha, ya ya, kau benar…”, Jonghyun menepuk-nepuk pundak Onew. Minho dan Key hanya terkekeh dan menatap satu sama lain.

Minho tanpa sengaja melihat tangan kiri Key. Ia sedikit mengerutkan dahinya. Terlingkar sebuah gelang yang persis sama dipakai Soona di pergelangan tangan Kibum.

“Hm? Wae?”, tanya Key. Minho menggeleng sambil tersenyum kecil, “Ani… Gwaenchana.”

—–

Esoknya….

Kim Soona’s POV

“Villa?”, tanyaku.

Yeon Ji mengangguk, “Iya, villa. Villaku yang di deket Dadohae-haesang, Wando-gu. Mau enggak? Mumpung akhir minggu nanti kita libur 3 hari nih”, katanya sambil melahap mashed potato-nya.

“Kalian lagi ngomongin apa?”, Jeo Hyun menghampiri kami berdua. Dia membawa nampan berisi jjangmyeon dan air putih dingin dan duduk di sebelahku.

“Villa. Kita diajak Yeon Ji akhir minggu nanti tuh”, ucapku. “Yup. Kamu mau kan, Hyunnie? Kita bisa surfing, lho”, lanjut Yeon Ji. Mata Jeo Hyun langsung berbinar, “Wah? Surfing? Assa~ Aku ikut! Ikut!”, seketika saja Jeo Hyun langsung setuju. Memang, sahabatku yang satu ini serba bisa pada olahraga apapun. Surfing juga merupakan salah satu keahliannya.

“Ke sananya gimana? Akomodasinya?”, tanyaku lagi. “Tenang, Soo. Aku yang nyediain semuanya. Dijamin aman dan nyaman deh. Kita naik mobil pribadi aja, mobil van gitu. Tiga jam juga udah nyampe Mokpo, terus kita naik kapal kecil”, jawabnya panjang lebar.

“Wuih, di sana bukan pulau terpencil kan?”, tanya Jeo Hyun. “Ya bukanlah, itu taman nasional. Hotel, restoran, sama kafe juga banyak. Pasar sama supermarket juga ada. Terus pantainya enggak kalah keren sama Jaeju deh, aku jamin.”

Pantai, ya?

“Please, Soo. Ayo ikut, ya? Jangan nolak lagi dong kalau aku ngajak kamu ke pantai, ya?”, kata Yeon Ji sedikit memelas. Aku berpikir sedikit. Bagaimanapun juga aku masih sedikit trauma dengan tempat yang berhubungan dengan ‘pantai’ ataupun ‘laut’ semenjak kejadian delapan tahun lalu.

“Dijamin aman kok, aku janji”, sambung Yeon Ji.

“Eh ikutan dooong~”, tiba-tiba Jonghyun oppa dan Onew oppa menghampiri meja kami. Sesaat kemudian Taemin, Minho, dan Kibum pun menarik kursi kosong dan duduk di sekeliling meja ini. Memang, kami berdelapan sudah seperti sekelompok sahabat dekat, jadi kami sudah saling akrab satu sama lain.

“Eh, kalian. Mau ikut liburan ke villaku akhir minggu ini?”, tanya Yeon Ji. Taemin langsung sumringah, “Wah? Ke mana, noona? Aku ikut dong!”. Dasar anak ini, hobinya liburan terus.

“Boleh boleh, Taeminnie. Tapi anak ini masih mikir-mikir tuh”, kata Yeon Ji sambil menunjukku. Seketika kelima namja itu langsung melirik ke arahku.

“Lho? Tumben. Biasanya kan kamu langsung setuju kalau nyangkut soal jalan-jalan, apalagi liburan bareng kayak gini”, kata Onew oppa.

Aku tersenyum kecil. Aku masih ingat trauma itu. Kejadian paling memilukan, kejadian yang paling mengoyak hatiku, yang sampai kapanpun tidak akan sirna dari ingatanku. Jujur, aku takut pergi ke sana lagi.

“Mianhae… Aku… punya trauma…”, kataku pelan. Yeon Ji mengusap rambutku pelan, “Soo. Trauma itu tidak akan hilang sampai kau mencoba kembali lagi ke tempat itu. Kalau hatimu kuat, pasti ingatan itu akan pergi dengan sendirinya…”

“Lagian kan aku juga ikut. Hyunnie juga. Nah, apakah kalian ikut juga?”, tanya Yeon Ji pada kelima namja itu. “Tentu”, ucap Jonghyun oppa sambil tersenyum diikuti dengan anggukan keempat namja lainnya.

“Tuh, lihat. Banyak yang melindungimu. Kau tidak usah takut lagi, ya?”, sekarang giliran Jeo Hyun yang menyemangatiku.

Senyumku mengembang. Aku tidak menyangka bahwa mereka memperhatikanku seperti itu. Ya, Yeon Ji benar, traumaku harus dihilangkan. Mungkin kalau aku ke tempat itu, ingatan itu akan pergi.

“Ara, aku ikut”, ucapku singkat. Yeon Ji langsung tersenyum, “Assa~ Jadi yang ke sana kita berdelapan ya! Kita kumpul dulu di sekolah jam delapan pagi hari Jumat nanti, oke? Nanti kita ke sana make van-ku. Bawa aja pakaian secukupnya dan obat pribadi. Bahan makanan enggak usah bawa, kita belanja aja di sana, arasseo?”, tanya Yeon Ji sumringah.

Kami bertujuh mengangguk tanda setuju. Yah, semoga kali ini pikiran buruk itu bisa benar-benar musnah dari otakku.

—–

Author’s POV

“Laporanmu?”

Namja itu menyenderkan badannya pada tembok di gedung belakang sekolah Soona dan melenguh panjang. Dia memegang erat ponselnya dan berdecak.

“Sudah kubilang, kau tidak usah menelponku sesering ini. Hampir saja aku diikuti salah satu dari keempat orang itu, untung aku bisa berbohong sedikit. Lama-lama aku repot juga kalau kau terus menghubungiku di waktu yang kurang tepat”, ujar namja itu.

Aku hanya ingin memastikan. Dan jaga mulutmu. Aku ini atasanmu, mengerti?”

“Ya…Ya, aku mengerti.”

“Bagaimana keadaan yeoja itu?”

“Kami berdelapan akan pergi ke Wando-gu, villa milik teman yeoja itu, selama 3 hari.”

“Hahahaha, di saat begini kalian masih sempat-sempatnya berlibur, hah?”

Namja itu mendengus, “Apa lagi yang kau butuhkan? Aku harus segera mengantarnya ke rumah.”

“Tidak. Itu cukup. Aku berencana memberikan Kim Sooro sedikit kelonggaran, jadi rencana kita akan ditunda beberapa saat. Kau mengerti? Jadi mungkin tugasmu sebagai ‘pengawas’ akan berlangsung lebih lama.”

“Arasseo.”

“Baik. Kuputus di sini.”

Namja itu memasukkan ponselnya ke dalam ransel hitamnya. Tampaknya tugas sebagai seorang pengawas sedikit memberatkan dirinya. Dia melenguh panjang dan segera bergegas menuju lapangan parkir.

TBC

P.S          : Gimana? Udah ketauan belum itu siapa yang jadi penjahatnya?

Oh iya, untuk part-part selanjutnya, mungkin agak lama keluarnya, soalnya tugas sama tes di sekolahku makin banyak, jadinya aku rada lama ngelanjutin ff ini dan ff-ku yang satu lagi (One Week Journey). Mohon maaf banget (deep bows).

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

41 thoughts on “They Suddenly Came into My Days – Part 6”

  1. Siapa si orangnya nyebelin bangett!!!
    Pasti nanti key jagain soona
    Dan menurutku ga mungkin taemin ^^
    Lanjutt

  2. aih, ceritanya makin seru aja nih.. bikin penasaran bgt.. kkk~
    hm, aku blh nebak gak ? jgn” yg jd musuh dlm selimut itu sii key lg.. coz cuma dia yg gak punya alasan yg jelas knpa mau jd pengawas.. hehe.. ^^ #asalnebak
    next part-nya aku tunggu lho.. ^^

  3. Soona perhatian bgt sama Key,,
    mrka b’dua cocok bgt !

    ih,,siapa si yg jdi penjhat d antra mrka brlima ???
    mkinn penasaran,,
    d tunggu part” selanjutx ,,

  4. Aigoo , siapa sih pnjahatnya .?
    Penasaran bgt , gx bsa nebak siapa ., hbsnya mreka smua baik2 ..
    Lanjut nya thor ., yg one week journey nya lanjutin dong thor ..

    1. hihi siapa yaa?

      OWJ bakal dilanjutin, tapi saya teh lagi banyak tes+ulangan+tugas yang sumpah bikin saya ekstra sibuk tiap hari T._____T
      Jadinya mungkin bakal publish beberapa bulan ke depan, maaf banget ya.

      btw makasih udah baca dan udah comment ya!

  5. keren thor!!>.<,,masih bingung nih ma sih 'penjahat' diantara mrk b'5 ntu~..
    klo bukan minho paling kibum..hehe…
    masih kurang panjang thor!!xD..nanti next part.a lebih panjang lagi yah??
    oh yah…si soona trauma apa yah di pantai??o.O

  6. bikin penasaran deh thor >.<
    gak bisa ngebayangin siapa yang jahat diantara mereka, abis keliatan baik semua sih ^^
    jangan2 soona trauma pantai ada hubungannya sama kematian eomma-nya ya ? (asal nebak)
    hihi
    cepetin next part nya yaaa ! ^^

  7. Wohooho itu siapa sih yang telfon2an itu?
    Penasaraaaan!
    Part 7 nya jangan kelamaan jg ya thor hehe
    Lanjuttt

  8. siapa sih tuh penjahat ??!!! key apa minho ??? apa mungkin taemin ???!!! *itu gx mungkin !!!*
    jjong ma onew juga gx mungkin soalnya mereka dah kayak kakak-adik !!
    siapa sih ??? aduhh …. bingung, penasaran !! pokonya tuh penjahat harus ketauan !!
    ahkkk !!! bikin pusing sendiri, …… ahahahha
    makin seru critanya … aku juga mau dong thor di bawa ke pantai … lgi kangen nih am pantai !! *curcol!!*
    hwaaa aku tunggu lanjutannya ..

  9. wah! TSCIMD6 (nyinkat sendiri weh.. Maaf ya thor..) udah keluar…
    Wah? Wah? Wah? Siapa ya?
    Kenapa feeling aku orang yg jahatnya minho ya??
    Ayo part selanjutnya teman! :’)
    mudah – mudahan bisa kepost komen ini..

  10. Akhirnya baca dan komen TSCIMD6 jugaaa!
    mian ya thor telat nih jarang update sekarang hahaha
    WAWAWAWAWAW
    siapakah penjahatnyaa? JENG JENG ><
    ayo ah LANJ00000T 😉

  11. kalau dari latar belakang kenapa mereka jadi body guard itu antara key ama taemin… tapi aku curiga sama jonghyun, hmmmm MInho n Onew juga. pokoknya kalo belm jelas semuanya patut di curigai… *plakkkkkkkk

  12. mesti curigain onew ama taem nih.heheheh, tapi jangan sampe taem oppa donk! oppa kan masih polos #PLAK

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s